HANAFI

Hanafi. Aku kehilangan kata untuk merangkai jalinan tentangmu. Kau adalah lelaki yang tak perlu menggoda, namun diam-diam menyesap seluruh sukma.

Katamu, kau gemar berselingkuh dengan waktu, atau mungkin dengan hati-hati yang singgah di saku. Kau yang irit bicara, namun auramu bicara segalanya; bahkan saat kaos merah tanpa kerah itu membalut raga, kau tetaplah teka-teki yang ingin kubaca.

Hanafi. Aku terpukau pada pertemuan pertama yang ganjil, saat cinta kau lukiskan dalam guyonan yang usil. Ada jarak lima belas tahun di antara helas napas kita, namun mataku terkunci, tak mampu berpaling dari naskah takdirmu.

Kau menggairahkan dalam gerak yang tak pandai menari, setiap lekuk tubuhmu adalah puisi yang ingin kucumbu sendiri. Hanafi, aku ingin menciummu—mengambil sisa tawa dari bibirmu.

Namun kau adalah keindahan yang telah bertuan, sebuah taman yang pagarnya tak boleh kuruntuhkan. Lalu jemariku kau sentuh, lembut dan mencandu, membuatku ingin menyerah pada racun di tatapmu.

Kau datang sekelibat, namun menetap begitu hebat. Kita adalah dua asing yang belum saling mengenal, namun telah jatuh cinta pada jurang yang paling kekal.

Comments