DAUN JEMPLANG MENDENGAR


“Sebentar lagi sampai.”

Kalimat itu kuulang seperti mantra, namun degup jantungku justru berlari kencang karena cemas. Kaki-kakiku mulai gemetar hebat, tak lagi sanggup menahan beban tubuh dan sepeda yang terasa kian berat. Di depan, kabut turun dengan angkuh, menyelimuti jalanan dan membuat hatiku ikut kalut. Pikiran buruk mulai menyerang, memenuhi setiap sudut kepala yang sudah kelelahan.

“Jangan sampai aku mengulangi kejadian di Gantasan,” bisikku ngeri.

Memoriku terseret paksa pada malam jahanam setahun yang lalu. Saat itu, aku naif. Aku mengira gunung hanyalah hamparan hijau yang menawarkan keindahan tanpa ancaman. Aku datang tanpa perlengkapan memadai—tak ada jaket gunung yang tebal, tak ada tenda, tak ada pelindung yang layak. Di rest area Gantasan, alam menunjukkan sisi gelapnya.

Suhu merosot tajam hingga menyentuh angka enam derajat Celsius. Di tengah kegelapan yang membeku, aku terjebak. Angin gunung yang tajam menyayat kulitku yang hanya dibalut pakaian tipis. Aku merasakan kematian mendekat dalam wujud dingin yang brutal—dingin yang awalnya menusuk tulang, lalu perlahan berubah menjadi rasa panas yang membakar di seluruh lapisan kulit. Tubuhku mulai membeku. Seluruh indera perabaku mati rasa.

Di kursi kayu yang keras itu, aku hanya memiliki satu bekal: doa. Aku melantunkan permohonan keselamatan berkali-kali, memohon agar jantungku tetap berdetak hingga matahari terbit. “Apa aku akan mati kedinginan di sini?” tanyaku saat itu dalam igauan gigil. Tidak! Aku tidak boleh menyerah pada maut semudah itu.

Trauma Gantasan itu kini menyulut kekacauan di kepalaku. Saat rintik hujan mulai turun di jalur Jemplang ini, aku merasakan sesak yang sama. Aku melihat beberapa pengendara yang melintas dari arah puncak sudah mengenakan jas hujan yang basah kuyup.

“Pak, di atas hujan ya?” tanyaku pada seorang pengemudi yang menepi di seberang jalan. “Iya, Mbak. Sudah gerimis deras,” jawabnya singkat.

Rasanya seperti vonis. Hukuman dari Puncak Jemplang datang bertubi-tubi. Jika hujan turun sekarang, aku akan terjebak lagi, mengulangi kengerian enam derajat itu. Tubuhku meronta meminta jeda, sementara mataku liar mencari penanda: sebuah kaca cembung jalan yang dipenuhi stiker vandalisme. Bagiku, kaca kotor itu adalah gerbang suci, tanda berakhirnya hukuman tanjakan.

“Pasti di depan sudah ada kacanya...” harapku.

Namun, kaca itu tak kunjung tampak. Aku berhenti, terdiam dalam keputusasaan yang sunyi. Kutarik napas dalam-dalam, lalu kusandarkan tubuhku yang lunglai bersama sepeda pada tebing tanah di pinggir jalan. Tanaman liar di sana menyambutku. Aku bisa merasakan basah embun dari daun-daun kecil itu meresap ke dalam bajuku.

Aku menatap sehelai daun di depan mataku.

“Daun, apa benar kau bisa mendengar?” tanyaku lirih.

Daun itu diam. Tak ada suara, tak ada gerakan.

“Daun, tolong aku. Sampaikan pesanku kepada langit. Tolong, jangan turunkan hujan sekarang. Aku pernah hampir mati di Gantasan, jangan biarkan aku kedinginan lagi di sini. Perjalananku masih sangat panjang...”

Aku memejamkan mata, membiarkan keheningan Jemplang mengambil alih. Daun itu tetap diam, tak mengeluarkan sepatah kata pun. Namun, keajaiban kecil terjadi. Beberapa menit kemudian, rintik yang tadinya mulai menderas tiba-tiba berhenti. Awan hitam masih menggantung, kabut masih mengepung, tapi hujan benar-benar tertahan di langit.

Ternyata, Daun Jemplang mendengar. Ia tidak bicara, tapi ia bekerja. Ia menyampaikan pesan si Kuda Betina yang lemah ini langsung ke telinga langit. Jalanku dibuka kembali, bukan oleh kekuatan kakiku, melainkan oleh kebaikan semesta yang merestui langkahku agar tak perlu lagi bertaruh nyawa dalam dingin yang mematikan.

Comments