BROWN NIGHT



Selalu ada tingkatan dalam kehidupan. Selayaknya gradasi warna cokelat; ada cokelat muda, cokelat setengah tua, hingga yang sangat pekat.

Malam ini, kegelapan terasa sepekat batangan cokelat yang baru saja dikeluarkan dari lemari es, lalu dilelehkan dalam panci panas hingga meluber, lengket, dan mengental. Dalam hembusan angin yang menusuk, cairan cokelat ini menjadi jawaban atas setiap tanya tentang sejauh mana aku telah berjalan; sejauh mana aku mengejar bayangmu yang tak kunjung menjadi nyata. Musik blues milik Janis Joplin menemani kesendirianku, mengantarku tidur untuk menjumpaimu, lalu memaksaku melepasmu lagi ketika pagi menyapa.


Sejak pertemuan itu, yang kutahu hanyalah namamu: Firman. Serta senyum pahitmu, sepahit kopi yang tersaji tanpa gula, tanpa krim penyetara rasa yang sering diminta pembeli namun tak pernah kau beri. Dibutuhkan tujuh kali bertatap muka dan memesan original black coffee sugarless, baru aku diizinkan menambahkan krim ke dalam cangkirku. Dan memang, dibutuhkan tujuh kali pertemuan agar aku benar-benar paham bahwa kau hanya peduli pada biji kopi, bukan pada perempuan-perempuan yang berseliweran datang menghampirimu sekadar untuk mencuri perhatian.

Tak mudah mengenalmu lebih dari sekadar teman ngopi. Ribuan kilometer seolah wajib kutempuh hanya untuk memastikan kau masih di sana, setia bersama biji-biji kopi itu. Tidak berlebihan jika aku membaptismu sebagai nabi utusan dewa yang datang untuk menyadarkanku dari imajinasi kegilaan tentang lelaki. Dan lagi-lagi, aku hanya bisa menemukanmu dalam secangkir kopi pekat, yang warnanya menyerupai cokelat cair buatanku di sela waktu yang tak tentu.

Aku mematung di ujung Aula Berkayu yang megah. Ruangan itu beraroma kayu jati tua yang lembap dan sisa-sisa uap kafein yang menggantung di udara. Aku menunggumu. Menanti kapan kau bisa menjadi bagian dari malam sepiku. Datang sebagai lelaki yang kunanti, bukan sekadar imaji, apalagi pria yang datang dengan lembaran uang untuk meniduriku. Bisakah kusebut kau lelaki pencuri perhatian? Lelaki yang tak pernah sekalipun membalas senyum rayuanku. Lelaki yang tak bisa ditangkap, dan tak mudah masuk perangkap.

Kewarasanku—atau mungkin rasa lelahku—menyadarkan bahwa kau benar-benar utusan dewa yang tak mungkin kugapai. Kau seperti legenda para rasul; tak suka wanita, tak ingin mencinta. Sampai pada malam ini, aku lelah mengejar bayangmu. Aku pasrah dalam sesapan cokelat pekat. Dalam tingkatan warna cokelat manapun, kau tak pernah ada. Bukan cokelat muda, bukan setengah tua, bahkan tidak pada yang tertua. Kau tak pernah ada dalam sejarah hidupku secara nyata.

“Gimana kopinya?”

Kau menghampiriku. Setelah tujuh kali pertemuan dan tujuh kali usahaku menarikmu keluar dari pusar hidupmu, kau tak juga surut. Aku justru menemukan diriku semakin terperangkap dalam duniamu. Menelan kopi pahit ini terasa setimpal dengan rasa ingin tahuku tentangmu.

“Masih pahit,” jawabku dengan wajah setengah kecut.

Kau hanya membalas dengan senyuman tipis, lalu pergi meninggalkanku sendiri. Lagi. Beginilah caramu menarik dan melepas. Kepahitan itu menjalar ke setiap lekuk organku, membuat kaki kaku dan kepala pilu. Setiap kali memandangmu, kau terasa sedekat awan di langit yang terbentang; tampak nyata, namun tak bisa kuraih.

Hasratku memuncak, kegilaanku nampak. Padamu, Firman.


Masih bersama Janis Joplin. Entah lagu keberapa. Mataku sudah tak sanggup mencerna barisan daftar lagu di layar monitor yang berkedip pucat. Cokelat panas yang lengket menemani malam pekat yang pengap. Kamar ini tetap menjadi saksi. Dinding-dindingnya yang dingin setia menjadi bagian dari misi pemuasan hasratku tentangmu.

Ada ratusan lembar foto yang terpampang di dinding. Tak satu pun memperlihatkan senyum di ujung bibirmu. Namun, wajahmu yang menyerupai nabi itu selalu bisa menenangkan malamku yang gusar, malam yang dikejar cinta yang lapar. Kau tak perlu tahu bahwa aku ada di setiap penjuru aula berkayu, siap menghanyutkanmu dalam malam-malam yang tak wajar. Dalam kadar cinta yang teramat pekat.

Aku tak ingin lelah mengejarmu, Firman.


Selepas Ashar, di bawah lampu temaram menuju Aula Berkayu, aku ingin menemuimu. Setelah hampir empat bulan aku menjadi bagian dari kota ini, aku harus segera pergi. Aku akan membungkus rapi kenanganmu, termasuk senyum mahalmu itu. Ini terakhir kalinya aku diam-diam menyimpan fotomu, menculikmu ke dalam dunia imajinasiku, ke dalam fantasi penutup malam dalam secangkir cokelat.

Jika tanpa kehadiranmu secara nyata saja aku bisa merasa puas dalam percintaan imajiner, bagaimana jika kau benar-benar nyata? Tidur seranjang, telanjang, dan mengejang. Bagaimana aku bisa menikmati setiap lapisan kulitmu yang halus, yang selalu terbungkus dalam imajinasiku yang rakus?

Aku mencintaimu, menyetubuhimu dalam imajinasi malam semu, Firman.

“Jam berapa ini? Kamu sudah sampai di sini? Dari mana?”

Sapamu menyambutku. Aku satu-satunya tamu di aula berkayu sore itu. Kulirik jam tangan; pukul empat kurang sepuluh menit. Sore ini lembap setelah seharian kemarin hujan lebat. Lantai kayu aula yang dipoles licin memantulkan cahaya redup dari sela-sela jendela. Kau sibuk menyekanya dengan lap pel, gerakan tanganmu berirama, menciptakan bunyi cit-cit yang memecah keheningan. Kedua tangan kekarmu nampak kuat meski terbungkus kaos. Mata nafsuku selalu tertuju pada bagian tubuhmu yang kau sembunyikan.

Hembusan angin sore membawa aroma tubuhmu—campuran antara keringat, sabun batangan, dan bau tanah basah—merangsang otak untuk segera bertindak. Kuhentikan langkah. Kutunggu hingga aku benar-benar siap untuk menatap dan berucap. “Kamu...” Ah, bukan begitu. “Kamu sekarang itu...” Salah lagi. Bagaimana sebaiknya aku memulai? Mungkin, “Kamu sudah punya pacar belum, sih?”

“Tumben sendirian, mana perempuan yang biasanya nemenin itu?” tanyaku akhirnya tanpa basi-basi. Aku lelah memanipulasi isi hati. Aku ingin segera tahu tentangmu sebelum kereta malam membawaku kembali ke tempatku yang sebenarnya, setelah masa pengobatan selama empat bulan yang menyiksa.

Kau menghentikan langkah. Untuk pertama kalinya, kau melempar senyum, lalu menghampiriku. Senyum itu berubah menjadi tawa, kau terbahak hingga bahumu berguncang. Aku pun ikut tertawa, menertawai diri sendiri yang tak kuasa menahan penasaran. Di bawah rindang pohon yang dahannya mengetuk-ngetuk atap aula, dengan lap pel di tangan kiri, untuk pertama kalinya aku tersipu. Perlukah kulanjutkan tanya; apa perempuan itu hanya waitress? Bukan kekasihmu? Aku menunggu kau mengonfirmasi harapanku.

Namun, dalam sekian detik aku menunggu, angin sore menderu kencang. Lantai aula yang baru kau bersihkan kembali lembap oleh debu dan abu yang menyelinap dari celah pintu. Angin dari utara itu membawa berita tentang awal sebuah bencana. Warga mulai gusar. Semburan abu terbang membawa makna akan adanya suatu peristiwa besar.

Aula berkayu tak lagi bersih. Pintu-pintu ditutup rapat, menciptakan suara dentum yang menggema di langit-langit tinggi. Dari balik kaca jendela yang mulai tertutup lapisan putih kelabu, kulihat badai abu semakin menjadi. Kau datang membawa secangkir cokelat hangat. Aku tak percaya kau bisa menyajikan cokelat senikmat ini.

Yang kutahu, kau adalah barista yang pelit gula dan krim. Yang kutahu, kau tak pernah membalas senyumku, hingga kuanggap kau rasul yang tak kenal cinta. Yang kutahu, kau hanya ada dalam imajinasiku, bukan duduk bersila di sampingku menikmati cokelat. Yang kutahu, kau tak pernah membersihkan aula ini sendiri.

Dan yang paling pedih, yang kutahu, kau tak pernah tahu betapa aku menginginkanmu menemaniku melewati malam-malam menyiksa di sebuah rumah pesakitan yang dindingnya dicat putih membosankan.


Sore jam empat kurang, aku berniat mampir ke aula berkayu sebelum masa pengobatanku usai. Sekadar berucap selamat tinggal, meski aku hanya sekali melihat wajah aslimu—itu pun tanpa sengaja saat kau datang sebagai sukarelawan untuk menyumbangkan buku dan baju bagi kami, pasien gangguan kejiwaan.

Sejak pesonamu menghinggapi duniaku, Suster Maria selalu setia menceritakan tentangmu. Tentang kegilaanmu pada kopi, tentang aula berkayu yang ramai, dan tentang namamu: Firman.

Di setiap malam yang pengap, Suster Maria datang membawa secangkir cokelat hangat—bukan cokelat leleh imajinasiku, tapi cokelat instan dalam gelas plastik—dan selembar fotomu. Ditempelkannya foto itu di dinding kamar agar aku tenang dan berhenti mengerang. Lama-kelamaan, aku menjadi pecandu dirimu. Virusmu menyebar ke seluruh organ, menyentuh hati hingga aku yang hampir mati bisa bangkit kembali.

Empat bulan berlalu. Kini aku dinyatakan sehat secara fisik, dan jiwaku siap menerima fakta. Dokter spesialis yang merawatku melepas kepulanganku dengan secarik surat dan ciuman di kening. Katanya, aku mengingatkannya pada anaknya.

Sore ini badai abu menyapu Jawa. Langit berubah menjadi cokelat tua yang mencekam. Aku yang biasanya terbaring di Kamar Nomor Tujuh, Rumah Sakit Jiwa di Surakarta, seharusnya sudah dalam perjalanan pulang. Namun, aku terjebak di sini. Aku terdiam memandangi fotomu yang mulai menguning di dinding. Tapi kini, aku dalam kondisi tidak gila. Tanpa imajinasi. Ini bukan lagi fantasi. Aku tahu namamu Firman, namun percakapan manis kita di aula tadi hanyalah fiksi yang kubangun sebagai benteng terakhir kewarasanku.

Selalu ada tingkatan dalam kehidupan. Selayaknya warna cokelat; ada cokelat muda, setengah tua, dan sangat tua. Ada orang gila, ada yang sembuh, dan ada yang terjebak dalam harap untuk mengenalmu secara nyata, sementara abu vulkanik perlahan menimbun segalanya di balik jendela.

Comments

dewi said…
Inilah firman yang aku harapkan di trapesium malam itu. Berani muncul meskipun sebuah misteri atau mungkin imajinasi, aku yakin rasa penasaran dan ketidakpuasan mengenai keintiman akan menjadi nafas kisahnya, sedangkan untuk masa yang akan datang dan kenyataannya kelak biarlah menjadi bagian yang belum terkisahkan.
Like this sis
septi sutrisna said…
makasihhh muach muach