25 February 2013

AKU MENCINTAIMU


aku mencintaimu, untuk beberapa alasan. demi sebuah kata sepakat yang pernah terucap. dan kulakukan sepenuh hati, dikala puing-puing rasa mulai memudar. dimana cinta perlu digaris-bawahi. dan di stabilo supaya aku senantiasa ingat, siapa kita?

aku mencintaimu, dalam setiap suasana. saat hujan mulai menggenangi jiwa, dan kemarau membakar lautan asmara. aku yang kau anggap pengunci dalam hidupmu, memulai semua kisah dengan hati tertatih. menebar senyum dalam jala penjuru arah.

aku mencintaimu, bukan hanya hari ini. kemarin, dan nanti. lalu sampai kita menyerah pada alam, yang mengantarkanku pada kematian. ketiadaan yang bukan kau atau aku yang menyengaja. kita di atas meja pernikahan pernah berucap, bersama selamanya. menyusun bata untuk membangun rumah, dan menyiapkan perahu untuk menyapu samudera.

aku mencintaimu, dan tak perlu kau tanya lagi. meski kadang aku menjenuhkanmu, lalu aku mencoba untuk tak memahami, berlari saat kau mengejar untuk menanyakan kenapa aku tak peduli, dan aku menjadi bajingan dalam hidupmu. aku adalah sebuah kata 'gagal' yang kemudian coba kau hapus dan menggantinya dengan 'kamu bisa'.

aku mencintaimu, karena kau kembali mencintaiku.

24 February 2013

WAHAI PEREMPUAN YANG BELUM KUTAHUI NAMANYA



Kabut tebal mengantarku pada sebuah meja persegi dari bahan kayu jati, di sudut kedai kopi yang letaknya tak jauh dari kampus. Disanalah untuk pertama kalinya, kujumpai perempuan yang tak sebegitu ayu, tanpa riasan merah di pipi, tak ada goresan hitam pertanda garis mata yang biasa dilukis para perempuan supaya terlihat menawan. 

Kamu, perempuan yang teramat biasa, dengan kulit sawo matang, mata sedikit sipit, dan tonjolan tulang pipi. Kamu, duduk sendiri di kursi paling selatan, sementara aku sangat jauh di sisi utara. Baju yang kamu pakai, sudah tidak nge-tren lagi. Kaos dan Blazer coklat, itu model baju akhir tahun lalu. Namun celana yang menempel di kaki belalangmu, celana jeans yang tak pernah membosankan, seperti wajahmu.

Kamu, kemudian menoleh padaku yang sedari tadi terus memandangi, setengah tak percaya, aku masih menjumpai perempuan seperti kamu di kota ini. Wajahmu murung, tak sedikitpun kutemukan senyum. Andai saja kamu bisa sedikit menarik garis bibirmu, sehingga terbentuk senyuman, pasti tulang pipimu akan terlihat menonjol, dan semua lelaki di kedai kopi ini akan kompak melempar pandangan padamu, wahai perempuan yang belum kutahui namanya

Dan, masih aku menelusuri setiap bagian dari wajahmu yang mulai terlihat gundah, kamu mulai tak nyaman duduk disana, serba salah ditambah masalah yang sedari tadi menggantung membebani senyummu. Aku, telah membenamkan bola mataku pada kubangan dukamu.

Kamu, wahai perempuan yang belum kutahui namanya, beranjak pergi seperti ingin lekas menyudahi, mengakhiri tatapanku yang seakan merampas gerakmu, menghambat lakumu, dan mungkin telah menguncimu dalam sebuah ruang yang kuberi nama : penasaran. Siapa kamu, wahai perempuan yang belum kutahui namanya

20 February 2013

HATIKU

aku adalah sekumpulan rasa penyesalan
tempat bertemunya lembar lembar kesalahan
seperti lipatan lemak dalam perut
telah kuaduk luka dan cinta supaya larut

namun hati tak seperti lembaran kain sprei yang bisa kering, hanya dengan menjemurnya dalam sekali bentang. hati bukan soal tempat sampah yang bisa diisi kembali jika sampah yang lama telah dipungut petugas kebersihan. 

hatiku adalah lukisan batik yang tertuang pada kain goni. digambar menggunakan tinta peluh tetesan air mata. dipapar mengitari pelabuhan, tempat para nelayan berpulang. membungkus setiap hati yang tak bertuan.

aku lelah!



16 February 2013

NEVER ENDING MISSING (MY TRUST)

senja, mengembalikan semua rasa
sekuncup rindu yang tertinggal di masa lalu
segumpal pinta yang tak pernah terlaksana
lalu menguap dalam sendu tangisan bengap

tak pernah sebentar pun ku ingin melupakan
tak ingin sebentar pula ku mau ditinggalkan
sementara tangan saling menjabat
dalam bayangan sekelibat

kau lantas berlalu, 
terhempas dalam angan semu
kau lantas terhenti,
dalam perhentian hati yang tak pernah termiliki

02 February 2013

PRIGI, PELARIAN SELANJUTNYA
































Sejak hari itu, sebuah pesan singkat datang, mewakili surat penting dari atasan, tentang perintah berjenti bekerja, dan saya mulai merasa ini awal dari kehancuran. Lalu saya harus memerintahkan otak dan hati untuk saling meyakini, bahwa hidup ini bukan hanya sekedar bekerja dan mendapat uang. Hidup itu tentang perasaan bahagia, dalam setiap langkah.

Saya dalam kondisi setengah marah, setengah terluka, dan setengah takut, mencoba melarikan diri untuk menghapus rasa marah, rasa luka, dan rasa takut. Ingin mengadu pada lautan yang kasih sayangnya melebihi cinta ibuk. Menangis pada pelukan bukit tinggi di bibir pantai, yang hangatnya melampaui kehangatan suami. Dan saya butuh canda tawa dari tarian ombak, yang melambai seperti tangan peri.

Ini sebuah perjalanan yang menyita waktu, menguras tenaga, dan butuh niat yang kuat. Prigi, pantai indah yang berada di Trenggalek. Beberapa gambar di atas, yang mewakili perasaan saya saat itu. Tentang kesedihan, tentang pengharapan, dan keinginan untuk dihibur. Tak salah saya pergi kesana. Saya menemukan apa yang saya cari, kedamaian!