12 February 2012

AKU SUKA KAMU, DALAM HATI SAJA

jika cinta tak bisa diungkapkan... sampaikan dalam bentuk kasih sayang.



Aku larut dalam sendu. Ketika mendengarmu memainkan musik itu. Menyuarakan rasa kehilanganmu. Aku ikut pilu. Meski sedihmu, bukan karena aku. Bagimu, aku hanyalah pendengar setiamu.
 
Bagaimana bisa, aku merasa bahagia ketika melihatmu menangis. Mungkinkah aku lantas bilang cinta, saat kau baru saja ditinggalkan pacarmu. Pantaskah, aku memintamu semalam saja, tidur di kasurku.

“...ngga apa Ty. Pakai saja kamarku. Aku tidur di sofa...”

Meski rasanya ingin, aku berada di satu tempat yang sama denganmu. Memandangmu ketika kau terlelap. Jika bisa, mengusap keringatmu, karena tak ada AC di kamarku. Lalu, mencuri-curi kesempatan mengecup keningmu.

“...maafin ya Pu. Kamu beneran ngga apa tidur di sofa? Atau...”

Tidur bersama, kuharap kau bilang begitu.

“...atau aku aja yang tidur di sofa?”

Lelaki macam apa aku, jika membiarkanmu tidur di sofa. Jangankan kasur, kau minta jiwaku pasti kuberi. Seharusnya kau tahu, tak ada lelaki yang mau berkorban jika tak cinta. Kuharap kau menyadari, selama ini akulah tempat berpulang bagimu. Akulah sebagai pundak ketika kau ingin bersandar. Akulah dekapan yang paling bisa mengobati sakit hatimu. Kapan pun, kau minta... kuberikan.

“...Pu?”

“...tak perlu. Kamu pakai saja kamarku. Istirahatlah.” 

“...Pu, kau teramat baik padaku. Entah bagaimana aku bisa mengembalikan kebaikanmu itu. Aku ingin selamanya kita berteman. Terus begini, aku menyayangimu Pu.”

“...sebaiknya kamu segera tidur Ty. Besok pagi, masih ada jadwal live kan? Eh, permainan musik kamu tadi... bagus. Aku suka...”

Kamu, dalam hati saja.

11 February 2012

NENEK

Jika kau ingin cintamu tak sia-sia... cintailah mereka yang membutuhkan.

Aku tak tahu, kenapa kau tak ingin pergi dari rumah perempuan tua itu. Bukankah tinggal di rumah kontrakanku jauh lebih enak? Kita bisa bercinta tiap hari, pagi dan malam. Soal makan, pasti terjamin. Tak mungkin kubiarkan kulkas itu kosong mlompong. Kau tak perlu susah payah kerja siang malam, karena aku tak kan memintamu untuk bayar sewa bulanan, asalkan kau mau telanjang setiap kali kuminta, itu saja sudah cukup.
Aku tak tahu, kenapa kau lebih memilih perempuan tua itu ketimbang aku. Aku lebih muda dan menggairahkan. Tubuhku kencang, atletis dan seksi. Belum ada kerut di perut. Meski baru dua puluh dua tahun, aku sangat mahir dalam memuaskan pria. Kau minta gaya apa? Aku layani... Selain itu, usia kita sebaya, jadi kau takkan malu ketika jalan ke mall bersamaku.
Kupikir kau pria dewasa yang membutuhkan sentuhan perempuan seperti aku. Tapi, kenapa kau pilih dia? Kau tahu kan, kita berpacaran. Meski belum pasti ke pelaminan. Kau buat aku seperti perempuan gila yang ingin dicumbu. Sejak jadian, sebulan yang lalu, kau tak pernah mau meniduriku. Kau pikir aku malaikat?
Kenapa kau lebih memilih tidur dengannya, bukan denganku? Dia itu nenekku.
“...karena tak ada lagi yang mau menyayangi nenekmu. Dan kau, bisa dapatkan pria manapun yang ingin kau tiduri...”

CIUMAN YANG TERTUNDA

Cinta yang tulus, hanya diberikan pada seorang saja.

Masih kucari-cari alasan untuk berkunjung ke rumahmu. Kembalikan buku, pinjam CD, kebetulan lewat, atau mau sharing soal kerjaan? Sepertinya tak mudah untuk bertemu, meski hati sudah menggebu. Aku hanya tak ingin dibilang pengganggu rumah tangga orang.
Mencintaimu seperti bernafas. Biasa tapi bermakna. Kau memang tak istimewa, namun tak berkesudahan. Lagi dan lagi. Terus dan terus.
Kau seperti coklat. Tak cukup hanya sekali gigit. Meski sedikit pahit, tapi kau teramat nikmat. Sampai aku lupa diri, kau sudah menjadi istri orang lain. Kenapa waktuku singkat. Bisakah kita mulai lagi, tujuh tahun yang lalu.
Kau menarik perhatianku. Lalu kukagumi kesederhanaanmu. Kau semakin mempesona. Aku terpikat. Terikat. Tapi aku terlambat. Kuberharap ada orang lain sepertimu. Tapi Tuhan tak pernah menciptakan dua, hanya satu. Yaitu kamu.
Pagi itu, hari Minggu, sudah kutemukan alasan untuk datang padamu. Sudah habis akalku. Kubilang, kurindu lantas ingin bertemu, jika boleh memeluk dan mencumbu. Karena katamu saat kutelepon, “suamiku berangkat dinas ke Aceh.”
Sudah kusiapkan pengampunan atas dosa yang akan kulakukan denganmu. Berkali-kali kupanjatkan syukur pada Tuhan, untuk kesempatan bercinta itu.
Diujung pintu kau tersenyum, kutahu kau tak sabar menantiku. Demikian denganku. Tanpa ragu, kucium kau dimuka rumahmu. Tapi belum lama kita bercumbu, kuharus melepaskanmu. Dan seketika aku menjadi pria bajingan. Mencuri bibir indah istri orang.
“Papa...?” kau terhenyak melihat suamimu berdiri di belakangku.
“Aku lupa belum menciummu pagi ini. Firasatku buruk, kupikir akan mati di medan perang. Jadi, aku kembali ingin menciummu untuk yang terakhir kali.”

ISTRIKU PELACUR

Dibutuhkan ke-ikhlasan dalam sebuah jalinan kasih, tak cukup hanya cinta dan materi. 
 
Mendung sudah datang, namun kau belum pulang. Tak penting kau dengan siapa, kuingin kau jawab teleponku, dan bicara. Aku tak kan menghubungimu lagi. Ini yang terakhir kali. Dan setelahnya, aku akan pergi. Janji.
Barangkali kau benar. Aku perempuan liar. Tak punya moral. Tapi kita pernah bersama. Seranjang berdua, dan bercinta. Meski tak pernah lahir jabang bayi, kita adalah keluarga. Dikawinkan oleh KUA. Dicatat oleh negara.
Bisakah kau berhenti menyebutku pelacur? Memang, aku sang penghibur. Tapi itu dulu, sebelum bertemu cintamu. Jika saja bisa kulepas baju pelacur yang melekat di tubuhku, kan kulakukan untukmu.
Kuingin kau memaafkan, sebelum kita benar-benar berpisah, dan tak lagi menyapa. Maaf, karena kau dapatkan tubuhku yang kotor. Maaf untuk masakan nikmat yang tak pernah kubuat, semuanya kubeli dari kedai terdekat.
Hujan sudah datang, akhirnya kau pulang. Aku jadi bimbang, mau berkata apa.
“Maaf. Aku pergi sekarang.”
“Tak usah pergi, diluar hujan deras. Aku tak kan menyebutmu pelacur lagi. Kau, istriku!”

08 February 2012

LEBIH BAIK DIAM?

berikan sepuluh menit padaku, untuk mencerna setiap kejadian itu. bagaimana pun, aku manusia. yang kadang ingin menangis meski diam-diam kulakukan di kamar mandi. yang sering ingin didengar dan dihargai. dan selalu menjadi tak berarti bagimu.
silakan mencaci, jika kau benci. silakan ber-opini, tapi tolong saling menghargai.
dengarkan alasanku, baru setelahnya kau boleh putuskan seperti apa aku?
-Banyak hal yang mungkin tak pernah kita tahu (dan itu penting), sebelum mendengar langsung dari lawan bicara. jangan mudah berprasangka-

(sebuah cerita untuk si 'Penguasa')