13 December 2008

AKU



Seiring berjalannya waktu, aku semakin tahu seperti apa hidup itu. Jika beberapa orang beranggapan bahwa hidup manusia adalah sebuah takdir, itu bisa dibenarkan. Tapi, percaya atau tidak, kita bisa merubah hidup tersebut. Mungkin itu adalah bagian dari takdir, ketika kehidupan kita mengalami pasang surut. Atau, kita telah memenangi sebuah permainan takdir. Jika kita menjumpai seseorang yang hidupnya terpuruk dan tak punya harapan, sesungguhnya itu bukanlah bagian dari takdir. Melainkan semangat jiwa yang mulai surut. Karena sebenarnya, takdir tak pernah membawa kita pada kehancuran.
Dulu waktu masih kecil, aku berpikir bahwa hidupku sangat menyenangkan. Tak pernah sedikitpun aku berpikir bahwa suatu saat nanti, ketika sudah dewasa, aku akan memiliki tanggung jawab yang besar. Aku tak pernah pikirkan bahwa masa depan adalah sesuatu yang pasti kita jalani, dan aku berangkat dari masa lalu yang cukup membahagiakan.
Kemudian menginjak waktu sekolah dasar, kehidupan menjadi berubah. PR, aku tak pernah melewatkan. Dan yang menjadi bebanku pada waktu itu adalah, 'bagaimana caranya agar aku bisa mempertahankan posisi jawara kelas'. Ini sangat berat. Meski pada akhirnya, aku mampu melewati 6 tahun di bangku sekolah dasar dengan peringkat 1. Dan aku menilai, ini adalah kerja keras. Ada kaitan antara tanggung jawab, beban, dan kerja keras.
Selanjutnya, aku duduk di bangku sekolah lanjutan tingkat pertama. Aku punya banyak teman. Prestasi sekolah bukan lagi prioritas utama ketika aku di sekolah. Ada banyak hal yang musti mendapat perhatian. Misalnya, kegiatan palang merah remaja, yang memang aku pilih sebagai kegiatan ekstrakulikuler. Perhatian pada tren fashion. Aku juga menggemari hal yang satu ini sejak SLTP. Perhatian terhadap akun email, waktu itu yang nge-tren adalah www.lovemail.com. Terkadang aku meninggalkan beberapa jam pelajaran, lalu ngacir ke warnet depan sekolah, hanya untuk chatting dan cek email, serta browsing yang aneh-aneh, salah satunya situs porno! Duh ampun deh... www.extrajoss.com, ini dia yang membuat saya ketagihan... Hahahaha!!!! Dan satu lagi perhatian yang tak pernah terlepaskan dari pandangan, NAJIB! Adik kelasku yang hansom. Tak ada niat lebih, aku hanya mengaguminya. Tapi sekarang coba bayangkan, dengan seabrek perhatian tersebut, apakah mungkin aku menjadi juara kelas seperti waktu SD? Jawabannya : mustahil. Peringkat terbaikku selama 3 tahun di bangku SLTP hanya mentok pada posisi 4. Tak ada yang protes! Apalagi ibu dan bapak. Mereka terlalu pusing mikirin duit, daripada melirik nilai raport-ku. Alhamdulillah, ibu tak pernah tahu bagaimana jeleknya nilai bahasa inggrisku.
Kemudian aku masuk sekolah menengah atas. Suasana yang benar-benar berbeda. Aku menemukan diriku dalam sebuah pencarian jati diri. Dan disana aku temukan setengah jati diriku. Dan setelahnya, aku akan terus mencari yang setengahnya. Pada saat SMA, aku sudah tak lagi memikirkan peringkat kelas. Menambah teman. Itu yang menjadi prioritas utama. Dalam waktu 3 tahun, aku bisa mendapatkan beberapa teman dari berbagai macam kelompok. Teman teman dari klub teater, klub senam, klub computer, klub basket, tempat nongkrong, klub pecinta alam, pramuka, cinema club, klub mading, dan teman-teman nggak jelas lainnya.
ternyata, tanpa kusadari, hidupku begitu berwarna. terutama waktu SMA. ada beberapa hal yang masih aku ingat. semoga aku tidak salah untuk mengingatnya.
1. aku pernah membenci seorang teman bernama ANGGARA, karena gaya rambutnya yang culun. namun ternyata selama 3 tahun aku selalu satu kelas dengannya. sejak saat itu, aku menyadari bahwa salah besar jika menilai seseorang dari satu sisi, yaitu penampilannya saja. sesungguhnya, dia seorang yang baik. hingga sekarang kami berteman.
2. aku pernah janjian nge-date dengan INDRA, teman sekolah dari kelas yang berbeda, yaitu di lapangan upacara. gara-garanya, kami sama sekali belum tahu persis lokasi sekolah, dan hanya lapangan upacara yang sama-sama kita tahu. maklum aja, hari itu merupakan hari kedua pada masa orientasi siswa.
3. aku pernah merelakan seseorang kepada sahabatku. ceritanya, aku suka dengan seorang kakak kelas bernama _ i n _ (hehehe aku tidak pede!). tanpa aku tahu, ternyata sahabatku juga suka dengannya. sementara aku lebih akrab dengan _ i n _ , sedangkan sahabatku seorang yang pendiam. dia meminta aku untuk membantu acara pedekate. uh rasanya memang seperti beban yang terkirakan. aku tak berpikir bahwa rencana pedekate yang aku buat untuk sahabatku dan _ i n _ akan berjalan dengan lancar. namun ternyata, pada akhirnya mereka jadian. baik sahabatku, maupun _ i n _ selalu menganggap aku adalah orang yang paling berjasa atas hubungan mereka. padahal pada saat mereka jadian, akulah orang yang paling hancur. but, it's okay. aku semakin dewasa. kejadian ini semakin membuatku lebih bijak dalam melangkah. semakin siap menghadapi masa-masa hancur yang lain.
dan kita siap berjalan maju pada lorong waktu yang panjang dan banyak cobaan hidup.
lulus SMA, aku mencoba peruntungan dengan mengikuti tes PMDK ITB jurusan desain komunikasi visual. dengan bekal seadanya, seperti uang 300 ribu, ilmu yang mepet, dan seorang teman yang kusebut sebagai dewa penolong, karena bersedia memberi tumpangan tempat tinggal selama 2 minggu. terimakasih mas AJI. aku tahu apa yang dirasakannya. semacam dilema mungkin. karena dia tinggal di sebuah rumah kontrakan patungan dengan beberapa orang 3 orang temannya.
dinataranya adalah mas eko, mas galih, dan satu lagi aku lupa namanya...
namun aku berusaha akrab dengan semua, agar suasana bisa lebih cair. dan lagi-lagi aku belajar banyak dari semua itu. belajar bagaimana menghargai, tentang arti basa basi, pengertian terhadap orang lain bahkan yang belum kita kenal sekalipun. terimakasih untuk waktu yang telah memberi kesempatan padaku untuk mengetahui arti sebuah teman.
aku gagal tes. gagal masuk ITB. gagal untuk melanjutkan sekolah di bidang desain. aku mendapat ilmu lagi, bagaimana menghadapi kekalahan.
aku kembali ke madiun, melanjutkan sekolah di politeknik madiun. disinilah naik turun hidupku dimulai. beberapa hal yang aku ingat pada saat duduk di bangku kuliah :
1. aku bosan menjadi mahasiswa. mungkin karena kegagalan tes ITB, sehingga membuatku malas-malasan. karena sesungguhnya aku sama sekali tidak tertarik dengan jurusan akuntansi. dan hasilnya, 3 tahun kulewati dengan sesuatu yang tidak berarti.
2. aku gagal tugas akhir. Inilah hal yang paling menyedihkan. Bukan karena kegagalanku menempuh tugas akhir, tapi aku sedih karena ibuku bersdih mendengar kabar tersebut. Namun, aku juga ikut bersyukur, karena ibuku ikhlas dan tidak marah, hanya kecewa.

09 December 2008

UANG


Uang memang bisa membuat manusia lupa dengan arti bahagia. Uang juga membuat manusia serakah. Dan karena uang, kita menjadi budak pekerjaan. Kini saatnya kita tahu dan paham, bahwa uang tidak bisa menciptakan sebuah kebahagiaan. Uang tak mampu membuat kita kenyang. Uang bukan jawaban disaat kita sedih. Uang juga bukan alasan, mengapa kita berjalan sendiri dan tak mau bergandengan dengan yang lain. Kebahagiaan tercipta oleh diri kita sendiri, bukan dan tanpa uang sekalipun! Tak perlu kaya untuk bisa makan kenyang. Tak harus kaya untuk bisa tertawa hingga terbahak-bahak. Tak musti kaya jika hanya dengan sedikit uang kita bisa punya banyak teman. Mana yang kamu pilih? Kaya atau Bahagia?

SEBUAH TRADISI YANG TERENGGUT!


Tulisan ini saya buat pada 8 Desember 2008. Tadi pagi bersama kakak, aku sholat ied di Masjid Agung Baitul Hakim. Sepulangnya, aku bertemu dengan seorang lelaki agak tua naik sepeda motor-yang biasa disapa Pak Minto, tukang foto keliling. Aku masih ingat betul, dulu waktu kita masih kecil, paling suka difoto bareng. Tidak perlu menunggu acara khusus, aku dan kakak selalu sigap untuk difoto bareng. Mulai dari pamer baju baru, hingga mainan baru pun ikut ter-foto. Kami tidak pernah menyadarinya, bahwa kami telah menciptakan sebuah kenangan.
Namun, ada yang aneh dengan pak Minto. Dia kini tak lagi naik sepeda unta-nya. Melainkan sepeda motor yang tak ketahuan mereknya, karena sudah hilang stiker identitas motor itu. Nampak lebih modern, tapi tak unik lagi! Perkembangan jaman yang begitu pesat tidak hanya merenggut ke-asli-an muda mudi tanah air, tapi juga Pak Minto.

02 December 2008

TV = ANJING


aku bingung, harus menuliskan apa lagi. karena selama ini aku hanya mampu bermimpi, berangan, lalu bermimpi, dan berangan lagi.

apa sih yang terbaik dari hidup kita? tinggal di indonesia, tak ada bedanya dengan tersesat di neraka jahanam. wah, sepertinya aku kelewatan menyumpahi negeriku tercinta ini.

namun memang begitu kenyataannya. hari ini, pas banget hari liburku. aku bisa menghabiskan waktu berjam-jam di depan tv, menyaksikan kekejaman manusia lewat cerita pagi, cerita sore, insert, was was, go spot, silet, dan tayangan reality show (cap copy paste).

seperti tidak ada kerjaan saja... bikin concept acara yang ditonton jutaan umat, kok begitu? apa sih yang dicari? paling-paling cuma duit, duit, dan duit. tidak kah sekali saja mereka memikirkan feedback dari tayangan tersebut.

media elektronik = anjing penyebar virus rabies, unggas berpenyakit penyebar flu burung, atau mungkin seperti ludah penderita AIDS.