31 July 2009

KEMARAUKAH


sekarang saya bisa mengatakan, ini musim apa? "kemarau!"
saya yakin, ketika melintasi areal persawahan yang dibelah menjadi dua oleh jalan selebar 2 mobil pick-up berjajar.

dulu... dulu sekali, ketika saya masih SD, selalu menemani ibuk berjualan di pasar Barat Magetan. 30 menit terasa panas, sumpek. perjalanan menuju pasar yang nampak asri karena banyak pohon mengiringi ruas jalan, menjadi pengap oleh tumpukan dus jajanan.
saya benci menguntit ibuk, melangkah menyamainya, memikul kardus menirunya, tersenyum kepada pembeli tak ubah sepertinya. saya benci menjadi miskin. saya tak mau terus-terusan menumpang pick-up kreditan milik Om Cholil. saya tak mau, tak bisa bermain di hari Minggu, malah menjadi kuli toko rampasan milik Om Cholil.

itu cerita tiga belas tahun yang lalu.

saya sudah tidak merasakan panas, ketika melintasi areal persawahan yang dibelah menjadi dua oleh jalan selebar 2 mobil pick-up berjajar. saya sedang mengendara motor menuju Madiun. hari ini berjualan keliling di pasar Barat Magetan. menjajakan dus perdana yang menumpuk di tangan kiri, sementara kanan sibuk dengan brosur dan adegan menerangkan.
lelah, saya mampir ke toko ibuk yang masih sumpek dan pengap. minum es teh gratisan. lantas pulang. di perjalanan, saya bertemu banyak pohon mengiringi ruas jalan, membelah areal persawahan. pohon itu tak lagi hijau, daunnya meranggas, hanya terlihat ranting coklat muda semrawut. mungkin menjadi sulit, jika Anda meminta saya untuk menggambarkan bentuk ranting itu di atas lembar putih. detail kecil begitu banyak, membuat saya hanya mampu menyimpulkan, "kemarau!"

mata saya menentukan musim apa sekarang. bukan badan yang merasakan panas.

27 July 2009

BUDI, TERUSKAH BERMAIN BOLA?



baru saja saya melintas di Jalan Yos Sudarso Madiun. disana terpampang baliho besar yang ditancapkan oleh batangan besi berbentuk tabung. kalau diukur dengan perkiraan, mungkin satu pelukan kedua tangan saya. iklan, saya membatin, belum mengamatinya dengan jelas.
'Budi, teruslah bermain bola' kalimat ini ditulis menggunakan font... apa ya? huruf latin, saya tidak hafal nama font tersebut. putih di atas hitam. memesona! seketika, saya menjadi tersentuh. bukan pada dua logo di bawahnya : Manchester United maupun 3.
setelah kejadian lalu, Bom. semua orang panik. ada yang terpekik. marah, sang MU tak menginjak tanah Indonesia. ada yang mencibir kegagalan 3 (baca : three) sebagai sponsor. ada yang biasa saja, yaitu saya.
tapi kali ini, saya menjadi luar biasa dengan kalimat tersebut. Indonesia, tetaplah berjalan, meski langkah menjadi berat. kenapa baru sekarang saya peduli pada Indonesia? apakah gara-gara iklan? Oh Reklame, hipnotis terhebat menandingi Romi Rafael (maybe...).

SERVIS JOK MOTOR


Senin, 27 Juli 2009
hari ini saya menyempatkan untuk membetulkan jok motor saya. mengingat musim hujan sudah datang. terkadang air hujan merembes ke dalam jok yang sudah sobek-sobek, dan tersimpan dalam spon di dalamnya. akibatnya, ketika duduk di jok, celana bisa basah. malu juga kalau dibilang ngompol. saya akan berbagi proses servis jok motor. ternyata mudah!
1. Jok dilepaskan dari badan motor, cukup menggunakan kunci pas ukuran 12 cm.
2. Membuka kulit jok dengan pencatut.
3. Selanjutnya saya dipersilahkan memilih cover jok sesuai keinginan. ada banyak macam, jadi bingung milihnya. akhirnya, pilihan jatuh pada jok hitam dengan motif pink kotak-kotak. be-label HONDA.
4. Cover jok di pas dengan spon. dipotong sesuai pola. dijahit pada bagian depan jok yang berbentuk setengah lingkaran.
5. Cover jok yang sudah siap, dipasang pada spon dan di rekatkan menggunakan streples ukuran besar.
6. Jok yang sudah jadi, dipasang kembali. Mudah ya?

selain servis pemasangan cover jok, disana juga melayani penggantian spon. hampir sama, namun bedanya, kalau pemasangan spon menggunakan :
1. Lem khusus 'QBOND' Multi Purpose Contact Adhessive diproduksi oleh PT. LEMINDO ABADI JAYA. kalengnya berwarna kuning.
2. Kayu berpaku yang mirip parutan kelapa, digunakan untuk meratakan spon.

Biaya utnuk servis jok tidak mahal, hanya Rp 35.000,- sudah termasuk pemasangan. sedangkan biaya servis ganti spon dan jok, Rp 100.000,-. tak perlu menunggu lama, kira-kira 45 menit waktu yang cukup untuk menyempurnakan tampilan jok motor.

26 July 2009

SEBUAH CERITA DARI PEMENTASAN TEATER : NES


Maret 2009. saya mengikuti Pentas Monolog yang diselenggarakan oleh Teater Biru. entah dalam rangka apa, acara tersebut diadakan. dan pertanyaan mengherankan selanjutnya yang saya nanti dari hati : Kenapa saya ikut?

seorang teman kerja (di perusahaan yang dulu) bernama Tedy adalah panitia Pentas Monolog tersebut. dua alasan yang bisa mengampuni saya dari pertanyaan tersebut : saya pernah ber-teater ketika SMA, dan saya bosan dengan hidup standar.

lantas, saya menggandeng Niko sebagai penata musik. saya menangani penulisan naskah dan actress. director kami kerjakan bersama.

NES
pagi pukul 05.00 WIB.
dering ponsel itu berbunyi lagi, setiap pagi, jam lima pagi.
rambutnya coklat bercampur oranye, mirip lapisan besi yang tertimpa panas berkali-kali dan dihujani berulang kali pula. rumah sempit tak berkamar, tak ada dapur. hanya kasur, meja, asbak, dan sisa puntung rokok semalam. tak ada bir, hanya kopi yang sudah duduk pruk di meja sejak kemarin-kemarin. rasanya? tak tahu-lah. pahit yang semakin menjepit kerongkongan. pahit ini yang mampu menghadang seribu pasukan lapar.

Nes, perempuan yang selalu mengumbar kata benci kepada ibunya. bangun oleh dering ponsel yang katanya, 'jembatan menuju rumah ibu'.
"Haaahhh... ibuku lagi." dipandanginya layar ponsel. dijawab seperlunya, lalu kembali di kursi malas. Nes diam, menyiapkan kata-kata terbaik untuk mencaci ibunya.
"Ibuku selalu memaksa aku untuk bekerja. selalu begitu!", sementara tangan kirinya menyiapkan batang putih yang diyakininya mampu mengusir stres, meski nikotin terus menghuni ruang dalam tubuhnya. Nes menemukan korek dalam saku celananya.
isapan rokok menjadi jeda menuju pembelaan, "... padahal aku sudah berusaha. nih lihat, buku Harry Potter ini merupakan wujud dari usahaku." seraya menodongkan buku legendaris dari J.K. Rowling, entah seri berapa, nampaknya itu tidak penting.
"Aku sudah bilang berkali-kali pada ibuku, AKU TUH PENULIS. KERJAANNYA YA NULIS! bukan cari kerja... ya nggak?" Nes kembali mencaci ibunya.
"Tapi dia nggak mau ngerti." isapan demi isapan seakan membuka jalan baginya untuk mengutuk seseorang bernama ibu. lanjutnya, dia pernah bermain kelamin dengan seorang pria botak dengan perut buncit melebihi ukuran ibu hamil. semua itu, Nes lakukan untuk mendapatkan uang.
"Uang itu..." kali ini isakan tangis yang mengalir, bukan isapan mild. "Uang itu... untuk menebus obat. Ibuku sakit." air mata mengalir. saluran sudah dibuat, jadi mudah sekali alirannya.

hening.

"Menjadi pelacur pun tak menyelamatkan perempuan tua itu! maksudku... ibuku." Nes meraih ponsel di meja. "Hanya ini yang membuatku dekat dengan ibu. tapi, sedekat apapun dengannya... tak membuatku takut. dia tak kan mampu menembus ruangku. aku sekarang bebas tanpa paksaan untuk kerja. AKU KAN PENULIS. KERJAANNYA YA NULIS!"
Nes kembali berbaring. namun sebelumnya, dia telah memasang alarm dari ponselnya, untuk pukul lima besok pagi. mari kita tunggu ponsel itu berdering, Nes terbangun, mencaci, mengutuki ibunya, dan kehilangan lagi.

pagi pukul 05.05 WIB.


MAKE A WISH


besok adalah hari ulang tahun blog ini : Ruang Jiwa. tahun kemarin, tepatnya 27 Juli 2009 adalah sebuah langkah kecil idealisme saya. menulis tanpa batas. mencaci dan memuji, menyatu dalam beberapa tulisan. teriakan, senyuman, bahkan emosi meluap telah (hampir semua) saya muntahkan disini. seperti sampah yang ternyata bisa di daur ulang. menjadi koreksi bagi saya, refleksi untuk Anda. dan bahan obrolan serta makian dari beberapa yang lain.

hmmm (dehem dalam hati, bisa?) hahaha. saya kok jadi ingin yang lain, setelah setahun begini. dari dulu, sejak saya mengenal macam-macam pekerjaan, saya sudah jatuh cinta dengan pekerjaan arsitek atau penata ruang atau director, secara universal. mulai dari menata isi rumah, model kuciran ponakan saya, isi tas ransel yang selalu saya bawa kemana-mana, dan banyak hal lain yang ingin saya atur. menata.

saya juga cinta jurnalistik, meski saya termasuk pemalas, namun bekerja dengan penuh tantangan, inilah idaman ruang jiwa saya. dengan menggabungkan keduanya, terpikir untuk menata isi blog ini. menjadi semacam jurnal. dimana pembaca bisa mendapatkan yang lebih berarti ketimbang curhatan saya yang terkadang menambah beban pikiran Anda. maaf.

semoga keinginan ini terwujud. malam nanti, pukul 24.00 WIB, mungkin doa ini yang akan saya serukan. thanks GOD, telah menemani saya di jalan sesat. i'm sorry GOD, telah melupakanmu ketika jalan menjadi lapang. please GOD, tetaplah sabar menjadi Tuhan saya.

24 July 2009

CERITA TEPO PECEL




siang panjang di perjalanan. ngantuk, sudah pasti. kopi, menjadi pelabuhan mata ini. jalur Magetan madiun, saya melintasi Jalan Raya Sugihwaras. ada warung yang tak bernama, tapi kok saya tertarik? melihat di plang warung sedia : tepo pecel, es dawet, kopi, teh. mampir. saya pesan tepo pecel dan kopi. awalnya ingin mencoba es dawet, tapi setelah mengingat santan mengental di atas tungku dan gula merah menghambur ditambah janggelan hitam. belum ingin untuk siang ini. maka, kopi jadi pilihan amat tepat!
ada dua perempuan tua, juga duduk disana. hanya mampir. kalau saya benar-benar mampir untuk makan. setelah ngobrol : saking pundhi mbak? griyane pundhi? nyambut dateng pundhi? ber-pundhi pundhi mengalir. akhirnya sepiring tepo pecel dan kopi mendarat di depan saya.
seketika saya berlagak selayaknya Pak Bondan yang identik dengan Wisata Kuliner. berkomentar tentang makanan yang jauh berbeda. tak seperti imajinasi saya : tepo pecel, terdiri dari tepo dan pecel. tapi tepo pecel yang satu ini, ada tepo, pecel, dan sayur lodeh pendamping ketupat. wow! apa rasanya? aneh. tapi karena saya lapar, rasanya menjadi sangat enak. kondisi berpengaruh terhadap rasa.

23 July 2009

LA FRISKA


sejak 13 Juli 2009 lalu, keponakan saya : La Friska sudah tidak TK lagi. dia sekarang kelas 1 B SDN Endrakila Madiun. La Friska, bukan anak yang doyan jajan, jadi tak ada masalah ketika uang sakunya hanya 1.000 rupiah. bisa Anda bayangkan, jajanan sekarag ini berapa? tak ada yang dibawah 500 rupiah. awalnya saya, ibuk, dan kakak saya (mama La Friska) sedikit kasihan dengan memberinya hanya 1.000 rupiah. tapi kami sepakat bilang, "uji coba". jadi artinya, jika nanti La Friska protes dan minta uang jajan tambahan, pasti akan diberi.
sore hari, ketika saya pulang kerja. saya menemukan lembaran semacam karcis berwarna hijau. setelah saya amati, ternyata karcis iuran PMI ber-label 500 rupiah. lalu segera saya mencari La Friska. dan benar saja, para siswa diharuskan membayar 500 rupiah untuk sumbangan PMI tersebut. "Kamu bayar pake apa Ka?" tanya saya.
"Sama uang, tante." jawabnya polos.
"Trus kamu jajan apa?"
"Belum beli jajan. uangnya tinggal 500, nggak cukup buat beli jajan." ucapnya sambil menyodorkan uang 500.
saya hanya terdiam. saya harus belajar banyak dari La Friska. Hemat!

DIALOG PUTIH



pagi di rumah saya.
bangun. sholat. sarapan sambil nonton spongebob. cuci piring. masak (kadang-kadang). memberi makan putih (kucing saya). ngopi sambil menunggu jam 7 tet, saya mandi.

pagi tadi di rumah saya.
bangun. sholat. sarapan sambil nonton spongebob. memberi makan putih (kucing saya). ngopi sambil menunggu jam 7 tet, saya mandi. ngobrol dengan putih.
saya : "kalau kamu jadi manusia, kamu pasti kerja pus. kira-kira kamu mau kerja apa??"
putih : "miaw" lalu mengipaskan ekornya tepat di muka saya. mungkin kalau diterjemahkan, dia bilang "banyak omong!"

saya : "pus, kamu nggak pernah mandi, tapi kok bulu kamu halus... lembut..." (sambil mengelus-elus bulu putihnya)
putih : "miaww" kali ini dia mengendus-endus di tangan saya. artinya, kalau tidak salah, "kamu juga punya kulit halus, kok masih iri. nrimo dong!"

saya : "enak ya pus jadi kucing... kalau lapar, tinggal meong."
putih : langsung nyelonong pergi, tak menghiraukan saya. ternyata kucing juga punya perasaan (mungkin).

terima kasih putih! kamu memberi arti beda buat saya. hmmm, saatnya mensyukuri apa yang telah diberikan oleh Tuhan.



PICTURE LIST OF HEART







sejak kecil saya suka menggambar. mulai menggambarkan situasi (bercerita), menggambarkan perasaan (curhat), menggambarkan fiksi (dongeng), dan menggambar yang sebenarnya, diatas kertas dengan spidol. saya senang menggunakan spidol, ketimbang crayon atau pensil warna. crayon bikin tangan kotor. sementara pensil warna, membutuhkan tenaga untuk menciptakan gelap terang dari satu warna. semua memiliki kelebihan dan kekurangan. saya pilih spidol, karena praktis dan ekspresi saya bisa muncul melalui-nya.
pacar saya juga jago menggambar. namun dia lebih senior ketimbang saya. melukis di atas kanvas, menuangkan isi hati yang telah dikawinkan dengan perasan logika yang menyatu dalam goresan kuas. hmmm, dia pintar!
ini beberapa lukisan yang berhasil saya foto. dan salah satunya adalah lukisan sisca, mantan pacarnya. i like that! makanya saya sertakan di list picture saya ini.
dari atas ke bawah :
1. Lukisan Kopi (Septi Sutrisna)
2. Lukisan Ngawur (Sisca)
3. Lukisan Matamu Suek (Nofak Mylia)
4. Lukisan Human Begin (Nofak Mylia)
5. Lukisan Gigi (Nofak Mylia)
6. Lukisan Abstrak (Nofak Mylia)

22 July 2009

PROTES KARENA PROSES


jika ada yang bertanya, "Penting mana, antara proses dan hasil?" kira-kira apa jawaban Anda? oke sambil berfikir, saya cerita dulu deh...

beberapa waktu lalu, saya lupa kapan, pagi-pagi sekali saya bangun. berniat membantu ibuk masak. menu yang dipilih adalah Lodeh Terong. saya mendapat tugas memotong terong. bentuk yang diinginkan ibuk adalah setengah lingkarang dengan ketebalan 2 sentimeter. ada 2 terong yang harus saya potong. belum selesai saya memotong terong, tiba-tiba ibuk protes, "Kok motongnya begitu?? harusnya dibagi dua bagian dulu, baru diiris 2 senti." sementara saya, diiris dua senti dulu, baru dibelah. bukankah hasilnya sama?

12 July 2009

ADA APA DENGAN IKLAN ROKOK


kemarin pagi, jam setengah delapan. saya memutuskan berhenti dari aktivitas 'terburu-buru berangkat kerja'. ada yang memikat saya. panorama pagi. selalu acara debat publik ini yang memesona saya.
sabtu kemarin membahas tentang iklan rokok. sebuah statement dinyatakan oleh pembawa acara bahwa "Iklan rokok semakin gencar dan menjerat anak muda melalui dukungan acara kompetisi musik dan olahraga, bla... bla..."
lantas jeda lagu dan iklan, seorang area sales rokok Djarum dari Malang bergabung, Pak Agus. seakan memberi pembelaan bahwa iklan rokok selalu dijadikan kambing hitam. padahal iklan make-up yang bisa menyebabkan kanker (secara tidak langsung) juga berkeliaran dimana-mana. minuman energi yang ber-efek pada ginjal, dibiarkan tak dikomentari seperti rokok! hmm... memanas ceritanya. saya pun semakin larut. duduk di kasur, mendengar seksama. pembawa acara kembali pada posisi nol. netral. bukan pro rokok, maupun pemerintah.
perdebatan dilanjutkan dengan menghadirkan seorang ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), saya lupa namanya. sudah bisa ditebak, YLKI dengan tagline : Melindungi Konsumen, Menjaga Martabat Konsumen, Membantu Pemerintah, akan menyatakan bahwa : rokok tetap salah. meng-iklan-kan rokok, sama saja membenarkan kesalahan.
semua menempatkan diri pada posisi masing-masing, terkadang tanpa melihat apa yang terjadi sebenarnya di kehidupan nyata. oke, saya adalah masyarakat yang bukan anggota bahkan pengurus YLKI. saya juga bukan sales perusahaan rokok. saya pernah menjadi perokok. saya tak pernah terpengaruh sama sekali dengan iklan rokok. saya mengetahui rokok dan iklan rokok sudah lama. namun keputusan merokok bukan dari iklan, tapi lingkungan.
menurut saya, iklan adalah media kreatif yang dikerjakan dengan sepenuh hati oleh pekerja seni. jika iklan mampu memikat konsumen, apakah itu salah? bukankah iklan dibuat untuk memikat Anda?
bagaimana kalau lingkungannya yang diperbaiki, bukan mengomentari orang-orang dari dapur iklan dan produsen rokok? apalagi kita tahu, perusahaan rokok mampu menyerap tenaga kerja.
bagaimana menurut Anda?

REVIEW : GOKIL!



seorang teman kantor yang sama-sama memiliki hobi membaca, meminjamkan sebuah buku karya MIUND, berjudul 'GOKIL!'. sebelumnya dia meminjami saya Recto Verso, lantas saya balas dengan meminjaminya Djenar Maesa Ayu 'Nayla' dan 'Cerita Pendek Tentang Cerita Cinta Pendek'... intinya, saling berbagi.
GOKIL ditulis oleh MIUND (nama aslinya ASMARA, red). dari judulnya, saya sudah bisa menebak bahwa buku ini menyerupai LUPUS. gila. seru. lucu. menghibur.
dan, sebelum saya memutuskan membaca, teman saya sudah mengumbar cerita bahwa buku ini gila. seru. lucu. menghibur.
lalu, saya mulai membaca. terdiri dari beberapa bagian. dalam bagian tersebut terdapat cerita-cerita kecil yang terurai tanpa kesinambungan dengan cerita sebelumnya dan sesudahnya yang masih dalam satu bagian. unik.
namun, kok saya kurang berselera? eits, ini pendapat saya. Anda tetap boleh membacanya hingga tuntas, tanpa terbebani pendapat saya.
menurut saya, GOKIL kelewat gokil, jadi lost control. lepas dari tujuan sebuah buku, yaitu bercerita kepada pembaca... ini filosofi saya, sama sekali tak pernah diakui kebenarannya oleh profesor manapun.
tapi, saya salut kepada MIUND. keberaniannya memberi inspirasi bagi saya untuk ikut-ikutan mem-buku-kan tulisan blog. sometimes maybe... ngumpulin uang dulu. karena independen tetap numero uno.

09 July 2009

DIMANA NIKMAT SAYA?


saya percaya, ada nikmat di setiap tempat. beberapa tempat yang telah menyumbang ide kreatif bagi saya adalah :
toilet. prosesi mengejan menjadi hal yang saya tunggu. banyak kejutan yang memberi arti. introspeksi paling berarti, terbit dari sana.
kasur. terkadang saya mengalami susah tidur. banyak cara saya lakukan, seperti : imagine the beautiful things. apa saja, mulai dari duduk di pelaminan, berenang di laut yang luas tanpa takut tenggelam, mengenakan baju seksi berwarna merah, makan sepuasnya tanpa takut gembrot, dan banyak keinginan lain yang selalu datang dalam angan-angan.
kereta api. semua perjalanan pasti memberikan kesan. salah satunya ketika berada dalam kereta api. banyak inspirasi muncul secara mendadak dan terkadang mem-bludak!
saya akan mencari lagi, dimana kenikmatan bisa di dapat?

PLAOSAN VS PANEKAN


hari ini, saya dan all team DSR, melakukan kegiatan promosi di daerah Panekan, Magetan. berbeda dengan beberapa waktu lalu, event di SMPN 2 Plaosan. sama-sama melewati jalanan yang berliku nan pelosok, namun banyak perbedaan dari dua daerah yang masih terletak di kabupaten Magetan.
PLAOSAN :
1. hampir semua siswa mengendarai motor (good looking dan rata-rata tahun 2000 ke atas).
2. tak ada satupun dari siswa yang mengenakan helm, meski motor mereka bagus.
3. selisih penjualan adalah 11 SP. artinya 11 SP hilang atau diambil tanpa bayar oleh siswa alias dicuri! (maklum, kala itu rame sekali, antusias siswa luar biasa).

PANEKAN :
1. tak ada satupun siswa yang membawa kendaraan, baik itu sepeda pancal atau motor. siswa mengandalkan colt angkutan yang standby di depan sekolah. (semacam angkutan kota)
2. sudah pasti tak ada yang membawa helm. (kurang kerjaan, hihihi ;p)
3. pencurian tetap terjadi. namun hanya selisih 2 SP.

tindak kriminal terjadi dimana-mana. kebiasaan buruk ini bahkan sudah menjadi kebiasaan remaja. kejahatan tidak hanya dilakukan oleh orang miskin, tapi orang berada pun bisa, bahkan lebih berani.

08 July 2009

... IYA SAYA MAAFKAN ...


malam itu, saya duduk berjam-jam di depan layar monitor yang terhubung dengan modem speedy. warnet grace, bukan hanya warung internet, saya mempercayakan kopi pilihan saya diramu dengan baik melalui service yang santun. mbak Nita, pemilik warnet tersebut. good owner. terkadang kopi gratisan mendarat di meja saya. jangan heran, interior design yang modern dan rapi, membuat saya betah. meski jaringan internet lambat pun, enggan rasanya mengeluh, bahkan marah pada operator warnet.

saya belajar dari sana. bagaimana saya bisa menerima sebuah keburukan dengan ikhlas? saya pun dengan bangga mengaku sebagai manusia, yang hanya terpilah oleh dua: baik dan buruk. hari ini saya baik, besok saya buruk. lusa saya baik, esok lusanya lagi saya buruk. mungkin saja terjadi bukan?

begitu pula ketika saya berada dalam bilik suara, pagi tadi. mencoba mengawinkan antara baik dan buruk. lima pria dan seorang wanita ini ingin menjadi baik untuk saya, namun mereka manusia, pernah salah dan harus dimaafkan. saya sudah menyiapkan sekarung kalimat, 'iya, saya maafkan'... andai mereka berbuat salah. humm, enak ya menjadi sabar dan pemaaf. bagaimana kalau dimulai sekarang?

07 July 2009

DARI PANTAI SELATAN




saya percaya, mata adalah raja dari segala organ tubuh kita. dengan mata jernih, mari kita lihat dengan lekat, bagaimana pasir juga ingin dipuja, bukan hanya laut.

06 July 2009

CERITA PASIR


minggu kemarin, saya pergi ke pantai parang tritis. setelah sekian lama saya berniat menemui air laut. akhirnya, sampai juga saya pada-nya. wujudnya masih sama, air. gelombangnya juga tak berbeda, masih bergulung-gulung. pasirnya yang berbeda, selalu berubah-ubah. ribuan jejak mengukirnya. jika mau, saya ingin menghitung berapa banyak jejak yang nampak, mungkin saya bisa menemukan jejak Anda?

sejak bertolak dari madiun, niat saya bulat ingin menangkap ombak. jika perlu, saya pindahkan seperempat bagian air laut ke dalam waskom, dan saya bawa pulang. entah mengapa, saya terlalu kagum padanya.

mulut air laut masih berada pada jarak puluhan meter dari kaki saya berdiri. banyak manusia berdiri melingkari tepi tarian ombak. memancing untuk maju, lalu mundur. dua kali maju, kemudian mundur lagi. beberapa diantaranya sudah bergelut dengan buih ombak.

sementara itu, butiran pasir menyambut. seakan pasrah untuk diinjak, dan merasa bangga andai saya mau melepas alas kaki dan berkenalan langsung dengan mereka, pasir kusam.
saya tak lagi melanjutkan niat, mendekat pada air biru itu hanya sebuah hasrat. saya memutuskan untuk berhenti disini. berbicara dengan pasir kusam yang ingin mendengar saya.

03 July 2009

STORY : DIA DAN SAYA SATU


Saya mengenal dia sudah sangat lama. Bukan hitungan satu atau dua tahun, tapi hampir dua puluh dua tahun, menjelang hari ulang tahun dia, bulan September tahun ini. Dia selalu menceritakan semua hal pada saya. Mulai dari cerita konyol saat dia dihukum membersihkan halaman sekolah, ketika masih sekolah dasar dulu. Gara-garanya hanya sepele. Saya tahu dia ingin sekali menjadi seorang penyanyi. Dia ingin terkenal. Suatu ketika dia menyanyi sangat keras di dalam kelas pada waktu istirahat. Tiba-tiba seorang guru memanggil dia. Tak lama kemudian, dia keluar dari ruang guru dengan isakan tangis sambil menenteng sapu lidi. Dia bercerita pada saya, katanya dia hanya ingin menyanyi, bukan bermaksud membuat onar di kelas dengan berteriak-teriak. “Apa nyanyian saya seperti teriakan orang gila?” begitu tanya dia berkali-kali pada saya. Dan berkali-kali pula saya jelaskan, mereka tuli dan tidak tahu bagaimana merdunya suara dia. Lalu dia terdiam, sedikit lega. Hanya dengan ucapan seperti itu, bisa membuat hatinya sedikit tenang. Saya menjadi senang, karena sejak saat itu, dia tak lagi membicarakan bahkan menggerutu soal nyanyian itu. Entah karena dia sudah mulai tahu diri bahwa suaranya yang sama sekali tidak merdu, atau sebaliknya, dia menjadi tidak peduli dengan orang lain.

Seiring waktu berjalan, saya semakin dekat dengannya. Kalau sebelumnya, saya hanya sebagai teman curhat, sekarang sudah lebih dari itu. Dia mulai percaya pada saya. Baju terusan warna merah yang dipakainya waktu malam perpisahan sekolah menengah pertama itu, adalah pilihan saya. Beberapa keputusan yang diambilnya, juga meminta pertimbangan dari saya. Dan tidak bisa saya pungkiri, saya semakin sayang padanya. Saya selalu ingin ada, dimana pun dia berada. Karena saya sangat yakin, dia membutuhkan saya. Terutama saat menghadapi teman-teman barunya waktu sekolah menengah atas.

Penyakit lamanya yang sudah terkubur pada masa sekolah dasar dulu, muncul kembali. Dia selalu merasa tidak percaya diri. “Badan saya terlalu banyak lemak, apalagi di bagian pipi. Saya malu, teman-teman selalu mengejek, dan mereka bilang saya gembrot!!” katanya pada suatu sore, di sebuah food court. Dan berkali-kali pula saya menjelaskan, mereka buta dan tidak tahu bagaimana indahnya pipi dia. Lalu dia tersenyum, sedikit lega. Saya juga ikut senang, melihat dia tersipu malu mendengar pujian dari saya. Begitu indahnya kehidupan antara saya dan dia, sampai akhirnya dia mengenal seorang lelaki bernama Jarwo.

“Jarwo adalah kekasih saya.” Begitu ucapnya tiba-tiba. Saya tidak hanya kaget, tapi juga marah. Ini tidak adil. Saya jauh mengenal dia, tapi mengapa Jarwo yang dikenalnya baru satu minggu, mendapat perhatian lebih dari dia? Saya seperti tak punya arti lagi bagi dia. Tapi saya tidak pernah mengatakan kekesalan ini, pada dia. Saya sadar, cinta dia lebih besar kepada kekasihnya dibanding kepada saya. Walaupun begitu, saya tidak lantas menjauhinya. Saya selalu ingin ada, dimana dia berada. Terkadang, saya harus sembunyi-sembunyi mengikuti kemana dia dan kekasihnya pergi.

“Saya akan pergi jauh dengan kekasih saya, mungkin akan pulang besok.”

Dia akan pergi jauh dengan kekasih dia, mungkin akan pulang besok, begitu dia berbisik pada saya. Lalu perasaan saya cemas. Saya ingin ikut dengannya. Bagaimana caranya agar saya bisa ikut kemana dia pergi? Saya ingin menjaganya. Sampai kapanpun, saya ingin selalu berada disampingnya, walau kenyataannya saya harus berada dibelakangnya. Cinta dan sayang saya memang sangat besar padanya. Dan saya beranikan diri untuk mengikuti dia dan kekasihnya pergi.

***

Jalan ini sangat tidak nyaman. Banyak batu-batu kecil dan besar yang tidak tertata rapi memenuhi jalanan. Saya sampai terengah-engah melewati jalan ini. Udara dingin terkadang membuat napas saya sedikit tersendat, apalagi jalan menanjak dengan dipenuhi bebatuan, semakin menyulitkan perjalanan saya mengikuti jejak dia dan kekasihnya. Satu pertanyaan melintas dalam batin saya, “Mengapa dia mau diajak kekasihnya melewati jalan jelek seperti ini? Padahal saya tidak pernah mengajak dia pergi ke tempat sejelek ini. Seingat saya, tempat paling jelek yang pernah saya dan dia datangi, paling-paling kantin sekolah. Itu pun jalannya tidak bebatuan, dan tidak dimalam hari seperti ini.”

Langkah saya ikut terhenti, melihat dia dan kekasihnya masuk dalam sebuah rumah kost. Sepertinya ini tempat tinggal kekasihnya. Sama seperti yang dia ceritakan pada saya dulu, kalau kekasihnya adalah seorang mahasiswa di kampus elite, dan kekasihnya tinggal di sebuah kost dekat perbukitan.

Saya memutuskan untuk berdiri disini, mengamati dia dan kekasihnya dari kejauhan. Dia terlihat malu-malu saat kekasihnya mengajak masuk ke dalam, walau pada akhirnya dia masuk juga. Tidak lama kemudian, kamar kost yang semula terang menjadi padam. Saya tidak lagi melihat bayang wajah dia, apalagi kekasihnya. Saya termenung sejenak. Rasa sayang saya pada dia, yang akhirnya memunculkan keberanian diri untuk mendekati kamar kost itu. Saya lihat jam tangan saya. “Jam sepuluh malam.” Saya menjadi ragu. Saya takut kalau ada orang yang melihat saya mengendap-endap seperti ini, akan mengira saya adalah pencuri atau lebih parahnya perampok? Namun tekad saya sudah bulat. Saya mencintai dia, dan saya ingin mengetahui apa yang mereka lakukan. Semakin dekat saya mengendap, semakin nyata pertanyaan saya terjawab. Ada desahan kepuasan disela irama musik klasik macam apa, saya tidak paham. Desahan yang kencang dan tertahan, saya tahu dia pasrah dengan kaki terlentang. Saya melihat dia dari balik jendela.

***

Saya bertemu dia siang ini. Dia ingin saya datang kerumahnya. Saya berusaha melupakan kejadian semalam. Saya sangat cinta padanya. Perasaan cinta yang selalu bisa memaafkan, padahal saya terluka. Saya merana. Dan apalah kata-kata yang tepat untuk saya!! Saya ingin marah. Gadis kecil saya diambil orang lain. Sahabat saya pergi dari pelukan. Wanita yang saya cintai, sudah tidak utuh lagi. Namun, saya masih bisa tersenyum pada dia. Seribu senyum saya, tak mampu munculkan kebahagiaan untuknya. Dia malah menangis, awalnya hanya isakan, lalu berlanjut pada derai yang cukup deras. Saya memandangnya dalam. Saya ingin yakinkan pada dia, “Inilah saya, selalu ada dimana pun kamu berada.” Air matanya terus mengalir. Kusodorkan sapu tangan dan sebatang rokok. Diambilnya rokok. Lalu dia mulai tenang. Tak lama kemudian wajahnya terlihat tegar dan dia bercerita.

“Saya benci kekasih saya. Jarwo itu bajingan!!”

Lalu… Tanya saya ingin mengetahui lebih tentang seorang kekasih yang dikatakannya ‘bajingan’ itu.

“Saya akan memutuskan hubungan dengan kekasih saya.” Ucapnya lirih.

Saya kaget, namun sangat senang. Gadis kecil saya tidak jadi diambil orang lain. Sahabat saya tidak jadi pergi dari pelukan. Tapi, wanita yang saya cintai, tetap tidak utuh lagi. Walaupun begitu, saya masih cinta dia. Saya akan menerima dia apa adanya. Inilah cinta saya. Lalu saya beranikan diri mengatakan kalau saya mau menerima dia apa adanya. Saya buktikan cinta tulus itu. Namun ternyata, dia tetap tidak bisa menjadi milik saya. Bukannya menerima cinta saya, justru sebaliknya, dia bunuh saya dengan menusuk perut dia dengan pisau.


(saya tulis lama sekali, lupa kapan hari dan tanggalnya)

02 July 2009

MERAH UNTUK DIAM


diam. saya senang diam. meski kadang rindu ngoceh juga. namun pada saat diam, ternyata banyak makna yang mampu saya urai. seperti tadi pagi. jika biasanya selalu berkejar-kejaran dengan kendaraan yang lain, tidak pada hari ini.
santai, ini yang ingin saya lakukan. alasan pertama, saya masih punya lima belas menit untuk sampai di tempat kerja. kedua, saya berniat untuk santai.
jalan yang sama, Trunojoyo. Hore, aspal panjang dan sepi, hanya beberapa kendaraan melintas. dari jarak delapan meter, terlihat nyala lampu hijau pada traffic light. angka di papan menunjukkan angka 5... 4... saya mengurangi laju. 3... saya mencoba menge-rem. 2... saya ingin segera berhenti. 1... stop. lampu kuning masih menyala. beberapa kendaraan yang lain berebut ingin duluan. saya pun demikian, pada hari-hari yang lalu. kali ini? saya diam menunggu merah. tibalah merah sekian detik. start to imagine. rasanya, seperti masuk ke dalam box yang tertutup rapat. saya ambil cutter dan mulai menyobek plastik pelindungnya. saya masuk kesana. dan Anda tak bisa mengikuti meski box itu masih terbuka lebar. ini box saya, hanya untuk saya. masih ada waktu, sesekali saya menguap, sisa kantuk semalam. menghirup pagi sedalam saya mau. berlari sekencang ceetah. tenggelam jauh ke dasar laut menemui spongebob, hanya untuk mengatakan, 'I'm Happy'. namun tiba-tiba bunyi klakson mengagetkan dari belakang. hijau datang. saya kembali melanjutkan perjalanan.