26 April 2016

Anggap Saja Saya Sendiri

Alasan apa yang membuat seorang anak dilatih mandiri, mulai dengan memakai baju sendiri, makan sendiri, kemudian menjelang remaja dibuatkan kamar sendiri supaya berani tidur sendri, belajar berkendara mulai dari naik sepeda lalu motor hingga menyetir mobil sendiri. Hanya satu alasan yang paling mendasar yaitu supaya tidak bergantung pada orang lain.
Saya masih ingat, waktu kecil dulu Bapak mengajari saya naik sepeda. Bapak meminjam sepeda tetangga, memaksa saya belajar naik sepeda. Sering jatuh hingga dengkul menjadi lecet dan tak cantik. Bapak mengajarkan supaya saya bisa melaju kencang tanpa bergantung padanya.
Terimakasih Bapak.
Lalu Ibu saya mengajari saya memasak sayur asem. Mulanya tak enak, tapi pada akhirnya saya bisa memasak sayur asem. Untuk apa Ibu mengajari saya memasak? Supaya saya bisa menjadi manusia yang berguna kelak, memasak makanan untuk saya sendiri, untuk dirinya, dan tentunya untuk suami saya.
Terimakasih Ibu.
Hari ini saya juga memikirkan tentang pelajaran apa yang harus saya kuasai. Yaitu memasang tabung gas. Selama ini suami saya yang memasangnya. Saya tak pernah ingin tahu urusan gas dan tabung, karena ngeri melihat berita di TV tentang tabung gas meledak juga tentang kebakaran akibat kebocoran kompor gas.
Kemarin, suami saya pergi pamitnya bekerja, hingga siang ini belum kembali. Sementara tabung gas saatnya diganti. Saya meminta tolong penjual tabung gas untuk memasangnya, namun tak berhasil. Hingga siang suami tak bisa dihubungi. Saya tak mau nekat menyentuh tabung gas. Saya masih takut dengan berita TV tentang tabung gas meledak juga tentang kebakaran akibat kebocoran kompor gas.
Maka saya biarkan tabung gas tak terpasang. Saya menghubungi teman menanyakan apakah dia bisa memasangkan tabung gas di rumah saya, katanya belum bisa hari ini karena masih bekerja. Sementara anak-anak saya minta telur goreng.
Baiklah, saya akan belajar cara memasang tabung gas. Sehingga saya tak lagi bergantung kepada orang lain.
Terimakasih pelajaran hari ini sangat berarti.
Jika begini, masihkah lelaki dan perempuan dibedakan? Patutkah lelaki menolak mencuci baju hanya karena dia lelaki? Think again :)

20 April 2016

Permata Hati

Tak banyak yang berubah dari saya. Masih suka kopi dan sesekali ingin menyendiri. Yang berubah adalah sekitar, yang selalu berputar seperti gasing dan saling bersaing. Mereka terus ingin dipacu pada landasan yang nyata dipandang mata. Ingin dianggap ada diantara manusia dalam fana.

Saya masih percaya bahwa sendiri lebih baik dari berdua. Mungkin bersama-sama akan menciptakan bahagia, tapi saya teramat takut untuk berdua. Ketika mata menatap mata, saling mengawasi, terus memandangi, ada yang dijerat dalam dekap. Itu menyiksa.

Dengan sendiri, ada banyak ruang bagi saya untuk menghidupkan nyawa-naywa yang tak diakui keberadaannya. Saya percaya, ada sekumpulan manusia kerdil yang terus membuntuti, ingin menjadi bagian hidup saya, ingin menemani disaat hari-hari terasa sepi. 

Mungkin dialah permata hati, tak terlihat namun meneduhkan. Selamat Hari Kartini, jangan takut sendiri.