Garis
itu nyata. Meski teori geografi mengatakan bumi itu bulat, bagiku saat ini
dunia hanya berupa satu garis lurus yang menjemukan. Gravitasi bumi seolah
bekerja ekstra keras, menjagaku agar tetap lekat pada aspal cor yang
kaku—seperti aturan-aturan hidup yang selama ini membelengguku.
Aku
mengayuh dalam kebosanan yang mencekik. Sesuatu yang lurus tanpa belokan memang
melelahkan, persis seperti tahun-tahun yang kuhabiskan hanya untuk memenuhi
keinginan orang lain. Seumur hidup, aku dipaksa mengikuti skenario agar
terlihat "hebat" di mata mereka. Aku memakai topeng kesempurnaan,
berjalan di atas garis yang ditentukan, hanya agar dunia memberikan tepuk
tangan yang sebenarnya tidak pernah kubutuhkan. Aku jenuh menjadi boneka
pajangan. Aku lelah menjadi kuda kandang yang hanya berlari saat pecut
ekspektasi menyentuh kulitku.
Kini,
di sisi kananku, garis biru Pantai Selatan bergerak maju-mundur, menawarkan
irama yang jauh lebih jujur. Gelombangnya tidak memiliki aturan. Ia mengayun,
pecah, dan kembali lagi dalam tarian yang tak pernah bisa kutebak.
Siang
makin terik, angin berubah menjadi lidah api yang memanggang peluh. Gemuruh
Pantai Selatan itu terus memanggil, seolah ia tahu bahwa di dalam dadaku ada
api yang ingin dipadamkan. Aku ingin turun dari sepeda ini, mengeruk pasir
putih sedalam-dalamnya dengan jemari, lalu mengisinya dengan gelombang air laut
yang pasang. Aku ingin air itu membawa pergi seluruh aturan, seluruh penilaian
orang, dan seluruh beban "menjadi hebat" yang selama ini kupikul.
Hanyut.
Aku ingin semua kepalsuan itu hanyut tanpa sisa.
Aku
membayangkan kaki-kakiku melangkah ke tengah laut, menyerahkan diri pada rayuan
ombak hingga aku kewalahan. Biarlah ombak itu mengejarku, menyeretku, dan
membasuh habis sisa-sisa "kuda penurut" dalam diriku. Bermain dengan
ombak memang tak pernah membosankan, karena laut tidak pernah menuntutmu untuk
menjadi siapa-siapa. Di depan samudera, aku hanyalah aku.
Mataku
masih memandang jalan cor, namun otakku sudah berenang di tengah gemuruh.
Hatiku memberontak, memaksa ingin ke pantai. Otakku sempat melarang; ia masih
membawa sisa-sisa pola pikir lama bahwa seorang "Kuda" harus
disiplin, harus kuat, dan tak boleh berhenti hanya untuk bersenang-senang.
Namun,
kali ini, pertahanan itu runtuh. Hati terus merengek, tak mau lepas pandangan
dari biru yang memerdekakan itu.
Otak akhirnya mengalah. Mengikuti keinginan hati memang seringkali dianggap tidak masuk logika oleh dunia yang gila akan pencapaian. Tapi hari ini, aku memilih untuk tidak menjadi hebat bagi mereka. Aku memilih untuk menjadi nyata bagi diriku sendiri. Aku membelokkan setang sepedaku, meninggalkan jalan cor yang kaku, menuju pelukan ombak yang jujur.
Comments