MARAH

Ada yang mati rasa, yaitu Aku. Ada yang menyimpan duka, yaitu Aku.

Pada malam yang kau abaikan, serentetan duka turun seperti derasnya hujan di bulan Mei. Bantal busuk menjadi saksi adanya umpatan kekesalan yang tak tersampaikan. Karena kau memilih untuk diam daripada menanggapi. Karena kau lelaki yang tak ingin masalah menjadi semakin panjang dalam perdebatan. Sementara perempuan yang kau tahu hatinya sedang gundah ini, ingin didengarkan. 

Kau memilih untuk diam. Aku memilih untuk marah. Aku belum bisa meredam emosi lantas melanjutkan untuk membanting apa saja yang ada di depan mata. Aku marah kala itu. Aku lelah.  

Kau ikut marah karena perempuan ini sukanya marah-marah. Kau lipat gandakan emosi yang sebenarnya telah kau simpan. Kita bermain dalam kemarahan yang telah tersimpan lama.

Pukulan mendarat di kepala dan punggung. Salah satu dari kita terkapar. Satunya lagi terperangah dan terdiam lama. Kemudian tangisan jatuh. Aku tak kan lupa hari ini.


Post a Comment

Popular Posts