Aku
menyadari satu hal: aku bukan Kuda sempurna dengan kaki-kaki kokoh yang siap
berlari tanpa lelah. Aku hanyalah kuda kecil yang sedang belajar menjadi
pemberani. Aku tak mau lagi dibilang "kuda kandang" yang hanya aman
di balik pagar. Meski secara fisik aku terlihat seperti mangsa yang rapuh, jauh
di dalam jiwaku, aku telah dilatih oleh Bapak cara bertarung yang sesungguhnya.
“Jangan
mati terbunuh. Kamu harus menjadi pembunuh,” kata Bapak suatu kali.
Kalimat
itu terdengar kejam, namun itulah cara Bapak mengajariku tentang bertahan
hidup. Di dunia ini, tidak ada pahlawan yang akan turun dari langit untuk
menyelamatkanmu. Bapak menghapus batasan baik dan buruk; baginya, satu-satunya
moralitas adalah kemampuan untuk bertahan diri.
Kenangan
itu membawaku kembali ke masa-masa pertama setelah aku tak lagi tinggal di
rumah. Aku harus mati-matian bertahan hidup. Aku ingat saat melamar kerja di
sebuah radio swasta, di mana suaraku dihargai hanya enam ribu rupiah per jam
siaran. Sebulan, aku hanya mengantongi tiga ratus ribu rupiah—angka yang nyaris
mustahil untuk menghidupi seorang mahasiswa. Uang itu habis tak bersisa hanya
untuk membayar kos dan jatah makan dua kali sehari.
Di
kampus, aku harus membuang rasa malu, membujuk dosen demi mendapatkan beasiswa
karena upah siaranku tak pernah cukup untuk membayar biaya kuliah. Aku hidup
tanpa kemewahan yang dimiliki gadis seusia kawan-kawanku; tak ada krim wajah,
tak ada bedak, apalagi lipstik. Bahkan untuk sekadar membeli bensin motor agar
bisa sampai ke tempat kerja, aku terkadang harus menunduk, meminjam uang pada
teman kos.
Namun,
yang paling membekas dalam ingatanku adalah aroma nasi bungkus itu. Selama tiga
tahun kuliah, menu setiaku adalah nasi dengan sejumput sambal teri. Setiap
hari, tanpa variasi. Itulah bahan bakar tubuhku untuk mengejar ilmu dan
bertahan dari rasa lapar.
“Apa
yang kamu takutkan sekarang, Nak?” suara itu kembali terngiang, menembus kabut
Halimun Salak.
Aku
takut sendiri. Aku takut gelap. Aku takut pada keheningan hutan ini. Namun,
saat kaki ini mulai gemetar, aku teringat pada diriku yang dulu—si penyiar
radio berupah enam ribu rupiah yang kenyang hanya dengan nasi teri. Jika aku
sanggup melewati tiga tahun penuh kekurangan itu, maka perjalanan malam
melintasi Cikotok ini hanyalah urusan kecil. Ada hal yang jauh lebih berat yang
pernah kulalui dibandingkan kegelapan lereng gunung ini.
“Kuda
pemberani tak pernah takut berjalan sendiri, meski kegelapan mengepung ujung
matanya. Sebab, ia melihat dengan hati.”
Malam
itu, alam semesta menyambutku dengan wajahnya yang paling pekat. Gelap
menyelimuti segalanya; lampu sepedaku hanya mampu menembus kabut sejauh dua
meter ke depan. Daun telingaku kupasang lebar-lebar, menangkap irama gesekan
dedaunan. Hujan turun rintik namun kerap, membasahi bumi hingga licin. Dalam
keadaan kuyup, aku turun dari pedal, mendorong sepedaku menyusuri jalanan sunyi
Desa Cikotok.
Sama seperti malam-malam sepi di kamar kos dulu, di Cikotok ini aku kembali membuktikan: aku adalah petarung. Kegelapan ini tidak lagi mengancam; ia adalah kawan yang sedang membimbingku untuk melihat dengan keteguhan hati yang sudah teruji oleh lapar dan peluh masa lalu.
Comments