17 March 2014

Brown Night



Selalu ada tingkatan dalam kehidupan. Selayaknya warna cokelat, ada cokelat muda, setengah tua, dan sangat tua.

Pekatnya malam ini seperti batangan coklat yang baru saja dikeluarkan dari kulkas lantas dimasak dalam panci panas, dan meluber hingga lengket kemudian mengental. Dalam hembusan angin malam, coklat ini menjadi jawaban disetiap tanya tentang sejauh mana aku berjalan, sejauh mana aku mengejar bayang dirimu yang tak kunjung menjadi nyata. Tentang music blues penghantar tidurku, dan menjumpaimu lalu melepasmu lagi ketika pagi menyapa. Janis Joplin, menemaniku malam ini.

**
Dan sejak pertemuan itu, yang kutahu hanyalah namamu. Firman. Serta senyum paitmu, sepahit kopi yang tersaji tanpa gula, tanpa krim penyetara pahit yang sering diminta para pembeli, tapi kau tak pernah memberi. Dibutuhkan tujuh kali bertatap muka denganmu, dan memesan original coffee sugar less, baru kubisa menambahkan krim dalam kopi pesananku. Dan memang, dibutuhkan tujuh kali bertemu supaya aku benar-benar tahu bahwa kau hanya peduli pada biji kopi, bukan pada perempuan yang seliweran datang menghampirimu sekedar ingin tahu siapa kamu.

Tak mudah untuk bisa mengenalmu lebih dari sekedar teman ngopi. Ribuan kilometer memang wajib ditempuh untuk bisa tahu, kau ada disitu dan masih saja bersama biji-biji kopi itu. Tidaklah berlebihan jika kubaptiskan kau sebagai nabi suruhan para dewa yang datang untuk menyadarkan aku dari imajinasi kegilaan tentang lelaki. Dan, lagi-lagi kuhanya bisa menemukanmu dalam secangkir kopi pekat, mirip coklat yang biasa kubuat disela waktu yang tak tentu.

Aku mematung diri diujung aula berkayu, hanya untuk menunggumu. Menanti kapan kau bisa menjadi bagian dari malam sepiku. Datang sebagai lelaki yang dinanti, bukan sekedar imaji bahkan bukan pula dengan uang ratusan ribu untuk meniduriku. Dan bisakah aku menyebutmu lelaki pencuri perhatianku, lelaki yang tak pernah sebentar pun membalas senyum rayuanku. Lelaki yang tak bisa menangkap, dan tak mudah masuk perangkap.

Kewajaranku, rasa lelahku menyadarkan bahwa kau benar-benar nabi utusan para dewa yang tak mungkin bisa kugapai. Kau hanya ada dalam legenda para rasul, tak suka wanita, tak ingin mencinta. Sampai pada malam ini, aku lelah mengejar bayangmu. Aku pasrah dalam secangkir coklat pekat. Dalam tingkatan warna coklat manapun, kau tak pernah ada. Bukan coklat muda, coklat setengah tua, bahkan coklat tua. Kau tak pernah ada dalam sejarah hidupku secara nyata.

“Gimana kopinya?” kau menghampiriku, setelah tujuh kali pertemuan dan setelah tujuh kali aku mencoba menarikmu dari pusar hidupmu untuk terhanyut dalam rayuan maut, kau tak juga ikut surut. Semakin jauh dan kutemukan diriku yang terperangkap dalam duniamu. Menelan kopi pahit ini, setimpal dengan rasa ingin tahuku tentang seorang Firman.

“Masih pahit.” Kusruput dengan muka setengah kecut. Lalu, kau balas dengan senyuman seraya pergi meninggalkanku sendiri, lagi. Beginilah caramu menarik dan melepas. Kepahitan ini menjalar dalam setiap lekuk organku. Membuat kaki menjadi kaku. Kepalaku ikutan pilu. Setiap kali melihatmu yang hanya bisa kupandang, sebatas awan di langit yang terbentang, kau ada dalam bentuk nyata namun tak bisa kuraih.

Hasratku makin memuncak, kegilaanku menjadi nampak, padamu seorang Firman.

**
Masih bersama Janis Joplin, entah ini lagu keberapa. Mataku sudah tak sanggup mencerna dengan benar, barisan lagu winamp dalam layar monitor. Coklat panas yang lengket, menemani malam pekat berpadu dengan hawa pengap, kamar ini masih menjadi saksi. Dinding kamar ini, setia menjadi bagian dalam misi pemuasan hasratku tentangmu, Firman.

Ada sekitar ratusan lembar foto yang terpampang pada dinding. Tak satupun kutemukan senyum diujung bibirmu. Namun, wajahmu yang menyerupai nabi utusan para dewa, selalu bisa menenangkan malamku yang selalu gusar, dikejar cinta yang lapar, dan seringnya tergiring oleh arus besar dengan aroma yang hambar. Kau tak perlu tahu bahwa aku ada disetiap penjuru aula berkayu yang siap menghanyutkanmu dalam malam-malam yang tak wajar. Dalam rasa cinta yang teramat pekat kadarnya.

Aku tak ingin lelah mengejarmu, Firman.

**

Selepas Ashar dalam lampu temaram menuju aula berkayu, ingin menemuimu. Setelah hampir empat bulan aku menjadi bagian dari kota ini, kuharus segera meninggalkanmu, membungkus rapi kenanganmu termasuk didalamnya senyum mahalmu. Ini terakhir kalinya aku diam-diam menyimpan fotomu. Diam-diam menculikmu dan memasukkan dalam dunia imajinasiku. Dalam bayangan fantasi penutup malam pekat dalam secangkir coklat.

Jika selama ini tanpa kehadiranmu secara nyata aku sudah bisa sangat puas dalam setiap percintaan fantasi dan imajinasi, bagaimana bila kau benar-benar nyata, tidur seranjang, telanjang, dan mengejang. Bagaimana aku bisa menikmati setiap lapisan kulitmu yang halus, selalu terbungkus dalam malam imajinasiku yang rakus.

Aku mencintaimu, menyetubuhimu dalam imajinasi malam semu, Firman.

“Jam berapa ini, kamu udah sampai disini? Dari mana?” Sapamu menyambut kehadiranku yang satu-satunya tamu di ruangan aula berkayu. Kulirik jam tangan, empat kurang sepuluh menit. Sore ini lembab, setelah seharian kemarin hujan turun lebat. Pekarangan aula berkayu terlihat basah, dan kau sibuk menyekanya dengan lap pel. Kedua tangan kekarmu nampak semakin kuat meski terbungkus kaos dan aku tak bisa melihatnya dengan jelas, tapi mata nafsuku selalu tertuju pada bagian tubuhmu yang kau sembunyikan.

Sementara aku masih menelusuri lekuk tubuhmu, hembusan angin sore menyertakan aroma wangi tubuhmu ke arahku. Menyerbu indera penciumku, dan merangsang otak untuk segera bertindak. Kuhentikan langkahku. Kutunggu hingga aku benar-benar siap untuk menatap, lalu berucap, ‘kamu…’ apa ya, bukan, bukan begitu, yang benar begini ‘kamu sekarang itu…’ ah salah. Bagaimana sebaiknya aku memulai percakapan ini. Mungkin begini, ‘kamu itu udah punya pacar belum sih?’

“Tumben sendirian, mana perempuan yang biasanya nemenin itu?” tanyaku tanpa basi-basi. Aku lelah jika terus memanipulasi isi hati. Aku tak terburu, namun aku ingin segera tahu, tentang dirimu, Firman. Karena aku sangat ingin mengecupmu pelan, jika bisa kulakukan sore ini juga, sebelum kereta malam membawaku kembali ke rumahku, ke tempatku yang sebenarnya, setelah masa pengobatan selama empat bulan yang ternyata sangat menyiksa.

Kau hentikan langkahmu, untuk pertama kalinya kau hantarkan senyum, lalu menghampiriku, senyummu seraya berubah menjadi tawa, kau terbahak, dan sesekali ngakak. Aku pun ikut tertawa, menertawai diri sendiri yang sudah tak kuasa menahan rasa penasaran. Dibawah rindang pohon pekarangan aula berkayu, dengan lap pel di tangan kirimu, untuk pertama kalinya aku tersipu. Perlukah kulanjutkan tanya, ‘Jadi perempuan itu waitress? Bukan kekasihmu?’ Dan aku masih dalam ujung tanya dibalut senyum balasan untuk menyeimbangkan suasana, aku mencoba mengerti tentang siapa perempuan itu. Kutunggu kau bilang, bahwa benar perempuan itu bukan kekasihmu.

Dalam sekian detik aku menunggu kau utarakan tentang perempuan itu, berhembuslah angin sore yang tak lagi sepoi, derunya semakin menjadi, membikin lantai aula berkayu yang sejak jam empat kurang tadi sudah dibersihkan oleh pemiliknya, kini kembali lembab dengan beberapa partikel debu bercampur abu menempel pada lapisan kulit kayu. Tiupan angin dari arah utara, membawa serta berita tentang sebuah awal dari bencana, semacam malapetaka.

Warga sekitar mulai gusar, menanggapi datangnya angin berdebu dan semburan abu, terbang mengikut serta dalam sebuah angan yang tertangkap menjadi makna penting akan adanya suatu peristiwa.

Aula berkayu tak lagi bersih. Pintu-pintu yang tadinya sudah terbuka siap menerima tamu, kini kembali ditutup. Dari balik kaca jendela berukuran persegi panjang, dua kali setengah meter, kulihat angin semakin kencang membawa debu dan abu berterbangan. Kau datang membawa secangkir coklat, hangat. Aku tak percaya kau bisa menyajikan coklat yang nikmat.

Yang kutahu, kau seorang barista yang tak mau memberiku gula bahkan krim susu. Yang kutahu, kau tak pernah mau membalas senyumku, dan maka dari itu kuanggap kau rasul yang tak suka wanita, apalagi mencinta. Yang kutahu, kau hanya ada dalam dunia imajinasiku, bukan duduk bersila disamping kiriku, menikmati secangkir coklat yang sangat nikmat. Yang kutahu, kau tak pernah membersihkan aula berkayu ini sendiri, namun tadi kulihat kau bahkan mengepelnya dengan kedua tanganmu. Yang kutahu, kau tak pernah tahu betapa aku menginginkanmu menemaniku dalam tidur panjang di malam yang teramat menyiksa, malam pekat di sebuah rumah pesakitan.

**
Sore jam empat kurang, aku sudah niatkan mampir ke aula berkayu sebelum masa pengobatanku usai, sekedar berucap selamat tinggal, meski aku hanya sekali melihat wajahmu, itupun tanpa sengaja ketika kau datang sebagai sukarelawan, menyumbangkan buku dan baju layak pakai pada kami, pasien dengan gangguan kejiwaan. Sejak pesonamu menghinggapi duniaku, sejak itu pula seorang suster bernama Maria, selalu sedia menceritakan tentang dirimu. Kegilaanmu pada biji kopi. Aula berkayu yang selalu ramai dikunjungi para pecinta kopi. Dan tentang namamu, Firman.

Di setiap malam yang mulai terasa pengap, suster Maria datang dengan secangkir coklat dan selembar fotomu. Ditempelkannya pada dinding kamar supaya aku bisa menjadi tenang, tak lagi mengerang, dan lama-lama aku adalah pecandu dirimu, Firman. Aku menggilaimu dan virusmu telah menyebar ke seluruh organ tubuh, menyentuh isi hati hingga aku yang hampir mati bisa bangkit kembali.

Empat bulan sudah berlalu, kini aku dinyatakan sehat secara fisik, dan jiwa sudah siap menerima fakta. Seorang dokter spesialis yang selama ini merawatku, melalui secarik surat melepas kepulanganku, beberapa kali mengelus rambutku dan mendaratkan ciuman dikening. Katanya, selama merawatku, dia selalu teringat anaknya yang juga pernah menjadi pasien kejiwaan sepertiku, dan itu pula alasan kenapa dokter itu mengambil spesialis kejiwaan.

Yang kutahu, sore ini badai abu, dan aku yang biasanya terbaring sakit dikamar nomor  tujuh, di sebuah rumah sakit jiwa di Surakarta, sudah siap untuk pulang ke rumah, berkumpul bersama keluarga. Namun, aku tak jadi pulang sore ini. Hujan abu mengguyur seluruh Pulau Jawa, dan aku harus terdiam di kamar ini, sambil memandangi fotomu, Firman. Tapi kini, aku dalam kondisi tidak gila, tanpa imajinasi, dan ini bukan fantasi. Aku hanya tahu namamu adalah Firman, selebihnya hanyalah sebuah fiksi.

Selalu ada tingkatan dalam kehidupan. Selayaknya warna cokelat, ada cokelat muda, setengah tua, dan sangat tua. Ada orang gila, lalu sembuh, dan berharap mengenalmu secara nyata.


Pernikahan


"Pernikahan itu bukan harus, melainkan perlu. Perlunya ya bagi yang membutuhkan saja." dikutip dari buku Ayu Utami

TEH CELUP




Apa bedanya, malam ini dan malam-malam setelahnya. Mengapa kau tak juga menyadarinya. Untuk apa aku disini. Buat siapa aku menjalani rutinitas ini.

… dan aku sudah mirip seperti teh celup …

Jam lima pagi.

Aku terbangun dalam keadaan setengah sadar. Di sebuah kamar dengan bau pengar. Sinar lampu kamar berpadu dengan matahari yang memendar menyusup dari celah kelambu motif bunga jambu.

Kutemukan diriku masih sendiri, tanpa kau disini. Dan selalu saja begini. Namamu masih jelas kuingat. Dave.

**

Malu-malu aku mengulurkan tangan lantas kusebut namaku pelan, ‘Wanda’. Kau, adalah kakak kelasku semasa jaman SMA. Disela-sela jam istirahat, kau selalu sempatkan waktumu yang padat hanya untuk mengajakku ke kantin, makan bakso dan jus alpukat. Dan satu lagi kau tak pernah lupa, air mineral.

Selama dua tahun kita bersama, entah berteman atau pacaran, kau selalu menjadi bagian terindah yang harusnya menjadi milikku selamanya. Sebelum petaka itu datang, dan kau pergi, tak mungkin kembali. Tidak lagi. Tak ada Dave lagi. Tak ada lagi makan siang bersama. Tak ada lagi air mineral untukku.

Dalam senyapnya malam, di sebuah pelataran, dibawah sinar rembulan, dan tiupan angin pelan, kau sematkan kata-kata tentang kematian. Tentang akhir sebuah perjalanan. Dimana kehidupan tak akan menjadi abadi jika kita belum menjadi mati. Karena hidup dan mati adalah sebuah paket tanpa penawar jenis apapun meski kadang sakitnya minta ampun, jika itu benar-benar terjadi, seperti saat kau pergi. Dan tak kembali.
**

Jam lima lebih dua belas menit, masih pagi yang sama.

Aku bergegas bangun, karena dapur sudah menunggu. Perut-perut anak penghuni kost sudah mulai kelaparan. Dan sebentar lagi, teriakan Bu Lana pasti memanggil-manggil. Menanyakan tentang menu sarapan pagi ini. Jika kemarin sayur soup dan ayam krispi, lalu kemarin lusa oseng kangkung dan udang tepung, harusnya hari ini soto ayam kampung.

“Jangan lama-lama mikirnya. Apa sarapannya?” Bu Lana tak sabar menanti jawaban tentang menu sarapan pagi ini. Sementara tangannya sudah memaksa dompet terbuka menganga. Berjajar rapi uang lima puluh ribuan. Diambilnya dua lembar.

“Segitu cukup?”

“Cukup Bu.” Kusambut uang tersebut, sambil mengira-ngira apa saja yang harus kubelanja.

**

Ternyata memang tak mudah untuk melupakanmu. Selepas masa SMA, aku yang entah mau kemana. Kuliah enggak, kerja juga tidak. Sementara hidupmu sudah terencana, sebuah perguruan tinggi di Jerman memberimu beasiswa, kau adalah manusia ciptaan Tuhan yang teramat sempurna, dengan talenta yang sepersennya pun aku tak punya.

Kau terpilih dalam sepuluh besar mahasiswa Indonesia yang akan mengisi bangku khusus jurusan seni rupa di Goete Institut. Kau akan terbang kesana, menemukan teman-teman baru yang setara hebatnya dengan dirimu, yang sama luar biasanya dengan dirimu, dan mungkin beberapa perempuan cantik yang siap kau kencani.

“Jadi, kita akan berpisah?” dan aku tak mampu menampung luapan isi hatiku, kecemasanku akan kehilanganmu. Jika saja bisa, aku ingin mengatakannya sekarang, tentang perasaan yang tak bisa lagi kuingkari. Namun apakah bisa, untuk menjadi temanmu saja, aku sudah bahagia. Apalagi bisa mengisi kosongnya hatimu, menjadi satu lembar dari sekian rim kertas cintamu. Aku ingin itu.

“Kan kita bisa chatting.” Jawabmu datar, kutahu kau hanya anggap aku sebatas teman dikala waktu longgar, dan sesekali menjadi telinga yang siap mendengar. Aku hanya perempuan biasa yang tak bisa apa-apa. Hanya pecinta bakso, jus alpukat dan air mineral. Kau, adalah peracik perasaan indah dalam kadar waktu yang tak terbantah. Kau adalah yang aku inginkan.

**

Soto ayam kampung sudah matang, siap disantap oleh penghuni kost yang jumlahnya sekitar lima puluhan. Perempuan tua itu, Bu Lana tanpa aba-aba memanggilku, menanyai kabarku, bagaimana perasaanku, dan apakah aku masih setia menunggunya. Anak lelaki yang tak kunjung datang, walau sekedar berkirim gambar tentang rupanya sekarang bersama teman-temannya, dan potret kehidupannya di benua Eropa.

Dia, anak lelaki yang sudah lima tahun ini menghilang, tak kunjung datang, hingga sebuah petang mengantarkan Bu Lana pada sebuah penantian panjang. Akankah anak lelakinya pulang? Sementara kesehatannya sudah berangsur mundur, sakitnya tak lagi memberi toleransi. Untuk inilah, aku disini. Menemani Bu Lana yang hidup sendiri, menanti si anak lelakinya yang telah lama dinanti.

“Dave tak mengirimi kamu email lagi? Chatting terakhir kapan, Wanda?” Bu Lana membuka percakapan, ditengah-tengah perjamuan malam, diantara lima puluh perempuan penghuni rumah kost-nya. Dan aku hanya diam memaku diri, tak berani bilang, tak sanggup menjawab. Dalam sekian detik lamanya, kucoba menahan tarikan nafas, lalu pelan kuhembuskan. Seperti alunan lagu kesedihan, kucoba menjelaskan, tapi darimana aku memulainya, hingga perempuan tua ini benar-benar mengerti tentang sebuah realita, dan dia mau menerima ini adalah kodrat, seberat apapun itu, sekejam apapun malapetaka yang mengetuk pintu hatinya.

“Wanda…?” Bu Lana tak sabar menanti mulutku berucap, beberapa patah kata saja yang dia harap bisa menjelaskan ‘Dimana Dave berada?’ Dan aku tak bisa mengatakannya. Seketika aku menjadi arca, yang diam penuh makna, memiliki arti jika dipahami, jika dipelajari.
“Baiklah, jika kamu tak mau bilang dimana suamimu berada” Bu Lana bergegas berdiri, meninggalkan kami yang sedari tadi diam memaknai setiap ucapannya, kesedihannya yang melebihi sedihku sebagai istri.

**

“Aku pun mencintaimu Wanda. Sejak pertama aku menanyai siapa namamu, aku tak bisa berhenti membayangkan ketulusan jiwamu.” Ucap Dave dalam sebuah resepsi pernikahan kami, seminggu sebelum kepergiannya ke Jerman, mengejar cita-citanya sebagai pelukis internasional, dan selama ini dia tak kembali. Entah dimana dia berada.


… dan aku sudah mirip seperti teh celup, yang merekah merah, kemudian menjadi ampas, siap dibuang.

KOPI C U R H A T




KOPI  C U R H A T
Siang ini, secangkir kopi, segelas es kopi, dan snack lumpia ayam adalah cara mempertemukan dua hati sepasang sahabat yang lama tak saling curhat.
~ for Dewi ~

Aku memang ingin benar-benar mengirimkan kartu pos ini kepadamu. Biar saja dianggap cupu, aku selalu tak peduli dengan cara pikir orang jaman sekarang, menjunjung tinggi sebuah gengsi, bahkan mendewakan teknologi. Aku adalah salah satu manusia paling kuper, yang nyatanya bisa mendapat tempat di hatimu, orang yang super. Aku hanyalah seorang karyawan kantoran yang menanti datangnya tanggal sepuluh, lalu menghabiskannya dengan menyetorkan uang lembaran sukarno hatta itu kepada kasir kantor pembiayaan kredit kendaraan. Lantas sisanya, hanya bisa kuhabiskan dalam sebulan untuk makan dan ngopi di café biasa, sangat biasa. Bahkan untuk membayar setoran asuransi pun perlu suntikan dana dari orang tua.
**

Tujuh tahun yang lalu. Kau tertunduk malu, tak lama kemudian menangis pilu. Sedihmu menyeruak. Sudah tiga hari ini, kau hanya makan sekali dalam sehari. Tinggal sendiri di kamar kost, bukannya membuatmu bisa menikmati kebebasan, namun sebaliknya. Hidupmu perlu biaya, butuh uang untuk makan, membayar air isi ulang, berbelanja mie instan dan beberapa telur ayam, serta bayar sewa kost-an.

Gajian masih tanggal dua puluh lima, kau mulai gusar, karena besok adalah hari terakhir membayar sewa kost, sementara aku hanyalah mahasiswa yang nggak lulus-lulus, uang jajan masih minta mama. Untuk membayar sewa kost-mu, aku harus mengumpulkan uang jajan selama dua belas hari. Sementara yang kau butuhkan adalah dua belas jam kedepan, harus ada uang Dua Ratus Empat Puluh Ribu Rupiah.

“Mau tak mau, aku harus mengumpulkan barang-barang ini dan membawanya ke pasar loak.” Kau mengemasi isi almari, ada beberapa gaun ber-merk luar, celana jeans yang labelnya masih menempel, dan kemeja mahal itu, yang rencanya akan kau berikan ke pacarmu sebagai kado ulang tahunnya. Tapi kemeja itu, sedari dulu sudah kuincar, sudinya kau jual kepadaku, aku mau. Entah buat apa, barangkali nanti setelah lulus kuliah, aku bekerja sebagai karyawan kantoran, aku pasti nyaman pakai kemeja itu, apalagi itu milikmu. Aku akan merasa selalu bersamamu.

“Yang ini aku beli deh. Uangnya besok” kemeja mahal itu akhirnya berhasil aku selamatkan. Ini milikku. Ini kenanganku. Bersamamu. Tak lama, kulihat senyummu kembali merekah, hanya dalam hitungan menit aku bisa membuatmu hidup kembali dalam kondisi yang sangat limit. Seperti kata-kata yang pernah kusematkan dalam setiap mimpi sedihmu, tentang kesendirian, tentang kesepian, aku akans elalu ada dalam setiap tarikan nafas kepedihanmu. Dan aku tak pernah peduli kapan kau akan membalas semua perhatianku yang tercurah. Aku tak pernah memintanya, karena melihatmu bahagia itu sudah cukup membuatku lega, meski seringkali aku harus kecewa, ketika seorang lelaki berhasil memungutmu dan menidurimu bergantian di beberapa kasur yang tak pernah kau duga.

Kau hanya mampu menangkap hadirku adalah sebagai teman yang senantiasa setia menemani. Hanya teman. Cukup teman.
**
Kartu pos yang kusimpan hampir tujuh tahun yang lalu, kembali kupandangi. Hari ini, aku akan mengantarkan kartu pos ini kepadamu, secara langsung. Tanpa perantara atau kurir manapun. Kartu pos dengan bingkai warna emas. Polosan, dengan warna syahdu, ungu. Sudah kusematkan tiga kata diatasnya. Kubaca sekali lagi, pantaskah aku menyerahkan kartu pos ini kepadamu. Kupikir sekali lagi, dan aku sudah sangat siap untuk mengantarkannya pada hatimu yang mungkin masih mau menungguku.

Mas pelayan datang, membuyarkan lamunan. Sesuai pesanan, Es kopi dan lumpia ayam. Namun, kau belum juga datang. Aku sabar menunggumu. Kesabaranku sama halnya ketika mendengar curhatanmu, kepedihanmu pada saat tanggal sepuluh datang, saatnya menguras isi dompet untuk bayar sewa kost. Dan kegembiraanmu pada tanggal dua puluh lima. Kita berdua, pergi ke pantai, bercinta dengan pasir dan bir. Menggila dalam hidup yang semakin gila. Berusaha melupa jika kita akan menjadi tua, dan tak selamanya akan bisa tertawa. Aku melewatkan babak terbaik dalam hidupku, bersamamu. Memelukmu tepat pada saat kau diputuskan kekasihmu. 

Tanpa kusadari, nyatanya aku selalu memanjatkan doa kapan kau akan diputuskan kekasihmu, lalu menghampiriku, menangis dipundakku, dan kubalas dengan pelukan hangat hingga kau tak lagi merasa, ada orang jahat yang siap menghujat ketika kau tak lagi bermanfaat. Para lelaki yang bisanya hanya menidurimu, sementara kau hanya ingin diberi perhatian, sebatas perhatian. Itu ada padaku, bukan pada lelaki manapun, namun kau tal pernah pedulikan, selama tanganku terbuka dan aku siap menyambutmu dengan pelukan ketika kau mulai dilupakan.

Aku tak sabar menunggumu datang. Kusruput es kopi yang sudah setengah jam tadi kubiarkan es batunya mencair. Rasa pekatnya kopi mulai memendar. Rasanya menjadi sedikit hambar. Sesungguhnya, aku tak sabar ingin melihat wajahmu yang ayu, senyummu yang selalu menggoda setiap mata lelaki yang memandang, dan kemampuanmu berbahasa yang luar biasa. Kau seperti bidadari yang tak tampak oleh mata orang kebanyakan. Tapi, aku bisa merasakan kehadiranmu, wangimu, dan kepakan sayap bidadarimu yang tak mudah untuk kuenyahkan. Kau selalu hadir dalam setiap malamku selama tujuh tahun kita tak bertemu. Kau tak bisa sirna meski masa telah kadaluwarsa, serta angka sudah menjadi patokan usia kedewasaan.

Satu jam, aku sudah menunggumu. Kau belum juga datang. Apakah perlu kupesankan lebih dulu, secangkir Long Black kesukaanmu, supaya ketika kau datang, tak perlu lagi memesan, bahkan menunggu barista membuatkan kopi pesananmu. Tapi, aku tak boleh gegabah. Siapa tau kau sudah berubah. Tak lagi suka kopi, atau lebih suka cocktail. Memang sebaiknya aku menunggumu, dan kini satu jam telah berlalu.
**
Kita memang tak wajar. Bukan seperti kebanyakan para sahabat. Yang sangat dekat, namun sebatas curhat. Tapi kita, lebih dari itu. Aku adalah manusia jelmaan semaumu. Kadang menjadi adikmu, kakakmu, bisa pula menjadi ayahmu, bahkan kau pernah minta aku menjadi kekasihmu. Aku selalu datang meski kau tak mengharapkan. Aku selalu ada meski kau bersama lelaki yang berbeda-beda, namun aku tetap sama, duduk di tempat yang sama dan tak pernah berubah sedikit, apalagi ketika kau dalam keadaan sulit.

“Aku butuh seorang kekasih malam ini, aku butuh lelaki yang bisa mencintaiku” pintamu sore itu, disaat hujan mulai menderas, kulihat tak ada satupun kendaran di teras halaman kost-an. Kau menjadi satu-satunya penghuni di rumah kost-an ini. Kita duduk berdua di kursi rotan. Secangkir kopi instan dan beberapa puntung rokok. Dalam suasana yang tak disangka, kau memintaku menjadi kekasih. Mampukah aku menjadi seorang yang lebih? Lebih hebat dari mantan pacarmu, lebih kaya dari mantan pacarmu, bahkan lebih ganteng dari mantan pacarmu.

“Kamu layak menjadi kekasihku” kau berusaha meyakinkan meski tanpa kau bilang, aku sudah sangat siap mencintaimu. Karena setiap hari dalam hidupku, hanyalah untuk membuatmu bahagia, menjadikanmu sebagai tujuan dalam semua rangkaian perjalananku. Kau teramat indah, hingga pada saat kau minta aku menjadi kekasihmu, aku tak sanggup menjawabnya, aku masih berusaha menangkap apakah ini sebuah mimpi, ataukah aku sedang tak sadarkan diri. Aku semakin termangu, dalam suatu sore yang terbalut rasa haru, mendengar seorang perempuan ayu sepertimu memintaku menjadi kekasihmu. Kau adalah serpihan senja yang terbawa tiupan angin surga, menghanyutkan jiwa dan mengantarkanku pada rumah yang sudah lama ingin aku jamah.

Namun aku masih ragu, ketika kau bilang cinta. Karena selama kita berteman, dan beberapa kali kau berganti pasangan, kenapa baru kau ucapkan sekarang. Sementara perhatianku tak pernah berlayar jauh, hanya terus menungguimu disisi yang tak terlihat, dalam bayang yang kau lihat disaat kau kehilangan hasrat.
**
Seharusnya, tujuh tahun yang lalu aku sudi menerima cintamu. Menjadi kekasihmu, sehingga aku tak kesulitan menemukanmu, dan tak perlu mengadakan acara reuni sahabat seperti ini, yang ujung-ujungnya aku kembali menanti, kapan kau datang disini. Duduk disampingku. Sekedar say ‘halo’ lalu menanyakan ‘sekarang kerja dimana’ dan aku akan melanjutkan menanya ke babak utama, ‘siapa kekasihmu saat ini’ lantas kuberharap kau menjawab ‘aku masih sendiri’ dan aku tak menunggu lama, bilang ‘aku siap mendampingi hidupmu’.

Dan mengapa itu tak kulakukan sejak dulu, di suatu sore yang tak kuduga kau nyatakan cinta, yang hanya kubalas dengan senyuman. Aku terlalu muda untuk memenuhi inginmu, untuk menidurimu, untuk memuaskan keintimanmu. Ketakutanku jika aku tak sanggup membayari kopi mahalmu, tak bisa membelikanmu baju mahal, dan membiayaimu perawatan salon. Ketakutanku yang besarnya tak seberapa dibanding perhatian yang selama ini jumlahnya milyaran, semua kusediakan untukmu.

Memang seharusnya aku menyadari, yang kau butuhkan bukan hanya sebuah makan malam romantis, pembiayaan perawatan salon mahal, bahkan cinta satu malam. Kau ingin perhatian yang menjadi rutinitas, cinta tulus yang tersirat dalam kesediaan mendengar keluh kesah, dan semua yang pernah kulakukan sebagai sahabatmu, itulah yang kau mau.
**
Seseorang menepuk pundakku dari belakang. Baunya wangi, menghanyutkan indera-ku, menarikku kedalam kenangan tujuh tahun silam. Ini parfum yang sama dengan perempuan yang kukenal, yang pernah memintaku menjadi kekasih, dan hanya kubalas dengan senyum manis. Benar. Perempuan itu datang juga. Perempuan yang sama, yang bayangnya selalu ada dalam penantian tujuh tahunku. Perempuan yang selalu minta diperhatikan. Perempuan yang sering dikecewakan pasangannya. Perempuan yang pernah mengutarakan isi hatinya pada lelaki yang sedari tadi menantinya. Perempuan dengan senyum yang selalu menghipnotis setiap mata lelaki yang memandangnya. Bahasa tubuhnya yang teramat luar biasa. Kau masih sama. Masih cantik. Masih luar biasa. Namun, masihkan kau sendiri? Tak sabar ingin kutanya.

“Biel, kamu sendirian? Mana pacarmu?” sapamu seraya meletakkan tas di sofa sampingmu. Kau rapikan cara dudukmu, memperbaiki tatanan rambutmu, dan memanggil mas pelayan, memesan Long Black. Lalu, seperti sudah menjadi rutinitas, kau ambil sebatang, lalu kau bakar tembakau itu, sekali hisap lalu lepas. Kau kembali mengulang pertanyaan yang sama, ‘mana pacarmu?’ sementara aku masih termangu memandangimu yang semakin ayu. Semakin tak kupercaya kau ada disini bersamaku. Dalam sebuah siang yang sudah dirancang oleh Tuhan. Sebuah hari yang dipilihkan juru kalender supaya kita bisa kembali saling memandang, saling bilang ‘kangen’ dan rasa-rasa saling yang lain.

“Masih jomblo” jawabku santai yang sesegera disambut tawamu. Sumringah. Senyummu mengisyaratkan keprihatinanmu tentang kesendirianku, atau kebahagiaanmu mengetahui aku yang masih sendiri dan ingin menemukanmu kembali, karena memang tak pernah mampu kucari orang sepertimu, orang yang sangat ingin diperhatikan. Dan tahukah kau, perhatianku padamu kini jumlahnya bukan lagi milyaran, namun triliun. Semua kukumpulkan hanya untuk menyambutmu kembali dalam pelukan, dalam kisah duka bersama, dan tawa lepas yang dulu sering kita lakukan bersama.

“Dua puluh delapan tahun, dan kamu masih jomblo?” kau raih asbak lalu mengetakkan abu rokok. Meyakinkan bahwa aku benar-benar jomblo. Aku mulai cemas, sepertinya kamu sudah tak jomblo, atau kau sudah punya kekasih, dan mungkin saja kau sudah menikah, punya anak… anak… oh tidak! Aku tertinggal. Tertinggal oleh perasaan yang malu-malu untuk diutarakan, yang kuanggap tak pantas aku menjadi kekasihmu kala itu. Mahasiswa yang belum berpenghasilan, tak bisa memacari perempuan secantik dirimu. Meski sebenarnya yang kau butuhkan hanyalah perhatian dan kasih sayang. Dan aku gudang dari segala kasih sayang yang kau butuhkan selama ini.

Pesanan Long Black datang, wajahmu berubah sangat gembira. Dan sesekali kau bilang, ‘ini kopi favoritku. Dan aku sangat ingin menikmati kopi ini hanya berdua denganmu.’
Baru saja, aku dapat isyarat. Aku tak boleh terlambat. Kuambil kartu pos yang telah lama kusimpan, yang mampu menguraikan segala perasaan penasaran. Tentang rasa yang melebihi sebuah pertemanan. Mengenai tiga kata yang bisa menjabarkan rasa ingin saling memiliki, secara tekstual, bukan sekedar tindakan atau bahkan hanya perhatian. Karena hubungan kita memang harus diikrarkan, supaya kau tahu, cintaku bukan sekedar bau abab yang terbiasa diumbar.

Wajah ayumu berubah menjadi kaku, ketika kuserahkan lipatan kartu pos yang tersemat foto presiden Suharto. Kagetmu pasti bukan tentang kartu pos itu, namun tentang usia kartu pos-nya, dan kau pasti ingat dimana aku mendapatkan selembar kartu pos itu. Ketika kita tiba di sebuah mini market, membeli dua botol beer dalam perjalanan menuju tepian pantai, di malam itu. Tak ada uang kembalian, kasir memaksaku menerima puluhan butir permen karet, namun yang kupilih adalah kartu pos. Dan benar, kartu pos ini memang tentang kenangan, tentang kutipan malam yang tak bisa kulupakan, dimana aku yakin suatu saat akan memintamu menjadi bagian hidupku, entah kapan dan aku menjadi lelaki kesekian.
Kau buka lipatan kartu pos pemberianku, lalu senyummu merekah, mukamu memerah, ketika kau temukan tiga kalimat di dalamnya, ‘Aku mencintaimu, boleh?’

“Sangat boleh” Ucapmu lirih.

16 March 2014

YUNI




Sebuah Pagi

Tentang jemuran yang masih basah, tentang senyapnya perkotaan, dan sejuknya langit putih menyelimuti Gunung Merapi. Saya temukan Sebuah Pagi dari kamar kost teman, bernama Vete.


seperti ini suasana pagi di kamar kost teman saya vete @indiartanti 

Sebuah Pagi : Jam enam lebihnya tiga puluh dua menit.

Entah bagaimana aku mencerna, dalam setiap detik yang tak bisa termaknai, dalam sebuah pagi yang membangunkan badan lelah dengan nyawa setengah, di sebuah kamar sempit bersama dua manusia perempuan yang mukanya kusut kelelahan. Pelarian panjang telah dimulai. Sejak subuh sebelumnya, kami menerjang tebalnya kabut pagi hari di bawah lereng Gunung Lawu, dan disambut paginya Gunung Merapi.

“Kita mau kemana?” singkat kujawab pesan pendeknya. Setelah beberapa detik yang lalu, dia berusaha menawarkan pilihan untuk mengobati rasa lelah berkepanjangan. Yuni, teman perjalanan kali ini. Tanpa harus kujelaskan isi hati, dia tahu aku ingin pergi jauh, amat jauh. Dan tibalah kami di Yogyakarta, tepat pukul delapan lebih lima belas menit. Pelan, kuketuk pintu kayu sebuah rumah tak terawat, pekarangan yang teramat kotor, dan beberapa perkakas bekas tak terpakai ngangkrak dimuka rumah kontrakan itu.

“Masuk aja, ngga dikunci kok” seorang lelaki meneriaki dari dalam rumah. Pintu kami buka, dua ekor anjing kampung yang disayang pemiliknya, menyambut kami dengan galak. Namun, tak lama kemudian keduanya berubah jinak, mengendus-endus lalu tak sabar kami pun mengelus-elus monyong mulutnya yang ingin dimanja.

Sebuah rumah kontrakan berisi empat lelaki masing-masing berasal dari Ambon, Kalimantan Barat, dan yang dua asli Jawa, entah dari kota mana. David, pria Ambon yang kami jujuk pertama kali adalah teman lama suamiku, bersedia meminjamkan kamar mandinya untuk sekedar cuci muka hingga mandi dan keramas. Debu jalanan membuat kami harus mencuci rambut supaya rambut tak kusut.

mengamati Barista sedang meracik kopi,
sudah cukup untuk mengobati hati


Kami memutuskan untuk tak berlama-lama di rumah kontrakan David, entah kenapa, mungkin karena sungkan, dan tak lama kemudian kami pamit untuk meneruskan jalan. Setelah berhasil menghubungi seorang teman lainnya, bernama Vete, kamu bergegas untuk menentukan tempat ketemuan. Bertiga, kami memilih untuk bertemu di Klinik Kopi. Tiga perempuan penggila kopi.

Sore ini, tepat jam empat dan kami tak ingin terlambat, sudah memesan tempat di sebuha kedai kopi favorit. Sementara pemilik kedai kopi baru sampai di ujung anak tangga, belum apa-apa, aku sudah tak sabar ingin segera memesan, secangkir espresso dan berharap bisa menjadi obat atas segala kelelahan dalam perjalanan jauh ini. Perjalanan melelahkan tak hanya menyita tenaga, tapi tentang jiwa.

ini Ari @arsawibowo teman ngopi sore itu


Single shot espresso tersaji, jenis kopi Sindoro, yang katanya pemilik kedai, ini asli dari Temanggung Jawa Barat. Aku tak pernah salah dalam memilih kopi, meski ini kupilih secara acak, namun selalu pas dengan perasaanku yang selalu ingin berontak. Baiklah, sejauh ini aku pergi, hanya ingin tak mengingatnya. Hanya butuh perban yang bisa menutup luka. Kubutuh secangkir kopi untuk mengobati. Sakit ini.

Di kursi antrian, sambil mengamati pemilik kedai kopi menata mejanya, seorang lelaki sepantaranku duduk disamping. Sedari tadi kudiamkan, tak kuhiraukan. Sementara mata dan tanganku tak lepas dari kamera Nikon D60 pinjaman dari teman. Biji kopi ini tak hanya nikmat, tapi juga memikat, membuatku ingin menangkapnya dalam kemampuan fotografi ala kadarnya.

“Suka motret ya mbak” lelaki itu basa basi menyapa, dan hanya mampu kujawab ‘eh’.
Kami berkenalan, ‘Septi’.

“Ari” lelaki itu menyebutkan namanya, dan beberapa menit kemudian saya lupa, siapa namanya. ‘Eh, sorry, siapa tadi? Andy ya…’

“Ari mbak…” lelaki itu memperjelas, lalu mengenalkan dirinya, dan kutahu ternyata dia seorang dosen.

Tak butuh waktu lama, kami bisa mudah menerima seorang lelaki dalam obrolan kami berempat. Dibawah bulan bermuka pucat, diantara pohon-pohon jati, dibelakang sepasang kekasih yang sedang memadu kasih, aku, yuni, vete, dan ari mulai bercerita. Mengenalkan diri masing-masing, dan aku masih menjadi manusia asing dalam pertemuan malam itu.


Sebuah Pagi : Jam enam lebihnya tiga puluh satu menit


Kuambil kamera Nikon D60 pinjaman dari seorang teman. Ada sebuah pagi yang tak boleh disia-siakan. Ada sebuah kenangan yang tak mungkin bisa kulupakan. Tentang pertemuan dan perpisahan. Tentang dicintai dan berusaha ingin dimengerti. Tentang sebuah pagi yang ternyata lebih indah dari rupa lelaki manapun. 

15 March 2014

BUKU DI KAMAR ITU


Mengejutkan memang, ketika masuk dalam kamar teman saya. Bagaimana tidak? kamar kost seukuran empat kali empat meter, kurang lebih, hampir separonya berisi buku-buku. Jadi wajar jika akhirnya saya menanyakan, "Ini kamar atau perpus??"

Senyum-senyum malu teman saya menjawab, "Maaf ya mbak, kamar saya berantakan."
Namun yang saya rasakan justru sebaliknya : saya nyaman disini. Meski harus meniduri buku-buku ini, saya mau! Walau akhirnya, saya musti tidur dengan kaki ditekuk, menghadap tembok, saya senang melakukannya. 


Begini suasana kamar kost @indiartanti

Sebuah rak buku berukuran besar sudah memakan kamar kost nya yang mini. Itupun masih ada beberapa buku yang ditata rapi dijadikannya meja bagi laptopnya. Dan adalagi tumpukan buku di sudut kasur. 

Bukunya pun beragam, mulai dari fiksi, economic, hingga buku soal politik. Ah, ada-ada saja teman saya ini. Usianya baru 25 tahun, namun bacaannya luar biasa. "Buat apa baca buku beginian? bukannya kamu masih muda untuk mengenal soal politik?"

Dia hanya tersenyum, usia bukan patokan seseorang untuk mengkonsumsi jenis buku. Iya ya... benar juga!


12 March 2014

Love Me, Coffee

Jika hidup bisa sangat mudah untuk dijalani, saya akan mengabdikan semua raga hanya untuk memikirkan satu hal yaitu cinta. Sayang, hidup tak hanya soal cinta, tak hanya soal perasaan, apalagi soal mencintai. Inilah hal tersulit yang paling tak bisa dimengerti. Bagaimana kau bisa merasa benar-benar hidup ketika ada seorang yang bisa mencintaimu sepenuh hati tanpa bercabang.

Ini kopi instan yang dibuatkan seorang teman, @indiartanti
Ketika saya bermalam di kostnya. Thanks for a nice coffee today :*

Saya tak pernah percaya tentang cinta bahkan kisah romantis semacamnya, seperti yang diumbardalam telenovela. Saya hany percayai satu, Tuhan. Kekasih saya yangtak pernah lelah mengingatkan. Senantiasa mengawali hidup disetiap perjalanannya, bahkan disaat saya merasa tak lagi dicintai oleh siapapun.

Dan saya telah melewati ribuan kilometer hanya untuk menemukan jalanNya. Hingga saya kelelahan, kehabisan minum dan tak sanggup berjalan lagi. Ada Tuhan yang menyusup dalam secangkir kopi pekat, hitam dan nikmat. Saya terbuai oleh kekuatan hasratnya, keintiman jiwanya,dan kekuatan fisiknya.

Dia, secangkir yang bisa mengantarkan saya pada cinta. Mencintai tanpa harus menjadi setia, tanpa wajib mengabari dimana sekarang saya berada, meyakinkan bahwa saya baik-baik saja, dan tak ada kecemburuan yang berujung malapetaka.

Dan, saya hanya ingin mencintai secangkir kopi, bukan lelaki.

AKU SENDIRI SAJA

Malam ini kuingin sendiri. Di tepian rasa yang ingin dimengerti, dalam kejaran waktu yang tak ingin dinanti.

Kuingin matahari tenggelam dan tak terbit lagi. Kuingin berhenti disini. Sudah, aku tak ada guna lagi, bahkan menjadi seorang pribadi.

Aku butuh sepi. Dimana aku bisa mendengar isi hati, dari bisingnya kehidupan yang selalu ingin dilayani. Aku hanya ingin sendiri, di tepian rasa ingin dimengerti, dalam kejaran waktu yang tak ingin dinanti.

Please, aku ingin menjadi diri sendiri.