KUDA DILEPAS DI CARITA

Para Kuda melaju dengan cepat menuju titik yang telah ditentukan, yaitu sebuah Villa bernama Coconut Island Carita yang berada di sebuah kecamatan dan destinasi wisata populer di Pandeglang, Banten, terkenal dengan Pantai Carita yang memiliki pasir putih, ombak landai, dan pemandangan Gunung Krakatau. Pondok bambu yang lebih tinggi dari permukaan tanah, tersebar melingkar di Kawasan Bamboo Villas. “Disitu aku bermalam, dua tahun yang lalu”. Kaki mengayuh pelan karena tertahan rem. Sesekali tangan kanan dan kiri melepas dan menggenggam tuas rem secara bergantian, sambil kupandangi rumah bambu yang tertutupi alang-alang.

Didalamnya terdapat kasur yang ditata sejajar tanpa dipan. Kaca besar berada persis di depan pintu kamar mandi yang terbuat dari bambu tanpa penyekat yang rapat. Kamar mandinya dilengkapi shower yang mengucurkan air dengan deras. Di sebelah shower terdapat wadah sabun dan shampoo dengan aroma rumput yang mirip dengan udara pagi bercampur dengan angin sejuk.

Tubuhku masih terbaring di salah satu kasur sambil menunggu Maya selesai mandi. Maya adalah peserta perempuan yang berasal dari Surabaya. Kami berbagi kamar untuk menghemat biaya. Selain Maya, ada satu perempuan lainnya yang juga tidur di kamar ini, namun aku belum mengenalnya lebih dekat, hanya tahu namanya, Citra. Rambutnya pendek mirip seperti lelaki, dia berkacamata, kulitnya kecoklatan.

Semalam dia tidur lebih awal, dan pagi ini aku tak melihatnya berada di kasur. Kuraih handphone yang masih terhubung dengan kabel charge. Jam menunjukkan pukul empat pagi lebih beberapa menit. Kubuka pintu kamar untuk mencari perempuan asing yang tidak banyak bicara itu, namun di luar suasana gelap tidak ada siapa pun. Aku hitung sepeda yang parkir di depan kamar, jumlahnya masih sama, ada tiga sepeda, yaitu milikku, sepedanya Maya, dan ini pasti sepedanya Citra.

“Halo” suara perempuan yang sedang kucari-cari muncul dari belakang punggungku. Dia muncul secara mengejutkan dan aku mulai merasa canggung karena saat dia menyapa, aku sedang memperhatikan sepedanya.

“Hai, dari mana?” Kualihkan pandanganku ke Citra, keringat membasahi wajahnya dan bajunya pun ikut basah. Katanya dia melakukan rutinitas pagi, jogging untuk pemanasan.

“Sep, kamu jadi mandi nggak?” dari dalam kamar mandi, Maya berteriak memanggilku, aku bergegas masuk menuju kaca besar di depan pintu kamar mandi, meninggalkan Citra dan sepedanya.

Kutunggu hingga jam setengah lima pagi, hawa masih dingin, kuputuskan untuk tidak mandi, karena aku tidak kuat dengan hawa dingin.

Pikiran berlarian kesana kemari, membayangkan hal-hal buruk yang akan terjadi sepanjang perjalanan yang jaraknya tidak pendek. Takut jika aku lebih memilih untuk menyerah karena rasa tidak percaya diri. Membayangkan perjalanan diatas sepeda sendirian, dari pagi hingga bertemu pagi lagi. Ini perjalanan pertamaku naik sepeda sejauh seribu lima ratus kilo meter!  

Dua tahun telah berlalu, hari ini aku kembali disini, mengingat pertemuan pertamaku dengan Maya dan Citra di kamar yang berada tepat dihadapanku. Ketakutan yang terasa dua tahun yang lalu, tak sama dengan yang terasa hari ini. 

Comments