07 August 2012

LINTANG

Suamiku punya binatang piaraan baru. Suka merayu dan menyita waktu.

Kau teramat sayang padanya. Hingga kau lupa ada aku dan Sina, anak kita. Binatang piaraanmu itu yang membuat jam kerjamu mundur hingga jam satu, bukan jam tujuh. Kau lewatkan ulang tahunku demi binatang piaraanmu. Uang belanja bulanan terpangkas menjadi setengah, juga karena binatang piaraanmu. 

Suamiku punya binatang piaraan baru. Lebih lucu dan pakai baju.

Kau sembunyikan binatang piaraanmu dibalik kemudi. Disanalah biasanya kau dudukkan Sina, anak kita. Binatang piaraanmu itu yang membuat Sina menunggu dua jam di sekolah, dan berjalan kaki menuju rumah. Kau lewatkan acara pengambilan rapot Sina demi binatang piaraanmu. Di kenaikan kelas, kau ingkari janjimu membelikan seragam baru Sina, juga karena binatang piaraanmu. 

Suamiku punya binatang piaraan baru. Baunya harum dan selalu ingin dicium.

Kau sendiri yang mandikan binatang piaraan dikala rumah sepi. Lidahnya selalu menjulur jika kau ajak tidur di kasur. Dia menggeliat tak bisa menahan hasrat. Dagingnya masih kencang, pantas saja kau selalu tegang melihat binatang piaraanmu itu mekangkang. 

Binatang itu bernama Lintang. Anak SMA setengah matang, dengan kaki jenjang seperti bintang iklan.

05 August 2012

KONDOM DALAM BASKOM

Ada baskom yang tak kosong. Air menggenang sejak hujan datang. 

Baskom itu sudah dua hari menampung genangan air hujan. Ada genting yang pecah, membuat air hujan masuk dengan mudah melalui celah. Bunyinya tik tak tik tak seperti cicak. 

Ada kondom dalam Baskom.

Biasanya kau tak mau pakai kondom. Kau suruh aku ke bidan untuk pasang implant. Membiarkan tubuhku membusuk oleh susuk. Aku binatang yang kau samakan dengan wanita jalang. 

Dalam mabuk berat, kita berkutat menjelajah pantat. Ketika kejang menerjang, kau panggil aku Lintang. Mungkinkah kau lupa, namaku Falie, seorang istri yang sedang kau tiduri. Sebuah kondom mengapung dalam baskom.

Ada lagi kondom dalam Baskom.

Dalam mabuk berat, kau berkutat menjelajah pantat. Ketika kejang menerjang, kau panggil dia Lintang. Kau tak ingat lagi pada Falie, seorang istri yang semalam kau tiduri. Ada lagi kondom yang mengapung dalam baskom.

Dalam mabuk berat, aku berkutat menjelajah pantat. Ketika kejang menerjang, kupanggil dia Gilang. Donatur kondom dalam Baskom.

03 August 2012

BALADA NASI GORENG

Kau tak percaya kalau nasi goreng itu buatanku.

Di sisa malam hingga dingin tenggelam, kau masih menyimpan dendam. Kau tak percaya kalau nasi goreng itu buatanku. Lantas kau mendebat, tak mau mengakui jika aku hebat.

Sejak dulu aku tak pandai meracik bumbu. Bisaku hanya belanja dan memanjakan mata. Kau janjikan aku menjadi ratu, bukan sebagai babu. Apakah setelah melahirkan anak, dan tubuhku penuh lemak, kau perlakukan aku tak seperti binatang ternak?

Setelah kau bilang aku tak pandai meracik bumbu. Bisanya hanya belanja dan memanjakan mata. Aku sadar takkan pernah menjadi ratu, tapi seorang babu. Sejak melahirkan anak, dan tubuhku penuh lemak, kau perlakukan aku seperti binatang ternak.

Memang, nasi goreng itu buatanku

Nasi putih dan racikan bumbu sudah menyatu dalam sebuah wadah bambu. Aku ragu kalau nasi goreng itu bisa memanjakan lidahmu. Aku cemas kau akan tewas oleh rasa pedas. Atau kau akan geram karena terlalu banyak garam. Dan aku yakin kau akan marah karena warna nasi gorengnya terlalu merah. 

Kau boleh tak percaya kalau nasi goreng itu buatanku
Seorang penjual nasi goreng melintas, seakan ingin membantu dengan ikhlas. Dalam beberapa menit, nasi putih dan racikan bumbu sudah menyatu dalam sebuah wadah bambu. Aku tak ragu kalau nasi goreng itu bisa memanjakan lidahmu. Aku tak lagi cemas kau akan tewas oleh rasa pedas. Kau tak perlu geram karena sudah cukup garam. Dan aku yakin kau tak akan marah soal warna nasi gorengnya yang terlalu merah.

Di sisa malam hingga dingin tenggelam, kau masih menyimpan dendam. Kau tak percaya kalau nasi goreng itu buatanku. Lantas kau mendebat, tak mau mengakui jika aku hebat.
Dibalik tirai jendela kulihat kau sedang berkelana. Menyusuri tempat sampah untuk menemukan bukti sah. Untuk meyakinkan hatimu, benarkah nasi goreng itu buatanku? 

"Bukan" jawabku. Kau tak perlu mencari nasi goreng buatanku, karena seorang penjual nasi goreng yang melintas, telah melahapnya dengan ikhlas.