Apa
yang paling aku benci dalam hidup? Sesuatu yang meninggalkan kesan tidak indah;
memori yang sulit dilupakan meski berkali-kali kucoba hapus dari ingatan.
Otakku adalah pengarsip yang selektif; ia hanya menyimpan sesuatu yang
menonjol—jika bukan yang terbaik, pasti yang terburuk.
Jika
saja ada tombol Ctrl+A dan Delete untuk membersihkan ruang
kenangan yang kian menyusut seiring bertambahnya usia, aku pasti sudah
menekannya sejak dulu. Dan jika kesempatan itu ada, yang pertama kuhapus adalah
memori bersama Bapak.
Bapak
adalah arsitek yang menciptakan karakter "monster kecil" dalam
diriku. Sejak usia dua belas tahun, aku tumbuh dalam tekanan, makian, dan
pukulan yang membentuk dinding pertahanan yang kaku. Aku membenci keadaan yang
membuat Bapak menjadi monster besar, dan aku menjadi monster kecilnya.
Dulu
aku bertanya, apakah kehidupan ini anugerah? Ataukah ia hanyalah tanah liat
yang bentuknya ditentukan oleh tangan siapa yang meremasnya? Kehidupanku
dibentuk oleh tangan dingin Bapak. Ia ingin aku menjadi manusia yang tidak
boleh lemah. Ia mengajarkanku cara melihat manusia sebagai ancaman. Jangan
percaya siapa pun. Semua manusia adalah penipu. Tak ada yang menolongmu selain
dirimu sendiri. Dalam hidup hanya ada dua peran: pelaku atau korban. Pilihlah
menjadi pelaku.
“Bapak,
apakah aku harus mempercayai itu semua? Aku baru SMP, aku hanya ingin diterima
oleh teman-temanku,” protesku dalam hati dua puluh delapan tahun yang lalu.
Bahkan, aku pernah mengetuk pintu langit, memohon agar Tuhan mencabut nyawanya
lebih cepat agar ia tak ada lagi di bumi ini. Begitu besarnya benci itu.
Namun
kini, di tengah badai kehidupan yang jauh lebih besar dari cerita Bapak, aku
tersungkur pada sebuah kesadaran yang pedih.
“Bapak…
ternyata aku perlu menjadi monster sepertimu untuk tetap berdiri menghadapi
badai ini.”
Bapak
tidak menjawab. Ia sudah tertidur nyenyak di dalam tanah. Tapi ajarannya
menggema di setiap kayuhanku. Aku mulai merasakan bahwa manusia memang bisa
menjadi ancaman, bahwa kemandirian mutlak adalah satu-satunya perlindungan.
Maafkan aku, Bapak, karena dulu pernah mendoakan kematianmu. Aku bodoh.
Ternyata, kamu sedang mempersiapkanku untuk perjalanan ribuan kilometer ini.
Setelah
pikiran dan pandanganku dipermainkan oleh pohon jati yang menari di Alas Burno,
aku akhirnya menyerah pada kenyataan fisik. Aku bangun di atas kasur hotel yang
lembut di Lumajang. Kainnya dingin terpapar AC, tapi selimutnya memberi
kehangatan yang mewah. Kedua kakiku terasa lumpuh, dan luka lecet di tubuhku
akhirnya bisa bernapas di atas seprei yang bersih. Menginap di sini bukan
sekadar mengistirahatkan raga, tapi memungut kembali jiwa yang sempat
kehilangan arah.
Hanya
lima jam aku terlelap, namun memoriku melakukan perjalanan waktu dua puluh
delapan tahun ke belakang. Bapak hadir kembali, bukan sebagai luka, melainkan
sebagai memori baik. Aku mencintaimu, Bapak. Aku berhenti membencimu. Kamulah
yang mencetak kepribadian ini hingga aku berani berada di Lumajang seorang
diri, bertarung dalam pacuan melawan ketakutan. Aku bukan lagi Kuda Betina yang
lemah. Aku adalah monster kuat yang kau buat, yang tetap tenang meski
ditinggalkan oleh perhatian duniawi.
“Aku
kuat, dan aku akan menyelesaikannya.”
Pukul
enam pagi, Kuda Betina siap kembali ke jalur. Meski bagi para Kuda lain pacuan
sudah berakhir kemarin, bagiku perjalanan ini belum usai. Aku tidak ingin
dihentikan oleh apa pun. Aku ingin mematahkan ejekan mereka yang berharap aku
menyerah.
“Hanya
aku yang bisa menghentikan diriku.”
Saat
hendak bersiap, seorang lelaki tua memanggilku. Usianya sebaya Bapak. Ada
keriput di sudut matanya yang tampak familiar saat ia tersenyum.
“Come
here, sit down with me,” ucapnya dalam bahasa Inggris. “Hai Pak, mau kopi?”
tawarku sambil duduk di sebelahnya. “Arep nengdi kowe?” (Mau ke mana
kamu?)
Aku
terperanjat. Wajahnya memang Jawa, tapi sapaan Inggrisnya membuatku mengira ia
warga asing. Ternyata, ia adalah Pak Marto, warga negara Suriname keturunan
Jawa Tengah yang sedang pulang kampung bersama putrinya, Michelle Nadine
Martoredjo.
“Aku
ora iso bahasa Indonesia. Isoku bahasa Jawa ngoko,” akunya jujur.
Melihat
Pak Marto dan Michelle, hatiku menghangat. Di Lumajang, aku menemukan irisan
memori buruk yang telah tumbuh menjadi memori baik. Kisah mereka adalah cermin
dari apa yang kupelajari: hidup memiliki dua sisi yang tak terpisahkan.
Kebaikan muncul untuk menggantikan yang buruk, dan keburukan ada untuk memberi
pengakuan pada kebaikan.
Mesin
waktu di kepalaku menarik kedua masa itu menjadi satu, membiarkanku menerima
hitam dan putih hidup dengan seimbang. Aku berangkat dari Lumajang dengan hati
yang penuh. Bukan lagi sebagai anak yang terluka, tapi sebagai pejuang yang
telah berdamai dengan bayang-bayang ayahnya sendiri.
Comments