Galang adalah lelaki yang sedang bimbang, tapi ini bukan sekadar perkara selangkangan. Galang terlanjur nyebur ke dalam sumur; jatuh ke pelukan wanita yang jauh lebih berumur. Dua minggu mereka rutin bertemu, si "anu" memang tak pernah mau menunggu. Namun, satu pesan singkat menghentikan langkahnya:
“Jangan ke rumah dulu, suamiku sudah pulang dari Bengkulu.”
“Lang, suamiku ada di rumah. Dahh.”
Apakah Galang benar-benar serius ingin menikahiku? Tentu tidak. Celoteh itu hanya terlontar saat ia putus cinta dengan pacarnya—si calon doktor yang enggan bersetubuh sebelum sah di mata agama. Galang memang raja drama, putus-sambung sudah biasa. Tanpa ada aku di antara celah hidupnya, Galang pasti sudah "jajan" tak karuan di luar sana.
Galang datang saat petang, siap untuk telanjang, sehari tiga kali minta aku mekangkang.
“Kamu itu hanya hiburan, bukan untuk hubungan beneran.”
Siapa sebenarnya yang paling "membutuhkan"? Apakah Galang yang ingin ditelanjangi, atau aku yang sangat ingin mekangkang? Kami bukan orang asing yang baru kemarin sore bercinta. Kami berteman sejak Galang SMP dan aku SMA. Kami bersahabat. Aku tahu Galang itu nikmat; Galang pun tahu aku ini nekat.
“Nda, kamu tuh nekat banget!” “Mau lagi, Lang?”
Lama-kelamaan, Permainan Persetubuhan ini mulai membosankan. Setiap adegan yang harusnya bikin senang, mulai terasa berat. Galang mulai lancang; ia tak ingin lagi sekadar jadi simpanan. Ia ingin meminang perempuan bersuami yang sudah ia tiduri berkali-kali.
“Sudah cukup, Lang. Kita berhenti di sini.”
Aku putuskan untuk menyudahi semuanya. Permainan ini sudah tidak asyik lagi. Karena Galang mulai melibatkan hati, memelihara cemburu, dan telah melanggar aturan emas : dilarang baper dalam permainan.
“Nda, kenapa harus berhenti?”
“Karena dalam setiap permainan, selalu ada kata selesai, Lang.”
Comments