Banyuwangi. Nama itu akhirnya bukan lagi sekadar koordinat dingin di layar peta digital atau ambisi yang menghantui kepala. Ia kini nyata, bergetar di bawah ban sepedaku. Aroma laut Selat Bali mulai tercium, bercampur dengan wangi dupa dan semerbak melati yang samar—sebuah aroma khas tanah yang sangat menjaga kesakralan tradisinya.
Aku
menyentuh garis finish saat dunia sudah terlelap. Jam satu pagi. Tidak
ada sorak-sorai penonton yang gegap gempita, tidak ada medali emas yang
dikalungkan di leherku. Hanya ada aku, sepedaku, dan debu jalanan yang melekat
di sekujur tubuh sebagai saksi bisu. Namun, di tengah kesunyian yang
kupasrahkan itu, kejutan kecil menyambutku. Tiga orang kawan masih terjaga,
berdiri menentang dingin demi menungguku: Pak Febrianta Heru, Mas Pandu, dan
Jojo Maliq. Kehadiran mereka di jam mati itu terasa begitu hangat, seolah
semesta mengirimkan perwakilan untuk membisikkan bahwa aku tidak benar-benar
sendirian.
Sementara
raga ini berhenti, di dalam dadaku sebuah tarian justru baru saja dimulai.
Tarian
Gandrung.
Aku
menatap patung-patung penari Gandrung yang berdiri anggun di setiap sudut kota.
Tubuhnya meliuk gemulai, namun kakinya menapak sangat kuat ke bumi. Lirikan
matanya tajam namun memikat, menyimpan rahasia tentang sejarah panjang
perjuangan rakyat Blambangan. Konon, dahulu Gandrung bukan sekadar hiburan; ia
adalah simbol perlawanan dan pesan rahasia para pejuang. Penari Gandrung menari
untuk menyatukan yang tercerai-berai, memberi semangat pada yang lelah, dan
menjadi penghubung antara yang hidup dan para leluhur.
Gandrung
menari di atas garis tipis antara suka dan duka. Persis seperti diriku yang
dipaksa menari di antara kesunyian Panggang dan terik yang membakar di
Pracimantoro. Seperti diriku yang harus menyeimbangkan raga yang lelah dengan
jiwa yang hampir menyerah di Alas Burno. Gandrung mengajarkanku bahwa untuk
menjadi indah, seseorang harus berani menanggung beban mahkota yang berat dan
kain yang membelit, namun tetap harus bergerak mengikuti irama semesta.
Aku
telah menempuh ribuan kilometer bukan untuk membuktikan bahwa aku lebih hebat
dari orang lain. Aku melakukannya untuk membuktikan pada "monster
kecil" di dalam diriku bahwa ia bisa tumbuh menjadi "monster
besar" yang bijaksana. Bapak benar, aku harus kuat menghadapi dunia yang
penuh tipu daya. Namun, alam semesta juga benar; bahwa kekuatan sejati lahir
dari kemampuan untuk tetap lembut dan "mendengar" di tengah kerasnya
dunia.
Aku
bukan lagi perempuan yang sama saat roda sepedaku berputar meninggalkan Carita.
Aku adalah kuda yang telah berdialog dengan angin, meminta izin pada
daun Jemplang, dipeluk oleh pohon di Ngadas, dan disapa oleh senyum tulus
leluhur melalui warga Tengger. Aku telah menguliti lapisan-lapisan kebencian
masa lalu dan menggantinya dengan syukur yang mendalam.
Di
Banyuwangi, aku akhirnya memahami arti "pulang". Pulang bukan berarti
kembali ke rutinitas kopi jam tujuh pagi dan layar monitor yang mencambuk mata
menuju penuaan. Pulang adalah saat jiwa dan raga akhirnya berhenti saling
kejar-kejaran dan mulai berjalan berdampingan dalam harmoni yang tenang.
Pacuan
telah usai. Garis finish ini hanyalah awal dari perjalanan baru yang
lebih luas. Di bawah tatapan mata penari Gandrung yang abadi, aku akhirnya
benar-benar bisa memeluk diriku sendiri. Tanpa ragu, aku berbisik pelan pada
angin yang membawa aroma Selat Bali:
"Terima
kasih telah membawaku sampai di sini."
Comments