Suamiku punya binatang piaraan
baru. Makhluk yang pandai merayu dan luar biasa lihai menyita waktu. Belakangan
ini, dia tampak begitu memanjakan makhluk itu, hingga perlahan lupa bahwa di
rumah ini ada aku dan Sina, anak perempuan kami yang baru menginjak bangku
sekolah dasar.
Gara-gara peliharaan baru itu, jam
pulang suamiku mundur berantakan. Dari yang biasanya pukul tujuh malam, kini
menjadi pukul satu pagi. Dia bahkan melewatkan hari ulang tahunku minggu lalu
tanpa ucapan, apalagi kado. Yang paling terasa mencekik adalah uang belanja
bulanan yang mendadak terpangkas separuh. Semua demi menghidupi
"binatang" kesayangannya itu.
“Ayah, kok sekarang sering pulang
tengah malam?” tanyaku suatu kali, sembari menyendokkan nasi dingin ke
piringnya yang sepi lauk.
Suamiku tersenyum tipis, matanya
tak lepas dari layar ponsel yang berkedip. “Kerjaanku banyak, Sayang. Harus
urus ini-itu. Peluangnya lagi bagus, sayang kalau dilewatkan.”
Aku hanya membalasnya dengan
senyuman termanis yang bisa kurajut. Iya, pekerjaannya memang bertambah
semenjak memelihara makhluk itu. 'Urus ini-itu' yang dia maksud tentu saja
mengurusi segala kebutuhan sang peliharaan. Dan peluang itu terasa sangat bagus
hanya karena aku memilih berpura-pura buta. Dia begitu mencintai peliharaan
barunya, seolah tak ingin kehilangan satu detik pun bersamanya.
***
Suamiku punya binatang piaraan
baru. Uniknya, yang ini lebih lucu, dan hebatnya lagi... dia bisa memakai baju.
Kemarin, suamiku menyembunyikannya
di balik kemudi mobil—tepat di kursi depan yang biasanya menjadi tempat duduk
favorit Sina saat dijemput dari sekolah. Karena kehadiran makhluk berbaju itu,
Sina harus menunggu dua jam di gerbang sekolah yang mulai sepi. Anak itu
akhirnya menyerah, lalu berjalan kaki sejauh tiga kilometer di bawah terik
matahari hingga kakinya melepuh.
Bukan hanya itu, suamiku juga
melewatkan hari pembagian rapor Sina. Bahkan, janji membelikan seragam baru
saat kenaikan kelas pun diingkarinya. Semua tabungannya tersedot demi sang
peliharaan.
“Ayah, hari ini Sina pulang jalan
kaki. Katanya nunggu Ayah tidak datang-datang,” ucapku pelan saat dia melangkah
masuk ke rumah dengan aroma parfum yang asing.
Wajahnya sedikit terkejut, namun
dengan cepat menguasai diri. “Tiba-tiba ada tamu yang tidak bisa ditinggal,
Sayang. Aku tadi sudah pesan ojek daring untuk jemput Sina, eh, anaknya malah
sudah pulang duluan.”
Oh? Jadi binatang itu sekarang naik
kasta menjadi 'tamu'? Aku membatin dalam hati. Dia memesankan ojek daring untuk
anak kandungnya sendiri, sementara dia rela menjadi sopir pribadi cuma-cuma
untuk peliharaannya? Tentu saja, di kepalanya, lebih baik anak kandungnya
kelelahan berjalan kaki daripada peliharaan kesayangannya harus kepanasan di
jalan. Bukan begitu?
***
Suamiku punya binatang piaraan
baru. Baunya sangat harum, dan sepertinya selalu ingin dicium.
Dia sendiri yang memandikan dan
merawat makhluk itu saat rumah sedang sepi. Tiap kali diajak tidur di ranjang
pernikahan kami, peliharaan itu selalu menggeliat manja, seolah tak bisa
menahan hasrat. Dagingnya masih kencang dan ranum—pantas saja suamiku selalu
tegang dan bergairah setiap kali melihat posisinya yang menantang.
“Ayah, besok Sina ada acara outbound
dari sekolahnya. Aku harus menemaninya seharian penuh, jadi mungkin rumah akan
kosong sampai sore. Tidak apa-apa, kan?” tanyaku di suatu malam, sesaat sebelum
tidur.
Suamiku langsung menoleh, matanya
berbinar cerah, seolah baru saja memenangkan lotre. Dia mengusap rambutku
dengan kelembutan yang sudah lama hilang.
“Iya, Sayang. Kamu memang ibu yang
sangat baik. Aku bersyukur sekali punya istri pengertian sepertimu. Sina pasti
senang sekali ditemani ibunya seharian,” ujarnya bersemangat.
Aku tersenyum dalam kegelapan
kamar. Selamat bersenang-senang, suamiku. Aku memang istri yang sangat
baik. Sudah kusediakan bak mandi yang bersih untuk peliharaanmu. Silakan
tidurkan dia di atas kasur kita yang empuk. Gunakanlah sofa ruang tamu itu
sepuasnya untuk memuaskan berahi kalian.
***
Binatang itu bernama Lintang.
Seorang anak SMA setengah matang, dengan kaki jenjang bak bintang iklan.
Sore harinya, aku dan Sina kembali
dari acara outbound. Rumah tampak sunyi, namun aroma parfum menyengat
dan sisa keintiman masih tertinggal pekat di udara. Suamiku sedang duduk di
sofa ruang tamu, tampak segar dan puas, melemparkan senyum bersalah yang biasa
dia gunakan untuk merayu.
Aku duduk di sebelah suamiku, lalu
membuka dompet.
“Ayah, aku boleh pakai sisa uang
belanja bulan ini untuk bayar tagihan pasang kamera CCTV?” tanyaku dengan nada
suara yang sangat datar, seolah sedang menanyakan menu makan malam.
Wajah suamiku yang tadinya cerah
mendadak pias. Darah seolah surut dari permukaan kulitnya. Matanya membelalak,
tenggorokannya turun naik menelan ludah.
“K-kamera CCTV? Di mana?” tanyanya
dengan suara bergetar menahan panik.
Aku menatap lurus ke dalam matanya
yang ketakutan, lalu tersenyum manis.
“Sehari sebelum pergi outbound, aku sudah memasangnya di tiga titik, Ayah. Di kamar mandi, ruang tamu... dan tepat di atas kamar tidur kita. Rekamannya jernih sekali, bahkan desahannya terdengar sangat jelas di ponselku.”
Comments