Selain jalan yang menjulang tinggi dengan kemiringan hingga dua puluh persen lebih, sisi selatan Pulau Jawa juga menyiapkan kejutan Gonggongan Anjing di sepanjang Pamengpeuk. Jika siang hari, para anjing hanya memandang dan mengikuti. Tapi dikala malam, para anjing sudah berubah wujud menjadi makhluk yang lebih menakutkan dari pada kuntilanak.
Gonggongannya
mengejutkan, sudah disiapkan untuk mengganggu ketenangan perjalanan para Kuda. Dia
bersembunyi dibawah kursi kayu dan bersiap menyerang para Kuda yang lengah dan ingin
melepas lelah di depan rumah majikannya.
Pernah
suatu malam aku tergiur untuk tidur di bangku kayu salah satu rumah di sekitar
Pamengpeuk. Kendaraan sepeda kayuh sudah bersandar, aku bersiap untuk tidur rebahan melepas lelah
setelah melalui tanjakan bertubi-tubi. Namun tak lama kemudian, gonggongan dari
tiga anjing sekaligus mengusirku dari tempat tersebut. Aku berlari
sekencang-kencangnya dan mereka terus mengejarku. Para anjing berhenti
mengejarku ketika aku masuk di sebuah masjid.
Anjing
Pamengpeuk menjaga wilayahnya dengan baik. Para Kuda tak punya tempat untuk
istirahat di sepanjang wilayah tersebut.
Pagi
itu, setelah terbangun dari pos pertama perhentian pacuan Kuda, aku melaju menuju
Pamengpeuk. Aku berjumpa dengan seekor anjing yang diam termenung dalam wajah kelaparan. Aku
dekati dia.
“Hei
buddy, kamu lapar?”
Anjing
Pamengpeuk memandangku, tidak menggonggong. Hanya memandang.
“Ini
makanan buat kamu buddy. Aku tahu kamu lapar.”
Dia
memakan habis nasi sop ayam yang kusodorkan untuknya.
“Buddy,
jangan menggonggong tengah malam saat para Kuda melintasi Pamengpeuk ya. Kita hanya
ingin istirahat. Okay?”
Anjing
Pamengpeuk tanpa gonggongan melanjutkan sarapan paginya yang sudah disumpahi
untuk tak menggonggong kepada para Kuda.
Comments