31 July 2013

TENTANG KAMU DAN HATI BASAH

Dengan hati setengah basah, kucoba nyalakan api dalam renung pengabdian
Hanya kosong yang kudapati dalam gerimis gelap di hati
Dan dingin... yang tak ingin diselimuti



Kau, hilang dalam sekali kedipan mata
Berlalu tanpa menyisakan rindu
Waktu pun tak mampu kembalikan jejak langkahmu

Dan gerimis membawamu kembali, dengan hati setengah basah
Sejuta pinta untuk sebuah nyala api renungan
Yang terasa, hanyalah sesak terik matahari...

Menjemur kisah yang termakan oleh waktu

27 July 2013

INI HIDUP

ada senandung tangis dalam malam purnama
disanding tawa para pemuja jaman
disematkan sepucuk surat tentang kekalahan
ditelan serentak berlumur dahak kesombongan



ini kisah kita, yang hanya mampu memandang bulan dengan mata telanjang
ini hidup kita, yang bisanya hanya meminta keajaiban datang menyapa, 
sementara kita sepasang tuli yang tak berguna
ini cinta kita, dituangkan dalam kertas buram, 
direndam dalam waskom penuh minyak jelantah
ini tentang waktu sekarang, yang akan kita kenang nanti,
ketika kehidupan bisa menjadi jilid dua seperti janji para pemimpin, sayang.

bermimpilah, hingga esok pagi membangunkanmu dalam senyuman matahari atau malah tangisan palsu para pelayat.

15 July 2013

MALAM INI REUNI DENGAN KOPI, BUKAN LELAKI INI...


ini malam yang bukan biasa. bersama enam lelaki yang sangat beda masing-masing pemikirannya. dan beberapa cangkir latte, cappucino, serta juice. di teras kafe baru yang lokasinya jauh dari kotaan. jauh dari riuhnya asap keras dunia huru hara. 

beberapa meter di depan sana, ada masjid ramai tadarusan. iya, ini bulan Ramadhan. 

setelah sekian lama, saya nggak ketemu orang-orang ini. ngopi bertujuh pun, saya tetep asyik online. hanya mendengar cerita mereka, mulai dari fotografi, judi togel, hingga ujung-ujungnya selalu purel. 

beberapa meter di depan sana, masih terdengar suara dari surau : tadarusan!

setelah beberapa bulan saya puasa tidak mencicipi kopi, inilah kopi pertama saya. Latte. saya sampai lupa rasanya. malam ini, saya reuni dengan kopi, bukan kelima lelaki ini.

04 July 2013

TAK NYATA

Lalu mendung itu, 
menggulung setiap lekuk kenangan.

Perlahan, gerimis mulai membumi... 
Menyapa partikel debu di hamparan mimpi yang telah lalu.

Rodamu terus mengayuh, 
melawan arus menuju ujung keyakinan yang mulai tergerus.

Kau, hilang dalam derasnya hujan sore itu, 
dalam lamunanku sekejap...
Dalam dekapan erat, kau tak nyata.

KITA INI SIAPA?

Karena kita memang tak lebih baik dari burung pelatuk yang berjajar di tepi dermaga, menanti rupa samar-samar ikan tengiri yang menari di lautan atas.

Kita, tak ubah seperti harimau kelaparan yang hanya ingin memangsa, tanpa menilik dulu kedalam hati kelinci yang mulai pasrah dan gemetaran.


Pemilik kita tak benar-benar yakin, apakah manusia bisa terbang tanpa merampas sayap si burung merpati, atau berenang sepanjang usianya hanya mengandalkan tangan dan kaki.

Ternyata memang sulit, jika kita hanya berjalan telanjang apalagi di tengah rembulan malam yang rupanya mirip telur dadar diatas penggorengan.

Kita ini siapa?

Kita tak pernah tahu, siapa yang ada dalam diri meski seribu cermin memandangi, sejuta umat beropini, bahkan jika kau sebar lembar-lembar pertanyaan ‘siapa kita’? sekalipun.

Dan Tuhanmu hanya mampu tersenyum, tanpa sepatah kata, ketika kau dengan malu-malu menanyakan siapa kita?

Kita terus memburu, mengejar, tak bosan menanya pada perempuan berperut keriput seperti kulit jeruk, “ibu, siapa kita?”


“Kalian adalah anak ibu” hanya ini kebenaran yang tak bisa disalahkan, oleh burung pelatuk, oleh harimau, bahkan oleh Tuhanmu!