TAMU PEREMPUAN

Malam di Madiun berubah menjadi kanvas yang suram. Hujan turun menderu, membasuh aspal jalanan yang mulai sepi. Di sebuah sudut, kedai kopi tempat Wanda bekerja nampak merana. Sejak pagi, bangku-bangku kayu itu kosong, hanya menyisakan aroma kayu basah dan sisa kopi yang mendingin.

“Hari ini sepi,” keluh Wanda, matanya menatap nanar ke arah rintik hujan yang tak kunjung reda.

“Ya sudah, closing saja. Gue juga capek,” sahut temannya, sang barista, sambil mulai mengelap meja.

Wanda mulai menata kursi, mengembalikan asbak, dan membereskan tisu yang tak terpakai. Pintu kayu kedai sudah hampir terkunci rapat ketika sebuah ketukan keras terdengar. Di ambang pintu, berdiri seorang perempuan cantik dengan jari-jari lentik dan baju transparan yang secara berani memamerkan belahan dadanya. Matanya merah, bicaranya agak melantur—setengah mabuk.

“Tapi kita sudah mau tutup, Mbak,” tolak Wanda halus.

“Sebentar saja, bagaimana? Saya butuh kopi buat usir kantuk,” paksa perempuan itu.

Setelah perdebatan sengit, Wanda akhirnya luluh dengan satu syarat: jangan buat onar. Aroma alkohol yang menyengat dari mulut tamu itu sudah cukup menjadi peringatan. Perempuan itu duduk di kursi tinggi depan meja barista. Ia tak sadar, atau mungkin tak peduli, saat rok mininya tersingkap memperlihatkan sesuatu yang seharusnya privat.

Ia memesan kopi dan mi instan. Sambil menunggu, ia membuka jaketnya dan mulai bicara. Awalnya hanya keluhan kecil, namun perlahan berubah menjadi narasi yang pekat tentang seorang lelaki yang tak kunjung menikahinya setelah sepuluh tahun bersama.

“Saya sudah pacaran hampir sepuluh tahun, tapi dia nggak mau nikahin saya. Brengsek!” umpat perempuan itu.

“Semua lelaki kan kayak gitu, baru tahu?” sahut Wanda dingin.

Namun, cerita perempuan itu—yang kemudian memperkenalkan diri sebagai Grace—mulai masuk ke wilayah yang membuat bulu kuduk Wanda meremang. Grace bercerita tentang kekasihnya yang ia sebut binatang. Tentang tuntutan seksual yang aneh, tentang rasa mual saat harus melumat kejantanan yang ia sebut sebagai "granat", hingga rasa sakit saat payudaranya digigit tanpa perasaan.

“Pacar saya itu sudah kayak binatang! Saya disuruh mangap, dijejali sampai muncrat. Enggak boleh dimuntahin, rasanya bacin!” Grace mendesis, matanya berkaca-kaca antara benci dan pasrah.

Wanda melirik jam tangannya. Sudah jam dua pagi. Ia ingin pulang, ia ingin tidur, tapi cerita Grace mendadak berubah menjadi sebuah pukulan telak.

“Ini cerita terakhir...” Grace menyeruput sisa mi instannya. “Terakhir kali saya diajak check-in sama pacar saya, kemarin malam. Saya sengaja pura-pura belanja sampai dua jam biar dia jenuh dan marah.”

Wanda tertegun. Jantungnya berdegup lebih kencang. Kemarin malam? Dua jam? Belanja?

“Pacar saya berhenti di minimarket, katanya beli korek. Tapi feeling saya dia mau onani. Anjing banget dia! Ternyata di toilet minimarket, dia sama perek. Bukan beli korek!”

Grace menyulut rokoknya, mengembuskan asapnya ke udara kedai yang pengap. “Perek itu bajunya ungu, rambutnya terurai sebahu. Menutupi muka, jadi saya nggak jelas melihatnya. Tapi saya tahu, mereka habis kenthu di sana.”

Dunia seakan berhenti berputar bagi Wanda. Di depan matanya duduk perempuan yang dikhianati oleh Ray—pria yang sepuluh menit lalu ia anggap sebagai "penyelamat" sesaatnya. Grace mengutuk "perek baju ungu" itu tepat di depan wajah sang pemilik baju ungu.

Wanda merasa mual. Ia merasa ingin menampar mulut Grace yang terus mengoceh, bukan karena ia membela Ray, tapi karena ironi ini terlalu kasar untuk ditelan. Dia merasa gerah, ingin segera mengusir Grace sebelum dia meledak atau tertawa histeris.

“Sudah pagi, Mbak. Gue sebenarnya jaga cuma sampai jam dua belas, ini sudah overtime,” kata Wanda dengan nada yang sulit dikontrol.

“Okay, sorry, sorry. Ini saya bayar dua ratus ribu, kembaliannya ambil saja. Anggap ini fee buat kamu karena sudah mau dengar curhatan saya. Kapan-kapan saya mampir sini lagi ya,” ucap Grace sambil berdiri, merapikan rok mininya.

Grace melangkah keluar, menghilang di kegelapan malam Madiun, membawa sejuta dendam pada kekasihnya dan pada "perek" yang tak ia sadari baru saja memberinya kopi.

Wanda berdiri mematung di belakang meja barista. Di tangannya ada lembaran uang dua ratus ribu—uang yang sama nilainya dengan bayaran nopek yang selalu ia keluhkan. Ia menatap uang itu, lalu menatap bayangannya di kaca kedai. Rambut sebahunya, sisa baju ungunya.

“Bajingan!” batin Wanda, mengumpat pada takdir, pada Ray, dan pada dirinya sendiri yang terjebak dalam lingkaran setan yang sama.

Comments

kemstro said…
ini lanjutannya toilet minimarket,.. padahal yg diajak ngobrol grace kan si wanda perek yg nglayani cowokny di toilet,..mantabh ceritamu sep,.. skali kali aku gawenen suspect tulisanmu ncep,cerita tunggal tapi yo, tentang aku tok,tak tunggu..awas nek ora..heuheu
diponk said…
donyane wanda karo grace kuwi sempit tenan ya :D
septi sutrisna said…
iya, ini kelanjutan TOILET MINIMARKET. next story, aku mau kenalin Ray's Life.