KUDA
DILEPAS DI CARITA
Kuda besi
itu melaju cepat menuju sebuah titik: Coconut Island Carita di Pandeglang.
Orang-orang mengenal desa ini karena pantainya yang cantik, berselimut pasir
putih dengan gemulai ombak yang mengalun pelan di bawah penjagaan anggun Gunung
Krakatau. Namun bagiku, Carita bukan sekadar soal pemandangan. Di sana,
pondok-pondok bambu berdiri kokoh di atas tanah, menjadi saksi bisu kehangatan
manusia yang—meski baru pertama kali bertemu—bisa berbagi ruang tanpa rasa
cemas.
“Di situ aku
bermalam, dua tahun yang lalu,” bisikku dalam hati.
Aku mengayuh
pedal perlahan. Tangan kanan dan kiri bergantian menggenggam tuas rem saat
mataku tertuju pada pondok bambu beratap alang-alang itu. Kini, ia tampak
lelah; tidak terawat dan tak lagi dihuni. Aku berhenti tepat di depannya,
membiarkan memori indah itu merembes masuk. Aku ingat kasur yang ditata sejajar
tanpa dipan, kaca besar di depan pintu kamar mandi bambu, dan aroma sabun
rumput yang segar—mirip udara pagi yang bercampur angin laut.
Tubuhku masih terbaring lemas di atas kasur, mendengarkan
gemericik air dari balik pintu bambu sambil menunggu Maya selesai mandi. Maya
adalah kawan baru seusiaku yang datang jauh-jauh dari Surabaya. Meski aku asli
Madiun dan dia dari Surabaya, kami sepakat berbagi kamar demi menghemat biaya
sewa pondok.
Di kamar ini, ada satu perempuan lagi: Citra. Aku belum
mengenalnya dekat, hanya tahu ia berambut pendek maskulin, berkacamata, dengan
kulit kecokelatan yang tampak matang terbakar matahari. Semalam, Citra tidur
lebih awal, dan pagi ini sosoknya sudah menghilang dari kasur.
Kuraih ponsel yang masih terhubung kabel pengisi daya. Jarum
jam menunjukkan pukul empat pagi lewat sedikit. Penasaran, kubuka pintu kamar
untuk mencari "perempuan asing" yang hemat bicara itu. Di luar masih
gelap gulita, sunyi. Mataku tertuju pada deretan sepeda yang terparkir di depan
kamar. Aku menghitungnya pelan: satu milikku, satu milik Maya, dan satu
lagi—pasti milik Citra.
“Halo.”
Suara itu muncul tiba-tiba dari belakang punggungku. Aku
tersentak, merasa canggung karena tertangkap basah sedang memperhatikan
sepedanya.
“Hai, dari mana?” tanyaku, mengalihkan pandangan ke arahnya.
Wajah dan baju Citra basah kuyup oleh keringat. Rupanya, ia baru saja
menyelesaikan rutinitas pagi: jogging untuk pemanasan.
“Sep, kamu jadi mandi nggak?” teriak Maya dari dalam kamar
mandi. Aku bergegas masuk, melewati kaca besar di depan pintu, meninggalkan
Citra dan sepedanya di kegelapan subuh.
Kutunggu hingga jam setengah lima pagi, namun hawa dingin
Carita begitu menusuk. Aku menyerah; aku tidak cukup kuat untuk menyentuh air
di suhu sedingin ini. Aku memutuskan untuk tidak mandi.
Dalam diam, pikiranku mulai berlarian liar. Aku membayangkan
segala hal buruk yang mungkin terjadi di sepanjang perjalanan yang tak pendek
ini. Rasa tidak percaya diri mulai menggerogoti. Membayangkan diriku sendirian
di atas sepeda, menembus pagi hingga bertemu pagi lagi. Ini adalah perjalanan
pertamaku menempuh seribu lima ratus kilometer.
"Bentang Jawa." Nama itu bergema di kepala,
membawa beban sekaligus tantangan yang sebentar lagi harus kuhadapi.
Tanpa ragu
sedikit pun, aku memutuskan untuk terjun ke Bentang Jawa. Sejak pertama
kali melihat poster balapannya di media sosial, ada sesuatu yang memanggilku
untuk terlibat; untuk menyerahkan ragaku pada aspal yang membentang dari ujung
barat ke ujung timur Pulau Jawa.
Aku tak
pernah ambil pusing apakah aku akan jadi yang tercepat atau yang paling buncit.
Aku tak peduli soal harga diri, atau apakah aku akan pulang dengan rasa bangga
atau malu. Bahkan, pikiran tentang keselamatan pun seolah kutepis jauh-jauh.
Bagiku, syaratnya sudah cukup terpenuhi: aku punya kaki, dan aku punya sepeda
kayuh tanpa bantuan siapa pun.
Setahun
sebelum hari besar itu tiba, aku berjuang untuk memiliki kendaraan impianku.
Aku menyisihkan dua juta setiap bulan, melunasi pembayarannya dalam tiga kali
cicilan demi membawa pulang sebuah roadbike Stratos 2 Polygon.
“Sepedamu
tidak cocok untuk ikut Bentang Jawa.”
Kalimat itu
berulang kali kudengar dari teman-teman, perlahan mengikis keyakinan yang
semula utuh. Mereka bilang sepedaku terlalu berat untuk dikayuh sejauh 1.500
kilometer. Katanya, ia tak akan sanggup menaklukkan tanjakan dengan kemiringan
hingga tiga puluh persen. Ia tak akan memberi kenyamanan untuk dikendarai
berhari-hari tanpa henti.
Aku menatap
sepedaku dalam diam.
“Apa benar,
kamu tidak mampu menemaniku dari Banten ke Banyuwangi?” tanyaku pada kerangka besi itu.
Namun,
sedetik kemudian aku tersadar. Sepeda hanyalah benda mati. Seharusnya, dialah
yang bertanya padaku: “Apa benar, aku tidak mampu membawamu dari Banten ke
Banyuwangi?”
Keraguan
adalah pembunuh keyakinan. Keraguan itu pula yang perlahan meruntuhkan apa yang
pernah kami bangun. Enam belas tahun lalu, aku bertemu seorang lelaki dengan
keyakinan berbeda. Kami sepakat melangkah dalam janji pernikahan yang selaras.
Saat itu, tak ada ragu sedikit pun. Bagiku, dia adalah rumah—tempat di mana aku
meletakkan seluruh rahasia, baik maupun buruk.
Dia
mengajarkan aku arti keikhlasan, bahwa hidup tak perlu dikejar, dan masalah
hanyalah cara semesta membuat kita lebih bijak. Aku bahkan mengabadikan
ketenangan itu lewat tato pertama di tangan kananku: ‘Don’t be sad, because
of people—they will all die’. Sebuah pengingat bahwa saat semua manusia
akan berpulang, tugasku hanyalah untuk tidak bersedih dan merayakan setiap
helaan napas.
Namun, rumah
itu akhirnya runtuh. Keraguan membekukan hati yang semula hangat. Setelah
sembilan tahun berjalan bersama, kami harus menempuh jalan masing-masing. Kini,
aku belajar satu hal: aku tak ingin lagi menggantungkan keyakinan pada manusia.
Satu-satunya yang bisa kupastikan adalah diriku sendiri—bahwa aku sanggup
menyelesaikan balapan ini, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.
Dua tahun
telah berlalu sejak momen di pondok bambu itu. Hari ini, Agustus 2025, aku
kembali ke sini. Aku tak ingin lagi diikat atau dipecut oleh ambisi. Aku ingin
menjadi jiwa yang bebas. Menjalani alur perjalanan dengan ikhlas; aku boleh
tidur di mana pun, dan aku tahu kapan harus berhenti—hanya di garis finish.
Seratus
lebih peserta berkumpul di garis start. Langit masih gelap, embun sisa hujan
semalam menyelimuti seremoni pelepasan di Carita. Kupandangi mereka satu per
satu; laksana kuda-kuda gagah yang siap bertempur mengadu fisik dan mental.
Beban yang kami bawa bukan hanya perbekalan atau lampu penerangan, tapi harga
diri dan komitmen untuk jujur sepanjang jalan.
Ada kuda
yang ambisius, yang hanya ingin mengalahkan kuda lainnya hingga ingkar pada
janji kejujuran. Mereka menjadi kuda terbang yang ingin cepat sampai tanpa mau
merasakan lelah yang manusiawi. Namun bagiku, 1.500 kilometer ini hanyalah
perjalanan pendek untuk menemukan jati diri. Peringkat hanyalah urutan angka
tanpa hadiah di puncaknya. Sebab, hadiah dari Bentang Jawa sudah kami terima di
setiap tetes keringat sepanjang perjalanan.
Parakuda
mengabaikan lelah, mengabaikan ego, dan melaju menuju cahaya.
TANGAN
KECIL PANDEGLANG
Anak-anak berbaris di tanah lembap tanpa alas kaki. Ada
lelaki, ada juga perempuan. Mereka meninggalkan bola dan layang-layang demi
menyambut Para Kuda yang melintas di jalan depan rumah.
“Waaa waaa mister mister…” teriak mereka histeris.
Melihat mereka, aku merasa ditarik kembali ke masa kecilku
di Madiun. Namun, memoriku tidak berwarna cerah seperti tawa mereka. Jika aku
menjadi anak kecil seperti mereka, aku mungkin akan lebih berani berteriak,
tapi kenyataannya aku terlahir sebagai Kuda yang tak pernah dilepas. Aku
diikat, dikurung, dan dipaksa menjalankan peran untuk memenuhi keinginan orang
lain.
Ingatanku melompat ke masa Sekolah Dasar. Saat itu, aku
belajar tentang "perbedaan" dengan cara yang menyakitkan. Aku tidak
pernah tahu rasanya aroma buku baru atau tas sekolah yang masih kaku dari toko.
Semua yang kupakai adalah barang bekas lungsuran dari kakak perempuanku. Aku
tumbuh dengan rasa bahwa aku tidak cukup berharga untuk mendapatkan sesuatu
yang baru. Di sekolah pun tak ada perlindungan; tubuhku yang gendut menjadi
sasaran empuk perundungan teman-teman. Aku kecil yang terluka, hanya bisa diam menelan
ejekan.
Memasuki masa SMP, beban itu terasa semakin berat. Aku mulai
mengerti bahwa rumahku bukan tempat yang bisa kubanggakan. Bapak adalah seorang
penjual togel, penjudi, dan pemabuk. Kenyataan itu seperti label buruk yang
tertempel di keningku, membuat teman-teman menjauh seolah aku membawa wabah.
Aku tumbuh dalam ruang hampa, sendirian, menanggung malu yang seharusnya bukan
milikku. Aku malu menghadapi kenyataan-kenyataan buruk itu. Aku malu menjadi
diriku sendiri.
Maka, melihat anak-anak Pandeglang ini, dadaku terasa sesak
sekaligus hangat. Mereka menantikan kehadiran Kuda sejak Agustus tahun lalu
dengan kebahagiaan yang tak tertahan. Mereka takjub melihat Kuda Bule bertubuh
jangkung, dengan tas multifungsi dan pakaian yang keren.
Dengan wajah polos, mereka membandingkan kendaraan hebat
kami dengan milik mereka: hanya sepeda BMX yang rantainya sudah karatan dan
remnya blong! Tapi anehnya, bukan kekecewaan yang muncul dari raut wajah
mereka. Justru tawa lepas yang membebaskan mereka dari rasa iri. Gigi ompong
mereka tak bisa disembunyikan.
Aku pun ikut tertawa melihat polah mereka, meski mataku
mungkin sedikit panas. Tawa mereka adalah tawa yang selama ini kucari—tawa yang
membebaskan dari rasa malu dan rasa kurang.
Detak jantungku bergerak dalam ritme lebih kencang saat
tangan kecil anak-anak Pandeglang ini menyentuh telapak tanganku. Energi mereka
tersalurkan, menyampaikan pesan penuh harapan yang melampaui kata-kata. Mereka
menyambutku dengan lambaian tangan yang hangat, seolah mencairkan es membeku
dari masa kecilku yang kelabu.
Energi positif datang dari segala penjuru, dan hari ini,
jiwaku sudah siap untuk menangkapnya.
GETARAN
DI UJUNG BANTEN
Tanah
Jawa bagiku adalah sosok Ibu yang penuh kesabaran. Ia menabur kasih kepada
semua anaknya, memberikan cinta tanpa diminta, dan membagi kemakmuran pada
setiap petak tanah yang kupijak. Ia adalah Ibu yang terus mendoakan
keselamatan, meski adakalanya ia harus bersedih saat musibah menimpa salah satu
anaknya.
Anak-anak
Ibu—desa demi desa, kota demi kota—selalu bergandengan tangan. Jika satu bagian
terluka, bagian lain ikut merasakannya karena mereka saling bersentuhan dalam
untaian panjang Pulau Jawa. Namun, ada tanya yang menggantung di udara subuh
itu.
“Ibu,
bagaimana dengan kami yang berada di paling ujung?”
Suatu
pagi, aku seolah mendengar anak Banten berseru. Banten yang tak pernah menjabat
tangan Banyuwangi, begitu pula sebaliknya. Mereka terpisah ribuan tahun, hanya
bisa saling mendengar kabar melalui seruan angin yang hanyut dalam nyanyian
alam semesta, atau merasakan kehadiran satu sama lain melalui getaran bumi yang
disalurkan akar-akar pepohonan.
“Meskipun
kalian tak pernah bertemu, percayalah anak-anakku, kalian saling menguatkan.
Kalian menjaga tanah Jawa untuk keselamatan seluruh manusia.”
Seruan
Ibu Jawa itu menggema di gendang telingaku saat aku melintasi sebuah desa di
Banten. Melihat gadis-gadis kecil bermukena itu, ingatanku terseret jauh ke
masa lalu, pada sosok Ibu kandungku sendiri. Sosok yang kekuatannya melampaui
logika; seorang perempuan yang menyimpan samudera kesabaran saat menghadapi
kerasnya badai dalam diri Bapak.
Jika
Ibu Jawa adalah pemberi cinta tanpa diminta, maka Ibuku adalah penjaga api
harapanku.
Aku
teringat saat baru lulus SMA. Dunia seolah runtuh ketika Bapak mengusirku dari
rumah. Alasannya sederhana namun menyakitkan: aku ingin kuliah. Ibu, dengan
segala kerinduannya melihat anaknya memiliki ilmu yang lebih tinggi, memintaku
terus maju. Namun Bapak, yang terjepit sulitnya ekonomi, ingin aku segera
bekerja—menjadi mesin pencetak uang bagi keluarga. Karena aku memilih mengikuti
bisikan Ibu daripada perintah Bapak, aku dibuang. Aku dipaksa berdiri di kaki
sendiri saat aku bahkan belum tahu ke mana harus melangkah.
Bertahun-tahun,
aku memelihara benci. Aku membenci Bapak yang memisahkan aku dari rumah, yang
mencabutku dari akar keluarga. Aku merasa dibuang seperti barang tak berguna.
Namun,
di atas pedal sepeda ini, di tengah perjalanan 1.500 kilometer yang sunyi, aku
menyadari satu hal: terkadang hal baik memang tidak langsung terlihat baik.
Kebencian
itu perlahan luruh, berganti syukur yang tenang. Jika Bapak tidak mengusirku
hari itu, mungkin aku tidak akan pernah tahu cara menjadi kuat. Jika ia tidak
memaksaku hidup mandiri, mungkin aku tak akan punya nyali untuk mendaftar Bentang
Jawa. Bapak, dengan caranya yang kasar, telah mengajarkan ilmu yang paling
kubutuhkan saat dewasa: bertahan dan mandiri.
Kayuhan
kakiku yang semula melambat karena haru, kini kembali stabil. Aku merasakan
sentuhan Ibu Jawa melalui gesekan ban sepeda pada aspal, dan aku merasakan
restu Ibuku dalam setiap hela napas. Aku bukan lagi kuda yang diikat; aku
adalah kuda yang dilepaskan untuk menemukan jalannya sendiri.
HANYUT
DALAM CIKOTOK
Aku
menyadari satu hal: aku bukan Kuda sempurna dengan kaki-kaki kokoh yang siap
berlari tanpa lelah. Aku hanyalah kuda kecil yang sedang belajar menjadi
pemberani. Aku tak mau lagi dibilang "kuda kandang" yang hanya aman
di balik pagar. Meski secara fisik aku terlihat seperti mangsa yang rapuh, jauh
di dalam jiwaku, aku telah dilatih oleh Bapak cara bertarung yang sesungguhnya.
“Jangan
mati terbunuh. Kamu harus menjadi pembunuh,” kata Bapak suatu kali.
Kalimat
itu terdengar kejam, namun itulah cara Bapak mengajariku tentang bertahan
hidup. Di dunia ini, tidak ada pahlawan yang akan turun dari langit untuk
menyelamatkanmu. Bapak menghapus batasan baik dan buruk; baginya, satu-satunya
moralitas adalah kemampuan untuk bertahan diri.
Kenangan
itu membawaku kembali ke masa-masa pertama setelah aku tak lagi tinggal di
rumah. Aku harus mati-matian bertahan hidup. Aku ingat saat melamar kerja di
sebuah radio swasta, di mana suaraku dihargai hanya enam ribu rupiah per jam
siaran. Sebulan, aku hanya mengantongi tiga ratus ribu rupiah—angka yang nyaris
mustahil untuk menghidupi seorang mahasiswa. Uang itu habis tak bersisa hanya
untuk membayar kos dan jatah makan dua kali sehari.
Di
kampus, aku harus membuang rasa malu, membujuk dosen demi mendapatkan beasiswa
karena upah siaranku tak pernah cukup untuk membayar biaya kuliah. Aku hidup
tanpa kemewahan yang dimiliki gadis seusia kawan-kawanku; tak ada krim wajah,
tak ada bedak, apalagi lipstik. Bahkan untuk sekadar membeli bensin motor agar
bisa sampai ke tempat kerja, aku terkadang harus menunduk, meminjam uang pada
teman kos.
Namun,
yang paling membekas dalam ingatanku adalah aroma nasi bungkus itu. Selama tiga
tahun kuliah, menu setiaku adalah nasi dengan sejumput sambal teri. Setiap
hari, tanpa variasi. Itulah bahan bakar tubuhku untuk mengejar ilmu dan
bertahan dari rasa lapar.
“Apa
yang kamu takutkan sekarang, Nak?” suara itu kembali terngiang, menembus kabut
Halimun Salak.
Aku
takut sendiri. Aku takut gelap. Aku takut pada keheningan hutan ini. Namun,
saat kaki ini mulai gemetar, aku teringat pada diriku yang dulu—si penyiar
radio berupah enam ribu rupiah yang kenyang hanya dengan nasi teri. Jika aku
sanggup melewati tiga tahun penuh kekurangan itu, maka perjalanan malam
melintasi Cikotok ini hanyalah urusan kecil. Ada hal yang jauh lebih berat yang
pernah kulalui dibandingkan kegelapan lereng gunung ini.
“Kuda
pemberani tak pernah takut berjalan sendiri, meski kegelapan mengepung ujung
matanya. Sebab, ia melihat dengan hati.”
Malam
itu, alam semesta menyambutku dengan wajahnya yang paling pekat. Gelap
menyelimuti segalanya; lampu sepedaku hanya mampu menembus kabut sejauh dua
meter ke depan. Daun telingaku kupasang lebar-lebar, menangkap irama gesekan
dedaunan. Hujan turun rintik namun kerap, membasahi bumi hingga licin. Dalam
keadaan kuyup, aku turun dari pedal, mendorong sepedaku menyusuri jalanan sunyi
Desa Cikotok.
Sama
seperti malam-malam sepi di kamar kos dulu, di Cikotok ini aku kembali
membuktikan: aku adalah petarung. Kegelapan ini tidak lagi mengancam; ia adalah
kawan yang sedang membimbingku untuk melihat dengan keteguhan hati yang sudah
teruji oleh lapar dan peluh masa lalu.
GEMURUH
PANTAI SELATAN
Garis
itu nyata. Meski teori geografi mengatakan bumi itu bulat, bagiku saat ini
dunia hanya berupa satu garis lurus yang menjemukan. Gravitasi bumi seolah
bekerja ekstra keras, menjagaku agar tetap lekat pada aspal cor yang
kaku—seperti aturan-aturan hidup yang selama ini membelengguku.
Aku
mengayuh dalam kebosanan yang mencekik. Sesuatu yang lurus tanpa belokan memang
melelahkan, persis seperti tahun-tahun yang kuhabiskan hanya untuk memenuhi
keinginan orang lain. Seumur hidup, aku dipaksa mengikuti skenario agar
terlihat "hebat" di mata mereka. Aku memakai topeng kesempurnaan,
berjalan di atas garis yang ditentukan, hanya agar dunia memberikan tepuk
tangan yang sebenarnya tidak pernah kubutuhkan. Aku jenuh menjadi boneka
pajangan. Aku lelah menjadi kuda kandang yang hanya berlari saat pecut
ekspektasi menyentuh kulitku.
Kini,
di sisi kananku, garis biru Pantai Selatan bergerak maju-mundur, menawarkan
irama yang jauh lebih jujur. Gelombangnya tidak memiliki aturan. Ia mengayun,
pecah, dan kembali lagi dalam tarian yang tak pernah bisa kutebak.
Siang
makin terik, angin berubah menjadi lidah api yang memanggang peluh. Gemuruh
Pantai Selatan itu terus memanggil, seolah ia tahu bahwa di dalam dadaku ada
api yang ingin dipadamkan. Aku ingin turun dari sepeda ini, mengeruk pasir
putih sedalam-dalamnya dengan jemari, lalu mengisinya dengan gelombang air laut
yang pasang. Aku ingin air itu membawa pergi seluruh aturan, seluruh penilaian
orang, dan seluruh beban "menjadi hebat" yang selama ini kupikul.
Hanyut.
Aku ingin semua kepalsuan itu hanyut tanpa sisa.
Aku
membayangkan kaki-kakiku melangkah ke tengah laut, menyerahkan diri pada rayuan
ombak hingga aku kewalahan. Biarlah ombak itu mengejarku, menyeretku, dan
membasuh habis sisa-sisa "kuda penurut" dalam diriku. Bermain dengan
ombak memang tak pernah membosankan, karena laut tidak pernah menuntutmu untuk
menjadi siapa-siapa. Di depan samudera, aku hanyalah aku.
Mataku
masih memandang jalan cor, namun otakku sudah berenang di tengah gemuruh.
Hatiku memberontak, memaksa ingin ke pantai. Otakku sempat melarang; ia masih
membawa sisa-sisa pola pikir lama bahwa seorang "Kuda" harus
disiplin, harus kuat, dan tak boleh berhenti hanya untuk bersenang-senang.
Namun,
kali ini, pertahanan itu runtuh. Hati terus merengek, tak mau lepas pandangan
dari biru yang memerdekakan itu.
Otak
akhirnya mengalah. Mengikuti keinginan hati memang seringkali dianggap tidak
masuk logika oleh dunia yang gila akan pencapaian. Tapi hari ini, aku memilih
untuk tidak menjadi hebat bagi mereka. Aku memilih untuk menjadi nyata bagi
diriku sendiri. Aku membelokkan setang sepedaku, meninggalkan jalan cor yang
kaku, menuju pelukan ombak yang jujur.
ANJING
PAMENGPEUK
Selain
tanjakan yang menjulang dengan kemiringan lebih dari dua puluh persen, sisi
selatan Pulau Jawa menyimpan kejutan lain yang tak kalah menguji nyali:
gonggongan anjing di sepanjang jalur Pameungpeuk.
Jika
matahari masih tinggi, anjing-anjing itu hanyalah makhluk yang diam memandang
atau mengikuti dengan malas. Namun, begitu malam jatuh, mereka seolah berubah
wujud menjadi makhluk yang lebih menakutkan daripada sekadar hantu penunggu
hutan. Gonggongannya mengejutkan, tajam, dan seolah memang disiapkan untuk
menghancurkan ketenangan para Kuda. Mereka bersembunyi di bawah kursi-kursi
kayu, bersiap menyerang siapa pun yang lengah karena kelelahan.
Pernah
suatu malam, rasa lelahku sudah di titik nadir setelah dihajar tanjakan
bertubi-tubi. Aku tergiur untuk merebahkan diri di sebuah bangku kayu di depan
rumah warga. Sepeda sudah kusandarkan, napas mulai kuatur untuk tidur sejenak.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Tiga ekor anjing tiba-tiba
muncul dengan gonggongan yang memekakkan telinga, mengusirku tanpa ampun. Aku
berlari sekencang-kencangnya, memacu sisa tenaga yang ada, sementara mereka
terus mengejar di belakang tumitku. Aku baru bisa bernapas lega ketika berhasil
masuk ke halaman sebuah masjid—benteng terakhir yang tak berani mereka masuki.
Anjing
Pameungpeuk memang penjaga wilayah yang luar biasa. Bagi para Kuda,
hampir tak ada tempat untuk sekadar melepas lelah di sana.
Pagi
itu, setelah terbangun dari pos perhentian pertama, aku kembali melaju
melintasi wilayah Pameungpeuk yang semalam terasa begitu mencekam. Namun, di
bawah cahaya matahari yang mulai hangat, kengerian itu menguap. Di pinggir
jalan, aku menjumpai seekor anjing yang duduk termenung sendirian.
Bulunya
berwarna cokelat muda krem, kusam tertutup debu jalanan. Ia tidak menggonggong.
Ia hanya duduk dengan mata yang tampak sangat mengantuk, seolah ia pun baru
saja melewati malam yang panjang dan melelahkan. Aku memperhatikan kaki-kakinya
yang tampak letih, gemetar halus saat menumpu tubuhnya yang kurus.
Melihatnya,
aku seperti melihat bayanganku sendiri di cermin aspal. Kami sama-sama pejalan
yang kehabisan tenaga. Aku berhenti, rasa takut dikejar semalam seketika luruh
berganti rasa iba yang menyesak.
“Hei, buddy...
kamu lapar?” bisikku pelan.
Anjing
krem itu mendongak, memandangku dengan tatapan sayu. Tak ada geraman, tak ada
taring yang menyeringai. Hanya sebuah tatapan kosong yang bicara banyak tentang
rasa lapar—hal yang dulu sangat akrab di perutku saat masa-masa sulit kuliah.
“Ini
makanan buat kamu, buddy. Aku tahu kamu lapar.”
Aku
mengeluarkan sebungkus nasi sop ayam dan menyodorkannya di hadapannya. Ia mulai
makan, pelan pada awalnya, lalu melahap habis setiap butir nasi yang kupunya.
Sambil ia menikmati sarapannya, aku berbisik seolah kami adalah dua kawan lama
yang sedang berbagi rahasia di bawah langit Pameungpeuk.
“Buddy,
jangan menggonggong tengah malam saat para Kuda melintas di sini, ya? Kami
hanya ingin istirahat. Kami sama lelahnya denganmu. Okay?”
Anjing
cokelat krem itu berhenti sejenak, menatapku dengan matanya yang masih tampak
mengantuk, lalu kembali melanjutkan makannya. Tanpa gonggongan, ia seolah telah
menandatangani sumpah suci untuk tidak lagi menjadi teror bagi kawan-kawanku.
Kami berdamai. Aku meninggalkannya dengan perasaan yang lebih ringan, menyadari
bahwa di tanah Jawa ini, semua makhluk hanya sedang mencari cara untuk tetap
bertahan, setapak demi setapak.
RIUH
PANGGANG
Seharusnya
aku tidak di sana tengah malam. Seharusnya aku tak mengganggu ketenangan para
penghuni hutan jati di Panggang saat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku
pernah melintasi kesunyian itu di siang hari, dan bahkan saat matahari masih
tinggi pun, aku sudah merasakan semacam "penolakan". Sejak saat itu,
aku bersumpah tidak akan pernah kembali ke sana saat kegelapan berkuasa.
Namun,
takdir seringkali menuntut apa yang paling kita hindari. Hidup selalu
menyodorkan pilihan yang tak ingin kupilih, memaksaku melalui jalan yang paling
ingin kujauhi.
“Harus
banget aku naik ke Panggang jam satu malam ini?” umpatku dalam seribu tanya.
Aku
mengayuh menuju Imogiri dengan perasaan berkecamuk. Logikaku berbisik untuk
menunggu pagi, namun ambisiku mengejar ketertinggalan dari Kuda-Kuda lain yang
sudah melaju jauh menuju Pacitan memaksa kaki ini terus bergerak. Aku harus
menerjang Panggang dengan sisa keberanian yang kupunya, meski di kepalaku sudah
menari-nari bayangan rupa para "warga" di sana: kuntilanak,
genderuwo, atau nenek-nenek penunggu pohon tua.
Rasa
kantuk menyerang begitu hebat hingga dalam sekian detik, aku sempat terlelap di
atas sadel. Aku bermimpi sedang berada di tengah hutan, namun saat tersentak
bangun, yang kulihat adalah jalanan aspal yang membelah pemukiman. Tak jauh di
sisi kiri, cahaya temaram dari sebuah angkringan memanggilku. Aku harus sadar
sepenuhnya; di jalur ini, mengantuk adalah cara tercepat untuk celaka.
“Kopi
ne wonten, Mas?” suaraku memecah sunyi.
Mas
penjaga angkringan terbangun, menatapku dengan tatapan tak percaya melihat
seorang perempuan dengan sepeda kayuh berkeliaran di jam mati. Sambil
menyalakan kompor dan mengaduk kopi, ia bertanya, “Badhe teng pundhi, Mbak?”
“Ke
Wonosari, Mas. Lewat Imogiri,” jawabku singkat.
“Hluk!
Lewat Panggang, Mbak?” Mas angkringan kaget, sendoknya terhenti sejenak.
Beberapa
warga lokal yang sedang terjaga ikut bergabung. Di atas peta digital, jemari
mereka menelusuri rute yang akan kulalui. “Dari sini sampai sini nanjak terus,
Mbak... di titik ini baru landai. Setelah itu naik-turun dari desa ke desa
sampai Playen.”
Kopi
habis, mata terbuka lebar, dan kaki siap bertaruh pada perjalanan yang paling
tidak kuinginkan. Tak jauh dari sana, tanjakan mulai memamerkan taringnya. Aku,
Kuda Betina yang sudah kehilangan banyak tenaga ini, tak lagi mampu melawannya
dengan kayuhan. Aku turun, mendorong kendaraan selangkah demi selangkah. Setiap
langkah adalah satu inci lebih dekat menuju angka seribu lima ratus.
Napas
kami—aku dan sepedaku—berkejaran. Keringat mengalir dari akar rambut, membasahi
leher, dan membuat baju melekat di kulit. Setiap kali menemukan jalan landai,
aku langsung terkapar. Di mana saja. Di bangku kayu, bahkan di atas aspal
dingin yang keras. Kuda Betina ini kelelahan, tapi ia tak punya alasan untuk
menyerah.
Tanjakan
itu kumakan perlahan, tak kusisakan untuk esok pagi. Saat Kuda lainnya tertidur
lelap di tempat yang nyaman, aku justru menyusuri malam yang tak memberikan
kepastian. Hatiku gusar sesempurna gusarnya kegelapan yang tak bertepi di
depanku. Tubuh menuntut tidur, tapi otak memerintah untuk tetap terjaga.
Keberanian kubakar terus-menerus agar tetap membara, karena aku harus sudah
keluar dari labirin jati ini saat fajar tiba.
Lalu,
"Warga Panggang" itu mulai menampakkan wujudnya.
Dalam
keremangan, mereka tampak seperti anak-anak kecil yang sedang lari
kejar-kejaran. Saat aku melintasi area bermain mereka, mereka terlihat
senang—seolah mengira aku adalah teman baru yang ikut bermain delikan.
Aku menyebut mereka "tuyul" karena rupa mereka mengingatkanku pada
tokoh Casper yang pernah kutonton.
Lucunya,
mereka tidak menggangguku. Justru riuh di dalam hatiku sendirilah yang
sebenarnya mengganggu ketenangan perjalanan ini. Ketakutanku adalah
"warga" yang paling berisik. Di hutan jati Panggang, aku belajar
bahwa hantu yang paling nyata bukanlah yang berlarian di balik pohon, melainkan
keraguan dan kecemasan yang terus membuntuti setiap kayuhan kakiku.
ANGIN
BERBISIK DI PRACIMANTORO
Aku
sudah tahu perjalanan seperti apa yang menungguku di depan. Aku pun sangat
sadar bahwa aku hanyalah seekor Kuda Betina yang ringkih, tak memiliki kekuatan
ledak seperti kuda-kuda jantan lainnya. Di kilometer berapa posisiku sekarang
dalam peta pacuan? Aku tak tahu, dan jujur saja, aku tak lagi peduli.
Aku
sengaja menjauhkan diri dari bisingnya dunia digital. Ponsel hanya kubuka
sekilas untuk melihat pesan WhatsApp, itu pun tanpa gairah untuk membalas. Saat
ini, yang kubutuhkan bukanlah sinyal telekomunikasi, melainkan sinyal dari alam
sekitar yang ingin kukenal lebih dalam.
Pandanganku
terpaku pada garis merah muda di layar cyclocomp—pemandu setiaku agar
tak tersesat. Namun, alat itu juga menjadi sumber kecemasanku. Setiap kali bar
warna-warni penanda kemiringan muncul, jantungku berdegup kencang. Semakin
miring grafiknya, semakin banyak waktu dan napas yang harus kukorbankan untuk melaluinya.
Terik
matahari Pracimantoro seperti bayangan yang posesif. Aku berjalan, ia ikut
berjalan. Aku berhenti, ia pun ikut berhenti di atas kepalaku. Di kanan-kiri
jalan, batu-batu karst raksasa menjulang tinggi, namun mereka seolah enggan
berbagi perlindungan. Aku menatap wajah bebatuan yang angkuh itu; mereka
berdiri tegak, tapi entah di mana mereka menyembunyikan bayangannya sendiri. Di
sebelahnya, pepohonan tinggi tampak kurus meranggas. Rantingnya kering, daunnya
habis ditelan musim. Semuanya berdiri di atas kaki masing-masing dengan
keangkuhan yang sunyi.
Aku
menyerah pada panas. Kusandarkan tubuhku pada pagar besi di sisi kiri jalan.
Kutarik napas dalam, lalu kulepaskan perlahan bersama uap dahaga. Dalam diam,
aku menggugat langit, “Kenapa di sini panas sekali?”
Padahal
baru kemarin aku menggigil disiram hujan dua malam berturut-turut. Manusia
memang tak pernah puas. “Apa boleh aku minta hari ini tidak panas, ya Allah?”
bisikku lirih.
Aku
menanti mendung dikirim untuk memayungi Kuda Betina yang lemah ini. Namun,
langit biru itu tetap bersih, tak mengirim kode sedikit pun tentang datangnya
teduh. Rupanya, mendung sedang enggan bertamu. Keringat mengalir deras seperti
keran yang dibuka lebar, membasahi baju yang sudah empat hari tidak ganti. Bau
keringat yang asam bercampur debu jalanan menciptakan aroma khas: aroma
perjalanan sisi selatan Pulau Jawa. Bau itu mendekap erat tubuhku hingga aku
lupa seperti apa wangi vanila yang biasa kupakai. Indera penciumanku kini hanya
mampu merekam aroma kesunyian ini.
Kekosongan
mulai menyelimuti setiap langkah. Untuk mengusirnya, aku mulai berbincang
dengan apa saja yang kulihat—batu, pohon, hingga aspal. Percakapan ini memang
satu arah, tapi aku tak merasakannya demikian. Kami sedang berdialog. Aku
memang tidak mendengar suara mereka, namun aku mengerti apa yang mereka
sampaikan. Mereka tidak menuliskan pesan di atas kertas, tapi aku bisa membaca
makna dari kehadiran mereka. Pesan-pesan itu diantar langsung menuju
"rumah" di hatiku, dicerna oleh perasaan, lalu diterjemahkan ke
seluruh panca indera.
Wuzzz…
Tiba-tiba,
angin datang dari arah belakang sisi kanan. Ia menari mendekat, meniupkan
kesejukan yang tak terduga di sekitar leher, wajah, dan mataku. Hatiku yang
semula gersang seketika basah. Aku bangkit dari sandaran pagar besi. Lamunan
pahitku tersapu oleh angin yang baru saja membisikkan kesejukan di tengah
teriknya Pracimantoro. Alam seolah menjawab: Ia tidak memberiku mendung,
tapi Ia mengirimkan angin untuk mengusap peluhku.
PELUKAN
POHON NGADAS
Aku
sudah lupa kapan terakhir kali tubuhku dipeluk dengan tulus. Sudah terlalu lama
aku terabaikan dalam kesunyian yang kupilih sendiri. Tubuh ini sering dituduh
memiliki kekuatan tak terbatas hanya karena ia tak pernah tampak tumbang. Ia
dianggap terbuat dari besi yang kebal terhadap segala pukulan, padahal ia telah
dihantam bertubi-tubi oleh kenyataan yang tajam. Aku membiarkan diriku menjadi
rumah hampa yang dihuni oleh jiwa penyendiri; sebuah bangunan tanpa tamu yang
sudi mampir, meski hanya sebentar.
Di
Tumpang, aku memutuskan untuk menghentikan perjalanan yang diselimuti gelap dan
gigil. Dari jarak lima ratus meter, lampu minimarket memancar terang, kontras
dengan pekatnya malam. Kursi besi di terasnya seolah memanggilku untuk
bersandar. Hawa dingin Malang menahanku untuk tidak melangkah lebih jauh. Aku
menggigil hebat, padahal aku tahu ini belum titik tertingginya.
“Kenapa
Malang dingin banget, sih?” keluhku, mencari alasan untuk meyakinkan diri bahwa
tidur di atas kursi besi adalah keputusan yang benar.
Jam
tiga pagi. Dinginnya semakin menjadi-jadi, menusuk hingga ke sumsum tulang.
Kutata dua kursi besi agar berhadapan, kuluruskan kaki, dan bersiap memejamkan
mata.
“Selamat
tidur, Sep,” bisikku pada diri sendiri. “Iya,” jawabku segera.
Jangan
heran, percakapan ini sudah kulakukan sepanjang ribuan kilometer sejak aku
dilepaskan di Carita. Bertanya pada diri sendiri, lalu menjawabnya seketika.
Terus berulang, demi menjaga kewarasan fungsi otak dan mulut agar tidak mati
membeku dalam kesunyian.
Di
tengah gigil itu, aku membayangkan: seperti apa rasanya dipeluk saat
kedinginan menghadang? Bagaimana caranya aku memeluk diriku sendiri,
sebagaimana aku menjawab pertanyaanku sendiri? Aku sudah terbiasa menyemangati
jiwaku saat gelisah, bahkan menasihati diriku saat ceroboh. Tapi mengapa aku
tak bisa memeluk diriku sendiri? Lalu, pada siapa aku harus meminta pelukan
itu?
Tantangan
di depan mata adalah Puncak Jemplang, titik tertinggi dalam jajaran rute
selatan Pulau Jawa. Jaraknya hanya dua puluh empat kilometer dari Tumpang,
namun ia meminta tebusan yang tidak murah. Kuda Betina yang lemah sepertiku
harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menaklukkan setiap meternya.
Jalanan
meliuk-liuk memabukkan, seolah Jemplang sedang menghukum para Kuda dengan
rintangan yang menguras iman. Ia merayu kami untuk menyerah, menggoyahkan
kejujuran batin. Hanya mereka yang mampu menjaga iman dalam setiap kayuhan
pelan yang akan sampai ke puncaknya.
Fajar
menyapa dengan warna jingga yang tipis. Setelah tubuh kaku karena tidur di atas
besi, aku bangkit. “Aku bisa menyelesaikannya,” bisik jiwaku, mencoba
meyakinkan raga yang masih berat. Aku melangkah, berhenti, lalu berjalan lagi.
Keringat mengalir deras, lalu menguap seketika disapu hembusan angin Bromo yang
tajam.
Namun,
saat perjalanan tersisa enam kilometer, langkah Kuda Betina ini mendadak
kehilangan arah. Aku harus lebih cepat sebelum kabut menutup pandangan, tapi
ragaku mogok. Jiwaku meraba-raba, mencari di mana letak tombol semangat yang
biasanya ada di sana, namun ia menghilang.
“Aku
lelah, ayo kita istirahat,” ajak raga pada jiwa. Keduanya sepakat untuk
menyerah sejenak.
“Kita
butuh pelukan,” rintih ragaku. Jiwaku pun ikut layu.
Satu-satunya
yang bisa menghidupkan kembali nyawa yang sudah tumbang ini adalah sebatang
pohon di Ngadas. Ia berdiri di sana, diam namun hadir. Kusandarkan sepedaku,
lalu kudekati ia. Dalam pelukan pohon di Ngadas itu, aku merasakan sesuatu
mengalir. Ia membagikan energinya yang tenang dan purba ke dalam dadaku yang
sesak.
Di
sana, di ketinggian itu, aku akhirnya mengerti: aku tidak butuh pelukan manusia
untuk merasa utuh. Pohon itu telah memelukku, dan dalam dekapannya, jiwa dan
ragaku kembali hidup. Aku tersadar bahwa aku hanya sedang lelah, bukan
menyerah.
DAUN
JEMPLANG MENDENGAR
“Sebentar
lagi sampai.”
Kalimat
itu kuulang seperti mantra, namun degup jantungku justru berlari kencang karena
cemas. Kaki-kakiku mulai gemetar hebat, tak lagi sanggup menahan beban tubuh
dan sepeda yang terasa kian berat. Di depan, kabut turun dengan angkuh,
menyelimuti jalanan dan membuat hatiku ikut kalut. Pikiran buruk mulai
menyerang, memenuhi setiap sudut kepala yang sudah kelelahan.
“Jangan
sampai aku mengulangi kejadian di Gantasan,” bisikku ngeri.
Memoriku
terseret paksa pada malam jahanam setahun yang lalu. Saat itu, aku naif. Aku
mengira gunung hanyalah hamparan hijau yang menawarkan keindahan tanpa ancaman.
Aku datang tanpa perlengkapan memadai—tak ada jaket gunung yang tebal, tak ada
tenda, tak ada pelindung yang layak. Di rest area Gantasan, alam
menunjukkan sisi gelapnya.
Suhu
merosot tajam hingga menyentuh angka enam derajat Celsius. Di tengah kegelapan
yang membeku, aku terjebak. Angin gunung yang tajam menyayat kulitku yang hanya
dibalut pakaian tipis. Aku merasakan kematian mendekat dalam wujud dingin yang
brutal—dingin yang awalnya menusuk tulang, lalu perlahan berubah menjadi rasa
panas yang membakar di seluruh lapisan kulit. Tubuhku mulai membeku. Seluruh
indera perabaku mati rasa.
Di
kursi kayu yang keras itu, aku hanya memiliki satu bekal: doa. Aku melantunkan
permohonan keselamatan berkali-kali, memohon agar jantungku tetap berdetak
hingga matahari terbit. “Apa aku akan mati kedinginan di sini?” tanyaku
saat itu dalam igauan gigil. Tidak! Aku tidak boleh menyerah pada maut semudah
itu.
Trauma
Gantasan itu kini menyulut kekacauan di kepalaku. Saat rintik hujan mulai turun
di jalur Jemplang ini, aku merasakan sesak yang sama. Aku melihat beberapa
pengendara yang melintas dari arah puncak sudah mengenakan jas hujan yang basah
kuyup.
“Pak,
di atas hujan ya?” tanyaku pada seorang pengemudi yang menepi di seberang
jalan. “Iya, Mbak. Sudah gerimis deras,” jawabnya singkat.
Rasanya
seperti vonis. Hukuman dari Puncak Jemplang datang bertubi-tubi. Jika hujan
turun sekarang, aku akan terjebak lagi, mengulangi kengerian enam derajat itu.
Tubuhku meronta meminta jeda, sementara mataku liar mencari penanda: sebuah
kaca cembung jalan yang dipenuhi stiker vandalisme. Bagiku, kaca kotor itu
adalah gerbang suci, tanda berakhirnya hukuman tanjakan.
“Pasti
di depan sudah ada kacanya...” harapku.
Namun,
kaca itu tak kunjung tampak. Aku berhenti, terdiam dalam keputusasaan yang
sunyi. Kutarik napas dalam-dalam, lalu kusandarkan tubuhku yang lunglai bersama
sepeda pada tebing tanah di pinggir jalan. Tanaman liar di sana menyambutku.
Aku bisa merasakan basah embun dari daun-daun kecil itu meresap ke dalam
bajuku.
Aku
menatap sehelai daun di depan mataku.
“Daun,
apa benar kau bisa mendengar?” tanyaku lirih.
Daun
itu diam. Tak ada suara, tak ada gerakan.
“Daun,
tolong aku. Sampaikan pesanku kepada langit. Tolong, jangan turunkan hujan
sekarang. Aku pernah hampir mati di Gantasan, jangan biarkan aku kedinginan
lagi di sini. Perjalananku masih sangat panjang...”
Aku
memejamkan mata, membiarkan keheningan Jemplang mengambil alih. Daun itu tetap
diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, keajaiban kecil terjadi.
Beberapa menit kemudian, rintik yang tadinya mulai menderas tiba-tiba berhenti.
Awan hitam masih menggantung, kabut masih mengepung, tapi hujan benar-benar
tertahan di langit.
Ternyata,
Daun Jemplang mendengar. Ia tidak bicara, tapi ia bekerja. Ia menyampaikan
pesan si Kuda Betina yang lemah ini langsung ke telinga langit. Jalanku dibuka
kembali, bukan oleh kekuatan kakiku, melainkan oleh kebaikan semesta yang
merestui langkahku agar tak perlu lagi bertaruh nyawa dalam dingin yang
mematikan.
NYADRAN
DI LANGIT BROMO
Semua
manusia akan menempuh kepulangan yang sama: kematian. Mereka yang telah lebih
dulu melangkah ke sana adalah para leluhur, pengembara abadi yang membutuhkan
untaian doa agar perjalanan mereka menuju Sang Pencipta berjalan tanpa
halangan.
Perjalananku
menuju kilometer selanjutnya mendadak terhenti di lereng Bromo. Kerumunan warga
Suku Tengger memenuhi jalanan, menciptakan barisan khidmat menuju pemakaman
desa. Mereka sedang merayakan Nyadran—sebuah tradisi mengirim doa dan bakti
kepada mereka yang telah tiada. Tangan-tangan legam itu membawa nampan berisi
makanan dan minuman pilihan untuk disajikan sebagai sajen.
Melihat
tumpukan buah dan nasi itu, ingatanku terlempar ke meja makan di rumah masa
kecilku. Ibu sering menata makanan dan buah-buahan dengan rapi, lalu menyalakan
lilin kecil di sampingnya. Suatu kali, dengan kepolosan bocah yang lapar, aku
mencuri sebuah jeruk dari tumpukan itu. Ibu marah besar.
“Itu
untuk leluhur, bukan untuk kita makan. Hargai leluhurmu!” tegurnya.
Sejak
hari itu, aku tak pernah lagi berani menyentuh jatah para leluhur. Namun, lebih
dari sekadar rasa takut, insiden itu menanamkan sebuah kesadaran: bahwa di
dalam rumah kami, anggota keluarga bukan hanya Bapak, Ibu, dan Kakak. Ada
leluhur yang tak kasat mata namun tetap hadir, melengkapi arti sebuah keluarga.
Nyadran
Suku Tengger ini terasa seperti replika dari suasana rumahku dulu. Makanan yang
disajikan di makam tidak akan berkurang sedikit pun secara fisik; ia akan
dibiarkan membusuk dan akhirnya menyatu kembali dengan tanah. Namun, tidak
menyentuh sajen bukan berarti mereka menolak. Leluhur merasakan kebaikan
manusia yang masih sudi bersedekah dan mengingat nama mereka.
Aku
terhenti cukup lama, terjebak di antara kekhusyukan ritual dan alam yang mulai
berubah wajah. Butiran udara yang jenuh akan air mulai berjatuhan. Kabut turun
begitu tebal hingga jalanan di depanku tampak seperti dinding putih yang samar.
Dari arah Puncak Jemplang, iring-iringan Jeep berbaris rapi, nyala
lampunya berusaha keras menembus pekatnya pedut yang menyelimuti pandangan.
Di
tengah kabut itu, warga Tengger mulai berjalan turun dari makam. Mereka
mengenakan busana adat, wajah-wajah mereka memancarkan suka cita—sebuah
ekspresi syukur atas rezeki dan kemakmuran yang mereka terima. Mereka hidup
berdampingan dengan sejarah dan darah mereka sendiri. Mereka tidak membiarkan
masa lalu mati.
Langkah
kami berlawanan arah. Mereka turun menuju lembah, sementara aku terus merayap
naik menuju puncak. Kami saling menatap di tengah kabut yang memutih. Mereka
menebar senyum yang tulus, dan aku membalasnya dengan binar mata yang sama.
Tiba-tiba,
wajah-wajah asing itu tak lagi terasa jauh. Aku merasa melebur dalam energi
suka cita mereka. Dari tempatku berdiri, aku seolah bisa mendengar sorak
bahagia para leluhur yang menerima persembahan itu. Dan senyuman warga Tengger
siang itu, secara ajaib, menghapuskan segala lelah yang telah kukumpulkan
sepanjang ribuan kilometer berjalan sendiri. Aku tidak lagi merasa sendirian;
aku sedang berjalan bersama ribuan doa yang membumbung ke langit Bromo.
JATI
MENARI DI ALAS BURNO
Bakso
gerobakan di Bromo sebenarnya tidak berbeda jauh dengan bakso keliling yang
sering lewat di depan rumahku. Namun, entah mengapa, rasanya jauh lebih nikmat.
Mungkin karena lidahku baru saja menuntaskan ribuan kilometer pahitnya aspal
sisi selatan Pulau Jawa. Atau mungkin, Bakso Bromo memang memiliki sisi magis
yang mampu menghipnotis tidak hanya indera perasa, tapi juga relung hati.
Aku
menghabiskannya dengan tergesa. Berkali-kali kulirik jam di layar ponsel; kabut
merayap makin tebal, membawa firasat buruk akan datangnya hujan. Rasa cemas
mulai menggerogoti. Jika hujan turun sekarang, perjalananku menuju Senduro akan
tamat. Aku akan terjebak dan terpaksa menginap di Ranu Pani. Padahal, setelah
perkampungan itu, yang tersisa hanyalah hutan lebat berlumut yang dingin dan
hening.
“Alas
Burno jalannya sudah bagus, Pak?” tanyaku, mencoba memecah kesunyian pada
penjual bakso.
“Masih
banyak lubang, Mbak. Lumutan juga,” jawabnya sambil menutup dandang bakso.
Kebulan uapnya membubung tinggi, mirip letupan kecil gunung berapi yang sedang
batuk.
“Kemarin
hujan, Pak? Jam segini…” Aku mencari kepastian, berharap ia menjawab ‘tidak’.
“Hujan,
Mbak. Beberapa hari ini rutin.”
Jawaban
itu adalah alarm bagiku. Hasrat makanku mendadak hilang. Aku harus bergegas
sebelum terjebak dalam pelukan dingin Ranu Pani.
“Pak,
baksonya enak, tapi saya buru-buru. Sisanya dibungkus plastik saja, ya?”
Penjual
itu membungkus sisa baksoku sambil berpesan agar aku ekstra waspada. Alas Burno
bukan sekadar hutan; ia adalah labirin lubang dan lumut yang licin. Ia
menyarankanku memacu kecepatan agar tidak bertemu hujan di tengah rimba.
Alas
Burno adalah urat nadi yang menghubungkan Ranu Pani dengan Senduro, Lumajang.
Jalannya turun berkelok-kelok panjang dengan jebakan lubang di tikungan curam.
Tangan kanan dan kiriku bergantian menarik rem, menjaga keseimbangan sepedaku
agar tidak terlempar saat berpapasan dengan kendaraan besar dari arah bawah.
Udara sangat dingin hingga jemariku kram. Setiap beberapa kilometer, aku harus
berhenti hanya untuk saling menepukkan tangan, meregangkan otot yang tegang
dari lengan hingga ujung jari. Lengah sedikit saja, aku bisa kehilangan
keseimbangan dan tamat di dasar jurang.
Belum
lima kilometer berjalan, keanehan dimulai. Peta digital di stang sepedaku
berbunyi terus-menerus. Tak biasanya ia seriuh ini.
“Kenapa
berisik sekali?” keluhku.
Aku
masuk ke pengaturan dan menonaktifkan semua nada notifikasi. Seharusnya ia
diam, meski ada tikungan setajam apa pun di depan. Namun, suara itu tetap
muncul.
“Tiitt…
tiitt… tiitt…”
“Jangan
berisik di tengah hutan yang sunyi! Jangan membangunkan mereka yang sedang
tidur!” gertakku pada alat itu. Kupastikan kembali semua opsi adalah OFF.
Tapi suara itu tetap ada, menyayat kesunyian Alas Burno.
“Sudah,
jangan berbunyi lagi! Kita sama-sama capek!”
Mataku
terpaku pada layar. Kosong. Tak ada peringatan apa pun yang menyala. Aku diam
sejenak, memandangi pohon-pohon raksasa yang menjulang menggapai langit.
Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar suara langkah menginjak ranting
kering. Aku menoleh cepat, jantungku berdegup kencang. Siapa yang berani
mendatangiku di jam mati di tengah Alas Burno?
Seekor
monyet kecil duduk di sana. Ia menatapku dengan sepasang mata cokelat yang
dalam. Ia tampak mungil dan tak berbahaya, tapi ada sesuatu yang janggal. Ia
tidak lari, tidak menyerang, hanya diam memandangiku tanpa berpaling.
Siapa
kamu sebenarnya? tanyaku dalam hati. Muncul keraguan yang aneh. Binatang
hutan biasanya akan bereaksi jika bertemu manusia, tapi makhluk ini seperti
sedang mengawasiku dengan kesadaran yang terlalu tinggi. Tatapannya kosong,
namun menusuk.
Dia
pasti bukan monyet!
Kecurigaanku
memuncak, dan di saat yang sama, peta digitalku kembali berteriak: “Tiitt…
tiitt… tiitt…”
Kesabaranku
habis. Pikiranku diserang dugaan-dugaan tak masuk akal. Aku kalut. Namun, di
tengah kekacauan itu, sebuah suara di kepalaku berbisik: Tetap waras, tetap
fokus.
Aku
berhenti melawan. Kuputuskan untuk menyesuaikan diri dengan irama bunyi itu.
Kulepaskan kecemasan, kubuang semua pikiran buruk yang merasuk. Aku harus
beradaptasi, sebagaimana aku terbiasa menerima kegagalan dan kekecewaan dalam
hidup. Saat aku berhenti menolak dan mulai mengizinkan diriku menerima alam apa
adanya, sebuah keajaiban muncul.
Dunia
di sekitarku mulai berubah. Pohon-pohon jati yang tadinya diam memasung diri di
pinggir jalan, perlahan mulai bergerak. Mereka berputar, meliuk, dan menari
mengikuti irama nada dari peta digitalku. Nada dan gerak berpadu selaras,
mementaskan sebuah pertunjukan rahasia untuk jiwaku yang lelah.
Ini
seperti lelucon, tapi terasa sangat nyata. Pohon-pohon itu menari dengan
indahnya di tengah rimba Alas Burno. Aku hanya bisa terpaku, tak lagi mampu
membedakan mana realitas dan mana halusinasi. Yang kutahu, hatiku kini tak lagi
takut. Aku sedang menikmati tarian semesta yang hanya dipersembahkan untuk para
pengembara yang sudah menyerahkan seluruh kewarasannya pada jalanan.
SENYUM
LELUHUR DI TANAH TENGGER
Air
mata yang sudah membendung di kantung lakrimal tak lagi mampu kutahan. Mereka
meluap, tumpah tanpa permisi, seolah kantung itu terlalu kecil untuk menampung
duka dan lelah yang telah tersimpan selama puluhan tahun di sana.
Sama
halnya dengan ragaku yang tertahan di Senduro. Aku duduk terpaku di atas sebuah
saung bambu, memandangi sekeliling dengan tatapan kosong. Di depanku, seorang
lelaki duduk diam. Di saung sebelah kiri, ada seorang lelaki paruh baya yang
usianya mungkin sedikit lebih muda dari Bapak.
Aku
kehilangan kompas realitas. Batas antara yang nyata dan yang fana telah lebur
sejak aku melihat pohon-pohon jati di Alas Burno menari mengejek kesendirianku.
Apakah kedua lelaki ini nyata? Ataukah mereka hanyalah proyeksi lain dari hutan
jati tadi?
“Ada
apa, Mbak?” Bapak di saung kiri menyapaku, memecah lamunanku.
“Mmm…
Pak, ini daerah mana ya?” aku bertanya balik. Suaraku terdengar asing di
telingaku sendiri. Aku sedang mencari jalan keluar dari kekacauan pikiranku.
Aku lupa di mana pintu exit untuk kembali ke dunia nyata.
“Senduro,
Mbak. Sampean mau ke mana?” Ia menatapku penuh selidik, mungkin heran melihat
seorang pesepeda yang tampak linglung di tengah jalan.
“Ini
Lumajang ya, Pak? Saya mau ke Banyuwangi.”
“Ini
Senduro, Mbak. Lumajang kota masih jauh…” Ia mulai terlihat enggan berurusan
dengan kekacauanku. Lelaki di saung depanku ikut mencuri pandang, namun segera
membuang muka saat mataku memaku matanya.
Dalam
kepanikan itu, aku hanya mengingat satu nama. Satu manusia yang bisa kupercaya
untuk menarikku kembali ke bumi. Aku menghubunginya dengan tangan gemetar.
“Hei,
kenapa?” suaranya terdengar di seberang sana.
“Aku
bingung…” bisikku. Aku bercerita tentang pohon jati yang berjalan, tentang aku
yang lupa arah, dan tentang rasa rindu rumah yang tiba-tiba menghantam dada.
Aku ingin pulang, tapi aku bingung rumah yang mana yang kumaksud.
Ia
mendengarkan ocehanku dengan kesabaran yang luar biasa. “Kamu harus tenang.
Tarik napas dalam, lalu keluarkan. Ulangi sampai kamu merasa nyaman.”
Aku
mengikuti instruksinya. Ia adalah jangkar bagi jiwaku; ia yang paling tahu
tentang kekacauan yang sering bertamu di kepalaku.
“Sudah
tenang?” tanyanya setelah beberapa saat. “Iya, sudah lebih baik.”
Malam
mulai menjemput, dan aku memutuskan untuk menyerah pada bantal hotel. Tak ada
lagi perjalanan tengah malam yang menjanjikan ketenangan semu. Aku harus tidur
terlelap untuk menyeimbangkan kembali timbangan pikiranku. Tubuh Kuda Betina
ini memang lelah, tapi ia masih sanggup berlari. Namun, hati dan pikiran yang
saling kejar-kejaranlah yang sebenarnya membuatku tumbang.
Tiba-tiba
aku teringat ucapannya: “Alam memberikan apa yang kamu inginkan.”
Lalu,
apa yang sebenarnya aku inginkan?
Mungkin
aku ingin lari dari rutinitas yang mendikte hidupku; dari aroma kopi yang
selalu datang di jam-jam yang kaku, dari angka-angka di layar monitor yang
mencambuk mata lelahku menuju penuaan, dan dari nyeri leher yang selalu menjadi
teman menjelang tidur.
Itulah
alasanku melakukan perjalanan gila ini. Melintasi bentangan Pulau Jawa sisi
selatan hanya dengan kekuatan kaki. Aku ingin berkenalan dengan seluruh
penghuninya—semua yang melekat pada rahim bumi ini. Aku ingin mengosongkan
pikiran dari gangguan duniawi dan menyerap energi semesta dengan tangan
terbuka.
Dan
ternyata, dia benar. Alam semesta telah menyambut kedatanganku. Ia menjawab
seluruh ragu yang pernah kupunya. Angin bisa meniupkan pesan, daun bisa
mendengar doa, pohon bisa memberikan pelukan, dan para leluhur menyapaku lewat
senyum warga Tengger. Bahkan pohon jati pun menari merayakan kehadiranku di
dunia mereka.
Alam
tidak diam. Mereka hidup dalam gelombang frekuensi yang berbeda, di sisi lain
dunia yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang sudah cukup berani untuk
menjadi "gila".
TITIK
TEMU LUMAJANG
Apa
yang paling aku benci dalam hidup? Sesuatu yang meninggalkan kesan tidak indah;
memori yang sulit dilupakan meski berkali-kali kucoba hapus dari ingatan.
Otakku adalah pengarsip yang selektif; ia hanya menyimpan sesuatu yang
menonjol—jika bukan yang terbaik, pasti yang terburuk.
Jika
saja ada tombol Ctrl+A dan Delete untuk membersihkan ruang
kenangan yang kian menyusut seiring bertambahnya usia, aku pasti sudah
menekannya sejak dulu. Dan jika kesempatan itu ada, yang pertama kuhapus adalah
memori bersama Bapak.
Bapak
adalah arsitek yang menciptakan karakter "monster kecil" dalam
diriku. Sejak usia dua belas tahun, aku tumbuh dalam tekanan, makian, dan
pukulan yang membentuk dinding pertahanan yang kaku. Aku membenci keadaan yang
membuat Bapak menjadi monster besar, dan aku menjadi monster kecilnya.
Dulu
aku bertanya, apakah kehidupan ini anugerah? Ataukah ia hanyalah tanah liat
yang bentuknya ditentukan oleh tangan siapa yang meremasnya? Kehidupanku
dibentuk oleh tangan dingin Bapak. Ia ingin aku menjadi manusia yang tidak
boleh lemah. Ia mengajarkanku cara melihat manusia sebagai ancaman. Jangan
percaya siapa pun. Semua manusia adalah penipu. Tak ada yang menolongmu selain
dirimu sendiri. Dalam hidup hanya ada dua peran: pelaku atau korban. Pilihlah
menjadi pelaku.
“Bapak,
apakah aku harus mempercayai itu semua? Aku baru SMP, aku hanya ingin diterima
oleh teman-temanku,” protesku dalam hati dua puluh delapan tahun yang lalu.
Bahkan, aku pernah mengetuk pintu langit, memohon agar Tuhan mencabut nyawanya
lebih cepat agar ia tak ada lagi di bumi ini. Begitu besarnya benci itu.
Namun
kini, di tengah badai kehidupan yang jauh lebih besar dari cerita Bapak, aku
tersungkur pada sebuah kesadaran yang pedih.
“Bapak…
ternyata aku perlu menjadi monster sepertimu untuk tetap berdiri menghadapi
badai ini.”
Bapak
tidak menjawab. Ia sudah tertidur nyenyak di dalam tanah. Tapi ajarannya
menggema di setiap kayuhanku. Aku mulai merasakan bahwa manusia memang bisa
menjadi ancaman, bahwa kemandirian mutlak adalah satu-satunya perlindungan.
Maafkan aku, Bapak, karena dulu pernah mendoakan kematianmu. Aku bodoh.
Ternyata, kamu sedang mempersiapkanku untuk perjalanan ribuan kilometer ini.
Setelah
pikiran dan pandanganku dipermainkan oleh pohon jati yang menari di Alas Burno,
aku akhirnya menyerah pada kenyataan fisik. Aku bangun di atas kasur hotel yang
lembut di Lumajang. Kainnya dingin terpapar AC, tapi selimutnya memberi
kehangatan yang mewah. Kedua kakiku terasa lumpuh, dan luka lecet di tubuhku
akhirnya bisa bernapas di atas seprei yang bersih. Menginap di sini bukan
sekadar mengistirahatkan raga, tapi memungut kembali jiwa yang sempat
kehilangan arah.
Hanya
lima jam aku terlelap, namun memoriku melakukan perjalanan waktu dua puluh
delapan tahun ke belakang. Bapak hadir kembali, bukan sebagai luka, melainkan
sebagai memori baik. Aku mencintaimu, Bapak. Aku berhenti membencimu. Kamulah
yang mencetak kepribadian ini hingga aku berani berada di Lumajang seorang
diri, bertarung dalam pacuan melawan ketakutan. Aku bukan lagi Kuda Betina yang
lemah. Aku adalah monster kuat yang kau buat, yang tetap tenang meski
ditinggalkan oleh perhatian duniawi.
“Aku
kuat, dan aku akan menyelesaikannya.”
Pukul
enam pagi, Kuda Betina siap kembali ke jalur. Meski bagi para Kuda lain pacuan
sudah berakhir kemarin, bagiku perjalanan ini belum usai. Aku tidak ingin
dihentikan oleh apa pun. Aku ingin mematahkan ejekan mereka yang berharap aku
menyerah.
“Hanya
aku yang bisa menghentikan diriku.”
Saat
hendak bersiap, seorang lelaki tua memanggilku. Usianya sebaya Bapak. Ada
keriput di sudut matanya yang tampak familiar saat ia tersenyum.
“Come
here, sit down with me,” ucapnya dalam bahasa Inggris. “Hai Pak, mau kopi?”
tawarku sambil duduk di sebelahnya. “Arep nengdi kowe?” (Mau ke mana
kamu?)
Aku
terperanjat. Wajahnya memang Jawa, tapi sapaan Inggrisnya membuatku mengira ia
warga asing. Ternyata, ia adalah Pak Marto, warga negara Suriname keturunan
Jawa Tengah yang sedang pulang kampung bersama putrinya, Michelle Nadine
Martoredjo.
“Aku
ora iso bahasa Indonesia. Isoku bahasa Jawa ngoko,” akunya jujur.
Melihat
Pak Marto dan Michelle, hatiku menghangat. Di Lumajang, aku menemukan irisan
memori buruk yang telah tumbuh menjadi memori baik. Kisah mereka adalah cermin
dari apa yang kupelajari: hidup memiliki dua sisi yang tak terpisahkan.
Kebaikan muncul untuk menggantikan yang buruk, dan keburukan ada untuk memberi
pengakuan pada kebaikan.
Mesin
waktu di kepalaku menarik kedua masa itu menjadi satu, membiarkanku menerima
hitam dan putih hidup dengan seimbang. Aku berangkat dari Lumajang dengan hati
yang penuh. Bukan lagi sebagai anak yang terluka, tapi sebagai pejuang yang
telah berdamai dengan bayang-bayang ayahnya sendiri.
PENJAGA
MALAM DI LABIRIN GUMITIR
Selepas
Jember, jalanan mulai menyempit dan menanjak kembali. Aku tahu ini adalah
"ujian kelayakan" terakhir sebelum aku diizinkan menginjakkan kaki di
tanah Blambangan. Kali ini, takdir tak membawaku lewat jalur aspal mulus
seperti biasanya. Rute perjalanan dibelokkan ke kanan, memaksaku memasuki
jantung Kebun Kopi Gumitir di Desa Sidomulyo.
Jalanan
berubah menjadi barisan bebatuan kasar yang dikepung rapat oleh barisan pohon
kopi. Jalur setapak yang seharusnya sunyi ini mendadak riuh oleh kendaraan
besar dan deru motor, karena jalur utama penghubung Jember-Banyuwangi sedang
diperbaiki. Namun, keriuhan itu hanya sesaat. Begitu azan Maghrib berkumandang
dan hari meredup menjadi gelap, suasana berubah total. Suara mesin menjauh, dan
aku tertinggal dalam kesunyian yang ganjil. Sesekali jalanan benar-benar
senyap, seolah semesta sedang menahan napas.
Tanpa
penerangan jalan, aku hanya mengandalkan nyala lampu kecil di sepedaku untuk
membelah kegelapan bebatuan. Beberapa kali kujumpai turunan tajam berbatu yang
mengancam keseimbangan. Dalam kondisi lelah yang luar biasa, aku tahu lepas
kendali sedikit saja berarti celaka. Aku memilih untuk tidak berjudi dengan
nyawa; kuturunkan kaki, lalu berjalan sambil mendorong sepedaku selangkah demi
selangkah demi keselamatan.
Setelah
berjalan beberapa kilometer dalam dekapan sunyi, sebuah bayangan raksasa muncul
di depanku. Berdiri kokoh di tengah rimba hijau, Pabrik Kebun Kopi Gumitir
menampakkan wujudnya—sebuah bangunan tua yang sangat besar dengan aroma yang
bercampur antara wangi kopi ranum dan hawa lembap dari pepohonan purba. Pabrik
itu seperti monumen bisu yang menyimpan sejarah panjang di kawasan Silo.
Tak
jauh dari sana, tersebar rumah-rumah warga yang sangat sederhana. Lampu neon
remang-remang di teras rumah menjadi satu-satunya tanda kehidupan, namun aku
tak melihat seorang pun penghuninya. Padahal malam belum larut, tapi kenapa
suasana sudah sepahit kopi tanpa gula? Sepi sekali.
Aku
memutuskan berhenti saat mataku menangkap cahaya dari sebuah bangunan. Di
depannya, beberapa lelaki sedang sibuk mengitari sebuah motor yang sedang
diperbaiki.
“Warungnya
masih buka, Mas? Mau pesan kopi saget (bisa)?” tanyaku, membuyarkan
konsentrasi mereka.
“Niki
sanes warung kopi, Mbak. Niki pos kampling. Tapi wonten kopi, kulo damelke
kopi, Mbak…” (Ini bukan warung kopi, Mbak. Ini pos kampling. Tapi ada kopi,
saya buatkan ya, Mbak...) sahut salah satu dari mereka dengan keramahan yang
tulus.
Aku
tersipu, merasa sungkan karena telah mengira pos penjagaan sebagai warung.
Namun, di sanalah keajaiban perjalanan ini kembali hadir. Di tengah
perkampungan Kebun Kopi Gumitir, aku duduk menikmati suasana malam bersama
manusia-manusia baru yang sudi berbagi. Aku sudah benar-benar lupa ini hari
apa, atau sudah berapa lama aku terlambat mencapai garis finish. Di pos
kampling itu, suasana menjadi gayeng (hangat dan akrab). Rasa cemas yang
membuntutiku sejak tadi menguap bersama uap kopi.
“Jalan
keluar Kebun Kopi Gumitir ini masih jauh nggak, Mas?” tanyaku sebelum
berpamitan.
“Mboten,
Mbak. Nanti sampeyan terus saja, sampai ketemu gapura besar setelah terowongan
Mrawan. Itu sudah jalan raya.”
“Nggih,
matur suwun, Mas. Kopinya berapa?” tanyaku sambil merogoh saku.
“Niki
gratis, Mbak. Mboten usah mbayar.”
Aku
tersenyum malu sekaligus terharu menerima kebaikan sederhana itu. Aku
melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya di depan mataku berdiri sebuah gapura
besar yang tampak seperti peninggalan zaman penjajahan Belanda. Kokoh, tak
terawat, sunyi, dan sedikit mencekam di bawah sisa-sisa cahaya lampu sepedaku.
Namun, aku tak lagi takut. Kopi dari pos kampling tadi telah menghangatkan
nyaliku untuk menuntaskan sisa kilometer menuju gerbang Blambangan.
GANDRUNG : KEPULANGAN DI UJUNG BLAMBANGAN
Banyuwangi.
Nama itu akhirnya bukan lagi sekadar koordinat dingin di layar peta digital
atau ambisi yang menghantui kepala. Ia kini nyata, bergetar di bawah ban
sepedaku. Aroma laut Selat Bali mulai tercium, bercampur dengan wangi dupa dan
semerbak melati yang samar—sebuah aroma khas tanah yang sangat menjaga
kesakralan tradisinya.
Aku
menyentuh garis finish saat dunia sudah terlelap. Jam satu pagi. Tidak
ada sorak-sorai penonton yang gegap gempita, tidak ada medali emas yang
dikalungkan di leherku. Hanya ada aku, sepedaku, dan debu jalanan yang melekat
di sekujur tubuh sebagai saksi bisu. Namun, di tengah kesunyian yang
kupasrahkan itu, kejutan kecil menyambutku. Tiga orang kawan masih terjaga,
berdiri menentang dingin demi menungguku: Pak Febrianta Heru, Mas Pandu, dan
Jojo Maliq. Kehadiran mereka di jam mati itu terasa begitu hangat, seolah
semesta mengirimkan perwakilan untuk membisikkan bahwa aku tidak benar-benar
sendirian.
Sementara
raga ini berhenti, di dalam dadaku sebuah tarian justru baru saja dimulai.
Tarian
Gandrung.
Aku
menatap patung-patung penari Gandrung yang berdiri anggun di setiap sudut kota.
Tubuhnya meliuk gemulai, namun kakinya menapak sangat kuat ke bumi. Lirikan
matanya tajam namun memikat, menyimpan rahasia tentang sejarah panjang
perjuangan rakyat Blambangan. Konon, dahulu Gandrung bukan sekadar hiburan; ia
adalah simbol perlawanan dan pesan rahasia para pejuang. Penari Gandrung menari
untuk menyatukan yang tercerai-berai, memberi semangat pada yang lelah, dan
menjadi penghubung antara yang hidup dan para leluhur.
Gandrung
menari di atas garis tipis antara suka dan duka. Persis seperti diriku yang
dipaksa menari di antara kesunyian Panggang dan terik yang membakar di
Pracimantoro. Seperti diriku yang harus menyeimbangkan raga yang lelah dengan
jiwa yang hampir menyerah di Alas Burno. Gandrung mengajarkanku bahwa untuk
menjadi indah, seseorang harus berani menanggung beban mahkota yang berat dan
kain yang membelit, namun tetap harus bergerak mengikuti irama semesta.
Aku
telah menempuh ribuan kilometer bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat
dari orang lain. Aku melakukannya untuk membuktikan pada "monster
kecil" di dalam diriku bahwa ia bisa tumbuh menjadi "monster
besar" yang bijaksana. Bapak benar, aku harus kuat menghadapi dunia yang
penuh tipu daya. Namun, alam semesta juga benar; bahwa kekuatan sejati lahir
dari kemampuan untuk tetap lembut dan "mendengar" di tengah kerasnya
dunia.
Aku
bukan lagi perempuan yang sama saat roda sepedaku berputar meninggalkan Carita.
Aku adalah kuda yang telah berdialog dengan angin, meminta izin pada
daun Jemplang, dipeluk oleh pohon di Ngadas, dan disapa oleh senyum tulus
leluhur melalui warga Tengger. Aku telah menguliti lapisan-lapisan kebencian
masa lalu dan menggantinya dengan syukur yang mendalam.
Di
Banyuwangi, aku akhirnya memahami arti "pulang". Pulang bukan berarti
kembali ke rutinitas kopi jam tujuh pagi dan layar monitor yang mencambuk mata
menuju penuaan. Pulang adalah saat jiwa dan raga akhirnya berhenti saling
kejar-kejaran dan mulai berjalan berdampingan dalam harmoni yang tenang.
Pacuan
telah usai. Garis finish ini hanyalah awal dari perjalanan baru yang
lebih luas. Di bawah tatapan mata penari Gandrung yang abadi, aku akhirnya
benar-benar bisa memeluk diriku sendiri. Tanpa ragu, aku berbisik pelan pada
angin yang membawa aroma Selat Bali:
"Terima
kasih telah membawaku sampai di sini."
Comments