27 July 2012

TENTANG GARAM DAN SAYUR OSENG KANGKUNG

Kau marah karena aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu.

Amarah memuncak, meledak, dan beranak pinak. Semua umpatan sebisanya kau lemparkan. Caci maki menyertai. Istri bodoh. Selalu saja ceroboh.

Kau marah karena aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu?

Kau bilang sangat sibuk dan tak bisa jemput. Kau minta aku menjemputnya dari sekolah. Aku bergegas berangkat, seketika kau menutup telepon. Setelah jemput anak, mampir ke rumah kakak, bantu bikin kue untuk persiapan lebaran. Kau minta aku tetap tinggal di rumah kakak, hingga kau datang menjemput. 

Aku memang Istri bodoh. Selalu saja ceroboh. 

Aku bergegas berangkat, seketika kau menutup telepon. Setelah jemput anak, aku tak mampir ke rumah kakak, bantu bikin kue untuk lebaran. Aku tak berada di rumah kakak, hingga kau datang menjemput.

Aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu.

Aku bergegas berangkat, seketika kau menutup telepon. Setelah jemput anak, aku kembali pulang ke rumah. Kau pasti marah jika aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu. Sampai di rumah, kulihat pintu rumah terkunci dari dalam. Aku cemas, takut jika perampok sudah berkemas. Tak ada waktu untuk meneleponmu. 

Aku bukan Istri bodoh. Tak lagi ceroboh.

Perlahan kubuka pintu depan. Dengan langkah mengendap, kuperiksa semua bagian. Tak ada perabot yang diserobot. Almari masih terkunci. Meja kursi tetap rapi. Barang-barang tak satupun yang hilang.

Benarkah kau marah karena aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu?

Pintu kamar terbuka lebar. Ada sepasang binatang sedang telanjang. Saling mencium bikin nyeri tulang sumsum. Gemulai menari di atas ranjang kami. Hingga binatang itu mengerang lalu menikmati rasa kejang. Sepasang binatang kelelahan, dan menyadari jika sedari tadi ada sepasang mata istri bodoh yang dianggap selalu ceroboh sedang mengamati.

Sepertinya kau marah bukan karena aku lupa memberi garam di sayur oseng kangkung kesukaanmu, tapi karena kau ceroboh dan telah membodohi istrimu.



24 July 2012

JEJAK

Aku sedang mencari cari. Menelusuri jejak setiap nama yang pernah singgah. Entah lama atau barang sejenak. 

Kamu, sudah cukup lama berdiam diri. Tak ubahnya seperti anak kecil yang malu-malu menerima angpao. Lalu menyimpannya hingga lama. Kau teramat takut untuk membuka isinya. 

Kamu sudah cukup lama duduk di bangku ini. Tak ada yang tahu, siapa yang sedang dinanti. Wajahmu penuh yakin, jika penantianmu akan berujung manis. 

Seperti ketika malam itu, kau dan aku duduk berdua. Bukan di rumput yang lapang, bukan pula di bawah bintang malam. Kita menikmati malam kamis di sebuah trotoar, beradu dengan kepulan kopi susu.

Seperti pula malam ini, aku sedang mencari cari. Menelusuri jejak setiap nama yang pernah singgah. Entah lama atau barang sejenak. Kutemukan namamu, yang tak pernah pergi dari bangku hatiku, berdiam diri menunggu saat yang tepat membuka angpao.

Kau simpan cintamu terlampau lama, aku lelah menanti. 


22 July 2012

CATATAN KECIL DAFTAR TAGIHAN DENGAN JUMLAH YANG TAK KECIL

Jika bukan karena voucher gratis itu, saya tak akan pernah injak kaki di fitness room. Untuk alasan apa pun. Meski badan sudah melar. Perut sudah kendur. Apalagi payudara yang sudah turun drastis hingga sepuluh senti.

Voucher gratis yang diberikan oleh tangan manis sang resepsionis. Setelah pesta kecil dan paket ingar bingar yang saya pesan Sabtu malam. Menambah daftar tagihan yang harus dibayar tanggal jatuh tempo datang.

Gajian masih sebulan lagi. Tapi kepala sudah terasa nyeri. Setiap kali menjumpai catatan kecil yang berisi daftar tagihan dengan jumlah angka yang tak kecil. Kalau begini caranya, kapan bisa nabung dan pergi haji?

Seorang pria dengan tubuh tegap berisi, datang menghampiri. Melihat saya bingung sendiri. Dengan kostum yang tak serasi. Dan tanpa kaos kaki. Saya salah kostum, semestinya pakaian saya bukan ini. Tapi, mau gimana lagi? Saya sudah terlanjur berada disini.

Lebih baik saya bilang apa adanya. Saya ngga pernah fitness, ngga pernah olahraga. Jika bukan karena voucher gratis itu, saya tak akan pernah injak kaki di fitness room. Untuk alasan apa pun. Meski badan sudah melar. Perut sudah kendur. Apalagi payudara yang sudah turun drastis hingga sepuluh senti.

Lalu, pria tegap itu tertawa lucu sambil merangkul pundak saya yang hanya sebahu. Dengan bahasanya yang seperti guru, saya menebak dia instruktur di tempat fitness itu. Dia merayu, membujuk, dan pada akhirnya menyuruh saya untuk menjadi member pria tegap itu. Dalam satu bulan, badan menjadi kencang, perut tak lagi kendur, dan payudara kembali seperti masih SMU. Hanya denga tiga ratus ribu.

Mendengar rupiah, ingatan saya langsung lari kencang menuju tagihan. Gajian. Cicilan. Uang jajan anak. Iuran listrik bulanan. Pajak motor kendaraan. Dan tabungan. 

Gajian masih sebulan lagi. Tapi kepala sudah terasa nyeri. Setiap kali menjumpai catatan kecil yang berisi daftar tagihan dengan jumlah angka yang tak kecil. Kalau begini caranya, kapan bisa nabung dan pergi haji?

19 July 2012

FIKSI

Siang menerjang jalan. Panas menjadi nyata. Tak lagi ada mendung sendu. Yang ada hanyalah langkah terburu. Ingin segera bertemu. Jika tidak, marahmu akan terus menderu. Bagai laju angkot yang penuh bau.

Ini hari Minggu. Aku telah janji akan menemui orangtuamu. Meski akupun ada janji selain denganmu. Tapi aku terus melaju. Yang ada hanyalah langkah terburu. Dan aku tak mau, kau ucapkan kalimat itu, "Mulutmu bau busuk, bisanya janji melulu"

Ingin sebenarnya jauh hari kusampaikan ini. Satu kesempatanku menjadi manusia sejati. Menjadi pria yang tak hanya minta uang mami. Yang ingin sesekali membelikanmu rok mini. Supaya paha putihmu bisa mudah kumasuki.

Tapi kamu tak pernah peduli. Kamu hanya mau aku mengerti. Minggu ini adalah hari yang kau nanti. Aku harus datang dengan sejuta cerita pemikat hati. Kisah yang telah tersusun rapi. Supaya orang tuamu menyetujui. Kamu dan aku menjadi suami istri.

"Nama saya Soni. Saya punya usaha sendiri. Meski masih kecil, tapi saya sudah mandiri. Usaha saya di bidang publikasi. Saya yakin satu tahun lagi, bidang seni publikasi ini akan sangat diminati."

Nama saya Soni. Saya menganggur sejak lulus SMU. Sehari-hari, saya diminta mami untuk membantu. Hari ini, Minggu adalah hari yang saya tunggu. Karena setelah satu bulan menunggu, akhirnya saya mendapat panggilan interview. Saya melamar kerja di Rumah Yatim Piatu. Menjadi guru bagi anak yang tak mampu.

Dan aku tak mau mengacau rencanamu. Kulupakan panggilan interview. Demi kisah fiksimu. 


18 July 2012

MALAM, JAUH LEBIH SETIA DIBANDING KAMU

Sejak sore tadi kepalaku sudah terasa pusing sebelah. Bukan karena Supervisor datang berkunjung ke Area. Bukan pula masalah target yang selalu kejar-kejaran dengan tanggal.





Barangkali karena ini sudah mendekati tanggal dua puluh dua. Tanggal jatuh tempo pembayaran cicilan hutang. Atau bisa jadi karena siang tadi tak sempat ngopi. Dan pasti, pusingku ini karena kau tak pulang lagi malam ini.


Sudah jam dua belas malam lewat, dan kau belum juga datang mengetuk pintu. Ku masih menunggu. Meski berulang kali kutahan mata yang tak sabar ingin menangis. Ah, kau tak perlu ditangisi. 

Bukan, ternyata aku bukan menangisimu. Aku menangisi malam ini, yang terasa panjang hingga aku tak sanggup menghitungnya. Berapa kali kau akan membiarkanku sendiri?

Malam, jauh lebih setia dibanding kamu.



17 July 2012

GURU, TAK HANYA PUNYA ILMU

Namanya Heru Susanto.
Seorang guru, kelahiran tahun enam puluh lima. Dengan sepeda motor vespa pergi mengajar ke sekolah.





Anak-anak menyapanya Pak Heru.

Pria yang tak hanya dianggap guru, tapi juga bapak oleh siswanya. Mau berbagi apa saja kepada anak didiknya. Tak pernah ragu untuk membantu.

Dia Pak Guru yang seharusnya ditiru.
Karena dia, bersedia menanggung biaya kost siswanya yang tak mampu. Mencarikan orang tua asuh bagi anak didiknya yang datang dari jauh. Dan dia, tak pernah mengeluh.

Wajar saja saya termangu. Siang tadi, saya sedang duduk di sebuah kantin sekolah. Berbincang dengan seorang guru, Pak Heru Susanto. 
 
Datang seorang siswa, berbagi masalah biaya kost nya, delapan puluh ribu rupiah per bulan. Vony, nama siswa kurang mampu itu. Datang jauh dari Ngawi, ingin sekali memburu ilmu. Mencari guru yang mau membantu, barbagi dengan setulus hati.

"Belajar di sekolah saja tak cukup, seorang anak juga membutuhkan tempat tinggal yang nyaman untuk belajar. Jika orang tuanya tak sanggup, apakah mungkin saya tinggal diam?" 

Tidak semua guru bisa mengucapkan kalimat tersebut!

16 July 2012

I WANNA LOST

Terkadang saya ingin tersesat, berada di angka nol dan siap melaju menuju titik temu. Saya ingin lupa kalau saya telah berjalan cukup lama. Memikul beban yang ternyata semakin bertambah di setiap pos peristirahatan.


Ketika pagi membuka mata, saya ingin melihat dunia baru tersenyum lantas memeluk dan menciumi disetiap lekuk tubuh, melalui embun pagi yang abadi.


Bukan lagi prosedur dan manajemen yang menuntun saya pada kata Target. Saya ingin hati dan alam ini menyatu, mengatur setiap langkah kaki, menjadi kado terindah semasa saya berinteraksi dengan bumi.


Dan, saya butuh satu menit untuk diam, tak ingin mendengar perintah siapa saja. Biarkan udara mengisi penuh ruang jiwa, menggantikan ruang hampa yang memburu ingin ditempati.


Saya ingin pergi, ke tempat baru dimana langit dan angin telah menanti.

MOM = SOLDIER

Saya masih menerka-nerka isi dari tulisan Dee dalam blog berikut : http://dee-idea.blogspot.com/2009/08/manusia-bukan-mama.html 
Sebenarnya sih simple, sebuah curahan hati antara hubungan anak dan orang tua, terutama Mama. Begitu banyak istilah asing yang bising, karena saya si kerdil yang tak banyak tahu isi kamus bahasa Indonesia secara luas.

Saya hanyalah orang biasa dengan pendidikan sekolah dasar hingga kuliah tingkat diploma, tanpa kelas khusus Bahasa Indonesia yang majemuk itu.
Saya belajar banyak tentang kata yang tak biasa. Yang tak banyak orang mengucapkannya. Yang hanya beberapa kali saya baca dari tulisan seorang novelis sekelas Dewi Lestari.

Manusia Bukan Cuma "Mama" karya Dewi Lestari, membenarkan apa yang telah saya alami. Cerita ini berisi tentang anggapan-anggapan konyol seorang Mama dalam memperlakukan anaknya. Dan begitu sebaliknya, seorang anak yang tak sanggup terbuka pada Mama karena anggapan atau kelaziman memperlakukan Manusia itu sebagai Mama.

Dan saya pun telah mencoba untuk meruntuhkan anggapan kolot yang bisa menciptakan jarak antara orang tua dan anak. Saya berusaha memberi kesempatan pada Benjamin (anak lelaki saya), bahwa saya, Mamanya yang tak melulu menganggapnya sebagai Anak yang harus dijaga dan diawasi. Jauh lebih bermakna jika saya membiarkannya mengolah pikiran dan menterjemahkan arti Mama baginya.

Karena bagi saya, Mama bukan hanya seorang yang penuh kasih sayang. Mama lebih dari itu. Mama menjelma menjadi prajurit, ketika kau berdiri sendiri di medan perang.

12 July 2012

REVIEW : MADIUN JAZZY COUSTIC FESTIVAL 2012



Oki (Madiun Jazz Community) berbagi perkembangan musik Jazz di Madiun

Niko, salah satu musisi Jazz juga ikut nimbrung soal Jazz di Madiun

Rainbow and The Sun, mengubah Padi dan Dewa 19 menjadi Jazzycoustic

Oki, unjuk kebolehan permainan gitar

Some and Friends Project, meramaikan dengan lagu Harvey Malaiholo

Band Performer dan Sponsor yang support

Bapak Basuki (Wismilak) menyerahkan Piagam Penghargaan

DON JUAN, memainkan Beatles versi akustik

REA Band, lebih ke Pop Akustik dengan membawakan lagu Raisa

JIVANA, mengusung lagu ciptaan sendiri. Kalo disimak sih, gayanya mirip almarhum Chrisye. Lihat deh style vocalisnya.

Jammin' Desy (vocalis Rea Band) dan Hendy (additional gitar Jivana)

Dinda, si Anak bersuara merdu bawain lagunya Whitney Houston, merinding!

PING ME, band Pop yang fresh!

setiap dari kita pasti punya tujuan. saat pagi, pertama kali membuka mata, pasti telah tersusun sebaris catatan akan kemana kita? 
beberapa diantara kita juga ada yang mulai merasa jenuh, ketika melakukan rutinitas yang sama. mengulang hal yang sama, tanpa ada perubahan. ini membosankan.
salah satunya adalah saya, yang tak hanya ingin menjadi biasa, meski kita berjalan di aspal yang sama. namun, dengan muatan otak yang berbeda, kita bisa menjadi lain. 
satu diantaranya yaitu Madiun Jazzy Coustic Festival 2012. ide kreatif yang tak melulu perkara laba. disini, sebuah kemerdekaan idealis sebuah event organizer dipertaruhkan. Selamat Menikmati !

02 July 2012

GROWTH OF LOVE

Jika kamu sedang kasamaran dengan kekasihmu, itu hal yang wajar. Dan bila kamu melakukan apapun untuk kekasihmu, seperti membelikannya barang mahal, mengingatkannya untuk makan, menghiburnya ketika dia baru saja dipecat kerja, dan bahkan menidurinya atas nama cinta, itu juga hal yang lumrah.



Namun, ada satu hal sulit yang jarang bisa kamu lakukan. Sesuatu yang memaksamu untuk menyerah dan mengaku rela. Mengendurkan ikatan kuat yang telah lama kau siapkan untuk menuju kesempurnaan. Yaitu membiarkannya melakukan apa yang ingin dia lakukan.

Titipkan saja cintamu padanya, dan biarkan dia merawatnya. Percayalah, cinta akan tumbuh meski dengan cara yang tak sama.



CINTA BERLABEL AGAMA

Tiap manusia punya masalah yang berbeda. Bervariasi dengan keunikan masing-masing. Ini cerita teman saya dari Jogja. Namanya Herman. Dia sudah menikah, dan bercerai tahun 2008. Lalu masalahnya? 

"Aku pengen balik sama mantan istriku..."


Glek! Saya diam sejenak. Ngga tahu harus komentar apa...
"Gini lho, menurutku ya... mantan istri tuh beda sama mantan pacar..." balas saya di BBM.

Lantas, saya pun kembali bertanya, "Kalo boleh tau, kenapa kamu cerai?"
"Mantan istriku pindah Budha. Ortuku ngga setuju. Akhirnya kita cerai."
Singkat yaaa... Mereka dinikahkan oleh Agama, dan karena Agama pula mereka diceraikan. Konyol, batin saya. 

"Aku masih cinta sama si mantan istri. Ngga bisa lupa. Belum bisa cari gantinya dia selama 4 tahun ini."

Meski ngga bertatap muka langsung, dan tak duduk di bangku yang sama, saya sangat paham dengan isi kalimat BB Messenger-nya. Sedih.
"Lelaki sejati pasti bisa memutuskan sesuatu dan berani ambil resiko."

"Kalo aku sih pengennya nurut sama ortu yang pengen menantu Muslim. Tapi aku pengen menantunya itu mantan istriku yang Budha itu..."

"Sepertinya susah ya... untuk mendapatkan dua-duanya. Kamu harus milih salah satu, dan tanggung jawab dengan pilihanmu itu... atau paling tidak untuk saat ini, kamu mengalir aja dulu mengikuti kehendak alam."

Dan sebenarnya, tadi saya ingin bilang ini ke Herman, tapi ngga jadi, takut salah arti... 
"Jangan berharap seseorang akan berubah seperti maumu. Karena sebenarnya yang harus dirubah adalah caramu memaksakan kehendak."

Mungkin Anda punya solusi?