Kau adalah lelaki yang tak perlu menggoda,
Katamu, kau gemar berselingkuh dengan waktu,
Hanafi.
Kau datang sekelibat,
Kita adalah dua asing yang belum saling mengenal,
Setahun telah berlalu sejak baris-baris puisi tentang Hanafi kutitipkan pada angin, namun gema namanya masih saja menghantui setiap sudut pikiranku. Sembilan puluh sembilan persen dari isi kepalaku adalah kerinduan yang tak masuk akal. Rindu pada rambutnya yang dikucir asal-asalan, rindu pada wajahnya yang jarang bersih dari cipratan tinta, dan rindu pada candaan cerdasnya yang selalu memaksaku berpikir sejenak sebelum bisa tertawa.
Seharian aku menatap layar ponsel. Pesanku membatu. Tak dibaca, apalagi dibalas. Panggilanku pun menguap begitu saja tanpa jawaban. Haruskah aku menyusulnya ke Yogyakarta? Pikiran itu terus berputar seperti kaset rusak.
“Halo Hanafi, ini Nda. Sibuk ya? Gimana kabarnya?” Seminggu. Masih nihil.
Dalam puncak kegalauan, aku hanya mampu mengetik satu kata tanpa makna: “Ping”. Sebuah kata yang mungkin mencerminkan diriku di matanya—tak berarti apa-apa. Barangkali, memang tidak semua lelaki yang kuinginkan bisa kudapatkan. Apakah dia terlalu mencintai istrinya yang setia? Atau dia memang benar-benar tidak tahu bahwa aku telah lama karam dalam pesonanya? Jika dia tahu, mungkinkah dia akan berpaling?
Tiba-tiba, suara di ujung telepon memecah lamunanku. “Hai, Nda? Tumben kamu telepon saya?” suara berat itu masih sama. “Han, aku kirim chat, kamu tidak membalasnya sama sekali.” “Nomor WhatsApp-ku ganti, Nda. Lagi di mana sekarang? Main ke Yogya sini, aku mau ada pameran lukisan.”
Ajakan itu seperti magnet yang menarik seluruh ragaku. Aku tak peduli pada pamerannya; aku hanya peduli pada siapa yang memamerkannya. Ingatanku terbang kembali pada masa-masa kami mengerjakan Mural Kota. Di sela-sela sapuan kuas dan bau cat yang menyengat, waktu seolah mengikat kami dalam sebuah naskah yang tak terduga. Aku jatuh cinta pada setiap kerutan dahi dan ekspresi kesalnya saat konsep gambar mendadak berubah di tengah jalan.
Lalu, hari itu datang. Di sebuah sudut Yogyakarta, Hanafi berjalan menghampiriku. Saat dia duduk tepat di depanku, aku melihat waktu telah bekerja di wajahnya. Ada kerutan halus di sekitar mata dan garis bibirnya. Rambut gondrongnya yang diikat kini mulai diselingi uban-uban perak.
“Aku sudah tua, Nda,” ucapnya sambil tersenyum tipis. “Oh, sama Han. Aku juga semakin tua,” jawabku, mencoba menutupi debar jantung yang menggila. “Tapi kamu makin cantik kalau tua,” balasnya pendek.
Kalimat sederhana itu seperti bensin yang menyambar api. Meski usianya sudah menyentuh kepala lima, aura lelakinya justru semakin pekat. Hanya dengan memandangnya, aku menemukan samudera nafsu yang dalam dan luas, dan aku bersedia tenggelam di sana tanpa perlu pelampung.
Hanafi harus tahu, ada perempuan yang tergila-gila padanya, yang bermimpi merasakan pelukan yang mampu meruntuhkan seluruh pertahanannya. Dia harus tahu bahwa aku menempuh jarak menuju Yogyakarta bukan demi lukisan-lukisan yang dipajang di dinding galeri itu.
Aku datang untuk sebuah ciuman, Hanafi. Sebuah tanda titik bagi rindu yang selama ini koma.
Comments