31 May 2015

Maya, Duniaku!

Pada kenyataannya, dunia maya menjadi sahabat terbaik saya. 

Suatu hari, saya sedang mengalami kejadian dimana susah berbicara dengan manusia. Sudah duduk berdua dalam satu meja, lalu berbincang. Namun bukan perbincangan yang sebenarnya ingin dibicarakan. Obrolan basa basi mengenai orang lain, bukan tentang saya dan dia. Saya tak berani memulai bicara, dan dia tak berhenti bercerita tentang apalah, sama sekali diluar pemahaman saya. Walau begitu, kepala saya manggut-manggut, sesekali mengatakan "oh iya... benar". Benar-benar tidak mengerti maksudnya. Satu jam, dua jam, telah habis beberapa batang, kesimpulannya adalah gosipan tentang seseorang yaitu bukan saya, ataupun dia. 


Berbeda hal, ketika saya sedang berhadapan dengan layar monitor, entah laptop atau gadget. Saya menjadi diri sendiri, dan mengatakan yang sejujurnya. Berbicara tanpa harus berbasa-basi. Maka, dia menjadi tahu segala isi hati. Haruskah sesuatu disampaikan di dunia maya terlebih dulu supaya dia memanahi saya?

25 May 2015

Kamar Kost



Tak bisa disangkal jika kamar kost adalah rumah terbaik yang pernah dimiliki hampir setiap mahasiswa yang tak serumah dengan orang tua. Kamar kost memberikan banyak nilai dalam kehidupan. Menyisakan banyak kenangan dalam perjalanan mencari jati diri. Dan lebih banyak berkontribusi dalam menemukan seks remaja.

Kamar kost yang luasnya hampir mirip ruang tamu di rumah orang tua, menjadi sangat nyaman, padahal disitu diletakkan banyak sekali perabot yang saling berhimpit, dan menyesaki ruang sempit. Almari lipat sengaja dipilih karena lebih praktis dan tak menyita ruang. Kasur busa juga demikian, bisa dilipat dan disimpan jika terpaksa kedatangan banyak tamu di kamar kost. Pemilik kamar kost harus menjadi arsitek handal yang bisa merubah kamar kost yang privacy menjadi ruang santai bersama teman-teman. Komputer, kipas angin, mejic jer, mini sound system, semuanya dipaksakan masuk kedalam kamar kost.

Kamar kost bagi saya, malahan sebagai rumah penampungan yang terpaksa dipilih ketika rumah tak lagi memberi ruang kenyamanan. Adakah rumah yang tak nyaman? Ada. Rumah saya. Setelah saya dimanjakan selama sembilan belas tahun, rumah yang dulunya sangat hangat berubah menjadi ruang pengap. Rumah yang tak mengijinkan asap rokok berkeliaran di ruang tamu. Rumah yang mengharamkan seks didalam kamar. Rumah yang tak membiarkan anak perempuannya sekolah menuju jenjang kuliah.

Malam itu, Bapak saya marah mengetahui anak perempuannya memilih kuliah ketimbang bekerja. “Kuliah itu mahal nak, kau sudah banyak menghabiskan uang Bapak dan Ibu” kata Bapak di meja tamu yang akhirnya tak pernah saya jumpai setelah malam itu. Saya memilih untuk pergi dan memperjuangkan kuliah, daripada hanya beekrja dan mengikuti perintah Bapak. Daripada harus menjadi perempuan yang hanya tamatan SMA, lebih baik saya hidup diluar bersama ilmu yang menurut saya benar dan perlu dikejar.

Lima tahun saya habiskan hidup dalam kamar kost yang penuh dengan kerinduan, dilapisi kesombongan ingin menjadi mahasiswi supaya sama dengan teman-teman lainnya. Pada waktu yang lama itu, kehidupan bukan mengajarkan nilai moral mahasiswi berpendidikan, tetapi memperjuangkan ke-egoisan.

Pada tahun yang dinanti, semua orang tua mahasiswa berkumpul di balai kampus dalam sebuah acara pertemuan, menyaksikan anaknya dinobatkan menjadi lulusan perguruan tinggi. Bapak saya tak ada dibarisan itu. Bapak tak layak tahu, saya duduk dibarisan paling depan urutan ketiga, penyandang cumlaude. 

Ilmu yang saya kejar tak mengajarkan saya pada tata krama, justru menjerumuskan saya pada kesombongan. Maafkan saya bapak, tak menempatkanmu dalam barisan orang tua hebat! 

Kini, kamar kost menjadi sepi, bukan lagi rumah indah, bukan juga rumah penampungan yang menyisakan banyak keindahan. Kamar kost adalah saksi nyata kesombongan mahasiswi yang tak patuh kepada Bapaknya.

14 May 2015

MARAH

Ada yang mati rasa, yaitu Aku. Ada yang menyimpan duka, yaitu Aku.

Pada malam yang kau abaikan, serentetan duka turun seperti derasnya hujan di bulan Mei. Bantal busuk menjadi saksi adanya umpatan kekesalan yang tak tersampaikan. Karena kau memilih untuk diam daripada menanggapi. Karena kau lelaki yang tak ingin masalah menjadi semakin panjang dalam perdebatan. Sementara perempuan yang kau tahu hatinya sedang gundah ini, ingin didengarkan. 

Kau memilih untuk diam. Aku memilih untuk marah. Aku belum bisa meredam emosi lantas melanjutkan untuk membanting apa saja yang ada di depan mata. Aku marah kala itu. Aku lelah.  

Kau ikut marah karena perempuan ini sukanya marah-marah. Kau lipat gandakan emosi yang sebenarnya telah kau simpan. Kita bermain dalam kemarahan yang telah tersimpan lama.

Pukulan mendarat di kepala dan punggung. Salah satu dari kita terkapar. Satunya lagi terperangah dan terdiam lama. Kemudian tangisan jatuh. Aku tak kan lupa hari ini.


PURA PURA


Kemarin saya menangis. Ada sakit di punggung dan leher. Namun yang lebih sakit adalah di hati. Tanpa pelukan penghapus sakit, saya mencoba menjadi bijaksana. Hidup bukan soal cinta dan luka pukulan. Hidup adalah soal menyenangkan perasaan orang lain. Semoga kamu selalu bahagia bersama saya. Saatnya mengambil peran, dan kamu tak pernah peduli pada topeng yang saya kenakan.