09 February 2015

HANAFI


Hanafi. Aku tak tahu bagaimana menceritakan tentangmu. Hanafi. Kamu seperti lelaki yang tak perlu digoda, tapi kau menggodaku. 
Hanafi. Kau suka berselingkuh, itu katamu. Hanafi. Kau selalu diam, tak banyak bicara, tapi auramu kemana-mana bahkan ketika kau hanya mengenakan kaos merah tanpa kerah. 
Hanafi. Aku terpukau untuk pertama kali ketika bertemu denganmu. Hanafi, kau pandai menggambarkan cinta dalam guyonan. 
Hanafi. Lelaki lima belas tahun lebih tua dariku yang tak bisa lepas dari pandangan. Hanafi. Kau menggairahkan. 
Hanafi. Aku terpikat oleh gerak tubuhmu, padahal kau tak pandai menari. Hanafi. Aku ingin menciummu. 
Hanafi. Kau indah namun beristri. Hanafi. Kau sentuh jemariku untuk pertama kali, dan aku ingin lagi. Hanafi. Aku keracunan tatapanmu. 
Hanafi. Kau datang sekelibat, lalu tersemat. Hanafi. Kita belum saling kenal, tapi kita jatuh cinta.

05 February 2015

Cerita Malam

Hai malam, aku ingin bercerita. Tentang nafas yang sering tersengal, tentang nyeri di kepala bagian belakang, tentang pelukan yang tak kunjung datang. Ketika pagi hanya menyapa sebentar, dan kopi tak lagi bisa kunikmati seindah dulu. Aku ingin kamu, sekumpulan album masa lalu, ketenangan tiada tara. 
Jika bukan karena manusia, aku lebih memilih terbang bebas menguap di angkasa. Jika bukan karena cinta, aku lebih mencintai alam. Jika bukan karena lelaki, aku pasti memilih untuk sendiri. Ada tenang dalam sendiri, meski kadang sepi. Ada bahagia dalam diam, tapi aku juga perlu bersuara. Aku butuh kamu, para daun telinga yang sabar mendengar dengan lelah terkantuk-kantuk.
Aku rindu pada tidur delapan jam tanpa dibangunkan. Aku rindu pada kapan saja aku boleh membolos pergi kemana saja tanpa diingatkan. Aku rindu pada sebuah malam yang tak menjanjikan jika esok akan datang pagi. 
Hidupku hampir punah oleh ulah. Sirna dalam mutiara keemasan. Mati dikubur duniawi.