24 February 2014

Pentol Maknyus Ponorogo

Pentol Maknyus Ponorogo
Siapa yang tak doyan pentol? Mulai anak SD hingga orang tua pasti pernah makan pentol. Ini salah satu pentol yang berada di Ponorogo. Pentol Maknyus, namanya!

pembeli yang sudah mengantri

berdesak-desakan mengantri pentol maknyus

gerobak pentol maknyus

soal kebersihan nomor sekian

pentol pesanan pembeli

penjual yang melayani pembeli

karet untuk mengikat plastik
pembungkus pentol

pentol yang siap dibeli, masih hangat

uang penjualan diselipkan
pada pegangan panci






Sorlem, Angkringan Magetan, Suasana Jogja Solo

Sorlem, angkringan Magetan, suasana Jogja Solo
Jam sembilan malam kurang sedikit, mobil Livina plat L berhenti di depan gang rumah saya. Yuni turun dari mobil memberi tanda siap untuk melaju. Sementara Ryo Bajuri dan Wisnu Soedibyo sudah menanti dari tadi di rumah saya. Malam ini, saya dan teman-teman berencana ngopi di daerah Pabrik Gula Glodok Magetan.

Hanya butuh waktu lima belas menit untuk sampai di Sorlem, warung kopi angkringan milik seorang teman Komunitas Photography, Kontak Dedy. Awalnya saya bertanya-tanya, "Kenapa namanya Sorlem?" ternyata, gara-gara Pohon Pelem (mangga) yang berada tepat didepan warung angkringan. Makanya diberi nama Sorlem (Ngisor Pelem yang artinya dibawah Pohon Mangga).

Setibanya di Sorlem, kami langsung menyerbu nasi kucing yang isinya hanya sekepal tangan ditambah sambal teri. Favorit saya ceker bacem. ah, ternyata ngga hanya tempe dan tahu aja yang bisa dibacem. Disini ada ceker dan kepala ayam bacem. 

Sambil menyantap nasi kucing dan jajanan, Kontak Dedy, pemilik warung angkringan mulai membuka obrolan soal Fotografi. Suasana santai malam itu menyinggung soal metering nol. Sementara yang lain asyik ngobrolin metering nol, saya motret lokasi warung angkringan yang tergolong unik. 

"Ini rumah siapa mas?" 
"Rumah nenek, sudah lama ngga ditempati."

Ah, pantesan. Dari tadi hawanya adem disini, hahaha batin saya. Lalu, saya melanjutkan memotret dengan sedikit merinding.

21 February 2014

Please Forgive Me

please forgive me
Tiga hari yang lalu, saya berada pada poin pasrah. Yang bisa saya gambarkan, saya duduk termenung dalam perahu kayu yang tersesat di tengah lautan Hindia Belanda. Orang-orang bisa menemukan saya pada GPS bahkan Atlas, namun saya tak melihat siapapun sejauh mata memandang. Hanya hati penuh rasa lelah dan cemas.

Saya harus berkali-kali meminta maaf kepada teman saya, karena telah membuatnya kecewa, bahkan hingga mendendam (barangkali). Saya juga harus mengirimkan belati ke hadapannya, supaya dia dengan mudah membunuh saya, seperti itu text yang saya baca tentang curahan hatinya. "Septi ingin membunuhku?"

Tidak. Sama sekali tak pernah sedikit pun saya ingin membunuh seseorang. Jangankan manusia, membunuh kecoa yang paling saya benci pun, saya tak tega. 

Saya hanya manusia, yang sering salah dan berharap diberi kesempatan untuk dimaafkan. Hanya kalimat itu yang ingin saya bisikkan ke hatinya, ingin saya ketik dan mengirimnya melalui pesan bbm, atau perlukah saya menumpang Sumber Kencono untuk mengatakannya secara langsung?

Please, forgive me

17 February 2014

Jika Hidup Sepahit Espresso

Kalau dihitung, mungkin saya bisa minum kopi hingga 3 cangkir dalam sehari. Meski kebanyakan kopi tubruk dan instant coffee mix.


@kopiitem_coffee

Biasanya, pagi hari saya selalu minum kopi tubruk, bikin sendiri di rumah. Siang, teman kantor sering ajakin ngopi, kadang kopi tubruk, kadang pula kopi instant, seperti Nescafe. Malamnya, selalu saya luangkan waktu sruput kopi bersama teman-teman komunitas, menikmati kopi sambil membahas hobby.

Kalau soal kopi, favorit saya memang espresso. Baru-baru saja sih, suka espresso. Gara-gara bosan dengan rasa kopi yang manis, saya mulai tertarik jenis espresso.

Kemarin, saya dan suami, malam mingguan di Jogja, sambil menjemput pekerjaan. Mampir ke sebuah kedai kopi Kopi Item Coffee, yang berada di BBC Plaza Babarsari.

@kopiitem_coffee

Sebuah single sot Espresso tersaji tak lama setelah saya pesan, dan secangkir kopi Java Arabica pesanan suami saya. Tak ada gula yang disajikan bersama Espresso saya. Begitu paitnya espresso ini, sampai-sampai suami saya nyengir waktu penasaran pengen nyoba.

"Ini pait banget mah. Ngga kuat!" Protesnya lalu dilanjutkan meneguk Java Arabica.

Espresso pesanan saya
Dalam pikiran saya yang dipenuhi dengan daftar tuntutan kerjaan, uang, dan tanggung jawab lainnya, saya sruput lagi espresso, tak ada rasa pait, ini nikmat.

Bagaimana jika hidup kita seperti espresso ini? Tanpa ada gula sebagai pemanis? Apakah tetap kau melaluinya?

Ya! Saya akan membiasakan hidup pait tanpa ada toleransi, supaya saya bisa lebih disiplin dan serius menjalani kenyataan, tak lagi manja.

Terimakasih single sot espresso ala Kopi Item yang mengantarkan saya pada kenyataan hidup, pait!

"Abu... Abu-Abu..." Sisa Mabuk Semalam

Kamis malam saya mabuk, sama teman-teman. Kepala terasa berat, keseimbangan tidak stabil, seorang teman bersedia mengantar pulang. Sampai di rumah, langsung tidur. Tiga jam kemudian perut saya terasa mulas, ngga tahan, saya harus ke kamar mandi. Lokasi kamar mandi saya memang berada diluar rumah. Begitu membuka pintu, melihat keluar, yang saya lihat jalan setapak depan rumah berwarna putih abu-abu. Pohon berwarna abu-abu. Dinding berwarna abu-abu. Genteng juga abu-abu. Berkali-kali saya kucek mata, "ini kenapa warnanya abu-abu semua?" Lalu, saya melongok ke dalam rumah, masih terlihat warna merah, hijau, dan warna-warna selain abu. Saya lihat lagi diluar, warnanya abu. Saya kucek lagi mata saya. Apa ini efek SMS (Sisa Mabuk Semalam), batin saya.

jalan setapak depan rumah saya dipenuhi abu vulkanik

Saya ngga berfikir panjang lagi, karena perut saya sudah sangat mules, dan lanjut ke kamar mandi. Didalam kamar mandi, saya masih menerka, kenapa jalan setapak rumah saya warnanya abu-abu?

Setelah selesai menguras isi perut, saya kembali tidur. Pulas. Besok pagi, ramai kakak dan suami saya membicarakan soal meletusnya Gunung Kelud. Orang-orang di kampung sedang kerja bakti bersih-bersih jalan setapak yang dipenuhi abu vulkanik.

daun-daun juga tertutup abu vulkanik

Abu Vulkanik menutupi aspal
"Oh, ini abu... Bukan warna abu," saya lanjut tidur lagi, karena kepala saya masih terasa berat gara-gara SMS.

04 February 2014

TOO TIRED


Bukan ini titik lemah saya. Masih ada banyak titik lain yang lebih menikam daripada ini. Salah satunya ketika kau pergi dan tak pernah menengok ke belakang.

Bukan disini tempat saya terpuruk. Ada banyak pos yang telah banyak saya lalui dan menempatkan hidup ini pada dasar kehancuran, tapi saya bisa melaluinya.

Bukan hanya karena sebuah kelalaian, ini semacam periode yang sudah ditetapkan dan pasti saya alami, disaat jenuh mulai merengkuh dan saya tak bisa berbuat lebih baik. Kemudian saya hancur. Saya pernah begini, beberapa waktu lalu.

Saya tak mungkin kembali berjalan di rel yang sama jika ingin menamainya misi perjalanan. Tak bisakah sebentar saja singgah sebelum semuanya berakhir. Saya harus terus melaju meski raga tak bisa dipacu.