27 July 2008

kopi: pertama bertemu


bicara soal kopi, wah pasti akan kelelahan menelusurinya. saya musti flashback sekitar 15 tahun yang lalu. pertama kali saya mengenal kopi. saat masih SD. tidak seperti kebanyakan orang tua, ibu saya adalah spesial. pagi hari, selalu ada secangkir kopi sebagai teman sarapan (baca: nasi pecel, selalu! karena ibu saya malas memasak). awalnya saya nggak suka. aneh! hitam, pekat, dan sedikit pahit. tapi karena hadir setiap pagi, akhirnya saya suka. ada beberapa hal yang saya temukan dibalik ini semua, meskipun ibu saya tidak pernah bilang, saat saya bertanya 'kenapa musti kopi? bukan milo coklat, teh 'Gopek', atau air putih saja, yang diberikan ke saya?'

kopi bukan sembarang minuman. yang dengan mudah kita teguk setiap saat, ketika kita haus, ketika pulang kerja, lalu kelelahan. kopi bukan teman untuk bersenang-senang. karena disetiap tegukannya, pasti meninggalkan rasa yang tak terlupakan, termasuk rasa pahit!

tentang sebuah impian


aku selalu berharap banyak. aku tidak hanya ingin mendapat sedikit. aku manusia. saat ini aku bekerja di media. hanya sebagai karyawan. aku berharap besok bisa menjadi programmer. aku berharap bisa dipercaya menjadi producer. aku ingin suatu saat menjadi reporter juga. kenapa? karena aku manusia. ingin menjajal setiap sisi kehidupan. tapi aku belum ingin menjadi pecundang!

16 July 2008

Tuhan


Aku bukan tipe seorang pengadu. Pertama kali aku mengadu, pada sebuah diary, saat aku kelas 2 SD. Aku bercerita panjang tentang kecurangan yang dilakukan kakakku, namun aku yang kena marah. Aku tidak suka ketidakadilan. Aku ingin membenci bapak, waktu itu. Tapi mengapa aku harus membenci dia? Aku bertanya-tanya sendiri. Menulis beberapa pertanyaan untuk Tuhan. Aku belum mengenal ibadah, waktu itu, tapi aku tahu satu hal, bahwa selain Ibu dan David (teman bermainku), ada Tuhan yang mencintaiku. Aku berfikir, bagaimana Tuhan tahu tentang rasa sedih yang aku rasakan? Aku berharap, setiap malam, pada saat aku terlelap, Tuhan datang dan membaca semua tulisan-tulisanku, dan menurunkan keajaiban dalam hatiku, agar aku tetap baik-baik saja, ketika semua menjadi tidak baik.

Aku berharap Tuhan tetap datang dengan segala keajaiban-Nya menemaniku saat ini. Amin

08 July 2008

--Tentang Hidup--


--hidup adalah bagaimana kita bisa berjalan sendiri di tengah malam, tanpa merasa ketakutan. hidup juga tentang cara agar bisa diterima teman-temanmu tanpa dipandang siapa orang tuamu. hidup adalah sebuah formula mengatur porsi nasi, garam, bawang, cabai, dan saus untuk menciptakan nasi goreng yang sempurna. tidak cacat, tidak gagal. itulah hidup--

Mundur


hari ini aku mundur...
selangkah, dua langkah, dan aku merasa kalah
permainan telah usai
semuanya menjadi terurai... cerai...

begitu panjang rasanya
aku pun tak tahu, apakah aku masih bisa
berada ditempatnya seperti dulu
ketika semua masih beku

hari ini aku kalah...
aku ingin katakan, aku patah hati
aku ingin bilang, aku terluka
tapi aku cinta dia...

aku siap mundur
dengan segala yang telah hancur
dengan hati yang sempurna retak
hingga aku tak tahu, apakah jantungku masih berdetak
sampai kutemukan lagi
cinta yang belum termiliki

tapi aku cinta dia
hingga habis jalanku kini
apakah aku bisa lupakan dia?
hapuskan cinta dihati?

ternyata...
hari ini aku benar-benar harus mundur
hapuskan cinta tak bermata namun berhati...
kisahku, berhenti disini!

Mati Cinta


Akulah gelap
Yang padamkan hidup
Yang musnahkan raga
Hancurkan semua rasa

Akulah badai
Yang satukan luka
Yang beraikan bahagia
Menjadi tak bernama

Akulah mati
Yang takkan hidup
Yang selalu binasa
Disanding cinta

Dia Bukan Jalang


Pagi pagi sekali aku bangun, sengaja ingin mencuri waktu melihat kerutan di mukanya yang pucat. Celak hitam menebali garis mata bawah hingga selebar setengah senti. Kulit muka pucat dan kasar, tak pernah mendapatkan sentuhan ahli kecantikan manapun, sejak dua bulan yang lalu. Padahal sebelumnya, dia adalah seorang model iklan 'facial wash' yang dielu-elukan punya kulit bersih dan segar. Itu dulu. Kini, wanita malang itu hanya bisa ongkang-ongkang di kasur lusuh. Bukan hanya seprainya yang nampak lusuh, baju-bajunya pun terlihat kusam. Dia adalah seorang pemalas. Malas oleh waktu, uang, arti bahagia, dan kenyataan.
Dia bukan seperti ini. Aku mengenalnya sejak kami masih sama-sama mencintai organisasi pramuka, masih suka dengan serial Lupus, lagu 'Kita' Sheila On Seven masih menjadi lagu wajib untuk dinyanyikan bersama saat ke kantin, kamar mandi, ataupun bolos sekolah dan lebih memilih main PS. Itu cerita sembilan tahun yang lalu, saat kami duduk di bangku SMP.
Dia mengambil nafas dalam, lalu terbatuk. Uhukk..uhukk...
"Kamu?"
"Habis jogging, bingung mau kemana. Mau ke pasar, nyari apa?" kusodorkan segelas air putih. Ditolaknya. Tangannya meraba-raba kasur, mencari sesuatu dibalik lipatan selimut.
"Ini?" tanyaku seketika menemukan apa yang dia cari. "Ambilin korek di saku celana." dia menunjuk pada balik daun pintu dengan jari yang tidak lagi lentik. Dark!
"Celana lusuh" batinku. Kepulan asap di jalan, tak beda menyedihkannya dengan asap disini.
"Sampai kapan akan begini?"
Dia tak menjawab. Hanya diam, lalu mengalihkan perhatian, "Wah kopinya habis. Nge-Teh aja ya?". Aku mengangguk. Sebenarnya, sudah dua bulan lalu aku berhenti minum kopi. Aku sudah katakan padanya, aku sakit maag. Sepertinya dia lupa.
"Oh iya, kamu kan sakit, aku buatin susu aja." Dia beranjak ke dapur. Dia adalah wanita baik. Dia bukan jalang. Dia tidak seperti yang dikatakan media. Meskipun dia pemabuk, pemakai narkoba, perokok, dan segala keburukan yang dia lakukan.
"Hidup itu dinikmati." ucapnya datar, muncul dari balik pintu dengan segelas milo cokelat. Bagaimana cara dia menikmati hidup? Sampai dengan mudahnya mengatakan itu padaku. Selayak memberikan pencerahan dalam hidup orang lain, dimana hidupnya lebih kelam.
"Kapan kita pergi?"
"Kurang tahu. Hidup sedang susah. Kalau ada tiket gratisan, kita bisa pergi pergi sesukanya."
Iya. Jalan begitu panjang. Gersang. Dan kita terkungkung dalam kesunyian malam. Dalam gemerlap beling bernanah. Maafkan aku. Jika saja kita tidak pernah berkenalan, dan berkawan. Jika saja kita tidak saling mengenal. Jika saja malam itu aku lebih memilih sendiri daripada berdua dengan lelakimu, dan tidak kubiarkan badai hati membunuh separuh hidupmu. Maafkan aku. Akulah jalang, bukan kau.

07 July 2008

Music News


Soundrenaline 2008 akan segera diadakan lagi, kali ini batam menjadi salah satu kota yang akan diserbu para musisi top, kenapa batam dipilih? karena untuk membidik para penggemar band indonesia yang ada di singapura dan malaysia.

Yudy Rizard yang menjabat sebagai Manager Humas PT HM Sampoerna mengatakan “Kita harap acara ini tidak hanya jago kandang, tapi bisa menjadi pesta musik Asia Tenggara dengan penonton dari Malaysia dan Singapura” Rabu (28/5) di Batam, kepulauan Riau.


Tema soundrenaline 2008 adalah Free Your Voice, digelar di beberapa kota antara lain : Medan (13/7/2008), Pekanbaru (20/7/2008), Batam (27/7/2008), Malang (3/8/2008), dan Yogyakarta (10/8/2008).

wah surabaya ga kebagian nih… mungkin dijadikan satu dengan kota malang yg relatif dekat dengan surabaya.

Jalan Jalan : Keliling Madiun (part 2)


Pada akhirnya, waktu yang ditunggu telah datang. Ini hari Rabu, hari ini saya libur.
06.12 wib :
Saya bangun, bergegas sholat subuh yang kesiangan (selalu begini, maaf)
Pura pura tidur, sambil menunggu teriakan 'Mbake kost... maem nopo mbothen mbak?' Bu Budi! Lalu aku balas dengan teriakan yang lebih keras 'Iya bukkkkkkk...' Kalau tidak begini, mana dengar dia? Namanya saja Bu Budi (singk. Budhek Sithik). Anak-anak yang menamainya, aku seorang pendatang, pengikut tradisi buruk.
09.00 wib :
Ingin mandi, berarti tidak tepat persis jam segini. Keramas. Pakai Conditioner. Listerine, bau rokok tidak akan hilang, bila hanya menggosok gigi dengan pasta.
Saya bingung, mau kemana? Seluruh pelosok Madiun sudah pernah aku datangi, hanya sekedar iseng, sampai benar-benar mencari sesuatu disana.
Ke pasar ah! Pasar Punthuk. Mencari Babe (barang bekas, red). Kalau dulu, saat SMP, saya paling sering kesana mencari buku sejarah. Sekarang, mau apa? Sepatu sneakers, majalah, kaset.
Saya lelah. Makan di emak, murah! Ke warnet, cek e-mail. Pulang, tidur siang. Nanti sore, renang bersama ponakan di HM. Malamnya, makan Ronde di Cokro. Ngopi bareng Dewik.
21.00 wib :
Saya harus sudah pulang. Have a nice day!

05 July 2008

Jalan Jalan : Keliling Madiun (part 1)


Hari libur telah tiba. Semua orang sudah menantikannya, untuk relax, untuk menghambur-hamburkan uang. Tapi ini memang sebanding dengan apa yang kita dapatkan pada saat liburan. Semoga! Hehehe. Sejak saya bekerja, saya jarang sekali menikmati hari libur, seperi Weekend (Sabtu & Minggu), tanggal merah, libur nasional, libur hari raya, etc. Saya hanya mengenal 1 hari libur, yaitu Hari Rabu. Kesibukan & tuntutan profesi Saya, membuat saya beda dengan orang pada umumnya. Inilah kehidupan yang menyebalkan, sekaligus menyenangkan. Bekerja di media. Apakah Anda seperti Saya? Ayo, berlibur singkat di kota sendiri.

04 July 2008

REVIEW : AKU KARTINI BERNYAWA SEMBILAN



Harga : Rp 35.000,-
Ukuran : 13.5 x 20 cm
Tebal : 164 halaman
Terbit : September 2007

Bayangkan jika Anda tertular AIDS, apa yang akan Anda ceritakan pada teman, pacar, suami, istri, atau ibu Anda? Anda tidak bisa begitu saja pulang dan berkata, 'Bu, saya ketularan AIDS!'. Lalu bagaimana Anda bersikap ketika orang tahu dan menjauh seakan-akan Anda membawa bom waktu yang siap meledak. Bagaimana rasanya ketika semua teman menolak berbagi makanan dan minuman dan bahkan enggan sekadar bersalaman. Mungkin menangis adalah respons pertama, namun apa selanjutnya ketika airmata sudah habis dan hidup terus berjalan? Para penulis ODHA (Orang dengan HIV/AIDS) dalam kumpulan cerpen Aku Kartini Bernyawa Sembilan ini memilih untuk berbagi perasaan-perasaan tadi dan menyebarkan kesadaran bahwa HIV/ AIDS adalah issue dunia yang sangat serius untuk ditangani.
Buku ini terdiri dari 11 cerpen dari 9 penulis ODHA yang diseleksi dari seluruh provinsi di Indonesia. Bekerja sama dengan UNAIDS, 6 sastrawan perempuan (Djenar, Dee, Ayu Utami, Cok Sawitri, Nukila Amal dan Oka Rusmini) kemudian mementori ODHA yang terseleksi untuk belajar menulis. Hasil pelatihan itu adalah kumpulan cerpen ini. Jangan harap Anda menemukan kisah ratapan yang melarat-larat, karena mereka tidak menulis seperti itu. Dari kisah-kisah mereka, pembaca dapat mengetahui bagaimana melihat dunia dari perspektif lain. Juga tentang memberi makna lebih pada kehidupan dan menjadikan setiap detik kehadiran di dunia berguna, untuk apa pun dan siapa pun juga.

***

Dalam waktu relatif singkat, mereka telah menjelma menjadi penulis-penulis potensial yang karyanya layak disuarakan. Bukan hanya karena tema sentral HIV/AIDS, tetapi juga karena kelenturan mereka berekspresi, ketajaman mereka memilih kata, dan kejelian mereka menyusun plot.
(Dewi Lestari)

...kerentanan mengajarkan tentang kekuatan, bagaimana kehilangan mengajarkan tentang apa-apa yang dipunya, dan belajar menerima dan hidup dengan diri sendiri. Daftarnya jauh lebih panjang. Semua hal di atas tersimpan dalam salah satu cerita pendek dalam antologi ini.
(Nukila Amal)

03 July 2008

Bagaimana Saya!


Saya gaptek. Teman saya bilang begitu tempo hari. Saya telmi. Sahabat saya sering mengatakannya. Saya pintar. Hanya Ibu saya yang percaya.

hari yang melelahkan


capek. kesal. pusing. penat. sibuk. tidak bisa istirahat. tidak bisa minum kopi. tidak tahu bagaimana rasanya.