23 December 2012

ICE CREAM

kamu itu seperti es krim. lembut nan dingin. anyep!
mudah meleleh hanya dengan diumbar semenitan.
senyummu sudah mirip seperti kepulan embun,
yang meletus dari gunungan padat es krim.

kamu memang es krim. 
suka dijilat, dan siap menggeliat!



20 December 2012

KUBUS COKLAT

hey, ada kubus coklat dalam ruang hampa,
tempat berpulangnya setiap kepakan sayap yang hampir patah.
ada setumpuk fakta yang mulanya hanya sebatas wacana,
tesusun menyesak dalam kubus coklat.

ribuan tapak kaki menjejal dan mulai membual,
mengira jika setiap langkah mampu pecahkan masalah.
menganggap ruang pengap tak layak dijadikan tempat menginap,
sebuah batas hanyalah penyekat samudera lepas.

dan hey, kubus coklat mulai menggeliat,
dalam gelap, sebagai mufakat atas segala nikmat.
atas rasa bejat dan bukan hanya penebusan sesaat,
kubus coklat ingin dianggap bukan hanya tempat pengap.

disudut rasa yang berlumur dosa,
disegala panca indera yang berbusa,
diujung semua rasa bersalah,
biarkan kubus coklat berserah.

19 December 2012

SHAPE OF LOVE

jika ada, senja yang berpulang pada ujung bibir pantai, terbenam dalam deburan ombak kelam, dan tersapu oleh hamparan langit biru, apakah bisa kusebut ini cinta?

dan sudah tak terhitung berapa biji usiaku, apalagi jika harus kukumpulkan batang lidi untuk mengejanya, bahkan telah samar tombol alat hitung untuk mengkalkulasinya, selama itukah aku harus menunggu cinta?

demi sebuah lorong panjang tempat melintasnya laju kereta, aku berbaris dalam tatanan balok, terangkai dan tersambung, bertumpang tindih dengan kepalan besi panas, terpatri menjadi landasan, untukmu-kah aku harus menjadi begini, cinta?

lalu, tentang angin yang berhembus pelan mengitari helaian rambutmu, menguraikan koloni yang maunya hanya menyatu, pada sebuah tanah lapang di bawah bandulan aneka warna, dan kau kibaskan rambutmu yang coklat. aku kan menjadi angin yang mencuri aroma keringat lehermu, bau cinta.


14 December 2012

KAU DIMANA?

sudah kuseduh udara pagi yang mengumbar dari kepulan adzan subuh. Tak kutemui kau disana. Telah juga kurapatkan  raga pada nyawa yang selama ini selalu ingin berjauhan, tak mau mendekat meski hidupnya tak pernah bersekat.

kau, 

tak mudah untuk dijamah, sulit untuk digapit, meski telah kusebar jaring pukat di lautan, hingga perahuku hilang arah kompas di tengah samudera lepas. Tetap saja, tak kutemui kau disana. 


kau,

seperti papan kayu bundar dengan garis-garis melingkar, tempat pulang setiap jangkar yang selalu ingin berkelakar. Dengan busur panah, kuarahkan mata besi cinta menitik pada pusat jiwa, dan kau tak juga kutemui dimana.

aku,

sudah jauh berkelana menapaki setiap tikungan, lantas berharap kau mampu kutangkap, dengan perangkap tipu muslihat supaya kau bisa terjerat dalam sebuah cinta yang bersenandung doa.

kau,

Tak pula ada disana.

05 December 2012

JIKA AKU ODHA



Barangkali kita masih awam dengan istilah ODHA. Karena penyakit ini memang selalu dianggap sebagai aib. Jadi tidak heran jika pada akhirnya menjadi tabu. Ketika saya SMA, sudah mulai dikenalkan dengan istilah ODHA (Orang Dengan HIV AIDS), tapi belum ke tahap aplikasi mengenai penanganan, dan menghadapi orang-orang penderita HIV AIDS. Kenapa? Ya karena itu tadi, masyarakat masih menganggapnya sebagai sebuah ancaman bagi generasi muda. 

Baiklah, memang tidak salah jika kita menganggap HIV AIDS sebagai ancaman, karena memang penyakit ini bisa membinasakan. Namun, apakah hanya dengan berwacana “HIV AIDS adalah ancaman”, lantas generasi muda akan terbebas dari ancaman tersebut? Belu tentu!

Seperti halnya, ketika seorang anak disuruh orang tuanya belajar. Tanpa diberikan penjelasan kenapa seorang anak harus belajar, saya rasa percuma saja. Karena menurut saya, tanpa mengetahui alasan yang mendasar, percuma seseorang mati-matian berupaya. Yang ada hanyalah rasa penasaran dan berujung pada keinginan untuk mencoba.

Jujur saja, saya hingga saat ini belum pernah menjumpai orang penderita HIV AIDS. Bukan karena tidak ingin, tapi memang saya tak mengetahui keberadaan mereka.
Mereka (ODHA) seperti disendirikan dalam kelas masyarakat. Dianggap sebagai suatu borok dalam siklus kehidupan. Menanti waktu untuk dikuburkan. Bahkan ada pula yang ogah-ogahan untuk ikut menyembayangkan. 

Sampai kapan kita akan menganggap mereka sebagai binatang? Jika mati selalu dianggap sebagai bangkai. Seperti tikus yang mati keracunan, dan tak satupun mau mendekat. Bukankah ODHA juga manusia? Yang ketika hidupnya pernah bergaul dengan kita. Menjadi ODHA bukanlahs ebuah cita-cita. Bukan pula pengharapan. Tak ada yang mau menderita seperti mereka. 

Bagaimana jika, kita adalah penderita HIV AIDS? Apakah mau diasingkan? Ketika kita patah hati saja, ingin sekali menangis tersedu di pundak sahabat. Lalu berjam-jam ingin terus didengar. Yang dibutuhkan ODHA adalah kehangatan dalam perbuatan dan kata-kata. Tanpa kita sampaikan, mereka sudah tahu hidupnya tak kan lama. Mereka hanya ingin menghabiskan sisa waktunya untuk tersenyum, seakan lupa jika ada luka yang selalu menganga.

Lalu, apa yang perlu kita lakukan? Tak perlu pusing memikirkan hal tersebut. Bayangkan saja, kalau si ODHA adalah kita. Apa sih yang kita inginkan? 

Jika saya sebagai ODHA : Ingin terus menjalani hidup seperti biasanya. Tak kan berhenti berkarya hingga saya benar-benar tak mampu melakukan apapun. Ingin lebih bijaksana dalam menjalani hidup. Dan berharap selalu ada orang-orang yang selama ini berada di lingkaran cinta.

Lalu bagaimana jika Anda adalah ODHA?