Langit di atas kota tampak seperti memar yang membiru. Mendung menggantung rendah, pengap, membawa aroma tanah kering yang sebentar lagi akan diguyur hujan. Di dalam apartemen kecil itu, Wanda duduk menatap ponselnya yang bisu.
"Dibutuhkan keikhlasan dalam sebuah jalinan kasih," bisiknya pada ruang kosong. "Tak cukup hanya cinta, apalagi materi."
Wanda tahu, suaminya mungkin sedang berada di bar atau mungkin di kantor—dia tak peduli lagi dengan siapa pria itu menghabiskan waktu. Yang dia inginkan hanya satu: Satria mengangkat teleponnya. Dia ingin bicara untuk terakhir kalinya.
Dengan jemari gemetar, Wanda mengirim pesan suara terakhir:
"Ini yang terakhir kali, Satria. Setelah ini aku akan pergi. Janji. Aku tak akan mengganggumu lagi."
Bayang-Bayang Masa Lalu
Wanda menatap pantulan dirinya di cermin retak di sudut kamar. Kata-kata Satria tadi pagi masih terngiang, tajam seperti sembilu: Perempuan liar. Tak punya moral.
Mungkin Satria benar. Dulu, Wanda adalah penghuni malam. Dia adalah 'hiburan' bagi mereka yang kesepian. Tapi bukankah mereka pernah melewati malam-malam panjang dengan tawa? Mereka pernah berbagi ranjang, bercinta dengan seluruh jiwa, meski rahim Wanda tetap sunyi tanpa suara tangis bayi. Di mata Tuhan dan negara, mereka adalah keluarga. Surat kuning dari KUA itu adalah saksinya.
"Berhentilah menyebutku pelacur," isaknya, menyentuh kain gaunnya seolah ingin merobek kenangan lama. "Jika saja baju itu bisa kulepas selamanya dari kulitku, sudah kulakukan sejak hari pertama kita menikah."
Pengakuan di Ujung Kepergian
Wanda mulai mengemas tas kecilnya. Tak ada banyak yang dia bawa. Dia melihat ke arah meja makan yang kosong. Dia merasa gagal sebagai istri. Tak pernah ada masakan rumah yang hangat; semuanya selalu dibungkus dari kedai depan kompleks. Dia merasa tubuhnya kotor, jiwanya cacat, dan kemampuannya melayani suami hanya sebatas apa yang dia pelajari di jalanan dulu.
Dia menulis sepucuk surat pendek, diletakkan tepat di bawah vas bunga plastik yang berdebu: Maaf, karena kau dapatkan tubuh yang kotor ini. Maaf untuk masakan nikmat yang tak pernah kubuat.
Hujan dan Kepulangan
Tes. Tes.
Hujan akhirnya tumpah. Deras, seolah ingin mencuci seluruh debu di kota ini. Bersamaan dengan itu, suara kunci pintu berputar. Satria berdiri di sana, basah kuyup, napasnya memburu.
Wanda mematung di dekat pintu, tas ransel sudah di bahu. Keberanian yang tadi dia kumpulkan mendadak luruh. Dia bimbang. Lidahnya kelu. Harusnya dia lari, tapi kakinya terpaku pada lantai ubin yang dingin.
"Maaf... aku pergi sekarang," ucap Wanda pelan, menundukkan kepala.
Satria tidak bergerak. Dia menatap istrinya—perempuan yang selama ini dia maki untuk menutupi rasa ketidakberdayaannya sendiri. Dia melihat tas itu, lalu melihat mata Wanda yang sembab.
Satria melangkah maju, menutup pintu di belakangnya dengan bantingan keras, mengunci dunia luar.
"Tak usah pergi," suara Satria serak, berat karena penyesalan. "Di luar hujan deras."
Dia mendekat, meraih tangan Wanda yang dingin. "Aku tak akan menyebutmu pelacur lagi. Tidak hari ini, tidak selamanya."
Satria menarik Wanda ke dalam pelukannya yang basah, menyandarkan dagunya di puncak kepala istrinya. "Kau... istriku. Tetaplah di sini."
Comments