16 December 2014

NEW YEAR'S EVE 2014


New Year's Eve selalu istimewa. Sehingga acara ini pasti sudah direncakan jauh hari. Mau merayakan bersama teman, kekasih, atau sendirian saja? Semuanya makin seru kalau dikemas dalam konsep yang unik. i Club Madiun mencoba menyajikan event yang berbeda dengan lainnya. Female DJ Fransisca sebagai puncak dari penutupan tahun 2014, dan dibuka dengan band-band terbaik Madiun, Dandy Cosmic Blues, Petrus Daniel featuring Ethnic Percussion, serta Exited Crew Dancer.

Untuk datang di acara ini, tiketnya hanya Rp 50.000,- sudah mendapatkan free Meals senilai Rp 25.000,- Benar-benar istimewa. Tema tahun ini adalah #SelowNight diharapkan seluruh pengunjung bisa santai seperti kata orang-orang kebanyakan, "Sing Selooo..." 

Menjelang tahun 2015 segalanya harus disiapkan dengan matang tapi jangan terburu-buru. Detail dan cermat, itu wajib! Selamat merencanakan Tahun Baruan :)

25 September 2014

KUTEMUKAN KAMU DIBALIK SELIMUT ITU

Malam sudah meradang. Mengusamkan awan putih menjadi petang. Perempuan itu sudah melepas kaosnya yang basah kena keringat. Rupanya dia salah memilih bus tanpa AC, barangkali karena ongkosnya hanya cukup untuk membayar bus dengan cendela terbuka, namun gerah tetap terasa. Karena dalam perjalanan Surabaya menuju Jogja, penumpang penuh sesak dalam kursi-kursi dengan kain pelapis yang kebanyakan telah robek. Lalu kaca cendela yang hampir setiap bagiannya telah retak, hingga pecah. Ini tak layak untuk perempuan seperti kamu.

"Kenapa kamu tak naik kereta, saja?" Kamu menggeleng, katamu uangmu hanya cukup untuk perjalanan Pulang Pergi dengan bus murahan. Lalu kamu melepas kaosmu. Mengambil kaos ganti dari dalam tas ransel yang isinya penuh sesak dengan beberapa peralatan mandi.

"Han, kamu tak apa kan, kalau malam ini aku menumpang tidur disini?" Aku menggeleng. Tak apa. Tanpa perbincangan panjang, kau tenggelam dalam selimut tebal dan melupakan aku, yang awalnya ingin mengajakmu sekedar berjalan-jalan menikmati suasana malam di Jogja. Seperti ketika tujuh tahun yang lalu, aku dan kamu dalam satu semester yang sama, dalam sebuah tim kerja yang sama, dan menghabiskan waktu bersama di Kaliurang. Kamu lupa. Atau aku yang tak bisa melupakan.

"Kenapa kamu nggak tidur?" Aku menggeleng. Belum saatnya aku memejam mata. Aku masih akan menonton beberapa film action, download-an kemarin yang harus aku tonton hari ini. Karena film hari ini yang baru saja aku download, sudah tak sabar untuk diamati, dicermati esok hari. Bagaimana bisa aku menghabiskan satu hari dengan dua film dengan genre yang hampir sama. Action.

"Tidur Han, besok dilanjutkan lagi nontonnya." Kamu membuka selimut. Meregangkan kedua tangan, dengan senyuman lelah. Haruskah aku melewatkanmu? Perempuan yang datangnya tiba-tiba, setelah sekian lama aku mencari alamat fesbuk dan akun twittermu. Aku tak bisa mendapatkannya. Tapi mala mini, kutemukan kamu dibalik selimut kasurku.

14 September 2014

INSTAN, CINTA ITU INSTAN

Dia memandangi kembali jendela kaca yang dibingkai kayu jati divernis manis, dalam sebuah warung yang hanya menjual cinta. Lalu sesekali memainkan gadget, iseng iseng mengirimkan pesan kepada entah siapa, dalam sebuah akun sosial media yang sering dibicarakan. Dengan melampirkan satu jepretan foto kualitas standar lima mega piksel, Android. Direvisi menggunakan editor instan dengan saturasi acak tanpa ada perhitungan tepat, yang penting enak dilihat. Cangkir kopi dihadapannya tak mampu menolak, pasrah untuk diunggah dengan sebaris curahan hati seorang yang sedang gundah, "Tak pernah kutemukan cinta disini, di kopi ini. Cintaku pergi bersamamu." Lantas sejuta manusia mengetahuinya, terhanyut dalam drama romantisnya. Instan, cinta itu instan.

TERJEBAK

Aku terjebak pada sebuah pagi
Dimana mimpi harus segera diakhiri
Aku terpukau untuk menyadari
Kenapa jadinya begini

Dalam sebuah sunyi, sedang kumencari
Pada dingin malam, kuterjaga menanti
Kau tak pernah ada disini
Kau hanyalah imajinasi

Dan aku akan menyendiri
Untuk menemukanmu dalam sepi
Kutemukan aku sendiri
Kau tak pernah ada disini

06 September 2014

Sebuah Pesan

Bagaimana kalau kita apa adanya? Tak usah berpura pura. Sederhana.

05 September 2014

cermin

tersemat penat dalam hasrat. hai pengkhianat, sapaku pada cermin pemantul segala keburukan rupaku.

17 August 2014

Pindah

Belaian itu datang lagi. Sentuhan lembut itu mendarat kemudian. Dan pelukan rindu beradu dalam ritme lambat, di malam pertengahan bulan. Kau datang tanpa disengaja. Mengecup kening dan untaian kalimat manis. Karena kau tetap indah seperti dulu. Tak sedikit pun berubah. Ayumu memancar dari senyum lesung pipi. Rambutmu teruntai memanjang bukan hasil sambungan. Meski tanpa busana seksi, kaulah perempuan paling seksi malam ini. Namun aku tak mampu tergoda.


Sementara aku, tak pernah menjadi keindahan bagi siapa pun. Tersisih oleh jutaan manusia keren, terbuang dengan segera. Namun, kita pernah bersama. Aku ada dalam cerita asmaramu. Meski hanya beberapa bulan menjadi kekasihmu, aku tak pernah lupa. Bagaimana kau perlakukan aku sangat istimewa, kala itu.

Kau hanya mau makan pangsit. Itu yang aku ingat selalu tentang kesukaanmu. Yang juga malapetaka bagiku. Karena aku sangat membenci mie. Kita tak pernah memakan makanan yang sama. Kau hanya mau pakai sepatu merek St. Yves. Dan aku kebingungan mencari size yang tepat dengan merk yang sesuai. Itu menyulitkan aku juga. Jika bukan Corniche, kau tak mau pakai. Itu menyedihkan. Aku bukan pembantumu, yang harus mencarikan makanan, sepatu, dan baju yang tepat untukmu. Aku juga bukan asistenmu yang harus memahami apa maumu. Aku ini kekasihmu.

Kau mengancam jika aku terlambat menjemput. Padahal kau punya sopir pribadi. Secara perlahan, kau tempatkan aku menggantikan peran Pak Basuki, sopir yang kau bayar bulanan hanya untuk mengantarmu kesana kesini. Kau permalukan aku dengan memaksaku pergi ke mini market untuk membeli pembalut. Kau pinta aku menerima telepon dari petugas bank yang rajin menelepon, mengingatkan tagihanmu yang tak ingin kau bayar. Lalu diam-diam, aku sisihkan uang gajiku untuk melunasinya. Aku ini bukan ayahmu, aku ini kekasihmu.

“Kok diam sih? Kamu apa kabar?” 

Dalam diam yang cukup lama, kau menyentak dengan menanyakan kabarku? Pantaskah jika aku menjawab, “Aku lebih baik sekarang.” Bukankah kau akan semakin kecewa, melihatku lebih bahagia menjadi seperti sekarang, daripada yang dulu ketika bersamamu. Karena memang aku merasakan ini kebahagian, menjadi diri sendiri. Bukan kacung dari perempuan cantik yang ingin diperlakukan istimewa.

“Tapi kelihatannya kamu happy.”

Aku hanya mengangguk dengan senyuman balasan untuk perempuanku yang memang sangat istimewa ini. Dia berpindah tempat duduk, kini berjajar disisi kanan. Pelukannya kembali mendarat. Meminta kehangatan. Entah mengapa, aku tak bisa membalasnya dengan reaksi apapun. Aku hanya bisa diam dalam paku-paku yang telah tertancap dalam diri.

“Kamu masih sering fitness?” 

Sambil membetulkan rok mininya, dia mencoba menjelajah dengan pertanyaan-pertanyaan interogasi. Dan pertanyaan itu akan terus mengalir, hingga dia melemparkan pertanyaan, “Kamu begini gara-gara aku?” Bukan. Aku tak pernah berubah sebenarnya. Aku masih seperti yang dulu, sejak aku dilahirkan. Tak ada yang memahami tentang aku, dalam ruang yang sebenarnya, itu saja. Termasuk kekasihku yang selalu ingin dimengerti. Tapi aku tak perlu menjawabnya. Karena kau sekarang bukanlah bagian dari kehidupanku. Kau sudah menjadi kekasih orang lain. Lelaki yang usianya dibawahku empat tahun, yang dulu tidur sekamar denganku. Lelaki kecil yang selalu minta diajari menyeleseikan tugas Matematika dan Biologi. Lelaki yang dilahirkan dari rahim yang sama, dan disusui oleh seorang Bunda. Mama. Lelaki itu adikku. Filan.

Sudah lama aku tak menjumpainya. Sejak meninggalkan Madiun, karena mendapat kerjaan bagus di Bali, lalu ikut teman ke Australia, kerja part time di Resto-nya bule, dan menjadi Personal Trainer di Club milik teman. Dan semunya menjadi indah. Minimal bagiku, tapi bencana menurut Bunda dan Filan. Karena aku seorang kakak, yang harusnya mengajarkan kebaikan kepada adikku, dan menjadi kepala keluarga sejak Ayah meninggal. Namun hidup tak semudah yang dikatakan oleh pakar kehidupan, tak seperti yang dibilang guru kita. Hidup yang aku pilih teramat sulit untuk diterima keluarga dan teman-teman, apalagi kekasih seperti perempuan disisiku ini.

“Aku tetap sayang kamu.” 

Buat apa, buat apa? Karena aku tak butuh disayangi. Aku hanya ingin diterima dengan baik, tanpa disisihkan. Meski hidup adalah kompetisi, perlombaan dalam meraih bahagia. aku bahagia, meski tanpa kamu. Aku lebih bahagia lagi, Filan yang selalu susah mendapatkan kekasih, akhirnya mendapatkanmu. Dan aku tak ingin merebut kebahagiaan adikku, hanya karena tahu tentang kau dan aku. Kita pernah tidur bersama.

“Kamu kapan balik ke Australi?” Kau bertanya untuk memastikan, apakah kita bisa bercinta lagi? Bahkan dalam genggaman tanganmu, handphone itu siap kau minta untuk memesankan kamar untuk kita malam ini. Kau kembali merayu, dan belaian itu datang lagi. Sentuhan lembut itu mendarat kemudian. Dan pelukan rindu beradu dalam ritme lambat di malam pertengahan bulan. Kau datang tanpa disengaja. Mengecup kening dan untaian kalimat manis. Karena kau tetap indah seperti dulu. Tak sedikit pun berubah. Ayumu memancar dari senyum lesung pipi. Rambutmu teruntai memanjang bukan hasil sambungan. Meski tanpa busana seksi, kaulah perempuan paling seksi malam ini. Namun aku tak mampu tergoda.

***

Malam ini begitu singkat untuk kita habiskan dalam pikiran yang penat, dan timbunan rindu yang tak lagi menguat. Kupikir kau masih menggairahkan, sama halnya ketika kita memesan kamar ini beberapa tahun silam. Kukira aku bisa menikmati orgasme yang kudambakan seperti dulu saat masih menjadi kekasihmu. Kupikir kau hanya berpura-pura menjadi lelaki guy karena ingin berlari dari perempuan kejam seperti aku.

Tidak. Kau tidak bisa lagi membuatku orgasme, kau bukan berpura-pura. Kau hanya membantuku bercinta dengan tanganku sendiri. Terimakasih sayang, kau selamanya hanya bisa menjadi pembantu dalam asmaraku.

--Wanda--

14 August 2014

DINGIN

Sepasang senja sedang mengujiku dalam jaring petang ini. Dalam hamparan rasa penasaran, dan sejumput keinginan yang tak terbendung. Dalam segala rasa ingin tahu, bagaimana kau bisa melupakannya, namun tak bisa. Bau rumput menyergapku dari penjuru timur, menyadarkan tentang kau yang tak bisa berjarak lebih dekat. Kau terbaring diatas belukar dan dipenuhi rasa luka, meski kita sedang diatas surga. Setetes air mata mengalir membasahi hatimu yang membeku sejak kita mendaki dari pos pertama. Kau pun tak akan mengira bahwa aku sedang menerka isi hatimu. Karena yang kau tahu, aku adalah guide-mu menuju titik ini. Kau hanya tahu, aku teman dalam perjalanan meraih kembali memori, tentang lelaki penggerus hatimu.

Kita sudah berjalan bersama selama delapan jam tanpa henti, mendaki puncak lawu. Kau masih diliputi rasa ragu, bisakah aku mengantarmu pada kenangan, yang harusnya telah lama kau hapuskan.

“Dia masih ada disini, aku bisa merasakan.” Kau pegang tanganku erat, dan aku hanya mampu memandangmu dengan sejuta rasa prihatin.  

"Benar, do. Aku merasakannya, aku mencium bau parfumnya.” Bukankah ini parfumku? Kau yang memintanya untuk mengganti parfum menyamai kekasihmu yang telah lama pergi itu. Tak lama, kau menangis lagi, rupanya kau menyadari sesuatu yang telah kau buat sendiri.  

“Bukan, do. Ini parfum kamu, bukan dia yang ada disini.” Kau beringsut memelukku, menangis menderu. Aku semakin ikut dalam pilu hatimu. Sudah, jangan menangis wanitaku. Kau tak seharusnya menangisi orang yang telah meninggalkanmu.  

"Aku harus mencarinya kemana, do? Bantu aku do.” Kau menunduk, mencoba mencari tahu didalam belukar yang menguning, karena kini musim telah berganti. Seharusnya kau pun tahu, lelaki yang kau tunggu telah terlewat oleh waktu. Kini yang ada hanyalah aku dan nyanyian pilu senja, yang sebentar-sebentar menggelegar, menyerang dalam kilatan petir.

Dan sebelum kita benar-benar basah kuyup oleh guyuran hujan dan mati oleh kikisan hawa dingin, kupeluk erat tubuhmu yang mulai tak terurus. Kau habiskan waktumu untuk mengingatnya.  

"Didalam aku sudah pesankan teh panas. Ayo kita masuk.” Kau menolak. Aku ikut basah bersamamu.

***

"Do, aku tak perlu mencarinya lagi. Aku tahu dia telah pergi. Tapi aku ingin menemuinya. Bagaimana jika sekarang saja."

Setelah setengah jam kita berusaha bertahan menantang derasnya hujan, mencoba mengacuhkan saran dari para pendaki lainnya. Kulihat bibirmu yang sedari tadi hanya tersedu kini mengikis pelan dalam sebaris permintaan. Kau bilang ingin menyerah, bukan menyerah untuk tidak mencarinya karena dingin semakin menjadi. Tapi, kau menyerah dalam dingin untuk pergi menjemputnya. Kau relakan seluruh jiwamu hanya untuk kekasihmu. Kau pintakan permohonan maaf lalu menitipkannya pada angin yang berhembus pelan. Dimana kata demi kata yang keluar dari mulutmu terurai secara terbata-bata. Bibirmu memutih melebihi putihnya kulitmu. Jari-jari tanganmu kaku, membiru. Kau nekat.  

"Do, kumohon biarkan aku mencarinya. Mengejarnya, kemana perginya dia. Aku tahu, cinta harus begini, aku akan melakukannya. Bagaimana jika sekarang saja."
Aku tak kan pernah mengijinkan. Karena kau tak harus mengejarnya, biarkan saja aku yang mengejarmu. Lelahnya menanti, biarlah aku yang merasakan. Dengarkan sayang, dingin disini sudah mengkultuskan rasa cintaku, mengaburkan mataku tentang kebenaran. Karena yang ada hanya cinta, hanya kasih sayang yang tak bisa kugantikan pada apapun. Kulihat Paras ayumu memucat meniru muka malaikat. Aktingmu mirip seperti lakon dalam teater, pucat dan dingin. Kau butuh pertolongan, karena jeritmu tak lagi kudengar, tangismu tak lagi menderu, dan dinginnya masih tetap menyekap. Aku jadi susah bernapas, semuanya menjadi tersengal. Dengan ritme hampir cepat, badanku melemas. Kau berdiri tegar disisiku, melebihi angkuhnya gunung ini. Kau lawan derasnya hujan, menghujam setiap alunan yang mengajak kita pada pintu perpisahan.  

"Do, kamu kedinginan. Ini beku. Ini kematian."

Kudengar samar-samar suaramu tak lagi terbata. Bahkan pelan-pelan aku kehilangan nyaring tangismu. Entah karena ini semakin dingin, atau kau memang sedang tak bersuara. Namun bibir pucatmu meneriaki aku. Tangismu semakin menderu dalam gerak yang padu, tanpa suara memburu. Rupanya hujan sudah mereda. Ada kuncup matahari di salah satu sudut kehidupan. Sementara aku lupa menyebutnya, itu timur atau barat. Ataukah itu tenggara? Bergerak pelan mendekat, sinar kuning dengan shadow keputihan, menghangatkan badanku yang kedinginan sejak semalam, terguyur hujan dalam kabut kesedihanmu. Dalam pinta yang berlipat ganda untuk menyelamatkanmu. Dalam doa yang tak ingin kuputus barang sejenak. Hanya ini doa yang sanggup aku hapalkan, “Jaga dia, Tuhan. Jaga dia, Tuhan”  

"Do, please jangan pergi. Aldo!"
Tapi Tuhan tetap menjagamu. Semoga aku selalu berada dalam hatimu, sama halnya Tuhan yang selalu menjagamu.

13 August 2014

Kenalan Sama Pramuka dan H Mutahar

H. Mutahar Pencipta Hymne Pramuka
Gerakan Pramuka atau Kepanduan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1923 yang ditandai dengan didirikannya (Belanda) Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung. Sedangkan pada tahun yang sama, di Jakarta didirikan (Belanda) Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO). Kedua organisasi cikal bakal kepanduan di Indonesia ini meleburkan diri menjadi satu, bernama (Belanda) Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di Bandung pada tahun 1926.

Pendirian gerakan ini pada tanggal 14 Agustus1961 sedikit-banyak diilhami oleh Komsomol di Uni Soviet. Pada tanggal 26 Oktober 2010, Dewan Perwakilan Rakyat mengabsahkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Berdasarkan UU ini, maka Pramuka bukan lagi satu-satunya organisasi yang boleh menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Organisasi profesi juga diperbolehkan untuk menyelenggarakan kegiatan kepramukaan.

Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka:   

  1. Memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani, dan rohani;  
  2. Menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan.


Badge Kwartir Daerah Jawa Timur
H. Mutahar salah seorang pejuang, penggubah lagu dan tokoh Pramuka menciptakan sebuah Hymne Pramuka bagi Gerakan Pramuka. Lagu itu berjudul Hymne Pramuka. Hymne Pramuka menjadi lagu yang selalu dinyanyikan dalam upacara-upacara yang dilaksanakan dalam Gerakan Pramuka. 

Syair lagu Hymne Pramuka adalah
Kami Pramuka Indonesia
Manusia Pancasila
Satyaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan
agar jaya, Indonesia, Indonesia
tanah air ku
Kami jadi pandumu.

Kode kehormatan dalam Gerakan Pramuka terdiri dari Tiga Janji yang disebut "Trisatya" dan Sepuluh Moral yang disebut "Dasadarma"

Trisatya Pramuka : Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh

  1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Mengamalkan Pancasila,
  2. Menolong Sesama Hidup dan Mempersiapkan diri/ikut serta membangun masyarakat,
  3. Menepati dasa darma.

Dasadarma Pramuka 

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Cinta Alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan kesatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, terampil dan gembira
  7. Hemat, cermat dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan




11 August 2014

ROBOT BERKOIN

 

Cerita ini tentang perempuan yang pernah kutiduri dan suaminya yang baik hati. Perempuan yang kukenal dari pertemuan singkat dalam kamar-kamar yang disekat dengan kelambu cokelat. Dalam sebuah panti pijat di sekitar rumah sakit ketika perempuan lain sedang dalam keadaan sekarat. Perempuan lain yang tak lain adalah istriku, teman tidur selama hampir tiga belas tahun. Divonis kanker rahim dan kista menjalar diseluruh vagina.

Dia, perempuan lain yang meminta suaminya untuk menyewa perempuan berbayar untuk memenuhi malam-malam menjelang kepergiannya. Meski tanpa dia meminta, aku sudah sering melakukannya, dikala dia pergi cek up ke luar kota. Mulai dari teman kerja di kantor, hingga purel sewaan datang silih berganti menemani tidur, dan tak jarang mereka memberiku bonus, sepiring nasi goreng dan teh hangat tersaji di meja makan keesokan paginya. Mereka robot dalam kisah percintaan semalam.

Salah satunya Wanda, perempuan berbayar yang sama robotnya. Robot yang satu ini bukan terdiri dari besi baja yang harus menelan koin untuk bekerja. Purel dengan paras ayu dan pantat sintal, rambut sebahu, aroma parfum menjeratku tak bisa lepas darinya. Dengan tariff separo, dia mau telanjang sewaktu-waktu. Purel yang bekerja dengan cinta, aku menyebutnya begitu. Telanjang dan bercinta itu barang mudah. Tapi kepintarannya menjerat hatiku, membuat aku tak lagi mengundang perempuan-perempuan lain untuk mau kutiduri. Bahkan dia memintaku untuk menikahinya.

“Istri kamu hampir koit bang, udah kawinin aku aja.”

Tak semudah itu memilih istri. Aku harus pacaran lima tahun untuk yakin melamar istriku. Harus benar-benar masih perawan untuk mendapatkan malam pertamanya, dan itu malam ke seratus sekian bagiku untuk melepas keperjakaan. Harus jelas keluarganya, strata sosialnya, dan tetek bengeknya. Dengan serangkaian syarat yang padat itupun aku masih mendapatkan barang busuk. Lihat saja vaginanya, sudah tak berfungsi lagi, aku saja jijik melihatnya.

“Kamu sudah lihat barangku kan? Bagus kan? Walau sudah banyak yang makek.”

Karena kamu memang purel. Sudah pasti mahir bagaimana merawat kewanitaan, karena disitu sumber keuangan, kamu makan dari memek. Andai aku bisa memahami dari dulu, perempuan tak harus perawan, tapi pintar menjaga kewanitaan. Seperti kamu, Wanda.


“Lalu apa lagi yang kamu tunggu bang?”

Aku menunggu hingga istriku benar-benar pergi. Dengan begitu aku tak lagi dianggap suami bajingan. Menikahi purel, sementara istrinya berbaring di rumah sakit. Keluarganya akan mengira aku tak berperasaan. Tapi sebenarnya, perasaanku sedang dipertaruhkan. Semua teman-teman kantor selalu mengatai, “hey jablay!”

“Yaudah, ayo bang.”

Tidak. Selama aku punya uang, aku bisa menidurimu, itu sudah cukup. Walau seringnya kau selalu menolak uangku. Karena yang kau minta adalah hati, cinta. Dia yang terbaring dengan muka pucat dan senyum berkarat, itulah cinta. Dia yang tak bisa apa-apa, yang hanya bilang “maaf mas” dialah cinta. Dia yang selalu meneteskan air mata ketika aku pamit untuk keluar sebentar, sekedar cari udara segar, dan ternyata dia tahu benar seperti apa suaminya yang berubah menjadi lelaki liar. Tapi tetap saja dia bilang, “maaf mas”. Bagaimana bisa aku menceraikan dia. Bagaimana perasaannya ketika menjadi perempuan yang tak berguna, sementara aku selalu membohonginya dengan kata-kata, “aku tak bisa meniduri perempuan lain, aku hanya cinta kamu”

“kamu bohongin istrimu berapa kali?”

Berkali-kali. Dan dia hanya bilang, “maaf mas”.

***
Jika bisa aku meminta pada Tuhan untuk menjadikan aku manusia sempurna, pasti kusempurnakan hidupmu. Membuatmu berhenti menjadi wanita liar, dan hanya menjadi milikku, bukan melayani lelaki manapun yang punya banyak koin. Karena sayang, aku tak memiliki koin sebanyak itu untuk menjadi bagian dalam hatimu. Aku hanya punya pengabdian. Menjadi selimutmu di malam yang tak ingin menoleransi. Menjadi senja yang mengantarmu pulang. Aku cukup, bisa menjadi suamimu.

Jika saja untuk berjalan kau tak perlu banyak koin, pernikahan ini akan semakin indah. Dan aku telah mempertaruhkan hati untuk berlapang menerima status sosialmu yang beberapa orang sudah mengetahuinya. Kau robot berkoin. Disewa kebanyakan lelaki untuk ditiduri. Tubuhmu tak hanya milikku. Bahkan hatimu, bukan terisi olehku juga.

Aku harus berpura-pura tak tahu tentang lelaki yang sering kau datangi diam-diam di rumah sakit itu. Lelaki yang menemani istrinya seharian, di sebuah kamar, terbaring sakit. Lelaki yang kau sebut Abang. Dia bukan abangmu. Dia lelaki yang pernah membayarmu untuk sementara menggantikan istrinya yang sedang sakit. Yang pernah kau kenalkan pada malam menjelang pernikahan kita. Dan kau meneteskan air mata, entah karena tak bisa menerimaku atau kau tak bisa mendapatkan cintanya. Kenyataannya, lelaki itulah yang memenangkan hatimu.

Maka tak salah, jika hari ini aku harus menemuinya. Memintanya meluangkan waktu untuk menerimaku sebagai lelaki pecundang. Disebuah panti pijat, disisi selatan rumah sakit, kudapati Abangmu sedang dalam kamar sekat bersama robot koin. Satu jam seperempat, akhirnya dia keluar dengan aura berbinar setelah mengecup kening perempuan sewaan yang hanya mengenakan baju terusan, panjang selutut, tanpa bra dan celana dalam. Dari sini aku mencium bau amis dan liur robot koin itu.

“Hartadi, dengan siapa disini?”

Sendirian bang, aku menunggu lebih dari satu jam. Aku diam-diam datang kesini, ingin bicara tentang perempuan. Karena perempuan ini, aku menjadi tak berguna, seperti lelaki hina yang ingin memakai robot namun aku tak memiliki koin. Karena status sebagai suami saja tak cukup melegakan hatinya untuk sekedar telanjang. Karena perempuan ini memiliki banyak janji dengan banyak lelaki yang dia sebut rekan kerja. Yang bisa membuatnya kaya.
“tidak sama Wanda?”

Tidak. Wanda tak boleh tahu tentang ini. Tentang perjumpaan kita dalam sebuah waktu disengaja.

***

Cerita ini tentang perempuan yang pernah kutiduri dan suaminya yang baik hati. Perempuan yang kukenal dari pertemuan singkat dalam kamar-kamar yang disekat dengan kelambu cokelat. Dalam sebuah panti pijat di sekitar rumah sakit ketika perempuan lain sedang dalam keadaan sekarat. Perempuan lain yang tak lain adalah istriku, teman tidur selama hampir tiga belas tahun. Divonis kanker rahim dan kista menjalar diseluruh vagina.

Hartadi, suami yang telah dinikahi perempuan yang pernah kutiduri. Usia pernikahannya baru satu bulan. Diam-diam, suaminya robot koin dating menemuiku, di suatu petang. Entah darimana dia tahu, aku sedang menghamburkan koin bersama robot-robot itu. Dari wajahnya, kulihat dia sedang pilu, sepertinya persoalan asmara. Dia itu, lelaki yang tergila-gila pada istrinya, robot koin-ku. Lelaki yang ingin membahagiakan istrinya, namun tak tahu bagaimana caranya. Karena dia teramat muda untuk memuaskan perempuan seperti Wanda.

“tapi aku cinta dia sepenuh hati, masih kurang?”

Nak, kamu pikir rumah tangga hanya soal asmara. Kamu lupa membaca buku Kamasutra? Lupa menelan pil penguat? Atau kamu tak tahu alamat klinik mak Erot? Wanita bukan hanya soal uang atau pun cinta. Perempuan yang kau nikahi, adalah perempuan terhebat dalam bercinta. Perempuan luar biasa dengan teknik bercinta yang mempesona. Jangan kau bilang, tak beruntung menikahinya. Kaulah lelaki paling mujur yang pernah kutemui.

“jadi?”

Jadi apa? Pulanglah. Dia istrimu, meski juga robot koin-ku. Aku berjanji tak lagi memakainya, sejak malam kita berjumpa sebelum pernikahan kalian berlangsung. Koin-ku terlalu banyak untuk dihabiskan pada satu perempuan, istrimu.

***


“bang, si Har nemuin kamu ya bang? Mau apasih dia?”

Hartadi. Tak sengaja ketemu, didepan rumah sakit. Ketika aku mau beli bubur ayam pesanan istriku, Hartadi datang membawa makanan, katanya buat istriku. Kulihat, eh bubur ayam. Haha. Serba kebetulan ya. Sudah, itu saja.

“itu saja? lalu kenapa si Har rajin pergi ke panti pijat? Kau pengaruhi dia bang?”

Aku memang pasien tetap dip anti pijat. Aku memang menggilai setiap perempuan yang memiliki sepasang payudara dan vagina wangi. Kalau Hartadi menjadi seperti aku, itu pilihan dia. Bukan karena aku menyuruhnya. Karena dia memang ingin menjadi seperti aku. Dia mengikuti kemana aku pergi, bahkan membawakan makanan untuk istriku. Dia ingin menjadi aku, seorang Prasetyo yang digilai perempuan seperti kau.

“tapi penis dia kecil, mana mungkin dia bisa jadi seperti abang?”

Itulah sebabnya dia ingin menjadi aku, ingin memiliki penis seperti penisku. Hartadi, sebaik-baiknya lelaki yang menjadi gila sejak menjadi suamimu, Wanda.

~ dan angin menerbangkan debu, dalam kebebasan langit dan cerita senja. Sepasang suami istri duduk di teras, saling diam. Ditangan mereka tergenggam gadget dengan jendela pesan terbuka, dan barisan kata singkat tertulis dilayar lalu tombol send disentuh, “maaf mas.”

04 August 2014

#IndonesianFood Bandrek from Bandung Jawa Barat



Bandrék adalah minuman tradisional orang Sunda dari Jawa Barat, Indonesia, yang dikonsumsi untuk meningkatkan kehangatan tubuh. Minuman ini biasanya dihidangkan pada cuaca dingin, seperti di kala hujan ataupun malam hari. Bahan dasar bandrék yang paling penting adalah jahe dan gula merah, tetapi pada daerah tertentu biasanya menambahkan rempah-rempah tersendiri untuk memperkuat efek hangat yang diberikan bandrék, seperti serai, merica, pandan, telur ayam kampung, dan sebagainya.  
Susu juga dapat ditambahkan tergantung dari selera penyajian. Banyak orang Indonesia percaya bahwa bandrék dapat menyembuhkan berbagai penyakit ringan seperti sakit tenggorokan, batuk, dan lain sebagainya. Di Bandung, biasanya penjual menambahkan sejumput kerukan kelapa untuk menambah cita rasa dari Bandrek tersebut. Bandrek biasa dikonsumsi bersama kacang rebus, ubi jalar rebus, dan juga gorengan.
Seiring dengan perkembangan zaman, bandrek banyak dijual dalam bentuk instan, tujuannya agar bisa dinikmati dimanapun dan kapanpun, tetapi rasanya sedikit berbeda dengan bandrek yang asli. Di Bandung dan sekitarnya, masih banyak pedagang yang menjual bandrek asli, biasanya dijajakan bersama bajigur.
Bahan Bandrek :
  • 1.000 ml air
  • 200 gram gula merah, sisir halus
  • 100 gram jahe bakar, memarkan
  • 5 cm kayumanis
  • 2 lembar daun pandan
  • 5 butir cengkeh
  • 1/2 sendok teh garam
Cara Membuat Bandrek :
1.     Rebus air, daun pandan, gula merah, jahe, kayumanis, cengkeh dan garam sampai mendidih dan beraroma.
2.     Saring. Sajikan hangat.

#IndonesianFood Asinan Bogor


Asinan adalah sejenis makanan yang dibuat dengan cara pengacaran (melalui pengasinan dengan garam atau pengasaman dengan cuka). Bahan yang diacarkan yaitu berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Asinan adalah salah satu hidangan khas seni kuliner Indonesia. Istilah asin mengacu kepada proses pengawetan dengan merendam buah atau sayur dalam larutan campuran air dan garam. Asinan sangat mirip dengan rujak, perbedaan utamanya antara lain bahan rujak disajikan segar, sedangkan bahan asinan disajikan dalam keadaan diasinkan atau diacar. Terdapat banyak jenis asinan, akan tetapi yang paling terkenal adalah Asinan Betawi dan Asinan Bogor. 

Asinan Betawi: Asinan sayuran orang Betawi dari Jakarta. Berbagai jenis sayuran yang diasinkan dan diawetkan sepertio sawi, kubis, taoge, tahu, selada disajian dalam bumbu kacang yang dicampur cuka dan cabai, ditaburi kacang goreng dan krupuk (khususnya krupuk mi). 


Asinan Bogor: Asinan buah-buahan dari kota Bogor, Jawa Barat. Berbagai jenis bua-buahan tropis yang diasinkan atau diacar seperti mangga muda, jambu air, pepaya, kedondong, bengkoang, pala dan nanas disajikan dalam kuah cuka yang asam, manis dan pedas, ditaburi dengan kacang goreng.

Bahan:
  • 300 g bengkuang, potong bentuk korek api
  • 300 g taoge, siangi
  • 200 g mentimun kampung, potong bentuk korek api
  • 200 g wortel, potong bentuk korek api
  • 150 g lokio, siangi
  • 150 g sawi asin, bilas, iris iris
Bumbu:
  1. 1 L air matang
  2. 300 g gula pasir
  3. 100 g ebi, rendam hingga lunak, haluskan
  4. 5 buah cabai merah keriting, haluskan
  5. 1 sdm garam
  6. 2 sdm cuka
  7. Pelengkap:
  8. 150 g kacang tanah, goreng, tiriskan
  9. 2 buah tahu kuning, potong dadu 2 cm
Cara Membuat:
  1. Bumbu: Masak semua bahan bumbu kecuali cuka hingga mendidih dan kental. Angkat. Bila sudah tak panas, tambahkan cuka, aduk rata.
  2. Masukkan bengkuang, taoge, mentimun, wortel, lokio, dan sawi asin ke dalam bumbu. Rendam hingga meresap (± 12 jam).
  3. Sajikan disertai pelengkap. 

12 July 2014

Entah!


Dan biarkan aku bicara. Berikan aku waktu untuk curhat. Tentang isi hati yang mungkin saja dialami manusia. Kerinduanku semakin menjadi, ketika tak sengaja menemukan fotomu berdua dengan kekasihmu. Dengan keromantisan yang pernah kudengar, pernah kurasa, dan pernah pergi.

Dan biarkan aku bicara. Bahwa aku pun bisa merasakan luka, bisa merasakan duka. Jika hanya bisa memandangimu dari sosial media, saling melempar kata-kata cinta untuk kekasihmu itu. Sementara aku hanya mampu mengingat, bagaimana kau ucapkan itu dulu padaku.

Dan biarkan aku bicara. Kau dan kekasihmu, dua manusia saling jatuh cinta. Mengumbar romantika dimana-mana. Melupakan cerita lama, aku, masalalu.

29 June 2014

Hijab Fashion Show 2014 and Singing Contest


Sekarang ini memang lagi nge-trend Hijab. Coba deh lihat, cewek-cewek jadi terlihat makin cantik dengan hijab mereka. Kebiasaan berkerudung ini tak hanya sebagai anjuran Agama Islam, tapi juga sudah berkembang menjadi style di kalangan anak muda. Wah, ini nih yang namanya perkembangan positif di kalangan anak muda. Namun tentunya juga harus diimbangi dengan akhlak yang baik juga ya.

Well, menyambut datangnya Bulan Suci Ramadhan 1435 H, i Club Madiun mau mengadakan event seru nih. Hijab Fashion Show Competition dan Singing Contest, serta Bazaar Muslim, paha hari Minggu 20 Juli 2014 Pukul 10.00 - 17.00 WIB. Jadi biar makin seru pengalaman berhijabmu, yuk ikutan...
Singing Contest dengan syarat :
  1. Kategori 
    1. Kategori A : usia 5 - 9 Tahun
    2. Kategori B : usia 10 - 15 Tahun
  2. Pendaftaran 50 ribu, free Voucher Bazaar Muslim
  3. Menyanyikan 1 Lagu Bebas (tidak harus Religi)
  4. Minus One membawa sendiri
  5. Hadiah Juara 1, 2, 3 : Trophy & Uang Tunai Jutaan Rupiah
  6. Hadiah Harapan 1, 2, 3 : Trophy & Merchandise
Hijab Fashion Show Competition dengan syarat :
  1. Peserta : Cewek 
    1. Kategori A : usia 5 - 9 Tahun
    2. Kategori B : usia 10 - 15 Tahun
  2. Kostum Muslim Modern Casual Bebas
  3. Pendaftaran 50 ribu, free voucher Bazaar Muslim
  4. Hadiah Juara 1, 2, 3 : Trophy & Uang Tunai Jutaan Rupiah
  5. Hadiah Harapan 1, 2, 3 : Trophy & Merchandise
Segera daftar ya! Kesempatan terbatas. Hubungi i Club Jl. Bali 17 Madiun 0351 472345 / 0897 0312 972 atau follow @iclub_madiun

26 June 2014

Lomba Menulis Cerpen “Travel n Love”

dikutip dari >> https://www.facebook.com/notes/wina-bojonegoro/lomba-menulis-cerpen-travel-n-love/10154151768185179


Setiap perjalanan pasti menyisakan cerita yang tidak habis-habis. Ada suka, duka, ada kisah-kisah lucu dan menggelikan bahkan cerita cinta yang bersemi diantara derak-derak roda. Untuk itulah, PADMagz Travel Magazine bersama Padma Tour Organizer ingin menantang kamu menulis cerpen dengan tema:

TRAVEL N LOVE

Syarat dan ketentuan peserta:
  1. Peserta harus WNI, bersifat umum dan terbuka bagi siapa saja, berusia mi. 15 tahun dibuktikan dengan scan kartu identitas.
  2. Peserta wajib mem-follow akun Twitter PADMagz dan Pdma Tour di @pad_magz dan @Padma_tour, dan/atau like Fanpage facebook: Padmagz
  3. Pengumpulan naskah mulai 1 Mei 2014 hingga 31 Agustus 2014.
  4. Naskah yang lolos seleksi akan diumumkan pada tanggal 1 Oktober 2014  melalui Twitter dan Facebook.
Syarat dan ketentuan naskah:
  1. Tema harus berkaitan dengan perjalanan  wisata dan hal-hal menarik yang terjadi di dalamnya.
  2. Tulisan harus berupa fiksi/cerita pendek (cerpen). Boleh berdasarkan kisah nyata tapi HARUS dikemas dalam cerita fiksi (bukan curhat).
  3. Genre bebas.
  4. Format tulisan diketik rapi dalam MS Word, font Times New Roman 12 pt spasi 1,5. Format file dalam .doc atau .docx
  5. Panjang naskah sekitar 5-7 halaman A4
  6. Peserta boleh mengirimkan lebih dari 1 (satu) naskah
  7. Naskah HARUS asli dan BUKAN jiplakan/saduran/terjemahan baik sebagian maupun keseluruhan.
  8. Naskah tidak sedang diikutkan dalam lomba sejenis dan TIDAK pernah dimuat di media apa pun (cetak dan online) dan di mana pun (Nasional/lokal).
  9. Wajib mencantumkan biodata singkat, foto diri terbaru beserta nomer telepon yang bisa dihubungi di akhir naskah.
  10. Naskah dikirim dalam bentuk lampiran (bukan badan email) ke alamat padma.surabaya@gmail.com dengan subjek: NULIS YUK – [Judul Naskah]
  11. Naskah yang tidak memenuhi persyaratan di atas dianggap GUGUR dan TIDAK akan diseleksi oleh dewan juri.
  12. Jika di kemudian hari ditemukan pelanggaran baik Hak Cipta maupun pidana pada naskah-naskah yang lolos, penyelenggara berhak menganulir naskah tersebut dan mengajukan tuntutan sesuai dengan Undang-Undang dan hukum yang berlaku.

Di akhir periode, diumumkan 15 naskah yang lolos seleksi oleh dewan juri yang terdiri dari para penulis dan sastrawan Nasional (nama-nama juri dirahasiakan demi independensi). Naskah-naskah terpilih akan dibukukan dalam satu antologi cerpen bersama. Dan, hadiah yang menanti bagi para penulis yang beruntung tersebut adalah:
  1. LIBURAN KE LOMBOK GRATIS SELAMA 3 HARI 2 MALAM untuk 5 naskah pemenang utama, termasuk tiket pesawat Surabaya-Mataram PP dan akomodasi berupa hotel dan fasilitas setara bintang 4 + piagam penghargaan.
  2. 10 naskah favorit pilihan dewan juri mendapat hadiah uang sejumlah Rp 500.000,- + piagam penghargaan.
Jadi, tunggu apa lagi? Mulailah menulis ceritamu sekarang!

12 June 2014

JARAK


Aku berharap hujan turun deras malam ini. Mengalirkan kerinduan pada dia, yang sedari tadi bilang, “sebentar lagi”. Sudah satu jam lebih aku menungguinya. Setelah dua tahun aku tak bisa menemuinya. Selama dia dalam masa karantina, saat dimana manusia dikembalikan menjadi benar, begitu menurut para ahli kejiwaan. Dan kebenaran yang tak pernah kudapatkan dari orang lain selain perempuan sempurna itu. Wajahnya ayu, tubuhnya gemulai, dan senyum menggoda. Tapi aku tak benar-benar bisa mendapati senyumnya lagi.  Perempuan dengan kesempurnaan yang membawanya melampaui kenormalan manusia, dan tak bisa dihentikan pada titik klimak, dia terus melaju, melompati kewajaran sebagai manusia. Dia gila.
Aku pun hampir gila jika terus menungguinya, maka kupinta hujan turun dengan deras, supaya dia tak lagi merasa mendusta, ini akan menjadi alasan tepat baginya untuk tak menemuiku malam ini. Dan aku kembali meneguk kopi kecut khas Arabica yang dipanen oleh tangan barista yang menyajikannya. Seorang lelaki yang sedari tadi juga tak tentu dalam diam duduknya. Barista itu pun sedang menanti. Entah perempuan entah lelaki, yang kutahu dia sedang menanti datangnya seorang pembeli. Barista itu hanya memiliki seorang yang memesan kopi Arabica, yang hampir satu jam juga menanti, itu aku.
Kami hanya berjarak beberapa jengkal, dan tak saling menyapa, hanya ucapan pertama yang kudapatkan dari mulut barista itu, “selamat datang”. Lalu secangkir kopi Arabica datang, barista itu kembali ke tempatnya, juga dalam penantiannya, sama halnya denganku, yang sedang menantimu. Matanya seketika terbangun dalam raga yang tak pernah tidur, ketika melihat mobil hitam berhenti tepat dimuka kedainya. Aroma penasaran terpancar dalam balutan muka kaku, barista itu bangkit menuju pintu dengan kalimat sama dia mengucapkan, “selamat datang”.
Seorang perempuan di ujung pintu menyambut senyum barista, merekah merah melepaskan rasa kangen. Senyum kecil sebagai basa basi pembuka sebuah pelukan, hangat, erat. Aku pun merasakan. Pelukan itu yang ingin kuberikan padamu, yang kunanti sejak satu jam tadi. Pelukan yang tak juga mampu kuberikan padamu, perempuan gila. Barista menuntun perempuan itu menuju sebuah meja yang telah dipesan. Tanpa bertanya, barista menuju dapur lalu mengambilkan pancake yang sudah membeku dengan topping yang sudah tak ayu, dan beberapa irisan stroberi yang berceceran ditepian piring. Perempuan itu terkejut, bukan karena pancake yang tak cantik, bukan karena rasa nikmat atau tidak. Dari senyumnya yang melebar, aku tahu itu adalah pancake kesukaannya. Tak perduli tentang rasa atau tata, pancake itu dilahap hingga habis oleh si perempuan.
Barista tak lagi murung, karena setelah kedatangan perempuan itu, datanglah seorang, dua orang, tiga hingga banyak orang memenuhi kedai kopinya. Mereka datang berpasangan, ada pula yang beramai-ramai. Kelompok manusia itu melepas rindu, menyatu dalam lantunan lagu, Payung Teduh. Mereka bahagia. Sementara aku masih menanti, seorang perempuan yang kuyakini akan membuatku bahagia, bukan untuk malam ini saja, namun selamanya. Perempuan yang tak pernah bisa terhapus oleh waktu.
Sekarang sudah dua jam tepat aku menunggumu. Kukirim lagi pesan pendek, “aku masih disini. Kamu dimana?” Semenit, dua menit, dan sudah setengah jam, tak ada pesan balasan. Barangkali kau tertidur, atau kau lupa menyalakan bunyi sehingga kau tak tahu aku mengirimkan pesan untukmu. Dan barangkali kau sudah pergi, dalam perjalanan, dan hampir sampai. Sehingga tak sempat untuk membalas pesan ini. Dan aku masih duduk terdiam di ujung ruangan kedai kopi ini, dengan secangkir Arabica.
Kini, sudah tiga jam. Mataku tak pernah mau lepas dari setiap gerak jarum yang menggodaku untuk menilik inbox dalam handphone, berupaya mengumpulkan rasa rinduku, yang menandai sudah berapa lama aku disini untuk menungguimu. Penantian yang hampir sama dengan seorang barista ketika sore tadi, yang telah dia dapati perempuan yang dinantinya. Sementara aku masih menunggumu. Tapi, aku tak segusar muka barista. Aku duduk nyaman, tak segalau barista. Dan, aku tak pernah menyiapkan kado istimewa seperti barista dengan pancake yang sudah membeku dengan topping yang sudah tak ayu, dan beberapa irisan stroberi yang berceceran ditepian piring. Aku tak pernah menyiapkan apapun untukmu.
Sama halnya ketika aku nekat mengajakmu mendaki gunung, aku tak pernah menyiapkan apapun. Aku percaya, alam menuntun kita pada tempat yang benar. Seperti kebenaran yang kudapatkan pada seorang perempuan, dirimu. Dan kau temukan kebenaran yang melampaui akal manusia, kau gila. Kau mau menemaniku mendaki tanpa perlengkapan apapun. Kau tak takut pada maut, selama bersamaku. Kau bersiap menyerahkan apapun, karena kau telah mendapatkanku. Tapi barista itu, menemukan kebenaran yang sebenar-benarnya, duduk di depan seorang perempuan penggila pancake, yang datang tepat pada saat pancake itu disimpan dibalik meja rahasianya. Aku tak punya apa-apa untuk memberikan kejutan indah untukmu. Aku memiliki rindu untuk kau tertawai atau kau tangisi. Aku menyisakan sesak yang memenuhi rongga dadamu, yang setiap pagi kau elus dengan tetesan air mata dalam setiap doa yang kau panjatkan. Aku memiliki janji untuk terus membahagiakanmu, dalam suka dan duka. Aku memiliki keberanian yaitu menikahimu dengan kenekatan anak manusia.
Dua tahun aku tak menemukanmu. Kau tak mendapatiku. Meski kita sama-sama ada. Dalam sebuah waktu yang berjeda. Dalam ruang kosong, kau mampu menembus adaku. Kudapati tangisanmu di tengah malam selepas kau meninggalkan panti rehabilitasi. Selepas kau menanggalkan rasa pahit yang kau nikmati dalam setiap detik tak kutemui. Aku bersalah telah membiarkanmu sendiri. Kau menanti. Aku menanti. Alam mempertemukan kita, malam ini, di sebuah kedai kopi, ketika kuseduh Arabica, dan kau sedang asik berbincang dengan barista yang memberikanmu pancake istimewa. Kau bahagia dengannya, bukan dengan aku yang tak bisa kau temukan. Aku duduk beberapa jengkal dari tempatmu.
“siapa yang pesan kopi itu?”
“seorang lelaki yang katanya sedang menanti istrinya.”
“dimana dia?”
“entahlah, kopinya juga masih utuh.”
Aku menyesal telah mengajakmu mendaki, mengantarkan kita pada perpisahan. Aku menyesal telah membuatmu gila, karena tak lagi mampu mengecupku pada setiap pagi. Aku masih duduk disini, tak pergi kemana.


Budiman Sudjatmiko Mau Jadi Presiden

saya baru sempat posting.

Pulang kerja, saya diajak suami untuk datang di acara bedah buku 'Anak Anak Revolusi' karya Budiman Sudjatmiko. Wah, saya langsung senang meski badan sudah lelah, saya kerja dari jam 8 pagi, pulang jam 8 malam. Namun ini bedah buku, jadi saya wajib datang, karena saya memang sedang serius menulis dan ingin menerbitkan buku.

Begitu sampai di venue, saya terkejut. Merah-merah dimana-mana. Ini kampanye? Positif thinking. Saya fokus ke bedah buku, saya cinta buku. Setelah duduk hampir satu jam, saya menyimpulkan, ini bedah buku yang bermuatan kampanye. Dan, baru saya tahu siapa Budiman Sudjatmiko. "Dia aktivis yang cukup populer di jaman mudaku." seraya suami saya menceritakan siapa Budiman Sudjatmiko ini. Oh pantas saja, saya merasakan masa-masa ketika masih sekolah dasar, dipaksakan mengenakan atribut partai berlambang banteng oleh Bapak saya (almarhum), dan diajak keliling kampung beriringan dengan reog dan bau akohol menyebar kemana-mana. Mereka teler, mereka pesta politik.


Bajingan. Dalam hati saya.

Saya berubah menjadi sangat tak peduli terhadap politik sejak paksaan ikut kampanye ketika masih sekolah dasar itu. Apalagi menilik perkembangan Indonesia yang ngga jelas kemana perginya moral, kemana letak pengabdian, dan tetek bengeknya yang bikin saya semakin jengah mendengar kata Partai Politik.
Bagi saya, tak ada satu orang pun yang benar-benar baik. Tak ada manusia yang tercipta sangat sempurna. Hanya mereka yang pada awalnya berjuang atas nama rakyat, kemudian terbentur kebutuhan ekonomi, menjual jabatan untuk menafkahi anak istri. Bukankah itu benar? Sebagai tokoh masyarakat memang salah, tapi mereka manusia yang memiliki keluarga. Menjadi kepala keluarga untuk anak istrinya.

Makanya, tak pernah sekalipun saya mempercayai ada manusia yang benar-benar mengabdi untuk negara. Mengabdi untuk keluarga saja masih butuh perjuangan, kan? Saya tak berharap banyak kepada orang-orang yang ingin diakui hebat dan membutuhkan dukungan. Saya tak pernah berusaha menjegal langkahnya. Saya hanya mampu mendoakan, "Semoga niat baikmu bisa terlaksana"

Ah, saya kembali mikirin politik. Fuck!

Lalu, saya mendapatkan kesempatan untuk bertanya pada sang orator, Budiman Sudjatmiko, "Om, mau jadi Presiden?" dan lelaki tua itu menjawab, "iya."

07 June 2014

Bertemu Teman-Teman Nge-Blog

Minggu ini beda banget dari hari-hari biasanya. Saya bersama beberapa orang yang sama-sama doyan nge-blog. Mereka yang punya waktu luang untuk berkumpul dan sharing tentang blog ~ ini melebihi komunitas dengan bendera besar yang ingin dianggap terus eksis dengan sering berkumpul. Ada yang sudah pintar, belum bisa, dan ingin menjadi bisa nge-blog.

Acara ini diprakarsai oleh tiga teman saya dari Ponorogo, yaitu Yuda Taufiqurrahman, Ronie, dan Daffy. Mereka jauh dari Ponorogo ingin datang ke acara Workshop Weblog untuk berbagi ilmu. Ini luar biasa! Dan bersama teman-teman yang lain, yang baru saya kenal diantaranya Stanley Wijaya, Tegas Imam Ramadhan, Aulia Ahmadi, dan Annisa Istiqomah.

Kami bersama-sama belajar tentang blogging. Ah, ini hari Minggu yang paling seru ketimbang nonton tv dirumah, atau males-malesan di kasur. Okelah, saya menjadi blogger dan punya teman blogger!

Kalian perlu kenalan dengan teman-teman saya melalui :
@Jidat @roniemedia @TegasIR @mukti1st @dafhy @auliasupport @nofuckoholic Be

02 June 2014

STILL, YES!!!!


Kamu pernah merasa lelah? Dengan segala tenaga yang telah dikerahkan, kau berpikir akankah jalan itu menjadi ujung dari bahagia yang kau tunggu. Akankah kau temukan tikungan tepat yang telah tergambar dalam setiap mimpimu di malam hari. Kehidupan yang tak tau dimana dan bagaimana kau cara menikmatinya. Aku menjalaninya. Kau akan menjalaninya. Kita pasti menjalaninya.

Aku menikmatinya, di setiap malam yang tak tahu ini saat untuk tertidur atau harus terjaga? Saat untuk bercinta atau memuja. Dan kepada siapa, pujian serta donga ini disengajakan. Untuk sesuatu yang masih dicari letak koordinatnya. Aku tak menemukannya. Kau pun tak menemukannya. Kita belum pasti menemukannya.

Aku ingin bilang, aku terus melangkah, meski ini melelahkan.

11 May 2014

Comedy of Juno, Touch Down Madiun



Baiklah, ini saya menyebutnya ajang rekreasi. Setelah leher dan punggung terasa sangat kaku, ini harus menjadi sesuatu yang bukan biasa. Acara yang sama dengan lain tapi dengan konsep yang lebih matang dan terasa seperti kamu selesai mandi,"segarrr". Saya sejak lama ingin membuat buku. Mencetak semua tulisan-tulisan saya entah itu penting atau tak penting, toh saya nyetaknya pakai uang sendiri. Namun kesempatan itu belum datang. 

Seorang teman saya datang, menceritakan tentang bukunya yang sudah selesai masa cetak, siap untuk distribusi, 'wah, enaknyaaa...' batin saya. Luar biasa, berkali-kali saya mbatin. Saya pun ikut bahagia, walau dia hanya teman nongkrong yang ketemu di warung kopi hanya beebrapa kali saja.

Satu langkah yang akan saya lakukan untuk menjadi bagian berharga dalam moment launching bukunya yaitu, menjadi pemikir mengemas acara yang simpel dan menarik. Yah, ini dia... Silahkan Anda datang ya... Minggu 1 Juni 2014 Jam 9 Pagi di Kampus 2 IKIP PGRI Madiun. Kita bincang-bincang soal buku :)

21 April 2014

Coffee Fest AE, Bukan Sekedar Ngopi

Barista dari Madiun dan Jogja sedang narsis selepas acara
Ngopi bukan lagi sebuah kegiatan biasa. Sudah menjadi trend dan lifestyle. Tidak jarang dijumpai seorang eksekutif muda, sepulang dari bekerja menghabiskan waktu di sebuah kedai kopi, sambil berbincang dengan relasi kerja dan meluangkan waktu untuk menilik socmed. Hal ini yang menyebabkan pertumbuhan kedai kopi di Madiun menjadi semakin pesat. Di tahun 2009 awal barangkali hanya satu atau dua kedai kopi yang beroperasi di Madiun. Kebanyakan hanyalah warung angkringan di pelataran stadion atau alun-alun. Kini, kedai kopi sudah menjamur, hingga jumlahnya lebih dari sepuluh. 

Barista tak hanya menyajikan kopi,
namun juga memberikan edukasi pada pecinta kopi

Memang tak bisa dipungkiri, kopi menjadi salah satu minuman paling diminati di masyarakat. Ada benarnya jika seseorang mengatakan, "ide dan kreatifitas bisa muncul ketika ada secangkir kopi disamping laptop." Sudah menjadi semacam sugesti bahwa kopi bisa meningkatkan daya kreatifitas seseorang dalam menuangkan ide. Anda percaya??


Coffee Brewing Class bersama Pepeng,
barista dari Klinik Kopi Jogja 

Disinilah para pecinta kopi dan barista berkumpul untuk bersama-sama mengadakan sebuah acara ngopi. Dikemas dalam konsep yang sederhana namun tepat, mengawinkan antara kopi dan fotografi. "Pecinta fotografi di Madiun itu kebanyakan doyan kopi juga soalnya." kata ketua komunitas Madiun Photography, Philip Wibowo.


Peserta Lomba Motret Kopi, sedang mencari angle yang pas

Acara yang digelar selama dua hari tersebut, tergolong cukup sukses dengan menghadirkan 9 barista dari Madiun, dan seorang barista dari Jogja. Beberapa kedai kopi yang berkontribusi dalam Coffee Fest AE diantaranya adalah Waroeng Latte, Kedai Becak, Markas Kopi, After Hour, De-Klop, Enefka Pe, Pring Ijo, Notoroso, Ikopi, dan Klinik Kopi. Tak hanya sruput kopi, di acara tersebut juga diadakan Lomba Motret Kopi dengan tema 'Kopi Menurut Kamu' dimana peserta lomba ditantang kreatifitasnya untuk mengembangkan konsep kopi dalam fotografi. 

Peserta Lomba Motret Kopi, menentukan konsep kopi yang
akan dituangkan dalam fotografi

"Motret Kopi ini termasuk dalam still life dan Food & Beverage Photography, namun disini akan ditekankan pada Food & Beverage Photography nya." kata Niko Marta Whiyana, selaku trainer workshop dan juri dalam Lomba Motret Kopi yang digelar pada hari kedua. Antusias masyarakat sangat luar biasa. Pengunjung yang datang tak hanya dari Madiun, tapi ada yang datang jauh-jauh dari Malang, Jakarta, dan beberapa kota lain sekedar ingin ngopi dan saling mengenal sesama pecinta kopi. 

selain ngopi, pengunjung juga bisa menikmati acara music
dari Grup Bagus and Friends

Yang menjadi poin utama dalam Coffee Fest AE pertama ini yaitu Coffee Brewing. Bagaimana cara mengolah dan menyajikan kopi. Karena beda pengolahan maka beda pula rasa yang diciptakan. Disinilah barista mendapatkan tugas dalam meng-edukasi masyarakat tentang kopi, sehingga bisa menghargai kopi. 

Memang, harga kopi di kedai kopi tak semurah kopi di warung, karena dari pengolahan dan cita rasa yang dihasilkan memang berbeda. "Saya puas sekali dengan acara ini, karena ini memang cita-cita saya sejak dulu ingin mengedukasi masyarakat tentang kopi." sahut Ferry, pemilik Kedai Kopi Waroeng Latte. 

Ikopi, salah satu kedai kopi tertua diantara kedai kopi lain
yang ikut di acara Coffee Fest AE ini

Masing-masing kedai kopi yang tampil di acara Coffee Fest AE tersebut memiliki ciri khas. Ada yang menampilkan Latte, Cappucino, Single Original, dan Kopi Tubruk ala Ikopi. Jika Anda belum sempat datang di acara Coffee Fest AE yang pertama, Anda bisa datang di acara Coffee Fest AE kedua yang akan digelar lebih meriah lagi dengan konsep yang lebih menantang.

17 March 2014

Brown Night



Selalu ada tingkatan dalam kehidupan. Selayaknya warna cokelat, ada cokelat muda, setengah tua, dan sangat tua.

Pekatnya malam ini seperti batangan coklat yang baru saja dikeluarkan dari kulkas lantas dimasak dalam panci panas, dan meluber hingga lengket kemudian mengental. Dalam hembusan angin malam, coklat ini menjadi jawaban disetiap tanya tentang sejauh mana aku berjalan, sejauh mana aku mengejar bayang dirimu yang tak kunjung menjadi nyata. Tentang music blues penghantar tidurku, dan menjumpaimu lalu melepasmu lagi ketika pagi menyapa. Janis Joplin, menemaniku malam ini.

**
Dan sejak pertemuan itu, yang kutahu hanyalah namamu. Firman. Serta senyum paitmu, sepahit kopi yang tersaji tanpa gula, tanpa krim penyetara pahit yang sering diminta para pembeli, tapi kau tak pernah memberi. Dibutuhkan tujuh kali bertatap muka denganmu, dan memesan original coffee sugar less, baru kubisa menambahkan krim dalam kopi pesananku. Dan memang, dibutuhkan tujuh kali bertemu supaya aku benar-benar tahu bahwa kau hanya peduli pada biji kopi, bukan pada perempuan yang seliweran datang menghampirimu sekedar ingin tahu siapa kamu.

Tak mudah untuk bisa mengenalmu lebih dari sekedar teman ngopi. Ribuan kilometer memang wajib ditempuh untuk bisa tahu, kau ada disitu dan masih saja bersama biji-biji kopi itu. Tidaklah berlebihan jika kubaptiskan kau sebagai nabi suruhan para dewa yang datang untuk menyadarkan aku dari imajinasi kegilaan tentang lelaki. Dan, lagi-lagi kuhanya bisa menemukanmu dalam secangkir kopi pekat, mirip coklat yang biasa kubuat disela waktu yang tak tentu.

Aku mematung diri diujung aula berkayu, hanya untuk menunggumu. Menanti kapan kau bisa menjadi bagian dari malam sepiku. Datang sebagai lelaki yang dinanti, bukan sekedar imaji bahkan bukan pula dengan uang ratusan ribu untuk meniduriku. Dan bisakah aku menyebutmu lelaki pencuri perhatianku, lelaki yang tak pernah sebentar pun membalas senyum rayuanku. Lelaki yang tak bisa menangkap, dan tak mudah masuk perangkap.

Kewajaranku, rasa lelahku menyadarkan bahwa kau benar-benar nabi utusan para dewa yang tak mungkin bisa kugapai. Kau hanya ada dalam legenda para rasul, tak suka wanita, tak ingin mencinta. Sampai pada malam ini, aku lelah mengejar bayangmu. Aku pasrah dalam secangkir coklat pekat. Dalam tingkatan warna coklat manapun, kau tak pernah ada. Bukan coklat muda, coklat setengah tua, bahkan coklat tua. Kau tak pernah ada dalam sejarah hidupku secara nyata.

“Gimana kopinya?” kau menghampiriku, setelah tujuh kali pertemuan dan setelah tujuh kali aku mencoba menarikmu dari pusar hidupmu untuk terhanyut dalam rayuan maut, kau tak juga ikut surut. Semakin jauh dan kutemukan diriku yang terperangkap dalam duniamu. Menelan kopi pahit ini, setimpal dengan rasa ingin tahuku tentang seorang Firman.

“Masih pahit.” Kusruput dengan muka setengah kecut. Lalu, kau balas dengan senyuman seraya pergi meninggalkanku sendiri, lagi. Beginilah caramu menarik dan melepas. Kepahitan ini menjalar dalam setiap lekuk organku. Membuat kaki menjadi kaku. Kepalaku ikutan pilu. Setiap kali melihatmu yang hanya bisa kupandang, sebatas awan di langit yang terbentang, kau ada dalam bentuk nyata namun tak bisa kuraih.

Hasratku makin memuncak, kegilaanku menjadi nampak, padamu seorang Firman.

**
Masih bersama Janis Joplin, entah ini lagu keberapa. Mataku sudah tak sanggup mencerna dengan benar, barisan lagu winamp dalam layar monitor. Coklat panas yang lengket, menemani malam pekat berpadu dengan hawa pengap, kamar ini masih menjadi saksi. Dinding kamar ini, setia menjadi bagian dalam misi pemuasan hasratku tentangmu, Firman.

Ada sekitar ratusan lembar foto yang terpampang pada dinding. Tak satupun kutemukan senyum diujung bibirmu. Namun, wajahmu yang menyerupai nabi utusan para dewa, selalu bisa menenangkan malamku yang selalu gusar, dikejar cinta yang lapar, dan seringnya tergiring oleh arus besar dengan aroma yang hambar. Kau tak perlu tahu bahwa aku ada disetiap penjuru aula berkayu yang siap menghanyutkanmu dalam malam-malam yang tak wajar. Dalam rasa cinta yang teramat pekat kadarnya.

Aku tak ingin lelah mengejarmu, Firman.

**

Selepas Ashar dalam lampu temaram menuju aula berkayu, ingin menemuimu. Setelah hampir empat bulan aku menjadi bagian dari kota ini, kuharus segera meninggalkanmu, membungkus rapi kenanganmu termasuk didalamnya senyum mahalmu. Ini terakhir kalinya aku diam-diam menyimpan fotomu. Diam-diam menculikmu dan memasukkan dalam dunia imajinasiku. Dalam bayangan fantasi penutup malam pekat dalam secangkir coklat.

Jika selama ini tanpa kehadiranmu secara nyata aku sudah bisa sangat puas dalam setiap percintaan fantasi dan imajinasi, bagaimana bila kau benar-benar nyata, tidur seranjang, telanjang, dan mengejang. Bagaimana aku bisa menikmati setiap lapisan kulitmu yang halus, selalu terbungkus dalam malam imajinasiku yang rakus.

Aku mencintaimu, menyetubuhimu dalam imajinasi malam semu, Firman.

“Jam berapa ini, kamu udah sampai disini? Dari mana?” Sapamu menyambut kehadiranku yang satu-satunya tamu di ruangan aula berkayu. Kulirik jam tangan, empat kurang sepuluh menit. Sore ini lembab, setelah seharian kemarin hujan turun lebat. Pekarangan aula berkayu terlihat basah, dan kau sibuk menyekanya dengan lap pel. Kedua tangan kekarmu nampak semakin kuat meski terbungkus kaos dan aku tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi mata nafsuku selalu tertuju pada bagian tubuhmu yang kau sembunyikan.

Sementara aku masih menelusuri lekuk tubuhmu, hembusan angin sore menyertakan aroma wangi tubuhmu ke arahku. Menyerbu indera penciumku, dan merangsang otak untuk segera bertindak. Kuhentikan langkahku. Kutunggu hingga aku benar-benar siap untuk menatap, lalu berucap, ‘kamu…’ apa ya, bukan, bukan begitu, yang benar begini ‘kamu sekarang itu…’ ah salah. Bagaimana sebaiknya aku memulai percakapan ini. Mungkin begini, ‘kamu itu udah punya pacar belum sih?’

“Tumben sendirian, mana perempuan yang biasanya nemenin itu?” tanyaku tanpa basi-basi. Aku lelah jika terus memanipulasi isi hati. Aku tak terburu, namun aku ingin segera tahu, tentang dirimu, Firman. Karena aku sangat ingin mengecupmu pelan, jika bisa kulakukan sore ini juga, sebelum kereta malam membawaku kembali ke rumahku, ke tempatku yang sebenarnya, setelah masa pengobatan selama empat bulan yang ternyata sangat menyiksa.

Kau hentikan langkahmu, untuk pertama kalinya kau hantarkan senyum, lalu menghampiriku, senyummu seraya berubah menjadi tawa, kau terbahak, dan sesekali ngakak. Aku pun ikut tertawa, menertawai diri sendiri yang sudah tak kuasa menahan rasa penasaran. Dibawah rindang pohon pekarangan aula berkayu, dengan lap pel di tangan kirimu, untuk pertama kalinya aku tersipu. Perlukah kulanjutkan tanya, ‘Jadi perempuan itu waitress? Bukan kekasihmu?’ Dan aku masih dalam ujung tanya dibalut senyum balasan untuk menyeimbangkan suasana, aku mencoba mengerti tentang siapa perempuan itu. Kutunggu kau bilang, bahwa benar perempuan itu bukan kekasihmu.

Dalam sekian detik aku menunggu kau utarakan tentang perempuan itu, berhembuslah angin sore yang tak lagi sepoi, derunya semakin menjadi, membikin lantai aula berkayu yang sejak jam empat kurang tadi sudah dibersihkan oleh pemiliknya, kini kembali lembab dengan beberapa partikel debu bercampur abu menempel pada lapisan kulit kayu. Tiupan angin dari arah utara, membawa serta berita tentang sebuah awal dari bencana, semacam malapetaka.

Warga sekitar mulai gusar, menanggapi datangnya angin berdebu dan semburan abu, terbang mengikut serta dalam sebuah angan yang tertangkap menjadi makna penting akan adanya suatu peristiwa.

Aula berkayu tak lagi bersih. Pintu-pintu yang tadinya sudah terbuka siap menerima tamu, kini kembali ditutup. Dari balik kaca jendela berukuran persegi panjang, dua kali setengah meter, kulihat angin semakin kencang membawa debu dan abu berterbangan. Kau datang membawa secangkir coklat, hangat. Aku tak percaya kau bisa menyajikan coklat yang nikmat.

Yang kutahu, kau seorang barista yang tak mau memberiku gula bahkan krim susu. Yang kutahu, kau tak pernah mau membalas senyumku, dan maka dari itu kuanggap kau rasul yang tak suka wanita, apalagi mencinta. Yang kutahu, kau hanya ada dalam dunia imajinasiku, bukan duduk bersila disamping kiriku, menikmati secangkir coklat yang sangat nikmat. Yang kutahu, kau tak pernah membersihkan aula berkayu ini sendiri, namun tadi kulihat kau bahkan mengepelnya dengan kedua tanganmu. Yang kutahu, kau tak pernah tahu betapa aku menginginkanmu menemaniku dalam tidur panjang di malam yang teramat menyiksa, malam pekat di sebuah rumah pesakitan.

**
Sore jam empat kurang, aku sudah niatkan mampir ke aula berkayu sebelum masa pengobatanku usai, sekedar berucap selamat tinggal, meski aku hanya sekali melihat wajahmu, itupun tanpa sengaja ketika kau datang sebagai sukarelawan, menyumbangkan buku dan baju layak pakai pada kami, pasien dengan gangguan kejiwaan. Sejak pesonamu menghinggapi duniaku, sejak itu pula seorang suster bernama Maria, selalu sedia menceritakan tentang dirimu. Kegilaanmu pada biji kopi. Aula berkayu yang selalu ramai dikunjungi para pecinta kopi. Dan tentang namamu, Firman.

Di setiap malam yang mulai terasa pengap, suster Maria datang dengan secangkir coklat dan selembar fotomu. Ditempelkannya pada dinding kamar supaya aku bisa menjadi tenang, tak lagi mengerang, dan lama-lama aku adalah pecandu dirimu, Firman. Aku menggilaimu dan virusmu telah menyebar ke seluruh organ tubuh, menyentuh isi hati hingga aku yang hampir mati bisa bangkit kembali.

Empat bulan sudah berlalu, kini aku dinyatakan sehat secara fisik, dan jiwa sudah siap menerima fakta. Seorang dokter spesialis yang selama ini merawatku, melalui secarik surat melepas kepulanganku, beberapa kali mengelus rambutku dan mendaratkan ciuman dikening. Katanya, selama merawatku, dia selalu teringat anaknya yang juga pernah menjadi pasien kejiwaan sepertiku, dan itu pula alasan kenapa dokter itu mengambil spesialis kejiwaan.

Yang kutahu, sore ini badai abu, dan aku yang biasanya terbaring sakit dikamar nomor  tujuh, di sebuah rumah sakit jiwa di Surakarta, sudah siap untuk pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga. Namun, aku tak jadi pulang sore ini. Hujan abu mengguyur seluruh Pulau Jawa, dan aku harus terdiam di kamar ini, sambil memandangi fotomu, Firman. Tapi kini, aku dalam kondisi tidak gila, tanpa imajinasi, dan ini bukan fantasi. Aku hanya tahu namamu adalah Firman, selebihnya hanyalah sebuah fiksi.

Selalu ada tingkatan dalam kehidupan. Selayaknya warna cokelat, ada cokelat muda, setengah tua, dan sangat tua. Ada orang gila, lalu sembuh, dan berharap mengenalmu secara nyata.