Kuda yang Dilepas: 1.500 Kilometer Menjemput Diri

 

KUDA DILEPAS DI CARITA

Kuda besi itu melaju cepat menuju sebuah titik: Coconut Island Carita di Pandeglang. Orang-orang mengenal desa ini karena pantainya yang cantik, berselimut pasir putih dengan gemulai ombak yang mengalun pelan di bawah penjagaan anggun Gunung Krakatau. Namun bagiku, Carita bukan sekadar soal pemandangan. Di sana, pondok-pondok bambu berdiri kokoh di atas tanah, menjadi saksi bisu kehangatan manusia yang—meski baru pertama kali bertemu—bisa berbagi ruang tanpa rasa cemas.

“Di situ aku bermalam, dua tahun yang lalu,” bisikku dalam hati.

Aku mengayuh pedal perlahan. Tangan kanan dan kiri bergantian menggenggam tuas rem saat mataku tertuju pada pondok bambu beratap alang-alang itu. Kini, ia tampak lelah; tidak terawat dan tak lagi dihuni. Aku berhenti tepat di depannya, membiarkan memori indah itu merembes masuk. Aku ingat kasur yang ditata sejajar tanpa dipan, kaca besar di depan pintu kamar mandi bambu, dan aroma sabun rumput yang segar—mirip udara pagi yang bercampur angin laut.

Tubuhku masih terbaring lemas di atas kasur, mendengarkan gemericik air dari balik pintu bambu sambil menunggu Maya selesai mandi. Maya adalah kawan baru seusiaku yang datang jauh-jauh dari Surabaya. Meski aku asli Madiun dan dia dari Surabaya, kami sepakat berbagi kamar demi menghemat biaya sewa pondok.

Di kamar ini, ada satu perempuan lagi: Citra. Aku belum mengenalnya dekat, hanya tahu ia berambut pendek maskulin, berkacamata, dengan kulit kecokelatan yang tampak matang terbakar matahari. Semalam, Citra tidur lebih awal, dan pagi ini sosoknya sudah menghilang dari kasur.

Kuraih ponsel yang masih terhubung kabel pengisi daya. Jarum jam menunjukkan pukul empat pagi lewat sedikit. Penasaran, kubuka pintu kamar untuk mencari "perempuan asing" yang hemat bicara itu. Di luar masih gelap gulita, sunyi. Mataku tertuju pada deretan sepeda yang terparkir di depan kamar. Aku menghitungnya pelan: satu milikku, satu milik Maya, dan satu lagi—pasti milik Citra.

“Halo.”

Suara itu muncul tiba-tiba dari belakang punggungku. Aku tersentak, merasa canggung karena tertangkap basah sedang memperhatikan sepedanya.

“Hai, dari mana?” tanyaku, mengalihkan pandangan ke arahnya. Wajah dan baju Citra basah kuyup oleh keringat. Rupanya, ia baru saja menyelesaikan rutinitas pagi: jogging untuk pemanasan.

“Sep, kamu jadi mandi nggak?” teriak Maya dari dalam kamar mandi. Aku bergegas masuk, melewati kaca besar di depan pintu, meninggalkan Citra dan sepedanya di kegelapan subuh.

Kutunggu hingga jam setengah lima pagi, namun hawa dingin Carita begitu menusuk. Aku menyerah; aku tidak cukup kuat untuk menyentuh air di suhu sedingin ini. Aku memutuskan untuk tidak mandi.

Dalam diam, pikiranku mulai berlarian liar. Aku membayangkan segala hal buruk yang mungkin terjadi di sepanjang perjalanan yang tak pendek ini. Rasa tidak percaya diri mulai menggerogoti. Membayangkan diriku sendirian di atas sepeda, menembus pagi hingga bertemu pagi lagi. Ini adalah perjalanan pertamaku menempuh seribu lima ratus kilometer.

"Bentang Jawa." Nama itu bergema di kepala, membawa beban sekaligus tantangan yang sebentar lagi harus kuhadapi.

Tanpa ragu sedikit pun, aku memutuskan untuk terjun ke Bentang Jawa. Sejak pertama kali melihat poster balapannya di media sosial, ada sesuatu yang memanggilku untuk terlibat; untuk menyerahkan ragaku pada aspal yang membentang dari ujung barat ke ujung timur Pulau Jawa.

Aku tak pernah ambil pusing apakah aku akan jadi yang tercepat atau yang paling buncit. Aku tak peduli soal harga diri, atau apakah aku akan pulang dengan rasa bangga atau malu. Bahkan, pikiran tentang keselamatan pun seolah kutepis jauh-jauh. Bagiku, syaratnya sudah cukup terpenuhi: aku punya kaki, dan aku punya sepeda kayuh tanpa bantuan siapa pun.

Setahun sebelum hari besar itu tiba, aku berjuang untuk memiliki kendaraan impianku. Aku menyisihkan dua juta setiap bulan, melunasi pembayarannya dalam tiga kali cicilan demi membawa pulang sebuah roadbike Stratos 2 Polygon.

“Sepedamu tidak cocok untuk ikut Bentang Jawa.”

Kalimat itu berulang kali kudengar dari teman-teman, perlahan mengikis keyakinan yang semula utuh. Mereka bilang sepedaku terlalu berat untuk dikayuh sejauh 1.500 kilometer. Katanya, ia tak akan sanggup menaklukkan tanjakan dengan kemiringan hingga tiga puluh persen. Ia tak akan memberi kenyamanan untuk dikendarai berhari-hari tanpa henti.

Aku menatap sepedaku dalam diam.

“Apa benar, kamu tidak mampu menemaniku dari Banten ke Banyuwangi?” tanyaku pada kerangka besi itu.

Namun, sedetik kemudian aku tersadar. Sepeda hanyalah benda mati. Seharusnya, dialah yang bertanya padaku: “Apa benar, aku tidak mampu membawamu dari Banten ke Banyuwangi?”

Keraguan adalah pembunuh keyakinan. Keraguan itu pula yang perlahan meruntuhkan apa yang pernah kami bangun. Enam belas tahun lalu, aku bertemu seorang lelaki dengan keyakinan berbeda. Kami sepakat melangkah dalam janji pernikahan yang selaras. Saat itu, tak ada ragu sedikit pun. Bagiku, dia adalah rumah—tempat di mana aku meletakkan seluruh rahasia, baik maupun buruk.

Dia mengajarkan aku arti keikhlasan, bahwa hidup tak perlu dikejar, dan masalah hanyalah cara semesta membuat kita lebih bijak. Aku bahkan mengabadikan ketenangan itu lewat tato pertama di tangan kananku: ‘Don’t be sad, because of people—they will all die’. Sebuah pengingat bahwa saat semua manusia akan berpulang, tugasku hanyalah untuk tidak bersedih dan merayakan setiap helaan napas.

Namun, rumah itu akhirnya runtuh. Keraguan membekukan hati yang semula hangat. Setelah sembilan tahun berjalan bersama, kami harus menempuh jalan masing-masing. Kini, aku belajar satu hal: aku tak ingin lagi menggantungkan keyakinan pada manusia. Satu-satunya yang bisa kupastikan adalah diriku sendiri—bahwa aku sanggup menyelesaikan balapan ini, tak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan.

Dua tahun telah berlalu sejak momen di pondok bambu itu. Hari ini, Agustus 2025, aku kembali ke sini. Aku tak ingin lagi diikat atau dipecut oleh ambisi. Aku ingin menjadi jiwa yang bebas. Menjalani alur perjalanan dengan ikhlas; aku boleh tidur di mana pun, dan aku tahu kapan harus berhenti—hanya di garis finish.

Seratus lebih peserta berkumpul di garis start. Langit masih gelap, embun sisa hujan semalam menyelimuti seremoni pelepasan di Carita. Kupandangi mereka satu per satu; laksana kuda-kuda gagah yang siap bertempur mengadu fisik dan mental. Beban yang kami bawa bukan hanya perbekalan atau lampu penerangan, tapi harga diri dan komitmen untuk jujur sepanjang jalan.

Ada kuda yang ambisius, yang hanya ingin mengalahkan kuda lainnya hingga ingkar pada janji kejujuran. Mereka menjadi kuda terbang yang ingin cepat sampai tanpa mau merasakan lelah yang manusiawi. Namun bagiku, 1.500 kilometer ini hanyalah perjalanan pendek untuk menemukan jati diri. Peringkat hanyalah urutan angka tanpa hadiah di puncaknya. Sebab, hadiah dari Bentang Jawa sudah kami terima di setiap tetes keringat sepanjang perjalanan.

Parakuda mengabaikan lelah, mengabaikan ego, dan melaju menuju cahaya.


 

TANGAN KECIL PANDEGLANG

Anak-anak berbaris di tanah lembap tanpa alas kaki. Ada lelaki, ada juga perempuan. Mereka meninggalkan bola dan layang-layang demi menyambut Para Kuda yang melintas di jalan depan rumah.

“Waaa waaa mister mister…” teriak mereka histeris.

Melihat mereka, aku merasa ditarik kembali ke masa kecilku di Madiun. Namun, memoriku tidak berwarna cerah seperti tawa mereka. Jika aku menjadi anak kecil seperti mereka, aku mungkin akan lebih berani berteriak, tapi kenyataannya aku terlahir sebagai Kuda yang tak pernah dilepas. Aku diikat, dikurung, dan dipaksa menjalankan peran untuk memenuhi keinginan orang lain.

Ingatanku melompat ke masa Sekolah Dasar. Saat itu, aku belajar tentang "perbedaan" dengan cara yang menyakitkan. Aku tidak pernah tahu rasanya aroma buku baru atau tas sekolah yang masih kaku dari toko. Semua yang kupakai adalah barang bekas lungsuran dari kakak perempuanku. Aku tumbuh dengan rasa bahwa aku tidak cukup berharga untuk mendapatkan sesuatu yang baru. Di sekolah pun tak ada perlindungan; tubuhku yang gendut menjadi sasaran empuk perundungan teman-teman. Aku kecil yang terluka, hanya bisa diam menelan ejekan.

Memasuki masa SMP, beban itu terasa semakin berat. Aku mulai mengerti bahwa rumahku bukan tempat yang bisa kubanggakan. Bapak adalah seorang penjual togel, penjudi, dan pemabuk. Kenyataan itu seperti label buruk yang tertempel di keningku, membuat teman-teman menjauh seolah aku membawa wabah. Aku tumbuh dalam ruang hampa, sendirian, menanggung malu yang seharusnya bukan milikku. Aku malu menghadapi kenyataan-kenyataan buruk itu. Aku malu menjadi diriku sendiri.

Maka, melihat anak-anak Pandeglang ini, dadaku terasa sesak sekaligus hangat. Mereka menantikan kehadiran Kuda sejak Agustus tahun lalu dengan kebahagiaan yang tak tertahan. Mereka takjub melihat Kuda Bule bertubuh jangkung, dengan tas multifungsi dan pakaian yang keren.

Dengan wajah polos, mereka membandingkan kendaraan hebat kami dengan milik mereka: hanya sepeda BMX yang rantainya sudah karatan dan remnya blong! Tapi anehnya, bukan kekecewaan yang muncul dari raut wajah mereka. Justru tawa lepas yang membebaskan mereka dari rasa iri. Gigi ompong mereka tak bisa disembunyikan.

Aku pun ikut tertawa melihat polah mereka, meski mataku mungkin sedikit panas. Tawa mereka adalah tawa yang selama ini kucari—tawa yang membebaskan dari rasa malu dan rasa kurang.

Detak jantungku bergerak dalam ritme lebih kencang saat tangan kecil anak-anak Pandeglang ini menyentuh telapak tanganku. Energi mereka tersalurkan, menyampaikan pesan penuh harapan yang melampaui kata-kata. Mereka menyambutku dengan lambaian tangan yang hangat, seolah mencairkan es membeku dari masa kecilku yang kelabu.

Energi positif datang dari segala penjuru, dan hari ini, jiwaku sudah siap untuk menangkapnya.


 

GETARAN DI UJUNG BANTEN

Tanah Jawa bagiku adalah sosok Ibu yang penuh kesabaran. Ia menabur kasih kepada semua anaknya, memberikan cinta tanpa diminta, dan membagi kemakmuran pada setiap petak tanah yang kupijak. Ia adalah Ibu yang terus mendoakan keselamatan, meski adakalanya ia harus bersedih saat musibah menimpa salah satu anaknya.

Anak-anak Ibu—desa demi desa, kota demi kota—selalu bergandengan tangan. Jika satu bagian terluka, bagian lain ikut merasakannya karena mereka saling bersentuhan dalam untaian panjang Pulau Jawa. Namun, ada tanya yang menggantung di udara subuh itu.

“Ibu, bagaimana dengan kami yang berada di paling ujung?”

Suatu pagi, aku seolah mendengar anak Banten berseru. Banten yang tak pernah menjabat tangan Banyuwangi, begitu pula sebaliknya. Mereka terpisah ribuan tahun, hanya bisa saling mendengar kabar melalui seruan angin yang hanyut dalam nyanyian alam semesta, atau merasakan kehadiran satu sama lain melalui getaran bumi yang disalurkan akar-akar pepohonan.

“Meskipun kalian tak pernah bertemu, percayalah anak-anakku, kalian saling menguatkan. Kalian menjaga tanah Jawa untuk keselamatan seluruh manusia.”

Seruan Ibu Jawa itu menggema di gendang telingaku saat aku melintasi sebuah desa di Banten. Melihat gadis-gadis kecil bermukena itu, ingatanku terseret jauh ke masa lalu, pada sosok Ibu kandungku sendiri. Sosok yang kekuatannya melampaui logika; seorang perempuan yang menyimpan samudera kesabaran saat menghadapi kerasnya badai dalam diri Bapak.

Jika Ibu Jawa adalah pemberi cinta tanpa diminta, maka Ibuku adalah penjaga api harapanku.

Aku teringat saat baru lulus SMA. Dunia seolah runtuh ketika Bapak mengusirku dari rumah. Alasannya sederhana namun menyakitkan: aku ingin kuliah. Ibu, dengan segala kerinduannya melihat anaknya memiliki ilmu yang lebih tinggi, memintaku terus maju. Namun Bapak, yang terjepit sulitnya ekonomi, ingin aku segera bekerja—menjadi mesin pencetak uang bagi keluarga. Karena aku memilih mengikuti bisikan Ibu daripada perintah Bapak, aku dibuang. Aku dipaksa berdiri di kaki sendiri saat aku bahkan belum tahu ke mana harus melangkah.

Bertahun-tahun, aku memelihara benci. Aku membenci Bapak yang memisahkan aku dari rumah, yang mencabutku dari akar keluarga. Aku merasa dibuang seperti barang tak berguna.

Namun, di atas pedal sepeda ini, di tengah perjalanan 1.500 kilometer yang sunyi, aku menyadari satu hal: terkadang hal baik memang tidak langsung terlihat baik.

Kebencian itu perlahan luruh, berganti syukur yang tenang. Jika Bapak tidak mengusirku hari itu, mungkin aku tidak akan pernah tahu cara menjadi kuat. Jika ia tidak memaksaku hidup mandiri, mungkin aku tak akan punya nyali untuk mendaftar Bentang Jawa. Bapak, dengan caranya yang kasar, telah mengajarkan ilmu yang paling kubutuhkan saat dewasa: bertahan dan mandiri.

Kayuhan kakiku yang semula melambat karena haru, kini kembali stabil. Aku merasakan sentuhan Ibu Jawa melalui gesekan ban sepeda pada aspal, dan aku merasakan restu Ibuku dalam setiap hela napas. Aku bukan lagi kuda yang diikat; aku adalah kuda yang dilepaskan untuk menemukan jalannya sendiri.


 

HANYUT DALAM CIKOTOK

Aku menyadari satu hal: aku bukan Kuda sempurna dengan kaki-kaki kokoh yang siap berlari tanpa lelah. Aku hanyalah kuda kecil yang sedang belajar menjadi pemberani. Aku tak mau lagi dibilang "kuda kandang" yang hanya aman di balik pagar. Meski secara fisik aku terlihat seperti mangsa yang rapuh, jauh di dalam jiwaku, aku telah dilatih oleh Bapak cara bertarung yang sesungguhnya.

“Jangan mati terbunuh. Kamu harus menjadi pembunuh,” kata Bapak suatu kali.

Kalimat itu terdengar kejam, namun itulah cara Bapak mengajariku tentang bertahan hidup. Di dunia ini, tidak ada pahlawan yang akan turun dari langit untuk menyelamatkanmu. Bapak menghapus batasan baik dan buruk; baginya, satu-satunya moralitas adalah kemampuan untuk bertahan diri.

Kenangan itu membawaku kembali ke masa-masa pertama setelah aku tak lagi tinggal di rumah. Aku harus mati-matian bertahan hidup. Aku ingat saat melamar kerja di sebuah radio swasta, di mana suaraku dihargai hanya enam ribu rupiah per jam siaran. Sebulan, aku hanya mengantongi tiga ratus ribu rupiah—angka yang nyaris mustahil untuk menghidupi seorang mahasiswa. Uang itu habis tak bersisa hanya untuk membayar kos dan jatah makan dua kali sehari.

Di kampus, aku harus membuang rasa malu, membujuk dosen demi mendapatkan beasiswa karena upah siaranku tak pernah cukup untuk membayar biaya kuliah. Aku hidup tanpa kemewahan yang dimiliki gadis seusia kawan-kawanku; tak ada krim wajah, tak ada bedak, apalagi lipstik. Bahkan untuk sekadar membeli bensin motor agar bisa sampai ke tempat kerja, aku terkadang harus menunduk, meminjam uang pada teman kos.

Namun, yang paling membekas dalam ingatanku adalah aroma nasi bungkus itu. Selama tiga tahun kuliah, menu setiaku adalah nasi dengan sejumput sambal teri. Setiap hari, tanpa variasi. Itulah bahan bakar tubuhku untuk mengejar ilmu dan bertahan dari rasa lapar.

“Apa yang kamu takutkan sekarang, Nak?” suara itu kembali terngiang, menembus kabut Halimun Salak.

Aku takut sendiri. Aku takut gelap. Aku takut pada keheningan hutan ini. Namun, saat kaki ini mulai gemetar, aku teringat pada diriku yang dulu—si penyiar radio berupah enam ribu rupiah yang kenyang hanya dengan nasi teri. Jika aku sanggup melewati tiga tahun penuh kekurangan itu, maka perjalanan malam melintasi Cikotok ini hanyalah urusan kecil. Ada hal yang jauh lebih berat yang pernah kulalui dibandingkan kegelapan lereng gunung ini.

“Kuda pemberani tak pernah takut berjalan sendiri, meski kegelapan mengepung ujung matanya. Sebab, ia melihat dengan hati.”

Malam itu, alam semesta menyambutku dengan wajahnya yang paling pekat. Gelap menyelimuti segalanya; lampu sepedaku hanya mampu menembus kabut sejauh dua meter ke depan. Daun telingaku kupasang lebar-lebar, menangkap irama gesekan dedaunan. Hujan turun rintik namun kerap, membasahi bumi hingga licin. Dalam keadaan kuyup, aku turun dari pedal, mendorong sepedaku menyusuri jalanan sunyi Desa Cikotok.

Sama seperti malam-malam sepi di kamar kos dulu, di Cikotok ini aku kembali membuktikan: aku adalah petarung. Kegelapan ini tidak lagi mengancam; ia adalah kawan yang sedang membimbingku untuk melihat dengan keteguhan hati yang sudah teruji oleh lapar dan peluh masa lalu.


 

GEMURUH PANTAI SELATAN

Garis itu nyata. Meski teori geografi mengatakan bumi itu bulat, bagiku saat ini dunia hanya berupa satu garis lurus yang menjemukan. Gravitasi bumi seolah bekerja ekstra keras, menjagaku agar tetap lekat pada aspal cor yang kaku—seperti aturan-aturan hidup yang selama ini membelengguku.

Aku mengayuh dalam kebosanan yang mencekik. Sesuatu yang lurus tanpa belokan memang melelahkan, persis seperti tahun-tahun yang kuhabiskan hanya untuk memenuhi keinginan orang lain. Seumur hidup, aku dipaksa mengikuti skenario agar terlihat "hebat" di mata mereka. Aku memakai topeng kesempurnaan, berjalan di atas garis yang ditentukan, hanya agar dunia memberikan tepuk tangan yang sebenarnya tidak pernah kubutuhkan. Aku jenuh menjadi boneka pajangan. Aku lelah menjadi kuda kandang yang hanya berlari saat pecut ekspektasi menyentuh kulitku.

Kini, di sisi kananku, garis biru Pantai Selatan bergerak maju-mundur, menawarkan irama yang jauh lebih jujur. Gelombangnya tidak memiliki aturan. Ia mengayun, pecah, dan kembali lagi dalam tarian yang tak pernah bisa kutebak.

Siang makin terik, angin berubah menjadi lidah api yang memanggang peluh. Gemuruh Pantai Selatan itu terus memanggil, seolah ia tahu bahwa di dalam dadaku ada api yang ingin dipadamkan. Aku ingin turun dari sepeda ini, mengeruk pasir putih sedalam-dalamnya dengan jemari, lalu mengisinya dengan gelombang air laut yang pasang. Aku ingin air itu membawa pergi seluruh aturan, seluruh penilaian orang, dan seluruh beban "menjadi hebat" yang selama ini kupikul.

Hanyut. Aku ingin semua kepalsuan itu hanyut tanpa sisa.

Aku membayangkan kaki-kakiku melangkah ke tengah laut, menyerahkan diri pada rayuan ombak hingga aku kewalahan. Biarlah ombak itu mengejarku, menyeretku, dan membasuh habis sisa-sisa "kuda penurut" dalam diriku. Bermain dengan ombak memang tak pernah membosankan, karena laut tidak pernah menuntutmu untuk menjadi siapa-siapa. Di depan samudera, aku hanyalah aku.

Mataku masih memandang jalan cor, namun otakku sudah berenang di tengah gemuruh. Hatiku memberontak, memaksa ingin ke pantai. Otakku sempat melarang; ia masih membawa sisa-sisa pola pikir lama bahwa seorang "Kuda" harus disiplin, harus kuat, dan tak boleh berhenti hanya untuk bersenang-senang.

Namun, kali ini, pertahanan itu runtuh. Hati terus merengek, tak mau lepas pandangan dari biru yang memerdekakan itu.

Otak akhirnya mengalah. Mengikuti keinginan hati memang seringkali dianggap tidak masuk logika oleh dunia yang gila akan pencapaian. Tapi hari ini, aku memilih untuk tidak menjadi hebat bagi mereka. Aku memilih untuk menjadi nyata bagi diriku sendiri. Aku membelokkan setang sepedaku, meninggalkan jalan cor yang kaku, menuju pelukan ombak yang jujur.


 

ANJING PAMENGPEUK

Selain tanjakan yang menjulang dengan kemiringan lebih dari dua puluh persen, sisi selatan Pulau Jawa menyimpan kejutan lain yang tak kalah menguji nyali: gonggongan anjing di sepanjang jalur Pameungpeuk.

Jika matahari masih tinggi, anjing-anjing itu hanyalah makhluk yang diam memandang atau mengikuti dengan malas. Namun, begitu malam jatuh, mereka seolah berubah wujud menjadi makhluk yang lebih menakutkan daripada sekadar hantu penunggu hutan. Gonggongannya mengejutkan, tajam, dan seolah memang disiapkan untuk menghancurkan ketenangan para Kuda. Mereka bersembunyi di bawah kursi-kursi kayu, bersiap menyerang siapa pun yang lengah karena kelelahan.

Pernah suatu malam, rasa lelahku sudah di titik nadir setelah dihajar tanjakan bertubi-tubi. Aku tergiur untuk merebahkan diri di sebuah bangku kayu di depan rumah warga. Sepeda sudah kusandarkan, napas mulai kuatur untuk tidur sejenak. Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Tiga ekor anjing tiba-tiba muncul dengan gonggongan yang memekakkan telinga, mengusirku tanpa ampun. Aku berlari sekencang-kencangnya, memacu sisa tenaga yang ada, sementara mereka terus mengejar di belakang tumitku. Aku baru bisa bernapas lega ketika berhasil masuk ke halaman sebuah masjid—benteng terakhir yang tak berani mereka masuki.

Anjing Pameungpeuk memang penjaga wilayah yang luar biasa. Bagi para Kuda, hampir tak ada tempat untuk sekadar melepas lelah di sana.

Pagi itu, setelah terbangun dari pos perhentian pertama, aku kembali melaju melintasi wilayah Pameungpeuk yang semalam terasa begitu mencekam. Namun, di bawah cahaya matahari yang mulai hangat, kengerian itu menguap. Di pinggir jalan, aku menjumpai seekor anjing yang duduk termenung sendirian.

Bulunya berwarna cokelat muda krem, kusam tertutup debu jalanan. Ia tidak menggonggong. Ia hanya duduk dengan mata yang tampak sangat mengantuk, seolah ia pun baru saja melewati malam yang panjang dan melelahkan. Aku memperhatikan kaki-kakinya yang tampak letih, gemetar halus saat menumpu tubuhnya yang kurus.

Melihatnya, aku seperti melihat bayanganku sendiri di cermin aspal. Kami sama-sama pejalan yang kehabisan tenaga. Aku berhenti, rasa takut dikejar semalam seketika luruh berganti rasa iba yang menyesak.

“Hei, buddy... kamu lapar?” bisikku pelan.

Anjing krem itu mendongak, memandangku dengan tatapan sayu. Tak ada geraman, tak ada taring yang menyeringai. Hanya sebuah tatapan kosong yang bicara banyak tentang rasa lapar—hal yang dulu sangat akrab di perutku saat masa-masa sulit kuliah.

“Ini makanan buat kamu, buddy. Aku tahu kamu lapar.”

Aku mengeluarkan sebungkus nasi sop ayam dan menyodorkannya di hadapannya. Ia mulai makan, pelan pada awalnya, lalu melahap habis setiap butir nasi yang kupunya. Sambil ia menikmati sarapannya, aku berbisik seolah kami adalah dua kawan lama yang sedang berbagi rahasia di bawah langit Pameungpeuk.

Buddy, jangan menggonggong tengah malam saat para Kuda melintas di sini, ya? Kami hanya ingin istirahat. Kami sama lelahnya denganmu. Okay?

Anjing cokelat krem itu berhenti sejenak, menatapku dengan matanya yang masih tampak mengantuk, lalu kembali melanjutkan makannya. Tanpa gonggongan, ia seolah telah menandatangani sumpah suci untuk tidak lagi menjadi teror bagi kawan-kawanku. Kami berdamai. Aku meninggalkannya dengan perasaan yang lebih ringan, menyadari bahwa di tanah Jawa ini, semua makhluk hanya sedang mencari cara untuk tetap bertahan, setapak demi setapak.


 

RIUH PANGGANG

Seharusnya aku tidak di sana tengah malam. Seharusnya aku tak mengganggu ketenangan para penghuni hutan jati di Panggang saat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku pernah melintasi kesunyian itu di siang hari, dan bahkan saat matahari masih tinggi pun, aku sudah merasakan semacam "penolakan". Sejak saat itu, aku bersumpah tidak akan pernah kembali ke sana saat kegelapan berkuasa.

Namun, takdir seringkali menuntut apa yang paling kita hindari. Hidup selalu menyodorkan pilihan yang tak ingin kupilih, memaksaku melalui jalan yang paling ingin kujauhi.

“Harus banget aku naik ke Panggang jam satu malam ini?” umpatku dalam seribu tanya.

Aku mengayuh menuju Imogiri dengan perasaan berkecamuk. Logikaku berbisik untuk menunggu pagi, namun ambisiku mengejar ketertinggalan dari Kuda-Kuda lain yang sudah melaju jauh menuju Pacitan memaksa kaki ini terus bergerak. Aku harus menerjang Panggang dengan sisa keberanian yang kupunya, meski di kepalaku sudah menari-nari bayangan rupa para "warga" di sana: kuntilanak, genderuwo, atau nenek-nenek penunggu pohon tua.

Rasa kantuk menyerang begitu hebat hingga dalam sekian detik, aku sempat terlelap di atas sadel. Aku bermimpi sedang berada di tengah hutan, namun saat tersentak bangun, yang kulihat adalah jalanan aspal yang membelah pemukiman. Tak jauh di sisi kiri, cahaya temaram dari sebuah angkringan memanggilku. Aku harus sadar sepenuhnya; di jalur ini, mengantuk adalah cara tercepat untuk celaka.

Kopi ne wonten, Mas?” suaraku memecah sunyi.

Mas penjaga angkringan terbangun, menatapku dengan tatapan tak percaya melihat seorang perempuan dengan sepeda kayuh berkeliaran di jam mati. Sambil menyalakan kompor dan mengaduk kopi, ia bertanya, “Badhe teng pundhi, Mbak?

“Ke Wonosari, Mas. Lewat Imogiri,” jawabku singkat.

Hluk! Lewat Panggang, Mbak?” Mas angkringan kaget, sendoknya terhenti sejenak.

Beberapa warga lokal yang sedang terjaga ikut bergabung. Di atas peta digital, jemari mereka menelusuri rute yang akan kulalui. “Dari sini sampai sini nanjak terus, Mbak... di titik ini baru landai. Setelah itu naik-turun dari desa ke desa sampai Playen.”

Kopi habis, mata terbuka lebar, dan kaki siap bertaruh pada perjalanan yang paling tidak kuinginkan. Tak jauh dari sana, tanjakan mulai memamerkan taringnya. Aku, Kuda Betina yang sudah kehilangan banyak tenaga ini, tak lagi mampu melawannya dengan kayuhan. Aku turun, mendorong kendaraan selangkah demi selangkah. Setiap langkah adalah satu inci lebih dekat menuju angka seribu lima ratus.

Napas kami—aku dan sepedaku—berkejaran. Keringat mengalir dari akar rambut, membasahi leher, dan membuat baju melekat di kulit. Setiap kali menemukan jalan landai, aku langsung terkapar. Di mana saja. Di bangku kayu, bahkan di atas aspal dingin yang keras. Kuda Betina ini kelelahan, tapi ia tak punya alasan untuk menyerah.

Tanjakan itu kumakan perlahan, tak kusisakan untuk esok pagi. Saat Kuda lainnya tertidur lelap di tempat yang nyaman, aku justru menyusuri malam yang tak memberikan kepastian. Hatiku gusar sesempurna gusarnya kegelapan yang tak bertepi di depanku. Tubuh menuntut tidur, tapi otak memerintah untuk tetap terjaga. Keberanian kubakar terus-menerus agar tetap membara, karena aku harus sudah keluar dari labirin jati ini saat fajar tiba.

Lalu, "Warga Panggang" itu mulai menampakkan wujudnya.

Dalam keremangan, mereka tampak seperti anak-anak kecil yang sedang lari kejar-kejaran. Saat aku melintasi area bermain mereka, mereka terlihat senang—seolah mengira aku adalah teman baru yang ikut bermain delikan. Aku menyebut mereka "tuyul" karena rupa mereka mengingatkanku pada tokoh Casper yang pernah kutonton.

Lucunya, mereka tidak menggangguku. Justru riuh di dalam hatiku sendirilah yang sebenarnya mengganggu ketenangan perjalanan ini. Ketakutanku adalah "warga" yang paling berisik. Di hutan jati Panggang, aku belajar bahwa hantu yang paling nyata bukanlah yang berlarian di balik pohon, melainkan keraguan dan kecemasan yang terus membuntuti setiap kayuhan kakiku.

ANGIN BERBISIK DI PRACIMANTORO

Aku sudah tahu perjalanan seperti apa yang menungguku di depan. Aku pun sangat sadar bahwa aku hanyalah seekor Kuda Betina yang ringkih, tak memiliki kekuatan ledak seperti kuda-kuda jantan lainnya. Di kilometer berapa posisiku sekarang dalam peta pacuan? Aku tak tahu, dan jujur saja, aku tak lagi peduli.

Aku sengaja menjauhkan diri dari bisingnya dunia digital. Ponsel hanya kubuka sekilas untuk melihat pesan WhatsApp, itu pun tanpa gairah untuk membalas. Saat ini, yang kubutuhkan bukanlah sinyal telekomunikasi, melainkan sinyal dari alam sekitar yang ingin kukenal lebih dalam.

Pandanganku terpaku pada garis merah muda di layar cyclocomp—pemandu setiaku agar tak tersesat. Namun, alat itu juga menjadi sumber kecemasanku. Setiap kali bar warna-warni penanda kemiringan muncul, jantungku berdegup kencang. Semakin miring grafiknya, semakin banyak waktu dan napas yang harus kukorbankan untuk melaluinya.

Terik matahari Pracimantoro seperti bayangan yang posesif. Aku berjalan, ia ikut berjalan. Aku berhenti, ia pun ikut berhenti di atas kepalaku. Di kanan-kiri jalan, batu-batu karst raksasa menjulang tinggi, namun mereka seolah enggan berbagi perlindungan. Aku menatap wajah bebatuan yang angkuh itu; mereka berdiri tegak, tapi entah di mana mereka menyembunyikan bayangannya sendiri. Di sebelahnya, pepohonan tinggi tampak kurus meranggas. Rantingnya kering, daunnya habis ditelan musim. Semuanya berdiri di atas kaki masing-masing dengan keangkuhan yang sunyi.

Aku menyerah pada panas. Kusandarkan tubuhku pada pagar besi di sisi kiri jalan. Kutarik napas dalam, lalu kulepaskan perlahan bersama uap dahaga. Dalam diam, aku menggugat langit, “Kenapa di sini panas sekali?”

Padahal baru kemarin aku menggigil disiram hujan dua malam berturut-turut. Manusia memang tak pernah puas. “Apa boleh aku minta hari ini tidak panas, ya Allah?” bisikku lirih.

Aku menanti mendung dikirim untuk memayungi Kuda Betina yang lemah ini. Namun, langit biru itu tetap bersih, tak mengirim kode sedikit pun tentang datangnya teduh. Rupanya, mendung sedang enggan bertamu. Keringat mengalir deras seperti keran yang dibuka lebar, membasahi baju yang sudah empat hari tidak ganti. Bau keringat yang asam bercampur debu jalanan menciptakan aroma khas: aroma perjalanan sisi selatan Pulau Jawa. Bau itu mendekap erat tubuhku hingga aku lupa seperti apa wangi vanila yang biasa kupakai. Indera penciumanku kini hanya mampu merekam aroma kesunyian ini.

Kekosongan mulai menyelimuti setiap langkah. Untuk mengusirnya, aku mulai berbincang dengan apa saja yang kulihat—batu, pohon, hingga aspal. Percakapan ini memang satu arah, tapi aku tak merasakannya demikian. Kami sedang berdialog. Aku memang tidak mendengar suara mereka, namun aku mengerti apa yang mereka sampaikan. Mereka tidak menuliskan pesan di atas kertas, tapi aku bisa membaca makna dari kehadiran mereka. Pesan-pesan itu diantar langsung menuju "rumah" di hatiku, dicerna oleh perasaan, lalu diterjemahkan ke seluruh panca indera.

Wuzzz…

Tiba-tiba, angin datang dari arah belakang sisi kanan. Ia menari mendekat, meniupkan kesejukan yang tak terduga di sekitar leher, wajah, dan mataku. Hatiku yang semula gersang seketika basah. Aku bangkit dari sandaran pagar besi. Lamunan pahitku tersapu oleh angin yang baru saja membisikkan kesejukan di tengah teriknya Pracimantoro. Alam seolah menjawab: Ia tidak memberiku mendung, tapi Ia mengirimkan angin untuk mengusap peluhku.


 

PELUKAN POHON NGADAS

Aku sudah lupa kapan terakhir kali tubuhku dipeluk dengan tulus. Sudah terlalu lama aku terabaikan dalam kesunyian yang kupilih sendiri. Tubuh ini sering dituduh memiliki kekuatan tak terbatas hanya karena ia tak pernah tampak tumbang. Ia dianggap terbuat dari besi yang kebal terhadap segala pukulan, padahal ia telah dihantam bertubi-tubi oleh kenyataan yang tajam. Aku membiarkan diriku menjadi rumah hampa yang dihuni oleh jiwa penyendiri; sebuah bangunan tanpa tamu yang sudi mampir, meski hanya sebentar.

Di Tumpang, aku memutuskan untuk menghentikan perjalanan yang diselimuti gelap dan gigil. Dari jarak lima ratus meter, lampu minimarket memancar terang, kontras dengan pekatnya malam. Kursi besi di terasnya seolah memanggilku untuk bersandar. Hawa dingin Malang menahanku untuk tidak melangkah lebih jauh. Aku menggigil hebat, padahal aku tahu ini belum titik tertingginya.

“Kenapa Malang dingin banget, sih?” keluhku, mencari alasan untuk meyakinkan diri bahwa tidur di atas kursi besi adalah keputusan yang benar.

Jam tiga pagi. Dinginnya semakin menjadi-jadi, menusuk hingga ke sumsum tulang. Kutata dua kursi besi agar berhadapan, kuluruskan kaki, dan bersiap memejamkan mata.

“Selamat tidur, Sep,” bisikku pada diri sendiri. “Iya,” jawabku segera.

Jangan heran, percakapan ini sudah kulakukan sepanjang ribuan kilometer sejak aku dilepaskan di Carita. Bertanya pada diri sendiri, lalu menjawabnya seketika. Terus berulang, demi menjaga kewarasan fungsi otak dan mulut agar tidak mati membeku dalam kesunyian.

Di tengah gigil itu, aku membayangkan: seperti apa rasanya dipeluk saat kedinginan menghadang? Bagaimana caranya aku memeluk diriku sendiri, sebagaimana aku menjawab pertanyaanku sendiri? Aku sudah terbiasa menyemangati jiwaku saat gelisah, bahkan menasihati diriku saat ceroboh. Tapi mengapa aku tak bisa memeluk diriku sendiri? Lalu, pada siapa aku harus meminta pelukan itu?

Tantangan di depan mata adalah Puncak Jemplang, titik tertinggi dalam jajaran rute selatan Pulau Jawa. Jaraknya hanya dua puluh empat kilometer dari Tumpang, namun ia meminta tebusan yang tidak murah. Kuda Betina yang lemah sepertiku harus menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk menaklukkan setiap meternya.

Jalanan meliuk-liuk memabukkan, seolah Jemplang sedang menghukum para Kuda dengan rintangan yang menguras iman. Ia merayu kami untuk menyerah, menggoyahkan kejujuran batin. Hanya mereka yang mampu menjaga iman dalam setiap kayuhan pelan yang akan sampai ke puncaknya.

Fajar menyapa dengan warna jingga yang tipis. Setelah tubuh kaku karena tidur di atas besi, aku bangkit. “Aku bisa menyelesaikannya,” bisik jiwaku, mencoba meyakinkan raga yang masih berat. Aku melangkah, berhenti, lalu berjalan lagi. Keringat mengalir deras, lalu menguap seketika disapu hembusan angin Bromo yang tajam.

Namun, saat perjalanan tersisa enam kilometer, langkah Kuda Betina ini mendadak kehilangan arah. Aku harus lebih cepat sebelum kabut menutup pandangan, tapi ragaku mogok. Jiwaku meraba-raba, mencari di mana letak tombol semangat yang biasanya ada di sana, namun ia menghilang.

“Aku lelah, ayo kita istirahat,” ajak raga pada jiwa. Keduanya sepakat untuk menyerah sejenak.

“Kita butuh pelukan,” rintih ragaku. Jiwaku pun ikut layu.

Satu-satunya yang bisa menghidupkan kembali nyawa yang sudah tumbang ini adalah sebatang pohon di Ngadas. Ia berdiri di sana, diam namun hadir. Kusandarkan sepedaku, lalu kudekati ia. Dalam pelukan pohon di Ngadas itu, aku merasakan sesuatu mengalir. Ia membagikan energinya yang tenang dan purba ke dalam dadaku yang sesak.

Di sana, di ketinggian itu, aku akhirnya mengerti: aku tidak butuh pelukan manusia untuk merasa utuh. Pohon itu telah memelukku, dan dalam dekapannya, jiwa dan ragaku kembali hidup. Aku tersadar bahwa aku hanya sedang lelah, bukan menyerah.

DAUN JEMPLANG MENDENGAR

“Sebentar lagi sampai.”

Kalimat itu kuulang seperti mantra, namun degup jantungku justru berlari kencang karena cemas. Kaki-kakiku mulai gemetar hebat, tak lagi sanggup menahan beban tubuh dan sepeda yang terasa kian berat. Di depan, kabut turun dengan angkuh, menyelimuti jalanan dan membuat hatiku ikut kalut. Pikiran buruk mulai menyerang, memenuhi setiap sudut kepala yang sudah kelelahan.

“Jangan sampai aku mengulangi kejadian di Gantasan,” bisikku ngeri.

Memoriku terseret paksa pada malam jahanam setahun yang lalu. Saat itu, aku naif. Aku mengira gunung hanyalah hamparan hijau yang menawarkan keindahan tanpa ancaman. Aku datang tanpa perlengkapan memadai—tak ada jaket gunung yang tebal, tak ada tenda, tak ada pelindung yang layak. Di rest area Gantasan, alam menunjukkan sisi gelapnya.

Suhu merosot tajam hingga menyentuh angka enam derajat Celsius. Di tengah kegelapan yang membeku, aku terjebak. Angin gunung yang tajam menyayat kulitku yang hanya dibalut pakaian tipis. Aku merasakan kematian mendekat dalam wujud dingin yang brutal—dingin yang awalnya menusuk tulang, lalu perlahan berubah menjadi rasa panas yang membakar di seluruh lapisan kulit. Tubuhku mulai membeku. Seluruh indera perabaku mati rasa.

Di kursi kayu yang keras itu, aku hanya memiliki satu bekal: doa. Aku melantunkan permohonan keselamatan berkali-kali, memohon agar jantungku tetap berdetak hingga matahari terbit. “Apa aku akan mati kedinginan di sini?” tanyaku saat itu dalam igauan gigil. Tidak! Aku tidak boleh menyerah pada maut semudah itu.

Trauma Gantasan itu kini menyulut kekacauan di kepalaku. Saat rintik hujan mulai turun di jalur Jemplang ini, aku merasakan sesak yang sama. Aku melihat beberapa pengendara yang melintas dari arah puncak sudah mengenakan jas hujan yang basah kuyup.

“Pak, di atas hujan ya?” tanyaku pada seorang pengemudi yang menepi di seberang jalan. “Iya, Mbak. Sudah gerimis deras,” jawabnya singkat.

Rasanya seperti vonis. Hukuman dari Puncak Jemplang datang bertubi-tubi. Jika hujan turun sekarang, aku akan terjebak lagi, mengulangi kengerian enam derajat itu. Tubuhku meronta meminta jeda, sementara mataku liar mencari penanda: sebuah kaca cembung jalan yang dipenuhi stiker vandalisme. Bagiku, kaca kotor itu adalah gerbang suci, tanda berakhirnya hukuman tanjakan.

“Pasti di depan sudah ada kacanya...” harapku.

Namun, kaca itu tak kunjung tampak. Aku berhenti, terdiam dalam keputusasaan yang sunyi. Kutarik napas dalam-dalam, lalu kusandarkan tubuhku yang lunglai bersama sepeda pada tebing tanah di pinggir jalan. Tanaman liar di sana menyambutku. Aku bisa merasakan basah embun dari daun-daun kecil itu meresap ke dalam bajuku.

Aku menatap sehelai daun di depan mataku.

“Daun, apa benar kau bisa mendengar?” tanyaku lirih.

Daun itu diam. Tak ada suara, tak ada gerakan.

“Daun, tolong aku. Sampaikan pesanku kepada langit. Tolong, jangan turunkan hujan sekarang. Aku pernah hampir mati di Gantasan, jangan biarkan aku kedinginan lagi di sini. Perjalananku masih sangat panjang...”

Aku memejamkan mata, membiarkan keheningan Jemplang mengambil alih. Daun itu tetap diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, keajaiban kecil terjadi. Beberapa menit kemudian, rintik yang tadinya mulai menderas tiba-tiba berhenti. Awan hitam masih menggantung, kabut masih mengepung, tapi hujan benar-benar tertahan di langit.

Ternyata, Daun Jemplang mendengar. Ia tidak bicara, tapi ia bekerja. Ia menyampaikan pesan si Kuda Betina yang lemah ini langsung ke telinga langit. Jalanku dibuka kembali, bukan oleh kekuatan kakiku, melainkan oleh kebaikan semesta yang merestui langkahku agar tak perlu lagi bertaruh nyawa dalam dingin yang mematikan.

NYADRAN DI LANGIT BROMO

Semua manusia akan menempuh kepulangan yang sama: kematian. Mereka yang telah lebih dulu melangkah ke sana adalah para leluhur, pengembara abadi yang membutuhkan untaian doa agar perjalanan mereka menuju Sang Pencipta berjalan tanpa halangan.

Perjalananku menuju kilometer selanjutnya mendadak terhenti di lereng Bromo. Kerumunan warga Suku Tengger memenuhi jalanan, menciptakan barisan khidmat menuju pemakaman desa. Mereka sedang merayakan Nyadran—sebuah tradisi mengirim doa dan bakti kepada mereka yang telah tiada. Tangan-tangan legam itu membawa nampan berisi makanan dan minuman pilihan untuk disajikan sebagai sajen.

Melihat tumpukan buah dan nasi itu, ingatanku terlempar ke meja makan di rumah masa kecilku. Ibu sering menata makanan dan buah-buahan dengan rapi, lalu menyalakan lilin kecil di sampingnya. Suatu kali, dengan kepolosan bocah yang lapar, aku mencuri sebuah jeruk dari tumpukan itu. Ibu marah besar.

“Itu untuk leluhur, bukan untuk kita makan. Hargai leluhurmu!” tegurnya.

Sejak hari itu, aku tak pernah lagi berani menyentuh jatah para leluhur. Namun, lebih dari sekadar rasa takut, insiden itu menanamkan sebuah kesadaran: bahwa di dalam rumah kami, anggota keluarga bukan hanya Bapak, Ibu, dan Kakak. Ada leluhur yang tak kasat mata namun tetap hadir, melengkapi arti sebuah keluarga.

Nyadran Suku Tengger ini terasa seperti replika dari suasana rumahku dulu. Makanan yang disajikan di makam tidak akan berkurang sedikit pun secara fisik; ia akan dibiarkan membusuk dan akhirnya menyatu kembali dengan tanah. Namun, tidak menyentuh sajen bukan berarti mereka menolak. Leluhur merasakan kebaikan manusia yang masih sudi bersedekah dan mengingat nama mereka.

Aku terhenti cukup lama, terjebak di antara kekhusyukan ritual dan alam yang mulai berubah wajah. Butiran udara yang jenuh akan air mulai berjatuhan. Kabut turun begitu tebal hingga jalanan di depanku tampak seperti dinding putih yang samar. Dari arah Puncak Jemplang, iring-iringan Jeep berbaris rapi, nyala lampunya berusaha keras menembus pekatnya pedut yang menyelimuti pandangan.

Di tengah kabut itu, warga Tengger mulai berjalan turun dari makam. Mereka mengenakan busana adat, wajah-wajah mereka memancarkan suka cita—sebuah ekspresi syukur atas rezeki dan kemakmuran yang mereka terima. Mereka hidup berdampingan dengan sejarah dan darah mereka sendiri. Mereka tidak membiarkan masa lalu mati.

Langkah kami berlawanan arah. Mereka turun menuju lembah, sementara aku terus merayap naik menuju puncak. Kami saling menatap di tengah kabut yang memutih. Mereka menebar senyum yang tulus, dan aku membalasnya dengan binar mata yang sama.

Tiba-tiba, wajah-wajah asing itu tak lagi terasa jauh. Aku merasa melebur dalam energi suka cita mereka. Dari tempatku berdiri, aku seolah bisa mendengar sorak bahagia para leluhur yang menerima persembahan itu. Dan senyuman warga Tengger siang itu, secara ajaib, menghapuskan segala lelah yang telah kukumpulkan sepanjang ribuan kilometer berjalan sendiri. Aku tidak lagi merasa sendirian; aku sedang berjalan bersama ribuan doa yang membumbung ke langit Bromo.


 

JATI MENARI DI ALAS BURNO

Bakso gerobakan di Bromo sebenarnya tidak berbeda jauh dengan bakso keliling yang sering lewat di depan rumahku. Namun, entah mengapa, rasanya jauh lebih nikmat. Mungkin karena lidahku baru saja menuntaskan ribuan kilometer pahitnya aspal sisi selatan Pulau Jawa. Atau mungkin, Bakso Bromo memang memiliki sisi magis yang mampu menghipnotis tidak hanya indera perasa, tapi juga relung hati.

Aku menghabiskannya dengan tergesa. Berkali-kali kulirik jam di layar ponsel; kabut merayap makin tebal, membawa firasat buruk akan datangnya hujan. Rasa cemas mulai menggerogoti. Jika hujan turun sekarang, perjalananku menuju Senduro akan tamat. Aku akan terjebak dan terpaksa menginap di Ranu Pani. Padahal, setelah perkampungan itu, yang tersisa hanyalah hutan lebat berlumut yang dingin dan hening.

“Alas Burno jalannya sudah bagus, Pak?” tanyaku, mencoba memecah kesunyian pada penjual bakso.

“Masih banyak lubang, Mbak. Lumutan juga,” jawabnya sambil menutup dandang bakso. Kebulan uapnya membubung tinggi, mirip letupan kecil gunung berapi yang sedang batuk.

“Kemarin hujan, Pak? Jam segini…” Aku mencari kepastian, berharap ia menjawab ‘tidak’.

“Hujan, Mbak. Beberapa hari ini rutin.”

Jawaban itu adalah alarm bagiku. Hasrat makanku mendadak hilang. Aku harus bergegas sebelum terjebak dalam pelukan dingin Ranu Pani.

“Pak, baksonya enak, tapi saya buru-buru. Sisanya dibungkus plastik saja, ya?”

Penjual itu membungkus sisa baksoku sambil berpesan agar aku ekstra waspada. Alas Burno bukan sekadar hutan; ia adalah labirin lubang dan lumut yang licin. Ia menyarankanku memacu kecepatan agar tidak bertemu hujan di tengah rimba.

Alas Burno adalah urat nadi yang menghubungkan Ranu Pani dengan Senduro, Lumajang. Jalannya turun berkelok-kelok panjang dengan jebakan lubang di tikungan curam. Tangan kanan dan kiriku bergantian menarik rem, menjaga keseimbangan sepedaku agar tidak terlempar saat berpapasan dengan kendaraan besar dari arah bawah. Udara sangat dingin hingga jemariku kram. Setiap beberapa kilometer, aku harus berhenti hanya untuk saling menepukkan tangan, meregangkan otot yang tegang dari lengan hingga ujung jari. Lengah sedikit saja, aku bisa kehilangan keseimbangan dan tamat di dasar jurang.

Belum lima kilometer berjalan, keanehan dimulai. Peta digital di stang sepedaku berbunyi terus-menerus. Tak biasanya ia seriuh ini.

“Kenapa berisik sekali?” keluhku.

Aku masuk ke pengaturan dan menonaktifkan semua nada notifikasi. Seharusnya ia diam, meski ada tikungan setajam apa pun di depan. Namun, suara itu tetap muncul.

“Tiitt… tiitt… tiitt…”

“Jangan berisik di tengah hutan yang sunyi! Jangan membangunkan mereka yang sedang tidur!” gertakku pada alat itu. Kupastikan kembali semua opsi adalah OFF. Tapi suara itu tetap ada, menyayat kesunyian Alas Burno.

“Sudah, jangan berbunyi lagi! Kita sama-sama capek!”

Mataku terpaku pada layar. Kosong. Tak ada peringatan apa pun yang menyala. Aku diam sejenak, memandangi pohon-pohon raksasa yang menjulang menggapai langit. Tiba-tiba, dari arah belakang, terdengar suara langkah menginjak ranting kering. Aku menoleh cepat, jantungku berdegup kencang. Siapa yang berani mendatangiku di jam mati di tengah Alas Burno?

Seekor monyet kecil duduk di sana. Ia menatapku dengan sepasang mata cokelat yang dalam. Ia tampak mungil dan tak berbahaya, tapi ada sesuatu yang janggal. Ia tidak lari, tidak menyerang, hanya diam memandangiku tanpa berpaling.

Siapa kamu sebenarnya? tanyaku dalam hati. Muncul keraguan yang aneh. Binatang hutan biasanya akan bereaksi jika bertemu manusia, tapi makhluk ini seperti sedang mengawasiku dengan kesadaran yang terlalu tinggi. Tatapannya kosong, namun menusuk.

Dia pasti bukan monyet!

Kecurigaanku memuncak, dan di saat yang sama, peta digitalku kembali berteriak: “Tiitt… tiitt… tiitt…”

Kesabaranku habis. Pikiranku diserang dugaan-dugaan tak masuk akal. Aku kalut. Namun, di tengah kekacauan itu, sebuah suara di kepalaku berbisik: Tetap waras, tetap fokus.

Aku berhenti melawan. Kuputuskan untuk menyesuaikan diri dengan irama bunyi itu. Kulepaskan kecemasan, kubuang semua pikiran buruk yang merasuk. Aku harus beradaptasi, sebagaimana aku terbiasa menerima kegagalan dan kekecewaan dalam hidup. Saat aku berhenti menolak dan mulai mengizinkan diriku menerima alam apa adanya, sebuah keajaiban muncul.

Dunia di sekitarku mulai berubah. Pohon-pohon jati yang tadinya diam memasung diri di pinggir jalan, perlahan mulai bergerak. Mereka berputar, meliuk, dan menari mengikuti irama nada dari peta digitalku. Nada dan gerak berpadu selaras, mementaskan sebuah pertunjukan rahasia untuk jiwaku yang lelah.

Ini seperti lelucon, tapi terasa sangat nyata. Pohon-pohon itu menari dengan indahnya di tengah rimba Alas Burno. Aku hanya bisa terpaku, tak lagi mampu membedakan mana realitas dan mana halusinasi. Yang kutahu, hatiku kini tak lagi takut. Aku sedang menikmati tarian semesta yang hanya dipersembahkan untuk para pengembara yang sudah menyerahkan seluruh kewarasannya pada jalanan.

 


 

SENYUM LELUHUR DI TANAH TENGGER

Air mata yang sudah membendung di kantung lakrimal tak lagi mampu kutahan. Mereka meluap, tumpah tanpa permisi, seolah kantung itu terlalu kecil untuk menampung duka dan lelah yang telah tersimpan selama puluhan tahun di sana.

Sama halnya dengan ragaku yang tertahan di Senduro. Aku duduk terpaku di atas sebuah saung bambu, memandangi sekeliling dengan tatapan kosong. Di depanku, seorang lelaki duduk diam. Di saung sebelah kiri, ada seorang lelaki paruh baya yang usianya mungkin sedikit lebih muda dari Bapak.

Aku kehilangan kompas realitas. Batas antara yang nyata dan yang fana telah lebur sejak aku melihat pohon-pohon jati di Alas Burno menari mengejek kesendirianku. Apakah kedua lelaki ini nyata? Ataukah mereka hanyalah proyeksi lain dari hutan jati tadi?

“Ada apa, Mbak?” Bapak di saung kiri menyapaku, memecah lamunanku.

“Mmm… Pak, ini daerah mana ya?” aku bertanya balik. Suaraku terdengar asing di telingaku sendiri. Aku sedang mencari jalan keluar dari kekacauan pikiranku. Aku lupa di mana pintu exit untuk kembali ke dunia nyata.

“Senduro, Mbak. Sampean mau ke mana?” Ia menatapku penuh selidik, mungkin heran melihat seorang pesepeda yang tampak linglung di tengah jalan.

“Ini Lumajang ya, Pak? Saya mau ke Banyuwangi.”

“Ini Senduro, Mbak. Lumajang kota masih jauh…” Ia mulai terlihat enggan berurusan dengan kekacauanku. Lelaki di saung depanku ikut mencuri pandang, namun segera membuang muka saat mataku memaku matanya.

Dalam kepanikan itu, aku hanya mengingat satu nama. Satu manusia yang bisa kupercaya untuk menarikku kembali ke bumi. Aku menghubunginya dengan tangan gemetar.

“Hei, kenapa?” suaranya terdengar di seberang sana.

“Aku bingung…” bisikku. Aku bercerita tentang pohon jati yang berjalan, tentang aku yang lupa arah, dan tentang rasa rindu rumah yang tiba-tiba menghantam dada. Aku ingin pulang, tapi aku bingung rumah yang mana yang kumaksud.

Ia mendengarkan ocehanku dengan kesabaran yang luar biasa. “Kamu harus tenang. Tarik napas dalam, lalu keluarkan. Ulangi sampai kamu merasa nyaman.”

Aku mengikuti instruksinya. Ia adalah jangkar bagi jiwaku; ia yang paling tahu tentang kekacauan yang sering bertamu di kepalaku.

“Sudah tenang?” tanyanya setelah beberapa saat. “Iya, sudah lebih baik.”

Malam mulai menjemput, dan aku memutuskan untuk menyerah pada bantal hotel. Tak ada lagi perjalanan tengah malam yang menjanjikan ketenangan semu. Aku harus tidur terlelap untuk menyeimbangkan kembali timbangan pikiranku. Tubuh Kuda Betina ini memang lelah, tapi ia masih sanggup berlari. Namun, hati dan pikiran yang saling kejar-kejaranlah yang sebenarnya membuatku tumbang.

Tiba-tiba aku teringat ucapannya: “Alam memberikan apa yang kamu inginkan.”

Lalu, apa yang sebenarnya aku inginkan?

Mungkin aku ingin lari dari rutinitas yang mendikte hidupku; dari aroma kopi yang selalu datang di jam-jam yang kaku, dari angka-angka di layar monitor yang mencambuk mata lelahku menuju penuaan, dan dari nyeri leher yang selalu menjadi teman menjelang tidur.

Itulah alasanku melakukan perjalanan gila ini. Melintasi bentangan Pulau Jawa sisi selatan hanya dengan kekuatan kaki. Aku ingin berkenalan dengan seluruh penghuninya—semua yang melekat pada rahim bumi ini. Aku ingin mengosongkan pikiran dari gangguan duniawi dan menyerap energi semesta dengan tangan terbuka.

Dan ternyata, dia benar. Alam semesta telah menyambut kedatanganku. Ia menjawab seluruh ragu yang pernah kupunya. Angin bisa meniupkan pesan, daun bisa mendengar doa, pohon bisa memberikan pelukan, dan para leluhur menyapaku lewat senyum warga Tengger. Bahkan pohon jati pun menari merayakan kehadiranku di dunia mereka.

Alam tidak diam. Mereka hidup dalam gelombang frekuensi yang berbeda, di sisi lain dunia yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang sudah cukup berani untuk menjadi "gila".

TITIK TEMU LUMAJANG

Apa yang paling aku benci dalam hidup? Sesuatu yang meninggalkan kesan tidak indah; memori yang sulit dilupakan meski berkali-kali kucoba hapus dari ingatan. Otakku adalah pengarsip yang selektif; ia hanya menyimpan sesuatu yang menonjol—jika bukan yang terbaik, pasti yang terburuk.

Jika saja ada tombol Ctrl+A dan Delete untuk membersihkan ruang kenangan yang kian menyusut seiring bertambahnya usia, aku pasti sudah menekannya sejak dulu. Dan jika kesempatan itu ada, yang pertama kuhapus adalah memori bersama Bapak.

Bapak adalah arsitek yang menciptakan karakter "monster kecil" dalam diriku. Sejak usia dua belas tahun, aku tumbuh dalam tekanan, makian, dan pukulan yang membentuk dinding pertahanan yang kaku. Aku membenci keadaan yang membuat Bapak menjadi monster besar, dan aku menjadi monster kecilnya.

Dulu aku bertanya, apakah kehidupan ini anugerah? Ataukah ia hanyalah tanah liat yang bentuknya ditentukan oleh tangan siapa yang meremasnya? Kehidupanku dibentuk oleh tangan dingin Bapak. Ia ingin aku menjadi manusia yang tidak boleh lemah. Ia mengajarkanku cara melihat manusia sebagai ancaman. Jangan percaya siapa pun. Semua manusia adalah penipu. Tak ada yang menolongmu selain dirimu sendiri. Dalam hidup hanya ada dua peran: pelaku atau korban. Pilihlah menjadi pelaku.

“Bapak, apakah aku harus mempercayai itu semua? Aku baru SMP, aku hanya ingin diterima oleh teman-temanku,” protesku dalam hati dua puluh delapan tahun yang lalu. Bahkan, aku pernah mengetuk pintu langit, memohon agar Tuhan mencabut nyawanya lebih cepat agar ia tak ada lagi di bumi ini. Begitu besarnya benci itu.

Namun kini, di tengah badai kehidupan yang jauh lebih besar dari cerita Bapak, aku tersungkur pada sebuah kesadaran yang pedih.

“Bapak… ternyata aku perlu menjadi monster sepertimu untuk tetap berdiri menghadapi badai ini.”

Bapak tidak menjawab. Ia sudah tertidur nyenyak di dalam tanah. Tapi ajarannya menggema di setiap kayuhanku. Aku mulai merasakan bahwa manusia memang bisa menjadi ancaman, bahwa kemandirian mutlak adalah satu-satunya perlindungan. Maafkan aku, Bapak, karena dulu pernah mendoakan kematianmu. Aku bodoh. Ternyata, kamu sedang mempersiapkanku untuk perjalanan ribuan kilometer ini.

Setelah pikiran dan pandanganku dipermainkan oleh pohon jati yang menari di Alas Burno, aku akhirnya menyerah pada kenyataan fisik. Aku bangun di atas kasur hotel yang lembut di Lumajang. Kainnya dingin terpapar AC, tapi selimutnya memberi kehangatan yang mewah. Kedua kakiku terasa lumpuh, dan luka lecet di tubuhku akhirnya bisa bernapas di atas seprei yang bersih. Menginap di sini bukan sekadar mengistirahatkan raga, tapi memungut kembali jiwa yang sempat kehilangan arah.

Hanya lima jam aku terlelap, namun memoriku melakukan perjalanan waktu dua puluh delapan tahun ke belakang. Bapak hadir kembali, bukan sebagai luka, melainkan sebagai memori baik. Aku mencintaimu, Bapak. Aku berhenti membencimu. Kamulah yang mencetak kepribadian ini hingga aku berani berada di Lumajang seorang diri, bertarung dalam pacuan melawan ketakutan. Aku bukan lagi Kuda Betina yang lemah. Aku adalah monster kuat yang kau buat, yang tetap tenang meski ditinggalkan oleh perhatian duniawi.

“Aku kuat, dan aku akan menyelesaikannya.”

Pukul enam pagi, Kuda Betina siap kembali ke jalur. Meski bagi para Kuda lain pacuan sudah berakhir kemarin, bagiku perjalanan ini belum usai. Aku tidak ingin dihentikan oleh apa pun. Aku ingin mematahkan ejekan mereka yang berharap aku menyerah.

“Hanya aku yang bisa menghentikan diriku.”

Saat hendak bersiap, seorang lelaki tua memanggilku. Usianya sebaya Bapak. Ada keriput di sudut matanya yang tampak familiar saat ia tersenyum.

Come here, sit down with me,” ucapnya dalam bahasa Inggris. “Hai Pak, mau kopi?” tawarku sambil duduk di sebelahnya. “Arep nengdi kowe?” (Mau ke mana kamu?)

Aku terperanjat. Wajahnya memang Jawa, tapi sapaan Inggrisnya membuatku mengira ia warga asing. Ternyata, ia adalah Pak Marto, warga negara Suriname keturunan Jawa Tengah yang sedang pulang kampung bersama putrinya, Michelle Nadine Martoredjo.

Aku ora iso bahasa Indonesia. Isoku bahasa Jawa ngoko,” akunya jujur.

Melihat Pak Marto dan Michelle, hatiku menghangat. Di Lumajang, aku menemukan irisan memori buruk yang telah tumbuh menjadi memori baik. Kisah mereka adalah cermin dari apa yang kupelajari: hidup memiliki dua sisi yang tak terpisahkan. Kebaikan muncul untuk menggantikan yang buruk, dan keburukan ada untuk memberi pengakuan pada kebaikan.

Mesin waktu di kepalaku menarik kedua masa itu menjadi satu, membiarkanku menerima hitam dan putih hidup dengan seimbang. Aku berangkat dari Lumajang dengan hati yang penuh. Bukan lagi sebagai anak yang terluka, tapi sebagai pejuang yang telah berdamai dengan bayang-bayang ayahnya sendiri.

 


 

PENJAGA MALAM DI LABIRIN GUMITIR

Selepas Jember, jalanan mulai menyempit dan menanjak kembali. Aku tahu ini adalah "ujian kelayakan" terakhir sebelum aku diizinkan menginjakkan kaki di tanah Blambangan. Kali ini, takdir tak membawaku lewat jalur aspal mulus seperti biasanya. Rute perjalanan dibelokkan ke kanan, memaksaku memasuki jantung Kebun Kopi Gumitir di Desa Sidomulyo.

Jalanan berubah menjadi barisan bebatuan kasar yang dikepung rapat oleh barisan pohon kopi. Jalur setapak yang seharusnya sunyi ini mendadak riuh oleh kendaraan besar dan deru motor, karena jalur utama penghubung Jember-Banyuwangi sedang diperbaiki. Namun, keriuhan itu hanya sesaat. Begitu azan Maghrib berkumandang dan hari meredup menjadi gelap, suasana berubah total. Suara mesin menjauh, dan aku tertinggal dalam kesunyian yang ganjil. Sesekali jalanan benar-benar senyap, seolah semesta sedang menahan napas.

Tanpa penerangan jalan, aku hanya mengandalkan nyala lampu kecil di sepedaku untuk membelah kegelapan bebatuan. Beberapa kali kujumpai turunan tajam berbatu yang mengancam keseimbangan. Dalam kondisi lelah yang luar biasa, aku tahu lepas kendali sedikit saja berarti celaka. Aku memilih untuk tidak berjudi dengan nyawa; kuturunkan kaki, lalu berjalan sambil mendorong sepedaku selangkah demi selangkah demi keselamatan.

Setelah berjalan beberapa kilometer dalam dekapan sunyi, sebuah bayangan raksasa muncul di depanku. Berdiri kokoh di tengah rimba hijau, Pabrik Kebun Kopi Gumitir menampakkan wujudnya—sebuah bangunan tua yang sangat besar dengan aroma yang bercampur antara wangi kopi ranum dan hawa lembap dari pepohonan purba. Pabrik itu seperti monumen bisu yang menyimpan sejarah panjang di kawasan Silo.

Tak jauh dari sana, tersebar rumah-rumah warga yang sangat sederhana. Lampu neon remang-remang di teras rumah menjadi satu-satunya tanda kehidupan, namun aku tak melihat seorang pun penghuninya. Padahal malam belum larut, tapi kenapa suasana sudah sepahit kopi tanpa gula? Sepi sekali.

Aku memutuskan berhenti saat mataku menangkap cahaya dari sebuah bangunan. Di depannya, beberapa lelaki sedang sibuk mengitari sebuah motor yang sedang diperbaiki.

“Warungnya masih buka, Mas? Mau pesan kopi saget (bisa)?” tanyaku, membuyarkan konsentrasi mereka.

Niki sanes warung kopi, Mbak. Niki pos kampling. Tapi wonten kopi, kulo damelke kopi, Mbak…” (Ini bukan warung kopi, Mbak. Ini pos kampling. Tapi ada kopi, saya buatkan ya, Mbak...) sahut salah satu dari mereka dengan keramahan yang tulus.

Aku tersipu, merasa sungkan karena telah mengira pos penjagaan sebagai warung. Namun, di sanalah keajaiban perjalanan ini kembali hadir. Di tengah perkampungan Kebun Kopi Gumitir, aku duduk menikmati suasana malam bersama manusia-manusia baru yang sudi berbagi. Aku sudah benar-benar lupa ini hari apa, atau sudah berapa lama aku terlambat mencapai garis finish. Di pos kampling itu, suasana menjadi gayeng (hangat dan akrab). Rasa cemas yang membuntutiku sejak tadi menguap bersama uap kopi.

“Jalan keluar Kebun Kopi Gumitir ini masih jauh nggak, Mas?” tanyaku sebelum berpamitan.

Mboten, Mbak. Nanti sampeyan terus saja, sampai ketemu gapura besar setelah terowongan Mrawan. Itu sudah jalan raya.”

Nggih, matur suwun, Mas. Kopinya berapa?” tanyaku sambil merogoh saku.

Niki gratis, Mbak. Mboten usah mbayar.

Aku tersenyum malu sekaligus terharu menerima kebaikan sederhana itu. Aku melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya di depan mataku berdiri sebuah gapura besar yang tampak seperti peninggalan zaman penjajahan Belanda. Kokoh, tak terawat, sunyi, dan sedikit mencekam di bawah sisa-sisa cahaya lampu sepedaku. Namun, aku tak lagi takut. Kopi dari pos kampling tadi telah menghangatkan nyaliku untuk menuntaskan sisa kilometer menuju gerbang Blambangan.

GANDRUNG : KEPULANGAN DI UJUNG BLAMBANGAN

Banyuwangi. Nama itu akhirnya bukan lagi sekadar koordinat dingin di layar peta digital atau ambisi yang menghantui kepala. Ia kini nyata, bergetar di bawah ban sepedaku. Aroma laut Selat Bali mulai tercium, bercampur dengan wangi dupa dan semerbak melati yang samar—sebuah aroma khas tanah yang sangat menjaga kesakralan tradisinya.

Aku menyentuh garis finish saat dunia sudah terlelap. Jam satu pagi. Tidak ada sorak-sorai penonton yang gegap gempita, tidak ada medali emas yang dikalungkan di leherku. Hanya ada aku, sepedaku, dan debu jalanan yang melekat di sekujur tubuh sebagai saksi bisu. Namun, di tengah kesunyian yang kupasrahkan itu, kejutan kecil menyambutku. Tiga orang kawan masih terjaga, berdiri menentang dingin demi menungguku: Pak Febrianta Heru, Mas Pandu, dan Jojo Maliq. Kehadiran mereka di jam mati itu terasa begitu hangat, seolah semesta mengirimkan perwakilan untuk membisikkan bahwa aku tidak benar-benar sendirian.

Sementara raga ini berhenti, di dalam dadaku sebuah tarian justru baru saja dimulai.

Tarian Gandrung.

Aku menatap patung-patung penari Gandrung yang berdiri anggun di setiap sudut kota. Tubuhnya meliuk gemulai, namun kakinya menapak sangat kuat ke bumi. Lirikan matanya tajam namun memikat, menyimpan rahasia tentang sejarah panjang perjuangan rakyat Blambangan. Konon, dahulu Gandrung bukan sekadar hiburan; ia adalah simbol perlawanan dan pesan rahasia para pejuang. Penari Gandrung menari untuk menyatukan yang tercerai-berai, memberi semangat pada yang lelah, dan menjadi penghubung antara yang hidup dan para leluhur.

Gandrung menari di atas garis tipis antara suka dan duka. Persis seperti diriku yang dipaksa menari di antara kesunyian Panggang dan terik yang membakar di Pracimantoro. Seperti diriku yang harus menyeimbangkan raga yang lelah dengan jiwa yang hampir menyerah di Alas Burno. Gandrung mengajarkanku bahwa untuk menjadi indah, seseorang harus berani menanggung beban mahkota yang berat dan kain yang membelit, namun tetap harus bergerak mengikuti irama semesta.

Aku telah menempuh ribuan kilometer bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat dari orang lain. Aku melakukannya untuk membuktikan pada "monster kecil" di dalam diriku bahwa ia bisa tumbuh menjadi "monster besar" yang bijaksana. Bapak benar, aku harus kuat menghadapi dunia yang penuh tipu daya. Namun, alam semesta juga benar; bahwa kekuatan sejati lahir dari kemampuan untuk tetap lembut dan "mendengar" di tengah kerasnya dunia.

Aku bukan lagi perempuan yang sama saat roda sepedaku berputar meninggalkan Carita. Aku adalah kuda yang telah berdialog dengan angin, meminta izin pada daun Jemplang, dipeluk oleh pohon di Ngadas, dan disapa oleh senyum tulus leluhur melalui warga Tengger. Aku telah menguliti lapisan-lapisan kebencian masa lalu dan menggantinya dengan syukur yang mendalam.

Di Banyuwangi, aku akhirnya memahami arti "pulang". Pulang bukan berarti kembali ke rutinitas kopi jam tujuh pagi dan layar monitor yang mencambuk mata menuju penuaan. Pulang adalah saat jiwa dan raga akhirnya berhenti saling kejar-kejaran dan mulai berjalan berdampingan dalam harmoni yang tenang.

Pacuan telah usai. Garis finish ini hanyalah awal dari perjalanan baru yang lebih luas. Di bawah tatapan mata penari Gandrung yang abadi, aku akhirnya benar-benar bisa memeluk diriku sendiri. Tanpa ragu, aku berbisik pelan pada angin yang membawa aroma Selat Bali:

"Terima kasih telah membawaku sampai di sini."

Comments