Semua manusia akan menempuh kepulangan yang sama: kematian. Mereka yang telah lebih dulu melangkah ke sana adalah para leluhur, pengembara abadi yang membutuhkan untaian doa agar perjalanan mereka menuju Sang Pencipta berjalan tanpa halangan.
Perjalananku menuju kilometer selanjutnya mendadak terhenti di lereng Bromo. Kerumunan warga Suku Tengger memenuhi jalanan, menciptakan barisan khidmat menuju pemakaman desa. Mereka sedang merayakan Nyadran—sebuah tradisi mengirim doa dan bakti kepada mereka yang telah tiada. Tangan-tangan legam itu membawa nampan berisi makanan dan minuman pilihan untuk disajikan sebagai sajen.
Melihat tumpukan buah dan nasi itu, ingatanku terlempar ke meja makan di rumah masa kecilku. Ibu sering menata makanan dan buah-buahan dengan rapi, lalu menyalakan lilin kecil di sampingnya. Suatu kali, dengan kepolosan bocah yang lapar, aku mencuri sebuah jeruk dari tumpukan itu. Ibu marah besar.
“Itu untuk leluhur, bukan untuk kita makan. Hargai leluhurmu!” tegurnya.
Sejak hari itu, aku tak pernah lagi berani menyentuh jatah para leluhur. Namun, lebih dari sekadar rasa takut, insiden itu menanamkan sebuah kesadaran: bahwa di dalam rumah kami, anggota keluarga bukan hanya Bapak, Ibu, dan Kakak. Ada leluhur yang tak kasat mata namun tetap hadir, melengkapi arti sebuah keluarga.
Nyadran Suku Tengger ini terasa seperti replika dari suasana rumahku dulu. Makanan yang disajikan di makam tidak akan berkurang sedikit pun secara fisik; ia akan dibiarkan membusuk dan akhirnya menyatu kembali dengan tanah. Namun, tidak menyentuh sajen bukan berarti mereka menolak. Leluhur merasakan kebaikan manusia yang masih sudi bersedekah dan mengingat nama mereka.
Aku terhenti cukup lama, terjebak di antara kekhusyukan ritual dan alam yang mulai berubah wajah. Butiran udara yang jenuh akan air mulai berjatuhan. Kabut turun begitu tebal hingga jalanan di depanku tampak seperti dinding putih yang samar. Dari arah Puncak Jemplang, iring-iringan Jeep berbaris rapi, nyala lampunya berusaha keras menembus pekatnya pedut yang menyelimuti pandangan.
Di tengah kabut itu, warga Tengger mulai berjalan turun dari makam. Mereka mengenakan busana adat, wajah-wajah mereka memancarkan suka cita—sebuah ekspresi syukur atas rezeki dan kemakmuran yang mereka terima. Mereka hidup berdampingan dengan sejarah dan darah mereka sendiri. Mereka tidak membiarkan masa lalu mati.
Langkah kami berlawanan arah. Mereka turun menuju lembah, sementara aku terus merayap naik menuju puncak. Kami saling menatap di tengah kabut yang memutih. Mereka menebar senyum yang tulus, dan aku membalasnya dengan binar mata yang sama.
Tiba-tiba, wajah-wajah asing itu tak lagi terasa jauh. Aku merasa melebur dalam energi suka cita mereka. Dari tempatku berdiri, aku seolah bisa mendengar sorak bahagia para leluhur yang menerima persembahan itu. Dan senyuman warga Tengger siang itu, secara ajaib, menghapuskan segala lelah yang telah kukumpulkan sepanjang ribuan kilometer berjalan sendiri. Aku tidak lagi merasa sendirian; aku sedang berjalan bersama ribuan doa yang membumbung ke langit Bromo.
Comments