Garis itu nyata, meski dalam pelajaran geografi teorinya bumi itu bulat. Gravitasi Bumi tidak membiarkan aku, air laut, dan pepohonan terlepas dari permukaan bumi ini. Kami dijaga erat dalam tarikan poros bumi supaya tidak lepas terpental dalam awan bebas.
Aku
masih mengayuh kendaraan melewati jalan cor yang sangat panjang hingga aku merasa
bosan. Sesuatu yang lurus tanpa belokan memang menjenuhkan. Tapi garis biru Pantai
Selatan bergerak maju mundur, cukup menghiburku dalam kebosanan. Gelombangnya mengayun
menciptakan irama yang tak bisa ditebak.
Sebentar
lagi siang makin terik, angin menjadi panas menghalangi laju perjalananku
menuju timur. Gemuruh dari Pantai Selatan terus memanggilku untuk singgah
sebentar. Barangkali aku bisa mengeruk pasir putih sedalam-dalamnya, lalu
mengisinya dengan gelombang air laut yang pasang. Kemudian air tersebut membawa
seluruh butiran pasir yang ada tanpa tersisa.
Hanyut.
Atau
aku bisa membiarkan kaki-kaki ku perlahan bergerak menuju tengah laut diseret
rayuan air ombak. Dan aku membiarkannya sampai aku kewalahan untuk kembali ke
tepian. Lalu ombak itu mengejar lagi, dan aku ikut terseret kembali.
Bermain
dengan ombak memang tak pernah membosankan.
Mataku
memandang jalan cor, namun otakku membayangkan bermain dengan gemuruh ombak
dari Pantai Selatan. Hatiku memaksa ingin ke Pantai. Otakku melarangnya karena
perjalanan Kuda Betina masih panjang, tak boleh mudah berhenti hanya untuk
bersenang-senang. Hati terus merengek tak mau lepas pandangan dari Gemuruh
Pantai Selatan.
Otak
mengalah untuk keinginan hati yang tak terbendung. Mengikuti keinginan hati memang
tak masuk logika.
Comments