Seharusnya
aku tidak di sana tengah malam. Seharusnya aku tak mengganggu ketenangan para
penghuni hutan jati di Panggang saat jam menunjukkan pukul satu dini hari. Aku
pernah melintasi kesunyian itu di siang hari, dan bahkan saat matahari masih
tinggi pun, aku sudah merasakan semacam "penolakan". Sejak saat itu,
aku bersumpah tidak akan pernah kembali ke sana saat kegelapan berkuasa.
Namun,
takdir seringkali menuntut apa yang paling kita hindari. Hidup selalu
menyodorkan pilihan yang tak ingin kupilih, memaksaku melalui jalan yang paling
ingin kujauhi.
“Harus
banget aku naik ke Panggang jam satu malam ini?” umpatku dalam seribu tanya.
Aku
mengayuh menuju Imogiri dengan perasaan berkecamuk. Logikaku berbisik untuk
menunggu pagi, namun ambisiku mengejar ketertinggalan dari Kuda-Kuda lain yang
sudah melaju jauh menuju Pacitan memaksa kaki ini terus bergerak. Aku harus
menerjang Panggang dengan sisa keberanian yang kupunya, meski di kepalaku sudah
menari-nari bayangan rupa para "warga" di sana: kuntilanak,
genderuwo, atau nenek-nenek penunggu pohon tua.
Rasa
kantuk menyerang begitu hebat hingga dalam sekian detik, aku sempat terlelap di
atas sadel. Aku bermimpi sedang berada di tengah hutan, namun saat tersentak
bangun, yang kulihat adalah jalanan aspal yang membelah pemukiman. Tak jauh di
sisi kiri, cahaya temaram dari sebuah angkringan memanggilku. Aku harus sadar
sepenuhnya; di jalur ini, mengantuk adalah cara tercepat untuk celaka.
“Kopi
ne wonten, Mas?” suaraku memecah sunyi.
Mas
penjaga angkringan terbangun, menatapku dengan tatapan tak percaya melihat
seorang perempuan dengan sepeda kayuh berkeliaran di jam mati. Sambil
menyalakan kompor dan mengaduk kopi, ia bertanya, “Badhe teng pundhi, Mbak?”
“Ke
Wonosari, Mas. Lewat Imogiri,” jawabku singkat.
“Hluk!
Lewat Panggang, Mbak?” Mas angkringan kaget, sendoknya terhenti sejenak.
Beberapa
warga lokal yang sedang terjaga ikut bergabung. Di atas peta digital, jemari
mereka menelusuri rute yang akan kulalui. “Dari sini sampai sini nanjak terus,
Mbak... di titik ini baru landai. Setelah itu naik-turun dari desa ke desa
sampai Playen.”
Kopi
habis, mata terbuka lebar, dan kaki siap bertaruh pada perjalanan yang paling
tidak kuinginkan. Tak jauh dari sana, tanjakan mulai memamerkan taringnya. Aku,
Kuda Betina yang sudah kehilangan banyak tenaga ini, tak lagi mampu melawannya
dengan kayuhan. Aku turun, mendorong kendaraan selangkah demi selangkah. Setiap
langkah adalah satu inci lebih dekat menuju angka seribu lima ratus.
Napas
kami—aku dan sepedaku—berkejaran. Keringat mengalir dari akar rambut, membasahi
leher, dan membuat baju melekat di kulit. Setiap kali menemukan jalan landai,
aku langsung terkapar. Di mana saja. Di bangku kayu, bahkan di atas aspal
dingin yang keras. Kuda Betina ini kelelahan, tapi ia tak punya alasan untuk
menyerah.
Tanjakan
itu kumakan perlahan, tak kusisakan untuk esok pagi. Saat Kuda lainnya tertidur
lelap di tempat yang nyaman, aku justru menyusuri malam yang tak memberikan
kepastian. Hatiku gusar sesempurna gusarnya kegelapan yang tak bertepi di
depanku. Tubuh menuntut tidur, tapi otak memerintah untuk tetap terjaga.
Keberanian kubakar terus-menerus agar tetap membara, karena aku harus sudah
keluar dari labirin jati ini saat fajar tiba.
Lalu,
"Warga Panggang" itu mulai menampakkan wujudnya.
Dalam
keremangan, mereka tampak seperti anak-anak kecil yang sedang lari
kejar-kejaran. Saat aku melintasi area bermain mereka, mereka terlihat
senang—seolah mengira aku adalah teman baru yang ikut bermain delikan.
Aku menyebut mereka "tuyul" karena rupa mereka mengingatkanku pada
tokoh Casper yang pernah kutonton.
Lucunya, mereka tidak menggangguku. Justru riuh di dalam hatiku sendirilah yang sebenarnya mengganggu ketenangan perjalanan ini. Ketakutanku adalah "warga" yang paling berisik. Di hutan jati Panggang, aku belajar bahwa hantu yang paling nyata bukanlah yang berlarian di balik pohon, melainkan keraguan dan kecemasan yang terus membuntuti setiap kayuhan kakiku.
Comments