Anak-anak berbaris di tanah lembap tanpa alas kaki. Ada
lelaki, ada juga perempuan. Mereka meninggalkan bola dan layang-layang demi
menyambut Para Kuda yang melintas di jalan depan rumah.
“Waaa waaa mister mister…” teriak mereka histeris.
Melihat mereka, aku merasa ditarik kembali ke masa kecilku
di Madiun. Namun, memoriku tidak berwarna cerah seperti tawa mereka. Jika aku
menjadi anak kecil seperti mereka, aku mungkin akan lebih berani berteriak,
tapi kenyataannya aku terlahir sebagai Kuda yang tak pernah dilepas. Aku
diikat, dikurung, dan dipaksa menjalankan peran untuk memenuhi keinginan orang
lain.
Ingatanku melompat ke masa Sekolah Dasar. Saat itu, aku
belajar tentang "perbedaan" dengan cara yang menyakitkan. Aku tidak
pernah tahu rasanya aroma buku baru atau tas sekolah yang masih kaku dari toko.
Semua yang kupakai adalah barang bekas lungsuran dari kakak perempuanku. Aku
tumbuh dengan rasa bahwa aku tidak cukup berharga untuk mendapatkan sesuatu
yang baru. Di sekolah pun tak ada perlindungan; tubuhku yang gendut menjadi
sasaran empuk perundungan teman-teman. Aku kecil yang terluka, hanya bisa diam menelan
ejekan.
Memasuki masa SMP, beban itu terasa semakin berat. Aku mulai
mengerti bahwa rumahku bukan tempat yang bisa kubanggakan. Bapak adalah seorang
penjual togel, penjudi, dan pemabuk. Kenyataan itu seperti label buruk yang
tertempel di keningku, membuat teman-teman menjauh seolah aku membawa wabah.
Aku tumbuh dalam ruang hampa, sendirian, menanggung malu yang seharusnya bukan
milikku. Aku malu menghadapi kenyataan-kenyataan buruk itu. Aku malu menjadi
diriku sendiri.
Maka, melihat anak-anak Pandeglang ini, dadaku terasa sesak
sekaligus hangat. Mereka menantikan kehadiran Kuda sejak Agustus tahun lalu
dengan kebahagiaan yang tak tertahan. Mereka takjub melihat Kuda Bule bertubuh
jangkung, dengan tas multifungsi dan pakaian yang keren.
Dengan wajah polos, mereka membandingkan kendaraan hebat
kami dengan milik mereka: hanya sepeda BMX yang rantainya sudah karatan dan
remnya blong! Tapi anehnya, bukan kekecewaan yang muncul dari raut wajah
mereka. Justru tawa lepas yang membebaskan mereka dari rasa iri. Gigi ompong
mereka tak bisa disembunyikan.
Aku pun ikut tertawa melihat polah mereka, meski mataku
mungkin sedikit panas. Tawa mereka adalah tawa yang selama ini kucari—tawa yang
membebaskan dari rasa malu dan rasa kurang.
Detak jantungku bergerak dalam ritme lebih kencang saat
tangan kecil anak-anak Pandeglang ini menyentuh telapak tanganku. Energi mereka
tersalurkan, menyampaikan pesan penuh harapan yang melampaui kata-kata. Mereka
menyambutku dengan lambaian tangan yang hangat, seolah mencairkan es membeku
dari masa kecilku yang kelabu.
Energi positif datang dari segala penjuru, dan hari ini, jiwaku sudah siap untuk menangkapnya.
Comments