KUDA DILEPAS DI CARITA
Kuda besi itu melaju cepat menuju
sebuah titik: Coconut Island Carita di Pandeglang. Orang-orang mengenal desa
ini karena pantainya yang cantik, berselimut pasir putih dengan gemulai ombak
yang mengalun pelan di bawah penjagaan anggun Gunung Krakatau. Namun bagiku,
Carita bukan sekadar soal pemandangan. Di sana, pondok-pondok bambu berdiri
kokoh di atas tanah, menjadi saksi bisu kehangatan manusia yang—meski baru
pertama kali bertemu—bisa berbagi ruang tanpa rasa cemas.
“Di situ aku bermalam, dua tahun
yang lalu,” bisikku dalam hati.
Aku mengayuh pedal perlahan. Tangan
kanan dan kiri bergantian menggenggam tuas rem saat mataku tertuju pada pondok
bambu beratap alang-alang itu. Kini, ia tampak lelah; tidak terawat dan tak
lagi dihuni.
Aku berhenti tepat di depannya,
membiarkan memori indah itu merembes masuk. Aku ingat kasur yang ditata sejajar
tanpa dipan, kaca besar di depan pintu kamar mandi bambu, dan aroma sabun
rumput yang segar—mirip udara pagi yang bercampur angin laut.
Bayangan rimbun bambu di depanku
mendadak tumpang tindih dengan dinding bambu yang dulu mengepung pandanganku.
Tubuhku masih terbaring lemas di atas kasur dan mata masih terasa berat untuk
dibuka, mendengarkan gemericik air dari balik pintu bambu sambil menunggu Maya
selesai mandi.
Maya adalah teman baru seusiaku
yang datang jauh-jauh dari Surabaya. Meski aku asli Madiun dan dia dari
Surabaya, kami sepakat berbagi kamar demi menghemat biaya sewa pondok.
Maya adalah definisi
"sempurna" di atas aspal. Setiap kali kami bertemu di titik kumpul,
sinar matahari seolah betah berlama-lama memantul di frame karbon
miliknya yang mengkilap. Sebagai brand ambassador, ia adalah
manekin berjalan—dari helm aerodinamis hingga sepatu dengan sistem pengunci
terbaru, semuanya serba mutakhir. Di sampingnya, aku sering merasa seperti
coretan kusam di atas kanvas yang indah.
Pernah suatu kali saat aku
bersepeda dengannya, dalam sebuah tanjakan panjang yang menyiksa, aku
memperhatikan perpindahan gigi sepedanya yang begitu halus—nyaris tanpa suara.
Sementara itu, sepedaku— yang kubayar dengan cucuran keringat cicilan tiga kali—mengeluarkan
bunyi krak yang kasar saat aku memaksa operan groupset Claris-ku.
Di detik itu, rasa iri sempat
menyelinap halus seperti embun pagi yang dingin. “Kapan aku bisa punya
kemewahan itu? Kapan aku tidak perlu memikirkan bunyi rantai yang berisik ini?”
Namun, Maya menoleh. Ia tidak
membalapku untuk pamer kekuatan. Ia justru mengatur ritme napasnya agar sejajar
denganku. "Ayo, sedikit lagi. Iramamu stabil banget hari ini,"
ucapnya tulus. Senyumnya meruntuhkan dinding persaingan yang hanya ada di
kepalaku.
Aku menunduk, menatap kakiku yang
terus berputar di atas pedal sederhana. Tiba-tiba, ingatanku beralih ke meja
makan di rumah. Aku teringat biaya sekolah anak-anak yang sudah terbayar bulan
ini, dan aroma masakan hangat yang bisa kusajikan karena aku memilih untuk
menabung, bukan membelanjakan uang demi upgrade komponen
sepeda.
Sepeda ini mungkin hanya berbahan
alloy, berat, dan jauh dari kata mewah. Tapi setiap putaran rodanya adalah
saksi bahwa aku adalah ibu yang tangguh dan pekerja keras. Sepeda ini tidak
hanya membawaku menempuh kilometer jalanan, tapi juga membawaku melintasi badai
ekonomi keluarga tanpa harus menyerah.
Aku menarik napas dalam-dalam,
mengisi paru-paruku dengan udara pagi yang segar. Aku menyadari satu hal: Maya
mungkin memiliki sepeda yang lebih ringan, tapi kekuatan di kakiku dan
keteguhan di hatiku tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.
"Terima kasih, May!"
seruku, bukan hanya untuk penyemangatnya, tapi juga untuk pengingat tak
langsung bahwa jalanku dan jalannya memang berbeda, namun aspal yang kami lalui
tetaplah sama.
Hari ini, aku tidak lagi mengejar
Maya. Aku hanya ingin pulang ke rumah dengan raga yang sehat, untuk anak-anak
yang menjadi alasan utamaku tetap mengayuh, seberat apa pun tanjakannya.
Di kamar ini, ada satu perempuan
lagi: Citra. Aku belum mengenalnya dekat, hanya tahu ia berambut pendek
maskulin, berkacamata, dengan kulit kecokelatan yang tampak matang terbakar
matahari.
Kisah Citra di Bentang
Jawa tahun 2021 memang luar biasa menginspirasi! Menempuh jarak sekitar
1.500 km membelah Pulau Jawa dari barat ke timur dengan segala medannya yang
brutal—mulai dari tanjakan terjal di jalur selatan hingga cuaca yang tak
menentu—memang butuh kekuatan fisik dan mental yang tidak main-main.
Aku sudah mengikuti akun Instagram
Citra sejak lama. Wajar sekali jika aku langsung bersemangat mengikuti
kesehariannya. Menariknya, bagi banyak orang yang mengikuti ajang ultra-cycling
seperti itu, daya tarik utamanya bukan hanya soal siapa yang paling cepat
sampai di Banyuwangi, tapi bagaimana mereka mengelola diri sendiri dalam
kesunyian dan kelelahan yang ekstrem di jalanan.
Aku tak melewatkan sekalipun
postingan Citra di instagram. Cerita tentang bersepeda, kesukaannya terhadap
kucing. Foto-foto yang diunggahnya selalu estetik, sangat menginspirasi untuk
konten sosial mediaku. Kecerdasannya dalam berbahasa inggris di setiap caption
yang dia tuliskan di sosial media, membuatku semakin kagum pada Citra. Dan kini
aku sekamar dengannya, betapa aku sangat senang bisa melihatnya secara
langsung.
Yang aku lihat dari Citra, dia
orang yang sangat pendiam, tertutup. Menyukai bersepeda ke tempat-tempat dengan
pemandangan indah, menaklukkan tantangan-tantangan. Tapi jauh dari kata
sombong, mungkin karena kepintarannya mengemas kata-kata dalam caption.
Semalam, aku lihat Citra tidur
lebih awal dan pagi ini sosoknya sudah menghilang dari kasur. Kuraih
ponsel yang masih terhubung kabel pengisi daya. Jam digital menunjukkan pukul
04.36 WIB. Penasaran, kubuka pintu kamar untuk mencari "perempuan asing"
yang hemat bicara itu. Di luar masih gelap gulita, sunyi. Mataku tertuju pada
deretan sepeda yang terparkir di depan kamar. Aku menghitungnya pelan: satu
milikku, satu milik Maya, dan satu lagi—pasti milik Citra.
“Halo.”
Suara itu muncul tiba-tiba dari
belakang punggungku. Aku tersentak, merasa canggung karena tertangkap basah
sedang memperhatikan sepedanya.
“Hai, dari mana?” tanyaku,
mengalihkan pandangan ke arahnya. Wajah dan baju Citra basah kuyup oleh
keringat. Rupanya, ia baru saja menyelesaikan rutinitas pagi: jogging untuk
pemanasan.
“Sep, kamu jadi mandi nggak?”
teriak Maya dari dalam kamar mandi. Aku bergegas masuk, melewati kaca besar di
depan pintu, meninggalkan Citra dan sepedanya di kegelapan subuh.
Kutunggu hingga jam setengah lima
pagi, namun hawa dingin Carita begitu menusuk. Aku menyerah; aku tidak cukup
kuat untuk menyentuh air di suhu sedingin ini. Aku memutuskan untuk tidak
mandi.
Dalam diam, pikiranku mulai
berlarian liar. Aku membayangkan segala hal buruk yang mungkin terjadi di
sepanjang perjalanan yang tak pendek ini. Rasa tidak percaya diri mulai
menggerogoti. Membayangkan diriku sendirian di atas sepeda, menembus pagi
hingga bertemu pagi lagi. Ini adalah perjalanan pertamaku menempuh seribu lima
ratus kilometer.
"Bentang Jawa." Nama itu
bergema di kepala, membawa beban sekaligus tantangan yang sebentar lagi harus
kuhadapi.
Tanpa ragu sedikit pun, aku
memutuskan untuk terjun ke Bentang Jawa. Sejak pertama kali melihat
poster balapannya di media sosial, ada sesuatu yang memanggilku untuk terlibat;
untuk menyerahkan ragaku pada aspal yang membentang dari ujung barat ke ujung
timur Pulau Jawa.
Aku tak pernah ambil pusing apakah
aku akan jadi tercepat atau paling buncit. Aku tak peduli soal harga diri, atau
apakah aku akan pulang dengan rasa bangga atau malu. Bahkan, pikiran tentang
keselamatan pun seolah kutepis jauh-jauh. Bagiku, syaratnya sudah cukup
terpenuhi: aku punya kaki, dan aku punya sepeda kayuh tanpa bantuan siapa pun.
Setahun sebelum hari besar itu
tiba, aku berjuang untuk memiliki kendaraan impianku. Aku menyisihkan dua juta
setiap bulan, melunasi pembayarannya dalam tiga kali cicilan demi membawa
pulang sebuah roadbike Stratos 2 Polygon. Namun, sepeda itu
gagal aku bawa ke pertarungan Bentang Jawa.
“Sepedamu tidak cocok untuk
ikut Bentang Jawa.”
Kalimat itu berulang kali kudengar
dari teman-teman, perlahan mengikis keyakinan yang semula utuh. Mereka bilang
sepedaku terlalu berat untuk dikayuh sejauh 1.500 kilometer. Katanya, ia tak
akan sanggup menaklukkan tanjakan dengan kemiringan hingga tiga puluh persen.
Ia tak akan memberi kenyamanan untuk dikendarai berhari-hari tanpa henti.
Aku menatap sepedaku dalam diam.
“Apa benar, kamu tidak mampu
menemaniku dari Banten ke Banyuwangi?” tanyaku
pada kerangka besi itu.
Namun, sedetik kemudian aku
tersadar. Sepeda hanyalah benda mati. Seharusnya, dialah yang bertanya
padaku: “Apa benar, kamu tidak mampu membawaku dari Banten ke
Banyuwangi?”
Beberapa bulan sebelum Bentang Jawa
2022 dimulai, aku berjumpa dengan teman-teman 'Jalani Aja'. Pagi itu udara
terasa lebih lembap dari biasanya. Aku berdiri canggung di titik kumpul
komunitas sepeda "Jalani Aja". Di antara deretan pesepeda dengan
perlengkapan mutakhir, aku merasa seperti orang asing yang tersesat. Hingga
akhirnya, sosok pria paruh baya dengan senyum teduh menghampiriku.
Pak Bekti. Usianya memang di bawah
Bapakku, tapi entah mengapa, sorot matanya memiliki kehangatan yang sama. Sejak
obrolan pertama kami di grup WhatsApp, dia hadir selayaknya sosok Bapak dalam
hidupku. Ia mempedulikan hal-hal kecil: menanyakan apakah aku sudah sarapan,
memikirkan keselamatanku di rute tanjakan, hingga memberikan apa yang aku
butuhkan melebihi apa yang sanggup aku bayangkan.
"Ini sepeda buat kamu pakai
Bentang Jawa," katanya sambil menyorongkan sebuah sepeda.
Aku ragu. Ada beban moral saat
menerima kebaikan dari orang yang baru saja kukenal. "Pak, apa tidak
apa-apa? Saya takut kenapa-kenapa dengan sepedanya."
Pak Bekti hanya terkekeh,
memberikan kepercayaannya padaku tanpa banyak syarat. Mataku kemudian tertuju
pada objek di depanku. Sebuah sepeda berwarna hijau kekuningan yang unik.
Warnanya segar, namun ada yang mengganjal di mataku. Sebuah stiker menempel mencolok
pada frame-nya: 'WIMCYCLE'.
"Ini sepeda Wimcycle
pak?" tanyaku sedikit keheranan. Dahiku berkerut. Setahuku, Wimcycle
adalah merk legendaris untuk sepeda keluarga atau anak-anak. "Karena
yang kutahu, Wimcycle tidak mengeluarkan seri roadbike sekeren ini."
Pak Bekti justru tersenyum
misterius, seolah sudah menebak reaksiku. "Bukan, ini hanya stiker
saja. Ini Gravel Bike BMC, pasti cocok buat kamu," jawabnya tenang.
Tanganku refleks merogoh ponsel.
Jempolku dengan cepat mengetikkan kata kunci di kolom pencarian: "Gravel
Bike BMC". Begitu laman hasil pencarian muncul, jantungku nyaris
copot.
Waaahh ini sepeda mahal, batinku berteriak. Harganya
jauh melampaui harga sepeda motor Honda yang kupakai sehari-hari. Jika
dibandingkan dengan sepedaku yang biasa, Gravel Bike BMC URS (Unrestricted) ini
adalah kasta yang berbeda. Frame-nya terbuat dari premium
carbon, dilengkapi suspensi halus pada seatstay belakang
untuk meredam getaran, dan grupset-nya sudah menggunakan single
chainring SRAM yang sangat presisi.
Ini bukan sekadar alat
transportasi; ini adalah karya seni teknologi. Namun, stiker di depanku tetap
terasa mengganggu estetika mahalnya.
"Tapi kenapa diberi nama
Wimcycle pak?" tanyaku lagi, mengejar penuh keheranan. Aku tidak
habis pikir mengapa seseorang menutupi identitas merk kelas dunia dengan merk
lokal yang sederhana.
Pak Bekti menatap jauh ke arah
jalanan, lalu beralih padaku dengan tatapan yang sangat kebapakan.
"Wimcycle itu dikenal sebagai
merk sepeda masa kecil dulu, penuh kesederhanaan, bukan kemewahan,"
ucapnya lembut. Ia menjeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap. "Begitu
juga sepeda ini, kamu akan menjadikannya sepeda yang menyenangkan dengan
kesederhanaanmu."
Seketika, rasa minderku luruh. Pak
Bekti tidak hanya meminjamkanku sebuah sepeda mahal; ia sedang memberikan
pelajaran tentang kerendahan hati. Bahwa nilai sebuah perjalanan bukan terletak
pada kemewahan yang dipamerkan, melainkan pada kegembiraan sederhana saat kita
mengayuhnya. Di atas BMC hijau kekuningan "berwajah" Wimcycle itu,
aku sadar bahwa aku tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa melaju jauh.
Sepeda Gravel BMC URS dari Pak
Bekti yang akhirnya menemaniku membuka petualangan Bentang Jawa di tahun 2022,
pertama kalinya aku mencoba event ultra 1.500 KM dengan dukungan penuh dari
teman-teman komunitas 'Jalani Aja'.
Hari ini, Agustus 2025, aku kembali
ke sini. Aku tak ingin lagi diikat atau dipecut oleh ambisi. Aku ingin menjadi
jiwa yang bebas. Menjalani alur perjalanan dengan ikhlas; aku boleh tidur di
mana pun, dan aku tahu kapan harus berhenti—hanya di garis finish.
Seratus lebih peserta berkumpul di
garis start. Langit masih gelap, embun sisa hujan semalam menyelimuti seremoni
pelepasan di Carita. Kupandangi mereka satu per satu; laksana kuda-kuda gagah
yang siap bertempur mengadu fisik dan mental. Beban yang kami bawa bukan hanya
perbekalan atau lampu penerangan, tapi harga diri dan komitmen untuk jujur
sepanjang jalan.
Ada kuda yang ambisius, yang hanya
ingin mengalahkan kuda lainnya hingga ingkar pada janji kejujuran. Mereka
menjadi kuda terbang yang ingin cepat sampai tanpa mau merasakan lelah yang
manusiawi. Namun bagiku, 1.500 kilometer ini hanyalah perjalanan pendek untuk
menemukan jati diri. Peringkat hanyalah urutan angka tanpa hadiah di puncaknya.
Sebab, hadiah dari Bentang Jawa sudah kami terima di setiap tetes keringat
sepanjang perjalanan.
Parakuda mengabaikan lelah,
mengabaikan ego, dan melaju menuju cahaya.
TANGAN KECIL PANDEGLANG
Anak-anak berbaris di tanah lembap
tanpa alas kaki. Ada lelaki, ada juga perempuan. Mereka meninggalkan bola dan
layang-layang demi menyambut Para Kuda yang melintas di jalan depan rumah.
“Waaa waaa mister mister…” teriak
mereka histeris. Melihat mereka, aku merasa ditarik kembali ke masa kecilku.
Debu yang beterbangan dari balik kaki-kaki telanjang mereka seolah membentuk
siluet halaman rumahku di Madiun yang gersang. Jika aku menjadi anak kecil
seperti mereka, aku mungkin akan lebih berani berteriak, tapi kenyataannya aku
terlahir sebagai Kuda yang tak pernah dilepas. Aku diikat, dikurung, dan
dipaksa menjalankan peran untuk memenuhi keinginan Bapak.
"Bapak tidak mau tahu,
pokoknya halaman itu harus bersih, tidak boleh ada sampah! Ngerti nduk?"
kata-kata itu yang selalu menghantui isi kepalaku saat melihat Bapak.
Udara sore itu terasa berat oleh
aroma tanah kering dan sisa panas matahari. Di genggamanku, kayu gepuk terasa
kasar namun pas. Aku bisa mendengar napas David dan Guruh di belakangku, mereka
menanti dengan mata menyipit, siap mengejek jika "lele" kecil itu
hanya melompat beberapa senti.
Aku menarik napas panjang. Di
pikiran bawah sadarku, bayangan Bapak yang berdiri di teras dengan wajah kaku
melintas. Aku membayangkan daun jambu yang mungkin baru saja jatuh saat ini,
mengotori halaman yang seharusnya sudah kusapu. Tapi untuk pertama kalinya,
rasa takut itu kalah oleh adrenalin. Aku berjongkok, memosisikan ujung tongkat
gepuk di bawah lele yang melintang tenang di atas lubang tanah. Fokusku
terkunci pada satu titik di kejauhan, melampaui garis batas yang dibuat Neneng.
Aku harus menyentak dengan
pergelangan tangan, bukan sekadar lengan. Sedikit miring ke atas agar lele
melambung, melewati kepala teman-temanku. Mengabaikan suara jam dinding di
kepalaku yang terus berdetak mengingatkan waktu menyapu.
Tak!
Suara benturan kayu itu terdengar
nyaring dan mantap. Bukan suara tumpul yang menandakan kegagalan. Si lele
melesat, membelah udara dengan putaran yang sempurna. Ia melambung tinggi,
melewati pohon mangga tetangga, dan mendarat jauh di ujung jalan setapak.
"Gila! Jauh banget!"
teriak Brian kegirangan. Aku berdiri tegak, dadaku membusung. Ada rasa hangat
yang menjalar di hatiku—rasa kemenangan yang murni, bukan karena paksaan juara
kelas, tapi karena kemampuanku sendiri. Aku merasa seperti kuda yang baru saja
memutuskan satu utas tali pengikatnya.
Namun, kegembiraan itu terhenti
saat mataku menangkap sesosok bayangan di ujung gang. Itu Bapak. Beliau berdiri
di sana dengan tangan bersedekap, arlojinya berkilat tertimpa cahaya matahari
senja yang mulai memerah. Jantungku yang tadi berdegup karena semangat, kini
berpacu karena ngeri.
Aku menoleh ke arah halaman rumah
kami. Benar saja, angin sore baru saja menjatuhkan beberapa lembar daun jambu
kering. Mereka menari-nari di atas tanah, seolah-olah mengejekku. Bapak tidak
berteriak. Beliau hanya menunjuk ke arah rumah dengan dagunya. Isyarat yang
lebih menyeramkan daripada bentakan. Teman-temanku terdiam, suara tawa mereka
lenyap seketika.
"Aku tahu setiap jengkal tanah
di halaman itu adalah penjara bagiku, tapi kayu gepuk di tanganku ini adalah
bukti bahwa aku punya kekuatan untuk melampaui batas yang ia buat."
Aku meletakkan kayu gepuk itu
dengan hati-hati, seolah menitipkan separuh jiwaku pada David dan yang lainnya.
Aku berjalan pulang dengan langkah berat, namun ada yang berbeda. Kepalaku
tidak lagi menunduk sedalam biasanya.
Saat aku mulai memegang sapu lidi
dan mengumpulkan daun-daun jambu itu, aku membayangkan setiap ayunan sapu
adalah ayunan tongkat gepuk. Aku menjalankan perintahnya, ya, tapi di dalam
kepalaku, aku masih berlari di lapangan luas, melempar lele kayu itu hingga
menembus awan, jauh dari jangkauan aturan Bapak yang kaku.
Malam itu, meski punggungku terasa
pegal karena hukuman berdiri, aku tidur dengan senyuman. Bapak bisa menguasai
tubuhku dan jadwalku, tapi sore ini aku belajar bahwa ia tidak akan pernah bisa
memukul mundur "lele" yang sudah terlanjur melesat jauh di dalam
imajinasiku.
Aku menatap tangan-tangan mungil
anak Pandeglang yang kotor oleh tanah, lalu mataku jatuh pada tanganku sendiri
yang menggenggam stang. Jemariku tampak memerah, mengingatkanku pada warna yang
paling kubenci dulu.
Pagi itu, kancing paling atas rok
merahku seolah sedang bertarung nyawa. Aku menahan napas sekuat mungkin,
menarik perutku hingga terasa melilit, agar pengait besi itu bisa bertemu
dengan lubangnya. Seragam ini bukan hanya kain; ia adalah sisa sejarah dari
kakak perempuanku yang lebih ramping. Bagiku, ia adalah pengingat harian bahwa
aku selalu menjadi "nomor dua" setelah penghematan ekonomi keluarga.
"Buk, pengaitnya lepas
lagi," bisikku lirih, nyaris menangis di depan cermin yang memantulkan
sosok gadis kecil dengan pipi yang terlalu penuh.
Ibu mendekat, tangannya yang kasar
karena deterjen mencoba membetulkan pengait itu dengan peniti besar. "Uang
belanja tidak cukup buat beli seragam baru, pakai yang itu saja dulu ya,"
ucap Ibu tanpa menatap mataku. Beliau selalu punya mantra andalan, "Masih
banyak orang yang tidak bisa sekolah, tidak bisa makan. Kamu harus
bersyukur."
Syukur. Di rumah ini, kata itu
bukan lagi sebuah doa, melainkan karet penghapus yang dipaksakan untuk
melenyapkan seluruh keluhanku. Setiap kali aku ingin berteriak tentang luka,
kata "syukur" datang membungkam mulutku.
Berjalan menuju sekolah terasa
seperti berjalan menuju kandang singa. Setiap langkah membuat jahitan rok di
bagian pinggangku mengeluarkan suara kretek halus yang
mengerikan. Aku takut jika aku bergerak terlalu tiba-tiba, seragam ini akan
menyerah dan robek di depan semua orang.
"Eh, lihat! Si Gembrot datang!
Jalannya goyang-goyang kaya bebek!" seruan itu datang dari arah kawanan
anak-anak nakal di sekolah dasar.
Aku menunduk, menghitung jumlah
retakan di semen jalanan. Tubuhku yang besar ini seolah-olah menjadi sasaran
empuk yang tak mungkin meleset. Aku sudah mencoba berhenti makan malam, aku
sudah mencoba hanya minum air putih saat jam istirahat, tapi cermin selalu
mengkhianatiku. Tubuhku tetap saja seperti ini—sebuah benteng lemak yang
melindungi hati yang hancur.
Duduk di bangku kayu sekolah adalah
siksaan lain. Meja itu terasa terlalu dekat dengan perutku. Sepanjang
pelajaran, aku tidak fokus pada papan tulis atau penjelasan guru. Aku hanya
fokus pada satu hal, jangan sampai aku menarik napas terlalu dalam hingga
kancing seragamku terlepas.
Di rumah, aku harus menghadapi
Bapak yang disiplinnya setajam silet—setiap daun jambu yang jatuh adalah
ancaman hukuman. Di sekolah, aku harus menghadapi anak-anak nakal yang
ucapannya selalu menyakitkan.
"Aku adalah seorang pengarsip
kesedihan yang handal. Di dalam batinku, ada lemari besar berisi ribuan keluhan
yang tak pernah tersampaikan, rapi tersegel oleh label bertuliskan 'Syukur'
yang ditempelkan Ibu."
Siang itu, sepulang sekolah, aku
mendapati bekas jahitan rokku benar-benar terlepas sedikit. Rasa lelah, sesak,
dan luka perundungan selama enam tahun seolah tumpah sekaligus. Aku masuk ke
kamar, menutup pintu perlahan agar tidak memicu kemarahan Bapak, dan duduk di
lantai.
Aku menyentuh kain merah kusam itu.
Kain ini tidak pernah baru. Hidupku seolah-olah adalah kumpulan barang
bekas—tas bekas, buku bekas, dan harapan bekas. Aku ingin tahu rasanya merobek
plastik pembungkus barang baru, mencium bau pabrik yang khas, dan merasa bahwa
aku cukup berharga untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah
disentuh orang lain.
Namun, di tengah isak tangisku, aku
melihat bayangan diriku di kaca lemari. Meskipun seragam ini sesak, meskipun
ejekan 'gembrot' terus terngiang, ada sesuatu yang tidak bisa mereka rampas
yaitu daya tahanku. Aku telah bertahan enam tahun di bawah tekanan
Bapak dan perundungan teman. Jika aku bisa bertahan dalam seragam yang
menyempit ini, maka suatu saat nanti, aku akan menciptakan ruanganku sendiri. Ruang
di mana aku tidak perlu mengecilkan diri agar bisa diterima, dan ruang di mana
aku tidak perlu lagi menggunakan 'syukur' sebagai topeng kesedihan.
Namun, aspal yang membelah jalan di
depanku ini mendadak tampak menyempit, persis seperti lorong SMP-ku dulu yang
terasa seperti labirin penghakiman. Jika dulu di SD musuh utamaku adalah ukuran
lingkar pinggang, kini musuhku adalah sesuatu yang jauh lebih tak terlihat...
"Stigma".
Aku tidak pernah tahu rasanya
menyobek plastik pembungkus tas sekolah yang masih baru dari toko. Semua yang
kupakai adalah barang bekas lungsuran dari kakak perempuanku. Aku tumbuh dengan
rasa bahwa aku tidak cukup berharga untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Di
sekolah pun tak ada perlindungan; tubuhku yang gendut menjadi sasaran empuk
perundungan teman-teman. Aku kecil yang terluka, hanya bisa diam menelan
ejekan.
Masa SMP yang seharusnya menjadi
gerbang menuju kedewasaan, bagiku justru terasa seperti lorong gelap yang
menyempit. Jika dulu di SD musuh utamaku adalah ukuran lingkar pinggang, kini
musuhku adalah sesuatu yang jauh lebih tak terlihat namun jauh lebih mematikan
"Stigma".
Aku masih memakai barang-barang
lungsuran, tapi kini rasa sesaknya bukan lagi di kulit, melainkan di harga
diri. Kabar tentang Bapak yang kehilangan pekerjaan formalnya menyebar lebih
cepat daripada api di padang ilalang. Dan ketika ia mulai menggantungkan hidup
pada angka-angka—pada lembaran kertas kecil berisi mimpi kosong para
penjudi—label "Anak Penjual Togel" resmi tersemat di pundakku.
Di sekolah, aku melihat
teman-temanku berbisik saat aku lewat. Mereka tidak lagi memanggilku
"Gembrot"; julukan itu sudah terlalu kekanak-kanakan. Kini,
panggilannya jauh lebih sinis.
"Berapa nomor yang keluar hari
ini?" celetuk seseorang dari barisan belakang saat aku berjalan menuju
meja. Tawa tertahan mengikuti kalimat itu, menusuk tepat di ulu hati.
Aku ingin berteriak bahwa aku bukan
bagian dari angka-angka itu! Aku ingin mereka melihat kertas ujianku yang penuh
dengan coretan tinta biru, hasil belajar hingga larut malam di bawah lampu yang
redup. Nilai 70, 75, bahkan 80 aku raih dengan payah, berharap angka-angka
prestasi itu bisa menutupi angka-angka judi Bapak. Namun sia-sia. Di mata
mereka, aku hanyalah perpanjangan tangan dari sebuah nasib sial.
Setiap pagi, langkah kakiku menuju
gerbang sekolah terasa seperti menyeret beban berton-ton. Motivasi belajarku
menguap, digantikan oleh rasa malu yang pekat. Aku sering duduk di pojok kelas,
berusaha menjadi transparan, berharap dinding sekolah menelanku bulat-bulat.
Puncaknya adalah suatu sore saat
aku pulang dan melihat beberapa orang pria asing duduk di teras rumah, merokok
dan tertawa kasar sambil menyodorkan uang receh kepada Bapak. Bapak, dengan
wajah kusam yang dulu begitu berwibawa, kini tampak begitu kecil di mataku.
Malam itu, di dalam sujud yang
terasa hambar, sebuah pikiran gelap menyelinap masuk. Pikiran yang membuatku
gemetar saat menyadarinya, namun terasa begitu jujur di dalam hati yang
terluka.
"Tuhan, jika memang tak ada
jalan keluar, biarkanlah Bapak musnah. Hilangkan dia dari muka bumi ini. Aku
tidak ingin mewarisi cap buruk ini lagi. Aku ingin bebas, tanpa harus membawa
nama yang membuatku merasa seperti wabah."
Aku membenci diriku sendiri karena
doa itu. Namun, rasa benci kepada Bapak jauh lebih besar. Aku merasa
dikhianati. Mengapa aku harus menanggung malu atas dosa yang tidak aku perbuat?
Mengapa dunia begitu kejam, menilai seorang anak hanya dari sisi gelap orang
tuanya?
Aku mulai menarik diri dari segala
interaksi. Bagiku, rumah adalah penjara aturan dan aib, sementara sekolah
adalah panggung penghakiman. Aku hidup dalam ruang hampa di antara keduanya.
Aku hanya seorang gadis remaja yang
merindukan satu hal sederhana: dianggap ada sebagai manusia. Bukan
sebagai "Anak Penjual Togel", bukan sebagai objek perundungan, tapi
sebagai seorang aku yang sedang berjuang keras untuk tetap bernapas di tengah
badai yang tak kunjung usai.
Keputusan itu tidak lahir dari
ambisi, melainkan dari sisa-sisa harga diri yang nyaris padam. Jika dunia
memutuskan untuk melabeliku sebagai "Anak Penjual Togel", maka aku
akan menjadi 'Si Penjual Togel' yang paling andal. Aku berhenti melarikan
diri; aku berhenti berdoa agar Bapak musnah. Aku memutuskan untuk memeluk
kegelapan itu hingga ia tidak lagi terasa dingin.
Hari itu, aku melangkah masuk ke
gerbang sekolah dengan tas yang terasa lebih berat, bukan karena buku teks,
melainkan karena "kitab suci" baru yang kuselipkan di antara buku
Biologi, yaitu Buku Tafsir Mimpi. Ketika teman-teman mulai mendekat
dengan seringai ejekan yang biasa, aku tidak menunduk. Aku merogoh saku,
mengeluarkan secarik kertas buram, dan menatap mereka tajam.
"Mau pasang berapa?"
tanyaku datar.
Seringai mereka membeku.
Kebingungan menggantikan penghinaan. Dan dalam sekejap, dinamika kekuasaan di
lorong kelas itu bergeser. Aku bukan lagi objek yang bisa mereka tertawakan;
aku adalah akses mereka menuju harapan semu dan adrenalin judi.
Kehidupanku di kelas berubah
menjadi sandiwara yang sangat rapi. Di jam pelajaran, tanganku mencatat rumus
percepatan gravitasi, tapi di sela-sela buku catatan, jemariku lincah
menghitung statistik paito—menganalisis pola angka yang keluar
dalam seminggu terakhir.
Matematika kini bukan sekadar
mencari nilai X, tapi tentang menghitung peluang probabilitas 4
angka. Biologi bukan lagi tentang struktur sel, tapi tentang
menafsirkan mimpi melihat ular menjadi rangkaian angka yang muncul di kerumunan
pasar.
Saat jam istirahat, di sudut kantin
yang paling remang, aku membuka "praktik". Teman-teman yang dulu
menjauhiku kini mengantre, membisikkan mimpi-mimpi mereka dengan nada memohon.
Aku menjadi dukun angka, peramal nasib, dan bandar kecil yang paling dicari.
"Apresiasi yang tak pernah
kudapatkan dari nilai ujian, kini kudapatkan dari keberhasilanku menebak dua
angka belakang. Mereka tidak lagi melihat lemak di tubuhku atau seragamku yang
sesak; mereka hanya melihat angka-angka keberuntungan yang keluar dari
mulutku."
Sore hari, perjalananku pulang
tidak lagi diiringi rasa malu. Aku menggenggam erat gumpalan uang receh dan
kertas-kertas berisi rekapan angka di dalam saku rok seragam yang sempit. Saat
kuserahkan setoran itu kepada Bapak, untuk pertama kalinya aku melihat binar di
matanya—binar yang bukan dari wibawa, tapi dari rasa syukur yang menyedihkan.
"Ini hasil hari ini,
Pak," ucapku singkat.
Kami menjadi rekan dalam
"bisnis" yang menghancurkan masa depanku secara perlahan, namun
memberiku perlindungan instan di sekolah. Aku belajar bahwa dalam hidup yang
keras ini, bertahan hidup jauh lebih penting daripada menjadi benar.
Ada rasa pahit yang tak hilang
meski aku kini "populer". Aku diterima bukan karena siapa aku, tapi
karena apa yang aku bawa. Aku menjadi apa yang diinginkan oleh lingkungan yang
rusak ini. Aku melakukan hal yang paling kubenci untuk mendapatkan satu hal
yang paling kubutuhkan: ketenangan dari perundungan.
Aku menukar integritas remajaku
dengan rasa aman. Aku menukar impian tentang masa depan yang bersih dengan
fasihnya membaca Buku Ramalan Mimpi. Inilah pertahananku. Aku sudah tidak lagi
menunggu keajaiban; aku sedang berenang di tengah arus deras nasib sial ini,
memastikan kepalaku tetap berada di atas permukaan, meski air yang kuhirup
terasa seperti racun.
Maka, melihat anak-anak Pandeglang
ini, dadaku terasa sesak sekaligus hangat. Mereka menantikan kehadiran Kuda
sejak Agustus tahun lalu dengan kebahagiaan yang tak tertahan. Mereka takjub
melihat Kuda Bule bertubuh jangkung, dengan tas multifungsi dan pakaian yang
keren.
Dengan wajah polos, mereka
membandingkan kendaraan hebat kami dengan milik mereka: hanya sepeda BMX yang
rantainya sudah karatan dan remnya blong! Tapi anehnya, bukan kekecewaan yang
muncul dari raut wajah mereka. Justru tawa lepas yang membebaskan mereka dari
rasa iri. Gigi ompong mereka tak bisa disembunyikan.
Aku pun ikut tertawa melihat polah
mereka, meski mataku mungkin sedikit panas. Tawa mereka adalah tawa yang selama
ini kucari—tawa yang membebaskan dari rasa malu dan rasa kurang.
Detak jantungku bergerak dalam
ritme lebih kencang saat tangan kecil anak-anak Pandeglang ini menyentuh
telapak tanganku. Energi mereka tersalurkan, menyampaikan pesan penuh harapan
yang melampaui kata-kata. Mereka menyambutku dengan lambaian tangan yang
hangat, seolah mencairkan es membeku dari masa kecilku yang kelabu.
Energi positif datang dari segala
penjuru, dan hari ini, jiwaku sudah siap untuk menangkapnya.
GETARAN DI UJUNG BANTEN
Tanah Jawa bagiku adalah sosok Ibu
yang penuh kesabaran. Ia menabur kasih kepada semua anaknya, memberikan cinta
tanpa diminta, dan membagi kemakmuran pada setiap petak tanah yang kupijak. Ia
adalah Ibu yang terus mendoakan keselamatan, meski adakalanya ia harus bersedih
saat musibah menimpa salah satu anaknya.
Anak-anak Ibu—desa demi desa, kota
demi kota—selalu bergandengan tangan. Jika satu bagian terluka, bagian lain
ikut merasakannya karena mereka saling bersentuhan dalam untaian panjang Pulau
Jawa. Namun, ada tanya yang menggantung di udara subuh itu.
“Ibu, bagaimana dengan kami yang
berada di paling ujung?”
Suatu pagi, aku seolah mendengar
anak Banten berseru. Banten yang tak pernah menjabat tangan Banyuwangi, begitu
pula sebaliknya. Mereka terpisah ribuan tahun, hanya bisa saling mendengar
kabar melalui seruan angin yang hanyut dalam nyanyian alam semesta, atau
merasakan kehadiran satu sama lain melalui getaran bumi yang disalurkan
akar-akar pepohonan.
“Meskipun kalian tak pernah
bertemu, percayalah anak-anakku, kalian saling menguatkan. Kalian menjaga tanah
Jawa untuk keselamatan seluruh manusia.”
Seruan Ibu Jawa itu menggema di
gendang telingaku saat aku melintasi sebuah desa di Banten. Melihat gadis-gadis
kecil bermukena itu, ingatanku terseret jauh ke masa lalu, pada sosok Ibu
kandungku sendiri. Sosok yang kekuatannya melampaui logika; seorang perempuan
yang menyimpan samudera kesabaran saat menghadapi kerasnya badai dalam diri
Bapak.
Jika Ibu Jawa adalah pemberi cinta
tanpa diminta, maka Ibuku adalah penjaga api harapanku. Menyebut nama ibu, yang
terlintas dalam memoriku adalah keberaniannya memaksaku untuk terus maju
mengejar ilmu.
Di kejauhan, aku melihat sebuah
pintu kayu jati tua di salah satu rumah warga Banten yang tertutup rapat. Bunyi
deritnya yang tertiup angin memicu gema yang menyakitkan. Di tahun 2004 silam,
suara pintu jati yang terbanting masih berdenging di telingaku, lebih nyaring
dari guntur yang mengancam di langit Madiun malam itu. Di tangan kananku,
sebuah tas ransel lusuh berisi beberapa potong baju dan ijazah SMA—satu-satunya
"senjata" yang kupunya.
"Kalau melangkah keluar dari
pintu ini, jangan pernah anggap aku Bapakmu lagi! Cari makanmu sendiri dengan
buku-buku itu!" Kalimat itu bukan sekadar pengusiran; itu adalah vonis
mati bagi masa remajaku yang baru saja usai.
Aku menoleh sekilas ke balik
jendela. Di sana, Ibu berdiri mematung. Wajahnya sembap, tangannya meremas
ujung daster, matanya bicara lebih banyak dari bibirnya yang terkunci rapat. Ia
ingin aku pergi demi masa depan yang tak mampu ia janjikan, namun ia hancur
karena tak bisa memelukku untuk terakhir kali.
Aku berjalan cepat, menembus udara
malam yang mulai lembap. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku merasa seperti
krikil yang ditendang dari rumahnya sendiri. Pikiran-pikiran gelap mulai
menyerang: Bagaimana jika Bapak benar? Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana
jika gelar sarjana yang kukejar hanya akan jadi kertas tak berguna di atas
perut yang lapar?
Layar ponselku yang kusam
menunjukkan pukul 22.15. Nama Fara muncul di daftar kontak. Hanya dia yang
terlintas. Saat nada sambung itu berhenti dan suaranya terdengar, pertahananku
nyaris runtuh.
"Far, aku boleh main ke
rumahmu?" suaraku bergetar, berusaha menyembunyikan isak.
"Selarut ini, Sep? Kamu di
mana?" Nada bicara Fara berubah dari kantuk menjadi cemas begitu mendengar
napasku yang memburu.
Sepuluh menit kemudian, aku sudah
berdiri di depan pagarnya. Fara tidak bertanya banyak. Ia melihat tas besar di
bahuku dan mata merahku, lalu segera menarikku masuk. Di ruang tamu yang
sederhana, Mamanya Fara keluar dengan daster batik, menatapku dengan tatapan
yang sangat kontras dengan kemarahan Bapak tadi: tatapan belas kasih.
"Sudah, jangan pikirkan
apa-apa dulu," bisik Mama Fara lembut, mengelus bahuku. "Kata Mama
tidak apa-apa, Sep. Kamu di sini saja. Anggap rumah sendiri, ya?"
Fara membawaku ke kamarnya. Ia
menyingkirkan tumpukan buku di atas kasur single-nya agar kami bisa
berbagi tempat. Aroma minyak telon dan pewangi pakaian di kamar ini perlahan
menenangkan sarafku yang tegang.
"Pakai ini," kata Fara
sambil menyodorkan bantal tambahan dan selimut bulu yang hangat.
Kami berbaring bersisian di ruang
yang sempit itu. Langit-langit kamar Fara dipenuhi stempel bintang yang menyala
dalam gelap (glow in the dark).
"Kamu mau lanjut ke
mana?" tanya Fara pelan, memecah kesunyian.
"Aku harus kuliah, Far. Apapun
caranya. Aku mau membuktikan ke Bapak kalau ilmu itu bukan beban biaya, tapi
investasi. Aku mau Ibu bangga karena sudah berani memintaku terus maju,"
jawabku mantap, meski hatiku masih perih.
Malam itu, di atas kasur sempit
milik sahabatku, aku menutup mata bukan sebagai pengungsi, melainkan sebagai
prajurit yang baru saja memulai perang. Madiun boleh jadi saksi kepergianku
yang menyedihkan, tapi dunia akan menjadi saksi bagaimana aku berdiri di kaki
sendiri.
Jika di mata Bapak aku hanyalah
barisan angka yang merugikan, aku bertekad tak ingin menjadi beban yang sama di
mata Mama Fara. Menumpang di rumah teman bukan hanya soal berbagi atap, tapi
soal menelan harga diri setiap kali sendok makan berdenting di piring mereka.
Aku harus mandiri. Aku harus punya nilai.
Masalahnya, aku hanyalah lembaran
kertas kosong. Tanpa keahlian, tanpa pengalaman. Aku mencari lowongan apa pun
yang tidak menuntut syarat setinggi langit.
"Nih, Sep. Ada lowongan
penyiar radio. Katanya kamu lagi cari kerja?" Fara menyodorkan secarik
info yang ia temukan di papan pengumuman Biro Akademik dan Kemahasiswaan (BAK)
kampus.
Radio? Aku bahkan tidak tahu apakah
suaraku layak didengar. Namun, rasa takut menjadi benalu jauh lebih besar
daripada rasa malu. Hari itu juga, surat lamaran kukirimkan.
Seminggu kemudian, panggilan itu
datang. Aku mulai terobsesi. Setiap sudut kamar Fara menjadi saksi bisu aku
berlatih intonasi, meniru gaya bicara penyiar kondang, hingga menghafal cara
menyapa pendengar yang tak kasat mata. Dari tiga puluh orang yang penuh percaya
diri, seleksi alam menyisakan tiga. Aku salah satunya.
"Gaji per jam untuk penyiar
baru itu Rp4.500. Bagaimana, kamu ambil?" tanya manajer radio itu. Ia
sempat terdiam sejenak, mungkin melihat keraguan di mataku, lalu menyambung
cepat, "Kalau tiga bulan progresmu bagus, naik jadi Rp6.000."
Tanpa menghitung rumit, aku
mengangguk mantap. "Saya ambil, Bu."
Dalam benakku, ini bukan sekadar
tentang angka Rp4.500. Ini adalah tentang pembuktian bahwa kata-kata Bapak
tentang uang itu benar: uang adalah satu-satunya alat untuk dianggap
"ada".
Satu bulan berlalu. Aku menggenggam
amplop cokelat pertamaku. Isinya Rp300.000.
Aku menatap uang itu dengan getir.
Di satu sisi, aku bangga. Di sisi lain, aku tahu angka ini tidak akan pernah
cukup untuk membayar makanan yang kumakan setiap hari di rumah Fara, deterjen
yang mencuci bajuku, listrik yang menerangi belajarku, hingga bensin yang
mengantarku ke kampus. Kebaikan keluarga mereka terlalu mahal untuk disetarakan
dengan tiga ratus ribu rupiah.
Sore itu, dengan tangan gemetar,
aku menemui Mama Fara di meja makan.
"Mama, ini Septi sudah gajian
dari radio," ucapku pelan. Kukeluarkan tiga lembar uang lima puluh ribuan.
"Septi cuma bisa kasih Rp150.000, Ma. Nanti kalau ada rezeki lagi, Septi
tambah ya..."
Aku menyodorkan uang itu dengan
tulus. Sisanya harus kuputar otak untuk mencari kos-kosan kecil dekat kampus.
Aku harus pergi. Bukan karena benci, tapi karena aku tidak boleh menjadi beban
bagi siapa pun lagi.
Mama Fara tidak mengambil uang itu.
Alih-alih, matanya berkaca-kaca hingga akhirnya tangisnya pecah. Beliau
memelukku erat, sebuah pelukan yang tidak pernah kudapatkan dari rumahku
sendiri.
"Simpan uangmu, Nak. Mama
tidak butuh ini. Jangan pergi, tetaplah di sini bersama Fara," isaknya.
Hatiku perih. Namun, bayangan wajah
Bapak dan kalimat-kalimat pedasnya tentang kemandirian telah mengeras di
kepalaku. Aku tidak bisa tetap tinggal dan membiarkan diriku menjadi nyaman
dalam belas kasihan.
Malam itu, saat rumah sudah sepi,
aku mengemas tasku yang sederhana. Sebelum melangkah keluar menuju kehidupan
baru yang serba tidak pasti di kamar kos sempit, aku meletakkan uang itu—tiga
lembar lima puluh ribuan yang ditolak tadi—di bawah taplak meja makan.
Itu bukan sekadar uang. Itu adalah
cicilan pertamaku untuk membeli kembali harga diri yang selama ini dianggap
hilang. Aku mengusap keringat yang menetes dari dahi, rasanya asin dan pekat,
persis seperti rasa suapan nasi yang kutelan dengan paksa di sebuah kamar kos
sempit.
Tiga tahun masa kuliah diploma
bagiku bukan tentang tawa di kantin atau diskusi di perpustakaan. Bagiku, itu
adalah tentang bertahan hidup. Harga diriku sudah lama terkikis, tergantikan
oleh kebutuhan untuk menyambung napas. Meminjam uang teman kos bukan lagi hal
memalukan; itu sudah menjadi siklus bertahan hidup yang rutin. Gaji tanggal
satu akan segera ludes untuk membayar utang, lalu tanggal lima belas, aku akan
kembali mengetuk pintu yang sama, memasang wajah memelas demi beberapa lembar
rupiah.
Hidupku adalah tentang seni merayu
dan bernegosiasi. Aku harus meyakinkan dosen agar namaku masuk dalam daftar
beasiswa keringanan biaya. Di tempat kerja, aku adalah orang pertama yang
mengajukan diri mengganti jam siaran teman, berharap tambahan lembur bisa
menambah pundi-pundi gaji. Segalanya kulakukan: menambah skill demi
pekerjaan sampingan, mengirit makanan demi ongkos transportasi, hingga tubuhku
terbiasa dengan rasa lapar yang konstan.
Puncaknya adalah tragedi tiga puluh
butir telur.
Saat itu, aku merasa telah
menemukan strategi paling efisien: membeli tiga puluh butir untuk jatah makan
satu bulan. Satu hari, satu butir telur, satu porsi nasi dari rice cooker
mini. Itulah kemewahanku.
Namun, nasib seolah ingin menguji
batas kesabaranku. Di suatu pagi, saat perutku sudah melilit minta diisi, aku
memecahkan sebutir telur ke atas wajan di dapur kos. Bau busuk yang menyengat
langsung memenuhi ruangan. Telur itu membusuk sebelum waktunya.
Aku terdiam. Hanya itu yang
kupunya. Dengan tangan gemetar, aku mencoba menyelamatkannya. Kutaburkan garam
dan penyedap rasa sebanyak mungkin, berharap aroma bahan kimia itu bisa
menutupi aroma kematian dari telur tersebut. Aku tidak boleh membuangnya. Membuang
satu telur berarti kehilangan jatah makan untuk satu hari.
Tetapi indra penciumanku tidak bisa
dibohongi. Begitu suapan pertama menyentuh lidah, rasa mual langsung naik ke
kerongkongan. Aku terisak. Di depan nasi putih dan telur busuk itu,
pertahananku runtuh. Aku menelan paksa setiap suapan di tengah isakan nelangsa
yang sesak. Bau busuk itu bercampur dengan rasa asin air mata yang jatuh ke
piring.
Sehari makan satu kali memang sudah
biasa bagiku, tapi makan dengan rasa hina seperti ini adalah luka yang sulit
sembuh. Tiga tahun itu memang tidak mudah, namun di balik setiap butir telur
busuk yang kutelan, ada tekad yang perlahan-lahan mengeras seperti baja.
Selama bertahun-tahun, aku merawat
benci seperti memelihara benalu; ia tumbuh rimbun, menghisap waras yang
tersisa. Aku membenci Bapak. Bagiku, dialah tangan yang tega mencabutku dari
akar keluarga, memisahkan aku dari satu-satunya tempat yang kusebut rumah. Di
matanya, mungkin aku hanyalah rongsokan—barang tak berguna yang dibuang agar
tak lagi menyempitkan ruang.
Namun, di atas pedal sepeda ini, di
tengah perjalanan 1.500 kilometer yang sunyi, aku menyadari satu hal: terkadang
hal baik memang tidak langsung terlihat baik.
Kebencian itu perlahan luruh,
berganti syukur yang tenang. Jika Bapak tidak mengusirku hari itu, mungkin aku
tidak akan pernah tahu cara menjadi kuat. Jika ia tidak memaksaku hidup
mandiri, mungkin aku tak akan punya nyali untuk mendaftar Bentang Jawa.
Bapak, dengan caranya yang kasar, telah mengajarkan ilmu yang paling kubutuhkan
saat dewasa: bertahan dan mandiri.
Kayuhan kakiku yang semula melambat
karena haru, kini kembali stabil. Aku merasakan sentuhan Ibu Jawa melalui
gesekan ban sepeda pada aspal, dan aku merasakan restu Ibuku dalam setiap hela
napas. Aku bukan lagi kuda yang diikat; aku adalah kuda yang dilepaskan untuk
menemukan jalannya sendiri.
HANYUT DALAM CIKOTOK
Aku menyadari satu hal: aku bukan
Kuda sempurna dengan kaki-kaki kokoh yang siap berlari tanpa lelah. Aku
hanyalah kuda kecil yang sedang belajar menjadi pemberani. Aku tak mau lagi
dibilang "kuda kandang" yang hanya aman di balik pagar. Meski secara
fisik aku terlihat seperti mangsa yang rapuh, jauh di dalam jiwaku, aku telah
dilatih oleh Bapak cara bertarung yang sesungguhnya.
Aku menatap pantulan lampu sepedaku
di aspal basah Cikotok yang hitam mengkilap, mirip seperti lantai rumah yang
harus selalu bersih di bawah perintah Bapak.
“Jangan mati terbunuh. Kamu harus
menjadi pembunuh,” kata Bapak suatu kali.
Kalimat itu terdengar kejam, namun
itulah cara Bapak mengajariku tentang bertahan hidup. Di dunia ini, tidak ada
pahlawan yang akan turun dari langit untuk menyelamatkanmu. Bapak menghapus
batasan baik dan buruk; baginya, satu-satunya moralitas adalah kemampuan untuk
bertahan diri.
“Apa yang kamu takutkan sekarang,
Nak?” suara itu kembali terngiang, menembus kabut Halimun Salak.
Sesekali aku melirik layar cyclocomp.
Titik-titik peserta Bentang Jawa lainnya di racemap sudah melesat jauh
di depan, memburu Check Point pertama di Negla Beach Villa, Rancabuaya. Mereka
mungkin sudah membayangkan kasur atau kopi hangat di kilometer 455, sementara
aku? Aku masih di sini, bertarung melawan gravitasi dan ego di tanjakan Cikotok
yang brengsek ini.
Jalanan aspal yang hitam tampak
berkilat, licin tersiram hujan sore yang awetnya minta ampun. Di turunan,
jemariku kaku menekan tuas rem, menjaga agar ban tidak selip di atas aspal yang
serupa cermin basah. Namun saat jalanan mendongak ke langit, pertahananku
runtuh. Napas sudah di kerongkongan, paha terasa seperti terbakar. Akhirnya,
aku menyerah pada keadaan. Aku turun dari sadel dan mulai menuntun sepeda.
Ironis memang. Saat menanjak aku
mendorong, saat turun pun aku tak berani ambil risiko dan memilih tetap
mendorong. Sepeda ini terasa berkali-kali lipat lebih berat, seolah ia pun ikut
lelah menanggung ambisiku.
Aku berhenti sejenak, mengusap
wajah yang basah, lalu memeriksa racemap lagi. Ada sedikit hiburan di
sana: dua peserta kategori pairing yang menggunakan sepeda lipat berada
jauh di belakangku. Titik mereka diam tak bergerak. "Mungkin mereka lebih
bijak dariku," pikirku. Mereka memilih istirahat, sementara aku memaksakan
diri di tengah kegelapan yang sunyi.
Godaan untuk berhenti mulai
membisikkan rayuan maut. Kakiku sudah bergetar hebat. Di tengah antah-berantah
yang sepi dari pemukiman ini, tiba-tiba muncul dua buah rumah yang saling
berhadapan. Tanpa pikir panjang, aku membelokkan setang ke rumah di sebelah
kiri.
Halamannya luas, dan ada sebuah
saung bambu yang berdiri tenang di sana. Di dalamnya, seorang pria paruh baya
sedang rebahan dengan setengah badan tertutup sarung. Alunan lagu Sunda yang
mendayu dari sebuah radio tua bersahutan dengan rintik hujan, menciptakan
suasana yang begitu melankolis sekaligus magis.
“Permisi, Pak... Saya boleh numpang
sebentar, Pak?” sapaku lirih, suaraku hampir habis tertelan dingin.
Hening. Bapak itu tidak bergerak
sedikit pun. Mungkin ia sudah hanyut dalam lelap yang dalam, dibuai irama
kecapi suling dan aroma tanah basah. Karena keadaan sudah darurat—baterai cyclocomp
dan lampu sepeda sudah di ambang batas—aku terpaksa menjadi tamu tak diundang
yang sedikit "lancang".
Aku sandarkan sepeda, kubongkar saddle
bag dengan tangan gemetar, dan kucolokkan pengisi daya ke stopkontak di
dekat radio tua itu. Lampu indikator menyala merah, memberikan sedikit rasa
tenang.
Aku pun merebahkan diri di lantai
bambu yang keras. Tanpa selimut, tanpa bantal. Hawa dingin Cikotok mulai
menusuk pori-pori, menembus jersey yang lembab. Namun, musuh utamanya
bukan hanya suhu udara. Pasukan nyamuk entah dari mana datang menyerbu,
berpesta di atas kulitku yang penuh peluh dan darah lelah.
Alih-alih tertidur pulas, aku
justru sibuk menampari wajah dan lenganku sendiri. Di antara igauan lelah dan
lagu Sunda yang terus mengalun, aku meringkuk. Cikotok malam ini benar-benar
tidak memberi ampun, tapi setidaknya, di saung ini, aku punya waktu beberapa
menit untuk sekadar menjadi manusia, bukan sekadar "titik" yang
bergerak di peta digital.
Malam itu di Cikotok terasa begitu
panjang dan menyesakkan. Di dalam sebuah saung yang remang, aku terduduk
sembari bertarung melawan kawanan nyamuk yang seolah berpesta di atas kulitku
yang legam dan lelah. Di sudut lain, bapak pemilik saung masih terlelap pulas,
meski setengah badannya yang menyembul dari balik sarung juga tak luput dari
kerubungan nyamuk.
Hujan belum juga reda. Rintiknya
menghantam atap saung, berpadu dengan sayup-sayup alunan lagu Sunda dari
kejauhan yang entah mengapa terdengar begitu melankolis. Aku melirik cyclocomp
yang terhubung ke pengisi daya—baru 30 persen. Lampu sepeda pun masih tercolok,
mengisap daya perlahan demi sisa perjalanan yang entah kapan akan berlanjut.
Jarum jam sudah menunjuk angka
sembilan malam. Hanya tersisa satu jam sebelum batas Cut Off Time (COT)
di Check Point (CP) 1, Rancabuaya.
"Satu jam lagi. Hanya enam
puluh menit," bisikku pada diri sendiri.
Andai saja jalanan di depanku
landai, mungkin aku masih punya nyali untuk memacu sisa tenaga demi mengejar
target jam sepuluh malam. Namun, garis berkelok-kelok di layar cyclocomp
adalah kenyataan yang pahit: pegunungan. Medan seberat ini dengan waktu
sesingkat itu? Tidak mungkin. Mustahil.
Seketika, benteng semangatku
runtuh. Putus asa merayap masuk seiring dengan rasa dingin yang menembus
pori-pori. Aku tidak mau lagi mengejarnya. Aku sudah di titik nadir kelelahan.
Perjalananku bukan sekadar sampai di Rancabuaya; tujuanku adalah garis finish
di ujung timur pulau ini, Banyuwangi. Memaksakan diri sekarang hanya akan
membunuhku sebelum waktunya.
Keheningan Cikotok membawa
lamunanku melayang ke setahun yang lalu. Kontrasnya begitu menyakitkan. Tahun
lalu, jam empat sore aku sudah menyandarkan sepeda di Negla Beach Villa,
Rancabuaya. Langit masih terang benderang, cuaca cerah, dan rutenya jauh lebih
bersahabat karena tidak memutar lewat Cikotok. Aku bahkan punya kemewahan untuk
tidur satu jam dengan tenang sebelum melanjutkan perjalanan.
Kini, segalanya terasa seperti
konspirasi semesta. Hujan yang tak kunjung berhenti, rute yang lebih
"kejam", dan waktu yang terus menjepit. Rasanya aku ingin meledak.
Aku ingin marah pada rute yang seolah tak punya belas kasihan ini.
“Bajingan!” umpatku pelan, tertuju pada
garis-garis elevasi di layar kecil di hadapanku.
Namun, amarah itu segera menguap,
berganti dengan kesadaran yang dingin. Untuk apa aku marah? Siapa yang aku
salahkan? Aku berada di sini—basah kuyup, digigit nyamuk, dan
tertatih-tatih—bukan karena paksaan siapa pun. Aku ikut Bentang Jawa atas
keinginanku sendiri. Aku tidak sedang mengejar podium atau piala yang berkilau.
Aku hanya seorang manusia yang sedang mencari batas kemampuannya sendiri.
Maka, biarlah malam ini aku kalah
oleh waktu di CP 1. Biarlah aku terhanyut dalam rintik hujan Cikotok dan alunan
lagu Sunda ini sejenak. Aku perlu istirahat. Sebab esok, jalan menuju
Banyuwangi masih membentang sangat jauh, dan aku belum selesai dengan perjalananku.
“Kuda pemberani tak pernah takut
berjalan sendiri, meski kegelapan mengepung ujung matanya. Sebab, ia melihat
dengan hati.” Ucapku pada diriku sendiri.
Dalam lamunan yang sunyi, di bawah
langit yang memeluk aspal yang bisu, dunia seolah berhenti berputar. Heningnya
malam membuat detak jantungku terdengar seperti ketukan pintu yang tak kunjung
dibuka. Namun, kesunyian itu robek seketika.
Dua bayangan meluncur melewati
garis pandangku. Dua pesepeda lipat—yang tadinya kupikir sudah menyerah pada
lelah dan meringkuk dalam tidur lelap hingga fajar—ternyata hanya mengambil
napas sejenak. Tanpa kata, mereka membelah malam, menyalipku dengan ritme yang
stabil.
Ada sengatan listrik yang merambat
dari ujung saraf ke dadaku. Rasa kantuk yang tadi menggelayut berat, kini
rontok tak bersisa. Dengan gerakan yang sedikit panik namun terukur, aku
mencabut pengisi daya dari stopkontak, menyumpalkannya kembali ke dalam saddle
bag tanpa peduli kerapian. Lampu sepeda kunyalakan—sebuah mata tunggal yang
kini menatap tajam ke kegelapan di depan.
Rencana semula untuk bermalam di
sini menguap begitu saja. Keadaan telah bergeser. Kenyataan pahit menghantamku:
jika mereka adalah orang terakhir yang kulihat, berarti kini akulah sang
"juru kunci". Akulah peserta di urutan paling belakang.
Duniaku berubah seketika. Jalur
tanjakan yang menanti di depan belum juga kusentuh, namun napasku sudah memburu
dan jantungku berdegup kencang, seirama dengan ambisi yang mendadak membara
kembali.
Tadi, aku baru saja meyakinkan diri
untuk menidurkan hasrat dan memadamkan ambisi demi sedikit kenyamanan. Aku
ingin santai menuju Check Point 1. Tapi sekarang? Semuanya kembali
menjadi medan tempur.
"Tidak boleh tertinggal,"
bisikku pada diri sendiri sembari menaiki sadel.
Dua lampu merah di kejauhan itu
adalah targetku. Aku tak akan membiarkan mereka hilang ditelan tikungan. Dengan
satu dorongan kuat pada pedal, aku meluncur kembali ke dalam gelap, mengejar
ketertinggalan di atas aspal yang kini tak lagi terasa sepi.
Malam mendadak terasa lebih pekat.
Aspal yang tadi tampak seperti kawan untuk bersandar, kini berubah menjadi
lidah hitam yang siap menelan siapa pun yang tertinggal. Dua lampu belakang
milik pesepeda lipat itu perlahan mengecil, berkedip mengejek sebelum akhirnya
hilang di balik tikungan.
Saat itulah, senyap yang
sesungguhnya datang menghampiri.
Kesadaran itu menghantamku: aku
adalah juru kunci. Di belakangku hanya ada kegelapan, angin gunung yang
berbisik parau, dan kejauhan yang tak terukur. Tidak ada lagi lampu peserta
lain yang akan muncul untuk memberikan rasa aman semu. Aku sendirian di ekor
barisan, posisi paling rentan dalam sebuah kompetisi jarak jauh.
Jantungku berdegup liar, bukan
karena tanjakan yang menanti, tapi karena bayangan jika aku gagal mengejar
mereka, maka aku hanya akan ditemani oleh bayanganku sendiri hingga pagi.
Ambisi untuk tiba di Check Point 1 kini bukan lagi soal prestasi,
melainkan soal bertahan hidup agar tidak terisolasi dalam kesendirian yang
menyesakkan.
Setiap kayuhan kini terasa berat
namun mendesak. Mataku terpaku pada aspal di depan, mencari sisa-sisa kilatan
lampu atau tanda-tanda kehidupan. Di titik ini, aku sadar: musuh terbesarku
bukan lagi tanjakan atau rasa lelah, melainkan kesunyian di belakang punggungku
yang seolah terus mengejar.
Malam itu, alam semesta menyambutku
dengan wajahnya yang paling pekat. Gelap menyelimuti segalanya; lampu sepedaku
hanya mampu menembus kabut sejauh dua meter ke depan. Daun telingaku kupasang
lebar-lebar, menangkap irama gesekan dedaunan. Hujan turun rintik namun kerap,
membasahi bumi hingga licin. Dalam keadaan kuyup, aku turun dari pedal,
mendorong sepedaku menyusuri jalanan sunyi Desa Cikotok.
Sama seperti malam-malam sepi di
kamar kos dulu, di Cikotok ini aku kembali membuktikan: aku adalah petarung.
Kegelapan ini tidak lagi mengancam; ia adalah kawan yang sedang membimbingku
untuk melihat dengan keteguhan hati yang sudah teruji oleh lapar dan peluh masa
lalu.
GEMURUH PANTAI SELATAN
Garis itu nyata. Meski teori
geografi mengatakan bumi itu bulat, bagiku saat ini dunia hanya berupa satu
garis lurus yang menjemukan. Gravitasi bumi seolah bekerja ekstra keras,
menjagaku agar tetap lekat pada aspal cor yang kaku—seperti aturan-aturan hidup
yang selama ini membelengguku.
Aku mengayuh dalam kebosanan yang
mencekik. Sesuatu yang lurus tanpa belokan memang melelahkan, persis seperti
tahun-tahun yang kuhabiskan hanya untuk memenuhi keinginan orang lain. Seumur
hidup, aku dipaksa mengikuti skenario agar terlihat "hebat" di mata
mereka. Aku memakai topeng kesempurnaan, berjalan di atas garis yang
ditentukan, hanya agar dunia memberikan tepuk tangan yang sebenarnya tidak
pernah kubutuhkan. Aku jenuh menjadi boneka pajangan. Aku lelah menjadi kuda
kandang yang hanya berlari saat pecut ekspektasi menyentuh kulitku.
Selama ini, aku adalah sebuah
bejana yang dibentuk oleh tangan-tangan orang lain. Aku tumbuh bukan untuk
memuaskan dahagaku sendiri, melainkan untuk memenuhi ekspektasi mereka yang ada
di sekelilingku. Aku tak pernah benar-benar memilih; aku hanya mengiyakan.
Bahkan ketika usiaku menginjak 24
tahun, usia yang bagiku masih terlalu dini untuk memikul beban rumah tangga,
aku kembali dihadapkan pada satu pilihan yang sebenarnya bukan pilihanku:
pernikahan.
"Nanti kamu jadi perawan tua.
Tidak laku," kalimat itu berulang seperti kaset rusak di telinga ibu.
Kecemasan ibu adalah badai yang tak
sanggup aku redam. Baginya, tugas utamaku menuntut ilmu sudah selesai, dan kini
saatnya aku memenuhi tugas berikutnya dalam norma sosial: menjadi seorang
istri. Padahal, saat itu fokusku hanya satu—bekerja. Aku sibuk mengumpulkan
rupiah demi rupiah untuk menopang ekonomi keluarga, hingga aku lupa (atau
mungkin sengaja tidak punya waktu) untuk mencari tambatan hati.
Di tengah kelelahan mental
menghadapi tuntutan itu, Deni, seorang teman penyiar radio, datang membawa
sebuah "solusi."
"Dia cocok sama kamu. Orangnya
sabar, penyayang," ujar Deni meyakinkanku.
Aku tidak menolak, tidak juga
antusias. Aku hanya merasa lelah. Lelah berdebat dengan ibu, lelah ditanya
kapan menikah, dan lelah menjadi pusat kekhawatiran orang lain. Jadi, aku
mengiyakan saran Deni untuk mengenal pria itu—seorang pria yang enam tahun lebih
tua dariku.
Pria itu adalah seorang non-muslim,
namun ia menunjukkan kesungguhan yang tak terduga. Ia bersedia berpindah
keyakinan agar bisa meminangku. Pengorbanannya itu menjadi titik balik yang
membuatku berhenti mempertimbangkan banyak hal. Aku pikir, mungkin inilah jalan
keluarnya.
Enam bulan kami habiskan untuk
saling mengenal di sela-sela kesibukanku bekerja. Aku mencoba menata hati,
mencoba menyiapkan mental untuk memasuki gerbang yang sebelumnya tak pernah
ingin aku masuki secepat ini. Persiapan berjalan tanpa kendala berarti, setidaknya
di permukaan.
Hingga akhirnya, di bawah langit
Desember 2009, aku resmi menjadi miliknya. Seseorang yang baru beberapa bulan
lalu adalah orang asing, kini menjadi teman hidupku. Aku melangkah ke pelaminan
bukan dengan debar cinta yang meledak-ledak, melainkan dengan perasaan lega
yang getir—setidaknya, satu lagi keinginan orang lain telah berhasil kupenuhi.
Di balik kepatuhanku, sebenarnya
ada sebuah keinginan yang terkubur sangat dalam, namun tak pernah berani
kusuarakan: aku ingin hidup sendiri.
Bagiku, kesendirian bukanlah sebuah
kutukan atau ketidaklakuan. Kesendirian adalah sebuah kemewahan yang bernama
ketenangan. Aku sadar sepenuhnya bahwa berbagi ruang hidup dengan orang lain
setiap hari bukanlah perkara mudah. Di kepalaku, pernikahan bukan hanya tentang
pelaminan, melainkan tentang potensi konflik yang tiada habisnya, perdebatan
yang menguras energi, dan perbedaan pendapat yang akan merampas kedamaian yang
selama ini susah payah kubangun di tengah kesibukan bekerja.
Aku hanya ingin hidup tenang dengan
pilihanku sendiri. Aku ingin pulang ke rumah tanpa harus menjelaskan apa pun
kepada siapa pun. Aku ingin menentukan arah hidupku tanpa perlu berkompromi
dengan keinginan orang lain.
Namun, di hadapan ibu, keinginan
itu terasa seperti dosa besar. Ketakutannya akan sebutan "perawan
tua" jauh lebih nyaring daripada bisikan hatiku yang memohon kebebasan.
Maka, ketika akhirnya aku melangkah menuju pernikahan di tahun 2009 itu, aku
melakukannya seperti seorang prajurit yang menyerahkan senjatanya.
Aku menyerah bukan karena aku
setuju, tapi karena aku terlalu lelah untuk terus-menerus mempertahankan
benteng ketenanganku dari gempuran ekspektasi orang-orang di sekitar. Aku
menukar mimpi tentang kebebasan dengan sebuah kepatuhan, demi melihat ibu berhenti
merasa cemas, meski aku tahu harga yang harus kubayar adalah hilangnya hak
untuk menentukan nasibku sendiri.
Dulu, hidupku adalah garis lurus
yang dipagari oleh ekspektasi orang lain. Aku harus lulus, aku harus bekerja,
dan aku harus menikah sebelum angka di kalender berubah menjadi ancaman. Namun
kini, bertahun-tahun kemudian, aku menemukan ruang di mana kendali itu
sepenuhnya ada di tanganku: di atas sadel sepeda ini.
Di bawah kayuhan kakiku, aspal
membentang panjang, membawa langkahku menuju garis biru Pantai Selatan. Di
sana, aku melihat samudra bergerak maju-mundur, menawarkan sebuah irama yang
jauh lebih jujur daripada norma mana pun yang pernah kupatuhi.
Gelombang itu tidak mengenal
instruksi. Ia mengayun dengan perkasa, pecah menghantam karang, lalu kembali
lagi ke pelukan samudra dalam sebuah tarian yang tak pernah bisa kutebak. Laut
tidak perlu izin untuk pasang, dan ia tidak merasa bersalah saat harus surut.
Aku menatap cakrawala dan menyadari
satu hal, aku ingin menjadi seperti ombak itu.
Aku ingin bebas bergerak maju atau
mundur tanpa harus merasa berdosa karena melanggar aturan. Aku ingin memiliki
iramaku sendiri yang tak mudah ditebak, irama yang tidak ditentukan oleh label
"perawan tua", label "istri", atau label apa pun yang
pernah disematkan orang lain padaku.
Di atas sepeda ini, di tengah
embusan angin laut yang asin, aku bukan lagi bejana yang dibentuk oleh tangan
ibu atau saran teman. Aku adalah pesepeda yang menentukan sendiri kapan harus
menanjak, kapan harus meluncur, dan kapan harus berhenti sejenak untuk sekadar
bernapas.
Setelah sekian lama hidup dalam
kebisingan tuntutan orang lain, akhirnya aku menemukan ketenangan yang kucari.
Bukan dalam kesunyian rumah yang hampa, melainkan dalam detak jantungku sendiri
yang berpacu seiring dengan deburan ombak. Di sini, di sepanjang pesisir ini,
aku akhirnya pulang kepada diriku sendiri.
Siang semakin terik. Matahari tepat
di atas kepala, mengubah angin menjadi lidah api yang memanggang peluh di
kulitku. Di sebelah kanan, gemuruh Pantai Selatan terus memanggil—sebuah suara
bariton yang dalam, seolah ia tahu bahwa di dalam dadaku ada api yang sudah
lama ingin dipadamkan.
Aku ingin berhenti. Aku ingin turun
dari sepeda ini, mengeruk pasir putih sedalam-dalamnya dengan jemari, lalu
membiarkan lubang itu terisi oleh air laut yang pasang. Aku ingin air itu
membawa pergi seluruh aturan yang mengekang, seluruh penilaian orang yang
menghakimi, dan seluruh beban untuk selalu "menjadi hebat" yang
selama ini kupikul di pundakku.
Aku ingin hanyut. Aku ingin semua
kepalsuan itu hanyut tanpa sisa.
Dalam benakku, aku sudah melangkah
ke tengah laut. Aku membayangkan kakiku menyerahkan diri pada rayuan ombak
hingga aku kewalahan. Biarlah ombak itu mengejarku, menyeretku, dan membasuh
habis sisa-sisa "kuda penurut" dalam diriku—sosok yang selama puluhan
tahun hanya tahu cara berlari memenuhi ekspektasi orang lain. Bermain dengan
ombak memang tak pernah membosankan, karena laut tidak pernah menuntutmu untuk
menjadi siapa-siapa. Di depan samudera, aku hanyalah aku. Titik kecil yang
merdeka.
Mataku masih memandang jalan cor
yang kaku di depan, namun otakku sudah berenang jauh di tengah gemuruh. Hatiku
memberontak, memaksa ingin ke pantai.
Sesaat, otakku mencoba melarang.
Sisa-sisa pola pikir lama itu berbisik sinis; bahwa seorang "Kuda"
harus disiplin, harus kuat, harus konsisten pada rute, dan tak boleh berhenti
hanya untuk bersenang-senang. Baginya, berhenti adalah kegagalan.
Namun, kali ini pertahanan itu
runtuh. Hatiku merengek seperti anak kecil, menolak untuk melepaskan pandangan
dari warna biru yang memerdekakan itu.
Logikaku akhirnya menyerah.
Mengikuti keinginan hati memang sering kali dianggap tidak masuk akal oleh
dunia yang gila akan pencapaian dan label "sukses". Tapi hari ini,
aku memutuskan untuk tidak menjadi hebat bagi mereka. Aku memilih untuk menjadi
nyata bagi diriku sendiri.
Dengan napas yang lebih ringan, aku
membelokkan setang sepedaku. Aku meninggalkan jalan cor yang kaku dan
membosankan, mengarahkan roda menuju pelukan ombak yang jujur. Hari ini, sang
kuda tidak lagi berlari untuk tuannya, ia pulang menuju samudera.
ANJING PAMENGPEUK
Sisi selatan Pulau Jawa bukan
sekadar deretan tanjakan dengan gradien di atas dua puluh persen yang sanggup
merontokkan mental. Di balik rimbunnya jalur Pameungpeuk, tersimpan teror lain
yang tak kalah menguji nyali, gonggongan anjing-anjing penjaga wilayah.
Saat matahari masih tinggi, mereka
hanyalah sekumpulan makhluk apatis yang memandang remeh para pesepeda dari
kejauhan. Namun, begitu malam jatuh dan kabut mulai merayap, mereka
bertransformasi menjadi momok yang lebih menakutkan daripada sekadar hantu penunggu
hutan. Gonggongan mereka tajam, mengejutkan, dan seolah memang dirancang untuk
menghancurkan sisa-sisa ketenangan para Kuda—sebutan bagi kami yang berjuang di
atas sadel. Mereka mengintai di bawah kolong kursi kayu, bersiap meluncurkan
serangan fajar pada siapa pun yang lengah karena kelelahan.
Tahun lalu, di ajang Race Around
Java 3.000 KM, aku pernah berada di titik nadir. Tubuhku remuk setelah
dihajar tanjakan bertubi-tubi. Saat melihat sebuah bangku kayu di depan rumah
warga, godaan untuk rebah tak terbendung lagi. Sepeda kusandarkan, napas mulai
kuatur demi tidur singkat yang sangat berharga.
Namun, kedamaian itu hanya berumur
hitungan detik. Tiga ekor anjing muncul dari kegelapan dengan salakan yang
memekakkan telinga, mengusirku tanpa ampun. Dalam kondisi kaki yang hampir
kram, aku terpaksa memacu sisa tenaga, berlari sekencang mungkin dengan suara
cakar yang mengejar tepat di belakang tumit. Aku baru bisa bernapas lega ketika
berhasil berlindung di halaman sebuah masjid—benteng suci yang tak berani
mereka masuki.
Pagi ini, setelah terbangun dari check
point pertama, aku kembali melintasi wilayah Pamengpeuk yang ketika malam terasa
begitu mencekam. Namun, di bawah cahaya matahari yang mulai hangat, kengerian
itu menguap. Di pinggir jalan, aku menjumpai seekor anjing yang duduk termenung
sendirian.
Bulunya berwarna cokelat muda krem,
kusam tertutup debu jalanan. Ia tidak menggonggong. Ia hanya duduk dengan
kaki-kaki kurus yang gemetar halus saat menumpu tubuhnya. Matanya sayu dan
mengantuk, menyimpan sisa-sisa kelelahan dari malam yang panjang.
Melihatnya, aku seperti melihat
bayanganku sendiri di cermin aspal.
Anjing ini adalah anomali yang
akrab di mataku. Di saat malam, ia harus menjadi sosok ganas demi menjaga
wilayah, namun di siang hari, ia berubah menjadi sosok menyedihkan yang
kelaparan. Seperti itulah kehidupanku selama ini. Di hadapan orang lain, aku mengonstruksi
diri sebagai sosok yang kuat, sukses, dan tahan banting. Aku memoles wajahku
agar tampak tak bercelah, meskipun sebenarnya di dalam sana, aku telah hancur
berkali-kali.
Aku tak pernah mengizinkan
kesedihanku bocor keluar. Bukan karena aku tak punya air mata, tapi karena aku
terlalu mencintai orang-orang di sekitarku hingga tak ingin membebani pikiran
mereka dengan retakan-retakan di jiwaku. Aku memilih menjadi "anjing
malam" yang kuat bagi dunia, padahal jiwaku adalah "anjing
siang" yang merana dan kehabisan tenaga.
Itulah mengapa aku terjebak—atau
lebih tepatnya, menyelamatkan diri—dalam Bentang Jawa. Di sini, di atas
sadel ini, aku tidak perlu berpura-pura. Aku tidak harus patuh pada ekspektasi
keluarga atau tuntutan sosial yang selama ini mencekik hasratku. Raga dan
jiwaku sudah terpisah sejauh ini. Perjalanan gila ini adalah upayaku untuk
menyatukan raga dan jiwa yang sudah terpisah terlalu jauh. Aku sedang melakukan
perjalanan pulang ke jiwaku sendiri, di mana aku diperbolehkan untuk lelah
tanpa harus merasa bersalah.
Aku dan anjing Pamengpeuk sama-sama
pejalan yang kehabisan tenaga, terkuras oleh ekspektasi dunia. Aku menghentikan
kayuhan. Perlahan, kuhampiri makhluk yang tak lagi tampak mengancam itu.
“Hei, buddy... kamu lapar?”
bisikku pelan.
Anjing krem itu mendongak. Tak ada
geraman, tak ada taring yang menyeringai. Hanya ada tatapan sayu yang bicara
banyak tentang rasa lapar—sebuah rasa yang dulu sangat akrab di perutku saat
masa-masa sulit kuliah.
“Ini makanan buat kamu. Aku tahu
rasanya lapar,” ucapku sambil menyodorkan sebungkus nasi sop ayam.
Ia mulai makan. Awalnya ragu, lalu
melahap habis setiap butir nasi dengan lahap. Sambil memperhatikannya, aku
berbisik, seolah kami adalah dua kawan lama yang sedang berbagi rahasia di
bawah langit Jawa.
“Buddy, jangan menggonggong
tengah malam saat para Kuda melintas di sini, ya? Kami hanya ingin istirahat.
Kami sama lelahnya denganmu. Okay?”
Anjing itu berhenti sejenak,
menatapku dengan mata yang masih mengantuk, lalu kembali melanjutkan makannya.
Tanpa gonggongan, ia seolah baru saja menandatangani sumpah suci untuk tidak
lagi menjadi teror bagi kawan-kawanku.
Kami berdamai. Aku kembali mengayuh
dengan perasaan yang lebih ringan. Di tanah Jawa ini, ternyata semua makhluk
hanya sedang mencari cara untuk tetap bertahan hidup—setapak demi setapak,
kayuhan demi kayuhan.
RIUH PANGGANG
Seharusnya aku tidak di sana. Tidak
pada pukul satu dini hari, saat garis antara kewarasan dan halusinasi mulai
mengabur akibat kantuk yang menyiksa. Hutan jati Panggang bukanlah tempat untuk
tamu tak diundang di jam segini.
Dulu, aku pernah melintasinya saat
matahari masih tegak lurus di atas kepala. Bahkan dalam silau cahaya itu pun,
hutan ini seolah mengirimkan getaran "penolakan" yang dingin. Sejak
itu, aku bersumpah: tidak akan pernah kembali ke sana saat kegelapan berkuasa.
Namun, takdir seringkali menuntut apa yang paling kita hindari. Hidup senang
menyodorkan pilihan yang paling ingin kita jauhi, lalu memaksa kita melaluinya
dengan kaki gemetar.
“Harus banget ya, aku naik ke
Panggang jam satu malam ini?” umpatku pelan, suaraku tertelan angin malam
menuju Imogiri.
Logikaku berteriak untuk berhenti
dan menunggu fajar. Namun, ambisi adalah mesin yang lebih kejam daripada otot
kaki. Di layar racemap, titik-titik "Kuda-Kuda" lain sudah
melaju jauh menuju Pacitan. Aku tidak boleh tertinggal. Aku harus menerjang
Panggang dengan sisa keberanian yang compang-camping, meski di kepala ini sudah
menari-nari rupa para "warga" sana—kuntilanak yang tertawa di dahan
jati, genderuwo yang mengintip dari balik gelap, atau sosok nenek penunggu
pohon tua yang konon tak suka ketenangannya terusik.
Tiba-tiba, dunia menjadi gelap
selama beberapa detik.
Aku tersentak. Aku sempat terlelap
di atas sadel! Dalam tidur singkat itu, aku bermimpi berada di tengah hutan
lebat, namun saat mata terbuka, yang kulihat adalah aspal hitam yang membelah
pemukiman sunyi. Di sisi kiri, cahaya temaram dari sebuah angkringan memanggil
seperti mercusuar di tengah badai. Aku harus sadar sepenuhnya; di jalur ini,
mengantuk adalah undangan terbuka bagi celaka.
“Kopi ne wonten, Mas?” suaraku
memecah kesunyian, parau dan lelah.
Mas penjaga angkringan terlonjak
dari kantuknya. Ia menatapku dengan pandangan tak percaya: seorang perempuan,
sendirian, di atas sepeda kayuh, berkeliaran di jam yang biasanya hanya dihuni
oleh makhluk halus atau peronda. Sambil menyalakan kompor, ia bertanya ragu,
“Badhe teng pundhi, Mbak?”
“Wonosari, Mas. Lewat Imogiri,”
jawabku singkat.
“Hluk! Lewat Panggang, Mbak?”
Tangannya yang sedang mengaduk kopi terhenti seketika.
Beberapa warga lokal yang sedang
terjaga ikut merapat. Di bawah lampu neon yang berkedip, jemari mereka
menelusuri peta digital di ponselku. “Dari sini sampai sini nanjak terus,
Mbak... di titik ini baru landai. Setelah itu naik-turun dari desa ke desa sampai
Playen.”
Godaan untuk menyerah merayap di
benakku. Membayangkan duduk di sini lebih lama, menyesap kopi panas dan
mengunyah gorengan hingga fajar menyapa, terasa jauh lebih manusiawi daripada
menembus keangkuhan Hutan Panggang. Tapi ini Bentang Jawa. Berhenti berarti
membiarkan jarak semakin menganga.
Aku mengecek racemap. Di
sana, drama lain sedang berlangsung. Dua peserta kategori pairing mulai
tampak tidak kompak. Yang satu berhenti jauh di belakang, sementara pasangannya
sudah berada di titik persiapan tanjakan. Ternyata, kelelahan tidak pandang
bulu. Bahkan mereka yang memiliki teman bicara pun bisa "tumbang"
oleh ego dan rasa lelah.
Mungkin, menjadi peserta solo
sepertiku adalah sebuah berkah tersembunyi malam ini. Tak perlu kompromi, tak
perlu perdebatan. Ingin melaju atau berhenti sepenuhnya adalah otoritas tunggal
di tanganku. Sambil menyeruput kopi yang mulai hangat, aku menyambung daya
lampu dan cyclocomp. Saat melaju diatas sepeda aku selalu mematikan
ponsel, bukan hanya untuk hemat baterai, tapi karena aku merindukan ketenangan
tanpa interupsi notifikasi dunia luar.
Aku melirik layar sekali lagi.
Pasangan pairing itu masih tak bergerak. Titik yang di depan mendadak
diam, mungkin sedang menunggu pasangannya yang tertinggal dengan rasa gusar
yang tertahan.
Aku tak boleh seperti mereka.
Sebelum mereka kembali bergerak, aku harus sudah masuk ke jantung hutan.
Kopi habis. Semangat yang tadi
sempat padam kini kembali memercik. Kaki ini harus siap bertaruh pada
perjalanan yang paling tidak kuinginkan. Tak jauh dari angkringan, tanjakan
Panggang mulai memamerkan taringnya yang tajam.
Aku, Si Kuda Betina yang sudah
kehilangan banyak tenaga ini, akhirnya mengaku kalah pada gravitasi. Aku turun
dari sadel, menuntun sepeda selangkah demi selangkah. Napasku memburu di tengah
sunyi, namun aku menolak untuk takut lagi.
Setiap langkah adalah satu inci
lebih dekat menuju angka seribu lima ratus kilometer. Dan di tengah kegelapan
Panggang, aku sadar: aku tidak sedang berlari dari hantu, aku sedang mengejar
diriku yang baru.
Napas kami—aku dan
sepedaku—berkejaran. Keringat mengalir dari akar rambut, membasahi leher, dan
membuat baju melekat di kulit. Setiap kali menemukan jalan landai, aku langsung
terkapar. Di mana saja. Di bangku kayu, bahkan di atas aspal dingin yang keras.
Kuda Betina ini kelelahan, tapi ia tak punya alasan untuk menyerah.
Lamat-lamat, riuh di kepala mulai
mereda, digantikan oleh irama napas yang teratur dan gesekan sol sepatu pada
aspal yang kasar. "Anak-anak kecil" itu perlahan memudar ke balik
kabut tipis, seolah-olah tugas mereka untuk menemaniku di titik paling gelap
sudah selesai. Aku tetap melangkah, mendorong si Kuda Besi yang kini terasa
seperti bagian dari tubuhku sendiri.
Hutan jati yang tadinya terasa
seperti penjara raksasa, kini perlahan berubah menjadi katedral yang megah. Bau
tanah basah dan aroma khas daun jati yang mengering mengisi paru-paruku,
memberi energi purba yang tak bisa didapatkan dari kafein mana pun.
Lalu, garis cakrawala mulai
berubah. Warna hitam pekat perlahan memudar menjadi biru dongker, lalu semu
ungu yang lembut. Di ufuk timur, fajar mulai menyingsing—sebuah janji yang
ditepati oleh semesta setelah malam yang terasa abadi.
Cahaya pertama itu menusuk
sela-sela ranting jati, menjatuhkan berkas sinar yang menyentuh wajahku yang
kusam dan penuh peluh. Saat itulah aku menyadari bahwa aku sudah berada di
ujung labirin. Jalanan yang tadinya terus mendongak ke langit, kini mulai
melandai, memberikan bonus turunan yang sudah lama kunantikan.
Aku kembali naik ke atas sadel.
Angin subuh yang dingin menerpa wajah, menghapus sisa-sisa kantuk yang tadi
hampir mencelakakanku. Di bawah sana, pemukiman di daerah Playen mulai
terlihat. Suara azan subuh bersahut-sahutan dari kejauhan, memecah kesunyian
malam dan menandakan bahwa kehidupan "normal" telah kembali dimulai.
Aku menoleh ke belakang sekali
lagi, menatap barisan pohon jati yang kini tampak anggun diterpa cahaya pagi.
Ternyata, Panggang tidaklah sejahat yang kubayangkan. Ia hanya sebuah cermin
besar. Jika aku masuk dengan ketakutan, ia akan memberi teror. Namun, jika aku
masuk dengan ketahanan, ia akan memberi ketenangan.
Kulihat layar cyclocomp yang
lampunya masih menyala redup. Angka di sana terus bergerak maju. Aku belum
sampai ke angka seribu lima ratus, dan perjalanan menuju Pacitan masih panjang.
Namun, keberhasilan melewati Panggang di jam-jam "terlarang" adalah
sebuah medali yang tersemat rapi di dalam batin.
"Terima kasih sudah
menjagaku," bisikku pada angin, entah untuk siapa.
Mungkin untuk Mas penjaga
angkringan yang memberiku nyawa lewat secangkir kopi, mungkin untuk para
"warga" kecil yang menemaniku bermain, atau mungkin untuk diriku
sendiri—si Kuda Betina yang menolak untuk berhenti saat dunia memintanya untuk
tidur.
Aku memacu sepedaku lebih cepat.
Pagi ini aku tidak hanya mengejar ketinggalan dari peserta lain, aku sedang
merayakan kemenangan atas rasa takut yang baru saja kukubur dalam-dalam di
jantung Hutan Panggang.
ANGIN BERBISIK DI PRACIMANTORO
Aku tahu perjalanan seperti apa
yang sedang kusesap saat ini, sebuah penderitaan yang direncanakan. Aku
hanyalah seekor Kuda Betina yang ringkih. Aku tak memiliki kekuatan ledak
seperti kuda-kuda jantan yang memacu aspal dengan ambisi di mata mereka. Di
kilometer berapa posisiku sekarang? Entahlah. Angka-angka itu telah kehilangan
maknanya, tertutup oleh lapisan debu dan rasa lelah yang membatu.
Aku sengaja mematikan bisingnya
dunia digital. Ponsel di top tube bag hanya kubuka sekilas, sekadar
memastikan napas masih tersambung lewat pesan WhatsApp yang tak punya gairah
untuk kubalas. Saat ini, yang kubutuhkan bukanlah sinyal telekomunikasi,
melainkan sinyal dari semesta yang ingin kukenal lebih dalam.
Pandanganku terpaku pada garis
merah muda di layar cyclocomp. Alat itu adalah sumber kecemasanku.
Setiap kali bar warna-warni penanda kemiringan muncul, jantungku berdegup
kencang—dug-dag, dug-dag—seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.
Semakin miring grafik itu, semakin
banyak nyawa dan napas yang harus kutumbalkan. Suara ban yang bergesekan dengan
aspal kasar terdengar seperti rintihan panjang: srek... srek... srek...,
seolah karet hitam itu sedang diparut oleh jalanan yang membara.
Terik matahari Pracimantoro adalah
bayangan yang posesif. Ia tidak hanya mengikutiku; ia memelukku dengan hawa
panas yang menyesakkan. Aku berhenti, dan matahari seolah berhenti tepat di
atas ubun-ubun, memanggang helm plastiku hingga aku bisa mencium aroma samar
material yang memanas.
Di kanan-kiri jalan, batu-batu
karst raksasa menjulang tinggi bak raksasa purba yang sedang menghakimiku.
Mereka enggan berbagi perlindungan. Aku menatap wajah bebatuan yang angkuh itu;
mereka berdiri tegak, namun entah di mana mereka menyembunyikan bayangannya
sendiri. Di sebelahnya, pepohonan tinggi meranggas kurus. Rantingnya kering,
sesekali berderit patah ditiup angin panas, berdiri di atas kaki masing-masing
dengan keangkuhan yang sunyi.
Aku menyerah. Kekuatanku habis
diisap aspal. Kusandarkan tubuhku pada pagar besi di sisi kiri jalan. Begitu
telapak tanganku menyentuh pagar itu, sensasi panas menyengat langsung merambat
ke saraf, mengingatkanku bahwa tidak ada tempat yang benar-benar dingin di
sini.
Kutarik napas dalam, terasa kering
dan berpasir di kerongkongan. Saat kulepaskan perlahan, uap dahaga seolah
terlihat di udara. Lidahku mengecap rasa asin yang pekat—keringat yang mengalir
dari dahi, melewati alis, dan bermuara di sudut bibir. Dalam diam, aku
menggugat langit.
"Kenapa di sini panas
sekali?"
Pikiranku meracau. Baru kemarin aku
menggigil disiram hujan, memohon agar air berhenti jatuh. Manusia memang
makhluk yang tak pernah puas. "Apa boleh aku minta hari ini tidak
panas, ya Allah?" bisikku lirih. Suaraku terdengar asing, parau dan
pecah karena kekurangan cairan.
Aku menanti mendung dikirim untuk
memayungi Kuda Betina yang lemah ini. Namun, langit biru itu tetap bersih—biru
yang menyilaukan hingga membuat mata pedih saat menengadah. Mendung sedang
enggan bertamu.
Keringat mengalir deras dari balik
helm, menyusup ke sela-sela baju yang sudah empat hari tidak ganti. Bau
keringat yang asam, tajam, dan bercampur debu jalanan menciptakan aroma yang
pekat, Aroma Perjalanan Sisi Selatan. Bau itu mendekap erat tubuhku hingga aku
lupa seperti apa wangi vanila yang biasa kupakai. Indera penciumanku kini hanya
mampu merekam aroma kesunyian dan pengabdian pada jalanan ini.
Kekosongan mulai menyelimuti setiap
langkah. Untuk mengusir kegilaan, aku mulai berbincang dengan apa saja—batu,
pohon, hingga aspal yang retak. Aku memang tidak mendengar suara mereka, namun
aku mengerti apa yang mereka sampaikan melalui getaran di udara dan kekokohan
mereka berdiri.
Wuzzz…
Tiba-tiba, sebuah keajaiban kecil
datang dari arah belakang sisi kanan. Angin menari mendekat, meniupkan
kesejukan yang tak terduga. Ia mengusap leherku yang terbakar, mendinginkan
wajah yang memerah, dan memberikan sedikit kelembapan pada mataku yang kering.
Klik.
Bunyi sepatu yang mengunci pedal
terdengar mantap. Aku bangkit dari sandaran pagar besi. Lamunan pahitku tersapu
oleh angin yang baru saja membisikkan kekuatan. Alam seolah menjawab doaku
dengan caranya sendiri: Tuhan tidak memberiku mendung untuk menutupi matahari,
tapi Ia mengirimkan angin untuk mengusap peluhku.
Aku kembali mengayuh. Rantai
berputar dengan bunyi clink-clink yang teratur—sebuah ritme baru untuk
memulai kembali perjuangan di sisa hari. Tanjakan demi tanjakan kulalui dengan
sisa tenaga yang nyaris habis diperas aspal. Mataku menyipit, memindai
cakrawala, menanti satu penampakan yang menjadi mercusuar harapanku: Pasar
Pracimantoro. Di sanalah titik akhir dari drama tanjakan ini. Aku tahu, setelah
pasar itu, jalanan akan melandai, berubah menjadi jalur rolling yang
manis. Medan yang jika diikuti iramanya, akan terasa seperti ayunan indah di
atas sepeda—sebuah hadiah bagi mereka yang berhasil menaklukkan puncak.
“Setelah belokan di depan itu,
pasti sudah sampai,” bisikku pada diriku sendiri.
Suaraku terdengar seperti mantra
penghibur. Di saat mental nyaris goyah, tak ada yang bisa menenangkan hatiku
selain kebohongan-kebohongan kecil yang kubangun sendiri untuk menipu rasa
lelah.
Namun, semesta nampaknya ingin
mengujiku lebih lama. Begitu roda depan melewati tikungan, harapanku runtuh.
Tak ada pasar. Tak ada keramaian. Yang menjulang di depan mataku justru
tanjakan hebat yang seolah menyambung langsung ke langit.
Ditemani semilir angin Pracimantoro
yang kini terasa mengejek, aku terus mengayuh. Angka di cyclocomp
merayap lambat 4 kilometer per jam. Itu bukan lagi kecepatan bersepeda; itu
adalah kecepatan seseorang yang sedang merangkak demi harga diri.
Ketika punggungku mulai meronta dan
tulang belakang terasa seperti ditusuk-tusuk jarum panas, aku menyerah. Aku
turun dari sepeda, membiarkannya tergeletak, lalu merebahkan tubuhku di atas
rumput kering di tepi aspal. Aku tak lagi peduli pada panas yang menyengat atau
tekstur rumput yang kasar. Saat itu, gravitasi adalah musuh sekaligus kawan—aku
hanya ingin membiarkan bumi menyangga seluruh beban tubuhku.
Setelah sekian menit berkutat
dengan sejuta keluhan yang bergema di kepala, aku bangkit kembali. Aku menolak
untuk mati di sini. Dengan sisa tekad yang tersisa, aku mengayuh lagi hingga
akhirnya—seperti fatamorgana yang menjadi nyata—sosok Pasar Pracimantoro muncul
di kejauhan.
Tanpa pikir panjang, aku
mengarahkan kemudi menuju papan merah kuning yang tampak begitu mencolok di
sisi kiri jalan: Rocket Chicken.
Begitu melangkah masuk, aroma ayam
goreng menyambutku, namun bukan itu yang kucari. Mataku tertuju pada ubin putih
yang tampak mengilap. Dengan gerakan cepat, kulepas sepatu bersepedaku yang
sesak.
Nyesss…
Rasanya luar biasa. Bayangkan
sebuah batu yang baru saja keluar dari perapian, merah membara, lalu tiba-tiba
dibungkus dengan kain basah yang dingin. Uapnya seolah mengepul di kepalaku,
dan seketika, "batu" itu mendingin. Rasa dingin dari ubin merambat
melalui pori-pori telapak kaki, menjalar ke betis, dan memadamkan api kelelahan
yang sedari tadi membakar sarafku.
Aku memejamkan mata, menyesap
sensasi itu, sampai sebuah suara memecah keheningan pribadiku.
“Mbak, jadi mau pesan apa?” tanya
mbak kasir, menatapku yang mungkin terlihat sangat berantakan.
Lamunanku buyar. “Menu paket satu,
Mbak,” jawabku singkat.
Setelah menyelesaikan pembayaran
dengan sekali pindai QRIS, aku bergegas menuju meja yang paling dekat dengan
colokan listrik. Inilah ritual wajib seorang musafir jalanan: mengisi daya
ponsel untuk komunikasi, dan mengisi perut untuk kehidupan.
Dari balik jendela kaca yang sejuk
oleh AC, aku menatap ke luar. Di sana, aspal jalanan Pracimantoro nampak
bergetar. Fatamorgana terlihat seperti lapisan air yang menggenang di atas
jalan, padahal itu hanyalah tarian panas yang membara. Aku bergidik ngeri
melihat apa yang baru saja kulalui, sambil kembali menempelkan telapak kaki ke
ubin—mensyukuri nikmat kecil yang menyelamatkanku hari ini.
Duduk di sudut rumah makan ini, aku
tersadar akan posisiku di papan skor. Meski masih ada peserta lain yang
berjuang di belakangku, ego ini tak lagi merasa bangga. Kabar dari dunia luar
memberitahuku bahwa barisan depan sudah menyentuh Check Point 2 di Patria
Palace Hotel, Blitar.
Blitar. Sebuah nama yang terasa
begitu jauh di ufuk timur. Untuk sampai ke sana, aku harus "menjahit"
aspal Giritontro, membelah Pacitan, mendaki Tegalombo yang legendaris, lalu
melintasi Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung. Sebuah rute yang bukan sekadar
deretan nama kota, melainkan ujian ketabahan yang panjang dan berliku.
Namun, tidak ada sesal. Aku pernah
melewati rute sulit ini sebelumnya, dan rintangan yang datang selalu terasa
seperti kado dari alam semesta. Jika hari ini kadonya adalah angin syahdu yang
mengusap peluh di Pracimantoro, maka aku harus menerimanya dengan tangan
terbuka, seburuk apa pun kondisi fisikku.
Pikiranku melayang ke Bentang Jawa
tahun 2022. Saat itu, aku melintasi bumi Pracimantoro ini di bawah selimut
kegelapan malam. Tak ada terik matahari yang memanggang kulit, namun
kesunyiannya jauh lebih menghantui.
Dalam pekat malam itu, satu-satunya
sahabatku adalah sinar rembulan yang pucat dan lampu sepeda yang membelah jalan
sepi. Nafasku kembang kempis, beradu dengan suara jangkrik dan bisikan angin
malam yang dingin menusuk tulang. Kini, di bawah terik yang sebaliknya, aku
menyadari bahwa alam selalu punya dua wajah; dan keduanya sama-sama menuntut
hormat yang tinggi.
Panas di luar sana kian menggila,
seolah-olah matahari sedang berada di titik terendahnya. Aku tahu, jika aku
terlalu lama bermanja di bawah sejuknya AC dan dinginnya ubin, aku akan
kehilangan momentum. Menunggu sore berarti menyerahkan diri pada kegelapan di
Tegalombo, Pacitan. Di sana, meski tanjakannya tidak sekejam Pracimantoro,
keheningan hutannya jauh lebih "ngeri".
Aku harus memilih: terbakar
matahari sekarang atau ditelan kesunyian malam nanti.
Dengan berat hati, kutarik kakiku
dari ubin lantai yang dingin. Sensasi "nyess" itu kini tinggal
kenangan yang tersimpan di saraf kakiku. Kupasang kembali sepatu bersepedaku,
mengencangkan talinya, dan berdiri tegak. Sisa-sisa tenaga dari paket ayam
goreng tadi harus cukup untuk membawaku menuju angka 1.500 kilometer.
Aku kembali ke aspal. Tak jauh di
depan, persimpangan menuju Jalur Lingkar Selatan (JLS) sudah menanti—sebuah
jalur legendaris yang menghubungkan Pacitan dengan Yogyakarta. Di sana,
pemandangan samudera mungkin akan menyambutku, namun aku tahu, di balik keindahan
itu, rintangan baru telah bersiap menghadang sang Kuda Betina.
Roda kembali berputar. Clink. Gigi
sepeda berpindah. Garis lurus aspal Pantai Selatan yang membosankan ini
mendadak menyerupai barisan skenario hidup yang dulu disusun orang lain
untukku. Dulu, hidupku adalah garis lurus yang dipagari oleh ekspektasi orang
lain.
Aku dan bayanganku kembali beradu
dengan aspal yang membara. Aku telah melaju meninggalkan debu pasar dan beralih
ke aspal yang lebih mulus, lebih hitam, dan lebih menjanjikan, Jalur Lingkar
Selatan (JLS).
Begitu ban menyentuh lintasan ini,
suasana seketika berubah. Langit masih biru tanpa ampun, namun atmosfernya
tidak lagi secekik saat aku terjebak di antara tebing karst Pracimantoro yang
angkuh. Kini, ada napas baru yang berembus dari arah selatan.
Semilir angin mulai terasa menyapa
kulit jersey-ku yang masih basah. Awalnya ia datang malu-malu, lalu perlahan
menjadi hembusan yang konstan. Ini bukan lagi angin darat yang kering dan
berdebu; ini adalah angin laut yang membawa aroma garam dan kelembapan.
Namun, jangan salah sangka. Ini
bukan kesejukan yang sempurna. Di dalam embusan angin itu, masih ada hawa panas
yang samar-samar terbawa. Rasanya unik; seperti ditiup kipas angin di tengah
ruangan yang gerah. Ada sensasi dingin yang menyentuh permukaan kulit, tapi di
baliknya, suhu udara tetap terasa membara—sebuah perpaduan suhu yang hanya bisa
dipahami oleh mereka yang bertarung di pesisir selatan Jawa.
JLS membentang di depanku bagaikan
pita hitam raksasa yang membelah perbukitan hijau dan tebing pantai. Jalanan di
sini terasa lebih "bersahabat" secara visual, meski secara fisik
tetap menantang. Aspal yang halus membuat suara gesekan ban berubah menjadi
dengungan rendah yang ritmis: wung... wung... wung...
Aku mulai mengikuti irama rolling-an
jalan. Saat jalanan menurun, aku membiarkan gravitasi mengambil alih,
memberikan waktu bagi kakiku untuk beristirahat sejenak. Angin laut menghantam
wajahku dengan lebih keras, menerbangkan sisa-sisa aroma keringat asam yang
sudah menempel berhari-hari.
Aku tahu, di depan sana Pacitan
sedang menunggu. Perjalanan ini masih jauh dari kata usai. Panas samar yang
dibawa angin laut ini adalah pengingat bahwa alam tidak pernah benar-benar
melepaskan cengkeramannya, ia hanya mengganti caranya menguji kita.
Kuda Betina ini masih merayap, tapi
kini ia merayap dengan harapan yang lebih segar. Telapak kakiku yang tadi
sempat "direparasi" oleh dinginnya ubin, kini mulai merasakan
hangatnya pedal kembali. Namun kali ini, aku tidak lagi mengeluh. Aku membiarkan
diriku larut dalam tarian antara hawa panas dan semilir laut.
Aku tak lagi mencemaskan
tanjakan-tanjakan di belokan JLS berikutnya, selama angin laut ini masih sudi
mengusap leherku, aku akan terus mengayuh menuju angka-angka yang lebih besar
di layar cyclocomp. Perjalanan menuju 1.500 kilometer bukan lagi soal
kecepatan, tapi soal seberapa lama aku bisa bertahan dalam pelukan alam yang
kontradiktif ini.
PELUKAN POHON NGADAS
Tubuhku sering dituduh memiliki
kekuatan tak terbatas hanya karena ia tak pernah tampak tumbang. Orang-orang
melihatnya sebagai monumen dari besi yang kebal terhadap pukulan, padahal
kenyataannya, ia telah dihantam bertubi-tubi oleh kenyataan yang tajam. Aku
telah membiarkan diriku menjadi rumah hampa yang dihuni oleh jiwa penyendiri;
sebuah bangunan tanpa tamu yang sudi mampir, meski hanya sebentar. Aku bahkan
sudah lupa kapan terakhir kali tubuh ini dipeluk dengan tulus. Aku telah
terlalu lama terabaikan dalam kesunyian yang kupilih sendiri.
Kesunyian itu terasa paling pekat
saat aku menatap kartu check point di Patria Palace Hotel, Blitar. Putih
bersih. Tak ada stempel panitia, tak ada tanda keberadaan manusia. Aku tidak
hanya terlambat di titik pertama, aku telah melampaui batas waktu (Over Cut
Off Time) di titik kedua.
Sesaat, kehampaan di kartu itu
hampir membuat pertahananku runtuh. Namun, aku segera menenangkan detak
jantungku. Arti perjalanan ini bukan soal mengumpulkan tinta di atas kertas.
Ada atau tidak ada stempel, jalan menuju Banyuwangi harus tuntas di garis finish.
Setelah beristirahat sejenak, aku
melanjutkan kayuhan melintasi Bendungan Lahor. Keelokannya membuatku iri—begitu
tenang dan cantik di bawah sisa cahaya senja, seolah tak punya beban untuk
dikejar. Tak jauh dari sana, sebuah kedai kopi di sisi kanan jalan memanggilku.
Aku menyandarkan sepeda pada
sebatang pohon, sebuah ritual yang kini terasa seperti memasang jangkar pada
kapal yang hampir karam. Sambil menunggu daya lampu sepeda terisi, aku menyesap
Iced Black Coffee. Cairan dingin itu menyiram otakku yang mulai kerdil
oleh kelelahan.
Di sinilah pikiran mulai
mengkhianatiku. Halusinasi datang tanpa permuka. Dalam sapaan angin Malang,
otakku bersikeras bahwa aku sedang berada di sekitar Madiun. Aku membayangkan
sebentar lagi akan sampai di depan pintu rumah, melepas sepatu, mandi, dan tenggelam
dalam kelembutan kasurku sendiri. Namun, kenyataan pahit menyentakku: aku
berada di tempat yang sangat jauh, dan satu-satunya "rumah" yang
kupunya saat ini hanyalah sadel sepeda yang kini terasa seperti pisau.
Rasa perih di pantat sudah tak
tertahankan. Meski salep pereda nyeri telah berkali-kali kuoleskan, ia tak
mampu menutup robekan kulit yang kian lebar. Sakit itu menjalar, memberontak
dari leher, tangan, hingga ambeien yang mulai ikut meradang. Aku terpaksa
melakukan off-saddle—mengayuh sambil berdiri—hanya agar roda tetap
berputar menghabiskan sisa jalan menuju Kepanjen.
Aku merasa kalut. Di racemap,
titik-titik peserta lain sudah bergerak jauh di depanku. Aku sendirian di
belakang. Namun, menyerah adalah kata yang sudah kuhapus dari kamus perjalanan
ini. Aku sudah berada di Jawa Timur; tanah ini adalah rumahku, dan Banyuwangi
hanyalah soal sisa napas yang harus kupertaruhkan.
Malam itu, Kota Malang menyambutku
dengan suhu yang mulai menggigit. Sebuah warung 24 jam menjadi oase tak
terduga. Di sana, aku bertemu seorang dotwatcher bernama Yuri. Ia
seperti malaikat kecil dalam gelap, menawarkan sedikit rasa aman di tengah
keterasinganku. Aku menghabiskan dua porsi Indomie rebus dan teh panas, mencoba
mengisi kembali kalori yang telah terkuras habis.
Aku memejamkan mata tepat 30 menit.
Tanpa alarm, tanpa bantuan teknologi, tubuhku yang sudah terlatih secara
otomatis terbangun tepat waktu. Sebuah mesin yang, meski rusak di dalam, tetap
patuh pada perintah tuannya.
Perjalanan menuju Tumpang adalah
definisi dari sunyi yang pekat. Jalanan Malang menipu mata; terlihat lurus dan
datar, namun gradiennya menyentuh 10 persen, memaksa paru-paruku bekerja dua
kali lipat.
Sesampainya di Tumpang, ketabahanku
akhirnya menemui titik jenuh. Dari jarak lima ratus meter, lampu sebuah
minimarket memancar terang, kontras dengan pekatnya malam yang mengepungku.
Kursi besi di terasnya seolah memiliki suara, memanggilku untuk bersandar
sejenak.
Aku berhenti di sana, terduduk
dengan tubuh yang menggigil hebat. Hawa dingin Malang menembus hingga ke sumsum
tulang. Aku tahu, tantangan yang lebih besar—tanjakan Jemplang yang legendaris
itu—sudah menungguku saat subuh nanti. Namun untuk saat ini, di bawah lampu
neon yang dingin, aku hanya ingin membiarkan rumah hampa ini beristirahat,
sebelum ia kembali dipaksa menjadi besi yang tak boleh tumbang.
“Kenapa Malang dingin banget, sih?”
keluhku pada kegelapan. Aku hanya sedang mencari alasan, mencoba membenarkan
keputusan untuk meringkuk di atas kursi besi minimarket yang beku.
Jam menunjukkan pukul tiga pagi.
Dinginnya Malang bukan lagi sekadar suhu, ia telah berubah menjadi jarum-jarum
halus yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Kutata dua kursi besi agar
berhadapan, mencoba menciptakan tempat tidur darurat di teras yang sunyi.
“Selamat tidur, Sep,” bisikku pada
diri sendiri. “Iya,” jawabku segera.
Jangan heran. Percakapan ini adalah
bensin bagi kewarasanku. Ribuan kilometer sejak dilepaskan di Carita, aku telah
menjadi teman bicara bagi diriku sendiri. Bertanya, lalu menjawab seketika. Aku
harus memastikan fungsi otak dan mulutku tidak mati membeku dalam kesunyian
yang kuciptakan.
Namun di tengah gigil itu, sebuah
lubang hampa menganga di dadaku. Aku membayangkan: seperti apa rasanya
dipeluk saat kedinginan menghadang? Jika aku bisa menjawab pertanyaanku
sendiri, mengapa aku tak bisa memeluk diriku sendiri? Mengapa aku selalu bisa
menjadi penasihat yang bijak saat ceroboh, namun gagal menjadi pelindung yang
hangat bagi raga yang gemetar ini? Pada siapa aku harus meminta pelukan itu?
Di cakrawala, Puncak Jemplang
berdiri angkuh, seolah-olah ia adalah penguasa tunggal jajaran rute selatan
Pulau Jawa. Jaraknya dari Tumpang sebenarnya hanya dua puluh empat
kilometer—angka yang remeh di atas kertas, namun ia meminta "tebusan"
yang mahal. Bagiku, seorang pesepeda yang kerap dijuluki "Kuda
Betina", jarak pendek itu kini terasa seperti ekspedisi menuju bulan.
Tenagaku terkikis, menyisakan ampas yang nyaris habis.
Aku teringat desa-desa yang tadi
kulewati. Dulu, aku menaklukkannya tanpa perlu turun dari sepeda. Namun hari
ini, semesta punya rencana lain. Entah karena tubuhku yang mencapai titik
nadir, atau karena mekanisme sepeda yang mulai memberontak. Pedal terasa
membatu, berat, dan enggan berputar.
“Ada drama apalagi ini?” gerutuku
pedas.
Aku menepi, menatap rantai sepeda
yang mulai kecokelatan. Karat itu muncul setelah berkali-kali dihantam hujan
deras di sepanjang perjalanan. Sialnya, aku lupa membawa chain lube.
Rantai itu kering kerontang, persis seperti tenggorokanku yang terasa terbakar.
Namun, aku masih punya sepasang kaki. Selama kaki ini belum lumpuh, aku akan
terus bergerak—berjalan, menyeret langkah, sesekali berlari kecil sambil
mendorong beban sepeda ini menanjak.
Langkahku terhenti di sebuah lapang
luas yang mendadak disiram cahaya keemasan. Matahari pagi menyembur dari balik
perbukitan. Aku berhenti, memejamkan mata, dan membiarkan sinar itu menyentuh
kulitku yang pucat.
Rasanya seperti pelukan dari alam
semesta. Hangat. Perlahan, gigil yang menyiksa sejak semalam mulai memudar.
Aku menarik napas dalam-dalam,
mensyukuri oksigen tipis yang masuk ke paru-paru. Targetku jelas: pukul dua
siang aku harus sudah di puncak. Jika terlambat, "badai kabut" akan
turun tanpa ampun, membutakan pandangan, dan membekukan jari-jariku hingga
kram. Di jalur menurun menuju Senduro nanti, jari yang kaku adalah maut.
Tibalah aku di persimpangan itu.
Sebuah papan kayu bertuliskan JARAK IJO menyambut dengan nada mengancam. Inilah
tanjakan paling sadis yang pernah kutemui. Jalan meliuk ke kanan dan kiri tanpa
satu pun bonus turunan.
Siang mulai datang dengan terik
yang menipu, karena angin dingin tetap menusuk tulang. Di sini, Jemplang seolah
sedang menghukum para pesepeda. Ia tidak hanya menguji kekuatan otot
quadriceps, tapi merayu nurani untuk menyerah. Setiap kayuhan bukan lagi soal
kecepatan, melainkan upaya menjaga iman agar tidak runtuh di tanjakan yang
tegak lurus.
Enam kilometer tersisa. Angka itu
mendadak menjelma menjadi tembok raksasa yang mustahil dipanjat. Ragaku
melakukan aksi mogok total.
“Aku lelah, ayo kita istirahat,”
rintih ragaku pada jiwa.
Kali ini, pertahananku jebol. Jiwa
dan ragaku sepakat untuk menyerah sejenak. Aku butuh sandaran. Aku butuh
sesuatu untuk menopang beban yang tak tertahankan ini.
Di tengah keputusasaan itu, aku
melihatnya: Sebatang pohon di Ngadas. Ia berdiri diam di pinggir jalur yang
sunyi. Megah dalam kesederhanaannya. Tanpa pikir panjang, kusandarkan sepeda
dan kurengkuh batang pohon itu. Kulit kayunya kasar dan dingin, namun terasa
begitu kokoh. Aku memeluk pohon itu seolah ia adalah satu-satunya pelampung di
tengah samudra yang ganas.
Dalam keheningan Ngadas, keajaiban
kecil terjadi. Pohon itu seolah mengalirkan energi purba langsung ke dalam
dadaku yang sesak. Ia tidak menghakimiku karena aku lambat. Ia tidak menanyakan
catatan waktu atau stempel di kartu kendaliku. Ia hanya menerima seluruh beban
yang kutitipkan pada batangnya.
Sebuah pemahaman baru meresap. Aku
tidak selalu butuh pelukan manusia untuk merasa utuh. Kuhirup aroma
tanah dan embun dalam-dalam. Aku tersadar bahwa tubuh ini hanya sedang lelah,
bukan menyerah. Dengan sisa energi yang kupinjam dari alam, aku kembali menaiki
sadel. Puncak Jemplang mungkin masih tinggi dan angkuh, tapi kutahu, aku tidak
lagi mendaki sendirian.
DAUN JEMPLANG MENDENGAR
"Sebentar lagi sampai...
sebentar lagi sampai."
Kalimat itu kuulang-ulang seperti
mantra, sebuah upaya putus asa untuk menenangkan badai di dalam dada. Namun,
bukannya mereda, degup jantungku justru kian liar. Kaki-kakiku mulai gemetar
hebat, otot-ototnya seolah memprotes beban tubuh dan bobot sepeda yang terasa
kian menindas. Di depan, kabut turun dengan angkuh, menyelimuti aspal dan
melahap jarak pandang. Hatiku kalut. Di tengah kelelahan yang luar biasa,
pikiran-pikiran buruk mulai merayap, mengisi setiap celah kewarasan yang
tersisa.
"Jangan sampai aku mengulangi
kejadian di Gantasan," bisikku ngeri. Suaraku hilang ditelan angin.
Seketika, memori menyeretku paksa
kembali ke malam jahanam setahun yang lalu. Saat itu, aku adalah peserta Race
Around Java. Aku yang naif, mengira gunung hanyalah hamparan hijau estetik
yang menawarkan keindahan tanpa ancaman. Aku datang hanya dengan modal nekat,
tanpa jaket gunung yang tebal, tanpa tenda, tanpa pelindung yang layak. Dan di Rest
Area Gantasan, alam memutuskan untuk menanggalkan topeng ramahnya.
Itu adalah kali pertama aku mendaki
jalur menuju Paltuding dengan sepeda, membelah rute Banyuwangi menuju
Bondowoso. Aku memutuskan berhenti di Gantasan saat gelap mulai pekat, berharap
bisa berlindung di salah satu warung yang buka hanya sampai sore. Setelah
mendapat izin pemiliknya, aku bersiap bermalam di sana, menunggu fajar agar
bisa melanjutkan perjalanan ke Paltuding Ijen.
Fasilitasnya cukup mewah bagi
seorang pesepeda, ada Wi-Fi dan aliran listrik. Namun, peringatan sang pemilik
warung membekas di kepala, "Hati-hati sama anjing hutan, mereka suka
mencuri barang-barang."
Maka, kususun bangku-bangku kayu
sebagai barikade darurat. Aku menyiapkan "tempat tidur" beralaskan sleeping
bag thermal tipis. Kumatikan lampu sepeda, berusaha lenyap dalam senyap.
Pikiranku saat itu hanya dua, waspada terhadap begal dan menghindari anjing
hutan. Aku merasa persembunyianku sudah sempurna.
Namun, alam memiliki rencana lain. Suhu
merosot tajam hingga menyentuh 6°C. Di tengah kegelapan yang membeku, aku
terjebak. Angin gunung yang tajam mulai menyayat kulitku yang hanya dibalut
pakaian tipis. Aku merasakan kematian mendekat dalam wujud dingin yang brutal.
Dingin yang awalnya menusuk tulang, lalu perlahan bermutasi menjadi rasa panas
yang membakar di seluruh lapisan kulit—sebuah ironi dari gejala hipotermia.
Tubuhku membeku. Seluruh indera perabaku mati rasa.
Tak ada begal. Tak ada anjing
hutan. Yang ada hanyalah dingin yang mencekam.
Di atas bangku kayu yang keras itu,
aku hanya memiliki satu senjata yaitu doa. Kulantunkan permohonan keselamatan
berkali-kali, memohon agar jantungku tidak menyerah sebelum matahari terbit.
"Apa aku akan mati di sini?" tanyaku dalam igauan gigil.
Tidak! Aku tidak boleh kalah
sesederhana ini.
Dengan tangan yang kaku, kuraih
ponsel. Baterai masih tersisa sedikit. Aku mencari "Polsek Licin" di
mesin pencari. Ada hasilnya, tapi nihil nomor telepon. Putus asa, aku mengirim
pesan terakhir kepada ibuku.
'Buk, doakan aku selamat ya.'
Tak lama, balasan masuk, 'Pasti.
Kudoakan kamu selamat.'
Pesan itu memberiku sedikit oksigen
mental, meski sepuluh jariku kini sudah memanas dan tak bisa digerakkan. Sisa
kewarasanku berteriak: Cari api!
Aku merangkak mengumpulkan sampah,
daun kering, dan bilah bambu dari dinding gedhek warung. Kunyalakan
korek. Api kecil muncul, menari sebentar, lalu mati diembus angin. Aku mencoba
lagi, mengumpulkan daun lebih banyak, lalu—Bruuukk!—aku menumpahkannya
terlalu banyak karena panik. Api itu padam total.
Aku menyerah pada diri sendiri dan
menghubungi seorang teman di Banyuwangi. Ia bersedia menyusul, tapi
perjalanannya butuh satu jam. Satu jam di suhu ini terasa seperti satu
keabadian. "Tuhan, berikan bantuan-Mu..."
Tiba-tiba, sebuah mobil sedan
melaju cepat dari arah atas dan berhenti mendadak di depan warung. Lampunya
mati. Tak ada suara. Kutunggu beberapa detik, tapi tak ada orang yang keluar.
Di dalam kabin yang gelap, aku bisa melihat dua siluet manusia yang mematung.
Persetan dengan begal. Aku lebih
takut pada dingin daripada manusia.
Kuketuk kaca mobilnya dengan keras.
Ketika kaca terbuka, wajah dua pemuda di dalamnya tampak pucat pasi. Mereka
ketakutan—mungkin mengira aku adalah penghuni gunung yang tidak ramah. Aku
tidak memberi mereka waktu untuk berpikir.
"Bisa bikin api unggun,
Mas?" pintaku, lebih mirip perintah yang putus asa.
"Bi... bisa, Kak," sahut
salah satunya gemetar.
Mereka keluar dan segera
mengumpulkan kayu. Begitu api menyala stabil dan memberikan kehangatan yang
menyelamatkan nyawaku, barulah aku bertanya mengapa mereka berhenti.
"Tidak tahu, Kak, tiba-tiba
mobilnya mogok. Kami cuma mau lewat."
Mogok yang ajaib. Tak lama setelah
mereka pamit melanjutkan perjalanan karena mobil tiba-tiba bisa menyala
kembali, temanku datang membawa tenda dan kompor camping.
Malam itu, di bawah bayang-bayang
Gantasan, aku belajar satu hal, terkadang Tuhan mengirimkan bantuan melalui
hal-hal yang paling tidak masuk akal, agar kita tahu bahwa kita tidak pernah benar-benar
sendirian di jalanan yang sunyi.
Kini, waktu sudah merangkak
melewati pukul sebelas siang. Di ufuk sana, langit Jemplang tak lagi
bersahabat. Rintik hujan mulai turun satu-satu, membawa aroma tanah basah dan
kecemasan yang menyesak. Dari arah puncak Jemplang, beberapa pengendara motor
melintas dengan jas hujan yang sudah basah kuyup. Melihat mereka, hatiku
menciut. Tanpa hujan pun, siang terik di ketinggian ini sanggup menusuk tulang
dengan suhu dinginnya. Bagaimana jika langit benar-benar tumpah?
“Pak, di atas hujan ya?” tanyaku
pada seorang pengemudi yang menepi di seberang jalan.
“Iya, Mbak. Sudah gerimis deras,”
jawabnya singkat sembari membenahi posisi jas hujannya.
Jawaban itu terasa seperti vonis
mati. Jika hujan turun sekarang, aku akan terjebak dalam repetisi kengerian,
suhu enam derajat Celsius yang pernah hampir merenggut kesadaranku. Tubuhku
meronta, otot-otot kakiku menjerit meminta jeda, sementara mataku liar menyisir
setiap kelokan jalan. Aku mencari satu penanda keramat yaitu ‘sebuah kaca
cembung jalan’ yang penuh coretan stiker vandalisme. Bagiku, kaca kotor itu
bukan sekadar alat bantu lalu lintas, ia adalah gerbang suci yang menandai
berakhirnya hukuman tanjakan ini.
“Pasti di depan sudah ada
kacanya...” bisikku penuh harap.
Namun, jalanan hanya menyuguhkan
kelokan demi kelokan yang sunyi. Kaca itu tak kunjung tampak.
Langkahku terhenti. Dalam
keputusasaan yang sunyi, aku menyerah pada gravitasi. Kusandarkan tubuh yang
lunglai bersama sepeda pada tebing tanah di pinggir jalan. Tanaman liar yang
tumbuh subur di sana menyambut punggungku. Dinginnya embun dari daun-daun kecil
mulai meresap ke balik baju, memberikan sensasi gigil yang asing.
Aku terpaku menatap sehelai daun
yang tepat berada di depan mataku.
“Daun, apa benar kau bisa
mendengar?” tanyaku lirih, suaraku parau tertelan kabut.
Daun itu diam. Tak ada jawaban, tak
ada gerakan. Ia hanya diam dalam kebersahajaannya yang hijau.
“Daun, tolong aku,” rintihku lagi,
kali ini dengan air mata yang nyaris jatuh. “Sampaikan pesanku kepada langit.
Tolong, jangan turunkan hujan sekarang. Aku pernah hampir mati di Gantasan,
jangan biarkan aku kedinginan lagi di sini. Perjalananku masih sangat
panjang...”
Aku memejamkan mata, membiarkan
keheningan Jemplang mengambil alih kesadaranku. Aku memasrahkan
segalanya—napas, detak jantung, dan sisa tenaga yang nyaris nol. Daun itu tetap
membisu, namun sebuah keajaiban kecil mulai bersemi di tengah kesunyian.
Beberapa menit berlalu. Rintik yang
tadinya mulai menderas tiba-tiba mereda, lalu berhenti sepenuhnya. Awan hitam
masih menggantung pekat, kabut pun masih mengepung pandangan, namun hujan
seolah tertahan oleh tangan-tangan tak kasat mata di langit.
Ternyata, Daun Jemplang mendengar. Ia
tidak bicara, namun ia bekerja dengan caranya yang paling sunyi. Ia
menyampaikan pesan si "Kuda Betina" yang rapuh ini langsung ke
telinga semesta. Hari itu, jalanku dibuka kembali. Bukan oleh kekuatan otot
kakiku, melainkan oleh kebaikan alam yang merestui langkahku agar tak perlu
lagi bertaruh nyawa dalam dingin yang mematikan.
NYADRAN DI LANGIT BROMO
Semua manusia pada akhirnya akan
menempuh kepulangan yang sama: kematian. Namun, bagi mereka yang telah lebih
dulu melangkah, kematian bukanlah akhir, melainkan perjalanan panjang menuju
Sang Pencipta. Di sana, para leluhur menjadi pengembara abadi, dan untaian doa
adalah bekal paling murni yang mereka butuhkan agar langkah mereka tak menemui
halangan.
Siang itu, di lereng Bromo menuju
Puncak Jemplang, langit seolah sedang menahan napas. Rintik hujan tertahan di
angkasa, namun kabut tebal mulai menggelayut manja, menemani langkahku membelah
tanjakan demi tanjakan. Tiba-tiba, perjalananku terhenti. Bukan oleh letih,
melainkan oleh kerumunan warga Suku Tengger yang memenuhi jalanan, menciptakan
barisan khidmat yang memanjang menuju pemakaman desa.
Mereka sedang merayakan Nyadran.
Sebuah tradisi mengirim bakti, sebuah jembatan rindu bagi mereka yang telah
tiada. Tangan-tangan legam para pria dan wanita Tengger membawa nampan berisi
sesaji—makanan dan minuman pilihan yang dipersiapkan dengan hati.
Melihat tumpukan buah dan nasi itu,
ingatanku terlempar jauh ke meja makan di rumah masa kecil dulu. Aku teringat
Ibu. Beliau sering menata makanan dengan sangat rapi, menyalakan sebatang lilin
kecil yang cahayanya menari-nari di samping piring sesaji. Suatu kali, dengan
kepolosan bocah yang hanya mengerti rasa lapar, aku mencuri sebuah jeruk dari
tumpukan itu.
Ibu marah besar. Sebuah kemarahan
yang tidak aku mengerti saat itu. “Itu untuk leluhur, bukan untuk kita makan.
Hargai leluhurmu!” tegurnya tajam.
Sejak hari itu, aku tak pernah lagi
berani menyentuh jatah para leluhur. Namun, lebih dari sekadar rasa takut,
insiden jeruk itu menanamkan sebuah kesadaran dalam benakk, bahwa di dalam
rumah kami, anggota keluarga bukan hanya Bapak, Ibu, dan Kakak. Ada sosok-sosok
tak kasat mata yang tetap hadir, menjaga, dan melengkapi arti sebuah keluarga.
Ingatan itu membawaku pada sebuah
perjumpaan gaib. Aku teringat mbah buyut, nenek dari Bapak. Aku menemuinya
dalam mimpi—satu-satunya ruang di mana garis antara yang hidup dan yang mati
menjadi samar.
Dalam mimpi itu, waktu seolah
berhenti pada jam-jam surup menjelang Maghrib. Aku berdiri mematung di
sebuah rumah yang terasa akrab namun asing. Lantainya bukan keramik mengilap
seperti yang aku jumpai sehari-hari, melainkan tegel plesteran kusam yang
menyimpan jejak dingin. Ruangannya lapang, tanpa sekat triplek, tanpa batas. Di
ruang tamu, sofa cokelat tua yang kubeli dengan hasil kerja keras selama ini lenyap,
berganti dengan kursi jati kuno yang tak pernah kulihat di dunia nyata.
Di sana, di atas kursi jati itu,
duduk seorang perempuan tua. Rambutnya seputih kapas, pipinya kempot, dan
kulitnya berkerut seperti peta sejarah yang panjang. Matanya sipit, dan ia
mengenakan jarit jumputan yang digambar halus dengan canting dan malam (lilin
batik).
Ia bukan tamu. Dari caranya duduk
yang begitu tenang, ia adalah pemilik sah rumah itu. Justru aku yang merasa
menjadi tamu asing yang tersesat di rumahku sendiri—atau lebih tepatnya, rumah
masa lalu, puluhan tahun sebelum aku dilahirkan ke dunia.
Aku tak berani mendekat. Dari
kejauhan, kupandangi garis wajahnya. Ada rupa Bapak di sana. Mata sipit itu,
bibir tipis itu. Benar, ia adalah akar dari pohon keluargaku. Ketika aku
tersentak bangun dan menghampiri sofa cokelat di ruang tamu, ruangan itu
kosong. Hanya ada sunyi. Berkali-kali aku mencarinya, namun ia hanya mau
singgah di alam mimpi, bukan di dunia yang bising ini.
Lamunanku pecah oleh tetesan air.
Udara yang jenuh mulai tumpah menjadi hujan. Kabut turun begitu pekat hingga
jalanan di depanku tampak seperti dinding putih yang tak tertembus. Dari arah
Puncak Jemplang, iring-iringan Jeep berbaris rapi, lampu kuningnya
berusaha keras menikam pedut (kabut) yang menyelimuti pandangan.
Di tengah keputihan itu, warga
Tengger mulai berjalan turun dari makam. Mereka mengenakan busana adat, dan
anehnya, wajah-wajah mereka memancarkan suka cita yang murni—sebuah ekspresi
syukur atas rezeki yang melimpah.
Saat mereka berdesakan melewatiku
yang masih terdiam di samping sepeda, aku tertegun. Wajah-wajah itu...
rupa-rupa itu terasa sangat tidak asing. Garis pipi, tatapan mata, dan senyum
mereka seperti cuplikan mimpi-mimpi yang sering hadir saat mataku terpejam.
Mereka seolah menjelma di dunia nyata.
Mereka hidup berdampingan dengan
sejarah. Mereka tidak membiarkan masa lalu mati di telan zaman.
Langkah kami berlawanan arah.
Mereka turun menuju lembah yang hangat, sementara aku harus terus merayap naik
menuju puncak yang dingin. Kami saling menatap di tengah kabut yang memutih.
Mereka menebar senyum tulus, dan aku membalasnya dengan binar mata yang sama.
Tiba-tiba, lelah yang aku kumpulkan
sepanjang ribuan kilometer bersepeda sendiri menguap begitu saja. Aku merasa
melebur dalam energi suka cita mereka. Di tempat kuberdiri, di antara sunyinya
lereng Bromo, aku seolah bisa mendengar sorak bahagia para leluhur yang
menerima persembahan doa-doa tadi. Aku tidak lagi merasa sendirian. Di tanjakan
Puncak Jemplang ini, aku sedang berjalan bersama ribuan doa yang membumbung
tinggi, menembus kabut, menuju langit Bromo yang abadi.
JATI MENARI DI SENDURO
Bakso gerobakan di pelataran Bromo
itu sebenarnya sederhana, tak berbeda jauh dengan yang biasa melintas di depan
rumahku. Namun sore itu, rasanya melampaui segala hidangan mewah. Mungkin
karena lidahku baru saja menuntaskan ribuan kilometer pahitnya aspal sisi
selatan Pulau Jawa, atau mungkin Bakso Bromo memang memiliki sisi magis yang
mampu menghipnotis relung hati yang lelah.
Aku menghabiskannya dengan tergesa.
Berkali-kali kulirik layar ponsel; kabut merayap makin tebal, membawa firasat
buruk akan datangnya hujan. Jika langit tumpah sekarang, perjalananku menuju
Senduro akan tamat. Aku akan terjebak dalam pelukan dingin Ranu Pani, sementara
di depan sana, hutan lebat berlumut yang hening sudah menunggu.
“Alas Burno jalannya sudah bagus,
Pak?” tanyaku, mencoba memecah kesunyian.
“Masih banyak lubang, Mbak. Lumutan
juga,” jawab penjual itu sambil menutup dandang. Kebulan uap membubung tinggi,
mirip letupan kecil gunung berapi yang sedang batuk. “Kemarin hujan jam segini,
Mbak. Beberapa hari ini rutin.”
Jawaban itu adalah alarm. Hasrat
makanku menguap seketika. Aku meminta sisa baksoku dibungkus plastik dan segera
bergegas. Penjual itu berpesan agar aku ekstra waspada. Alas Burno bukan
sekadar hutan; ia adalah labirin lubang dan lumut yang licin.
Alas Burno adalah urat nadi yang
menghubungkan Ranu Pani dengan Senduro. Jalannya turun berkelok-kelok panjang
dengan jebakan lubang di setiap tikungan curam. Tangan kanan dan kiriku
bergantian menarik rem, menjaga keseimbangan agar tidak terlempar saat berpapasan
dengan kendaraan besar dari arah bawah. Udara begitu menggigit hingga jemariku
kram. Setiap beberapa kilometer, aku terpaksa berhenti hanya untuk menepukkan
tangan, meregangkan otot yang kaku. Lengah sedikit saja, jurang di sisi jalan
siap menjadi peristirahatan terakhir.
Setelah melewati puncak Jemplang,
ujian belum berakhir. Perjalanan menuju Ranu Pani masih menyajikan rollingan
tanjakan yang menguras sisa tenaga. Hingga akhirnya, gapura Desa Ranu Pani
menyambut. Tak ada lagi tanjakan, namun jalanan berubah sempit, berlubang, dan
semakin menurun.
Di sebelah kiri, Danau Ranu Pani
bersolek dengan tenda-tenda warna-warni di tepiannya. Tempat pelarian bagi
mereka yang muak dengan rutinitas. Aku berhenti tepat di depan sebuah bangunan
kayu cokelat—check point Ranu Pani. Sepi. Tak ada panitia maupun
volunteer. Tempat itu telah kembali ke fungsi aslinya: sebuah rumah makan yang
tenang.
Aku duduk di bilah kayu,
menyandarkan sepeda, dan mengatur napas. Ada rasa pahit yang harus kutelan;
target Cut Off Time (COT) telah melesat pergi. Harapan itu gugur di
sini. Aku harus ikhlas.
Sebelum melanjutkan sisa perjalanan
menuju Lumajang, aku memeriksa rem kembali. Dari titik ini, jalanan akan terus
menurun tanpa bonus datar sedikit pun. Aspal Senduro bukanlah karpet halus,
melainkan hamparan lubang berlumut. Menghindari lubang berarti risiko
terpeleset; melawannya berarti risiko terjungkal.
Belum lima kilometer berjalan,
keanehan dimulai. Cyclocomp di setang sepedaku berbunyi terus-menerus. Tiitt…
tiitt… tiitt…
“Kenapa berisik sekali?” keluhku.
Kuhentikan laju sepeda dan menonaktifkan semua notifikasi. Seharusnya alat
canggih ini diam membisu sekarang. Namun, begitu roda berputar, bunyi itu
kembali memekik nyaring.
“Jangan berisik di tengah hutan
yang sunyi! Jangan membangunkan mereka yang sedang tidur!” gertakku pada benda
mati itu. Aku mulai kalut. Kupastikan sekali lagi semua pengaturan berada pada
posisi OFF. Sia-sia. Nada notifikasi itu tetap ada, menyayat kesunyian
Alas Burno.
Layar cyclocomp itu kosong.
Tak ada peringatan navigasi, tak ada deteksi tanjakan. Aku diam sejenak,
memandangi pohon-pohon raksasa yang menjulang menggapai langit. Tiba-tiba, dari
arah belakang, terdengar suara langkah menginjak ranting kering. Krak.
Aku menoleh cepat. Seekor monyet
kecil duduk di sana. Ia menatapku dengan sepasang mata cokelat yang dalam. Ia
tampak mungil, namun ada sesuatu yang janggal. Ia tidak lari, tidak menyerang;
ia hanya diam mengawasiku dengan kesadaran yang terlalu tinggi. Tatapannya
kosong, namun menusuk.
“Dia pasti bukan monyet,” bisik
logikaku. Ketakutan mulai merambat naik ke tengkuk. Dan di saat yang sama, alat
itu kembali berteriak: Tiitt… tiitt… tiitt…
Aku nyaris menyerah pada kegilaan
ini. Namun, di tengah kekacauan mental itu, sebuah suara di kepalaku berbisik
pelan: “Tetap waras, tetap fokus.”
Aku memutuskan untuk berhenti
melawan. Kubiarkan sepeda melaju mengikuti gravitasi. Aku berhenti membenci
bunyi itu dan mulai menyesuaikan diri dengan iramanya. Aku melepas kecemasan,
membuang semua pikiran buruk, dan mulai beradaptasi—sebagaimana aku terbiasa
menerima kegagalan dalam hidup.
Saat aku berhenti menolak dan mulai
menerima alam apa adanya, sebuah keajaiban muncul.
Dalam laju sepeda yang berkelok,
dunia di sekitarku mulai bermetamorfosis. Pohon-pohon jati yang tadinya diam
memasung diri di pinggir jalan, perlahan mulai bergerak. Mereka meliuk,
berputar, dan menari mengikuti irama nada dari cyclocomp. Nada dan gerak
berpadu selaras, mementaskan sebuah pertunjukan rahasia untuk jiwaku yang
lelah.
Aku mengedipkan mata berulang kali.
Ini tidak mungkin. Pohon-pohon itu tampak hidup, menari dengan gemulai di
tengah rimba. Apakah ini halusinasi karena kelelahan ekstrem? Ataukah
kewarasanku telah mati di perjalanan tadi? Namun rasanya begitu nyata. Tangan
kananku masih bekerja keras menahan rem, ban sepedaku masih melindas lubang,
tapi di mataku, hutan ini sedang berpesta.
Aku sedang menikmati tarian semesta
yang hanya dipersembahkan untuk pengembara yang sudah menyerahkan seluruh
egonya pada jalanan.
Namun, ketika belokan jalan terasa
seperti diulang-ulang, rasa percayaku mulai terkikis kembali. Takut tersesat di
dalam lingkaran gaib, aku memutuskan untuk benar-benar berhenti. Di sisi kanan
jalan, sebuah warung bambu sederhana tampak berdiri tenang.
Tanpa berpikir panjang, kubelokkan
setang. Kusandarkan sepeda dan langsung terbaring di atas lantai bambu yang
dingin. Napasku memburu. Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja
kusaksikan: sebuah pentas seni pohon jati yang menghibur, namun menyimpan
kengerian yang tak sanggup kujelaskan dengan kata-kata. Di Alas Burno, garis
antara kenyataan dan mimpi ternyata setipis kabut yang menyelimutinya.
SENYUM LELUHUR DI TANAH TENGGER
Air mata yang sudah membendung di
kantung lakrimal tak lagi mampu kutahan. Mereka meluap, tumpah tanpa permisi,
seolah kantung itu terlalu kecil untuk menampung duka dan lelah yang telah
tersimpan selama puluhan tahun di sana.
Sama halnya dengan ragaku yang
tertahan di Senduro. Aku duduk terpaku di warung bambu, memandangi sekeliling
dengan tatapan kosong. Di depanku, seorang lelaki duduk diam. Di sebelah kiri,
ada seorang lelaki paruh baya yang usianya mungkin sedikit lebih muda dari
Bapak.
Aku kehilangan kompas realitas.
Batas antara yang nyata dan yang fana telah lebur sejak aku melihat pohon-pohon
jati di Alas Burno menari mengejek kesendirianku. Apakah kedua lelaki ini
nyata? Ataukah mereka hanyalah proyeksi lain dari hutan jati tadi?
“Ada apa, Mbak?” Bapak di sebelah
kiri menyapaku, memecah lamunanku.
“Mmm… Pak, ini daerah mana ya?” aku
bertanya balik. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Aku sedang
mencari jalan keluar dari kekacauan pikiranku. Aku lupa di mana pintu exit untuk
kembali ke dunia nyata.
“Senduro, Mbak. Sampean mau ke
mana?” Ia menatapku penuh selidik, mungkin heran melihat seorang pesepeda yang
tampak linglung di tengah hutan.
“Ini Lumajang ya, Pak? Saya mau ke
Banyuwangi.”
“Ini Senduro, Mbak. Lumajang kota
masih jauh…” Ia mulai terlihat enggan berurusan dengan kekacauanku. Lelaki di
depanku ikut mencuri pandang, namun segera membuang muka saat mataku memaku
matanya.
Dalam kepanikan itu, aku hanya
mengingat satu nama. Satu manusia yang bisa kupercaya untuk menarikku kembali
ke bumi. Aku menghubunginya dengan tangan gemetar.
“Hei, kenapa?” suaranya terdengar
di seberang sana.
“Aku bingung…” bisikku. Aku
bercerita tentang pohon jati yang berjalan, tentang aku yang lupa arah, dan
tentang rasa rindu rumah yang tiba-tiba menghantam dada. Aku ingin pulang, tapi
aku bingung rumah yang mana yang kumaksud.
Dia mendengarkan ocehanku dengan
kesabaran yang luar biasa. “Kamu harus tenang. Tarik napas dalam, lalu
keluarkan. Ulangi sampai kamu merasa nyaman.”
Dia adalah instruksi yang selalu
kupatuhi tanpa ragu. Bagi jiwaku yang seringkali limbung, dia adalah jangkar;
satu-satunya sosok yang paling memahami labirin kekacauan yang kerap bertamu di
kepalaku. Jika suatu saat seluruh memoriku terhapus, aku yakin hanya namanya
yang akan tetap tinggal, terpatri di sudut ingatan yang paling dalam.
Pertemuan dengannya di tahun 2009
terjadi di sebuah ruang yang tidak romantis: Aula Kantor Kecamatan. Saat itu,
aku sedang membantu proyek video musik seorang teman. Seorang teman penyiar
radio memperkenalkan kami. Singkat, padat, dan tanpa firasat apa pun. Namun,
semesta bekerja dengan caranya yang misterius. Enam bulan kemudian, aku berdiri
di pelaminan bersamanya.
Keputusanku untuk hidup bersamanya
justru mantap saat aku bertemu dengan sosok Papinya.
“Fac, ajak Septi masuk,” suara
berat itu memanggil dari dalam rumah.
Nofac—lelaki keturunan
Banyuwangi-Manado dengan kulit putih dan tatapan mata cekung warisan
maminya—membimbingku masuk. Aku menjabat tangan Papinya, mencoba mencairkan
suasana dengan basa-basi yang kikuk. Namun, Papi justru menatapku lama, seolah
sedang membaca lembar-lembar takdir di wajahku, lalu tersenyum manis. Di detik
itulah, rasa "cocok" itu muncul. Aku bersedia menghabiskan hidup
dengan lelaki yang sebenarnya baru sekejap kukenal ini.
Desember 2009 menjadi saksi
penyatuan kami. Karena waktu perkenalan yang singkat, kami memacu diskusi
tentang rumah tangga layaknya mengejar target. Kami bicara tentang kemungkinan
terburuk: kebosanan yang mengintai, ego yang berbenturan, hingga kesalahpahaman
yang mungkin mendominasi perdebatan.
Dia yang saat itu memeluk Katolik,
memilih menjadi mualaf demi jalan yang kami tempuh. Dengan dua kalimat
syahadat, ia resmi memeluk Islam, dan kami pun melangkah menuju pelaminan.
Uniknya, kami baru benar-benar
saling mengenal justru setelah menjadi suami-istri. Aku menelanjangi seluruh
sisi burukku di hadapannya tanpa sisa. Begitu pun dia. Aku adalah api dengan
ego yang seringkali menjulang, sementara dia adalah air yang mampu
menyelaraskan segalanya dengan candaan dan sifat mengalahnya yang tulus.
Dalam sembilan tahun perjalanan
itu, ia menjelma menjadi apa saja yang kubutuhkan. Dia menjelma menjadi coach
saat pikiranku buntu; dia bisa menjadi sosok bapak yang penuh nasihat; dia juga
hadir sebagai sahabat yang selalu sedia; dan dia adalah teman minum bir yang
paling asyik saat kami hanya ingin "mabuk" berdua di teras rumah,
menertawakan lelahnya dunia.
Cinta kami tidak tumbuh dari
kata-kata manis. Isi pesan singkat kami bahkan bisa dihitung jari. Tak ada
pertanyaan klise seperti "sudah makan belum?". Pesanku hanya berisi
satu kata: "Jemput", dan ia akan membalas singkat: "Oke".
Aku membenci basa-basi, dan ia memahami bahasa keheninganku.
Yang paling aku kagumi darinya
adalah ketenangannya. Sepecah apa pun kapal yang kami tumpangi, dia selalu
punya solusi untuk tetap membuatku bertahan di tengah luasnya lautan. Darinya,
aku belajar untuk tidak mencemaskan hal-hal yang tidak pasti, lebih bersyukur
atas udara yang kuhirup, dan menjaga lisan agar tidak melukai. Dia adalah guru
terbaik dalam hidupku.
Namun, keseimbangan sempurna itu
akhirnya menemui titik nadirnya setelah sembilan tahun.
“Aku ingin kembali ke Gereja,”
ucapnya sore itu, setelah beberapa hari kami terjebak dalam aksi tutup mulut.
Duniaku seolah berhenti berputar.
Aku diam seribu bahasa. Aku tahu, kasihnya pada Bunda Maria telah memanggilnya
pulang, melampaui sayangnya padaku. Aku menyadari bahwa menahannya hanya akan
memenjarakan jiwanya. Aku harus merelakannya agar dia bisa kembali menemukan
kedamaian, meski itu berarti aku harus kehilangan separuh nyawaku.
Ini adalah kehilangan paling
menyakitkan yang terjadi untuk kedua kalinya—setelah kehilangan Bapak yang
pergi selamanya. Kini, aku harus merelakan lelaki yang paling kubutuhkan.
Aku tidak pernah menyesali
perpisahan itu, karena dia berhak atas bahagianya. Namun, kadang aku bertanya
pada takdir: mengapa kami harus dipertemukan dengan begitu indah jika akhirnya
harus dipisahkan oleh keyakinan yang kembali memanggilnya pulang?
Hingga hari ini, rahasia-rahasiaku
yang paling kelam tetap tersimpan rapi padanya. Dia tetap menjaganya dengan
setia, meski kini kami tak lagi searah. Dia tetap menjadi jangkar yang pernah
menahan kapalku agar tidak karam, meski kini dia telah melepaskan sauhnya untuk
berlabuh di dermaga yang berbeda.
“Sudah tenang?” tanyanya memecah
keheningan yang sempat membeku.
“Iya, sudah lebih baik,” jawabku
pelan. Suaraku masih terasa asing di telingaku sendiri.
Lelaki itu—sosok yang dikirim
semesta untuk menjagaku di warung bambu itu—perlahan menuntunku pulang menuju
"rumah" yang sebenarnya. Bukan rumah dalam bentuk bangunan, melainkan
kebenaran tentang mengapa aku bisa terdampar di Senduro dengan pikiran yang
kosong melompong.
“Mengapa kamu berada di Senduro?”
Pertanyaannya singkat, tapi terasa seperti hantaman keras.
Aku terdiam, menatap nanar ke arah
jalanan di luar warung. Ingatanku seperti kepingan puzzle yang berserakan. “Aku
tidak tahu. Tadi aku dari Jemplang, makan bakso, lalu melewati pentas tari
hutan jati di Hutan Senduro,” jawabku polos, tanpa menyadari betapa janggalnya
kalimat itu bagi orang normal.
“Sebelum di Jemplang, kamu di
mana?” Ia terus mengejarku, membantuku menyusuri kembali jejak langkah yang
hilang.
“Sebelumnya... aku terjebak di
kerumunan warga Tengger yang lagi nyadran.” Ingatan mulai merayap naik. Aku
ingat bau kemenyan, wajah-wajah ramah, dan kabut tipis yang menyelimuti
perbukitan itu beberapa jam lalu.
“Lalu, sebelum itu?”
“Semalam... aku di Indomaret
Tumpang. Tidur di kursi besi, kedinginan sampai ke tulang. Sebelum itu, aku di
Malang, makan dua porsi Indomie bersama Yuri. Sebelumnya lagi di Blitar. Dan
kemarin malamnya... aku di Trenggalek.”
Aku menceritakan kisah mundur itu
dengan detail yang menyakitkan. Aku terdiam lama. Lelaki itu menunggu dengan
sabar, menantikan saat di mana kesadaranku akhirnya "mendarat"
kembali ke bumi.
“Astaga!” Aku terlonjak. Jantungku
berdegup kencang saat tabir itu tersingkap.
“Sudah ingat kalau kamu sedang ikut
Bentang Jawa?” tanyanya pelan.
Seketika, tangisku pecah. Aku
menangis sejadi-jadinya, bukan karena sedih, tapi karena ngeri sekaligus
takjub. Bagaimana mungkin aku bisa sekejap lupa pada perjuangan menempuh ribuan
kilometer ini? Bagaimana mungkin memoriku bisa ter-reset hingga aku merasa
hanya seorang pengembara tanpa tujuan?
“Iya... aku kan ikut Bentang Jawa,”
sahutku datar, masih dalam sisa-sisa kejutan.
“Sekarang, kembali ke tujuanmu yang
sebenarnya. Apa tujuanmu ikut ini?”
Aku mengusap air mata, mencoba
menemukan kembali api yang kunyalakan sebelum berangkat dari sisi barat Jawa.
“Aku mau menulis buku tentang perjalanan bersepeda. Tentang kehidupan... dan
alam semesta.”
Lelaki itu tersenyum tipis. “Kamu
sadar tidak? Alam semesta sudah memberikan apa yang kamu inginkan.”
Tangisku meledak kembali. Kalimat
itu menghujam tepat di ulu hati. Aku menyadari betapa baiknya alam semesta
membimbingku. Jika tujuanku ikut Bentang Jawa hanya untuk menjadi pemenang yang
sampai paling cepat, barangkali aku takkan pernah benar-benar "bertemu"
angin di Pracimantoro. Takkan ada "tuyul" yang mengajakku petak umpet
di Hutan Panggang. Telinga daun di Jemplang takkan sempat mendengarkan keluhku,
dan pohon jati di Senduro takkan menari untukku.
Aku tidak sedang berlomba dengan
waktu; aku sedang bercakap-cakap dengan bumi.
“Sebaiknya kamu tidur malam ini di
hotel. Tenangkan pikiran dan tubuhmu. Kamu lelah, tapi jangan menyerah,”
ucapnya menenangkan.
Malam mulai menjemput dengan
pekatnya. Aku memutuskan untuk menyerah pada rasa lelah, membiarkan tubuhku
terkapar di atas kasur hotel yang dingin. Tak ada lagi perjalanan tengah malam
yang menjanjikan ketenangan semu. Aku butuh tidur untuk menyeimbangkan kembali
timbangan pikiranku yang sempat miring.
Tubuh "Kuda Betina" ini
memang lelah, tapi ia masih punya sisa tenaga untuk berlari. Namun, justru hati
dan pikiran yang saling kejar-kejaran inilah yang sebenarnya membuatku tumbang.
Di ambang kantuk, ucapan lelaki itu
kembali terngiang: “Alam semesta memberikan apa yang kamu inginkan.”
Lalu, apa yang sebenarnya aku
inginkan?
Mungkin aku hanya ingin lari. Lari
dari rutinitas yang mendikte hidup; dari aroma kopi yang selalu datang di
jam-jam yang kaku, dari angka-angka di layar monitor yang mencambuk mata
lelahku menuju penuaan, dan dari nyeri leher yang menjadi teman setia menjelang
tidur.
Inilah alasanku melakukan
perjalanan gila ini. Melintasi bentangan Pulau Jawa sisi selatan hanya dengan
kekuatan kaki. Aku ingin berkenalan dengan seluruh penghuninya—semua yang
melekat pada rahim bumi ini. Aku ingin mengosongkan cangkir pikiranku dari gangguan
duniawi dan menyerap energi semesta dengan tangan terbuka.
Dan ternyata, ia benar. Alam
semesta telah menyambut kedatanganku. Ia menjawab seluruh ragu yang pernah
kupunya dengan cara yang paling ajaib. Angin bisa meniupkan pesan, daun bisa
mendengar doa, pohon bisa memberikan pelukan, dan para leluhur menyapaku lewat
senyum warga Tengger. Bahkan pohon jati pun menari, merayakan kehadiranku di
dunia mereka.
Alam tidak pernah diam. Mereka
hidup dalam gelombang frekuensi yang berbeda, di sisi lain dunia yang hanya
bisa dimasuki oleh mereka yang sudah cukup berani untuk menjadi
"gila". Dan di malam itu, di sebuah hotel di Lumajang, aku menyadari
bahwa aku bukan lagi Septi yang sekadar bersepeda, tapi aku adalah bagian dari
tarian alam itu sendiri.
TITIK TEMU LUMAJANG
Jika otak manusia adalah sebuah
ruang arsip, maka milikku adalah pengarsip yang paling kejam. Ia selektif. Ia
hanya menyimpan sesuatu yang menonjol; jika bukan kenangan yang paling indah,
pasti yang paling buruk. Selebihnya? Hanyalah residu yang dibuang ke tempat
sampah ingatan.
Setelah pikiran dan pandanganku
sempat dikacaukan oleh halusinasi pohon jati yang menari di Hutan Senduro, aku
akhirnya menyerah pada fisik. Aku terbangun di atas kasur hotel di Lumajang.
Dinginnya AC dan hangatnya selimut menjadi kemewahan yang kontras setelah
berhari-hari dihantam cuaca ekstrem. Kedua kakiku terasa lumpuh, luka-luka
lecet di tubuhku akhirnya bisa bernapas.
Hanya lima jam aku terlelap, namun
memoriku melakukan perjalanan waktu hampir tiga dekade ke belakang. Bapak hadir
kembali, bukan sebagai luka yang berdarah, melainkan sebagai memori baik.
Seiring bertambahnya usia, ruang
kenangan ini kian menyempit. Seringkali aku berandai ada tombol Ctrl+A
lalu Delete untuk membersihkan sisa-sisa trauma yang menyesakkan dada.
Dan jika tombol itu nyata, memori bersama Bapak adalah urutan pertama yang
ingin kulenyapkan.
Bapak adalah arsitek yang
menciptakan karakter "monster kecil" dalam diriku. Sejak usia dua
belas tahun, duniaku tidak dibentuk oleh dongeng sebelum tidur, melainkan oleh
tekanan, makian, dan pukulan. Hal-hal itu membangun dinding pertahanan yang
kaku di dalam jiwaku. Aku membenci keadaan yang membuat Bapak menjadi monster
besar, dan aku terpaksa menjadi monster kecilnya demi bisa bertahan hidup.
Dulu, aku sering mempertanyakan:
apakah hidup ini sebuah anugerah, atau sekadar segumpal tanah liat yang
bentuknya ditentukan oleh tangan dingin siapa yang meremasnya?
Kehidupanku dibentuk oleh tangan
dingin Bapak. Ia tidak menginginkan anak perempuan yang lembut. Ia ingin aku
menjadi manusia yang tidak boleh punya celah untuk lemah. Ia mengajariku
melihat dunia sebagai medan perang dan manusia sebagai ancaman.
"Jangan percaya siapa pun.
Semua manusia adalah penipu. Tak ada yang menolongmu selain dirimu sendiri.
Dalam hidup hanya ada dua peran: pelaku atau korban. Pilihlah menjadi
pelaku."
Kalimat itu adalah doktrin yang ia
jejalkan setiap hari. Saat aku masih SMP, aku hanya ingin diterima oleh
teman-temanku, ingin merasa normal. Aku memprotesnya dalam diam. Bahkan, dalam
gelapnya malam, aku pernah mengetuk pintu langit, memohon agar Tuhan mencabut
nyawanya lebih cepat agar aku bisa bernapas lega di bumi ini. Begitu pekat
kebencian itu.
Namun kini, dua puluh delapan tahun
kemudian, di tengah badai kehidupan yang jauh lebih bengis dari cerita-cerita
Bapak, aku tersungkur pada sebuah kesadaran yang pedih.
“Bapak… ternyata aku perlu menjadi
monster sepertimu untuk tetap berdiri menghadapi badai ini.”
Di saat raga nyaris menyerah, aku
justru merindukan kehadirannya. Aku ingin memberitahunya bahwa semua
peringatannya benar. Cara mendidiknya yang dulu kuanggap siksaan, ternyata
adalah bekal paling krusial untuk menghadapi kedewasaanku yang keras. Aku tak
bisa membayangkan jika aku bukan anak Bapak; mungkin aku sudah memilih bunuh
diri saat dihina sebagai "Si Penjual Togel," atau mungkin aku
langsung masuk UGD saat harus bertahan hidup dengan telur busuk dan nasi putih.
Aku tetap hidup hari ini karena
caramu mengubah pola pikirku terhadap dunia. Saat aku berpikir untuk menyerah
untuk kesekian kalinya, aku selalu mengingat rupa "monster" yang
melekat dalam aura Bapak. Dan seketika, mentalitasku bergeser: aku tidak akan
membiarkan diriku kalah.
Ternyata, kaulah yang paling aku
rindukan saat ini, Pak. Penyesalan itu datang menghujam karena aku tak pernah
mengucapkan satu pun kata ‘Terima Kasih’ saat kau masih ada. Aku justru
menyumpahimu mati.
“Anak macam apa aku ini?” gumamku pedih.
Bapak kini sudah tertidur nyenyak
di dalam keabadian tanah. Namun, ajarannya menggema di setiap kayuhan sepedaku
melintasi ribuan kilometer pulau Jawa. Maafkan aku, Bapak, karena dulu
mendoakan kematianmu. Aku bodoh. Ternyata, kau sedang mempersiapkanku untuk
perjalanan panjang ini.
Aku berhenti membencimu, Pak.
Kamulah yang mencetak kepribadian ini hingga aku berani berada di Lumajang
seorang diri, bertarung dalam pacuan melawan ketakutan yang tak kasat mata. Aku
bukan lagi Kuda Betina yang lemah. Aku adalah monster kuat yang kau buat—yang
tetap tenang meski ditinggalkan oleh perhatian duniawi.
“Aku kuat, dan aku akan
menyelesaikannya.”
Pukul enam pagi, Kuda Betina siap
kembali ke jalur. Meski bagi peserta lain pacuan mungkin sudah berakhir
kemarin, bagiku perjalanan ini adalah tentang menuntaskan janji pada diri
sendiri.
Di lobi, seorang lelaki tua sebaya
Bapak memanggilku. Ada keriput di sudut matanya yang tampak familiar. “Come
here, sit down with me,” ucapnya. “Hai Pak, mau kopi?” tawarku. “Arep
nengdi kowe?” (Mau ke mana kamu?)
Aku terperanjat. Ia adalah Pak
Marto, warga negara Suriname keturunan Jawa Tengah yang sedang pulang kampung
bersama putrinya, Michelle. Mendengar ia berbicara bahasa Jawa di tengah sapaan
bahasa Inggrisnya membuat hatiku menghangat.
Di Lumajang ini, aku menemukan
irisan memori buruk yang telah tumbuh menjadi memori baik. Kisah Pak Marto
adalah cermin bahwa hidup memang memiliki dua sisi yang tak terpisahkan: hitam
dan putih, benci dan rindu. Kebaikan muncul untuk menggantikan yang buruk, dan
keburukan ada untuk memberi pengakuan pada kebaikan.
Mesin waktu di kepalaku akhirnya
berhenti berputar. Aku berangkat dari Lumajang dengan hati yang utuh. Bukan
lagi sebagai anak yang terluka, tapi sebagai pejuang yang telah berdamai dengan
bayang-bayang ayahnya sendiri.
Laju sepedaku kini bukan lagi
pelarian, melainkan sebuah persembahan.
PENJAGA MALAM DI LABIRIN GUMITIR
Selepas Jember, jalanan mulai
menyempit dan menanjak kembali. Aku tahu ini adalah "ujian kelayakan"
terakhir sebelum aku diizinkan menginjakkan kaki di tanah Blambangan. Kali ini,
takdir tak membawaku lewat jalur aspal mulus seperti biasanya. Rute perjalanan
dibelokkan ke kanan, memaksaku memasuki jantung Kebun Kopi Gumitir di Desa
Sidomulyo.
Jalanan berubah menjadi barisan
bebatuan kasar yang dikepung rapat oleh barisan pohon kopi. Jalur setapak yang
seharusnya sunyi ini mendadak riuh oleh kendaraan besar dan deru motor, karena
jalur utama penghubung Jember-Banyuwangi sedang diperbaiki. Namun, keriuhan itu
hanya sesaat. Begitu azan Maghrib berkumandang dan hari meredup menjadi gelap,
suasana berubah total. Suara mesin menjauh, dan aku tertinggal dalam kesunyian
yang ganjil. Sesekali jalanan benar-benar senyap, seolah semesta sedang menahan
napas.
Tanpa penerangan jalan, aku hanya
mengandalkan nyala lampu kecil di sepedaku untuk membelah kegelapan bebatuan.
Beberapa kali kujumpai turunan tajam berbatu yang mengancam keseimbangan. Dalam
kondisi lelah yang luar biasa, aku tahu lepas kendali sedikit saja berarti
celaka. Aku memilih untuk tidak berjudi dengan nyawa; kuturunkan kaki, lalu
berjalan sambil mendorong sepedaku selangkah demi selangkah demi keselamatan.
Setelah berjalan beberapa kilometer
dalam dekapan sunyi, sebuah bayangan raksasa muncul di depanku. Berdiri kokoh
di tengah rimba hijau, Pabrik Kebun Kopi Gumitir menampakkan wujudnya—sebuah
bangunan tua yang sangat besar dengan aroma yang bercampur antara wangi kopi
ranum dan hawa lembap dari pepohonan purba. Pabrik itu seperti monumen bisu
yang menyimpan sejarah panjang di kawasan Silo.
Tak jauh dari sana, tersebar
rumah-rumah warga yang sangat sederhana. Lampu neon remang-remang di teras
rumah menjadi satu-satunya tanda kehidupan, namun aku tak melihat seorang pun
penghuninya. Padahal malam belum larut, tapi kenapa suasana sudah sepahit kopi
tanpa gula? Sepi sekali.
Aku memutuskan berhenti saat mataku
menangkap cahaya dari sebuah bangunan. Di depannya, beberapa lelaki sedang
sibuk mengitari sebuah motor yang sedang diperbaiki.
“Warungnya masih buka, Mas? Mau
pesan kopi saget (bisa)?” tanyaku, membuyarkan konsentrasi
mereka.
“Niki sanes warung kopi, Mbak.
Niki pos kampling. Tapi wonten kopi, kulo damelke kopi, Mbak…” (Ini bukan
warung kopi, Mbak. Ini pos kampling. Tapi ada kopi, saya buatkan ya, Mbak...)
sahut salah satu dari mereka dengan keramahan yang tulus.
Aku tersipu, merasa sungkan karena
telah mengira pos penjagaan sebagai warung. Namun, di sanalah keajaiban
perjalanan ini kembali hadir. Di tengah perkampungan Kebun Kopi Gumitir, aku
duduk menikmati suasana malam bersama manusia-manusia baru yang sudi berbagi.
Aku sudah benar-benar lupa ini hari apa, atau sudah berapa lama aku terlambat
mencapai garis finish. Di pos kampling itu, suasana menjadi gayeng (hangat
dan akrab). Rasa cemas yang membuntutiku sejak tadi menguap bersama uap kopi.
“Jalan keluar Kebun Kopi Gumitir
ini masih jauh nggak, Mas?” tanyaku sebelum berpamitan.
“Mboten, Mbak. Nanti
sampeyan terus saja, sampai ketemu gapura besar setelah terowongan Mrawan. Itu
sudah jalan raya.”
“Nggih, matur suwun, Mas.
Kopinya berapa?” tanyaku sambil merogoh saku.
“Niki gratis, Mbak. Mboten usah
mbayar.”
Aku tersenyum malu sekaligus
terharu menerima kebaikan sederhana itu. Aku melanjutkan perjalanan, hingga
akhirnya di depan mataku berdiri sebuah gapura besar yang tampak seperti
peninggalan zaman penjajahan Belanda. Kokoh, tak terawat, sunyi, dan sedikit
mencekam di bawah sisa-sisa cahaya lampu sepedaku. Namun, aku tak lagi takut.
Kopi dari pos kampling tadi telah menghangatkan nyaliku untuk menuntaskan sisa
kilometer menuju gerbang Blambangan.
Sepeda melaju tanpa perlu kukayuh.
Gravitasi mengambil alih tugas kaki yang sudah hampir kehilangan rasa,
membiarkanku meluncur membelah jalanan menurun yang syahdu. Malam itu,
pandangan memang terbatas—seolah dunia hanya seluas jangkauan lampu depan sepedaku—namun
aku tak merasa buta. Aku merasa justru sedang melihat segalanya dengan lebih
jernih.
Jalur utama penghubung Jember dan
Banyuwangi sedang dalam perbaikan. Tak ada raungan mesin truk-truk raksasa atau
sorot lampu bus yang biasanya mendominasi jalur ini. Sunyi. Hanya ada aku,
gesekan ban dengan aspal, dan angin malam yang membelai wajah.
Aku meninggalkan lereng Gumitir
dengan perasaan lega yang tak terlukiskan. Selama melintasi sisi selatan Pulau
Jawa, aku tidak hanya bertarung dengan tanjakan, tapi juga dengan diri sendiri.
Kebencian, keresahan, dan ganjalan yang selama ini kupendam rapat-rapat,
perlahan terurai satu per satu. Alam semesta seperti sedang melakukan
pembedahan spiritual padaku; menyakitkan di awal, namun menyisakan ruang kosong
yang damai di akhir.
Meski garis finish di Banyuwangi
sudah di pelupuk mata, aku tak merasa ingin terburu-buru. Bagiku, perjalanan
ini sudah selesai di dalam kepala, tinggal menyelesaikannya secara fisik. Di
sebuah sudut jalan, dari kejauhan kulihat cahaya kecil yang merayu. Sebuah
gerobak angkringan sederhana dengan penerangan lampu minyak (teplok) berdiri
sendirian. Tanpa pikir panjang, aku mengarahkan setang ke sana.
"Kopi cangkir satu ya,
Mas," pesanku.
Kepulan asap dari cangkir yang
disodorkan sang penjaga angkringan terlihat menari-nari. Pikiranku melayang
kembali ke kabut tebal di Jemplang kemarin siang. Aku tertawa getir dalam hati,
teringat bagaimana aku sempat kehilangan arah dan memori sesaat setelah turun
dari kelebatan Hutan Senduro.
"Mau ke mana, Mbak? Kok
malam-malam sepedahan?" Mas penjaga warung memecah kesunyian. Matanya
menatapku penuh selidik namun ramah.
"Saya asli Madiun, Mas. Ini
mau ke Banyuwangi," jawabku pelan. Aku sudah hafal reaksi apa yang akan
muncul setelah ini.
"Waduh... jauh sekali
sepedahannya?" serunya tak percaya.
Aku hanya membalasnya dengan
senyuman tipis, lalu menyesap kopi panas itu. Pahit dan hangatnya turun ke
kerongkongan, memberi tenaga baru. Saat itulah ponselku bergetar. Sebuah pesan
dari Pak Heru, rekan peserta Bentang Jawa yang sudah menyelesaikan perjuangannya
kemarin.
Belum sempat jempolku mengetik
balasan, ponselku berdering.
"Halo, Pak Heru. Ada
apa?" tanyaku.
"Mbak Septi sudah sampai mana?
Saya ini masih di Banyuwangi. Saya tunggu di finish, ya!" Suaranya
terdengar begitu bersemangat di seberang sana.
Detik itu juga, pertahananku
runtuh. Tenggorokanku tercekat, dan rasa haru yang hebat menggumpal di dada
hingga memaksa air mata meleleh. Aku yang sepanjang jalan merasa sendirian, aku
yang merasa tak ada lagi yang mempedulikan kehadiranku, ternyata salah besar.
"Tenang Mbak Septi, di sini
ada Mas Pandu dan Jojo Maliq juga. Kami semua menunggumu di Hotel
Blambangan."
Kalimat itu adalah
"kayuhan" terakhir yang kubutuhkan. Rasa haru berubah menjadi energi
yang meledak. Aku segera menghabiskan kopiku, berpamitan pada Mas penjaga
angkringan yang masih keheranan, dan kembali naik ke atas sadel.
Aku tak lagi sekadar meluncur
mengikuti gravitasi. Aku mengayuh dengan seluruh sisa tenaga yang ada. Bukan
karena ingin cepat usai, tapi karena aku tahu, di ujung jalan sana, ada sebuah
keluarga baru yang sedang menantiku pulang.
GANDRUNG
: KEPULANGAN DI UJUNG BLAMBANGAN
Aku menatap lirikan mata patung
penari Gandrung yang tajam, sebuah tatapan yang kini tak lagi membuatku ngeri
karena aku menemukan binar yang sama di cermin hatiku.
Banyuwangi. Nama itu akhirnya bukan
lagi sekadar koordinat dingin di layar cyclocomp atau ambisi yang menghantui
kepala. Ia kini nyata, bergetar di bawah ban sepedaku. Aroma laut Selat Bali
mulai tercium, bercampur dengan wangi dupa dan semerbak melati yang
samar—sebuah aroma khas tanah yang sangat menjaga kesakralan tradisinya.
Aku hampir menyentuh garis finish saat
dunia sudah terlelap. Jam satu pagi. Tidak ada sorak-sorai penonton yang gegap
gempita, tidak ada medali emas yang dikalungkan di leherku. Hanya ada aku,
sepedaku, dan debu jalanan yang melekat di sekujur tubuh sebagai saksi bisu.
Namun, di tengah kesunyian yang kupasrahkan itu, kejutan kecil menyambutku.
Tiga orang teman masih terjaga, berdiri menentang dingin demi menungguku: Pak
Heru, Mas Pandu, dan Jojo Maliq. Kehadiran mereka terasa begitu hangat, seolah
semesta mengirimkan perwakilan untuk membisikkan bahwa aku tidak benar-benar
sendirian.
Sementara raga ini berhenti, di
dalam dadaku sebuah tarian justru baru saja dimulai.
Aku menatap patung-patung penari
Gandrung yang berdiri anggun di setiap sudut kota. Tubuhnya meliuk gemulai,
namun kakinya menapak sangat kuat ke bumi. Lirikan matanya tajam namun memikat,
menyimpan rahasia tentang sejarah panjang perjuangan rakyat Blambangan. Konon,
dahulu Gandrung bukan sekadar hiburan; ia adalah simbol perlawanan dan pesan
rahasia para pejuang. Penari Gandrung menari untuk menyatukan yang
tercerai-berai, memberi semangat pada yang lelah, dan menjadi penghubung antara
yang hidup dan para leluhur.
Gandrung menari di atas garis tipis
antara suka dan duka. Persis seperti diriku yang dipaksa menari di antara
kesunyian Panggang dan terik yang membakar di Pracimantoro. Seperti diriku yang
harus menyeimbangkan raga yang lelah dengan jiwa yang hampir menyerah di Hutan
Senduro. Gandrung mengajarkanku bahwa untuk menjadi indah, seseorang harus
berani menanggung beban mahkota yang berat dan kain yang membelit, namun tetap
harus bergerak mengikuti irama semesta.
Aku telah menempuh ribuan kilometer
bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat dari orang lain. Aku melakukannya
untuk membuktikan pada "monster kecil" di dalam diriku bahwa ia bisa
tumbuh menjadi "monster besar" yang bijaksana. Bapak benar, aku harus
kuat menghadapi dunia yang penuh tipu daya. Namun, alam semesta juga benar;
bahwa kekuatan sejati lahir dari kemampuan untuk tetap lembut dan
"mendengar" di tengah kerasnya dunia.
Aku bukan lagi perempuan yang sama
saat roda sepedaku berputar meninggalkan Carita. Aku adalah kuda yang
telah berdialog dengan angin, meminta izin pada daun Jemplang, dipeluk oleh
pohon di Ngadas, dan disapa oleh senyum tulus leluhur melalui warga Tengger.
Aku telah menguliti lapisan-lapisan kebencian masa lalu dan menggantinya dengan
syukur yang mendalam.
Di Banyuwangi, aku akhirnya
memahami arti "pulang". Pulang bukan berarti kembali ke rutinitas
kopi jam tujuh pagi dan layar laptop yang mencambuk mata menuju penuaan. Pulang
adalah saat jiwa dan raga akhirnya berhenti saling kejar-kejaran dan mulai
berjalan berdampingan dalam harmoni yang tenang.
Pacuan telah usai. Garis finish ini
hanyalah awal dari perjalanan baru yang lebih luas. Di bawah tatapan mata
penari Gandrung yang abadi, aku akhirnya benar-benar bisa memeluk diriku
sendiri. Tanpa ragu, aku berbisik pelan pada angin yang membawa aroma Selat
Bali, "Terima kasih telah membawaku sampai di sini."
Comments