30 December 2013

TOILET MINIMARKET

Bukan suatu yang mudah, seperti ketika kau melihat lawakan di televisi yang melahirkan tawa hingga pecah. Bahkan kau tak akan mempercayainya, ketika sepuluh menit berlalu, di sebuah toilet minimarket, dua orang yang tak saling kenal dipertemukan oleh waktu, saling memandang, dan sepakat untuk bersama menggunakan toilet minimarket.



Sejak perjalanan keluar dari hotel, Ray sudah tak bisa menahan emosi. Dia telah mengorbankan jam kerjanya, dan pula uangnya untuk menyewa sebuah hotel yang mewah, berharap mulut perempuannya bisa melumat penisnya hingga muncrat. Dan kedua tangan kekarnya yang terlatih dengan barbell setiap pagi, bisa meremas dada perempuannya, yang lebih sering dipamerkan dengan kaos-kaos transparan style korea.
“kamu kalo pakek baju jangan yang ngeliatin belahan gitu kenapa sih?”
“ini modis, kenapa? Cemburu? Perempuan diluar sana juga banyak yang pakek baju kayak gini…!”

Hampir dua jam, Ray menunggu perempuannya yang katanya hanya sebentar mau keluar, mencari udara segar, sebelum mereka bercinta hingga terkapar dalam rasa lapar. Karena tak sabar, handphone pun disambar.
“halo!! Lama banget sih, kamu kemana?”
“ini lagi jalan-jalan, liat baju di butik, di sampingnya studio foto deket hotel. Bentar kok, tinggal bayar. Kamu siap-siap deh.”

Dalam sebuah malam yang penuh penantian, tentang perasaan lelah dan pikiran jengah, Ray putuskan untuk mengenakan lagi setelan kemeja dan celananya. Tak ada yang dilumat, apalagi diremas, Ray pun berkemas. Diujung pintu kamar hotel, perempuannya melongo dengan kedua tangan penuh tas belanjaan.
“loh, sayang mau kemana?”
“pulang.”

Di sebuah perjalanan pulang malam itu, kira-kira jam sepuluh malam, Ray menghentikan mobilnya di sebuah minimarket, sementara perempuannya masih saja mengunyah permen karet.
“mau ngapain sayang?”
“mau onani.”
“serius?”
“otakmu kebanyakan shopping, jadinya bego kayak gini ya…”
“ya, maksudnya ituuu, kamu mau beli apa? Aku nitip rokok ya!”

Ray semakin muak dengan perempuannya yang sama sekali tak merespon kekesalannya. Perempuan yang hanya bisa ditelanjangi setiap tanggal muda, saat dompet masih penuh dengan lembaran duit gambar sukarno hatta. Ray menghampiri penjaga minimarket, mau numpang toilet.
“mbak, disini ada toiletnya ngga?”
“itu mas, masuk aja, samping gudang mas.”

Bahkan, Ray tak sempat pipis di hotel mewah yang dibayarnya dengan uang yang sudah menipis. Dia hanya masuk, melepas baju, lalu mengelus penis, dan malam itu berujung miris. Dua jam hanya untuk menanti perempuannya yang katanya hanya sebentar mau keluar, mencari udara segar.

Di toilet minimarket, Ray bertemu seorang wanita berbaju ungu, mukanya lugu, tapi bikin nafsu. Ray dan wanita itu, dua orang yang tak saling kenal dipertemukan oleh waktu, saling memandang, dan sepakat untuk bersama menggunakan toilet minimarket.

*

Setelah menunggu lama, akhirnya pesan pendek itu datang juga. Barisan kata yang dinanti, demi rupiah untuk makan selama sebulan ini, Wanda sudah melayani sejak Presiden RI masih Megawati. Hingga Presiden berganti beberapa kali, pekerjaannya masih sama, memanjakan peli.
“Wanda, untuk tamu yang satu ini, kamu harus nurut ya. Dia bayar mahal.”
“Halaaah… bayarnya emang mahal, tapi yang dikasih ke gue palingan ya cuman nopek!”

Meski bayaran selalu nopek, Wanda tetap saja tak berhenti jadi perek. Dan malam itu, Wanda hanya diminta telanjang, tubuhnya tak dipegang, apalagi digerayang, meski Wanda sudah tak sabar ingin mekangkang. Lalu, sesekali diminta berpose dan jepret sana, jepret sini.
“mas, ini gue cuman difoto? Enggak diapa-apain?”
“iya mbak.”
“tapi bayarannya ngga dipotong kan?”
“ya jelas enggak mbak.”

Sesekali fotografer itu mengarahkan Wanda untuk lebih santai, menikmati rasa seperti saat bercinta, dan memberikan aura orgasme, nikmat yang klimaks.
“susah mas, gue ngga bisa pura-pura orgasme, dipegang aja enggak!”
“coba dibayangin mbak, sampai keluar aura orgasme-nya, abis itu udah kok. Kurang dikit lagi.”

Jika harus telanjang lalu ngangkang hingga beberapa kalipun, Wanda sanggup. Tapi jika hanya membayangkannya, ini yang susah, tak mudah melahirkan gairah.
“gini deh mas. Elo telanjang sekarang, kita maen! Gimana?”
“maaf mbak. Saya ngga bisa.”

Wanda sudah tak sabar, jika harus menunggu pemotretan kelar. Dia nyerah, meraih bajunya dan berbenah, meninggalkan studio foto yang letaknya bersebelah dengan sebuah hotel mewah. Di sebuah perjalanan pulang malam itu, kira-kira jam sepuluh malam, Wanda menghentikan mobilnya di sebuah minimarket.
“mbak, ada toilet?”
“itu mbak, masuk aja, samping gudang mbak.”

Gara-gara menahan pipis, Wanda tak mampu menyelesaikan sesi pemotretan hingga habis. Meninggalkan fotografer konyol dengan umpatan perasaan dongkol. Dasar fotografer goblok!
Di toilet minimarket, Wanda bertemu seorang lelaki mengenakan setelan baju kerja, mukanya biasa, tapi nafsunya membara. Wanda dan lelaki itu, dua orang yang tak saling kenal dipertemukan oleh waktu, saling memandang, dan sepakat untuk bersama menggunakan toilet minimarket.

Wanda dan Ray, dua orang yang tak saling kenal, sama-sama dikecewakan oleh pasangan, sama-sama ingin pakai toilet minimarket, untuk masturbasi dan onani.

**

27 December 2013

MATA INDAHMU BIKIN AKU GEGABAH, SUNGGUH BERGAIRAH


Sore ini, tentang matahari yang sempurna berada di ujung kanan mata saya, serta angin yang tak menyertakan butiran air hujan.

Sore ini pula, lahirnya angan-anganku tentang aroma sejuk perkebunan teh mengayunkan lagu sendu yang disusul nyanyian riang para gadis pemetik pucuk daun teh.

Sore ini, bagaimana saya kembali menata hancurnya hati yang dileburkan oleh dentuman iringan music sting dari mp three. Barisan nadanya masuk dada, menyelinap menghipnotis saya, “lupakan dia nak!”

Dan, sore ini pula, Tuhan mengirimkan sekotak cokelat cinta, sedikit pait tapi ini legit. Dalam rasa penuh lapar, cokelat itu nikmat. Sungguh memikat.

Dan, sebenarnya, saya hanya ingin bilang, “mata indahmu bikin aku gegabah, sungguh bergairah.”


23 December 2013

ADA YANG PATAH HATI DI CODE

Tiba-tiba saja saya ingat seseorang. Seorang lelaki yang tak sengaja saya kenal gara-gara salah nelpon. Niatnya mau telpon Mike, teman SMA saya. Harusnya 5 digit angka nomor handphone nya itu 22334 tapi saya salah ingat, jadinya 12344. Lalu, terhubunglah saya pada seorang lelaki, bernama Bayu.

Bayu, yang waktu itu sedang bikin workshop film pendek, ketika saya telpon, langsung interest dan mengira saya adalah peserta workshop. "Maaf mas, saya bukan mau ikutan workshop, saya temennya Mike. Masnya ini pacarnya Mike?" Ketika saya menjelaskan maksud saya tersebut, lelaki diseberang sana malah ketawa terbahak-bahak. Mengira saya mengada-ada, berpura-pura ingin kenalan dengannya, istilah jaman sekarang "modus".
"Bukan, saya ngga ada modus apa-apa. Saya benar-benar ingin bicara sama Mike..."
Lelaki itu malah balik me"modus"in saya. 

Yasudahlah.

"Masnya ini ke-ge er-an. Buat apa saya modusin kamu!" Lalu, lelaki itu mengarahkan saya untuk buka sebuah website.

Beberapa saat kemudian, saya baru sadar, saya salah nomor. Esoknya saya iseng buka website yang dibilang lelaki salah sambung itu. Sebuah website tentang workshop film pendek, dan sebuah nama Bayu Bergas lengkap dengan bio nya dan alamat blog nya. Rasa iseng saya seketika berubah jadi penasaran, setelah melihat fotonya yang "cakep".
Iseng, penasaran, jadi suka. Saya suka tulisannya. Jatuh cinta sama kisah-kisah di blog itu. Tiap hari, saya rindu membaca dongeng romantika yang dia rangkai dalam tulisannya itu. Ini pula yang membuat saya mengenal blogspot, kemudian rajin menulis.

Jatuh cinta ini mendorong saya untuk ingin mengenal si penulis. Kami janjian untuk bertemu, ngopi di Code, Jogja. Dia perjalanan dari purwakarta naik kereta menuju Jogja. Saya dari Madiun, Tawangmangu, lalu Jogja, naik motor bersama Dewi, sahabat saya. Malam, sudah jam sembilan. Kami bertemu di tempat yang sudah disepakati. Seorang lelaki dan perempuan menghampiri, tersenyum, mengulurkan tangannya, menjabat tangan saya, "Kamu septi ya? Ini kenalin, pacarku. Kalo ini siapa? Temen kamu dari Madiun?" Senyumnya memang manis, semanis fotonya, semanis tulisannya, tapi tak semanis gandengan tangannya yang menggenggam erat tangan perempuan disampingnya itu. Basa basi malam itu benar-benar basi!!

"Sudaaah, cukup cintai tulisannya, jangan orangnya..." Pelukan Dewi malam itu mengantarkan saya pada perjalanan panjang menembus dinginnya perjalanan Jogja-Madiun.

15 December 2013

COKLAT MONGGO, TASTE OF CHOCOLATE

Setelah sehari menginap Villa di Kaliurang, kami melanjutkan perjalanan pulang. Jika berangkatnya melewati Tawangmangu-Karanganyar, untuk perjalanan pulangnya kami pilih jalur Gunung Kidul-Wonogiri. Karena sebenarnya tujuan kami adalah melakukan perjalanan untuk mengusir penat.

Melintas Prawirotaman, kami putuskan untuk mampir di Coklat Monggo. Ini pertama kalinya saya ke café dan chocolate shop tersebut. Kalau menilik dari tagline nya, sepertinya tempat ini memang satu-satunya toko coklat terlengkap. Namun soal rasa, itu selera ya!


Tapi... soal interior, Coklat Monggo memang keren. Masih didominasi warna coklat kayu dan sentuhan modern berbahan kaca dan unsur tradisional dituangkan dalam patung-patung seperti arca yang berukuran besar sedang dan kecil.

Kalau melihat dari letaknya, café and chocolate Monggo ini di daerah guest house yang banyak dihuni bule. Saya langsung menerka, pasti harganya mahal-mahal. Apalagi pas banget ketika saya mampir disana, banyak bule yang sedang ngopi.

Namun, begitu masuk dan melihat langsung produk coklatnya, saya agak ngga percaya. Karena harganya tak terlalu mahal juga, tak seperti dugaan saya. Ada yang harganya hanya 27 ribu, sebatang coklat yang dikemas cantik dan disimpan dalam bungkus kertas daur ulang berlabel Monggo.


Kalau ada kesempatan ke Jogja lagi, saya harus mampir untuk menikmati coffee mix hot chocolate. Hemm, pasti rasanya… yummy :)





HILANG DI KALIURANG

Perjalanan berangkat ke Kaliurang, mampir Nasi Liwet Solo
bersama Niko, Indra, Wisnu Kuncen, Warih, dan Nofac

Nah kalo yang ini, Yuni,
kelelahan setelah menempuh perjalanan jauh hahaha :D

Kemana pun pergi, tak pernah lupa bawa gitar.
He is musician, bro!

Suami dan anak saya

Villa yang kami sewa dilengkapi mainan
jungkat jungkit dan ayunan

Santai di Joglo sambil 'Take A Moment'

Suami saya


Di sebuah jalan menuju Kaliurang

Saya iseng saja motret ini, dan ngga proposional, payah!
soalnya motretnya dari dalam mobil dengan kecepatan sedang.

Benjamin (anak saya) dan Wen Wen (anak Yuni)

Wisnu Kuncen, Nofac, David JB, Benjamin, dan Wen Wen.
Istirahat sebentar di Bukit Bintang Gunung Kidul

MALAM HAMPA


Kuncup hidung saya sudah mulai membeku, ketika mobil sewaan yang kami tumpangi memasuki sebuah halaman yang dipenuhi tanaman perdu dengan kembang-kembang kecubung aneka warna : kuning, jambon, dan putih. Rumput dengan tinggi rata, yang senantiasa dijaga supaya tetap sama. Ada jungkat jungkit tepat di depan bangunan yang diterangi lampu kuning bening, disana kami akan beristirahat untuk malam ini hingga esok, sepakat terhadap pada hawa dingin lereng gunung merapi. 


Dinginnya semakin menjadi ketika saya keluar mobil, menyempatkan menghirup udara malam di pekarangan villa. Banyak pohon disana-sini. Dan jumper kuning yang saya kenakan tak cukup menghangatkan, saya putuskan untuk memasak air, entah kopi yang mana yang akan diseduh, karena disini tak ada segenggam pun kopi atau teh. 


Saya ambil sebatang rokok yang tadi saya beli di sebuah kantin saat berhenti isi bensin. Sambil berjalan keliling villa, saya jumpai di tengah areal villa-villa ini sebuah rumah joglo, gelap. Saya amati cukup lama, berusaha menangkap adakah sesuatu yang saya temukan disitu, tak ada. Isapan terakhir, dan saya belum bisa menemukan sinyal, hanya SOS yang terlihat dilayar. 

"Jadi, saya akan menghabiskan malam ini tanpa secangkir kopi" batin saya sembari memandangi cangkir kosong dan air panas yang baru saja mendidih.

07 December 2013

MAMA DAN SEPATU NEVADA

Saya sedang duduk di lantai, beralaskan karpet merah bercorak tokoh kartun kesukaan anak saya, dan bersandar pada kaki sofa cokelat beludru yang dibeli kredit setahun yang lalu. Dari sini saya memandangi keluar, mengintip dari pintu yang terbuka sedikit, terlihat hujan ricik ricik, dan sepatu pantofel produksi rumahan yang saya dapatkan dari pasar tradisional.

Sepatu pantofel ini harganya murah, hanya tiga puluh tujuh ribu rupiah, meski desainnya menyerupai sepatu keluaran nevada, tapi ini harganya tak serupa. Saya beli karena tak ada sepatu yang layak saya pakai untuk kerja kantoran. Dan kalau siang, apalagi cuaca sedang panas bikin keringat makin deras, kaki saya ikutan berkeringat, kalau sudah begini baunya juga menyengat.

"Sepatu bermerk mall itu ngga bikin kaki bau. Makanya kenapa saya lebih suka beli sepatu di mall daripada beli di pasar, toh selisihnya juga cuma dikit kok..." Duh, seketika hati saya jadi sumpek ketika dengar seorang teman bilang begitu.

'Ketika gajian nanti, saya harus beli sepatu merk mall biar pas keringetan, kaki ngga bau lagi' angan-angan saya sambil memandangi kalender. Masih jauh tanggal yang saya tunggu.

Namun, ketika tanggal satu tiba, angan-angan saya sudah tiada, meski di tangan saya terdapat sepasang sepatu nevada.

"Terimakasih mama, udah beliin sepatu baru" senyum anak saya membuat saya merasakan seperti memakai sepatu baru juga.

~Jangan pernah membenci mama mu, kau tak tahu apa saja yang telah dia relakan untukmu~

05 December 2013

CINTAKU TERHENTI DI KAMU


Jika besok tak ada lagi matahari dan senyumanku diawal pagi, percayalah kau akan menemukan matahari yang indahnya melebihi matahariku. Dan senyuman yang melesung lebih dalam dari lesung pipiku.

Kau akan menantikan hari itu datang disetiap petang, seperti biasa setelah hari gajian tiba, kita makan malam enak bersama anak-anak. Lalu, aku menidurkan mereka, dan kau dengan cepat melesat ke indomart.  Dibawah rembulan malam, kita menghabiskan sebotol beer berdua, dan kadang kau minta lebih. 

Lalu, tak jarang pada malam-malam berikutnya, diisaat anak-anak sudah terlelap, kutarik lenganmu yang dipenuhi bulu itu, kita kelayapan mengitari kota hanya sekedar mencari angin malam.

Pasti kau akan rindu, pada hari dimana kita duduk berdua dikursi beludru, diapit ayah dan ibu, disaksikan bapak penghulu. Kau nekat bilang 'saya terima nikahnya bla bla bla' hanya dengan modal seperangkat alat sholat, dan bulatnya tekad. Kita mulai mengisi kamar kosong dengan almari, televisi, dan beberapa perabot mini. 

Dan kita telah melalui hari-hari yang dulunya sepi, menjadi lebih berarti meski banyak cek cok disana sini. Kau tetap menjadi suami dan aku istri. 

Aku bisa berdiri disini ~ ratusan kilometer diatas daratan, menyembul meraih awan putih, disekap dinginnya hawa puncak gunung ~ setelah ribuan detik menyendiri, mencoba merindukanmu, dan aku tahu, dengan begini kita akan saling menanti, sudah lupa seburuk apa isi hati, karena cintaku terhenti dikamu, suamiku.


Baca ini jika aku tak kembali

03 December 2013

MENEMUKAN CHILL OUT DARI KEDAI KOPI SEMALAM

semalam saya dan suami mencoba kedai kopi baru. sebenarnya sudah lama ada, hanya baru sempat saja. ada kayu dimana-mana. dan beberapa foto musisi legendaris menempel di dinding cafe itu. 'Wedhangan dan Jajanan' begitu terpampang di daftar menu. 



yang bikin nyaman, karena musiknya! musik yang mengalun syahdu, mulai dari jazz hingga bossas. disambung musik jenis chill out. nah! yang ini saya tak paham. "ini nih ma, yang namanya musik jenis chill out... asik didenger ya, sambil nyruput kopi" suami saya mulai manggut-manggut ngikut alunan musik chill out. 

iya, enak ini musik. bikin adem.



lalu, keesokannya, di kantor, saya sempatkan untuk searching di google. apa sih chill out itu? bertemulah saya pada deretan lagu siap download koleksi dari Instrumental Buddha Bar. apa ini? dan saya semakin penasaran. complete. sudah selesai saya mendownload, saatnya menajamkan kuping.

iya, enak ini musik. bikin adem.

dari kedai kopi yang semalam saya kunjungi, saya menemukan cinta yang dikemas dalam musik bernama chill out oleh Instrumental Buddha Bar. saya mulai jatuh cinta...

01 December 2013

COFFEE NIGHT

Kita memang hanya butuh secangkir kopi dan tak peduli itu arabica atau toraja. Itu kopi kelas satu atau dua, jika kita ke kedai kopi tujuannya untuk ngobrol dengan teman.

Saya duduk di kursi tinggi seimbang dengan meja bartender sebuah kedai kopi. Duduk tepat di depan mbak berkulit porselen, abis dia putih kinclong.

Pesanan sudah datang, hot kopi original, tanpa ampas. Di belakang saya beberapa cowok sedang asik lihat screen yang menayangkan sepak bola.

Dan saya masih menunggu seorang teman yang menemani ngopi malam ini. Sambil mengamati interior kedai kopi yang kebanyakan diwarnai barang-barang antik.

Daftar menu ditulis pada sebuah papan, dengan kapur warna warni. Harganya pun standar, kisaran 3000 hingga 6000 yang paling mahal untuk drink nya. Food nya kisaran 11ribu yang paling mahal. Aman!

Satu per satu, teman ngopi datang. Malam ini kita muda! Nongkrong dengan teman, satu kesempatan yang tak bisa ditukar dengan apapun. Karena teman, yang mampu bikin kita bisa bertahan, bahkan hingga tengah malam. Haha.