ELEGI TITIK NOL

Malam itu, ketakutan tak lagi sekadar bayang. Ia mengejar hingga menembus sekat mimpi di penghujung waktu. Saat kamu raib dari lingkaran hati, aku menyadari betapa banyak hal yang ikut runtuh—memaksa rasa kembali ke titik nol, ke sebuah ambang keikhlasan purba sebelum jiwa-jiwa lain sempat bertamu.

Ketakutan ini nyata. Ia bukan lagi fragmen patah hati dalam skenario drama yang bisa ditebak ujungnya. Ia telah menjelma memori yang rakus; memakan ruang-ruang di kepala, lalu memasang pagar duri pada apa pun yang mencoba mendekati rasa.

Raga ini mungkin bercerita dengan lantang bahwa ia sekuat karang yang tabah dihantam ombak. Namun, di lembar yang sama, jiwa justru menjerit pelanduk—menangisi malam-malam hampa tanpa mimpi, malam-malam yang kehilangan kompasnya karena ketiadaanmu.

Kita telah memutar waktu, hanya untuk jatuh kembali pada lubang patah hati yang sama. Inilah alasan mengapa aku begitu membenci jatuh cinta: ia memberiku sayap, hanya untuk merayakannya saat aku terhempas.

Comments