17 August 2014

Pindah

Belaian itu datang lagi. Sentuhan lembut itu mendarat kemudian. Dan pelukan rindu beradu dalam ritme lambat, di malam pertengahan bulan. Kau datang tanpa disengaja. Mengecup kening dan untaian kalimat manis. Karena kau tetap indah seperti dulu. Tak sedikit pun berubah. Ayumu memancar dari senyum lesung pipi. Rambutmu teruntai memanjang bukan hasil sambungan. Meski tanpa busana seksi, kaulah perempuan paling seksi malam ini. Namun aku tak mampu tergoda.


Sementara aku, tak pernah menjadi keindahan bagi siapa pun. Tersisih oleh jutaan manusia keren, terbuang dengan segera. Namun, kita pernah bersama. Aku ada dalam cerita asmaramu. Meski hanya beberapa bulan menjadi kekasihmu, aku tak pernah lupa. Bagaimana kau perlakukan aku sangat istimewa, kala itu.

Kau hanya mau makan pangsit. Itu yang aku ingat selalu tentang kesukaanmu. Yang juga malapetaka bagiku. Karena aku sangat membenci mie. Kita tak pernah memakan makanan yang sama. Kau hanya mau pakai sepatu merek St. Yves. Dan aku kebingungan mencari size yang tepat dengan merk yang sesuai. Itu menyulitkan aku juga. Jika bukan Corniche, kau tak mau pakai. Itu menyedihkan. Aku bukan pembantumu, yang harus mencarikan makanan, sepatu, dan baju yang tepat untukmu. Aku juga bukan asistenmu yang harus memahami apa maumu. Aku ini kekasihmu.

Kau mengancam jika aku terlambat menjemput. Padahal kau punya sopir pribadi. Secara perlahan, kau tempatkan aku menggantikan peran Pak Basuki, sopir yang kau bayar bulanan hanya untuk mengantarmu kesana kesini. Kau permalukan aku dengan memaksaku pergi ke mini market untuk membeli pembalut. Kau pinta aku menerima telepon dari petugas bank yang rajin menelepon, mengingatkan tagihanmu yang tak ingin kau bayar. Lalu diam-diam, aku sisihkan uang gajiku untuk melunasinya. Aku ini bukan ayahmu, aku ini kekasihmu.

“Kok diam sih? Kamu apa kabar?” 

Dalam diam yang cukup lama, kau menyentak dengan menanyakan kabarku? Pantaskah jika aku menjawab, “Aku lebih baik sekarang.” Bukankah kau akan semakin kecewa, melihatku lebih bahagia menjadi seperti sekarang, daripada yang dulu ketika bersamamu. Karena memang aku merasakan ini kebahagian, menjadi diri sendiri. Bukan kacung dari perempuan cantik yang ingin diperlakukan istimewa.

“Tapi kelihatannya kamu happy.”

Aku hanya mengangguk dengan senyuman balasan untuk perempuanku yang memang sangat istimewa ini. Dia berpindah tempat duduk, kini berjajar disisi kanan. Pelukannya kembali mendarat. Meminta kehangatan. Entah mengapa, aku tak bisa membalasnya dengan reaksi apapun. Aku hanya bisa diam dalam paku-paku yang telah tertancap dalam diri.

“Kamu masih sering fitness?” 

Sambil membetulkan rok mininya, dia mencoba menjelajah dengan pertanyaan-pertanyaan interogasi. Dan pertanyaan itu akan terus mengalir, hingga dia melemparkan pertanyaan, “Kamu begini gara-gara aku?” Bukan. Aku tak pernah berubah sebenarnya. Aku masih seperti yang dulu, sejak aku dilahirkan. Tak ada yang memahami tentang aku, dalam ruang yang sebenarnya, itu saja. Termasuk kekasihku yang selalu ingin dimengerti. Tapi aku tak perlu menjawabnya. Karena kau sekarang bukanlah bagian dari kehidupanku. Kau sudah menjadi kekasih orang lain. Lelaki yang usianya dibawahku empat tahun, yang dulu tidur sekamar denganku. Lelaki kecil yang selalu minta diajari menyeleseikan tugas Matematika dan Biologi. Lelaki yang dilahirkan dari rahim yang sama, dan disusui oleh seorang Bunda. Mama. Lelaki itu adikku. Filan.

Sudah lama aku tak menjumpainya. Sejak meninggalkan Madiun, karena mendapat kerjaan bagus di Bali, lalu ikut teman ke Australia, kerja part time di Resto-nya bule, dan menjadi Personal Trainer di Club milik teman. Dan semunya menjadi indah. Minimal bagiku, tapi bencana menurut Bunda dan Filan. Karena aku seorang kakak, yang harusnya mengajarkan kebaikan kepada adikku, dan menjadi kepala keluarga sejak Ayah meninggal. Namun hidup tak semudah yang dikatakan oleh pakar kehidupan, tak seperti yang dibilang guru kita. Hidup yang aku pilih teramat sulit untuk diterima keluarga dan teman-teman, apalagi kekasih seperti perempuan disisiku ini.

“Aku tetap sayang kamu.” 

Buat apa, buat apa? Karena aku tak butuh disayangi. Aku hanya ingin diterima dengan baik, tanpa disisihkan. Meski hidup adalah kompetisi, perlombaan dalam meraih bahagia. aku bahagia, meski tanpa kamu. Aku lebih bahagia lagi, Filan yang selalu susah mendapatkan kekasih, akhirnya mendapatkanmu. Dan aku tak ingin merebut kebahagiaan adikku, hanya karena tahu tentang kau dan aku. Kita pernah tidur bersama.

“Kamu kapan balik ke Australi?” Kau bertanya untuk memastikan, apakah kita bisa bercinta lagi? Bahkan dalam genggaman tanganmu, handphone itu siap kau minta untuk memesankan kamar untuk kita malam ini. Kau kembali merayu, dan belaian itu datang lagi. Sentuhan lembut itu mendarat kemudian. Dan pelukan rindu beradu dalam ritme lambat di malam pertengahan bulan. Kau datang tanpa disengaja. Mengecup kening dan untaian kalimat manis. Karena kau tetap indah seperti dulu. Tak sedikit pun berubah. Ayumu memancar dari senyum lesung pipi. Rambutmu teruntai memanjang bukan hasil sambungan. Meski tanpa busana seksi, kaulah perempuan paling seksi malam ini. Namun aku tak mampu tergoda.

***

Malam ini begitu singkat untuk kita habiskan dalam pikiran yang penat, dan timbunan rindu yang tak lagi menguat. Kupikir kau masih menggairahkan, sama halnya ketika kita memesan kamar ini beberapa tahun silam. Kukira aku bisa menikmati orgasme yang kudambakan seperti dulu saat masih menjadi kekasihmu. Kupikir kau hanya berpura-pura menjadi lelaki guy karena ingin berlari dari perempuan kejam seperti aku.

Tidak. Kau tidak bisa lagi membuatku orgasme, kau bukan berpura-pura. Kau hanya membantuku bercinta dengan tanganku sendiri. Terimakasih sayang, kau selamanya hanya bisa menjadi pembantu dalam asmaraku.

--Wanda--

14 August 2014

DINGIN

Sepasang senja sedang mengujiku dalam jaring petang ini. Dalam hamparan rasa penasaran, dan sejumput keinginan yang tak terbendung. Dalam segala rasa ingin tahu, bagaimana kau bisa melupakannya, namun tak bisa. Bau rumput menyergapku dari penjuru timur, menyadarkan tentang kau yang tak bisa berjarak lebih dekat. Kau terbaring diatas belukar dan dipenuhi rasa luka, meski kita sedang diatas surga. Setetes air mata mengalir membasahi hatimu yang membeku sejak kita mendaki dari pos pertama. Kau pun tak akan mengira bahwa aku sedang menerka isi hatimu. Karena yang kau tahu, aku adalah guide-mu menuju titik ini. Kau hanya tahu, aku teman dalam perjalanan meraih kembali memori, tentang lelaki penggerus hatimu.

Kita sudah berjalan bersama selama delapan jam tanpa henti, mendaki puncak lawu. Kau masih diliputi rasa ragu, bisakah aku mengantarmu pada kenangan, yang harusnya telah lama kau hapuskan.

“Dia masih ada disini, aku bisa merasakan.” Kau pegang tanganku erat, dan aku hanya mampu memandangmu dengan sejuta rasa prihatin.  

"Benar, do. Aku merasakannya, aku mencium bau parfumnya.” Bukankah ini parfumku? Kau yang memintanya untuk mengganti parfum menyamai kekasihmu yang telah lama pergi itu. Tak lama, kau menangis lagi, rupanya kau menyadari sesuatu yang telah kau buat sendiri.  

“Bukan, do. Ini parfum kamu, bukan dia yang ada disini.” Kau beringsut memelukku, menangis menderu. Aku semakin ikut dalam pilu hatimu. Sudah, jangan menangis wanitaku. Kau tak seharusnya menangisi orang yang telah meninggalkanmu.  

"Aku harus mencarinya kemana, do? Bantu aku do.” Kau menunduk, mencoba mencari tahu didalam belukar yang menguning, karena kini musim telah berganti. Seharusnya kau pun tahu, lelaki yang kau tunggu telah terlewat oleh waktu. Kini yang ada hanyalah aku dan nyanyian pilu senja, yang sebentar-sebentar menggelegar, menyerang dalam kilatan petir.

Dan sebelum kita benar-benar basah kuyup oleh guyuran hujan dan mati oleh kikisan hawa dingin, kupeluk erat tubuhmu yang mulai tak terurus. Kau habiskan waktumu untuk mengingatnya.  

"Didalam aku sudah pesankan teh panas. Ayo kita masuk.” Kau menolak. Aku ikut basah bersamamu.

***

"Do, aku tak perlu mencarinya lagi. Aku tahu dia telah pergi. Tapi aku ingin menemuinya. Bagaimana jika sekarang saja."

Setelah setengah jam kita berusaha bertahan menantang derasnya hujan, mencoba mengacuhkan saran dari para pendaki lainnya. Kulihat bibirmu yang sedari tadi hanya tersedu kini mengikis pelan dalam sebaris permintaan. Kau bilang ingin menyerah, bukan menyerah untuk tidak mencarinya karena dingin semakin menjadi. Tapi, kau menyerah dalam dingin untuk pergi menjemputnya. Kau relakan seluruh jiwamu hanya untuk kekasihmu. Kau pintakan permohonan maaf lalu menitipkannya pada angin yang berhembus pelan. Dimana kata demi kata yang keluar dari mulutmu terurai secara terbata-bata. Bibirmu memutih melebihi putihnya kulitmu. Jari-jari tanganmu kaku, membiru. Kau nekat.  

"Do, kumohon biarkan aku mencarinya. Mengejarnya, kemana perginya dia. Aku tahu, cinta harus begini, aku akan melakukannya. Bagaimana jika sekarang saja."
Aku tak kan pernah mengijinkan. Karena kau tak harus mengejarnya, biarkan saja aku yang mengejarmu. Lelahnya menanti, biarlah aku yang merasakan. Dengarkan sayang, dingin disini sudah mengkultuskan rasa cintaku, mengaburkan mataku tentang kebenaran. Karena yang ada hanya cinta, hanya kasih sayang yang tak bisa kugantikan pada apapun. Kulihat Paras ayumu memucat meniru muka malaikat. Aktingmu mirip seperti lakon dalam teater, pucat dan dingin. Kau butuh pertolongan, karena jeritmu tak lagi kudengar, tangismu tak lagi menderu, dan dinginnya masih tetap menyekap. Aku jadi susah bernapas, semuanya menjadi tersengal. Dengan ritme hampir cepat, badanku melemas. Kau berdiri tegar disisiku, melebihi angkuhnya gunung ini. Kau lawan derasnya hujan, menghujam setiap alunan yang mengajak kita pada pintu perpisahan.  

"Do, kamu kedinginan. Ini beku. Ini kematian."

Kudengar samar-samar suaramu tak lagi terbata. Bahkan pelan-pelan aku kehilangan nyaring tangismu. Entah karena ini semakin dingin, atau kau memang sedang tak bersuara. Namun bibir pucatmu meneriaki aku. Tangismu semakin menderu dalam gerak yang padu, tanpa suara memburu. Rupanya hujan sudah mereda. Ada kuncup matahari di salah satu sudut kehidupan. Sementara aku lupa menyebutnya, itu timur atau barat. Ataukah itu tenggara? Bergerak pelan mendekat, sinar kuning dengan shadow keputihan, menghangatkan badanku yang kedinginan sejak semalam, terguyur hujan dalam kabut kesedihanmu. Dalam pinta yang berlipat ganda untuk menyelamatkanmu. Dalam doa yang tak ingin kuputus barang sejenak. Hanya ini doa yang sanggup aku hapalkan, “Jaga dia, Tuhan. Jaga dia, Tuhan”  

"Do, please jangan pergi. Aldo!"
Tapi Tuhan tetap menjagamu. Semoga aku selalu berada dalam hatimu, sama halnya Tuhan yang selalu menjagamu.

13 August 2014

Kenalan Sama Pramuka dan H Mutahar

H. Mutahar Pencipta Hymne Pramuka
Gerakan Pramuka atau Kepanduan di Indonesia telah dimulai sejak tahun 1923 yang ditandai dengan didirikannya (Belanda) Nationale Padvinderij Organisatie (NPO) di Bandung. Sedangkan pada tahun yang sama, di Jakarta didirikan (Belanda) Jong Indonesische Padvinderij Organisatie (JIPO). Kedua organisasi cikal bakal kepanduan di Indonesia ini meleburkan diri menjadi satu, bernama (Belanda) Indonesische Nationale Padvinderij Organisatie (INPO) di Bandung pada tahun 1926.

Pendirian gerakan ini pada tanggal 14 Agustus1961 sedikit-banyak diilhami oleh Komsomol di Uni Soviet. Pada tanggal 26 Oktober 2010, Dewan Perwakilan Rakyat mengabsahkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2010 tentang Gerakan Pramuka. Berdasarkan UU ini, maka Pramuka bukan lagi satu-satunya organisasi yang boleh menyelenggarakan pendidikan kepramukaan. Organisasi profesi juga diperbolehkan untuk menyelenggarakan kegiatan kepramukaan.

Gerakan Pramuka bertujuan untuk membentuk setiap pramuka:   

  1. Memiliki kepribadian yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, berjiwa patriotik, taat hukum, disiplin, menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa, berkecakapan hidup, sehat jasmani, dan rohani;  
  2. Menjadi warga negara yang berjiwa Pancasila, setia dan patuh kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjadi anggota masyarakat yang baik dan berguna, yang dapat membangun dirinya sendiri secara mandiri serta bersama-sama bertanggungjawab atas pembangunan bangsa dan negara, memiliki kepedulian terhadap sesama hidup dan alam lingkungan.


Badge Kwartir Daerah Jawa Timur
H. Mutahar salah seorang pejuang, penggubah lagu dan tokoh Pramuka menciptakan sebuah Hymne Pramuka bagi Gerakan Pramuka. Lagu itu berjudul Hymne Pramuka. Hymne Pramuka menjadi lagu yang selalu dinyanyikan dalam upacara-upacara yang dilaksanakan dalam Gerakan Pramuka. 

Syair lagu Hymne Pramuka adalah
Kami Pramuka Indonesia
Manusia Pancasila
Satyaku kudharmakan, dharmaku kubaktikan
agar jaya, Indonesia, Indonesia
tanah air ku
Kami jadi pandumu.

Kode kehormatan dalam Gerakan Pramuka terdiri dari Tiga Janji yang disebut "Trisatya" dan Sepuluh Moral yang disebut "Dasadarma"

Trisatya Pramuka : Demi kehormatanku aku berjanji akan bersungguh-sungguh

  1. Menjalankan kewajibanku terhadap Tuhan dan Negara Kesatuan Republik Indonesia, Mengamalkan Pancasila,
  2. Menolong Sesama Hidup dan Mempersiapkan diri/ikut serta membangun masyarakat,
  3. Menepati dasa darma.

Dasadarma Pramuka 

  1. Taqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
  2. Cinta Alam dan kasih sayang sesama manusia
  3. Patriot yang sopan dan kesatria
  4. Patuh dan suka bermusyawarah
  5. Rela menolong dan tabah
  6. Rajin, terampil dan gembira
  7. Hemat, cermat dan bersahaja
  8. Disiplin, berani dan setia
  9. Bertanggung jawab dan dapat dipercaya
  10. Suci dalam pikiran, perkataan dan perbuatan




11 August 2014

ROBOT BERKOIN

 

Cerita ini tentang perempuan yang pernah kutiduri dan suaminya yang baik hati. Perempuan yang kukenal dari pertemuan singkat dalam kamar-kamar yang disekat dengan kelambu cokelat. Dalam sebuah panti pijat di sekitar rumah sakit ketika perempuan lain sedang dalam keadaan sekarat. Perempuan lain yang tak lain adalah istriku, teman tidur selama hampir tiga belas tahun. Divonis kanker rahim dan kista menjalar diseluruh vagina.

Dia, perempuan lain yang meminta suaminya untuk menyewa perempuan berbayar untuk memenuhi malam-malam menjelang kepergiannya. Meski tanpa dia meminta, aku sudah sering melakukannya, dikala dia pergi cek up ke luar kota. Mulai dari teman kerja di kantor, hingga purel sewaan datang silih berganti menemani tidur, dan tak jarang mereka memberiku bonus, sepiring nasi goreng dan teh hangat tersaji di meja makan keesokan paginya. Mereka robot dalam kisah percintaan semalam.

Salah satunya Wanda, perempuan berbayar yang sama robotnya. Robot yang satu ini bukan terdiri dari besi baja yang harus menelan koin untuk bekerja. Purel dengan paras ayu dan pantat sintal, rambut sebahu, aroma parfum menjeratku tak bisa lepas darinya. Dengan tariff separo, dia mau telanjang sewaktu-waktu. Purel yang bekerja dengan cinta, aku menyebutnya begitu. Telanjang dan bercinta itu barang mudah. Tapi kepintarannya menjerat hatiku, membuat aku tak lagi mengundang perempuan-perempuan lain untuk mau kutiduri. Bahkan dia memintaku untuk menikahinya.

“Istri kamu hampir koit bang, udah kawinin aku aja.”

Tak semudah itu memilih istri. Aku harus pacaran lima tahun untuk yakin melamar istriku. Harus benar-benar masih perawan untuk mendapatkan malam pertamanya, dan itu malam ke seratus sekian bagiku untuk melepas keperjakaan. Harus jelas keluarganya, strata sosialnya, dan tetek bengeknya. Dengan serangkaian syarat yang padat itupun aku masih mendapatkan barang busuk. Lihat saja vaginanya, sudah tak berfungsi lagi, aku saja jijik melihatnya.

“Kamu sudah lihat barangku kan? Bagus kan? Walau sudah banyak yang makek.”

Karena kamu memang purel. Sudah pasti mahir bagaimana merawat kewanitaan, karena disitu sumber keuangan, kamu makan dari memek. Andai aku bisa memahami dari dulu, perempuan tak harus perawan, tapi pintar menjaga kewanitaan. Seperti kamu, Wanda.


“Lalu apa lagi yang kamu tunggu bang?”

Aku menunggu hingga istriku benar-benar pergi. Dengan begitu aku tak lagi dianggap suami bajingan. Menikahi purel, sementara istrinya berbaring di rumah sakit. Keluarganya akan mengira aku tak berperasaan. Tapi sebenarnya, perasaanku sedang dipertaruhkan. Semua teman-teman kantor selalu mengatai, “hey jablay!”

“Yaudah, ayo bang.”

Tidak. Selama aku punya uang, aku bisa menidurimu, itu sudah cukup. Walau seringnya kau selalu menolak uangku. Karena yang kau minta adalah hati, cinta. Dia yang terbaring dengan muka pucat dan senyum berkarat, itulah cinta. Dia yang tak bisa apa-apa, yang hanya bilang “maaf mas” dialah cinta. Dia yang selalu meneteskan air mata ketika aku pamit untuk keluar sebentar, sekedar cari udara segar, dan ternyata dia tahu benar seperti apa suaminya yang berubah menjadi lelaki liar. Tapi tetap saja dia bilang, “maaf mas”. Bagaimana bisa aku menceraikan dia. Bagaimana perasaannya ketika menjadi perempuan yang tak berguna, sementara aku selalu membohonginya dengan kata-kata, “aku tak bisa meniduri perempuan lain, aku hanya cinta kamu”

“kamu bohongin istrimu berapa kali?”

Berkali-kali. Dan dia hanya bilang, “maaf mas”.

***
Jika bisa aku meminta pada Tuhan untuk menjadikan aku manusia sempurna, pasti kusempurnakan hidupmu. Membuatmu berhenti menjadi wanita liar, dan hanya menjadi milikku, bukan melayani lelaki manapun yang punya banyak koin. Karena sayang, aku tak memiliki koin sebanyak itu untuk menjadi bagian dalam hatimu. Aku hanya punya pengabdian. Menjadi selimutmu di malam yang tak ingin menoleransi. Menjadi senja yang mengantarmu pulang. Aku cukup, bisa menjadi suamimu.

Jika saja untuk berjalan kau tak perlu banyak koin, pernikahan ini akan semakin indah. Dan aku telah mempertaruhkan hati untuk berlapang menerima status sosialmu yang beberapa orang sudah mengetahuinya. Kau robot berkoin. Disewa kebanyakan lelaki untuk ditiduri. Tubuhmu tak hanya milikku. Bahkan hatimu, bukan terisi olehku juga.

Aku harus berpura-pura tak tahu tentang lelaki yang sering kau datangi diam-diam di rumah sakit itu. Lelaki yang menemani istrinya seharian, di sebuah kamar, terbaring sakit. Lelaki yang kau sebut Abang. Dia bukan abangmu. Dia lelaki yang pernah membayarmu untuk sementara menggantikan istrinya yang sedang sakit. Yang pernah kau kenalkan pada malam menjelang pernikahan kita. Dan kau meneteskan air mata, entah karena tak bisa menerimaku atau kau tak bisa mendapatkan cintanya. Kenyataannya, lelaki itulah yang memenangkan hatimu.

Maka tak salah, jika hari ini aku harus menemuinya. Memintanya meluangkan waktu untuk menerimaku sebagai lelaki pecundang. Disebuah panti pijat, disisi selatan rumah sakit, kudapati Abangmu sedang dalam kamar sekat bersama robot koin. Satu jam seperempat, akhirnya dia keluar dengan aura berbinar setelah mengecup kening perempuan sewaan yang hanya mengenakan baju terusan, panjang selutut, tanpa bra dan celana dalam. Dari sini aku mencium bau amis dan liur robot koin itu.

“Hartadi, dengan siapa disini?”

Sendirian bang, aku menunggu lebih dari satu jam. Aku diam-diam datang kesini, ingin bicara tentang perempuan. Karena perempuan ini, aku menjadi tak berguna, seperti lelaki hina yang ingin memakai robot namun aku tak memiliki koin. Karena status sebagai suami saja tak cukup melegakan hatinya untuk sekedar telanjang. Karena perempuan ini memiliki banyak janji dengan banyak lelaki yang dia sebut rekan kerja. Yang bisa membuatnya kaya.
“tidak sama Wanda?”

Tidak. Wanda tak boleh tahu tentang ini. Tentang perjumpaan kita dalam sebuah waktu disengaja.

***

Cerita ini tentang perempuan yang pernah kutiduri dan suaminya yang baik hati. Perempuan yang kukenal dari pertemuan singkat dalam kamar-kamar yang disekat dengan kelambu cokelat. Dalam sebuah panti pijat di sekitar rumah sakit ketika perempuan lain sedang dalam keadaan sekarat. Perempuan lain yang tak lain adalah istriku, teman tidur selama hampir tiga belas tahun. Divonis kanker rahim dan kista menjalar diseluruh vagina.

Hartadi, suami yang telah dinikahi perempuan yang pernah kutiduri. Usia pernikahannya baru satu bulan. Diam-diam, suaminya robot koin dating menemuiku, di suatu petang. Entah darimana dia tahu, aku sedang menghamburkan koin bersama robot-robot itu. Dari wajahnya, kulihat dia sedang pilu, sepertinya persoalan asmara. Dia itu, lelaki yang tergila-gila pada istrinya, robot koin-ku. Lelaki yang ingin membahagiakan istrinya, namun tak tahu bagaimana caranya. Karena dia teramat muda untuk memuaskan perempuan seperti Wanda.

“tapi aku cinta dia sepenuh hati, masih kurang?”

Nak, kamu pikir rumah tangga hanya soal asmara. Kamu lupa membaca buku Kamasutra? Lupa menelan pil penguat? Atau kamu tak tahu alamat klinik mak Erot? Wanita bukan hanya soal uang atau pun cinta. Perempuan yang kau nikahi, adalah perempuan terhebat dalam bercinta. Perempuan luar biasa dengan teknik bercinta yang mempesona. Jangan kau bilang, tak beruntung menikahinya. Kaulah lelaki paling mujur yang pernah kutemui.

“jadi?”

Jadi apa? Pulanglah. Dia istrimu, meski juga robot koin-ku. Aku berjanji tak lagi memakainya, sejak malam kita berjumpa sebelum pernikahan kalian berlangsung. Koin-ku terlalu banyak untuk dihabiskan pada satu perempuan, istrimu.

***


“bang, si Har nemuin kamu ya bang? Mau apasih dia?”

Hartadi. Tak sengaja ketemu, didepan rumah sakit. Ketika aku mau beli bubur ayam pesanan istriku, Hartadi datang membawa makanan, katanya buat istriku. Kulihat, eh bubur ayam. Haha. Serba kebetulan ya. Sudah, itu saja.

“itu saja? lalu kenapa si Har rajin pergi ke panti pijat? Kau pengaruhi dia bang?”

Aku memang pasien tetap dip anti pijat. Aku memang menggilai setiap perempuan yang memiliki sepasang payudara dan vagina wangi. Kalau Hartadi menjadi seperti aku, itu pilihan dia. Bukan karena aku menyuruhnya. Karena dia memang ingin menjadi seperti aku. Dia mengikuti kemana aku pergi, bahkan membawakan makanan untuk istriku. Dia ingin menjadi aku, seorang Prasetyo yang digilai perempuan seperti kau.

“tapi penis dia kecil, mana mungkin dia bisa jadi seperti abang?”

Itulah sebabnya dia ingin menjadi aku, ingin memiliki penis seperti penisku. Hartadi, sebaik-baiknya lelaki yang menjadi gila sejak menjadi suamimu, Wanda.

~ dan angin menerbangkan debu, dalam kebebasan langit dan cerita senja. Sepasang suami istri duduk di teras, saling diam. Ditangan mereka tergenggam gadget dengan jendela pesan terbuka, dan barisan kata singkat tertulis dilayar lalu tombol send disentuh, “maaf mas.”

04 August 2014

#IndonesianFood Bandrek from Bandung Jawa Barat



Bandrék adalah minuman tradisional orang Sunda dari Jawa Barat, Indonesia, yang dikonsumsi untuk meningkatkan kehangatan tubuh. Minuman ini biasanya dihidangkan pada cuaca dingin, seperti di kala hujan ataupun malam hari. Bahan dasar bandrék yang paling penting adalah jahe dan gula merah, tetapi pada daerah tertentu biasanya menambahkan rempah-rempah tersendiri untuk memperkuat efek hangat yang diberikan bandrék, seperti serai, merica, pandan, telur ayam kampung, dan sebagainya.  
Susu juga dapat ditambahkan tergantung dari selera penyajian. Banyak orang Indonesia percaya bahwa bandrék dapat menyembuhkan berbagai penyakit ringan seperti sakit tenggorokan, batuk, dan lain sebagainya. Di Bandung, biasanya penjual menambahkan sejumput kerukan kelapa untuk menambah cita rasa dari Bandrek tersebut. Bandrek biasa dikonsumsi bersama kacang rebus, ubi jalar rebus, dan juga gorengan.
Seiring dengan perkembangan zaman, bandrek banyak dijual dalam bentuk instan, tujuannya agar bisa dinikmati dimanapun dan kapanpun, tetapi rasanya sedikit berbeda dengan bandrek yang asli. Di Bandung dan sekitarnya, masih banyak pedagang yang menjual bandrek asli, biasanya dijajakan bersama bajigur.
Bahan Bandrek :
  • 1.000 ml air
  • 200 gram gula merah, sisir halus
  • 100 gram jahe bakar, memarkan
  • 5 cm kayumanis
  • 2 lembar daun pandan
  • 5 butir cengkeh
  • 1/2 sendok teh garam
Cara Membuat Bandrek :
1.     Rebus air, daun pandan, gula merah, jahe, kayumanis, cengkeh dan garam sampai mendidih dan beraroma.
2.     Saring. Sajikan hangat.

#IndonesianFood Asinan Bogor


Asinan adalah sejenis makanan yang dibuat dengan cara pengacaran (melalui pengasinan dengan garam atau pengasaman dengan cuka). Bahan yang diacarkan yaitu berbagai jenis sayuran dan buah-buahan. Asinan adalah salah satu hidangan khas seni kuliner Indonesia. Istilah asin mengacu kepada proses pengawetan dengan merendam buah atau sayur dalam larutan campuran air dan garam. Asinan sangat mirip dengan rujak, perbedaan utamanya antara lain bahan rujak disajikan segar, sedangkan bahan asinan disajikan dalam keadaan diasinkan atau diacar. Terdapat banyak jenis asinan, akan tetapi yang paling terkenal adalah Asinan Betawi dan Asinan Bogor. 

Asinan Betawi: Asinan sayuran orang Betawi dari Jakarta. Berbagai jenis sayuran yang diasinkan dan diawetkan sepertio sawi, kubis, taoge, tahu, selada disajian dalam bumbu kacang yang dicampur cuka dan cabai, ditaburi kacang goreng dan krupuk (khususnya krupuk mi). 


Asinan Bogor: Asinan buah-buahan dari kota Bogor, Jawa Barat. Berbagai jenis bua-buahan tropis yang diasinkan atau diacar seperti mangga muda, jambu air, pepaya, kedondong, bengkoang, pala dan nanas disajikan dalam kuah cuka yang asam, manis dan pedas, ditaburi dengan kacang goreng.

Bahan:
  • 300 g bengkuang, potong bentuk korek api
  • 300 g taoge, siangi
  • 200 g mentimun kampung, potong bentuk korek api
  • 200 g wortel, potong bentuk korek api
  • 150 g lokio, siangi
  • 150 g sawi asin, bilas, iris iris
Bumbu:
  1. 1 L air matang
  2. 300 g gula pasir
  3. 100 g ebi, rendam hingga lunak, haluskan
  4. 5 buah cabai merah keriting, haluskan
  5. 1 sdm garam
  6. 2 sdm cuka
  7. Pelengkap:
  8. 150 g kacang tanah, goreng, tiriskan
  9. 2 buah tahu kuning, potong dadu 2 cm
Cara Membuat:
  1. Bumbu: Masak semua bahan bumbu kecuali cuka hingga mendidih dan kental. Angkat. Bila sudah tak panas, tambahkan cuka, aduk rata.
  2. Masukkan bengkuang, taoge, mentimun, wortel, lokio, dan sawi asin ke dalam bumbu. Rendam hingga meresap (± 12 jam).
  3. Sajikan disertai pelengkap.