Bukan sesuatu yang mudah untuk dijelaskan. Ini bukan komedi situasi di televisi yang memancing tawa pecah lewat skenario konyol. Ini adalah tragedi kecil yang absurd. Bayangkan, dalam sepuluh menit ke depan, di sebuah toilet minimarket yang berbau karbol murah, dua orang asing akan saling tatap, mendobrak batas kewarasan, dan sepakat untuk masuk ke bilik yang sama.
Ray sudah mencapai titik didih sejak melangkah keluar dari lobi hotel. Baginya, malam itu adalah investasi yang gagal total. Dia telah mengorbankan jam lembur—yang artinya uang—dan menyewa kamar suite mewah yang harga semalamnya bisa memberi makan satu keluarga selama seminggu.
Harapannya sederhana namun spesifik: dia ingin perempuan di sampingnya itu melumat kejantanannya hingga tuntas, sementara tangan kekarnya yang rutin dilatih beban setiap pagi bisa meremas dada yang selalu dipamerkan dengan kaos transparan gaya Korea itu.
"Kamu kalau pakai baju jangan yang kelihatan belahannya gitu kenapa, sih?" gerutu Ray saat mereka baru sampai di hotel.
"Ini modis, Sayang. Kenapa? Cemburu? Perempuan di luar sana juga banyak yang begini!" sahut perempuannya, enteng.
Lalu, drama "sebentar" itu dimulai. Perempuannya pamit keluar mencari udara segar. Dua jam berlalu. Ray menunggu di atas sprei satin yang dingin, harga dirinya perlahan menguap bersama aroma parfum ruangan yang mahal. Ia menyambar ponselnya.
"Halo! Lama banget sih? Kamu di mana?"
"Ini lagi jalan-jalan, liat baju di butik sebelah studio foto deket hotel. Bentar kok, tinggal bayar. Kamu siap-siap deh."
Ray terdiam. Di ujung pintu kamar, saat ia sudah mengenakan kembali kemeja dan celana bahannya karena muak, perempuannya muncul dengan tangan penuh tas belanjaan. Wajahnya polos tanpa rasa bersalah.
"Loh, Sayang mau ke mana?" "Pulang."
Di dalam mobil, suasana terasa pengap oleh ego. Perempuannya masih asyik mengunyah permen karet seolah tak ada yang salah. Ray menghentikan mobil secara mendadak di parkiran sebuah minimarket.
"Mau ngapain, Sayang?" "Mau onani." "Serius?" "Otakmu kebanyakan shopping, jadinya bego begini ya..." "Ya maksudnya itu... kamu mau beli apa? Aku nitip rokok ya!"
Ray tak menyahut. Dia melangkah lebar masuk ke minimarket, mengabaikan rak-rak makanan ringan, dan langsung menghampiri kasir yang sedang mengantuk.
"Mbak, toilet di mana?" "Itu Mas, masuk saja, samping gudang."
Ray mendengus. Di hotel mewah tadi, dia bahkan tak sempat pipis. Dia hanya sempat telanjang, mengelus miliknya dengan getir, lalu berpakaian lagi karena lelah menunggu. Malam yang miris.
Di sisi lain kota, Wanda sedang menghitung sisa kesabarannya. Sebuah pesan pendek baru saja masuk ke ponselnya—barisan kata yang ia nantikan demi menyambung hidup sebulan ke depan. Wanda sudah melayani laki-laki sejak era Presiden Megawati. Dari satu rezim ke rezim lain, pekerjaannya tetap sama: memanjakan syahwat.
"Wanda, untuk tamu yang satu ini, kamu harus nurut. Dia bayar mahal," pesan dari sang mami.
"Halah... bayarnya emang mahal, tapi yang sampai ke gue palingan cuma nopek (dua ratus ribu)!" gerutu Wanda.
Meski bayarannya seringkali tidak sebanding dengan harga dirinya, Wanda tetap bertahan. Namun malam ini aneh. Dia diminta telanjang di sebuah studio foto, namun tubuhnya tak disentuh sama sekali. Si fotografer—seorang pemuda kurus dengan kamera mahal—hanya memintanya berpose.
"Mas, gue cuma difoto? Enggak diapa-apain?" "Iya, Mbak." "Bayaran gue nggak dipotong, kan?" "Enggak, Mbak. Tenang saja."
Fotografer itu terus mengarahkannya. "Coba lebih santai, Mbak. Bayangkan sedang bercinta. Kasih saya aura orgasme. Nikmat yang klimaks!"
Wanda mendecit. "Susah, Mas! Gue nggak bisa pura-pura orgasme kalau dipegang saja enggak!"
"Coba dibayangkan saja, Mbak. Kurang sedikit lagi."
Bagi Wanda, membuka paha sepuluh kali sehari jauh lebih mudah daripada membayangkan rasa nikmat yang sudah lama tidak ia rasakan secara tulus. Gairah bukan sesuatu yang bisa dipotret jika hatinya sedang kering.
"Gini deh, Mas. Elu telanjang sekarang, kita main! Gimana? Biar dapet auranya!" tantang Wanda. "Maaf Mbak, saya nggak bisa."
Wanda menyerah. Dia menyambar bajunya, memakai kemeja ungunya dengan kasar, dan meninggalkan studio itu dengan perasaan dongkol yang meluap-luap. Di tengah jalan pulang, desakan di kandung kemihnya tak tertahankan. Dia membelokkan mobil ke minimarket yang sama dengan Ray.
"Mbak, toilet?" tanya Wanda terburu-buru. "Samping gudang, Mbak."
Di depan pintu toilet yang sempit dan berderit itu, mereka bertemu.
Ray dengan kemeja kantor yang kusut karena amarah, dan Wanda dengan baju ungu yang kancingnya belum terpasang sempurna karena tergesa-gesa. Mereka beradu pandang. Tak ada sapaan "permisi" atau "silakan duluan".
Dalam tatapan itu, ada komunikasi purba yang melampaui kata-kata. Ray melihat seorang wanita yang tampak "haus" namun "lelah", dan Wanda melihat seorang pria yang "penat" namun "membara". Keduanya sama-sama dikecewakan oleh pasangan bicara mereka malam itu. Keduanya sama-sama membawa gairah yang macet di tengah jalan.
Pintu toilet terbuka. Ruangan itu sempit, hanya ada satu kloset dan satu bak air kecil.
Ray tidak bergerak mundur, Wanda tidak berpaling. Tanpa sebuah kata pun, seolah sudah disepakati dalam keheningan yang magis, mereka melangkah masuk bersama-sama. Pintu dikunci dari dalam.
Malam itu, di antara tumpukan kardus mi instan dan aroma pembersih lantai, sebuah pertemuan yang tak masuk akal baru saja dimulai. Mereka tidak saling kenal, tapi mereka sepakat untuk tidak membiarkan malam ini berakhir sia-sia.
Di dalam ruangan berukuran dua kali satu meter itu, suara dengung lampu neon yang nyaris mati menjadi satu-satunya musik latar. Aroma karbol murah menusuk hidung, bercampur dengan sisa wangi parfum mahal dari tubuh Ray yang mulai memudar.
Ray tidak butuh waktu lama untuk menyadari bahwa wanita di depannya bukan sekadar kebetulan. Ada semburat liar di matanya yang lelah, sesuatu yang tidak ia temukan pada perempuannya yang hanya sibuk dengan tas belanjaan di dalam mobil. Sementara Wanda, ia melihat seorang pria yang sedang berada di puncak gunung berapi, siap meledak kapan saja.
"Tadi... di studio sebelah hotel itu ya?" tanya Ray pelan, suaranya parau.
Wanda tersenyum tipis, tangannya mulai melepas kancing baju ungunya yang tadi terpasang sembarang. "Fotografernya goblok. Dia cuma mau foto, nggak mau pakai."
Ray mendengus, tawa getir lolos dari sela giginya. "Perempuan gue juga sama. Dia cuma mau belanja, nggak mau kerja."
Tanpa ada komando, sekat-sekat kesopanan runtuh di antara tumpukan ember plastik dan botol pembersih lantai. Ray menarik pinggang Wanda, merasakan tekstur kulit yang nyata—bukan bayangan, bukan sekadar pose untuk kamera. Wanda pun tak menolak. Ia justru memandu tangan kekar Ray, yang tadi pagi dilatih dengan beban besi, untuk meremas sesuatu yang jauh lebih hangat dan lunak.
Di luar, kasir minimarket mungkin sedang sibuk men-scan belanjaan rokok milik pacar Ray yang masih asyik mengunyah permen karet. Di luar, dunia masih berjalan dengan segala transaksi materi yang memuakkan.
Namun di dalam sini, di samping gudang stok mi instan, Ray dan Wanda tidak lagi peduli pada harga sewa hotel atau bayaran nopek. Mereka hanya dua orang yang sedang saling membalas dendam pada ekspektasi yang mengecewakan.
Sepuluh menit kemudian, pintu toilet terbuka pelan.
Ray keluar lebih dulu, merapikan kemejanya yang kini lebih kusut dari sebelumnya. Ia berjalan menuju rak minuman, mengambil sebotol air mineral dingin seolah-olah baru saja menyelesaikan marathon. Tak lama, Wanda keluar dengan wajah yang jauh lebih tenang, aura "nikmat yang klimaks" yang dicari si fotografer kini terpancar alami di wajahnya yang lugu.
Mereka tak saling bicara lagi. Tak ada tukar nomor telepon, tak ada janji untuk bertemu di hotel bintang lima.
Ray kembali ke mobilnya, menyalakan mesin, dan mendapati pacarnya mengeluh karena rokoknya kelamaan. Malam itu berakhir. Sebuah transaksi tanpa uang, sebuah perselingkuhan tanpa pengkhianatan rasa, yang hanya bisa dimengerti oleh mereka berdua dan dinding-dinding toilet minimarket yang bisu.
Wanda masuk kembali ke studio dengan langkah yang berbeda. Tidak ada lagi sisa kekesalan yang mengganjal di dadanya, juga tidak ada lagi desakan yang membuatnya gelisah. Wajahnya yang tadi kaku kini tampak lebih rileks, hampir terlihat malas, dengan sisa rona yang tidak bisa disembunyikan oleh bedak tipisnya.
Si fotografer masih di sana, sedang memeriksa lensa dengan raut wajah dongkol yang belum hilang. Ia mendongak saat mendengar pintu berderit.
"Loh, Mbak Wanda? Kirain kabur," cetus si fotografer, nada suaranya ketus.
Wanda tidak membalas dengan makian. Ia hanya melempar kunci mobilnya ke atas sofa kulit, lalu mulai menanggalkan kemeja ungunya tanpa instruksi. "Gue cuma pipis, Mas. Rewel amat sih."
"Ya tapi kelamaan! Mood-nya jadi ilang, kan?"
"Siapa bilang?" Wanda melangkah ke tengah background putih. Ia berdiri di bawah sorotan lampu softbox yang panas, namun kali ini ia tidak merasa gerah.
Ia memejamkan mata sejenak, membayangkan aroma karbol murah dan napas parau Ray di balik pintu toilet minimarket tadi. Sentuhan tangan kekar yang kasar namun jujur itu masih terasa membekas di kulit pinggangnya. Sesuatu yang jauh lebih nyata daripada perintah "bayangkan sedang bercinta" dari mulut si fotografer.
"Ayo, jepret. Gue lagi dapet nih 'aura' yang lo cari," tantang Wanda dengan senyum tipis yang misterius.
Si fotografer terpaku sejenak di balik bidikannya. Melalui lubang intip kamera, dia melihat perubahan drastis. Wanda tidak lagi berpose kaku seperti manekin yang dipaksa ngangkang. Gerakannya mengalir, tatapannya sayu namun tajam, dan ada sedikit peluh yang menghiasi tulang selangkangnya—peluh yang bukan berasal dari lampu studio.
Cekrek! Cekrek!
"Nah! Gini dong! Ini dia!" seru si fotografer kegirangan. "Tahan, Mbak! Yak, kepalanya miring dikit... bagus! Ekspresinya dapet banget! Kayak beneran baru abis... ah, sudahlah!"
Wanda hanya tertawa kecil di dalam hati. Dia membiarkan lensa itu "memangsa" tubuhnya habis-habisan. Dia memberikan semua simulasi orgasme yang diinginkan si fotografer, karena baginya, simulasi itu kini memiliki referensi yang segar.
Sesi foto yang tadinya macet total itu selesai hanya dalam waktu lima belas menit.
"Gila, Mbak. Hasilnya pecah semua! Lo habis makan apa di luar tadi? Kok bisa langsung on gitu?" tanya si fotografer sambil sibuk membolak-balik hasil jepretannya di layar monitor.
Wanda meraih kembali kemeja ungunya, mengancingkannya satu per satu dengan tenang. Ia berjalan menuju pintu tanpa berniat melihat hasil fotonya sendiri.
"Makan angin segar, Mas. Ternyata lebih manjur daripada dengerin ocehan lo," sahut Wanda santai.
Ia melangkah keluar studio, menghirup udara malam Madiun yang mulai mendingin. Di saku celananya, tidak ada tambahan uang, tapi di ingatannya, ada satu rahasia kecil yang jauh lebih berharga daripada bayaran nopek yang akan ia terima besok.
Sedangkan Ray, ia mengemudikan mobilnya menembus jalanan Madiun yang mulai sepi dengan perasaan yang sulit didefinisikan. Di sampingnya, perempuannya masih sibuk mengutak-atik ponsel, sesekali mengeluh karena sinyal yang naik turun, seolah-olah tumpukan tas belanjaan di kursi belakang belum cukup memuaskan dahaganya malam itu.
"Lama banget sih tadi di minimarket? Beli rokok doang kayak nunggu antrean sembako," cerocos perempuannya tanpa menoleh.
Ray hanya diam. Tangannya mencengkeram kemudi, namun otot-otot lengannya tidak lagi setegang tadi. Ada sisa aroma karbol dan parfum asing yang samar-samar menempel di kerah kemejanya—sebuah jejak bisu dari sepuluh menit yang paling jujur dalam hidupnya belakangan ini.
"Sayang, besok temenin aku ke Sleko ya? Katanya ada market baru yang lagi hits, pengen liat-liat sepatu lagi," lanjut perempuannya, suaranya melengking manja yang biasanya sanggup membuat Ray luluh, namun malam ini terdengar seperti gesekan amplas di telinganya.
"Besok aku kerja," jawab Ray pendek.
"Ih, kok gitu? Kan biasanya bisa diatur..."
Ray menghentikan mobil di depan pagar rumah. Ia mematikan mesin, namun tidak segera turun. Ia menatap lurus ke depan, ke arah kegelapan jalanan yang hanya diterangi lampu merkuri yang remang-remang.
Di dalam kepalanya, ia tidak melihat butik, tidak melihat hotel mewah, dan tidak melihat deretan sepatu bermerek. Ia hanya melihat bayangan wanita berbaju ungu di dalam toilet yang sempit itu. Wanita yang tidak meminta apa-apa darinya, tidak menuntut dibelikan ini-itu, namun memberikan sesuatu yang tidak bisa dibeli dengan lembaran duit gambar Soekarno-Hatta.
"Kamu kenapa sih? Kok aneh banget malam ini?" perempuannya mulai curiga, menatap Ray dengan mata yang penuh riasan gaya Korea itu.
Ray menoleh perlahan. Ia menatap wajah perempuannya—wajah yang selama ini ia bayar mahal dengan kesabaran dan saldo bank—lalu tersenyum tipis. Sebuah senyum yang tidak sampai ke mata, namun penuh dengan kepuasan yang rahasia.
"Enggak apa-apa. Tadi cuma dapet 'udara segar' yang beneran segar," sahut Ray tenang.
Ia keluar dari mobil, meninggalkan perempuannya yang masih melongo kebingungan. Ray berjalan masuk ke rumah dengan langkah ringan. Malam yang tadinya ia pikir akan berakhir miris, justru ditutup dengan sebuah kemenangan kecil yang absurd.
Investasi hotelnya memang gagal total, tapi di sebuah toilet minimarket pinggir jalan, Ray baru saja mendapatkan kembali harga dirinya yang sempat tercecer di antara tas belanjaan.
Comments