Selain
tanjakan yang menjulang dengan kemiringan lebih dari dua puluh persen, sisi
selatan Pulau Jawa menyimpan kejutan lain yang tak kalah menguji nyali:
gonggongan anjing di sepanjang jalur Pameungpeuk.
Jika
matahari masih tinggi, anjing-anjing itu hanyalah makhluk yang diam memandang
atau mengikuti dengan malas. Namun, begitu malam jatuh, mereka seolah berubah
wujud menjadi makhluk yang lebih menakutkan daripada sekadar hantu penunggu
hutan. Gonggongannya mengejutkan, tajam, dan seolah memang disiapkan untuk
menghancurkan ketenangan para Kuda. Mereka bersembunyi di bawah kursi-kursi
kayu, bersiap menyerang siapa pun yang lengah karena kelelahan.
Pernah
suatu malam, rasa lelahku sudah di titik nadir setelah dihajar tanjakan
bertubi-tubi. Aku tergiur untuk merebahkan diri di sebuah bangku kayu di depan
rumah warga. Sepeda sudah kusandarkan, napas mulai kuatur untuk tidur sejenak.
Namun, kedamaian itu hanya bertahan beberapa detik. Tiga ekor anjing tiba-tiba
muncul dengan gonggongan yang memekakkan telinga, mengusirku tanpa ampun. Aku
berlari sekencang-kencangnya, memacu sisa tenaga yang ada, sementara mereka
terus mengejar di belakang tumitku. Aku baru bisa bernapas lega ketika berhasil
masuk ke halaman sebuah masjid—benteng terakhir yang tak berani mereka masuki.
Anjing
Pameungpeuk memang penjaga wilayah yang luar biasa. Bagi para Kuda,
hampir tak ada tempat untuk sekadar melepas lelah di sana.
Pagi
itu, setelah terbangun dari pos perhentian pertama, aku kembali melaju
melintasi wilayah Pameungpeuk yang semalam terasa begitu mencekam. Namun, di
bawah cahaya matahari yang mulai hangat, kengerian itu menguap. Di pinggir
jalan, aku menjumpai seekor anjing yang duduk termenung sendirian.
Bulunya
berwarna cokelat muda krem, kusam tertutup debu jalanan. Ia tidak menggonggong.
Ia hanya duduk dengan mata yang tampak sangat mengantuk, seolah ia pun baru
saja melewati malam yang panjang dan melelahkan. Aku memperhatikan kaki-kakinya
yang tampak letih, gemetar halus saat menumpu tubuhnya yang kurus.
Melihatnya,
aku seperti melihat bayanganku sendiri di cermin aspal. Kami sama-sama pejalan
yang kehabisan tenaga. Aku berhenti, rasa takut dikejar semalam seketika luruh
berganti rasa iba yang menyesak.
“Hei, buddy...
kamu lapar?” bisikku pelan.
Anjing
krem itu mendongak, memandangku dengan tatapan sayu. Tak ada geraman, tak ada
taring yang menyeringai. Hanya sebuah tatapan kosong yang bicara banyak tentang
rasa lapar—hal yang dulu sangat akrab di perutku saat masa-masa sulit kuliah.
“Ini
makanan buat kamu, buddy. Aku tahu kamu lapar.”
Aku
mengeluarkan sebungkus nasi sop ayam dan menyodorkannya di hadapannya. Ia mulai
makan, pelan pada awalnya, lalu melahap habis setiap butir nasi yang kupunya.
Sambil ia menikmati sarapannya, aku berbisik seolah kami adalah dua kawan lama
yang sedang berbagi rahasia di bawah langit Pameungpeuk.
“Buddy,
jangan menggonggong tengah malam saat para Kuda melintas di sini, ya? Kami
hanya ingin istirahat. Kami sama lelahnya denganmu. Okay?”
Anjing cokelat krem itu berhenti sejenak, menatapku dengan matanya yang masih tampak mengantuk, lalu kembali melanjutkan makannya. Tanpa gonggongan, ia seolah telah menandatangani sumpah suci untuk tidak lagi menjadi teror bagi kawan-kawanku. Kami berdamai. Aku meninggalkannya dengan perasaan yang lebih ringan, menyadari bahwa di tanah Jawa ini, semua makhluk hanya sedang mencari cara untuk tetap bertahan, setapak demi setapak.
Comments