25 September 2014

KUTEMUKAN KAMU DIBALIK SELIMUT ITU

Malam sudah meradang. Mengusamkan awan putih menjadi petang. Perempuan itu sudah melepas kaosnya yang basah kena keringat. Rupanya dia salah memilih bus tanpa AC, barangkali karena ongkosnya hanya cukup untuk membayar bus dengan cendela terbuka, namun gerah tetap terasa. Karena dalam perjalanan Surabaya menuju Jogja, penumpang penuh sesak dalam kursi-kursi dengan kain pelapis yang kebanyakan telah robek. Lalu kaca cendela yang hampir setiap bagiannya telah retak, hingga pecah. Ini tak layak untuk perempuan seperti kamu.

"Kenapa kamu tak naik kereta, saja?" Kamu menggeleng, katamu uangmu hanya cukup untuk perjalanan Pulang Pergi dengan bus murahan. Lalu kamu melepas kaosmu. Mengambil kaos ganti dari dalam tas ransel yang isinya penuh sesak dengan beberapa peralatan mandi.

"Han, kamu tak apa kan, kalau malam ini aku menumpang tidur disini?" Aku menggeleng. Tak apa. Tanpa perbincangan panjang, kau tenggelam dalam selimut tebal dan melupakan aku, yang awalnya ingin mengajakmu sekedar berjalan-jalan menikmati suasana malam di Jogja. Seperti ketika tujuh tahun yang lalu, aku dan kamu dalam satu semester yang sama, dalam sebuah tim kerja yang sama, dan menghabiskan waktu bersama di Kaliurang. Kamu lupa. Atau aku yang tak bisa melupakan.

"Kenapa kamu nggak tidur?" Aku menggeleng. Belum saatnya aku memejam mata. Aku masih akan menonton beberapa film action, download-an kemarin yang harus aku tonton hari ini. Karena film hari ini yang baru saja aku download, sudah tak sabar untuk diamati, dicermati esok hari. Bagaimana bisa aku menghabiskan satu hari dengan dua film dengan genre yang hampir sama. Action.

"Tidur Han, besok dilanjutkan lagi nontonnya." Kamu membuka selimut. Meregangkan kedua tangan, dengan senyuman lelah. Haruskah aku melewatkanmu? Perempuan yang datangnya tiba-tiba, setelah sekian lama aku mencari alamat fesbuk dan akun twittermu. Aku tak bisa mendapatkannya. Tapi mala mini, kutemukan kamu dibalik selimut kasurku.

14 September 2014

INSTAN, CINTA ITU INSTAN

Dia memandangi kembali jendela kaca yang dibingkai kayu jati divernis manis, dalam sebuah warung yang hanya menjual cinta. Lalu sesekali memainkan gadget, iseng iseng mengirimkan pesan kepada entah siapa, dalam sebuah akun sosial media yang sering dibicarakan. Dengan melampirkan satu jepretan foto kualitas standar lima mega piksel, Android. Direvisi menggunakan editor instan dengan saturasi acak tanpa ada perhitungan tepat, yang penting enak dilihat. Cangkir kopi dihadapannya tak mampu menolak, pasrah untuk diunggah dengan sebaris curahan hati seorang yang sedang gundah, "Tak pernah kutemukan cinta disini, di kopi ini. Cintaku pergi bersamamu." Lantas sejuta manusia mengetahuinya, terhanyut dalam drama romantisnya. Instan, cinta itu instan.

TERJEBAK

Aku terjebak pada sebuah pagi
Dimana mimpi harus segera diakhiri
Aku terpukau untuk menyadari
Kenapa jadinya begini

Dalam sebuah sunyi, sedang kumencari
Pada dingin malam, kuterjaga menanti
Kau tak pernah ada disini
Kau hanyalah imajinasi

Dan aku akan menyendiri
Untuk menemukanmu dalam sepi
Kutemukan aku sendiri
Kau tak pernah ada disini

06 September 2014

Sebuah Pesan

Bagaimana kalau kita apa adanya? Tak usah berpura pura. Sederhana.

05 September 2014

cermin

tersemat penat dalam hasrat. hai pengkhianat, sapaku pada cermin pemantul segala keburukan rupaku.