Kuda besi
itu melaju cepat menuju sebuah titik: Coconut Island Carita di Pandeglang.
Orang-orang mengenal desa ini karena pantainya yang cantik, berselimut pasir
putih dengan gemulai ombak yang mengalun pelan di bawah penjagaan anggun Gunung
Krakatau. Namun bagiku, Carita bukan sekadar soal pemandangan. Di sana,
pondok-pondok bambu berdiri kokoh di atas tanah, menjadi saksi bisu kehangatan
manusia yang—meski baru pertama kali bertemu—bisa berbagi ruang tanpa rasa
cemas.
“Di situ aku
bermalam, dua tahun yang lalu,” bisikku dalam hati.
Aku mengayuh
pedal perlahan. Tangan kanan dan kiri bergantian menggenggam tuas rem saat
mataku tertuju pada pondok bambu beratap alang-alang itu. Kini, ia tampak
lelah; tidak terawat dan tak lagi dihuni. Aku berhenti tepat di depannya,
membiarkan memori indah itu merembes masuk. Aku ingat kasur yang ditata sejajar
tanpa dipan, kaca besar di depan pintu kamar mandi bambu, dan aroma sabun
rumput yang segar—mirip udara pagi yang bercampur angin laut.
Tubuhku masih terbaring lemas di atas kasur, mendengarkan
gemericik air dari balik pintu bambu sambil menunggu Maya selesai mandi. Maya
adalah kawan baru seusiaku yang datang jauh-jauh dari Surabaya. Meski aku asli
Madiun dan dia dari Surabaya, kami sepakat berbagi kamar demi menghemat biaya
sewa pondok.
Di kamar ini, ada satu perempuan lagi: Citra. Aku belum
mengenalnya dekat, hanya tahu ia berambut pendek maskulin, berkacamata, dengan
kulit kecokelatan yang tampak matang terbakar matahari. Semalam, Citra tidur
lebih awal, dan pagi ini sosoknya sudah menghilang dari kasur.
Kuraih ponsel yang masih terhubung kabel pengisi daya. Jarum
jam menunjukkan pukul empat pagi lewat sedikit. Penasaran, kubuka pintu kamar
untuk mencari "perempuan asing" yang hemat bicara itu. Di luar masih
gelap gulita, sunyi. Mataku tertuju pada deretan sepeda yang terparkir di depan
kamar. Aku menghitungnya pelan: satu milikku, satu milik Maya, dan satu
lagi—pasti milik Citra.
“Halo.”
Suara itu muncul tiba-tiba dari belakang punggungku. Aku
tersentak, merasa canggung karena tertangkap basah sedang memperhatikan
sepedanya.
“Hai, dari mana?” tanyaku, mengalihkan pandangan ke arahnya.
Wajah dan baju Citra basah kuyup oleh keringat. Rupanya, ia baru saja
menyelesaikan rutinitas pagi: jogging untuk pemanasan.
“Sep, kamu jadi mandi nggak?” teriak Maya dari dalam kamar
mandi. Aku bergegas masuk, melewati kaca besar di depan pintu, meninggalkan
Citra dan sepedanya di kegelapan subuh.
Kutunggu hingga jam setengah lima pagi, namun hawa dingin
Carita begitu menusuk. Aku menyerah; aku tidak cukup kuat untuk menyentuh air
di suhu sedingin ini. Aku memutuskan untuk tidak mandi.
Dalam diam, pikiranku mulai berlarian liar. Aku membayangkan
segala hal buruk yang mungkin terjadi di sepanjang perjalanan yang tak pendek
ini. Rasa tidak percaya diri mulai menggerogoti. Membayangkan diriku sendirian
di atas sepeda, menembus pagi hingga bertemu pagi lagi. Ini adalah perjalanan
pertamaku menempuh seribu lima ratus kilometer.
"Bentang Jawa." Nama itu bergema di kepala,
membawa beban sekaligus tantangan yang sebentar lagi harus kuhadapi.
Tanpa ragu
sedikit pun, aku memutuskan untuk terjun ke Bentang Jawa. Sejak pertama
kali melihat poster balapannya di media sosial, ada sesuatu yang memanggilku
untuk terlibat; untuk menyerahkan ragaku pada aspal yang membentang dari ujung
barat ke ujung timur Pulau Jawa.
Aku tak
pernah ambil pusing apakah aku akan jadi yang tercepat atau yang paling buncit.
Aku tak peduli soal harga diri, atau apakah aku akan pulang dengan rasa bangga
atau malu. Bahkan, pikiran tentang keselamatan pun seolah kutepis jauh-jauh.
Bagiku, syaratnya sudah cukup terpenuhi: aku punya kaki, dan aku punya sepeda
kayuh tanpa bantuan siapa pun.
Setahun
sebelum hari besar itu tiba, aku berjuang untuk memiliki kendaraan impianku.
Aku menyisihkan dua juta setiap bulan, melunasi pembayarannya dalam tiga kali
cicilan demi membawa pulang sebuah roadbike Stratos 2 Polygon.
“Sepedamu
tidak cocok untuk ikut Bentang Jawa.”
Kalimat itu
berulang kali kudengar dari teman-teman, perlahan mengikis keyakinan yang
semula utuh. Mereka bilang sepedaku terlalu berat untuk dikayuh sejauh 1.500
kilometer. Katanya, ia tak akan sanggup menaklukkan tanjakan dengan kemiringan
hingga tiga puluh persen. Ia tak akan memberi kenyamanan untuk dikendarai
berhari-hari tanpa henti.
Aku menatap
sepedaku dalam diam.
“Apa benar,
kamu tidak mampu menemaniku dari Banten ke Banyuwangi?” tanyaku pada kerangka besi itu.
Namun,
sedetik kemudian aku tersadar. Sepeda hanyalah benda mati. Seharusnya, dialah
yang bertanya padaku: “Apa benar, aku tidak mampu membawamu dari Banten ke
Banyuwangi?”
Keraguan
adalah pembunuh keyakinan. Keraguan itu pula yang perlahan meruntuhkan apa yang
pernah kami bangun. Enam belas tahun lalu, aku bertemu seorang lelaki dengan
keyakinan berbeda. Kami sepakat melangkah dalam janji pernikahan yang selaras.
Saat itu, tak ada ragu sedikit pun. Bagiku, dia adalah rumah—tempat di mana aku
meletakkan seluruh rahasia, baik maupun buruk.
Dia
mengajarkan aku arti keikhlasan, bahwa hidup tak perlu dikejar, dan masalah
hanyalah cara semesta membuat kita lebih bijak. Aku bahkan mengabadikan
ketenangan itu lewat tato pertama di tangan kananku: ‘Don’t be sad, because
of people—they will all die’. Sebuah pengingat bahwa saat semua manusia
akan berpulang, tugasku hanyalah untuk tidak bersedih dan merayakan setiap
helaan napas.
Namun, rumah
itu akhirnya runtuh. Keraguan membekukan hati yang semula hangat. Setelah
sembilan tahun berjalan bersama, kami harus menempuh jalan masing-masing. Kini,
aku belajar satu hal: aku tak ingin lagi menggantungkan keyakinan pada manusia.
Satu-satunya yang bisa kupastikan adalah diriku sendiri—bahwa aku sanggup
menyelesaikan balapan ini, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Dua tahun
telah berlalu sejak momen di pondok bambu itu. Hari ini, Agustus 2025, aku
kembali ke sini. Aku tak ingin lagi diikat atau dipecut oleh ambisi. Aku ingin
menjadi jiwa yang bebas. Menjalani alur perjalanan dengan ikhlas; aku boleh
tidur di mana pun, dan aku tahu kapan harus berhenti—hanya di garis finish.
Seratus
lebih peserta berkumpul di garis start. Langit masih gelap, embun sisa hujan
semalam menyelimuti seremoni pelepasan di Carita. Kupandangi mereka satu per
satu; laksana kuda-kuda gagah yang siap bertempur mengadu fisik dan mental.
Beban yang kami bawa bukan hanya perbekalan atau lampu penerangan, tapi harga
diri dan komitmen untuk jujur sepanjang jalan.
Ada kuda
yang ambisius, yang hanya ingin mengalahkan kuda lainnya hingga ingkar pada
janji kejujuran. Mereka menjadi kuda terbang yang ingin cepat sampai tanpa mau
merasakan lelah yang manusiawi. Namun bagiku, 1.500 kilometer ini hanyalah
perjalanan pendek untuk menemukan jati diri. Peringkat hanyalah urutan angka
tanpa hadiah di puncaknya. Sebab, hadiah dari Bentang Jawa sudah kami terima di
setiap tetes keringat sepanjang perjalanan.
Parakuda
mengabaikan lelah, mengabaikan ego, dan melaju menuju cahaya.
Comments