30 July 2010

TETAP CINTA


Saya melihat dari mata polosnya, meski usianya hampir setengah abad. 

Dari ceritanya,
Saya berusaha membuatnya senang. Dia tidak pernah bersyukur dengan keadaan seperti ini. Kenapa saya selalu disia-siakan? Saya yakin, tak ada perempuan yang mau menjadi istrinya... bisanya Cuma judi dan mabuk-mabukan.

Dari kisah para tetangga,
Dia adalah sosok istri yang penurut. Seharusnya suaminya bersyukur mempunyai pendamping sepertinya. Bukan malah disia-siakan begitu! Coba kalau saya jadi istrinya, pasti sudah saya cerai dari dulu. Sekarang, siapa yang tahan punya suami yang suka judi dan mabuk-mabukan?

Dari obrolan famili,
Sebenarnya dia sudah cukup sabar, dengan menuruti semua permintaan suaminya. Memang suaminya yang nggak pernah bersyukur, selalu menghambur-hamburkan uang. Herannya, dia nggak mau menceraikan suaminya. Meskipun suaminya Cuma bisa judi dan mabuk-mabukkan.

Dari pengakuan anaknya,
Ibuk sebenarnya sudah cukup sabar menghadapi bapak. Semestinya bapak bersyukur punya istri seperti ibuk. Tapi kenyataannya tidak. Bapak malah menyia-nyiakan ibuk. Sementara ibuk, nggak mau menceraikan bapak, karena ibuk sayang dan kasihan pada bapak. Tapi, bapak tidak pernah membalas kasih sayang yang diberikan ibuk. Bapak hanya bisa judi dan mabuk-mabukkan, membuat ibuk menjadi sedih.

Selepas maghrib, dibawah lampu remang di ruang tamu...
“Tadi bapak mengeluh sakit. Dadanya sakit. Dari pagi tidak mau makan nasi. Sore tadi minta bakso, ibuk belikan. Baru saja minum susu sereal. Tiap pagi minta susu sapi murni, ibuk turuti.”
Saya hanya diam. Berharap ada kelanjutan dari ceritanya.
“Tapi, nggak pernah mau berhenti minumnya. Kadang, ibuk dibohongi. Minta uang buat berobat, eh ternyata buat beli arak. Ya sudahlah... ibuk pasrah saja.”
Lagian, kalau nggak pasrah, mau gimana lagi buk? Cuma itu yang bisa kita lakukan.
“Seperti apa pun yang telah bapak perbuat, ibuk tetap sayang. Meski mendekati mautnya kini. Ibuk selalu mendoakan yang terbaik buat bapak.”
Sungguh mulia dirimu. Saya bangga menjadi anakmu.