PENJAGA MALAM DI LABIRIN GUMITIR

Selepas Jember, jalanan mulai menyempit dan menanjak kembali. Aku tahu ini adalah "ujian kelayakan" terakhir sebelum aku diizinkan menginjakkan kaki di tanah Blambangan. Kali ini, takdir tak membawaku lewat jalur aspal mulus seperti biasanya. Rute perjalanan dibelokkan ke kanan, memaksaku memasuki jantung Kebun Kopi Gumitir di Desa Sidomulyo.

Jalanan berubah menjadi barisan bebatuan kasar yang dikepung rapat oleh barisan pohon kopi. Jalur setapak yang seharusnya sunyi ini mendadak riuh oleh kendaraan besar dan deru motor, karena jalur utama penghubung Jember-Banyuwangi sedang diperbaiki. Namun, keriuhan itu hanya sesaat. Begitu azan Maghrib berkumandang dan hari meredup menjadi gelap, suasana berubah total. Suara mesin menjauh, dan aku tertinggal dalam kesunyian yang ganjil. Sesekali jalanan benar-benar senyap, seolah semesta sedang menahan napas.

Tanpa penerangan jalan, aku hanya mengandalkan nyala lampu kecil di sepedaku untuk membelah kegelapan bebatuan. Beberapa kali kujumpai turunan tajam berbatu yang mengancam keseimbangan. Dalam kondisi lelah yang luar biasa, aku tahu lepas kendali sedikit saja berarti celaka. Aku memilih untuk tidak berjudi dengan nyawa; kuturunkan kaki, lalu berjalan sambil mendorong sepedaku selangkah demi selangkah demi keselamatan.

Setelah berjalan beberapa kilometer dalam dekapan sunyi, sebuah bayangan raksasa muncul di depanku. Berdiri kokoh di tengah rimba hijau, Pabrik Kebun Kopi Gumitir menampakkan wujudnya—sebuah bangunan tua yang sangat besar dengan aroma yang bercampur antara wangi kopi ranum dan hawa lembap dari pepohonan purba. Pabrik itu seperti monumen bisu yang menyimpan sejarah panjang di kawasan Silo.

Tak jauh dari sana, tersebar rumah-rumah warga yang sangat sederhana. Lampu neon remang-remang di teras rumah menjadi satu-satunya tanda kehidupan, namun aku tak melihat seorang pun penghuninya. Padahal malam belum larut, tapi kenapa suasana sudah sepahit kopi tanpa gula? Sepi sekali.

Aku memutuskan berhenti saat mataku menangkap cahaya dari sebuah bangunan. Di depannya, beberapa lelaki sedang sibuk mengitari sebuah motor yang sedang diperbaiki.

“Warungnya masih buka, Mas? Mau pesan kopi saget (bisa)?” tanyaku, membuyarkan konsentrasi mereka.

Niki sanes warung kopi, Mbak. Niki pos kampling. Tapi wonten kopi, kulo damelke kopi, Mbak…” (Ini bukan warung kopi, Mbak. Ini pos kampling. Tapi ada kopi, saya buatkan ya, Mbak...) sahut salah satu dari mereka dengan keramahan yang tulus.

Aku tersipu, merasa sungkan karena telah mengira pos penjagaan sebagai warung. Namun, di sanalah keajaiban perjalanan ini kembali hadir. Di tengah perkampungan Kebun Kopi Gumitir, aku duduk menikmati suasana malam bersama manusia-manusia baru yang sudi berbagi. Aku sudah benar-benar lupa ini hari apa, atau sudah berapa lama aku terlambat mencapai garis finish. Di pos kampling itu, suasana menjadi gayeng (hangat dan akrab). Rasa cemas yang membuntutiku sejak tadi menguap bersama uap kopi.

“Jalan keluar Kebun Kopi Gumitir ini masih jauh nggak, Mas?” tanyaku sebelum berpamitan.

Mboten, Mbak. Nanti sampeyan terus saja, sampai ketemu gapura besar setelah terowongan Mrawan. Itu sudah jalan raya.”

Nggih, matur suwun, Mas. Kopinya berapa?” tanyaku sambil merogoh saku.

Niki gratis, Mbak. Mboten usah mbayar.

Aku tersenyum malu sekaligus terharu menerima kebaikan sederhana itu. Aku melanjutkan perjalanan, hingga akhirnya di depan mataku berdiri sebuah gapura besar yang tampak seperti peninggalan zaman penjajahan Belanda. Kokoh, tak terawat, sunyi, dan sedikit mencekam di bawah sisa-sisa cahaya lampu sepedaku. Namun, aku tak lagi takut. Kopi dari pos kampling tadi telah menghangatkan nyaliku untuk menuntaskan sisa kilometer menuju gerbang Blambangan.

Comments