29 August 2017

TENTANG PERPISAHAN

Telah aku pikirkan malam itu, ketakutan yang mengejar hingga menembus malam dan mimpi tidurku di penghujung waktu. Dengan hilangnya kamu dalam lingkaran hati, apa saja yang runtuh, mengembalikan rasa pada titik pertama keikhlasan jiwa menerima jiwa lain masuk. 

Ketakutan itu nyata. Bukan lagi bayang-bayang seperti cerita patah hati dalam skenario drama asmara. Ketakutan itu menjelma dalam memori, memakan ruang dalam otak, menolak apapun yang mendekati rasa. 

Sementara raga bercerita, bahwa dirinya adalah sekuat sekuatnya karang. Namun dalam lembar yang sama, jiwa jiwa itu berteriak dan menangisi malam tanpa mimpi, tanpa kamu.

Kita telah memutar waktu, jatuh kembali pada patah hati. Itulah kenapa, aku benci jatuh cinta. 

AKU KIRA DIA SUKA PADAKU

Aku kira dia suka padaku. Dari cara dia membalas chat, cara dia berbicara, dari senyum dan sorotan matanya. Pertemuan kami belum lama, hanya sebatas kenal dan menjalin pertemanan sederhana. Sekali dua kali dia mengajak ketemu untuk mengenalkan kopi kesukaannya, Arabica. Berbicara soal perekonimian, manajemen bisnis, dan sedikit soal kehidupan. Dari pertemuan ngopi sekali dalam seminggu, kemudian menjadi setiap sore, kadang sehari dua kali bertemu. Wajar kalau aku mengira dia suka padaku. 


Aku mengikuti alur ceritanya. Bahwa dia sedang sangat sibuk memikirkan pekerjaannya dengan menghabiskan waktu seharian untuk memutar otak dan mengerahkan semua tenaga. Tujuannya hanya untuk bekerja. Tak salah jika aku menyebut dia seorang pekerja keras. Dia selalu membawa buku kemana pun kami bertemu untuk sekedar menanya kabar dan bercerita tentang buku yang telah dibacanya. Dia meminjami aku sebuah buku, memaksa aku untuk mulai suka membaca. Aku menerima bukunya dan kutunjukkan kebahagiaanku, karena aku mengikuti alur ceritanya.

Aku mulai berani lebih dulu mengirim pesan kepada dia. Seingatku, selalu dia yang lebih dulu memulai percakapan, dan selalu saja ada cerita untuk dibicarakan. Pancingan demi pancingan dalam percakapan terlontar dengan santai. Dia mencoba bersikap dekat dengan menanyakan tentang keluargaku, pendidikan, dan pandangan tentang perempuan yang aku suka. Dia pelan pelan masuk dalam duniaku. 

Aku tak tahu bagaimana kelanjutan kedekatan ini. Pagi-pagi sekali dia menelepon, ingin bertemu sore nanti, dia akan berbicara soal pekerjaan. Kita bertemu di kedai kopi kesukaannya, katanya dia suka kopi Arabica nya. Namun disela-sela perbincangan, dia bilang juga menyukai pemilik kedainya. Membingungkan, ketika dia berusaha mendekati aku, dia juga bilang kalau pemilik kedai kopi itu adalah lelaki idamannya. 

Aku berusaha menjaga suasana supaya tidak kaku, setelah percakapan di online tadi, dia bilang sayang. Entah itu disengaja atau sapaan akrab yang biasa dia ucapkan pada teman-temannya. Iseng aku bilang, "Kita kencan". Dia membalas dengan tertawa terpingkal. Ini ternyata hanya lelucon. Becandaan saja. Aku masih berupaya menjaga suasana tetap tenang, meski ada sedikit lonjakan keheranan ketika mendengar bahwa dia tak pernah ingin jatuh cinta. 

Aku mencoba memahami situasi. Dia yang baru saja patah hati, seperti ketakutan pada jatuh hati. Logikanya ingin menghindar, namun hatinya tak bisa menolak. Dia berusaha melupakan patah hati dengan mendapatkan hati yang baru, tapi dia malah semakin takut. Aku hanya bisa mendengar.