KUDA YANG DILEPAS

KUDA DILEPAS DI CARITA

Kuda besi itu melaju cepat menuju sebuah titik: Coconut Island Carita di Pandeglang. Orang-orang mengenal desa ini karena pantainya yang cantik, berselimut pasir putih dengan gemulai ombak yang mengalun pelan di bawah penjagaan anggun Gunung Krakatau. Namun bagiku, Carita bukan sekadar soal pemandangan. Di sana, pondok-pondok bambu berdiri kokoh di atas tanah, menjadi saksi bisu kehangatan manusia yang—meski baru pertama kali bertemu—bisa berbagi ruang tanpa rasa cemas.

“Di situ aku bermalam, dua tahun yang lalu,” bisikku dalam hati.

Aku mengayuh pedal perlahan. Tangan kanan dan kiri bergantian menggenggam tuas rem saat mataku tertuju pada pondok bambu beratap alang-alang itu. Kini, ia tampak lelah; tidak terawat dan tak lagi dihuni.

Aku berhenti tepat di depannya, membiarkan memori indah itu merembes masuk. Aku ingat kasur yang ditata sejajar tanpa dipan, kaca besar di depan pintu kamar mandi bambu, dan aroma sabun rumput yang segar—mirip udara pagi yang bercampur angin laut.

Bayangan rimbun bambu di depanku mendadak tumpang tindih dengan dinding bambu yang dulu mengepung pandanganku. Tubuhku masih terbaring lemas di atas kasur dan mata masih terasa berat untuk dibuka, mendengarkan gemericik air dari balik pintu bambu sambil menunggu Maya selesai mandi.

Maya adalah teman baru seusiaku yang datang jauh-jauh dari Surabaya. Meski aku asli Madiun dan dia dari Surabaya, kami sepakat berbagi kamar demi menghemat biaya sewa pondok.

Maya adalah definisi "sempurna" di atas aspal. Setiap kali kami bertemu di titik kumpul, sinar matahari seolah betah berlama-lama memantul di frame karbon miliknya yang mengkilap. Sebagai brand ambassador, ia adalah manekin berjalan—dari helm aerodinamis hingga sepatu dengan sistem pengunci terbaru, semuanya serba mutakhir. Di sampingnya, aku sering merasa seperti coretan kusam di atas kanvas yang indah.

Pernah suatu kali saat aku bersepeda dengannya, dalam sebuah tanjakan panjang yang menyiksa, aku memperhatikan perpindahan gigi sepedanya yang begitu halus—nyaris tanpa suara. Sementara itu, sepedaku— yang kubayar dengan cucuran keringat cicilan tiga kali—mengeluarkan bunyi krak yang kasar saat aku memaksa operan groupset Claris-ku.

Di detik itu, rasa iri sempat menyelinap halus seperti embun pagi yang dingin. “Kapan aku bisa punya kemewahan itu? Kapan aku tidak perlu memikirkan bunyi rantai yang berisik ini?”

Namun, Maya menoleh. Ia tidak membalapku untuk pamer kekuatan. Ia justru mengatur ritme napasnya agar sejajar denganku. "Ayo, sedikit lagi. Iramamu stabil banget hari ini," ucapnya tulus. Senyumnya meruntuhkan dinding persaingan yang hanya ada di kepalaku.

Aku menunduk, menatap kakiku yang terus berputar di atas pedal sederhana. Tiba-tiba, ingatanku beralih ke meja makan di rumah. Aku teringat biaya sekolah anak-anak yang sudah terbayar bulan ini, dan aroma masakan hangat yang bisa kusajikan karena aku memilih untuk menabung, bukan membelanjakan uang demi upgrade komponen sepeda.

Sepeda ini mungkin hanya berbahan alloy, berat, dan jauh dari kata mewah. Tapi setiap putaran rodanya adalah saksi bahwa aku adalah ibu yang tangguh dan pekerja keras. Sepeda ini tidak hanya membawaku menempuh kilometer jalanan, tapi juga membawaku melintasi badai ekonomi keluarga tanpa harus menyerah.

Aku menarik napas dalam-dalam, mengisi paru-paruku dengan udara pagi yang segar. Aku menyadari satu hal: Maya mungkin memiliki sepeda yang lebih ringan, tapi kekuatan di kakiku dan keteguhan di hatiku tidak bisa dibeli dengan harga berapa pun.

"Terima kasih, May!" seruku, bukan hanya untuk penyemangatnya, tapi juga untuk pengingat tak langsung bahwa jalanku dan jalannya memang berbeda, namun aspal yang kami lalui tetaplah sama.

Hari ini, aku tidak lagi mengejar Maya. Aku hanya ingin pulang ke rumah dengan raga yang sehat, untuk anak-anak yang menjadi alasan utamaku tetap mengayuh, seberat apa pun tanjakannya.

Di kamar ini, ada satu perempuan lagi: Citra. Aku belum mengenalnya dekat, hanya tahu ia berambut pendek maskulin, berkacamata, dengan kulit kecokelatan yang tampak matang terbakar matahari. 

Kisah Citra di Bentang Jawa tahun 2021 memang luar biasa menginspirasi! Menempuh jarak sekitar 1.500 km membelah Pulau Jawa dari barat ke timur dengan segala medannya yang brutal—mulai dari tanjakan terjal di jalur selatan hingga cuaca yang tak menentu—memang butuh kekuatan fisik dan mental yang tidak main-main.

Aku sudah mengikuti akun Instagram Citra sejak lama. Wajar sekali jika aku langsung bersemangat mengikuti kesehariannya. Menariknya, bagi banyak orang yang mengikuti ajang ultra-cycling seperti itu, daya tarik utamanya bukan hanya soal siapa yang paling cepat sampai di Banyuwangi, tapi bagaimana mereka mengelola diri sendiri dalam kesunyian dan kelelahan yang ekstrem di jalanan.

Aku tak melewatkan sekalipun postingan Citra di instagram. Cerita tentang bersepeda, kesukaannya terhadap kucing. Foto-foto yang diunggahnya selalu estetik, sangat menginspirasi untuk konten sosial mediaku. Kecerdasannya dalam berbahasa inggris di setiap caption yang dia tuliskan di sosial media, membuatku semakin kagum pada Citra. Dan kini aku sekamar dengannya, betapa aku sangat senang bisa melihatnya secara langsung. 

Yang aku lihat dari Citra, dia orang yang sangat pendiam, tertutup. Menyukai bersepeda ke tempat-tempat dengan pemandangan indah, menaklukkan tantangan-tantangan. Tapi jauh dari kata sombong, mungkin karena kepintarannya mengemas kata-kata dalam caption.

Semalam, aku lihat Citra tidur lebih awal dan pagi ini sosoknya sudah menghilang dari kasur. Kuraih ponsel yang masih terhubung kabel pengisi daya. Jam digital menunjukkan pukul 04.36 WIB. Penasaran, kubuka pintu kamar untuk mencari "perempuan asing" yang hemat bicara itu. Di luar masih gelap gulita, sunyi. Mataku tertuju pada deretan sepeda yang terparkir di depan kamar. Aku menghitungnya pelan: satu milikku, satu milik Maya, dan satu lagi—pasti milik Citra.

“Halo.”

Suara itu muncul tiba-tiba dari belakang punggungku. Aku tersentak, merasa canggung karena tertangkap basah sedang memperhatikan sepedanya.

“Hai, dari mana?” tanyaku, mengalihkan pandangan ke arahnya. Wajah dan baju Citra basah kuyup oleh keringat. Rupanya, ia baru saja menyelesaikan rutinitas pagi: jogging untuk pemanasan.

“Sep, kamu jadi mandi nggak?” teriak Maya dari dalam kamar mandi. Aku bergegas masuk, melewati kaca besar di depan pintu, meninggalkan Citra dan sepedanya di kegelapan subuh.

Kutunggu hingga jam setengah lima pagi, namun hawa dingin Carita begitu menusuk. Aku menyerah; aku tidak cukup kuat untuk menyentuh air di suhu sedingin ini. Aku memutuskan untuk tidak mandi.

Dalam diam, pikiranku mulai berlarian liar. Aku membayangkan segala hal buruk yang mungkin terjadi di sepanjang perjalanan yang tak pendek ini. Rasa tidak percaya diri mulai menggerogoti. Membayangkan diriku sendirian di atas sepeda, menembus pagi hingga bertemu pagi lagi. Ini adalah perjalanan pertamaku menempuh seribu lima ratus kilometer.

"Bentang Jawa." Nama itu bergema di kepala, membawa beban sekaligus tantangan yang sebentar lagi harus kuhadapi.

Tanpa ragu sedikit pun, aku memutuskan untuk terjun ke Bentang Jawa. Sejak pertama kali melihat poster balapannya di media sosial, ada sesuatu yang memanggilku untuk terlibat; untuk menyerahkan ragaku pada aspal yang membentang dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa.

Aku tak pernah ambil pusing apakah aku akan jadi tercepat atau paling buncit. Aku tak peduli soal harga diri, atau apakah aku akan pulang dengan rasa bangga atau malu. Bahkan, pikiran tentang keselamatan pun seolah kutepis jauh-jauh. Bagiku, syaratnya sudah cukup terpenuhi: aku punya kaki, dan aku punya sepeda kayuh tanpa bantuan siapa pun.

Setahun sebelum hari besar itu tiba, aku berjuang untuk memiliki kendaraan impianku. Aku menyisihkan dua juta setiap bulan, melunasi pembayarannya dalam tiga kali cicilan demi membawa pulang sebuah roadbike Stratos 2 Polygon. Namun, sepeda itu gagal aku bawa ke pertarungan Bentang Jawa. 

“Sepedamu tidak cocok untuk ikut Bentang Jawa.”

Kalimat itu berulang kali kudengar dari teman-teman, perlahan mengikis keyakinan yang semula utuh. Mereka bilang sepedaku terlalu berat untuk dikayuh sejauh 1.500 kilometer. Katanya, ia tak akan sanggup menaklukkan tanjakan dengan kemiringan hingga tiga puluh persen. Ia tak akan memberi kenyamanan untuk dikendarai berhari-hari tanpa henti.

Aku menatap sepedaku dalam diam.

“Apa benar, kamu tidak mampu menemaniku dari Banten ke Banyuwangi?” tanyaku pada kerangka besi itu.

Namun, sedetik kemudian aku tersadar. Sepeda hanyalah benda mati. Seharusnya, dialah yang bertanya padaku: “Apa benar, kamu tidak mampu membawaku dari Banten ke Banyuwangi?”

Beberapa bulan sebelum Bentang Jawa 2022 dimulai, aku berjumpa dengan teman-teman 'Jalani Aja'. Pagi itu udara terasa lebih lembap dari biasanya. Aku berdiri canggung di titik kumpul komunitas sepeda "Jalani Aja". Di antara deretan pesepeda dengan perlengkapan mutakhir, aku merasa seperti orang asing yang tersesat. Hingga akhirnya, sosok pria paruh baya dengan senyum teduh menghampiriku.

Pak Bekti. Usianya memang di bawah Bapakku, tapi entah mengapa, sorot matanya memiliki kehangatan yang sama. Sejak obrolan pertama kami di grup WhatsApp, dia hadir selayaknya sosok Bapak dalam hidupku. Ia mempedulikan hal-hal kecil: menanyakan apakah aku sudah sarapan, memikirkan keselamatanku di rute tanjakan, hingga memberikan apa yang aku butuhkan melebihi apa yang sanggup aku bayangkan.

"Ini sepeda buat kamu pakai Bentang Jawa," katanya sambil menyorongkan sebuah sepeda.

Aku ragu. Ada beban moral saat menerima kebaikan dari orang yang baru saja kukenal. "Pak, apa tidak apa-apa? Saya takut kenapa-kenapa dengan sepedanya."

Pak Bekti hanya terkekeh, memberikan kepercayaannya padaku tanpa banyak syarat. Mataku kemudian tertuju pada objek di depanku. Sebuah sepeda berwarna hijau kekuningan yang unik. Warnanya segar, namun ada yang mengganjal di mataku. Sebuah stiker menempel mencolok pada frame-nya: 'WIMCYCLE'.

"Ini sepeda Wimcycle pak?" tanyaku sedikit keheranan. Dahiku berkerut. Setahuku, Wimcycle adalah merk legendaris untuk sepeda keluarga atau anak-anak. "Karena yang kutahu, Wimcycle tidak mengeluarkan seri roadbike sekeren ini."

Pak Bekti justru tersenyum misterius, seolah sudah menebak reaksiku. "Bukan, ini hanya stiker saja. Ini Gravel Bike BMC, pasti cocok buat kamu," jawabnya tenang.

Tanganku refleks merogoh ponsel. Jempolku dengan cepat mengetikkan kata kunci di kolom pencarian: "Gravel Bike BMC". Begitu laman hasil pencarian muncul, jantungku nyaris copot.

Waaahh ini sepeda mahal, batinku berteriak. Harganya jauh melampaui harga sepeda motor Honda yang kupakai sehari-hari. Jika dibandingkan dengan sepedaku yang biasa, Gravel Bike BMC URS (Unrestricted) ini adalah kasta yang berbeda. Frame-nya terbuat dari premium carbon, dilengkapi suspensi halus pada seatstay belakang untuk meredam getaran, dan grupset-nya sudah menggunakan single chainring SRAM yang sangat presisi.

Ini bukan sekadar alat transportasi; ini adalah karya seni teknologi. Namun, stiker di depanku tetap terasa mengganggu estetika mahalnya.

"Tapi kenapa diberi nama Wimcycle pak?" tanyaku lagi, mengejar penuh keheranan. Aku tidak habis pikir mengapa seseorang menutupi identitas merk kelas dunia dengan merk lokal yang sederhana.

Pak Bekti menatap jauh ke arah jalanan, lalu beralih padaku dengan tatapan yang sangat kebapakan.

"Wimcycle itu dikenal sebagai merk sepeda masa kecil dulu, penuh kesederhanaan, bukan kemewahan," ucapnya lembut. Ia menjeda sejenak, membiarkan kalimatnya meresap. "Begitu juga sepeda ini, kamu akan menjadikannya sepeda yang menyenangkan dengan kesederhanaanmu."

Seketika, rasa minderku luruh. Pak Bekti tidak hanya meminjamkanku sebuah sepeda mahal; ia sedang memberikan pelajaran tentang kerendahan hati. Bahwa nilai sebuah perjalanan bukan terletak pada kemewahan yang dipamerkan, melainkan pada kegembiraan sederhana saat kita mengayuhnya. Di atas BMC hijau kekuningan "berwajah" Wimcycle itu, aku sadar bahwa aku tidak perlu menjadi orang lain untuk bisa melaju jauh.

Sepeda Gravel BMC URS dari Pak Bekti yang akhirnya menemaniku membuka petualangan Bentang Jawa di tahun 2022, pertama kalinya aku mencoba event ultra 1.500 KM dengan dukungan penuh dari teman-teman komunitas 'Jalani Aja'.

Hari ini, Agustus 2025, aku kembali ke sini. Aku tak ingin lagi diikat atau dipecut oleh ambisi. Aku ingin menjadi jiwa yang bebas. Menjalani alur perjalanan dengan ikhlas; aku boleh tidur di mana pun, dan aku tahu kapan harus berhenti—hanya di garis finish.

Seratus lebih peserta berkumpul di garis start. Langit masih gelap, embun sisa hujan semalam menyelimuti seremoni pelepasan di Carita. Kupandangi mereka satu per satu; laksana kuda-kuda gagah yang siap bertempur mengadu fisik dan mental. Beban yang kami bawa bukan hanya perbekalan atau lampu penerangan, tapi harga diri dan komitmen untuk jujur sepanjang jalan.

Ada kuda yang ambisius, yang hanya ingin mengalahkan kuda lainnya hingga ingkar pada janji kejujuran. Mereka menjadi kuda terbang yang ingin cepat sampai tanpa mau merasakan lelah yang manusiawi. Namun bagiku, 1.500 kilometer ini hanyalah perjalanan pendek untuk menemukan jati diri. Peringkat hanyalah urutan angka tanpa hadiah di puncaknya. Sebab, hadiah dari Bentang Jawa sudah kami terima di setiap tetes keringat sepanjang perjalanan.

Parakuda mengabaikan lelah, mengabaikan ego, dan melaju menuju cahaya.

 


 


 

TANGAN KECIL PANDEGLANG

Anak-anak berbaris di tanah lembap tanpa alas kaki. Ada lelaki, ada juga perempuan. Mereka meninggalkan bola dan layang-layang demi menyambut Para Kuda yang melintas di jalan depan rumah.

“Waaa waaa mister mister…” teriak mereka histeris. Melihat mereka, aku merasa ditarik kembali ke masa kecilku. Debu yang beterbangan dari balik kaki-kaki telanjang mereka seolah membentuk siluet halaman rumahku di Madiun yang gersang. Jika aku menjadi anak kecil seperti mereka, aku mungkin akan lebih berani berteriak, tapi kenyataannya aku terlahir sebagai Kuda yang tak pernah dilepas. Aku diikat, dikurung, dan dipaksa menjalankan peran untuk memenuhi keinginan Bapak. 

"Bapak tidak mau tahu, pokoknya halaman itu harus bersih, tidak boleh ada sampah! Ngerti nduk?" kata-kata itu yang selalu menghantui isi kepalaku saat melihat Bapak. 

Udara sore itu terasa berat oleh aroma tanah kering dan sisa panas matahari. Di genggamanku, kayu gepuk terasa kasar namun pas. Aku bisa mendengar napas David dan Guruh di belakangku, mereka menanti dengan mata menyipit, siap mengejek jika "lele" kecil itu hanya melompat beberapa senti.

Aku menarik napas panjang. Di pikiran bawah sadarku, bayangan Bapak yang berdiri di teras dengan wajah kaku melintas. Aku membayangkan daun jambu yang mungkin baru saja jatuh saat ini, mengotori halaman yang seharusnya sudah kusapu. Tapi untuk pertama kalinya, rasa takut itu kalah oleh adrenalin. Aku berjongkok, memosisikan ujung tongkat gepuk di bawah lele yang melintang tenang di atas lubang tanah. Fokusku terkunci pada satu titik di kejauhan, melampaui garis batas yang dibuat Neneng.

Aku harus menyentak dengan pergelangan tangan, bukan sekadar lengan. Sedikit miring ke atas agar lele melambung, melewati kepala teman-temanku. Mengabaikan suara jam dinding di kepalaku yang terus berdetak mengingatkan waktu menyapu.

Tak!

Suara benturan kayu itu terdengar nyaring dan mantap. Bukan suara tumpul yang menandakan kegagalan. Si lele melesat, membelah udara dengan putaran yang sempurna. Ia melambung tinggi, melewati pohon mangga tetangga, dan mendarat jauh di ujung jalan setapak.

"Gila! Jauh banget!" teriak Brian kegirangan. Aku berdiri tegak, dadaku membusung. Ada rasa hangat yang menjalar di hatiku—rasa kemenangan yang murni, bukan karena paksaan juara kelas, tapi karena kemampuanku sendiri. Aku merasa seperti kuda yang baru saja memutuskan satu utas tali pengikatnya.

Namun, kegembiraan itu terhenti saat mataku menangkap sesosok bayangan di ujung gang. Itu Bapak. Beliau berdiri di sana dengan tangan bersedekap, arlojinya berkilat tertimpa cahaya matahari senja yang mulai memerah. Jantungku yang tadi berdegup karena semangat, kini berpacu karena ngeri.

Aku menoleh ke arah halaman rumah kami. Benar saja, angin sore baru saja menjatuhkan beberapa lembar daun jambu kering. Mereka menari-nari di atas tanah, seolah-olah mengejekku. Bapak tidak berteriak. Beliau hanya menunjuk ke arah rumah dengan dagunya. Isyarat yang lebih menyeramkan daripada bentakan. Teman-temanku terdiam, suara tawa mereka lenyap seketika. 

"Aku tahu setiap jengkal tanah di halaman itu adalah penjara bagiku, tapi kayu gepuk di tanganku ini adalah bukti bahwa aku punya kekuatan untuk melampaui batas yang ia buat."

Aku meletakkan kayu gepuk itu dengan hati-hati, seolah menitipkan separuh jiwaku pada David dan yang lainnya. Aku berjalan pulang dengan langkah berat, namun ada yang berbeda. Kepalaku tidak lagi menunduk sedalam biasanya.

Saat aku mulai memegang sapu lidi dan mengumpulkan daun-daun jambu itu, aku membayangkan setiap ayunan sapu adalah ayunan tongkat gepuk. Aku menjalankan perintahnya, ya, tapi di dalam kepalaku, aku masih berlari di lapangan luas, melempar lele kayu itu hingga menembus awan, jauh dari jangkauan aturan Bapak yang kaku.

Malam itu, meski punggungku terasa pegal karena hukuman berdiri, aku tidur dengan senyuman. Bapak bisa menguasai tubuhku dan jadwalku, tapi sore ini aku belajar bahwa ia tidak akan pernah bisa memukul mundur "lele" yang sudah terlanjur melesat jauh di dalam imajinasiku.

Aku menatap tangan-tangan mungil anak Pandeglang yang kotor oleh tanah, lalu mataku jatuh pada tanganku sendiri yang menggenggam stang. Jemariku tampak memerah, mengingatkanku pada warna yang paling kubenci dulu.

Pagi itu, kancing paling atas rok merahku seolah sedang bertarung nyawa. Aku menahan napas sekuat mungkin, menarik perutku hingga terasa melilit, agar pengait besi itu bisa bertemu dengan lubangnya. Seragam ini bukan hanya kain; ia adalah sisa sejarah dari kakak perempuanku yang lebih ramping. Bagiku, ia adalah pengingat harian bahwa aku selalu menjadi "nomor dua" setelah penghematan ekonomi keluarga.

"Buk, pengaitnya lepas lagi," bisikku lirih, nyaris menangis di depan cermin yang memantulkan sosok gadis kecil dengan pipi yang terlalu penuh.

Ibu mendekat, tangannya yang kasar karena deterjen mencoba membetulkan pengait itu dengan peniti besar. "Uang belanja tidak cukup buat beli seragam baru, pakai yang itu saja dulu ya," ucap Ibu tanpa menatap mataku. Beliau selalu punya mantra andalan, "Masih banyak orang yang tidak bisa sekolah, tidak bisa makan. Kamu harus bersyukur."

Syukur. Di rumah ini, kata itu bukan lagi sebuah doa, melainkan karet penghapus yang dipaksakan untuk melenyapkan seluruh keluhanku. Setiap kali aku ingin berteriak tentang luka, kata "syukur" datang membungkam mulutku. 

Berjalan menuju sekolah terasa seperti berjalan menuju kandang singa. Setiap langkah membuat jahitan rok di bagian pinggangku mengeluarkan suara kretek halus yang mengerikan. Aku takut jika aku bergerak terlalu tiba-tiba, seragam ini akan menyerah dan robek di depan semua orang.

"Eh, lihat! Si Gembrot datang! Jalannya goyang-goyang kaya bebek!" seruan itu datang dari arah kawanan anak-anak nakal di sekolah dasar.

Aku menunduk, menghitung jumlah retakan di semen jalanan. Tubuhku yang besar ini seolah-olah menjadi sasaran empuk yang tak mungkin meleset. Aku sudah mencoba berhenti makan malam, aku sudah mencoba hanya minum air putih saat jam istirahat, tapi cermin selalu mengkhianatiku. Tubuhku tetap saja seperti ini—sebuah benteng lemak yang melindungi hati yang hancur. 

Duduk di bangku kayu sekolah adalah siksaan lain. Meja itu terasa terlalu dekat dengan perutku. Sepanjang pelajaran, aku tidak fokus pada papan tulis atau penjelasan guru. Aku hanya fokus pada satu hal, jangan sampai aku menarik napas terlalu dalam hingga kancing seragamku terlepas.

Di rumah, aku harus menghadapi Bapak yang disiplinnya setajam silet—setiap daun jambu yang jatuh adalah ancaman hukuman. Di sekolah, aku harus menghadapi anak-anak nakal yang ucapannya selalu menyakitkan.

"Aku adalah seorang pengarsip kesedihan yang handal. Di dalam batinku, ada lemari besar berisi ribuan keluhan yang tak pernah tersampaikan, rapi tersegel oleh label bertuliskan 'Syukur' yang ditempelkan Ibu." 

Siang itu, sepulang sekolah, aku mendapati bekas jahitan rokku benar-benar terlepas sedikit. Rasa lelah, sesak, dan luka perundungan selama enam tahun seolah tumpah sekaligus. Aku masuk ke kamar, menutup pintu perlahan agar tidak memicu kemarahan Bapak, dan duduk di lantai.

Aku menyentuh kain merah kusam itu. Kain ini tidak pernah baru. Hidupku seolah-olah adalah kumpulan barang bekas—tas bekas, buku bekas, dan harapan bekas. Aku ingin tahu rasanya merobek plastik pembungkus barang baru, mencium bau pabrik yang khas, dan merasa bahwa aku cukup berharga untuk mendapatkan sesuatu yang belum pernah disentuh orang lain.

Namun, di tengah isak tangisku, aku melihat bayangan diriku di kaca lemari. Meskipun seragam ini sesak, meskipun ejekan 'gembrot' terus terngiang, ada sesuatu yang tidak bisa mereka rampas yaitu daya tahanku. Aku telah bertahan enam tahun di bawah tekanan Bapak dan perundungan teman. Jika aku bisa bertahan dalam seragam yang menyempit ini, maka suatu saat nanti, aku akan menciptakan ruanganku sendiri. Ruang di mana aku tidak perlu mengecilkan diri agar bisa diterima, dan ruang di mana aku tidak perlu lagi menggunakan 'syukur' sebagai topeng kesedihan.

Namun, aspal yang membelah jalan di depanku ini mendadak tampak menyempit, persis seperti lorong SMP-ku dulu yang terasa seperti labirin penghakiman. Jika dulu di SD musuh utamaku adalah ukuran lingkar pinggang, kini musuhku adalah sesuatu yang jauh lebih tak terlihat... "Stigma".

Aku tidak pernah tahu rasanya menyobek plastik pembungkus tas sekolah yang masih baru dari toko. Semua yang kupakai adalah barang bekas lungsuran dari kakak perempuanku. Aku tumbuh dengan rasa bahwa aku tidak cukup berharga untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Di sekolah pun tak ada perlindungan; tubuhku yang gendut menjadi sasaran empuk perundungan teman-teman. Aku kecil yang terluka, hanya bisa diam menelan ejekan.

Masa SMP yang seharusnya menjadi gerbang menuju kedewasaan, bagiku justru terasa seperti lorong gelap yang menyempit. Jika dulu di SD musuh utamaku adalah ukuran lingkar pinggang, kini musuhku adalah sesuatu yang jauh lebih tak terlihat namun jauh lebih mematikan "Stigma".

Aku masih memakai barang-barang lungsuran, tapi kini rasa sesaknya bukan lagi di kulit, melainkan di harga diri. Kabar tentang Bapak yang kehilangan pekerjaan formalnya menyebar lebih cepat daripada api di padang ilalang. Dan ketika ia mulai menggantungkan hidup pada angka-angka—pada lembaran kertas kecil berisi mimpi kosong para penjudi—label "Anak Penjual Togel" resmi tersemat di pundakku.

Di sekolah, aku melihat teman-temanku berbisik saat aku lewat. Mereka tidak lagi memanggilku "Gembrot"; julukan itu sudah terlalu kekanak-kanakan. Kini, panggilannya jauh lebih sinis.

"Berapa nomor yang keluar hari ini?" celetuk seseorang dari barisan belakang saat aku berjalan menuju meja. Tawa tertahan mengikuti kalimat itu, menusuk tepat di ulu hati.

Aku ingin berteriak bahwa aku bukan bagian dari angka-angka itu! Aku ingin mereka melihat kertas ujianku yang penuh dengan coretan tinta biru, hasil belajar hingga larut malam di bawah lampu yang redup. Nilai 70, 75, bahkan 80 aku raih dengan payah, berharap angka-angka prestasi itu bisa menutupi angka-angka judi Bapak. Namun sia-sia. Di mata mereka, aku hanyalah perpanjangan tangan dari sebuah nasib sial.

Setiap pagi, langkah kakiku menuju gerbang sekolah terasa seperti menyeret beban berton-ton. Motivasi belajarku menguap, digantikan oleh rasa malu yang pekat. Aku sering duduk di pojok kelas, berusaha menjadi transparan, berharap dinding sekolah menelanku bulat-bulat.

Puncaknya adalah suatu sore saat aku pulang dan melihat beberapa orang pria asing duduk di teras rumah, merokok dan tertawa kasar sambil menyodorkan uang receh kepada Bapak. Bapak, dengan wajah kusam yang dulu begitu berwibawa, kini tampak begitu kecil di mataku.

Malam itu, di dalam sujud yang terasa hambar, sebuah pikiran gelap menyelinap masuk. Pikiran yang membuatku gemetar saat menyadarinya, namun terasa begitu jujur di dalam hati yang terluka.

"Tuhan, jika memang tak ada jalan keluar, biarkanlah Bapak musnah. Hilangkan dia dari muka bumi ini. Aku tidak ingin mewarisi cap buruk ini lagi. Aku ingin bebas, tanpa harus membawa nama yang membuatku merasa seperti wabah."

Aku membenci diriku sendiri karena doa itu. Namun, rasa benci kepada Bapak jauh lebih besar. Aku merasa dikhianati. Mengapa aku harus menanggung malu atas dosa yang tidak aku perbuat? Mengapa dunia begitu kejam, menilai seorang anak hanya dari sisi gelap orang tuanya?

Aku mulai menarik diri dari segala interaksi. Bagiku, rumah adalah penjara aturan dan aib, sementara sekolah adalah panggung penghakiman. Aku hidup dalam ruang hampa di antara keduanya.

Aku hanya seorang gadis remaja yang merindukan satu hal sederhana: dianggap ada sebagai manusia. Bukan sebagai "Anak Penjual Togel", bukan sebagai objek perundungan, tapi sebagai seorang aku yang sedang berjuang keras untuk tetap bernapas di tengah badai yang tak kunjung usai.

Keputusan itu tidak lahir dari ambisi, melainkan dari sisa-sisa harga diri yang nyaris padam. Jika dunia memutuskan untuk melabeliku sebagai "Anak Penjual Togel", maka aku akan menjadi 'Si Penjual Togel' yang paling andal. Aku berhenti melarikan diri; aku berhenti berdoa agar Bapak musnah. Aku memutuskan untuk memeluk kegelapan itu hingga ia tidak lagi terasa dingin.

Hari itu, aku melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan tas yang terasa lebih berat, bukan karena buku teks, melainkan karena "kitab suci" baru yang kuselipkan di antara buku Biologi, yaitu Buku Tafsir Mimpi. Ketika teman-teman mulai mendekat dengan seringai ejekan yang biasa, aku tidak menunduk. Aku merogoh saku, mengeluarkan secarik kertas buram, dan menatap mereka tajam.

"Mau pasang berapa?" tanyaku datar.

Seringai mereka membeku. Kebingungan menggantikan penghinaan. Dan dalam sekejap, dinamika kekuasaan di lorong kelas itu bergeser. Aku bukan lagi objek yang bisa mereka tertawakan; aku adalah akses mereka menuju harapan semu dan adrenalin judi. 

Kehidupanku di kelas berubah menjadi sandiwara yang sangat rapi. Di jam pelajaran, tanganku mencatat rumus percepatan gravitasi, tapi di sela-sela buku catatan, jemariku lincah menghitung statistik paito—menganalisis pola angka yang keluar dalam seminggu terakhir.

Matematika kini bukan sekadar mencari nilai X, tapi tentang menghitung peluang probabilitas 4 angka. Biologi bukan lagi tentang struktur sel, tapi tentang menafsirkan mimpi melihat ular menjadi rangkaian angka yang muncul di kerumunan pasar.

Saat jam istirahat, di sudut kantin yang paling remang, aku membuka "praktik". Teman-teman yang dulu menjauhiku kini mengantre, membisikkan mimpi-mimpi mereka dengan nada memohon. Aku menjadi dukun angka, peramal nasib, dan bandar kecil yang paling dicari.

"Apresiasi yang tak pernah kudapatkan dari nilai ujian, kini kudapatkan dari keberhasilanku menebak dua angka belakang. Mereka tidak lagi melihat lemak di tubuhku atau seragamku yang sesak; mereka hanya melihat angka-angka keberuntungan yang keluar dari mulutku."

Sore hari, perjalananku pulang tidak lagi diiringi rasa malu. Aku menggenggam erat gumpalan uang receh dan kertas-kertas berisi rekapan angka di dalam saku rok seragam yang sempit. Saat kuserahkan setoran itu kepada Bapak, untuk pertama kalinya aku melihat binar di matanya—binar yang bukan dari wibawa, tapi dari rasa syukur yang menyedihkan.

"Ini hasil hari ini, Pak," ucapku singkat.

Kami menjadi rekan dalam "bisnis" yang menghancurkan masa depanku secara perlahan, namun memberiku perlindungan instan di sekolah. Aku belajar bahwa dalam hidup yang keras ini, bertahan hidup jauh lebih penting daripada menjadi benar.

Ada rasa pahit yang tak hilang meski aku kini "populer". Aku diterima bukan karena siapa aku, tapi karena apa yang aku bawa. Aku menjadi apa yang diinginkan oleh lingkungan yang rusak ini. Aku melakukan hal yang paling kubenci untuk mendapatkan satu hal yang paling kubutuhkan: ketenangan dari perundungan.

Aku menukar integritas remajaku dengan rasa aman. Aku menukar impian tentang masa depan yang bersih dengan fasihnya membaca Buku Ramalan Mimpi. Inilah pertahananku. Aku sudah tidak lagi menunggu keajaiban; aku sedang berenang di tengah arus deras nasib sial ini, memastikan kepalaku tetap berada di atas permukaan, meski air yang kuhirup terasa seperti racun.

Maka, melihat anak-anak Pandeglang ini, dadaku terasa sesak sekaligus hangat. Mereka menantikan kehadiran Kuda sejak Agustus tahun lalu dengan kebahagiaan yang tak tertahan. Mereka takjub melihat Kuda Bule bertubuh jangkung, dengan tas multifungsi dan pakaian yang keren.

Dengan wajah polos, mereka membandingkan kendaraan hebat kami dengan milik mereka: hanya sepeda BMX yang rantainya sudah karatan dan remnya blong! Tapi anehnya, bukan kekecewaan yang muncul dari raut wajah mereka. Justru tawa lepas yang membebaskan mereka dari rasa iri. Gigi ompong mereka tak bisa disembunyikan.

Aku pun ikut tertawa melihat polah mereka, meski mataku mungkin sedikit panas. Tawa mereka adalah tawa yang selama ini kucari—tawa yang membebaskan dari rasa malu dan rasa kurang.

Detak jantungku bergerak dalam ritme lebih kencang saat tangan kecil anak-anak Pandeglang ini menyentuh telapak tanganku. Energi mereka tersalurkan, menyampaikan pesan penuh harapan yang melampaui kata-kata. Mereka menyambutku dengan lambaian tangan yang hangat, seolah mencairkan es membeku dari masa kecilku yang kelabu.

Energi positif datang dari segala penjuru, dan hari ini, jiwaku sudah siap untuk menangkapnya.

 


 


 

GETARAN DI UJUNG BANTEN

Tanah Jawa bagiku adalah sosok Ibu yang penuh kesabaran. Ia menabur kasih kepada semua anaknya, memberikan cinta tanpa diminta, dan membagi kemakmuran pada setiap petak tanah yang kupijak. Ia adalah Ibu yang terus mendoakan keselamatan, meski adakalanya ia harus bersedih saat musibah menimpa salah satu anaknya.

Anak-anak Ibu—desa demi desa, kota demi kota—selalu bergandengan tangan. Jika satu bagian terluka, bagian lain ikut merasakannya karena mereka saling bersentuhan dalam untaian panjang Pulau Jawa. Namun, ada tanya yang menggantung di udara subuh itu.

“Ibu, bagaimana dengan kami yang berada di paling ujung?”

Suatu pagi, aku seolah mendengar anak Banten berseru. Banten yang tak pernah menjabat tangan Banyuwangi, begitu pula sebaliknya. Mereka terpisah ribuan tahun, hanya bisa saling mendengar kabar melalui seruan angin yang hanyut dalam nyanyian alam semesta, atau merasakan kehadiran satu sama lain melalui getaran bumi yang disalurkan akar-akar pepohonan.

“Meskipun kalian tak pernah bertemu, percayalah anak-anakku, kalian saling menguatkan. Kalian menjaga tanah Jawa untuk keselamatan seluruh manusia.”

Seruan Ibu Jawa itu menggema di gendang telingaku saat aku melintasi sebuah desa di Banten. Melihat gadis-gadis kecil bermukena itu, ingatanku terseret jauh ke masa lalu, pada sosok Ibu kandungku sendiri. Sosok yang kekuatannya melampaui logika; seorang perempuan yang menyimpan samudera kesabaran saat menghadapi kerasnya badai dalam diri Bapak.

Jika Ibu Jawa adalah pemberi cinta tanpa diminta, maka Ibuku adalah penjaga api harapanku. Menyebut nama ibu, yang terlintas dalam memoriku adalah keberaniannya memaksaku untuk terus maju mengejar ilmu.

Di kejauhan, aku melihat sebuah pintu kayu jati tua di salah satu rumah warga Banten yang tertutup rapat. Bunyi deritnya yang tertiup angin memicu gema yang menyakitkan. Di tahun 2004 silam, suara pintu jati yang terbanting masih berdenging di telingaku, lebih nyaring dari guntur yang mengancam di langit Madiun malam itu. Di tangan kananku, sebuah tas ransel lusuh berisi beberapa potong baju dan ijazah SMA—satu-satunya "senjata" yang kupunya.

"Kalau melangkah keluar dari pintu ini, jangan pernah anggap aku Bapakmu lagi! Cari makanmu sendiri dengan buku-buku itu!" Kalimat itu bukan sekadar pengusiran; itu adalah vonis mati bagi masa remajaku yang baru saja usai.

Aku menoleh sekilas ke balik jendela. Di sana, Ibu berdiri mematung. Wajahnya sembap, tangannya meremas ujung daster, matanya bicara lebih banyak dari bibirnya yang terkunci rapat. Ia ingin aku pergi demi masa depan yang tak mampu ia janjikan, namun ia hancur karena tak bisa memelukku untuk terakhir kali.

Aku berjalan cepat, menembus udara malam yang mulai lembap. Di bawah lampu jalan yang temaram, aku merasa seperti krikil yang ditendang dari rumahnya sendiri. Pikiran-pikiran gelap mulai menyerang: Bagaimana jika Bapak benar? Bagaimana jika aku gagal? Bagaimana jika gelar sarjana yang kukejar hanya akan jadi kertas tak berguna di atas perut yang lapar?

Layar ponselku yang kusam menunjukkan pukul 22.15. Nama Fara muncul di daftar kontak. Hanya dia yang terlintas. Saat nada sambung itu berhenti dan suaranya terdengar, pertahananku nyaris runtuh.

"Far, aku boleh main ke rumahmu?" suaraku bergetar, berusaha menyembunyikan isak.

"Selarut ini, Sep? Kamu di mana?" Nada bicara Fara berubah dari kantuk menjadi cemas begitu mendengar napasku yang memburu.

Sepuluh menit kemudian, aku sudah berdiri di depan pagarnya. Fara tidak bertanya banyak. Ia melihat tas besar di bahuku dan mata merahku, lalu segera menarikku masuk. Di ruang tamu yang sederhana, Mamanya Fara keluar dengan daster batik, menatapku dengan tatapan yang sangat kontras dengan kemarahan Bapak tadi: tatapan belas kasih.

"Sudah, jangan pikirkan apa-apa dulu," bisik Mama Fara lembut, mengelus bahuku. "Kata Mama tidak apa-apa, Sep. Kamu di sini saja. Anggap rumah sendiri, ya?"

Fara membawaku ke kamarnya. Ia menyingkirkan tumpukan buku di atas kasur single-nya agar kami bisa berbagi tempat. Aroma minyak telon dan pewangi pakaian di kamar ini perlahan menenangkan sarafku yang tegang.

"Pakai ini," kata Fara sambil menyodorkan bantal tambahan dan selimut bulu yang hangat.

Kami berbaring bersisian di ruang yang sempit itu. Langit-langit kamar Fara dipenuhi stempel bintang yang menyala dalam gelap (glow in the dark).

"Kamu mau lanjut ke mana?" tanya Fara pelan, memecah kesunyian.

"Aku harus kuliah, Far. Apapun caranya. Aku mau membuktikan ke Bapak kalau ilmu itu bukan beban biaya, tapi investasi. Aku mau Ibu bangga karena sudah berani memintaku terus maju," jawabku mantap, meski hatiku masih perih.

Malam itu, di atas kasur sempit milik sahabatku, aku menutup mata bukan sebagai pengungsi, melainkan sebagai prajurit yang baru saja memulai perang. Madiun boleh jadi saksi kepergianku yang menyedihkan, tapi dunia akan menjadi saksi bagaimana aku berdiri di kaki sendiri.

Jika di mata Bapak aku hanyalah barisan angka yang merugikan, aku bertekad tak ingin menjadi beban yang sama di mata Mama Fara. Menumpang di rumah teman bukan hanya soal berbagi atap, tapi soal menelan harga diri setiap kali sendok makan berdenting di piring mereka. Aku harus mandiri. Aku harus punya nilai.

Masalahnya, aku hanyalah lembaran kertas kosong. Tanpa keahlian, tanpa pengalaman. Aku mencari lowongan apa pun yang tidak menuntut syarat setinggi langit.

"Nih, Sep. Ada lowongan penyiar radio. Katanya kamu lagi cari kerja?" Fara menyodorkan secarik info yang ia temukan di papan pengumuman Biro Akademik dan Kemahasiswaan (BAK) kampus.

Radio? Aku bahkan tidak tahu apakah suaraku layak didengar. Namun, rasa takut menjadi benalu jauh lebih besar daripada rasa malu. Hari itu juga, surat lamaran kukirimkan.

Seminggu kemudian, panggilan itu datang. Aku mulai terobsesi. Setiap sudut kamar Fara menjadi saksi bisu aku berlatih intonasi, meniru gaya bicara penyiar kondang, hingga menghafal cara menyapa pendengar yang tak kasat mata. Dari tiga puluh orang yang penuh percaya diri, seleksi alam menyisakan tiga. Aku salah satunya.

"Gaji per jam untuk penyiar baru itu Rp4.500. Bagaimana, kamu ambil?" tanya manajer radio itu. Ia sempat terdiam sejenak, mungkin melihat keraguan di mataku, lalu menyambung cepat, "Kalau tiga bulan progresmu bagus, naik jadi Rp6.000."

Tanpa menghitung rumit, aku mengangguk mantap. "Saya ambil, Bu."

Dalam benakku, ini bukan sekadar tentang angka Rp4.500. Ini adalah tentang pembuktian bahwa kata-kata Bapak tentang uang itu benar: uang adalah satu-satunya alat untuk dianggap "ada".

Satu bulan berlalu. Aku menggenggam amplop cokelat pertamaku. Isinya Rp300.000.

Aku menatap uang itu dengan getir. Di satu sisi, aku bangga. Di sisi lain, aku tahu angka ini tidak akan pernah cukup untuk membayar makanan yang kumakan setiap hari di rumah Fara, deterjen yang mencuci bajuku, listrik yang menerangi belajarku, hingga bensin yang mengantarku ke kampus. Kebaikan keluarga mereka terlalu mahal untuk disetarakan dengan tiga ratus ribu rupiah.

Sore itu, dengan tangan gemetar, aku menemui Mama Fara di meja makan.

"Mama, ini Septi sudah gajian dari radio," ucapku pelan. Kukeluarkan tiga lembar uang lima puluh ribuan. "Septi cuma bisa kasih Rp150.000, Ma. Nanti kalau ada rezeki lagi, Septi tambah ya..."

Aku menyodorkan uang itu dengan tulus. Sisanya harus kuputar otak untuk mencari kos-kosan kecil dekat kampus. Aku harus pergi. Bukan karena benci, tapi karena aku tidak boleh menjadi beban bagi siapa pun lagi.

Mama Fara tidak mengambil uang itu. Alih-alih, matanya berkaca-kaca hingga akhirnya tangisnya pecah. Beliau memelukku erat, sebuah pelukan yang tidak pernah kudapatkan dari rumahku sendiri.

"Simpan uangmu, Nak. Mama tidak butuh ini. Jangan pergi, tetaplah di sini bersama Fara," isaknya.

Hatiku perih. Namun, bayangan wajah Bapak dan kalimat-kalimat pedasnya tentang kemandirian telah mengeras di kepalaku. Aku tidak bisa tetap tinggal dan membiarkan diriku menjadi nyaman dalam belas kasihan.

Malam itu, saat rumah sudah sepi, aku mengemas tasku yang sederhana. Sebelum melangkah keluar menuju kehidupan baru yang serba tidak pasti di kamar kos sempit, aku meletakkan uang itu—tiga lembar lima puluh ribuan yang ditolak tadi—di bawah taplak meja makan.

Itu bukan sekadar uang. Itu adalah cicilan pertamaku untuk membeli kembali harga diri yang selama ini dianggap hilang. Aku mengusap keringat yang menetes dari dahi, rasanya asin dan pekat, persis seperti rasa suapan nasi yang kutelan dengan paksa di sebuah kamar kos sempit.

Tiga tahun masa kuliah diploma bagiku bukan tentang tawa di kantin atau diskusi di perpustakaan. Bagiku, itu adalah tentang bertahan hidup. Harga diriku sudah lama terkikis, tergantikan oleh kebutuhan untuk menyambung napas. Meminjam uang teman kos bukan lagi hal memalukan; itu sudah menjadi siklus bertahan hidup yang rutin. Gaji tanggal satu akan segera ludes untuk membayar utang, lalu tanggal lima belas, aku akan kembali mengetuk pintu yang sama, memasang wajah memelas demi beberapa lembar rupiah.

Hidupku adalah tentang seni merayu dan bernegosiasi. Aku harus meyakinkan dosen agar namaku masuk dalam daftar beasiswa keringanan biaya. Di tempat kerja, aku adalah orang pertama yang mengajukan diri mengganti jam siaran teman, berharap tambahan lembur bisa menambah pundi-pundi gaji. Segalanya kulakukan: menambah skill demi pekerjaan sampingan, mengirit makanan demi ongkos transportasi, hingga tubuhku terbiasa dengan rasa lapar yang konstan.

Puncaknya adalah tragedi tiga puluh butir telur.

Saat itu, aku merasa telah menemukan strategi paling efisien: membeli tiga puluh butir untuk jatah makan satu bulan. Satu hari, satu butir telur, satu porsi nasi dari rice cooker mini. Itulah kemewahanku.

Namun, nasib seolah ingin menguji batas kesabaranku. Di suatu pagi, saat perutku sudah melilit minta diisi, aku memecahkan sebutir telur ke atas wajan di dapur kos. Bau busuk yang menyengat langsung memenuhi ruangan. Telur itu membusuk sebelum waktunya.

Aku terdiam. Hanya itu yang kupunya. Dengan tangan gemetar, aku mencoba menyelamatkannya. Kutaburkan garam dan penyedap rasa sebanyak mungkin, berharap aroma bahan kimia itu bisa menutupi aroma kematian dari telur tersebut. Aku tidak boleh membuangnya. Membuang satu telur berarti kehilangan jatah makan untuk satu hari.

Tetapi indra penciumanku tidak bisa dibohongi. Begitu suapan pertama menyentuh lidah, rasa mual langsung naik ke kerongkongan. Aku terisak. Di depan nasi putih dan telur busuk itu, pertahananku runtuh. Aku menelan paksa setiap suapan di tengah isakan nelangsa yang sesak. Bau busuk itu bercampur dengan rasa asin air mata yang jatuh ke piring.

Sehari makan satu kali memang sudah biasa bagiku, tapi makan dengan rasa hina seperti ini adalah luka yang sulit sembuh. Tiga tahun itu memang tidak mudah, namun di balik setiap butir telur busuk yang kutelan, ada tekad yang perlahan-lahan mengeras seperti baja.

Selama bertahun-tahun, aku merawat benci seperti memelihara benalu; ia tumbuh rimbun, menghisap waras yang tersisa. Aku membenci Bapak. Bagiku, dialah tangan yang tega mencabutku dari akar keluarga, memisahkan aku dari satu-satunya tempat yang kusebut rumah. Di matanya, mungkin aku hanyalah rongsokan—barang tak berguna yang dibuang agar tak lagi menyempitkan ruang.

Namun, di atas pedal sepeda ini, di tengah perjalanan 1.500 kilometer yang sunyi, aku menyadari satu hal: terkadang hal baik memang tidak langsung terlihat baik.

Kebencian itu perlahan luruh, berganti syukur yang tenang. Jika Bapak tidak mengusirku hari itu, mungkin aku tidak akan pernah tahu cara menjadi kuat. Jika ia tidak memaksaku hidup mandiri, mungkin aku tak akan punya nyali untuk mendaftar Bentang Jawa. Bapak, dengan caranya yang kasar, telah mengajarkan ilmu yang paling kubutuhkan saat dewasa: bertahan dan mandiri.

Kayuhan kakiku yang semula melambat karena haru, kini kembali stabil. Aku merasakan sentuhan Ibu Jawa melalui gesekan ban sepeda pada aspal, dan aku merasakan restu Ibuku dalam setiap hela napas. Aku bukan lagi kuda yang diikat; aku adalah kuda yang dilepaskan untuk menemukan jalannya sendiri.


 


 

HANYUT DALAM CIKOTOK

Aku menyadari satu hal: aku bukan Kuda sempurna dengan kaki-kaki kokoh yang siap berlari tanpa lelah. Aku hanyalah kuda kecil yang sedang belajar menjadi pemberani. Aku tak mau lagi dibilang "kuda kandang" yang hanya aman di balik pagar. Meski secara fisik aku terlihat seperti mangsa yang rapuh, jauh di dalam jiwaku, aku telah dilatih oleh Bapak cara bertarung yang sesungguhnya.

Aku menatap pantulan lampu sepedaku di aspal basah Cikotok yang hitam mengkilap, mirip seperti lantai rumah yang harus selalu bersih di bawah perintah Bapak.

“Jangan mati terbunuh. Kamu harus menjadi pembunuh,” kata Bapak suatu kali.

Kalimat itu terdengar kejam, namun itulah cara Bapak mengajariku tentang bertahan hidup. Di dunia ini, tidak ada pahlawan yang akan turun dari langit untuk menyelamatkanmu. Bapak menghapus batasan baik dan buruk; baginya, satu-satunya moralitas adalah kemampuan untuk bertahan diri.

“Apa yang kamu takutkan sekarang, Nak?” suara itu kembali terngiang, menembus kabut Halimun Salak.

Sesekali aku melirik layar cyclocomp. Titik-titik peserta Bentang Jawa lainnya di racemap sudah melesat jauh di depan, memburu Check Point pertama di Negla Beach Villa, Rancabuaya. Mereka mungkin sudah membayangkan kasur atau kopi hangat di kilometer 455, sementara aku? Aku masih di sini, bertarung melawan gravitasi dan ego di tanjakan Cikotok yang brengsek ini.

Jalanan aspal yang hitam tampak berkilat, licin tersiram hujan sore yang awetnya minta ampun. Di turunan, jemariku kaku menekan tuas rem, menjaga agar ban tidak selip di atas aspal yang serupa cermin basah. Namun saat jalanan mendongak ke langit, pertahananku runtuh. Napas sudah di kerongkongan, paha terasa seperti terbakar. Akhirnya, aku menyerah pada keadaan. Aku turun dari sadel dan mulai menuntun sepeda.

Ironis memang. Saat menanjak aku mendorong, saat turun pun aku tak berani ambil risiko dan memilih tetap mendorong. Sepeda ini terasa berkali-kali lipat lebih berat, seolah ia pun ikut lelah menanggung ambisiku.

Aku berhenti sejenak, mengusap wajah yang basah, lalu memeriksa racemap lagi. Ada sedikit hiburan di sana: dua peserta kategori pairing yang menggunakan sepeda lipat berada jauh di belakangku. Titik mereka diam tak bergerak. "Mungkin mereka lebih bijak dariku," pikirku. Mereka memilih istirahat, sementara aku memaksakan diri di tengah kegelapan yang sunyi.

Godaan untuk berhenti mulai membisikkan rayuan maut. Kakiku sudah bergetar hebat. Di tengah antah-berantah yang sepi dari pemukiman ini, tiba-tiba muncul dua buah rumah yang saling berhadapan. Tanpa pikir panjang, aku membelokkan setang ke rumah di sebelah kiri.

Halamannya luas, dan ada sebuah saung bambu yang berdiri tenang di sana. Di dalamnya, seorang pria paruh baya sedang rebahan dengan setengah badan tertutup sarung. Alunan lagu Sunda yang mendayu dari sebuah radio tua bersahutan dengan rintik hujan, menciptakan suasana yang begitu melankolis sekaligus magis.

“Permisi, Pak... Saya boleh numpang sebentar, Pak?” sapaku lirih, suaraku hampir habis tertelan dingin.

Hening. Bapak itu tidak bergerak sedikit pun. Mungkin ia sudah hanyut dalam lelap yang dalam, dibuai irama kecapi suling dan aroma tanah basah. Karena keadaan sudah darurat—baterai cyclocomp dan lampu sepeda sudah di ambang batas—aku terpaksa menjadi tamu tak diundang yang sedikit "lancang".

Aku sandarkan sepeda, kubongkar saddle bag dengan tangan gemetar, dan kucolokkan pengisi daya ke stopkontak di dekat radio tua itu. Lampu indikator menyala merah, memberikan sedikit rasa tenang.

Aku pun merebahkan diri di lantai bambu yang keras. Tanpa selimut, tanpa bantal. Hawa dingin Cikotok mulai menusuk pori-pori, menembus jersey yang lembab. Namun, musuh utamanya bukan hanya suhu udara. Pasukan nyamuk entah dari mana datang menyerbu, berpesta di atas kulitku yang penuh peluh dan darah lelah.

Alih-alih tertidur pulas, aku justru sibuk menampari wajah dan lenganku sendiri. Di antara igauan lelah dan lagu Sunda yang terus mengalun, aku meringkuk. Cikotok malam ini benar-benar tidak memberi ampun, tapi setidaknya, di saung ini, aku punya waktu beberapa menit untuk sekadar menjadi manusia, bukan sekadar "titik" yang bergerak di peta digital.

Malam itu di Cikotok terasa begitu panjang dan menyesakkan. Di dalam sebuah saung yang remang, aku terduduk sembari bertarung melawan kawanan nyamuk yang seolah berpesta di atas kulitku yang legam dan lelah. Di sudut lain, bapak pemilik saung masih terlelap pulas, meski setengah badannya yang menyembul dari balik sarung juga tak luput dari kerubungan nyamuk.

Hujan belum juga reda. Rintiknya menghantam atap saung, berpadu dengan sayup-sayup alunan lagu Sunda dari kejauhan yang entah mengapa terdengar begitu melankolis. Aku melirik cyclocomp yang terhubung ke pengisi daya—baru 30 persen. Lampu sepeda pun masih tercolok, mengisap daya perlahan demi sisa perjalanan yang entah kapan akan berlanjut.

Jarum jam sudah menunjuk angka sembilan malam. Hanya tersisa satu jam sebelum batas Cut Off Time (COT) di Check Point (CP) 1, Rancabuaya.

"Satu jam lagi. Hanya enam puluh menit," bisikku pada diri sendiri.

Andai saja jalanan di depanku landai, mungkin aku masih punya nyali untuk memacu sisa tenaga demi mengejar target jam sepuluh malam. Namun, garis berkelok-kelok di layar cyclocomp adalah kenyataan yang pahit: pegunungan. Medan seberat ini dengan waktu sesingkat itu? Tidak mungkin. Mustahil.

Seketika, benteng semangatku runtuh. Putus asa merayap masuk seiring dengan rasa dingin yang menembus pori-pori. Aku tidak mau lagi mengejarnya. Aku sudah di titik nadir kelelahan. Perjalananku bukan sekadar sampai di Rancabuaya; tujuanku adalah garis finish di ujung timur pulau ini, Banyuwangi. Memaksakan diri sekarang hanya akan membunuhku sebelum waktunya.

Keheningan Cikotok membawa lamunanku melayang ke setahun yang lalu. Kontrasnya begitu menyakitkan. Tahun lalu, jam empat sore aku sudah menyandarkan sepeda di Negla Beach Villa, Rancabuaya. Langit masih terang benderang, cuaca cerah, dan rutenya jauh lebih bersahabat karena tidak memutar lewat Cikotok. Aku bahkan punya kemewahan untuk tidur satu jam dengan tenang sebelum melanjutkan perjalanan.

Kini, segalanya terasa seperti konspirasi semesta. Hujan yang tak kunjung berhenti, rute yang lebih "kejam", dan waktu yang terus menjepit. Rasanya aku ingin meledak. Aku ingin marah pada rute yang seolah tak punya belas kasihan ini.

“Bajingan!” umpatku pelan, tertuju pada garis-garis elevasi di layar kecil di hadapanku.

Namun, amarah itu segera menguap, berganti dengan kesadaran yang dingin. Untuk apa aku marah? Siapa yang aku salahkan? Aku berada di sini—basah kuyup, digigit nyamuk, dan tertatih-tatih—bukan karena paksaan siapa pun. Aku ikut Bentang Jawa atas keinginanku sendiri. Aku tidak sedang mengejar podium atau piala yang berkilau. Aku hanya seorang manusia yang sedang mencari batas kemampuannya sendiri.

Maka, biarlah malam ini aku kalah oleh waktu di CP 1. Biarlah aku terhanyut dalam rintik hujan Cikotok dan alunan lagu Sunda ini sejenak. Aku perlu istirahat. Sebab esok, jalan menuju Banyuwangi masih membentang sangat jauh, dan aku belum selesai dengan perjalananku.

“Kuda pemberani tak pernah takut berjalan sendiri, meski kegelapan mengepung ujung matanya. Sebab, ia melihat dengan hati.” Ucapku pada diriku sendiri.

Dalam lamunan yang sunyi, di bawah langit yang memeluk aspal yang bisu, dunia seolah berhenti berputar. Heningnya malam membuat detak jantungku terdengar seperti ketukan pintu yang tak kunjung dibuka. Namun, kesunyian itu robek seketika.

Dua bayangan meluncur melewati garis pandangku. Dua pesepeda lipat—yang tadinya kupikir sudah menyerah pada lelah dan meringkuk dalam tidur lelap hingga fajar—ternyata hanya mengambil napas sejenak. Tanpa kata, mereka membelah malam, menyalipku dengan ritme yang stabil.

Ada sengatan listrik yang merambat dari ujung saraf ke dadaku. Rasa kantuk yang tadi menggelayut berat, kini rontok tak bersisa. Dengan gerakan yang sedikit panik namun terukur, aku mencabut pengisi daya dari stopkontak, menyumpalkannya kembali ke dalam saddle bag tanpa peduli kerapian. Lampu sepeda kunyalakan—sebuah mata tunggal yang kini menatap tajam ke kegelapan di depan.

Rencana semula untuk bermalam di sini menguap begitu saja. Keadaan telah bergeser. Kenyataan pahit menghantamku: jika mereka adalah orang terakhir yang kulihat, berarti kini akulah sang "juru kunci". Akulah peserta di urutan paling belakang.

Duniaku berubah seketika. Jalur tanjakan yang menanti di depan belum juga kusentuh, namun napasku sudah memburu dan jantungku berdegup kencang, seirama dengan ambisi yang mendadak membara kembali.

Tadi, aku baru saja meyakinkan diri untuk menidurkan hasrat dan memadamkan ambisi demi sedikit kenyamanan. Aku ingin santai menuju Check Point 1. Tapi sekarang? Semuanya kembali menjadi medan tempur.

"Tidak boleh tertinggal," bisikku pada diri sendiri sembari menaiki sadel.

Dua lampu merah di kejauhan itu adalah targetku. Aku tak akan membiarkan mereka hilang ditelan tikungan. Dengan satu dorongan kuat pada pedal, aku meluncur kembali ke dalam gelap, mengejar ketertinggalan di atas aspal yang kini tak lagi terasa sepi.

Malam mendadak terasa lebih pekat. Aspal yang tadi tampak seperti kawan untuk bersandar, kini berubah menjadi lidah hitam yang siap menelan siapa pun yang tertinggal. Dua lampu belakang milik pesepeda lipat itu perlahan mengecil, berkedip mengejek sebelum akhirnya hilang di balik tikungan.

Saat itulah, senyap yang sesungguhnya datang menghampiri.

Kesadaran itu menghantamku: aku adalah juru kunci. Di belakangku hanya ada kegelapan, angin gunung yang berbisik parau, dan kejauhan yang tak terukur. Tidak ada lagi lampu peserta lain yang akan muncul untuk memberikan rasa aman semu. Aku sendirian di ekor barisan, posisi paling rentan dalam sebuah kompetisi jarak jauh.

Jantungku berdegup liar, bukan karena tanjakan yang menanti, tapi karena bayangan jika aku gagal mengejar mereka, maka aku hanya akan ditemani oleh bayanganku sendiri hingga pagi. Ambisi untuk tiba di Check Point 1 kini bukan lagi soal prestasi, melainkan soal bertahan hidup agar tidak terisolasi dalam kesendirian yang menyesakkan.

Setiap kayuhan kini terasa berat namun mendesak. Mataku terpaku pada aspal di depan, mencari sisa-sisa kilatan lampu atau tanda-tanda kehidupan. Di titik ini, aku sadar: musuh terbesarku bukan lagi tanjakan atau rasa lelah, melainkan kesunyian di belakang punggungku yang seolah terus mengejar.

Malam itu, alam semesta menyambutku dengan wajahnya yang paling pekat. Gelap menyelimuti segalanya; lampu sepedaku hanya mampu menembus kabut sejauh dua meter ke depan. Daun telingaku kupasang lebar-lebar, menangkap irama gesekan dedaunan. Hujan turun rintik namun kerap, membasahi bumi hingga licin. Dalam keadaan kuyup, aku turun dari pedal, mendorong sepedaku menyusuri jalanan sunyi Desa Cikotok.

Sama seperti malam-malam sepi di kamar kos dulu, di Cikotok ini aku kembali membuktikan: aku adalah petarung. Kegelapan ini tidak lagi mengancam; ia adalah kawan yang sedang membimbingku untuk melihat dengan keteguhan hati yang sudah teruji oleh lapar dan peluh masa lalu.


 


 

GEMURUH PANTAI SELATAN

Garis itu nyata. Meski teori geografi mengatakan bumi itu bulat, bagiku saat ini dunia hanya berupa satu garis lurus yang menjemukan. Gravitasi bumi seolah bekerja ekstra keras, menjagaku agar tetap lekat pada aspal cor yang kaku—seperti aturan-aturan hidup yang selama ini membelengguku.

Aku mengayuh dalam kebosanan yang mencekik. Sesuatu yang lurus tanpa belokan memang melelahkan, persis seperti tahun-tahun yang kuhabiskan hanya untuk memenuhi keinginan orang lain. Seumur hidup, aku dipaksa mengikuti skenario agar terlihat "hebat" di mata mereka. Aku memakai topeng kesempurnaan, berjalan di atas garis yang ditentukan, hanya agar dunia memberikan tepuk tangan yang sebenarnya tidak pernah kubutuhkan. Aku jenuh menjadi boneka pajangan. Aku lelah menjadi kuda kandang yang hanya berlari saat pecut ekspektasi menyentuh kulitku.

Selama ini, aku adalah sebuah bejana yang dibentuk oleh tangan-tangan orang lain. Aku tumbuh bukan untuk memuaskan dahagaku sendiri, melainkan untuk memenuhi ekspektasi mereka yang ada di sekelilingku. Aku tak pernah benar-benar memilih; aku hanya mengiyakan.

Bahkan ketika usiaku menginjak 24 tahun, usia yang bagiku masih terlalu dini untuk memikul beban rumah tangga, aku kembali dihadapkan pada satu pilihan yang sebenarnya bukan pilihanku: pernikahan.

"Nanti kamu jadi perawan tua. Tidak laku," kalimat itu berulang seperti kaset rusak di telinga ibu.

Kecemasan ibu adalah badai yang tak sanggup aku redam. Baginya, tugas utamaku menuntut ilmu sudah selesai, dan kini saatnya aku memenuhi tugas berikutnya dalam norma sosial: menjadi seorang istri. Padahal, saat itu fokusku hanya satu—bekerja. Aku sibuk mengumpulkan rupiah demi rupiah untuk menopang ekonomi keluarga, hingga aku lupa (atau mungkin sengaja tidak punya waktu) untuk mencari tambatan hati.

Di tengah kelelahan mental menghadapi tuntutan itu, Deni, seorang teman penyiar radio, datang membawa sebuah "solusi."

"Dia cocok sama kamu. Orangnya sabar, penyayang," ujar Deni meyakinkanku.

Aku tidak menolak, tidak juga antusias. Aku hanya merasa lelah. Lelah berdebat dengan ibu, lelah ditanya kapan menikah, dan lelah menjadi pusat kekhawatiran orang lain. Jadi, aku mengiyakan saran Deni untuk mengenal pria itu—seorang pria yang enam tahun lebih tua dariku.

Pria itu adalah seorang non-muslim, namun ia menunjukkan kesungguhan yang tak terduga. Ia bersedia berpindah keyakinan agar bisa meminangku. Pengorbanannya itu menjadi titik balik yang membuatku berhenti mempertimbangkan banyak hal. Aku pikir, mungkin inilah jalan keluarnya.

Enam bulan kami habiskan untuk saling mengenal di sela-sela kesibukanku bekerja. Aku mencoba menata hati, mencoba menyiapkan mental untuk memasuki gerbang yang sebelumnya tak pernah ingin aku masuki secepat ini. Persiapan berjalan tanpa kendala berarti, setidaknya di permukaan.

Hingga akhirnya, di bawah langit Desember 2009, aku resmi menjadi miliknya. Seseorang yang baru beberapa bulan lalu adalah orang asing, kini menjadi teman hidupku. Aku melangkah ke pelaminan bukan dengan debar cinta yang meledak-ledak, melainkan dengan perasaan lega yang getir—setidaknya, satu lagi keinginan orang lain telah berhasil kupenuhi.

Di balik kepatuhanku, sebenarnya ada sebuah keinginan yang terkubur sangat dalam, namun tak pernah berani kusuarakan: aku ingin hidup sendiri.

Bagiku, kesendirian bukanlah sebuah kutukan atau ketidaklakuan. Kesendirian adalah sebuah kemewahan yang bernama ketenangan. Aku sadar sepenuhnya bahwa berbagi ruang hidup dengan orang lain setiap hari bukanlah perkara mudah. Di kepalaku, pernikahan bukan hanya tentang pelaminan, melainkan tentang potensi konflik yang tiada habisnya, perdebatan yang menguras energi, dan perbedaan pendapat yang akan merampas kedamaian yang selama ini susah payah kubangun di tengah kesibukan bekerja.

Aku hanya ingin hidup tenang dengan pilihanku sendiri. Aku ingin pulang ke rumah tanpa harus menjelaskan apa pun kepada siapa pun. Aku ingin menentukan arah hidupku tanpa perlu berkompromi dengan keinginan orang lain.

Namun, di hadapan ibu, keinginan itu terasa seperti dosa besar. Ketakutannya akan sebutan "perawan tua" jauh lebih nyaring daripada bisikan hatiku yang memohon kebebasan. Maka, ketika akhirnya aku melangkah menuju pernikahan di tahun 2009 itu, aku melakukannya seperti seorang prajurit yang menyerahkan senjatanya.

Aku menyerah bukan karena aku setuju, tapi karena aku terlalu lelah untuk terus-menerus mempertahankan benteng ketenanganku dari gempuran ekspektasi orang-orang di sekitar. Aku menukar mimpi tentang kebebasan dengan sebuah kepatuhan, demi melihat ibu berhenti merasa cemas, meski aku tahu harga yang harus kubayar adalah hilangnya hak untuk menentukan nasibku sendiri.

Dulu, hidupku adalah garis lurus yang dipagari oleh ekspektasi orang lain. Aku harus lulus, aku harus bekerja, dan aku harus menikah sebelum angka di kalender berubah menjadi ancaman. Namun kini, bertahun-tahun kemudian, aku menemukan ruang di mana kendali itu sepenuhnya ada di tanganku: di atas sadel sepeda ini.

Di bawah kayuhan kakiku, aspal membentang panjang, membawa langkahku menuju garis biru Pantai Selatan. Di sana, aku melihat samudra bergerak maju-mundur, menawarkan sebuah irama yang jauh lebih jujur daripada norma mana pun yang pernah kupatuhi.

Gelombang itu tidak mengenal instruksi. Ia mengayun dengan perkasa, pecah menghantam karang, lalu kembali lagi ke pelukan samudra dalam sebuah tarian yang tak pernah bisa kutebak. Laut tidak perlu izin untuk pasang, dan ia tidak merasa bersalah saat harus surut.

Aku menatap cakrawala dan menyadari satu hal, aku ingin menjadi seperti ombak itu.

Aku ingin bebas bergerak maju atau mundur tanpa harus merasa berdosa karena melanggar aturan. Aku ingin memiliki iramaku sendiri yang tak mudah ditebak, irama yang tidak ditentukan oleh label "perawan tua", label "istri", atau label apa pun yang pernah disematkan orang lain padaku.

Di atas sepeda ini, di tengah embusan angin laut yang asin, aku bukan lagi bejana yang dibentuk oleh tangan ibu atau saran teman. Aku adalah pesepeda yang menentukan sendiri kapan harus menanjak, kapan harus meluncur, dan kapan harus berhenti sejenak untuk sekadar bernapas.

Setelah sekian lama hidup dalam kebisingan tuntutan orang lain, akhirnya aku menemukan ketenangan yang kucari. Bukan dalam kesunyian rumah yang hampa, melainkan dalam detak jantungku sendiri yang berpacu seiring dengan deburan ombak. Di sini, di sepanjang pesisir ini, aku akhirnya pulang kepada diriku sendiri.

Siang semakin terik. Matahari tepat di atas kepala, mengubah angin menjadi lidah api yang memanggang peluh di kulitku. Di sebelah kanan, gemuruh Pantai Selatan terus memanggil—sebuah suara bariton yang dalam, seolah ia tahu bahwa di dalam dadaku ada api yang sudah lama ingin dipadamkan.

Aku ingin berhenti. Aku ingin turun dari sepeda ini, mengeruk pasir putih sedalam-dalamnya dengan jemari, lalu membiarkan lubang itu terisi oleh air laut yang pasang. Aku ingin air itu membawa pergi seluruh aturan yang mengekang, seluruh penilaian orang yang menghakimi, dan seluruh beban untuk selalu "menjadi hebat" yang selama ini kupikul di pundakku.

Aku ingin hanyut. Aku ingin semua kepalsuan itu hanyut tanpa sisa.

Dalam benakku, aku sudah melangkah ke tengah laut. Aku membayangkan kakiku menyerahkan diri pada rayuan ombak hingga aku kewalahan. Biarlah ombak itu mengejarku, menyeretku, dan membasuh habis sisa-sisa "kuda penurut" dalam diriku—sosok yang selama puluhan tahun hanya tahu cara berlari memenuhi ekspektasi orang lain. Bermain dengan ombak memang tak pernah membosankan, karena laut tidak pernah menuntutmu untuk menjadi siapa-siapa. Di depan samudera, aku hanyalah aku. Titik kecil yang merdeka.

Mataku masih memandang jalan cor yang kaku di depan, namun otakku sudah berenang jauh di tengah gemuruh. Hatiku memberontak, memaksa ingin ke pantai.

Sesaat, otakku mencoba melarang. Sisa-sisa pola pikir lama itu berbisik sinis; bahwa seorang "Kuda" harus disiplin, harus kuat, harus konsisten pada rute, dan tak boleh berhenti hanya untuk bersenang-senang. Baginya, berhenti adalah kegagalan.

Namun, kali ini pertahanan itu runtuh. Hatiku merengek seperti anak kecil, menolak untuk melepaskan pandangan dari warna biru yang memerdekakan itu.

Logikaku akhirnya menyerah. Mengikuti keinginan hati memang sering kali dianggap tidak masuk akal oleh dunia yang gila akan pencapaian dan label "sukses". Tapi hari ini, aku memutuskan untuk tidak menjadi hebat bagi mereka. Aku memilih untuk menjadi nyata bagi diriku sendiri.

Dengan napas yang lebih ringan, aku membelokkan setang sepedaku. Aku meninggalkan jalan cor yang kaku dan membosankan, mengarahkan roda menuju pelukan ombak yang jujur. Hari ini, sang kuda tidak lagi berlari untuk tuannya, ia pulang menuju samudera.




 


 

ANJING PAMENGPEUK

Sisi selatan Pulau Jawa bukan sekadar deretan tanjakan dengan gradien di atas dua puluh persen yang sanggup merontokkan mental. Di balik rimbunnya jalur Pameungpeuk, tersimpan teror lain yang tak kalah menguji nyali, gonggongan anjing-anjing penjaga wilayah.

Saat matahari masih tinggi, mereka hanyalah sekumpulan makhluk apatis yang memandang remeh para pesepeda dari kejauhan. Namun, begitu malam jatuh dan kabut mulai merayap, mereka bertransformasi menjadi momok yang lebih menakutkan daripada sekadar hantu penunggu hutan. Gonggongan mereka tajam, mengejutkan, dan seolah memang dirancang untuk menghancurkan sisa-sisa ketenangan para Kuda—sebutan bagi kami yang berjuang di atas sadel. Mereka mengintai di bawah kolong kursi kayu, bersiap meluncurkan serangan fajar pada siapa pun yang lengah karena kelelahan.

Tahun lalu, di ajang Race Around Java 3.000 KM, aku pernah berada di titik nadir. Tubuhku remuk setelah dihajar tanjakan bertubi-tubi. Saat melihat sebuah bangku kayu di depan rumah warga, godaan untuk rebah tak terbendung lagi. Sepeda kusandarkan, napas mulai kuatur demi tidur singkat yang sangat berharga.

Namun, kedamaian itu hanya berumur hitungan detik. Tiga ekor anjing muncul dari kegelapan dengan salakan yang memekakkan telinga, mengusirku tanpa ampun. Dalam kondisi kaki yang hampir kram, aku terpaksa memacu sisa tenaga, berlari sekencang mungkin dengan suara cakar yang mengejar tepat di belakang tumit. Aku baru bisa bernapas lega ketika berhasil berlindung di halaman sebuah masjid—benteng suci yang tak berani mereka masuki.

Pagi ini, setelah terbangun dari check point pertama, aku kembali melintasi wilayah Pamengpeuk yang ketika malam terasa begitu mencekam. Namun, di bawah cahaya matahari yang mulai hangat, kengerian itu menguap. Di pinggir jalan, aku menjumpai seekor anjing yang duduk termenung sendirian.

Bulunya berwarna cokelat muda krem, kusam tertutup debu jalanan. Ia tidak menggonggong. Ia hanya duduk dengan kaki-kaki kurus yang gemetar halus saat menumpu tubuhnya. Matanya sayu dan mengantuk, menyimpan sisa-sisa kelelahan dari malam yang panjang.

Melihatnya, aku seperti melihat bayanganku sendiri di cermin aspal.

Anjing ini adalah anomali yang akrab di mataku. Di saat malam, ia harus menjadi sosok ganas demi menjaga wilayah, namun di siang hari, ia berubah menjadi sosok menyedihkan yang kelaparan. Seperti itulah kehidupanku selama ini. Di hadapan orang lain, aku mengonstruksi diri sebagai sosok yang kuat, sukses, dan tahan banting. Aku memoles wajahku agar tampak tak bercelah, meskipun sebenarnya di dalam sana, aku telah hancur berkali-kali.

Aku tak pernah mengizinkan kesedihanku bocor keluar. Bukan karena aku tak punya air mata, tapi karena aku terlalu mencintai orang-orang di sekitarku hingga tak ingin membebani pikiran mereka dengan retakan-retakan di jiwaku. Aku memilih menjadi "anjing malam" yang kuat bagi dunia, padahal jiwaku adalah "anjing siang" yang merana dan kehabisan tenaga.

Itulah mengapa aku terjebak—atau lebih tepatnya, menyelamatkan diri—dalam Bentang Jawa. Di sini, di atas sadel ini, aku tidak perlu berpura-pura. Aku tidak harus patuh pada ekspektasi keluarga atau tuntutan sosial yang selama ini mencekik hasratku. Raga dan jiwaku sudah terpisah sejauh ini. Perjalanan gila ini adalah upayaku untuk menyatukan raga dan jiwa yang sudah terpisah terlalu jauh. Aku sedang melakukan perjalanan pulang ke jiwaku sendiri, di mana aku diperbolehkan untuk lelah tanpa harus merasa bersalah.

Aku dan anjing Pamengpeuk sama-sama pejalan yang kehabisan tenaga, terkuras oleh ekspektasi dunia. Aku menghentikan kayuhan. Perlahan, kuhampiri makhluk yang tak lagi tampak mengancam itu.

“Hei, buddy... kamu lapar?” bisikku pelan.

Anjing krem itu mendongak. Tak ada geraman, tak ada taring yang menyeringai. Hanya ada tatapan sayu yang bicara banyak tentang rasa lapar—sebuah rasa yang dulu sangat akrab di perutku saat masa-masa sulit kuliah.

“Ini makanan buat kamu. Aku tahu rasanya lapar,” ucapku sambil menyodorkan sebungkus nasi sop ayam.

Ia mulai makan. Awalnya ragu, lalu melahap habis setiap butir nasi dengan lahap. Sambil memperhatikannya, aku berbisik, seolah kami adalah dua kawan lama yang sedang berbagi rahasia di bawah langit Jawa.

Buddy, jangan menggonggong tengah malam saat para Kuda melintas di sini, ya? Kami hanya ingin istirahat. Kami sama lelahnya denganmu. Okay?

Anjing itu berhenti sejenak, menatapku dengan mata yang masih mengantuk, lalu kembali melanjutkan makannya. Tanpa gonggongan, ia seolah baru saja menandatangani sumpah suci untuk tidak lagi menjadi teror bagi kawan-kawanku.

Kami berdamai. Aku kembali mengayuh dengan perasaan yang lebih ringan. Di tanah Jawa ini, ternyata semua makhluk hanya sedang mencari cara untuk tetap bertahan hidup—setapak demi setapak, kayuhan demi kayuhan.


 

RIUH PANGGANG

Seharusnya aku tidak di sana. Tidak pada pukul satu dini hari, saat garis antara kewarasan dan halusinasi mulai mengabur akibat kantuk yang menyiksa. Hutan jati Panggang bukanlah tempat untuk tamu tak diundang di jam segini.

Dulu, aku pernah melintasinya saat matahari masih tegak lurus di atas kepala. Bahkan dalam silau cahaya itu pun, hutan ini seolah mengirimkan getaran "penolakan" yang dingin. Sejak itu, aku bersumpah: tidak akan pernah kembali ke sana saat kegelapan berkuasa. Namun, takdir seringkali menuntut apa yang paling kita hindari. Hidup senang menyodorkan pilihan yang paling ingin kita jauhi, lalu memaksa kita melaluinya dengan kaki gemetar.

“Harus banget ya, aku naik ke Panggang jam satu malam ini?” umpatku pelan, suaraku tertelan angin malam menuju Imogiri.

Logikaku berteriak untuk berhenti dan menunggu fajar. Namun, ambisi adalah mesin yang lebih kejam daripada otot kaki. Di layar racemap, titik-titik "Kuda-Kuda" lain sudah melaju jauh menuju Pacitan. Aku tidak boleh tertinggal. Aku harus menerjang Panggang dengan sisa keberanian yang compang-camping, meski di kepala ini sudah menari-nari rupa para "warga" sana—kuntilanak yang tertawa di dahan jati, genderuwo yang mengintip dari balik gelap, atau sosok nenek penunggu pohon tua yang konon tak suka ketenangannya terusik.

Tiba-tiba, dunia menjadi gelap selama beberapa detik.

Aku tersentak. Aku sempat terlelap di atas sadel! Dalam tidur singkat itu, aku bermimpi berada di tengah hutan lebat, namun saat mata terbuka, yang kulihat adalah aspal hitam yang membelah pemukiman sunyi. Di sisi kiri, cahaya temaram dari sebuah angkringan memanggil seperti mercusuar di tengah badai. Aku harus sadar sepenuhnya; di jalur ini, mengantuk adalah undangan terbuka bagi celaka.

“Kopi ne wonten, Mas?” suaraku memecah kesunyian, parau dan lelah.

Mas penjaga angkringan terlonjak dari kantuknya. Ia menatapku dengan pandangan tak percaya: seorang perempuan, sendirian, di atas sepeda kayuh, berkeliaran di jam yang biasanya hanya dihuni oleh makhluk halus atau peronda. Sambil menyalakan kompor, ia bertanya ragu, “Badhe teng pundhi, Mbak?”

“Wonosari, Mas. Lewat Imogiri,” jawabku singkat.

“Hluk! Lewat Panggang, Mbak?” Tangannya yang sedang mengaduk kopi terhenti seketika.

Beberapa warga lokal yang sedang terjaga ikut merapat. Di bawah lampu neon yang berkedip, jemari mereka menelusuri peta digital di ponselku. “Dari sini sampai sini nanjak terus, Mbak... di titik ini baru landai. Setelah itu naik-turun dari desa ke desa sampai Playen.”

Godaan untuk menyerah merayap di benakku. Membayangkan duduk di sini lebih lama, menyesap kopi panas dan mengunyah gorengan hingga fajar menyapa, terasa jauh lebih manusiawi daripada menembus keangkuhan Hutan Panggang. Tapi ini Bentang Jawa. Berhenti berarti membiarkan jarak semakin menganga.

Aku mengecek racemap. Di sana, drama lain sedang berlangsung. Dua peserta kategori pairing mulai tampak tidak kompak. Yang satu berhenti jauh di belakang, sementara pasangannya sudah berada di titik persiapan tanjakan. Ternyata, kelelahan tidak pandang bulu. Bahkan mereka yang memiliki teman bicara pun bisa "tumbang" oleh ego dan rasa lelah.

Mungkin, menjadi peserta solo sepertiku adalah sebuah berkah tersembunyi malam ini. Tak perlu kompromi, tak perlu perdebatan. Ingin melaju atau berhenti sepenuhnya adalah otoritas tunggal di tanganku. Sambil menyeruput kopi yang mulai hangat, aku menyambung daya lampu dan cyclocomp. Saat melaju diatas sepeda aku selalu mematikan ponsel, bukan hanya untuk hemat baterai, tapi karena aku merindukan ketenangan tanpa interupsi notifikasi dunia luar.

Aku melirik layar sekali lagi. Pasangan pairing itu masih tak bergerak. Titik yang di depan mendadak diam, mungkin sedang menunggu pasangannya yang tertinggal dengan rasa gusar yang tertahan.

Aku tak boleh seperti mereka. Sebelum mereka kembali bergerak, aku harus sudah masuk ke jantung hutan.

Kopi habis. Semangat yang tadi sempat padam kini kembali memercik. Kaki ini harus siap bertaruh pada perjalanan yang paling tidak kuinginkan. Tak jauh dari angkringan, tanjakan Panggang mulai memamerkan taringnya yang tajam.

Aku, Si Kuda Betina yang sudah kehilangan banyak tenaga ini, akhirnya mengaku kalah pada gravitasi. Aku turun dari sadel, menuntun sepeda selangkah demi selangkah. Napasku memburu di tengah sunyi, namun aku menolak untuk takut lagi.

Setiap langkah adalah satu inci lebih dekat menuju angka seribu lima ratus kilometer. Dan di tengah kegelapan Panggang, aku sadar: aku tidak sedang berlari dari hantu, aku sedang mengejar diriku yang baru.

Napas kami—aku dan sepedaku—berkejaran. Keringat mengalir dari akar rambut, membasahi leher, dan membuat baju melekat di kulit. Setiap kali menemukan jalan landai, aku langsung terkapar. Di mana saja. Di bangku kayu, bahkan di atas aspal dingin yang keras. Kuda Betina ini kelelahan, tapi ia tak punya alasan untuk menyerah.

Lamat-lamat, riuh di kepala mulai mereda, digantikan oleh irama napas yang teratur dan gesekan sol sepatu pada aspal yang kasar. "Anak-anak kecil" itu perlahan memudar ke balik kabut tipis, seolah-olah tugas mereka untuk menemaniku di titik paling gelap sudah selesai. Aku tetap melangkah, mendorong si Kuda Besi yang kini terasa seperti bagian dari tubuhku sendiri.

Hutan jati yang tadinya terasa seperti penjara raksasa, kini perlahan berubah menjadi katedral yang megah. Bau tanah basah dan aroma khas daun jati yang mengering mengisi paru-paruku, memberi energi purba yang tak bisa didapatkan dari kafein mana pun.

Lalu, garis cakrawala mulai berubah. Warna hitam pekat perlahan memudar menjadi biru dongker, lalu semu ungu yang lembut. Di ufuk timur, fajar mulai menyingsing—sebuah janji yang ditepati oleh semesta setelah malam yang terasa abadi.

Cahaya pertama itu menusuk sela-sela ranting jati, menjatuhkan berkas sinar yang menyentuh wajahku yang kusam dan penuh peluh. Saat itulah aku menyadari bahwa aku sudah berada di ujung labirin. Jalanan yang tadinya terus mendongak ke langit, kini mulai melandai, memberikan bonus turunan yang sudah lama kunantikan.

Aku kembali naik ke atas sadel. Angin subuh yang dingin menerpa wajah, menghapus sisa-sisa kantuk yang tadi hampir mencelakakanku. Di bawah sana, pemukiman di daerah Playen mulai terlihat. Suara azan subuh bersahut-sahutan dari kejauhan, memecah kesunyian malam dan menandakan bahwa kehidupan "normal" telah kembali dimulai.

Aku menoleh ke belakang sekali lagi, menatap barisan pohon jati yang kini tampak anggun diterpa cahaya pagi. Ternyata, Panggang tidaklah sejahat yang kubayangkan. Ia hanya sebuah cermin besar. Jika aku masuk dengan ketakutan, ia akan memberi teror. Namun, jika aku masuk dengan ketahanan, ia akan memberi ketenangan.

Kulihat layar cyclocomp yang lampunya masih menyala redup. Angka di sana terus bergerak maju. Aku belum sampai ke angka seribu lima ratus, dan perjalanan menuju Pacitan masih panjang. Namun, keberhasilan melewati Panggang di jam-jam "terlarang" adalah sebuah medali yang tersemat rapi di dalam batin.

"Terima kasih sudah menjagaku," bisikku pada angin, entah untuk siapa.

Mungkin untuk Mas penjaga angkringan yang memberiku nyawa lewat secangkir kopi, mungkin untuk para "warga" kecil yang menemaniku bermain, atau mungkin untuk diriku sendiri—si Kuda Betina yang menolak untuk berhenti saat dunia memintanya untuk tidur.

Aku memacu sepedaku lebih cepat. Pagi ini aku tidak hanya mengejar ketinggalan dari peserta lain, aku sedang merayakan kemenangan atas rasa takut yang baru saja kukubur dalam-dalam di jantung Hutan Panggang.




 


 

ANGIN BERBISIK DI PRACIMANTORO

Aku tahu perjalanan seperti apa yang sedang kusesap saat ini, sebuah penderitaan yang direncanakan. Aku hanyalah seekor Kuda Betina yang ringkih. Aku tak memiliki kekuatan ledak seperti kuda-kuda jantan yang memacu aspal dengan ambisi di mata mereka. Di kilometer berapa posisiku sekarang? Entahlah. Angka-angka itu telah kehilangan maknanya, tertutup oleh lapisan debu dan rasa lelah yang membatu.

Aku sengaja mematikan bisingnya dunia digital. Ponsel di top tube bag hanya kubuka sekilas, sekadar memastikan napas masih tersambung lewat pesan WhatsApp yang tak punya gairah untuk kubalas. Saat ini, yang kubutuhkan bukanlah sinyal telekomunikasi, melainkan sinyal dari semesta yang ingin kukenal lebih dalam.

Pandanganku terpaku pada garis merah muda di layar cyclocomp. Alat itu adalah sumber kecemasanku. Setiap kali bar warna-warni penanda kemiringan muncul, jantungku berdegup kencang—dug-dag, dug-dag—seolah ingin melompat keluar dari rongga dada.

Semakin miring grafik itu, semakin banyak nyawa dan napas yang harus kutumbalkan. Suara ban yang bergesekan dengan aspal kasar terdengar seperti rintihan panjang: srek... srek... srek..., seolah karet hitam itu sedang diparut oleh jalanan yang membara.

Terik matahari Pracimantoro adalah bayangan yang posesif. Ia tidak hanya mengikutiku; ia memelukku dengan hawa panas yang menyesakkan. Aku berhenti, dan matahari seolah berhenti tepat di atas ubun-ubun, memanggang helm plastiku hingga aku bisa mencium aroma samar material yang memanas.

Di kanan-kiri jalan, batu-batu karst raksasa menjulang tinggi bak raksasa purba yang sedang menghakimiku. Mereka enggan berbagi perlindungan. Aku menatap wajah bebatuan yang angkuh itu; mereka berdiri tegak, namun entah di mana mereka menyembunyikan bayangannya sendiri. Di sebelahnya, pepohonan tinggi meranggas kurus. Rantingnya kering, sesekali berderit patah ditiup angin panas, berdiri di atas kaki masing-masing dengan keangkuhan yang sunyi.

Aku menyerah. Kekuatanku habis diisap aspal. Kusandarkan tubuhku pada pagar besi di sisi kiri jalan. Begitu telapak tanganku menyentuh pagar itu, sensasi panas menyengat langsung merambat ke saraf, mengingatkanku bahwa tidak ada tempat yang benar-benar dingin di sini.

Kutarik napas dalam, terasa kering dan berpasir di kerongkongan. Saat kulepaskan perlahan, uap dahaga seolah terlihat di udara. Lidahku mengecap rasa asin yang pekat—keringat yang mengalir dari dahi, melewati alis, dan bermuara di sudut bibir. Dalam diam, aku menggugat langit.

"Kenapa di sini panas sekali?"

Pikiranku meracau. Baru kemarin aku menggigil disiram hujan, memohon agar air berhenti jatuh. Manusia memang makhluk yang tak pernah puas. "Apa boleh aku minta hari ini tidak panas, ya Allah?" bisikku lirih. Suaraku terdengar asing, parau dan pecah karena kekurangan cairan.

Aku menanti mendung dikirim untuk memayungi Kuda Betina yang lemah ini. Namun, langit biru itu tetap bersih—biru yang menyilaukan hingga membuat mata pedih saat menengadah. Mendung sedang enggan bertamu.

Keringat mengalir deras dari balik helm, menyusup ke sela-sela baju yang sudah empat hari tidak ganti. Bau keringat yang asam, tajam, dan bercampur debu jalanan menciptakan aroma yang pekat, Aroma Perjalanan Sisi Selatan. Bau itu mendekap erat tubuhku hingga aku lupa seperti apa wangi vanila yang biasa kupakai. Indera penciumanku kini hanya mampu merekam aroma kesunyian dan pengabdian pada jalanan ini.

Kekosongan mulai menyelimuti setiap langkah. Untuk mengusir kegilaan, aku mulai berbincang dengan apa saja—batu, pohon, hingga aspal yang retak. Aku memang tidak mendengar suara mereka, namun aku mengerti apa yang mereka sampaikan melalui getaran di udara dan kekokohan mereka berdiri.

Wuzzz…

Tiba-tiba, sebuah keajaiban kecil datang dari arah belakang sisi kanan. Angin menari mendekat, meniupkan kesejukan yang tak terduga. Ia mengusap leherku yang terbakar, mendinginkan wajah yang memerah, dan memberikan sedikit kelembapan pada mataku yang kering.

Klik.

Bunyi sepatu yang mengunci pedal terdengar mantap. Aku bangkit dari sandaran pagar besi. Lamunan pahitku tersapu oleh angin yang baru saja membisikkan kekuatan. Alam seolah menjawab doaku dengan caranya sendiri: Tuhan tidak memberiku mendung untuk menutupi matahari, tapi Ia mengirimkan angin untuk mengusap peluhku.

Aku kembali mengayuh. Rantai berputar dengan bunyi clink-clink yang teratur—sebuah ritme baru untuk memulai kembali perjuangan di sisa hari. Tanjakan demi tanjakan kulalui dengan sisa tenaga yang nyaris habis diperas aspal. Mataku menyipit, memindai cakrawala, menanti satu penampakan yang menjadi mercusuar harapanku: Pasar Pracimantoro. Di sanalah titik akhir dari drama tanjakan ini. Aku tahu, setelah pasar itu, jalanan akan melandai, berubah menjadi jalur rolling yang manis. Medan yang jika diikuti iramanya, akan terasa seperti ayunan indah di atas sepeda—sebuah hadiah bagi mereka yang berhasil menaklukkan puncak.

“Setelah belokan di depan itu, pasti sudah sampai,” bisikku pada diriku sendiri.

Suaraku terdengar seperti mantra penghibur. Di saat mental nyaris goyah, tak ada yang bisa menenangkan hatiku selain kebohongan-kebohongan kecil yang kubangun sendiri untuk menipu rasa lelah.

Namun, semesta nampaknya ingin mengujiku lebih lama. Begitu roda depan melewati tikungan, harapanku runtuh. Tak ada pasar. Tak ada keramaian. Yang menjulang di depan mataku justru tanjakan hebat yang seolah menyambung langsung ke langit.

Ditemani semilir angin Pracimantoro yang kini terasa mengejek, aku terus mengayuh. Angka di cyclocomp merayap lambat 4 kilometer per jam. Itu bukan lagi kecepatan bersepeda; itu adalah kecepatan seseorang yang sedang merangkak demi harga diri.

Ketika punggungku mulai meronta dan tulang belakang terasa seperti ditusuk-tusuk jarum panas, aku menyerah. Aku turun dari sepeda, membiarkannya tergeletak, lalu merebahkan tubuhku di atas rumput kering di tepi aspal. Aku tak lagi peduli pada panas yang menyengat atau tekstur rumput yang kasar. Saat itu, gravitasi adalah musuh sekaligus kawan—aku hanya ingin membiarkan bumi menyangga seluruh beban tubuhku.

Setelah sekian menit berkutat dengan sejuta keluhan yang bergema di kepala, aku bangkit kembali. Aku menolak untuk mati di sini. Dengan sisa tekad yang tersisa, aku mengayuh lagi hingga akhirnya—seperti fatamorgana yang menjadi nyata—sosok Pasar Pracimantoro muncul di kejauhan.

Tanpa pikir panjang, aku mengarahkan kemudi menuju papan merah kuning yang tampak begitu mencolok di sisi kiri jalan: Rocket Chicken.

Begitu melangkah masuk, aroma ayam goreng menyambutku, namun bukan itu yang kucari. Mataku tertuju pada ubin putih yang tampak mengilap. Dengan gerakan cepat, kulepas sepatu bersepedaku yang sesak.

Nyesss…

Rasanya luar biasa. Bayangkan sebuah batu yang baru saja keluar dari perapian, merah membara, lalu tiba-tiba dibungkus dengan kain basah yang dingin. Uapnya seolah mengepul di kepalaku, dan seketika, "batu" itu mendingin. Rasa dingin dari ubin merambat melalui pori-pori telapak kaki, menjalar ke betis, dan memadamkan api kelelahan yang sedari tadi membakar sarafku.

Aku memejamkan mata, menyesap sensasi itu, sampai sebuah suara memecah keheningan pribadiku.

“Mbak, jadi mau pesan apa?” tanya mbak kasir, menatapku yang mungkin terlihat sangat berantakan.

Lamunanku buyar. “Menu paket satu, Mbak,” jawabku singkat.

Setelah menyelesaikan pembayaran dengan sekali pindai QRIS, aku bergegas menuju meja yang paling dekat dengan colokan listrik. Inilah ritual wajib seorang musafir jalanan: mengisi daya ponsel untuk komunikasi, dan mengisi perut untuk kehidupan.

Dari balik jendela kaca yang sejuk oleh AC, aku menatap ke luar. Di sana, aspal jalanan Pracimantoro nampak bergetar. Fatamorgana terlihat seperti lapisan air yang menggenang di atas jalan, padahal itu hanyalah tarian panas yang membara. Aku bergidik ngeri melihat apa yang baru saja kulalui, sambil kembali menempelkan telapak kaki ke ubin—mensyukuri nikmat kecil yang menyelamatkanku hari ini.

Duduk di sudut rumah makan ini, aku tersadar akan posisiku di papan skor. Meski masih ada peserta lain yang berjuang di belakangku, ego ini tak lagi merasa bangga. Kabar dari dunia luar memberitahuku bahwa barisan depan sudah menyentuh Check Point 2 di Patria Palace Hotel, Blitar.

Blitar. Sebuah nama yang terasa begitu jauh di ufuk timur. Untuk sampai ke sana, aku harus "menjahit" aspal Giritontro, membelah Pacitan, mendaki Tegalombo yang legendaris, lalu melintasi Ponorogo, Trenggalek, dan Tulungagung. Sebuah rute yang bukan sekadar deretan nama kota, melainkan ujian ketabahan yang panjang dan berliku.

Namun, tidak ada sesal. Aku pernah melewati rute sulit ini sebelumnya, dan rintangan yang datang selalu terasa seperti kado dari alam semesta. Jika hari ini kadonya adalah angin syahdu yang mengusap peluh di Pracimantoro, maka aku harus menerimanya dengan tangan terbuka, seburuk apa pun kondisi fisikku.

Pikiranku melayang ke Bentang Jawa tahun 2022. Saat itu, aku melintasi bumi Pracimantoro ini di bawah selimut kegelapan malam. Tak ada terik matahari yang memanggang kulit, namun kesunyiannya jauh lebih menghantui.

Dalam pekat malam itu, satu-satunya sahabatku adalah sinar rembulan yang pucat dan lampu sepeda yang membelah jalan sepi. Nafasku kembang kempis, beradu dengan suara jangkrik dan bisikan angin malam yang dingin menusuk tulang. Kini, di bawah terik yang sebaliknya, aku menyadari bahwa alam selalu punya dua wajah; dan keduanya sama-sama menuntut hormat yang tinggi.

Panas di luar sana kian menggila, seolah-olah matahari sedang berada di titik terendahnya. Aku tahu, jika aku terlalu lama bermanja di bawah sejuknya AC dan dinginnya ubin, aku akan kehilangan momentum. Menunggu sore berarti menyerahkan diri pada kegelapan di Tegalombo, Pacitan. Di sana, meski tanjakannya tidak sekejam Pracimantoro, keheningan hutannya jauh lebih "ngeri".

Aku harus memilih: terbakar matahari sekarang atau ditelan kesunyian malam nanti.

Dengan berat hati, kutarik kakiku dari ubin lantai yang dingin. Sensasi "nyess" itu kini tinggal kenangan yang tersimpan di saraf kakiku. Kupasang kembali sepatu bersepedaku, mengencangkan talinya, dan berdiri tegak. Sisa-sisa tenaga dari paket ayam goreng tadi harus cukup untuk membawaku menuju angka 1.500 kilometer.

Aku kembali ke aspal. Tak jauh di depan, persimpangan menuju Jalur Lingkar Selatan (JLS) sudah menanti—sebuah jalur legendaris yang menghubungkan Pacitan dengan Yogyakarta. Di sana, pemandangan samudera mungkin akan menyambutku, namun aku tahu, di balik keindahan itu, rintangan baru telah bersiap menghadang sang Kuda Betina.

Roda kembali berputar. Clink. Gigi sepeda berpindah. Garis lurus aspal Pantai Selatan yang membosankan ini mendadak menyerupai barisan skenario hidup yang dulu disusun orang lain untukku. Dulu, hidupku adalah garis lurus yang dipagari oleh ekspektasi orang lain.

Aku dan bayanganku kembali beradu dengan aspal yang membara. Aku telah melaju meninggalkan debu pasar dan beralih ke aspal yang lebih mulus, lebih hitam, dan lebih menjanjikan, Jalur Lingkar Selatan (JLS).

Begitu ban menyentuh lintasan ini, suasana seketika berubah. Langit masih biru tanpa ampun, namun atmosfernya tidak lagi secekik saat aku terjebak di antara tebing karst Pracimantoro yang angkuh. Kini, ada napas baru yang berembus dari arah selatan.

Semilir angin mulai terasa menyapa kulit jersey-ku yang masih basah. Awalnya ia datang malu-malu, lalu perlahan menjadi hembusan yang konstan. Ini bukan lagi angin darat yang kering dan berdebu; ini adalah angin laut yang membawa aroma garam dan kelembapan.

Namun, jangan salah sangka. Ini bukan kesejukan yang sempurna. Di dalam embusan angin itu, masih ada hawa panas yang samar-samar terbawa. Rasanya unik; seperti ditiup kipas angin di tengah ruangan yang gerah. Ada sensasi dingin yang menyentuh permukaan kulit, tapi di baliknya, suhu udara tetap terasa membara—sebuah perpaduan suhu yang hanya bisa dipahami oleh mereka yang bertarung di pesisir selatan Jawa.

JLS membentang di depanku bagaikan pita hitam raksasa yang membelah perbukitan hijau dan tebing pantai. Jalanan di sini terasa lebih "bersahabat" secara visual, meski secara fisik tetap menantang. Aspal yang halus membuat suara gesekan ban berubah menjadi dengungan rendah yang ritmis: wung... wung... wung...

Aku mulai mengikuti irama rolling-an jalan. Saat jalanan menurun, aku membiarkan gravitasi mengambil alih, memberikan waktu bagi kakiku untuk beristirahat sejenak. Angin laut menghantam wajahku dengan lebih keras, menerbangkan sisa-sisa aroma keringat asam yang sudah menempel berhari-hari.

Aku tahu, di depan sana Pacitan sedang menunggu. Perjalanan ini masih jauh dari kata usai. Panas samar yang dibawa angin laut ini adalah pengingat bahwa alam tidak pernah benar-benar melepaskan cengkeramannya, ia hanya mengganti caranya menguji kita.

Kuda Betina ini masih merayap, tapi kini ia merayap dengan harapan yang lebih segar. Telapak kakiku yang tadi sempat "direparasi" oleh dinginnya ubin, kini mulai merasakan hangatnya pedal kembali. Namun kali ini, aku tidak lagi mengeluh. Aku membiarkan diriku larut dalam tarian antara hawa panas dan semilir laut.

Aku tak lagi mencemaskan tanjakan-tanjakan di belokan JLS berikutnya, selama angin laut ini masih sudi mengusap leherku, aku akan terus mengayuh menuju angka-angka yang lebih besar di layar cyclocomp. Perjalanan menuju 1.500 kilometer bukan lagi soal kecepatan, tapi soal seberapa lama aku bisa bertahan dalam pelukan alam yang kontradiktif ini.

 



 

PELUKAN POHON NGADAS

Tubuhku sering dituduh memiliki kekuatan tak terbatas hanya karena ia tak pernah tampak tumbang. Orang-orang melihatnya sebagai monumen dari besi yang kebal terhadap pukulan, padahal kenyataannya, ia telah dihantam bertubi-tubi oleh kenyataan yang tajam. Aku telah membiarkan diriku menjadi rumah hampa yang dihuni oleh jiwa penyendiri; sebuah bangunan tanpa tamu yang sudi mampir, meski hanya sebentar. Aku bahkan sudah lupa kapan terakhir kali tubuh ini dipeluk dengan tulus. Aku telah terlalu lama terabaikan dalam kesunyian yang kupilih sendiri.

Kesunyian itu terasa paling pekat saat aku menatap kartu check point di Patria Palace Hotel, Blitar. Putih bersih. Tak ada stempel panitia, tak ada tanda keberadaan manusia. Aku tidak hanya terlambat di titik pertama, aku telah melampaui batas waktu (Over Cut Off Time) di titik kedua.

Sesaat, kehampaan di kartu itu hampir membuat pertahananku runtuh. Namun, aku segera menenangkan detak jantungku. Arti perjalanan ini bukan soal mengumpulkan tinta di atas kertas. Ada atau tidak ada stempel, jalan menuju Banyuwangi harus tuntas di garis finish.

Setelah beristirahat sejenak, aku melanjutkan kayuhan melintasi Bendungan Lahor. Keelokannya membuatku iri—begitu tenang dan cantik di bawah sisa cahaya senja, seolah tak punya beban untuk dikejar. Tak jauh dari sana, sebuah kedai kopi di sisi kanan jalan memanggilku.

Aku menyandarkan sepeda pada sebatang pohon, sebuah ritual yang kini terasa seperti memasang jangkar pada kapal yang hampir karam. Sambil menunggu daya lampu sepeda terisi, aku menyesap Iced Black Coffee. Cairan dingin itu menyiram otakku yang mulai kerdil oleh kelelahan.

Di sinilah pikiran mulai mengkhianatiku. Halusinasi datang tanpa permuka. Dalam sapaan angin Malang, otakku bersikeras bahwa aku sedang berada di sekitar Madiun. Aku membayangkan sebentar lagi akan sampai di depan pintu rumah, melepas sepatu, mandi, dan tenggelam dalam kelembutan kasurku sendiri. Namun, kenyataan pahit menyentakku: aku berada di tempat yang sangat jauh, dan satu-satunya "rumah" yang kupunya saat ini hanyalah sadel sepeda yang kini terasa seperti pisau.

Rasa perih di pantat sudah tak tertahankan. Meski salep pereda nyeri telah berkali-kali kuoleskan, ia tak mampu menutup robekan kulit yang kian lebar. Sakit itu menjalar, memberontak dari leher, tangan, hingga ambeien yang mulai ikut meradang. Aku terpaksa melakukan off-saddle—mengayuh sambil berdiri—hanya agar roda tetap berputar menghabiskan sisa jalan menuju Kepanjen.

Aku merasa kalut. Di racemap, titik-titik peserta lain sudah bergerak jauh di depanku. Aku sendirian di belakang. Namun, menyerah adalah kata yang sudah kuhapus dari kamus perjalanan ini. Aku sudah berada di Jawa Timur; tanah ini adalah rumahku, dan Banyuwangi hanyalah soal sisa napas yang harus kupertaruhkan.

Malam itu, Kota Malang menyambutku dengan suhu yang mulai menggigit. Sebuah warung 24 jam menjadi oase tak terduga. Di sana, aku bertemu seorang dotwatcher bernama Yuri. Ia seperti malaikat kecil dalam gelap, menawarkan sedikit rasa aman di tengah keterasinganku. Aku menghabiskan dua porsi Indomie rebus dan teh panas, mencoba mengisi kembali kalori yang telah terkuras habis.

Aku memejamkan mata tepat 30 menit. Tanpa alarm, tanpa bantuan teknologi, tubuhku yang sudah terlatih secara otomatis terbangun tepat waktu. Sebuah mesin yang, meski rusak di dalam, tetap patuh pada perintah tuannya.

Perjalanan menuju Tumpang adalah definisi dari sunyi yang pekat. Jalanan Malang menipu mata; terlihat lurus dan datar, namun gradiennya menyentuh 10 persen, memaksa paru-paruku bekerja dua kali lipat.

Sesampainya di Tumpang, ketabahanku akhirnya menemui titik jenuh. Dari jarak lima ratus meter, lampu sebuah minimarket memancar terang, kontras dengan pekatnya malam yang mengepungku. Kursi besi di terasnya seolah memiliki suara, memanggilku untuk bersandar sejenak.

Aku berhenti di sana, terduduk dengan tubuh yang menggigil hebat. Hawa dingin Malang menembus hingga ke sumsum tulang. Aku tahu, tantangan yang lebih besar—tanjakan Jemplang yang legendaris itu—sudah menungguku saat subuh nanti. Namun untuk saat ini, di bawah lampu neon yang dingin, aku hanya ingin membiarkan rumah hampa ini beristirahat, sebelum ia kembali dipaksa menjadi besi yang tak boleh tumbang.

“Kenapa Malang dingin banget, sih?” keluhku pada kegelapan. Aku hanya sedang mencari alasan, mencoba membenarkan keputusan untuk meringkuk di atas kursi besi minimarket yang beku.

Jam menunjukkan pukul tiga pagi. Dinginnya Malang bukan lagi sekadar suhu, ia telah berubah menjadi jarum-jarum halus yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Kutata dua kursi besi agar berhadapan, mencoba menciptakan tempat tidur darurat di teras yang sunyi.

“Selamat tidur, Sep,” bisikku pada diri sendiri. “Iya,” jawabku segera.

Jangan heran. Percakapan ini adalah bensin bagi kewarasanku. Ribuan kilometer sejak dilepaskan di Carita, aku telah menjadi teman bicara bagi diriku sendiri. Bertanya, lalu menjawab seketika. Aku harus memastikan fungsi otak dan mulutku tidak mati membeku dalam kesunyian yang kuciptakan.

Namun di tengah gigil itu, sebuah lubang hampa menganga di dadaku. Aku membayangkan: seperti apa rasanya dipeluk saat kedinginan menghadang? Jika aku bisa menjawab pertanyaanku sendiri, mengapa aku tak bisa memeluk diriku sendiri? Mengapa aku selalu bisa menjadi penasihat yang bijak saat ceroboh, namun gagal menjadi pelindung yang hangat bagi raga yang gemetar ini? Pada siapa aku harus meminta pelukan itu?

Di cakrawala, Puncak Jemplang berdiri angkuh, seolah-olah ia adalah penguasa tunggal jajaran rute selatan Pulau Jawa. Jaraknya dari Tumpang sebenarnya hanya dua puluh empat kilometer—angka yang remeh di atas kertas, namun ia meminta "tebusan" yang mahal. Bagiku, seorang pesepeda yang kerap dijuluki "Kuda Betina", jarak pendek itu kini terasa seperti ekspedisi menuju bulan. Tenagaku terkikis, menyisakan ampas yang nyaris habis.

Aku teringat desa-desa yang tadi kulewati. Dulu, aku menaklukkannya tanpa perlu turun dari sepeda. Namun hari ini, semesta punya rencana lain. Entah karena tubuhku yang mencapai titik nadir, atau karena mekanisme sepeda yang mulai memberontak. Pedal terasa membatu, berat, dan enggan berputar.

“Ada drama apalagi ini?” gerutuku pedas.

Aku menepi, menatap rantai sepeda yang mulai kecokelatan. Karat itu muncul setelah berkali-kali dihantam hujan deras di sepanjang perjalanan. Sialnya, aku lupa membawa chain lube. Rantai itu kering kerontang, persis seperti tenggorokanku yang terasa terbakar. Namun, aku masih punya sepasang kaki. Selama kaki ini belum lumpuh, aku akan terus bergerak—berjalan, menyeret langkah, sesekali berlari kecil sambil mendorong beban sepeda ini menanjak.

Langkahku terhenti di sebuah lapang luas yang mendadak disiram cahaya keemasan. Matahari pagi menyembur dari balik perbukitan. Aku berhenti, memejamkan mata, dan membiarkan sinar itu menyentuh kulitku yang pucat.

Rasanya seperti pelukan dari alam semesta. Hangat. Perlahan, gigil yang menyiksa sejak semalam mulai memudar.

Aku menarik napas dalam-dalam, mensyukuri oksigen tipis yang masuk ke paru-paru. Targetku jelas: pukul dua siang aku harus sudah di puncak. Jika terlambat, "badai kabut" akan turun tanpa ampun, membutakan pandangan, dan membekukan jari-jariku hingga kram. Di jalur menurun menuju Senduro nanti, jari yang kaku adalah maut.

Tibalah aku di persimpangan itu. Sebuah papan kayu bertuliskan JARAK IJO menyambut dengan nada mengancam. Inilah tanjakan paling sadis yang pernah kutemui. Jalan meliuk ke kanan dan kiri tanpa satu pun bonus turunan.

Siang mulai datang dengan terik yang menipu, karena angin dingin tetap menusuk tulang. Di sini, Jemplang seolah sedang menghukum para pesepeda. Ia tidak hanya menguji kekuatan otot quadriceps, tapi merayu nurani untuk menyerah. Setiap kayuhan bukan lagi soal kecepatan, melainkan upaya menjaga iman agar tidak runtuh di tanjakan yang tegak lurus.

Enam kilometer tersisa. Angka itu mendadak menjelma menjadi tembok raksasa yang mustahil dipanjat. Ragaku melakukan aksi mogok total.

“Aku lelah, ayo kita istirahat,” rintih ragaku pada jiwa.

Kali ini, pertahananku jebol. Jiwa dan ragaku sepakat untuk menyerah sejenak. Aku butuh sandaran. Aku butuh sesuatu untuk menopang beban yang tak tertahankan ini.

Di tengah keputusasaan itu, aku melihatnya: Sebatang pohon di Ngadas. Ia berdiri diam di pinggir jalur yang sunyi. Megah dalam kesederhanaannya. Tanpa pikir panjang, kusandarkan sepeda dan kurengkuh batang pohon itu. Kulit kayunya kasar dan dingin, namun terasa begitu kokoh. Aku memeluk pohon itu seolah ia adalah satu-satunya pelampung di tengah samudra yang ganas.

Dalam keheningan Ngadas, keajaiban kecil terjadi. Pohon itu seolah mengalirkan energi purba langsung ke dalam dadaku yang sesak. Ia tidak menghakimiku karena aku lambat. Ia tidak menanyakan catatan waktu atau stempel di kartu kendaliku. Ia hanya menerima seluruh beban yang kutitipkan pada batangnya.

Sebuah pemahaman baru meresap. Aku tidak selalu butuh pelukan manusia untuk merasa utuh. Kuhirup aroma tanah dan embun dalam-dalam. Aku tersadar bahwa tubuh ini hanya sedang lelah, bukan menyerah. Dengan sisa energi yang kupinjam dari alam, aku kembali menaiki sadel. Puncak Jemplang mungkin masih tinggi dan angkuh, tapi kutahu, aku tidak lagi mendaki sendirian.

 

 


 


 

DAUN JEMPLANG MENDENGAR

"Sebentar lagi sampai... sebentar lagi sampai."

Kalimat itu kuulang-ulang seperti mantra, sebuah upaya putus asa untuk menenangkan badai di dalam dada. Namun, bukannya mereda, degup jantungku justru kian liar. Kaki-kakiku mulai gemetar hebat, otot-ototnya seolah memprotes beban tubuh dan bobot sepeda yang terasa kian menindas. Di depan, kabut turun dengan angkuh, menyelimuti aspal dan melahap jarak pandang. Hatiku kalut. Di tengah kelelahan yang luar biasa, pikiran-pikiran buruk mulai merayap, mengisi setiap celah kewarasan yang tersisa.

"Jangan sampai aku mengulangi kejadian di Gantasan," bisikku ngeri. Suaraku hilang ditelan angin.

Seketika, memori menyeretku paksa kembali ke malam jahanam setahun yang lalu. Saat itu, aku adalah peserta Race Around Java. Aku yang naif, mengira gunung hanyalah hamparan hijau estetik yang menawarkan keindahan tanpa ancaman. Aku datang hanya dengan modal nekat, tanpa jaket gunung yang tebal, tanpa tenda, tanpa pelindung yang layak. Dan di Rest Area Gantasan, alam memutuskan untuk menanggalkan topeng ramahnya.

Itu adalah kali pertama aku mendaki jalur menuju Paltuding dengan sepeda, membelah rute Banyuwangi menuju Bondowoso. Aku memutuskan berhenti di Gantasan saat gelap mulai pekat, berharap bisa berlindung di salah satu warung yang buka hanya sampai sore. Setelah mendapat izin pemiliknya, aku bersiap bermalam di sana, menunggu fajar agar bisa melanjutkan perjalanan ke Paltuding Ijen.

Fasilitasnya cukup mewah bagi seorang pesepeda, ada Wi-Fi dan aliran listrik. Namun, peringatan sang pemilik warung membekas di kepala, "Hati-hati sama anjing hutan, mereka suka mencuri barang-barang."

Maka, kususun bangku-bangku kayu sebagai barikade darurat. Aku menyiapkan "tempat tidur" beralaskan sleeping bag thermal tipis. Kumatikan lampu sepeda, berusaha lenyap dalam senyap. Pikiranku saat itu hanya dua, waspada terhadap begal dan menghindari anjing hutan. Aku merasa persembunyianku sudah sempurna.

Namun, alam memiliki rencana lain. Suhu merosot tajam hingga menyentuh 6°C. Di tengah kegelapan yang membeku, aku terjebak. Angin gunung yang tajam mulai menyayat kulitku yang hanya dibalut pakaian tipis. Aku merasakan kematian mendekat dalam wujud dingin yang brutal. Dingin yang awalnya menusuk tulang, lalu perlahan bermutasi menjadi rasa panas yang membakar di seluruh lapisan kulit—sebuah ironi dari gejala hipotermia. Tubuhku membeku. Seluruh indera perabaku mati rasa.

Tak ada begal. Tak ada anjing hutan. Yang ada hanyalah dingin yang mencekam.

Di atas bangku kayu yang keras itu, aku hanya memiliki satu senjata yaitu doa. Kulantunkan permohonan keselamatan berkali-kali, memohon agar jantungku tidak menyerah sebelum matahari terbit. "Apa aku akan mati di sini?" tanyaku dalam igauan gigil.

Tidak! Aku tidak boleh kalah sesederhana ini.

Dengan tangan yang kaku, kuraih ponsel. Baterai masih tersisa sedikit. Aku mencari "Polsek Licin" di mesin pencari. Ada hasilnya, tapi nihil nomor telepon. Putus asa, aku mengirim pesan terakhir kepada ibuku.

'Buk, doakan aku selamat ya.'

Tak lama, balasan masuk, 'Pasti. Kudoakan kamu selamat.'

Pesan itu memberiku sedikit oksigen mental, meski sepuluh jariku kini sudah memanas dan tak bisa digerakkan. Sisa kewarasanku berteriak: Cari api!

Aku merangkak mengumpulkan sampah, daun kering, dan bilah bambu dari dinding gedhek warung. Kunyalakan korek. Api kecil muncul, menari sebentar, lalu mati diembus angin. Aku mencoba lagi, mengumpulkan daun lebih banyak, lalu—Bruuukk!—aku menumpahkannya terlalu banyak karena panik. Api itu padam total.

Aku menyerah pada diri sendiri dan menghubungi seorang teman di Banyuwangi. Ia bersedia menyusul, tapi perjalanannya butuh satu jam. Satu jam di suhu ini terasa seperti satu keabadian. "Tuhan, berikan bantuan-Mu..."

Tiba-tiba, sebuah mobil sedan melaju cepat dari arah atas dan berhenti mendadak di depan warung. Lampunya mati. Tak ada suara. Kutunggu beberapa detik, tapi tak ada orang yang keluar. Di dalam kabin yang gelap, aku bisa melihat dua siluet manusia yang mematung.

Persetan dengan begal. Aku lebih takut pada dingin daripada manusia.

Kuketuk kaca mobilnya dengan keras. Ketika kaca terbuka, wajah dua pemuda di dalamnya tampak pucat pasi. Mereka ketakutan—mungkin mengira aku adalah penghuni gunung yang tidak ramah. Aku tidak memberi mereka waktu untuk berpikir.

"Bisa bikin api unggun, Mas?" pintaku, lebih mirip perintah yang putus asa.

"Bi... bisa, Kak," sahut salah satunya gemetar.

Mereka keluar dan segera mengumpulkan kayu. Begitu api menyala stabil dan memberikan kehangatan yang menyelamatkan nyawaku, barulah aku bertanya mengapa mereka berhenti.

"Tidak tahu, Kak, tiba-tiba mobilnya mogok. Kami cuma mau lewat."

Mogok yang ajaib. Tak lama setelah mereka pamit melanjutkan perjalanan karena mobil tiba-tiba bisa menyala kembali, temanku datang membawa tenda dan kompor camping.

Malam itu, di bawah bayang-bayang Gantasan, aku belajar satu hal, terkadang Tuhan mengirimkan bantuan melalui hal-hal yang paling tidak masuk akal, agar kita tahu bahwa kita tidak pernah benar-benar sendirian di jalanan yang sunyi.

Kini, waktu sudah merangkak melewati pukul sebelas siang. Di ufuk sana, langit Jemplang tak lagi bersahabat. Rintik hujan mulai turun satu-satu, membawa aroma tanah basah dan kecemasan yang menyesak. Dari arah puncak Jemplang, beberapa pengendara motor melintas dengan jas hujan yang sudah basah kuyup. Melihat mereka, hatiku menciut. Tanpa hujan pun, siang terik di ketinggian ini sanggup menusuk tulang dengan suhu dinginnya. Bagaimana jika langit benar-benar tumpah?

“Pak, di atas hujan ya?” tanyaku pada seorang pengemudi yang menepi di seberang jalan.

“Iya, Mbak. Sudah gerimis deras,” jawabnya singkat sembari membenahi posisi jas hujannya.

Jawaban itu terasa seperti vonis mati. Jika hujan turun sekarang, aku akan terjebak dalam repetisi kengerian, suhu enam derajat Celsius yang pernah hampir merenggut kesadaranku. Tubuhku meronta, otot-otot kakiku menjerit meminta jeda, sementara mataku liar menyisir setiap kelokan jalan. Aku mencari satu penanda keramat yaitu ‘sebuah kaca cembung jalan’ yang penuh coretan stiker vandalisme. Bagiku, kaca kotor itu bukan sekadar alat bantu lalu lintas, ia adalah gerbang suci yang menandai berakhirnya hukuman tanjakan ini.

“Pasti di depan sudah ada kacanya...” bisikku penuh harap.

Namun, jalanan hanya menyuguhkan kelokan demi kelokan yang sunyi. Kaca itu tak kunjung tampak.

Langkahku terhenti. Dalam keputusasaan yang sunyi, aku menyerah pada gravitasi. Kusandarkan tubuh yang lunglai bersama sepeda pada tebing tanah di pinggir jalan. Tanaman liar yang tumbuh subur di sana menyambut punggungku. Dinginnya embun dari daun-daun kecil mulai meresap ke balik baju, memberikan sensasi gigil yang asing.

Aku terpaku menatap sehelai daun yang tepat berada di depan mataku.

“Daun, apa benar kau bisa mendengar?” tanyaku lirih, suaraku parau tertelan kabut.

Daun itu diam. Tak ada jawaban, tak ada gerakan. Ia hanya diam dalam kebersahajaannya yang hijau.

“Daun, tolong aku,” rintihku lagi, kali ini dengan air mata yang nyaris jatuh. “Sampaikan pesanku kepada langit. Tolong, jangan turunkan hujan sekarang. Aku pernah hampir mati di Gantasan, jangan biarkan aku kedinginan lagi di sini. Perjalananku masih sangat panjang...”

Aku memejamkan mata, membiarkan keheningan Jemplang mengambil alih kesadaranku. Aku memasrahkan segalanya—napas, detak jantung, dan sisa tenaga yang nyaris nol. Daun itu tetap membisu, namun sebuah keajaiban kecil mulai bersemi di tengah kesunyian.

Beberapa menit berlalu. Rintik yang tadinya mulai menderas tiba-tiba mereda, lalu berhenti sepenuhnya. Awan hitam masih menggantung pekat, kabut pun masih mengepung pandangan, namun hujan seolah tertahan oleh tangan-tangan tak kasat mata di langit.

Ternyata, Daun Jemplang mendengar. Ia tidak bicara, namun ia bekerja dengan caranya yang paling sunyi. Ia menyampaikan pesan si "Kuda Betina" yang rapuh ini langsung ke telinga semesta. Hari itu, jalanku dibuka kembali. Bukan oleh kekuatan otot kakiku, melainkan oleh kebaikan alam yang merestui langkahku agar tak perlu lagi bertaruh nyawa dalam dingin yang mematikan.


 


 

NYADRAN DI LANGIT BROMO

Semua manusia pada akhirnya akan menempuh kepulangan yang sama: kematian. Namun, bagi mereka yang telah lebih dulu melangkah, kematian bukanlah akhir, melainkan perjalanan panjang menuju Sang Pencipta. Di sana, para leluhur menjadi pengembara abadi, dan untaian doa adalah bekal paling murni yang mereka butuhkan agar langkah mereka tak menemui halangan.

Siang itu, di lereng Bromo menuju Puncak Jemplang, langit seolah sedang menahan napas. Rintik hujan tertahan di angkasa, namun kabut tebal mulai menggelayut manja, menemani langkahku membelah tanjakan demi tanjakan. Tiba-tiba, perjalananku terhenti. Bukan oleh letih, melainkan oleh kerumunan warga Suku Tengger yang memenuhi jalanan, menciptakan barisan khidmat yang memanjang menuju pemakaman desa.

Mereka sedang merayakan Nyadran. Sebuah tradisi mengirim bakti, sebuah jembatan rindu bagi mereka yang telah tiada. Tangan-tangan legam para pria dan wanita Tengger membawa nampan berisi sesaji—makanan dan minuman pilihan yang dipersiapkan dengan hati.

Melihat tumpukan buah dan nasi itu, ingatanku terlempar jauh ke meja makan di rumah masa kecil dulu. Aku teringat Ibu. Beliau sering menata makanan dengan sangat rapi, menyalakan sebatang lilin kecil yang cahayanya menari-nari di samping piring sesaji. Suatu kali, dengan kepolosan bocah yang hanya mengerti rasa lapar, aku mencuri sebuah jeruk dari tumpukan itu.

Ibu marah besar. Sebuah kemarahan yang tidak aku mengerti saat itu. “Itu untuk leluhur, bukan untuk kita makan. Hargai leluhurmu!” tegurnya tajam.

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi berani menyentuh jatah para leluhur. Namun, lebih dari sekadar rasa takut, insiden jeruk itu menanamkan sebuah kesadaran dalam benakk, bahwa di dalam rumah kami, anggota keluarga bukan hanya Bapak, Ibu, dan Kakak. Ada sosok-sosok tak kasat mata yang tetap hadir, menjaga, dan melengkapi arti sebuah keluarga.

Ingatan itu membawaku pada sebuah perjumpaan gaib. Aku teringat mbah buyut, nenek dari Bapak. Aku menemuinya dalam mimpi—satu-satunya ruang di mana garis antara yang hidup dan yang mati menjadi samar.

Dalam mimpi itu, waktu seolah berhenti pada jam-jam surup menjelang Maghrib. Aku berdiri mematung di sebuah rumah yang terasa akrab namun asing. Lantainya bukan keramik mengilap seperti yang aku jumpai sehari-hari, melainkan tegel plesteran kusam yang menyimpan jejak dingin. Ruangannya lapang, tanpa sekat triplek, tanpa batas. Di ruang tamu, sofa cokelat tua yang kubeli dengan hasil kerja keras selama ini lenyap, berganti dengan kursi jati kuno yang tak pernah kulihat di dunia nyata.

Di sana, di atas kursi jati itu, duduk seorang perempuan tua. Rambutnya seputih kapas, pipinya kempot, dan kulitnya berkerut seperti peta sejarah yang panjang. Matanya sipit, dan ia mengenakan jarit jumputan yang digambar halus dengan canting dan malam (lilin batik).

Ia bukan tamu. Dari caranya duduk yang begitu tenang, ia adalah pemilik sah rumah itu. Justru aku yang merasa menjadi tamu asing yang tersesat di rumahku sendiri—atau lebih tepatnya, rumah masa lalu, puluhan tahun sebelum aku dilahirkan ke dunia.

Aku tak berani mendekat. Dari kejauhan, kupandangi garis wajahnya. Ada rupa Bapak di sana. Mata sipit itu, bibir tipis itu. Benar, ia adalah akar dari pohon keluargaku. Ketika aku tersentak bangun dan menghampiri sofa cokelat di ruang tamu, ruangan itu kosong. Hanya ada sunyi. Berkali-kali aku mencarinya, namun ia hanya mau singgah di alam mimpi, bukan di dunia yang bising ini.

Lamunanku pecah oleh tetesan air. Udara yang jenuh mulai tumpah menjadi hujan. Kabut turun begitu pekat hingga jalanan di depanku tampak seperti dinding putih yang tak tertembus. Dari arah Puncak Jemplang, iring-iringan Jeep berbaris rapi, lampu kuningnya berusaha keras menikam pedut (kabut) yang menyelimuti pandangan.

Di tengah keputihan itu, warga Tengger mulai berjalan turun dari makam. Mereka mengenakan busana adat, dan anehnya, wajah-wajah mereka memancarkan suka cita yang murni—sebuah ekspresi syukur atas rezeki yang melimpah.

Saat mereka berdesakan melewatiku yang masih terdiam di samping sepeda, aku tertegun. Wajah-wajah itu... rupa-rupa itu terasa sangat tidak asing. Garis pipi, tatapan mata, dan senyum mereka seperti cuplikan mimpi-mimpi yang sering hadir saat mataku terpejam. Mereka seolah menjelma di dunia nyata.

Mereka hidup berdampingan dengan sejarah. Mereka tidak membiarkan masa lalu mati di telan zaman.

Langkah kami berlawanan arah. Mereka turun menuju lembah yang hangat, sementara aku harus terus merayap naik menuju puncak yang dingin. Kami saling menatap di tengah kabut yang memutih. Mereka menebar senyum tulus, dan aku membalasnya dengan binar mata yang sama.

Tiba-tiba, lelah yang aku kumpulkan sepanjang ribuan kilometer bersepeda sendiri menguap begitu saja. Aku merasa melebur dalam energi suka cita mereka. Di tempat kuberdiri, di antara sunyinya lereng Bromo, aku seolah bisa mendengar sorak bahagia para leluhur yang menerima persembahan doa-doa tadi. Aku tidak lagi merasa sendirian. Di tanjakan Puncak Jemplang ini, aku sedang berjalan bersama ribuan doa yang membumbung tinggi, menembus kabut, menuju langit Bromo yang abadi.


 


 

JATI MENARI DI SENDURO

Bakso gerobakan di pelataran Bromo itu sebenarnya sederhana, tak berbeda jauh dengan yang biasa melintas di depan rumahku. Namun sore itu, rasanya melampaui segala hidangan mewah. Mungkin karena lidahku baru saja menuntaskan ribuan kilometer pahitnya aspal sisi selatan Pulau Jawa, atau mungkin Bakso Bromo memang memiliki sisi magis yang mampu menghipnotis relung hati yang lelah.

Aku menghabiskannya dengan tergesa. Berkali-kali kulirik layar ponsel; kabut merayap makin tebal, membawa firasat buruk akan datangnya hujan. Jika langit tumpah sekarang, perjalananku menuju Senduro akan tamat. Aku akan terjebak dalam pelukan dingin Ranu Pani, sementara di depan sana, hutan lebat berlumut yang hening sudah menunggu.

“Alas Burno jalannya sudah bagus, Pak?” tanyaku, mencoba memecah kesunyian.

“Masih banyak lubang, Mbak. Lumutan juga,” jawab penjual itu sambil menutup dandang. Kebulan uap membubung tinggi, mirip letupan kecil gunung berapi yang sedang batuk. “Kemarin hujan jam segini, Mbak. Beberapa hari ini rutin.”

Jawaban itu adalah alarm. Hasrat makanku menguap seketika. Aku meminta sisa baksoku dibungkus plastik dan segera bergegas. Penjual itu berpesan agar aku ekstra waspada. Alas Burno bukan sekadar hutan; ia adalah labirin lubang dan lumut yang licin.

Alas Burno adalah urat nadi yang menghubungkan Ranu Pani dengan Senduro. Jalannya turun berkelok-kelok panjang dengan jebakan lubang di setiap tikungan curam. Tangan kanan dan kiriku bergantian menarik rem, menjaga keseimbangan agar tidak terlempar saat berpapasan dengan kendaraan besar dari arah bawah. Udara begitu menggigit hingga jemariku kram. Setiap beberapa kilometer, aku terpaksa berhenti hanya untuk menepukkan tangan, meregangkan otot yang kaku. Lengah sedikit saja, jurang di sisi jalan siap menjadi peristirahatan terakhir.

Setelah melewati puncak Jemplang, ujian belum berakhir. Perjalanan menuju Ranu Pani masih menyajikan rollingan tanjakan yang menguras sisa tenaga. Hingga akhirnya, gapura Desa Ranu Pani menyambut. Tak ada lagi tanjakan, namun jalanan berubah sempit, berlubang, dan semakin menurun.

Di sebelah kiri, Danau Ranu Pani bersolek dengan tenda-tenda warna-warni di tepiannya. Tempat pelarian bagi mereka yang muak dengan rutinitas. Aku berhenti tepat di depan sebuah bangunan kayu cokelat—check point Ranu Pani. Sepi. Tak ada panitia maupun volunteer. Tempat itu telah kembali ke fungsi aslinya: sebuah rumah makan yang tenang.

Aku duduk di bilah kayu, menyandarkan sepeda, dan mengatur napas. Ada rasa pahit yang harus kutelan; target Cut Off Time (COT) telah melesat pergi. Harapan itu gugur di sini. Aku harus ikhlas.

Sebelum melanjutkan sisa perjalanan menuju Lumajang, aku memeriksa rem kembali. Dari titik ini, jalanan akan terus menurun tanpa bonus datar sedikit pun. Aspal Senduro bukanlah karpet halus, melainkan hamparan lubang berlumut. Menghindari lubang berarti risiko terpeleset; melawannya berarti risiko terjungkal.

Belum lima kilometer berjalan, keanehan dimulai. Cyclocomp di setang sepedaku berbunyi terus-menerus. Tiitt… tiitt… tiitt…

“Kenapa berisik sekali?” keluhku. Kuhentikan laju sepeda dan menonaktifkan semua notifikasi. Seharusnya alat canggih ini diam membisu sekarang. Namun, begitu roda berputar, bunyi itu kembali memekik nyaring.

“Jangan berisik di tengah hutan yang sunyi! Jangan membangunkan mereka yang sedang tidur!” gertakku pada benda mati itu. Aku mulai kalut. Kupastikan sekali lagi semua pengaturan berada pada posisi OFF. Sia-sia. Nada notifikasi itu tetap ada, menyayat kesunyian Alas Burno.

Layar cyclocomp itu kosong. Tak ada peringatan navigasi, tak ada deteksi tanjakan. Aku diam sejenak, memandangi pohon-pohon raksasa yang menjulang menggapai langit. Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar suara langkah menginjak ranting kering. Krak.

Aku menoleh cepat. Seekor monyet kecil duduk di sana. Ia menatapku dengan sepasang mata cokelat yang dalam. Ia tampak mungil, namun ada sesuatu yang janggal. Ia tidak lari, tidak menyerang; ia hanya diam mengawasiku dengan kesadaran yang terlalu tinggi. Tatapannya kosong, namun menusuk.

“Dia pasti bukan monyet,” bisik logikaku. Ketakutan mulai merambat naik ke tengkuk. Dan di saat yang sama, alat itu kembali berteriak: Tiitt… tiitt… tiitt…

Aku nyaris menyerah pada kegilaan ini. Namun, di tengah kekacauan mental itu, sebuah suara di kepalaku berbisik pelan: “Tetap waras, tetap fokus.”

Aku memutuskan untuk berhenti melawan. Kubiarkan sepeda melaju mengikuti gravitasi. Aku berhenti membenci bunyi itu dan mulai menyesuaikan diri dengan iramanya. Aku melepas kecemasan, membuang semua pikiran buruk, dan mulai beradaptasi—sebagaimana aku terbiasa menerima kegagalan dalam hidup.

Saat aku berhenti menolak dan mulai menerima alam apa adanya, sebuah keajaiban muncul.

Dalam laju sepeda yang berkelok, dunia di sekitarku mulai bermetamorfosis. Pohon-pohon jati yang tadinya diam memasung diri di pinggir jalan, perlahan mulai bergerak. Mereka meliuk, berputar, dan menari mengikuti irama nada dari cyclocomp. Nada dan gerak berpadu selaras, mementaskan sebuah pertunjukan rahasia untuk jiwaku yang lelah.

Aku mengedipkan mata berulang kali. Ini tidak mungkin. Pohon-pohon itu tampak hidup, menari dengan gemulai di tengah rimba. Apakah ini halusinasi karena kelelahan ekstrem? Ataukah kewarasanku telah mati di perjalanan tadi? Namun rasanya begitu nyata. Tangan kananku masih bekerja keras menahan rem, ban sepedaku masih melindas lubang, tapi di mataku, hutan ini sedang berpesta.

Aku sedang menikmati tarian semesta yang hanya dipersembahkan untuk pengembara yang sudah menyerahkan seluruh egonya pada jalanan.

Namun, ketika belokan jalan terasa seperti diulang-ulang, rasa percayaku mulai terkikis kembali. Takut tersesat di dalam lingkaran gaib, aku memutuskan untuk benar-benar berhenti. Di sisi kanan jalan, sebuah warung bambu sederhana tampak berdiri tenang.

Tanpa berpikir panjang, kubelokkan setang. Kusandarkan sepeda dan langsung terbaring di atas lantai bambu yang dingin. Napasku memburu. Aku masih tak percaya dengan apa yang baru saja kusaksikan: sebuah pentas seni pohon jati yang menghibur, namun menyimpan kengerian yang tak sanggup kujelaskan dengan kata-kata. Di Alas Burno, garis antara kenyataan dan mimpi ternyata setipis kabut yang menyelimutinya.

 


 


 

SENYUM LELUHUR DI TANAH TENGGER

Air mata yang sudah membendung di kantung lakrimal tak lagi mampu kutahan. Mereka meluap, tumpah tanpa permisi, seolah kantung itu terlalu kecil untuk menampung duka dan lelah yang telah tersimpan selama puluhan tahun di sana.

Sama halnya dengan ragaku yang tertahan di Senduro. Aku duduk terpaku di warung bambu, memandangi sekeliling dengan tatapan kosong. Di depanku, seorang lelaki duduk diam. Di sebelah kiri, ada seorang lelaki paruh baya yang usianya mungkin sedikit lebih muda dari Bapak.

Aku kehilangan kompas realitas. Batas antara yang nyata dan yang fana telah lebur sejak aku melihat pohon-pohon jati di Alas Burno menari mengejek kesendirianku. Apakah kedua lelaki ini nyata? Ataukah mereka hanyalah proyeksi lain dari hutan jati tadi?

“Ada apa, Mbak?” Bapak di sebelah kiri menyapaku, memecah lamunanku.

“Mmm… Pak, ini daerah mana ya?” aku bertanya balik. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Aku sedang mencari jalan keluar dari kekacauan pikiranku. Aku lupa di mana pintu exit untuk kembali ke dunia nyata.

“Senduro, Mbak. Sampean mau ke mana?” Ia menatapku penuh selidik, mungkin heran melihat seorang pesepeda yang tampak linglung di tengah hutan.

“Ini Lumajang ya, Pak? Saya mau ke Banyuwangi.”

“Ini Senduro, Mbak. Lumajang kota masih jauh…” Ia mulai terlihat enggan berurusan dengan kekacauanku. Lelaki di depanku ikut mencuri pandang, namun segera membuang muka saat mataku memaku matanya.

Dalam kepanikan itu, aku hanya mengingat satu nama. Satu manusia yang bisa kupercaya untuk menarikku kembali ke bumi. Aku menghubunginya dengan tangan gemetar.

“Hei, kenapa?” suaranya terdengar di seberang sana.

“Aku bingung…” bisikku. Aku bercerita tentang pohon jati yang berjalan, tentang aku yang lupa arah, dan tentang rasa rindu rumah yang tiba-tiba menghantam dada. Aku ingin pulang, tapi aku bingung rumah yang mana yang kumaksud.

Dia mendengarkan ocehanku dengan kesabaran yang luar biasa. “Kamu harus tenang. Tarik napas dalam, lalu keluarkan. Ulangi sampai kamu merasa nyaman.”

Dia adalah instruksi yang selalu kupatuhi tanpa ragu. Bagi jiwaku yang seringkali limbung, dia adalah jangkar; satu-satunya sosok yang paling memahami labirin kekacauan yang kerap bertamu di kepalaku. Jika suatu saat seluruh memoriku terhapus, aku yakin hanya namanya yang akan tetap tinggal, terpatri di sudut ingatan yang paling dalam.

Pertemuan dengannya di tahun 2009 terjadi di sebuah ruang yang tidak romantis: Aula Kantor Kecamatan. Saat itu, aku sedang membantu proyek video musik seorang teman. Seorang teman penyiar radio memperkenalkan kami. Singkat, padat, dan tanpa firasat apa pun. Namun, semesta bekerja dengan caranya yang misterius. Enam bulan kemudian, aku berdiri di pelaminan bersamanya.

Keputusanku untuk hidup bersamanya justru mantap saat aku bertemu dengan sosok Papinya.

“Fac, ajak Septi masuk,” suara berat itu memanggil dari dalam rumah.

Nofac—lelaki keturunan Banyuwangi-Manado dengan kulit putih dan tatapan mata cekung warisan maminya—membimbingku masuk. Aku menjabat tangan Papinya, mencoba mencairkan suasana dengan basa-basi yang kikuk. Namun, Papi justru menatapku lama, seolah sedang membaca lembar-lembar takdir di wajahku, lalu tersenyum manis. Di detik itulah, rasa "cocok" itu muncul. Aku bersedia menghabiskan hidup dengan lelaki yang sebenarnya baru sekejap kukenal ini.

Desember 2009 menjadi saksi penyatuan kami. Karena waktu perkenalan yang singkat, kami memacu diskusi tentang rumah tangga layaknya mengejar target. Kami bicara tentang kemungkinan terburuk: kebosanan yang mengintai, ego yang berbenturan, hingga kesalahpahaman yang mungkin mendominasi perdebatan.

Dia yang saat itu memeluk Katolik, memilih menjadi mualaf demi jalan yang kami tempuh. Dengan dua kalimat syahadat, ia resmi memeluk Islam, dan kami pun melangkah menuju pelaminan.

Uniknya, kami baru benar-benar saling mengenal justru setelah menjadi suami-istri. Aku menelanjangi seluruh sisi burukku di hadapannya tanpa sisa. Begitu pun dia. Aku adalah api dengan ego yang seringkali menjulang, sementara dia adalah air yang mampu menyelaraskan segalanya dengan candaan dan sifat mengalahnya yang tulus.

Dalam sembilan tahun perjalanan itu, ia menjelma menjadi apa saja yang kubutuhkan. Dia menjelma menjadi coach saat pikiranku buntu; dia bisa menjadi sosok bapak yang penuh nasihat; dia juga hadir sebagai sahabat yang selalu sedia; dan dia adalah teman minum bir yang paling asyik saat kami hanya ingin "mabuk" berdua di teras rumah, menertawakan lelahnya dunia.

Cinta kami tidak tumbuh dari kata-kata manis. Isi pesan singkat kami bahkan bisa dihitung jari. Tak ada pertanyaan klise seperti "sudah makan belum?". Pesanku hanya berisi satu kata: "Jemput", dan ia akan membalas singkat: "Oke". Aku membenci basa-basi, dan ia memahami bahasa keheninganku.

Yang paling aku kagumi darinya adalah ketenangannya. Sepecah apa pun kapal yang kami tumpangi, dia selalu punya solusi untuk tetap membuatku bertahan di tengah luasnya lautan. Darinya, aku belajar untuk tidak mencemaskan hal-hal yang tidak pasti, lebih bersyukur atas udara yang kuhirup, dan menjaga lisan agar tidak melukai. Dia adalah guru terbaik dalam hidupku.

Namun, keseimbangan sempurna itu akhirnya menemui titik nadirnya setelah sembilan tahun.

“Aku ingin kembali ke Gereja,” ucapnya sore itu, setelah beberapa hari kami terjebak dalam aksi tutup mulut.

Duniaku seolah berhenti berputar. Aku diam seribu bahasa. Aku tahu, kasihnya pada Bunda Maria telah memanggilnya pulang, melampaui sayangnya padaku. Aku menyadari bahwa menahannya hanya akan memenjarakan jiwanya. Aku harus merelakannya agar dia bisa kembali menemukan kedamaian, meski itu berarti aku harus kehilangan separuh nyawaku.

Ini adalah kehilangan paling menyakitkan yang terjadi untuk kedua kalinya—setelah kehilangan Bapak yang pergi selamanya. Kini, aku harus merelakan lelaki yang paling kubutuhkan.

Aku tidak pernah menyesali perpisahan itu, karena dia berhak atas bahagianya. Namun, kadang aku bertanya pada takdir: mengapa kami harus dipertemukan dengan begitu indah jika akhirnya harus dipisahkan oleh keyakinan yang kembali memanggilnya pulang?

Hingga hari ini, rahasia-rahasiaku yang paling kelam tetap tersimpan rapi padanya. Dia tetap menjaganya dengan setia, meski kini kami tak lagi searah. Dia tetap menjadi jangkar yang pernah menahan kapalku agar tidak karam, meski kini dia telah melepaskan sauhnya untuk berlabuh di dermaga yang berbeda.

“Sudah tenang?” tanyanya memecah keheningan yang sempat membeku.

“Iya, sudah lebih baik,” jawabku pelan. Suaraku masih terasa asing di telingaku sendiri.

Lelaki itu—sosok yang dikirim semesta untuk menjagaku di warung bambu itu—perlahan menuntunku pulang menuju "rumah" yang sebenarnya. Bukan rumah dalam bentuk bangunan, melainkan kebenaran tentang mengapa aku bisa terdampar di Senduro dengan pikiran yang kosong melompong.

“Mengapa kamu berada di Senduro?” Pertanyaannya singkat, tapi terasa seperti hantaman keras.

Aku terdiam, menatap nanar ke arah jalanan di luar warung. Ingatanku seperti kepingan puzzle yang berserakan. “Aku tidak tahu. Tadi aku dari Jemplang, makan bakso, lalu melewati pentas tari hutan jati di Hutan Senduro,” jawabku polos, tanpa menyadari betapa janggalnya kalimat itu bagi orang normal.

“Sebelum di Jemplang, kamu di mana?” Ia terus mengejarku, membantuku menyusuri kembali jejak langkah yang hilang.

“Sebelumnya... aku terjebak di kerumunan warga Tengger yang lagi nyadran.” Ingatan mulai merayap naik. Aku ingat bau kemenyan, wajah-wajah ramah, dan kabut tipis yang menyelimuti perbukitan itu beberapa jam lalu.

“Lalu, sebelum itu?”

“Semalam... aku di Indomaret Tumpang. Tidur di kursi besi, kedinginan sampai ke tulang. Sebelum itu, aku di Malang, makan dua porsi Indomie bersama Yuri. Sebelumnya lagi di Blitar. Dan kemarin malamnya... aku di Trenggalek.”

Aku menceritakan kisah mundur itu dengan detail yang menyakitkan. Aku terdiam lama. Lelaki itu menunggu dengan sabar, menantikan saat di mana kesadaranku akhirnya "mendarat" kembali ke bumi.

“Astaga!” Aku terlonjak. Jantungku berdegup kencang saat tabir itu tersingkap.

“Sudah ingat kalau kamu sedang ikut Bentang Jawa?” tanyanya pelan.

Seketika, tangisku pecah. Aku menangis sejadi-jadinya, bukan karena sedih, tapi karena ngeri sekaligus takjub. Bagaimana mungkin aku bisa sekejap lupa pada perjuangan menempuh ribuan kilometer ini? Bagaimana mungkin memoriku bisa ter-reset hingga aku merasa hanya seorang pengembara tanpa tujuan?

“Iya... aku kan ikut Bentang Jawa,” sahutku datar, masih dalam sisa-sisa kejutan.

“Sekarang, kembali ke tujuanmu yang sebenarnya. Apa tujuanmu ikut ini?”

Aku mengusap air mata, mencoba menemukan kembali api yang kunyalakan sebelum berangkat dari sisi barat Jawa. “Aku mau menulis buku tentang perjalanan bersepeda. Tentang kehidupan... dan alam semesta.”

Lelaki itu tersenyum tipis. “Kamu sadar tidak? Alam semesta sudah memberikan apa yang kamu inginkan.”

Tangisku meledak kembali. Kalimat itu menghujam tepat di ulu hati. Aku menyadari betapa baiknya alam semesta membimbingku. Jika tujuanku ikut Bentang Jawa hanya untuk menjadi pemenang yang sampai paling cepat, barangkali aku takkan pernah benar-benar "bertemu" angin di Pracimantoro. Takkan ada "tuyul" yang mengajakku petak umpet di Hutan Panggang. Telinga daun di Jemplang takkan sempat mendengarkan keluhku, dan pohon jati di Senduro takkan menari untukku.

Aku tidak sedang berlomba dengan waktu; aku sedang bercakap-cakap dengan bumi.

“Sebaiknya kamu tidur malam ini di hotel. Tenangkan pikiran dan tubuhmu. Kamu lelah, tapi jangan menyerah,” ucapnya menenangkan.

Malam mulai menjemput dengan pekatnya. Aku memutuskan untuk menyerah pada rasa lelah, membiarkan tubuhku terkapar di atas kasur hotel yang dingin. Tak ada lagi perjalanan tengah malam yang menjanjikan ketenangan semu. Aku butuh tidur untuk menyeimbangkan kembali timbangan pikiranku yang sempat miring.

Tubuh "Kuda Betina" ini memang lelah, tapi ia masih punya sisa tenaga untuk berlari. Namun, justru hati dan pikiran yang saling kejar-kejaran inilah yang sebenarnya membuatku tumbang.

Di ambang kantuk, ucapan lelaki itu kembali terngiang: “Alam semesta memberikan apa yang kamu inginkan.”

Lalu, apa yang sebenarnya aku inginkan?

Mungkin aku hanya ingin lari. Lari dari rutinitas yang mendikte hidup; dari aroma kopi yang selalu datang di jam-jam yang kaku, dari angka-angka di layar monitor yang mencambuk mata lelahku menuju penuaan, dan dari nyeri leher yang menjadi teman setia menjelang tidur.

Inilah alasanku melakukan perjalanan gila ini. Melintasi bentangan Pulau Jawa sisi selatan hanya dengan kekuatan kaki. Aku ingin berkenalan dengan seluruh penghuninya—semua yang melekat pada rahim bumi ini. Aku ingin mengosongkan cangkir pikiranku dari gangguan duniawi dan menyerap energi semesta dengan tangan terbuka.

Dan ternyata, ia benar. Alam semesta telah menyambut kedatanganku. Ia menjawab seluruh ragu yang pernah kupunya dengan cara yang paling ajaib. Angin bisa meniupkan pesan, daun bisa mendengar doa, pohon bisa memberikan pelukan, dan para leluhur menyapaku lewat senyum warga Tengger. Bahkan pohon jati pun menari, merayakan kehadiranku di dunia mereka.

Alam tidak pernah diam. Mereka hidup dalam gelombang frekuensi yang berbeda, di sisi lain dunia yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang sudah cukup berani untuk menjadi "gila". Dan di malam itu, di sebuah hotel di Lumajang, aku menyadari bahwa aku bukan lagi Septi yang sekadar bersepeda, tapi aku adalah bagian dari tarian alam itu sendiri.

 


 


 

TITIK TEMU LUMAJANG

Jika otak manusia adalah sebuah ruang arsip, maka milikku adalah pengarsip yang paling kejam. Ia selektif. Ia hanya menyimpan sesuatu yang menonjol; jika bukan kenangan yang paling indah, pasti yang paling buruk. Selebihnya? Hanyalah residu yang dibuang ke tempat sampah ingatan.

Setelah pikiran dan pandanganku sempat dikacaukan oleh halusinasi pohon jati yang menari di Hutan Senduro, aku akhirnya menyerah pada fisik. Aku terbangun di atas kasur hotel di Lumajang. Dinginnya AC dan hangatnya selimut menjadi kemewahan yang kontras setelah berhari-hari dihantam cuaca ekstrem. Kedua kakiku terasa lumpuh, luka-luka lecet di tubuhku akhirnya bisa bernapas.

Hanya lima jam aku terlelap, namun memoriku melakukan perjalanan waktu hampir tiga dekade ke belakang. Bapak hadir kembali, bukan sebagai luka yang berdarah, melainkan sebagai memori baik.

Seiring bertambahnya usia, ruang kenangan ini kian menyempit. Seringkali aku berandai ada tombol Ctrl+A lalu Delete untuk membersihkan sisa-sisa trauma yang menyesakkan dada. Dan jika tombol itu nyata, memori bersama Bapak adalah urutan pertama yang ingin kulenyapkan.

Bapak adalah arsitek yang menciptakan karakter "monster kecil" dalam diriku. Sejak usia dua belas tahun, duniaku tidak dibentuk oleh dongeng sebelum tidur, melainkan oleh tekanan, makian, dan pukulan. Hal-hal itu membangun dinding pertahanan yang kaku di dalam jiwaku. Aku membenci keadaan yang membuat Bapak menjadi monster besar, dan aku terpaksa menjadi monster kecilnya demi bisa bertahan hidup.

Dulu, aku sering mempertanyakan: apakah hidup ini sebuah anugerah, atau sekadar segumpal tanah liat yang bentuknya ditentukan oleh tangan dingin siapa yang meremasnya?

Kehidupanku dibentuk oleh tangan dingin Bapak. Ia tidak menginginkan anak perempuan yang lembut. Ia ingin aku menjadi manusia yang tidak boleh punya celah untuk lemah. Ia mengajariku melihat dunia sebagai medan perang dan manusia sebagai ancaman.

"Jangan percaya siapa pun. Semua manusia adalah penipu. Tak ada yang menolongmu selain dirimu sendiri. Dalam hidup hanya ada dua peran: pelaku atau korban. Pilihlah menjadi pelaku."

Kalimat itu adalah doktrin yang ia jejalkan setiap hari. Saat aku masih SMP, aku hanya ingin diterima oleh teman-temanku, ingin merasa normal. Aku memprotesnya dalam diam. Bahkan, dalam gelapnya malam, aku pernah mengetuk pintu langit, memohon agar Tuhan mencabut nyawanya lebih cepat agar aku bisa bernapas lega di bumi ini. Begitu pekat kebencian itu.

Namun kini, dua puluh delapan tahun kemudian, di tengah badai kehidupan yang jauh lebih bengis dari cerita-cerita Bapak, aku tersungkur pada sebuah kesadaran yang pedih.

“Bapak… ternyata aku perlu menjadi monster sepertimu untuk tetap berdiri menghadapi badai ini.”

Di saat raga nyaris menyerah, aku justru merindukan kehadirannya. Aku ingin memberitahunya bahwa semua peringatannya benar. Cara mendidiknya yang dulu kuanggap siksaan, ternyata adalah bekal paling krusial untuk menghadapi kedewasaanku yang keras. Aku tak bisa membayangkan jika aku bukan anak Bapak; mungkin aku sudah memilih bunuh diri saat dihina sebagai "Si Penjual Togel," atau mungkin aku langsung masuk UGD saat harus bertahan hidup dengan telur busuk dan nasi putih.

Aku tetap hidup hari ini karena caramu mengubah pola pikirku terhadap dunia. Saat aku berpikir untuk menyerah untuk kesekian kalinya, aku selalu mengingat rupa "monster" yang melekat dalam aura Bapak. Dan seketika, mentalitasku bergeser: aku tidak akan membiarkan diriku kalah.

Ternyata, kaulah yang paling aku rindukan saat ini, Pak. Penyesalan itu datang menghujam karena aku tak pernah mengucapkan satu pun kata ‘Terima Kasih’ saat kau masih ada. Aku justru menyumpahimu mati.

“Anak macam apa aku ini?” gumamku pedih.

Bapak kini sudah tertidur nyenyak di dalam keabadian tanah. Namun, ajarannya menggema di setiap kayuhan sepedaku melintasi ribuan kilometer pulau Jawa. Maafkan aku, Bapak, karena dulu mendoakan kematianmu. Aku bodoh. Ternyata, kau sedang mempersiapkanku untuk perjalanan panjang ini.

Aku berhenti membencimu, Pak. Kamulah yang mencetak kepribadian ini hingga aku berani berada di Lumajang seorang diri, bertarung dalam pacuan melawan ketakutan yang tak kasat mata. Aku bukan lagi Kuda Betina yang lemah. Aku adalah monster kuat yang kau buat—yang tetap tenang meski ditinggalkan oleh perhatian duniawi.

“Aku kuat, dan aku akan menyelesaikannya.”

Pukul enam pagi, Kuda Betina siap kembali ke jalur. Meski bagi peserta lain pacuan mungkin sudah berakhir kemarin, bagiku perjalanan ini adalah tentang menuntaskan janji pada diri sendiri.

Di lobi, seorang lelaki tua sebaya Bapak memanggilku. Ada keriput di sudut matanya yang tampak familiar. “Come here, sit down with me,” ucapnya. “Hai Pak, mau kopi?” tawarku. “Arep nengdi kowe?” (Mau ke mana kamu?)

Aku terperanjat. Ia adalah Pak Marto, warga negara Suriname keturunan Jawa Tengah yang sedang pulang kampung bersama putrinya, Michelle. Mendengar ia berbicara bahasa Jawa di tengah sapaan bahasa Inggrisnya membuat hatiku menghangat.

Di Lumajang ini, aku menemukan irisan memori buruk yang telah tumbuh menjadi memori baik. Kisah Pak Marto adalah cermin bahwa hidup memang memiliki dua sisi yang tak terpisahkan: hitam dan putih, benci dan rindu. Kebaikan muncul untuk menggantikan yang buruk, dan keburukan ada untuk memberi pengakuan pada kebaikan.

Mesin waktu di kepalaku akhirnya berhenti berputar. Aku berangkat dari Lumajang dengan hati yang utuh. Bukan lagi sebagai anak yang terluka, tapi sebagai pejuang yang telah berdamai dengan bayang-bayang ayahnya sendiri.

Laju sepedaku kini bukan lagi pelarian, melainkan sebuah persembahan.


 


 

PENJAGA MALAM DI LABIRIN GUMITIR

Selepas Jember, jalanan mulai menyempit dan menanjak kembali. Aku tahu ini adalah "ujian kelayakan" terakhir sebelum aku diizinkan menginjakkan kaki di tanah Blambangan. Kali ini, takdir tak membawaku lewat jalur aspal mulus seperti biasanya. Rute perjalanan dibelokkan ke kanan, memaksaku memasuki jantung Kebun Kopi Gumitir di Desa Sidomulyo.

Jalanan berubah menjadi barisan bebatuan kasar yang dikepung rapat oleh barisan pohon kopi. Jalur setapak yang seharusnya sunyi ini mendadak riuh oleh kendaraan besar dan deru motor, karena jalur utama penghubung Jember-Banyuwangi sedang diperbaiki. Namun, keriuhan itu hanya sesaat. Begitu azan Maghrib berkumandang dan hari meredup menjadi gelap, suasana berubah total. Suara mesin menjauh, dan aku tertinggal dalam kesunyian yang ganjil. Sesekali jalanan benar-benar senyap, seolah semesta sedang menahan napas.

Tanpa penerangan jalan, aku hanya mengandalkan nyala lampu kecil di sepedaku untuk membelah kegelapan bebatuan. Beberapa kali kujumpai turunan tajam berbatu yang mengancam keseimbangan. Dalam kondisi lelah yang luar biasa, aku tahu lepas kendali sedikit saja berarti celaka. Aku memilih untuk tidak berjudi dengan nyawa; kuturunkan kaki, lalu berjalan sambil mendorong sepedaku selangkah demi selangkah demi keselamatan.

Setelah berjalan beberapa kilometer dalam dekapan sunyi, sebuah bayangan raksasa muncul di depanku. Berdiri kokoh di tengah rimba hijau, Pabrik Kebun Kopi Gumitir menampakkan wujudnya—sebuah bangunan tua yang sangat besar dengan aroma yang bercampur antara wangi kopi ranum dan hawa lembap dari pepohonan purba. Pabrik itu seperti monumen bisu yang menyimpan sejarah panjang di kawasan Silo.

Tak jauh dari sana, tersebar rumah-rumah warga yang sangat sederhana. Lampu neon remang-remang di teras rumah menjadi satu-satunya tanda kehidupan, namun aku tak melihat seorang pun penghuninya. Padahal malam belum larut, tapi kenapa suasana sudah sepahit kopi tanpa gula? Sepi sekali.

Aku memutuskan berhenti saat mataku menangkap cahaya dari sebuah bangunan. Di depannya, beberapa lelaki sedang sibuk mengitari sebuah motor yang sedang diperbaiki.

“Warungnya masih buka, Mas? Mau pesan kopi saget (bisa)?” tanyaku, membuyarkan konsentrasi mereka.

Niki sanes warung kopi, Mbak. Niki pos kampling. Tapi wonten kopi, kulo damelke kopi, Mbak…” (Ini bukan warung kopi, Mbak. Ini pos kampling. Tapi ada kopi, saya buatkan ya, Mbak...) sahut salah satu dari mereka dengan keramahan yang tulus.

Aku tersipu, merasa sungkan karena telah mengira pos penjagaan sebagai warung. Namun, di sanalah keajaiban perjalanan ini kembali hadir. Di tengah perkampungan Kebun Kopi Gumitir, aku duduk menikmati suasana malam bersama manusia-manusia baru yang sudi berbagi. Aku sudah benar-benar lupa ini hari apa, atau sudah berapa lama aku terlambat mencapai garis finish. Di pos kampling itu, suasana menjadi gayeng (hangat dan akrab). Rasa cemas yang membuntutiku sejak tadi menguap bersama uap kopi.

“Jalan keluar Kebun Kopi Gumitir ini masih jauh nggak, Mas?” tanyaku sebelum berpamitan.

Mboten, Mbak. Nanti sampeyan terus saja, sampai ketemu gapura besar setelah terowongan Mrawan. Itu sudah jalan raya.”

Nggih, matur suwun, Mas. Kopinya berapa?” tanyaku sambil merogoh saku.

Niki gratis, Mbak. Mboten usah mbayar.

Aku tersenyum malu sekaligus terharu menerima kebaikan sederhana itu. Aku melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya di depan mataku berdiri sebuah gapura besar yang tampak seperti peninggalan zaman penjajahan Belanda. Kokoh, tak terawat, sunyi, dan sedikit mencekam di bawah sisa-sisa cahaya lampu sepedaku. Namun, aku tak lagi takut. Kopi dari pos kampling tadi telah menghangatkan nyaliku untuk menuntaskan sisa kilometer menuju gerbang Blambangan.

Sepeda melaju tanpa perlu kukayuh. Gravitasi mengambil alih tugas kaki yang sudah hampir kehilangan rasa, membiarkanku meluncur membelah jalanan menurun yang syahdu. Malam itu, pandangan memang terbatas—seolah dunia hanya seluas jangkauan lampu depan sepedaku—namun aku tak merasa buta. Aku merasa justru sedang melihat segalanya dengan lebih jernih.

Jalur utama penghubung Jember dan Banyuwangi sedang dalam perbaikan. Tak ada raungan mesin truk-truk raksasa atau sorot lampu bus yang biasanya mendominasi jalur ini. Sunyi. Hanya ada aku, gesekan ban dengan aspal, dan angin malam yang membelai wajah.

Aku meninggalkan lereng Gumitir dengan perasaan lega yang tak terlukiskan. Selama melintasi sisi selatan Pulau Jawa, aku tidak hanya bertarung dengan tanjakan, tapi juga dengan diri sendiri. Kebencian, keresahan, dan ganjalan yang selama ini kupendam rapat-rapat, perlahan terurai satu per satu. Alam semesta seperti sedang melakukan pembedahan spiritual padaku; menyakitkan di awal, namun menyisakan ruang kosong yang damai di akhir.

Meski garis finish di Banyuwangi sudah di pelupuk mata, aku tak merasa ingin terburu-buru. Bagiku, perjalanan ini sudah selesai di dalam kepala, tinggal menyelesaikannya secara fisik. Di sebuah sudut jalan, dari kejauhan kulihat cahaya kecil yang merayu. Sebuah gerobak angkringan sederhana dengan penerangan lampu minyak (teplok) berdiri sendirian. Tanpa pikir panjang, aku mengarahkan setang ke sana.

"Kopi cangkir satu ya, Mas," pesanku.

Kepulan asap dari cangkir yang disodorkan sang penjaga angkringan terlihat menari-nari. Pikiranku melayang kembali ke kabut tebal di Jemplang kemarin siang. Aku tertawa getir dalam hati, teringat bagaimana aku sempat kehilangan arah dan memori sesaat setelah turun dari kelebatan Hutan Senduro.

"Mau ke mana, Mbak? Kok malam-malam sepedahan?" Mas penjaga warung memecah kesunyian. Matanya menatapku penuh selidik namun ramah.

"Saya asli Madiun, Mas. Ini mau ke Banyuwangi," jawabku pelan. Aku sudah hafal reaksi apa yang akan muncul setelah ini.

"Waduh... jauh sekali sepedahannya?" serunya tak percaya.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman tipis, lalu menyesap kopi panas itu. Pahit dan hangatnya turun ke kerongkongan, memberi tenaga baru. Saat itulah ponselku bergetar. Sebuah pesan dari Pak Heru, rekan peserta Bentang Jawa yang sudah menyelesaikan perjuangannya kemarin.

Belum sempat jempolku mengetik balasan, ponselku berdering.

"Halo, Pak Heru. Ada apa?" tanyaku.

"Mbak Septi sudah sampai mana? Saya ini masih di Banyuwangi. Saya tunggu di finish, ya!" Suaranya terdengar begitu bersemangat di seberang sana.

Detik itu juga, pertahananku runtuh. Tenggorokanku tercekat, dan rasa haru yang hebat menggumpal di dada hingga memaksa air mata meleleh. Aku yang sepanjang jalan merasa sendirian, aku yang merasa tak ada lagi yang mempedulikan kehadiranku, ternyata salah besar.

"Tenang Mbak Septi, di sini ada Mas Pandu dan Jojo Maliq juga. Kami semua menunggumu di Hotel Blambangan."

Kalimat itu adalah "kayuhan" terakhir yang kubutuhkan. Rasa haru berubah menjadi energi yang meledak. Aku segera menghabiskan kopiku, berpamitan pada Mas penjaga angkringan yang masih keheranan, dan kembali naik ke atas sadel.

Aku tak lagi sekadar meluncur mengikuti gravitasi. Aku mengayuh dengan seluruh sisa tenaga yang ada. Bukan karena ingin cepat usai, tapi karena aku tahu, di ujung jalan sana, ada sebuah keluarga baru yang sedang menantiku pulang.



 



 

GANDRUNG : KEPULANGAN DI UJUNG BLAMBANGAN

Aku menatap lirikan mata patung penari Gandrung yang tajam, sebuah tatapan yang kini tak lagi membuatku ngeri karena aku menemukan binar yang sama di cermin hatiku.

Banyuwangi. Nama itu akhirnya bukan lagi sekadar koordinat dingin di layar cyclocomp atau ambisi yang menghantui kepala. Ia kini nyata, bergetar di bawah ban sepedaku. Aroma laut Selat Bali mulai tercium, bercampur dengan wangi dupa dan semerbak melati yang samar—sebuah aroma khas tanah yang sangat menjaga kesakralan tradisinya.

Aku hampir menyentuh garis finish saat dunia sudah terlelap. Jam satu pagi. Tidak ada sorak-sorai penonton yang gegap gempita, tidak ada medali emas yang dikalungkan di leherku. Hanya ada aku, sepedaku, dan debu jalanan yang melekat di sekujur tubuh sebagai saksi bisu. Namun, di tengah kesunyian yang kupasrahkan itu, kejutan kecil menyambutku. Tiga orang teman masih terjaga, berdiri menentang dingin demi menungguku: Pak Heru, Mas Pandu, dan Jojo Maliq. Kehadiran mereka terasa begitu hangat, seolah semesta mengirimkan perwakilan untuk membisikkan bahwa aku tidak benar-benar sendirian.

Sementara raga ini berhenti, di dalam dadaku sebuah tarian justru baru saja dimulai.

Aku menatap patung-patung penari Gandrung yang berdiri anggun di setiap sudut kota. Tubuhnya meliuk gemulai, namun kakinya menapak sangat kuat ke bumi. Lirikan matanya tajam namun memikat, menyimpan rahasia tentang sejarah panjang perjuangan rakyat Blambangan. Konon, dahulu Gandrung bukan sekadar hiburan; ia adalah simbol perlawanan dan pesan rahasia para pejuang. Penari Gandrung menari untuk menyatukan yang tercerai-berai, memberi semangat pada yang lelah, dan menjadi penghubung antara yang hidup dan para leluhur.

Gandrung menari di atas garis tipis antara suka dan duka. Persis seperti diriku yang dipaksa menari di antara kesunyian Panggang dan terik yang membakar di Pracimantoro. Seperti diriku yang harus menyeimbangkan raga yang lelah dengan jiwa yang hampir menyerah di Hutan Senduro. Gandrung mengajarkanku bahwa untuk menjadi indah, seseorang harus berani menanggung beban mahkota yang berat dan kain yang membelit, namun tetap harus bergerak mengikuti irama semesta.

Aku telah menempuh ribuan kilometer bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat dari orang lain. Aku melakukannya untuk membuktikan pada "monster kecil" di dalam diriku bahwa ia bisa tumbuh menjadi "monster besar" yang bijaksana. Bapak benar, aku harus kuat menghadapi dunia yang penuh tipu daya. Namun, alam semesta juga benar; bahwa kekuatan sejati lahir dari kemampuan untuk tetap lembut dan "mendengar" di tengah kerasnya dunia.

Aku bukan lagi perempuan yang sama saat roda sepedaku berputar meninggalkan Carita. Aku adalah kuda yang telah berdialog dengan angin, meminta izin pada daun Jemplang, dipeluk oleh pohon di Ngadas, dan disapa oleh senyum tulus leluhur melalui warga Tengger. Aku telah menguliti lapisan-lapisan kebencian masa lalu dan menggantinya dengan syukur yang mendalam.

Di Banyuwangi, aku akhirnya memahami arti "pulang". Pulang bukan berarti kembali ke rutinitas kopi jam tujuh pagi dan layar laptop yang mencambuk mata menuju penuaan. Pulang adalah saat jiwa dan raga akhirnya berhenti saling kejar-kejaran dan mulai berjalan berdampingan dalam harmoni yang tenang.

Pacuan telah usai. Garis finish ini hanyalah awal dari perjalanan baru yang lebih luas. Di bawah tatapan mata penari Gandrung yang abadi, aku akhirnya benar-benar bisa memeluk diriku sendiri. Tanpa ragu, aku berbisik pelan pada angin yang membawa aroma Selat Bali, "Terima kasih telah membawaku sampai di sini."

Comments

Anonymous said…
Gak nyongko selain bakoh, wong iki tulisan e wapik😭 akhhhhh peyukkk mba cepp🫂🫂🫶🏻
Anonymous said…
Tulisan yang sangat tulus, aku bisa bayangin jadi Mba Sep saat kedinginan, kepanasan dan meluk pohon. Saat terharu dikasih kopi gratis dan malu ngira kalau itu warung, apa lagi bagian cerita Bapak sangat menyentuh hati sampai mata berkaca kaca, ahhh tulisan yg sangat bagus