Tanah
Jawa bagiku adalah sosok Ibu yang penuh kesabaran. Ia menabur kasih kepada
semua anaknya, memberikan cinta tanpa diminta, dan membagi kemakmuran pada
setiap petak tanah yang kupijak. Ia adalah Ibu yang terus mendoakan
keselamatan, meski adakalanya ia harus bersedih saat musibah menimpa salah satu
anaknya.
Anak-anak
Ibu—desa demi desa, kota demi kota—selalu bergandengan tangan. Jika satu bagian
terluka, bagian lain ikut merasakannya karena mereka saling bersentuhan dalam
untaian panjang Pulau Jawa. Namun, ada tanya yang menggantung di udara subuh
itu.
“Ibu,
bagaimana dengan kami yang berada di paling ujung?”
Suatu
pagi, aku seolah mendengar anak Banten berseru. Banten yang tak pernah menjabat
tangan Banyuwangi, begitu pula sebaliknya. Mereka terpisah ribuan tahun, hanya
bisa saling mendengar kabar melalui seruan angin yang hanyut dalam nyanyian
alam semesta, atau merasakan kehadiran satu sama lain melalui getaran bumi yang
disalurkan akar-akar pepohonan.
“Meskipun
kalian tak pernah bertemu, percayalah anak-anakku, kalian saling menguatkan.
Kalian menjaga tanah Jawa untuk keselamatan seluruh manusia.”
Seruan
Ibu Jawa itu menggema di gendang telingaku saat aku melintasi sebuah desa di
Banten. Melihat gadis-gadis kecil bermukena itu, ingatanku terseret jauh ke
masa lalu, pada sosok Ibu kandungku sendiri. Sosok yang kekuatannya melampaui
logika; seorang perempuan yang menyimpan samudera kesabaran saat menghadapi
kerasnya badai dalam diri Bapak.
Jika
Ibu Jawa adalah pemberi cinta tanpa diminta, maka Ibuku adalah penjaga api
harapanku.
Aku
teringat saat baru lulus SMA. Dunia seolah runtuh ketika Bapak mengusirku dari
rumah. Alasannya sederhana namun menyakitkan: aku ingin kuliah. Ibu, dengan
segala kerinduannya melihat anaknya memiliki ilmu yang lebih tinggi, memintaku
terus maju. Namun Bapak, yang terjepit sulitnya ekonomi, ingin aku segera
bekerja—menjadi mesin pencetak uang bagi keluarga. Karena aku memilih mengikuti
bisikan Ibu daripada perintah Bapak, aku dibuang. Aku dipaksa berdiri di kaki
sendiri saat aku bahkan belum tahu ke mana harus melangkah.
Bertahun-tahun,
aku memelihara benci. Aku membenci Bapak yang memisahkan aku dari rumah, yang
mencabutku dari akar keluarga. Aku merasa dibuang seperti barang tak berguna.
Namun,
di atas pedal sepeda ini, di tengah perjalanan 1.500 kilometer yang sunyi, aku
menyadari satu hal: terkadang hal baik memang tidak langsung terlihat baik.
Kebencian
itu perlahan luruh, berganti syukur yang tenang. Jika Bapak tidak mengusirku
hari itu, mungkin aku tidak akan pernah tahu cara menjadi kuat. Jika ia tidak
memaksaku hidup mandiri, mungkin aku tak akan punya nyali untuk mendaftar Bentang
Jawa. Bapak, dengan caranya yang kasar, telah mengajarkan ilmu yang paling
kubutuhkan saat dewasa: bertahan dan mandiri.
Kayuhan kakiku yang semula melambat karena haru, kini kembali stabil. Aku merasakan sentuhan Ibu Jawa melalui gesekan ban sepeda pada aspal, dan aku merasakan restu Ibuku dalam setiap hela napas. Aku bukan lagi kuda yang diikat; aku adalah kuda yang dilepaskan untuk menemukan jalannya sendiri.
Comments