28 January 2010

SANG GURU



malam itu, lepas pukul delapan malam, kami melaju ke arah jalan merak. memburu rica-rica guk guk, pesanan famili dari Banyuwangi. melewati jalan arwana, tak sengaja melihatnya, Pak Sumawan.

saya menyebutnya sang guru.

kala itu, saya masih kelas satu SMA ketika pertama berjumpa dengannya. guru baru di sekolah saya. mengajar Bahasa Indonesia. badannya besar, wajahnya mirip tetangga saya bernama Pak Asmara, penjual nasi rendang, asli Padang Sumatera Barat.

saya ragu dia sang guru.

setiap mengajar di kelas, tak pernah menyentuh buku diktat. tak juga membahas sesuai mata pelajaran. namun tugas mengerjakan LKS, tak pernah berhenti. Pak Sumawan, tak serapi guru-guru yang lain. saya pun menerka bahwa baju yang dia kenakan jarang di setrika. jangan-jangan... sudah seminggu belum dicuci? wajahnya kusut. saya jadi badmood.

apakah benar dia sang guru?

namun saya kini tertarik padanya. mengingat apa yang telah diujarkannya dulu. ketika dia tak membahas peribahasa dan istilah-istilah dalam kamus bahasa indonesia, tapi selalu filosofi hidup yang dilontarkan.

dia memang sang guru.

saya melihatnya sendiri. dia sedang menata tumpukan kayu kering, di tokonya di Jalan Arwana. tokonya semakin besar, tak seperti dulu pertama kali saya ke rumahnya untuk mengikuti tambahan pelajaran Bahasa Indonesia, sumpek. kini semakin sumpek, dipenuhi barang dagangan. dia sukses rupanya. tapi raut wajahnya masih sama seperti dulu. karena sang guru, tak perlu baju baru, tapi perlu ditiru. hidup sederhana, saya suka gayamu Pak Sumawan!

22 January 2010

PAK SUNAR TIYANG ALIT


Panjenengan niki Pak Sunar?


Nami kulo Sunar. Kulo niki tiyang alit mas. Mboten ngertos napa-napa. Lor kidule negoro niki nggih kulo mboten mangertos. Asmane pak presiden niku mawon ngertose nggih saking kanca ingkang makempal dateng warung yu gemak.


Enjing, kulo ngrencangi Bu Lurah. Jan jane nek mboten wonten kulo nggih Bu Luah mboten kerepotan. Wong kulo namung mirengne Bu Lurah nembang. Piyambake namung nyuwun direncangi. Kulo nggih mung meneng cep, mboten mangsuli napa-napa.


Radi siang kulo diutus maem. Lawuhe nggih reno-reno. Kadang mung sambel tempe. Kadang kala nggih dilawuhi pitik jawa. Kulo syukuri mawon, sedoyo niku. Lha nek enjing, kulo mung sarapan sego tiwul kiriman Dik Ragil. Adik kulo ingkang paling alit. Nggih sami kerenipun, namung adik kulo niku pangerten. Sak wontene dibagi.


Dalune mboten mesti. Kadang madang, kadang mboten. Njagakne mas Pri bakul gedhang godog. Niku nggih mboten tumbas, mung diparingi. Jian, tiyang tiyang niku sae sedoyo kalih kulo.


Putro kulo sampun dados tiyang ageng. Byuh, kulo senenge ora kaprah. Putro namung setunggal. sak niki urip kaliyan bojo lan anak-anake. Rejeki tumplek blek. Nyambut damele mung mbelo tiyang alit ngonten kok. Tapi artone sak pirang-pirang. Lha niku, toko bahan bangunan ngajeng peken niku, ingkang gadah putro kulo.


Garwane dateng pundi-pundi mbeto sedan, yen ditumpaki rasane empuk lan adem. Putrane nomer setunggal pinter merakit. Kulo mboten ngertos merakit napa. Angsale ngilmu saking negeri jiran. Negeri ingkang tebih niko lho, kulo dereng mangertos manggene negeri jiran, si Abdul sanjang yen dateng negeri jiran, katah tiyang pinter, nggih salah sawijine putu kulo si abdul niku.


Putu kulo ingkang alit, namine Rahmat. Taun wingi tamat sekolah. Mboten ngertos sak niki pripun kabare. Mugi-mugi mawon sae sedoyo. Pun setahun niki kulo mboten kepanggih putro, mantu lan putu. Tirose para tanggi, fotone si Abdul dipajang ing koran. Kulo nggih mung mbatin, paling si Abdul angsal kapercayan kaliyan pemerintah, amargi si Abdul niku pintere mboten gemen-gemen.


Tapi, Bu Lurah sanjang yen Abdul niku teroris. Teroris niku nopo kulo nggih mboten radi paham. Wong Bu Lurah niku senengane nembang, kulo kinten niku mung guyonan kemawon.


Bapak mboten natos mirengne berita wonten TV?


Nggih mboten to mas. Pun setaun kepungkur, mripat kulo mboten saget mirsani. Tirose pak dokter, mbetahne arto katah menawi pengen mari. Lha tiyang alit kados kulo niki, angsal arto saking pundi? Mangan lawuh sambel tempe mawon pun sae sanget.

Jan jane kulo nggih kangen kalih putro. Nanging kulo bingung, pripun carane kulo kepanggih. Biasanipun wonten tiyang utusane putro, ingkang mriki ngirimi arto kaliyan beras cap mentik. Ket setaun niko, mboten mriki malih tiyangipun. Kulo entos-entosi. Kulo arep-arepi.


Dados Pak Sunar leres mboten ngertos nek cucu lan putra bapak niku teroris?


Mboten mas. Nuwun sewu nggih mas, teroris niku nopo to?


Teroris niku tiyang ingkang pinter ngrakit pak. Ngilmu tebih dateng negeri jiran. Sami persis ingkang dicritakne putu panjenengen.

21 January 2010

TAKUT



pernah menonton film Apocalypto? kalau belum, tak mengapa. saya juga tak akan memaksa Anda untuk melihatnya. namun saya akan sedikit berbagi tentang sebuah kalimat yang saya temukan dalam dialog film tersebut.
yaitu tentang sebuah rasa takut. saya baru tahu bahwa 'takut' adalah sebuah penyakit. ini hanyalah filosofi dari sang tokoh ayah yang dilontarkan kepada putranya. tapi, filosofi tersebut memberi makna luar biasa bagi saya.
rasa takut membuat hati menjadi tidak damai. itu benar. sementara dalam hidup ini, apa yang Anda cari? kedamaian bukan? jadi biasakanlah dari sekarang untuk merasa tidak takut. jika kita membiarkan takut menyelimuti hati, maka tak kan ada damai.
thanks to Mel Gibson, produser film Apocalyto. Anda unik dan menarik. terima kasih suami saya, yang telah memberi referensi tentang film ini. dan Anda, terima kasih telah membaca review ini.

18 January 2010

REVIEW : PUTIH ABU ABU DAN SEPATU KETS



empat film telah terpilih. Putih Abu Abu & Sepatu Kets, State of Play, Apocalypto, dan The Proposal. 1 film Indonesia, dan ketiganya luar. saya tak banyak mengomentari film luar. buat apa? memuji film yang jelas sudah bagus! kini, saya hanya mempertimbangkan untuk menuangkan kritikan pada "Putih Abu Abu & Sepatu Kets".
film ini biasa dan standar. dari alur cerita, mudah ditebak. karakter tokoh meniru AADC yang dibintangi 4 sekawan, dipelopori Dian Sastro Wardoyo. actor dan actress-nya didominasi oleh muka baru.
menurut saya, film ini kurang berani. tidak mau mengambil resiko dengan lembaga sensor film. ngomong-ngomong, lembaga SFI masih ada nggak sih?
jika film-film remaja lainnya saling berlomba menonjolkan sex atau kisah percintaan santri semacam Ayat-Ayat Cinta atau Ketika Cinta Bertasbih... yang satu ini justri sebaliknya. munafik banget!

sangat tidak masuk akal jika seorang remaja putri mendapatkan mens pertamanya usia SMA. percaya atau tidak... saya, seorang yang kuper ini mens pertama SMP kelas 2, ketika pelajaran PPKn. teman saya Novi, mens pertama kelas 4 SD, itu terjadi sekitar tahun 1994. jadi, sangatlah aneh jika zaman modern seperti sekarang ini, ada yang mens pertama semasa SMA. tidakkah mereka tumbuh dengan subur, sesubur siraman film-film porno.
saya sempat menebak jika film ini didanai oleh BKKBN (Badan Kesehatan Keluarga Berencana Nasional, kalau tidak salah itu kepanjangannya...). kenapa demikian? karena dari awal hingga akhir, film ini mempresentasikan "mana yang baik" dan "mana yang buruk" dengan sangat jujur!
tidakkah pembuat film ini punya imajinasi yang lebih jauuuh? saya jadi ingat dengan perkataan suami saya, "orang Indonesia tak mampu membebaskan imajinasinya...sebebas-bebasnya... seperti film maker dari luar!"
ya iyalaaahhh...tak mampu bebas berimajinasi. apa-apa diharamkan. dikit-dikit difatwakan. ini itu diundang-undangkan.

kabar baiknya dari film ini, saya suka dengan acting dari pendatang baru, Michella Putri. meski disini Amira Bachsin juga muncul, namun saya akui dia kalah dengan mempesona dengan acting Michella Putri yang mampu memerankan karakternya dengan bagus. perkiraan saya, dua atau tiga tahun lagi, dia mampu menjadi actress sekelas Dian Sastro, jika terus berlatih tentunya.

07 January 2010

IBU HURUF


Masihkan Anda ingat dengan sebuah kalimat “…tak usah kau bersusah payah memperindah cinta. biarkan cinta itu mempercantik dirinya sendiri, karena sesungguhnya cinta yang tulus akan selalu terlihat indah.”

Kalau anda pernah nonton film ’Brownies’ yang diperankan Marcella Zalianty dan Bucek Deep, Anda akan menemukan kalimat tersebut dalam sebuah adegan di toko buku milik Are (diperankan Bucek Deep).

Hingga kini, kalimat tersebut masih tertanam dalam ingatan dan senantiasa saya susupkan dalam kehidupan nyata ini. Termasuk setiap kali menulis. Saya hanya berusaha menulis dengan ikhlas dan jujur, seperti halnya cinta, tulisan-tulisan tersebut mampu menebarkan indahnya sendiri tanpa bantuan dari saya. Mungkin jika bisa berkata, mereka akan bilang, ”lahirkanlah saja aku, berikan cukup ruang...untukku.”

Pada akhirnya saya memahami, bahwa huruf-huruf ini lebih pintar dari saya. Lebih hebat dan mempesona ketimbang saya. Tapi mereka bukan apa-apa jika tak dilahirkan. Sudikah Anda memberi kesempatan huruf-huruf ini bernafas, layaknya bayi yang terlahir lewat keberanian Anda dalam menulis? Karena kita adalah Ibu Huruf.



05 January 2010

SURAT UNTUK KAWAN


Aku pernah begitu,

Sama seperti yang kau rasakan.

Dunia yang beku, tak ber-spasi hingga kau rasa sesak,

Di setiap titik yang kau pijak.

Lalu, selanjutnya, berikutnya, kemudian dan setelah itu...?

Kau terus mencari kelanjutan dari kisah tak berkesudahan.

Pikirmu, dengan mengurai tali sepanjang yang kau bisa,

Akan membuat cerita ini berkelana terus dan menerus...

Setelah kau sampai di sudut yang kau cipta,

Ternyata tak kau dapatkan apa-apa.

Karena, kau memang tak melakukan apa-apa,

kau hanya membias, tak berpindah,

kembalinya dirimu pada titik awal.

Kau hanya jenuh, bukan tolol,

seperti yang kau sangkakan padamu sendiri.



03 January 2010

BAKPIA PATOK, GEPLAK DAN CERITA




saya baru saja pulang dari Yogyakarta. tak banyak oleh-oleh yang saya bawa, hanya : dua kotak bakpia patok rasa keju & kacang ijo, satu besek kecil berisi setengah kilo geplak warna warni, dan cerita ini...

STORY

secara mendadak kami berniat untuk ke Yogyakarta. pukul 09.52 WIB meninggalkan stasiun Madiun, menggunakan kereta Sancaka kereta 1, sheet 1 dan 7. sedih...iya, karena saya tidak bisa duduk di sebelah suami. tapi ya sudahlah, kami berlibur untuk bersenang-senang dan menghilangkan penat.

tiba di stasiun Tugu pukul 12.20 WIB sesuai jadwal kereta. kami berjalan kaki menuju warung makan di sekitar Malioboro. Ramai, karena saat ini adalah musim libur akhir tahun.

perjalanan berlanjut menuju hotel. kami sudah menentukan pilihan di Hotel Pulung, selain lokasinya asri karena banyak pepohonan, juga tarifnya lebih terjangkau dibanding hotel lain. kami sudah berdiskusi sejak dari dalam taksi, hingga sampai di muka resepsionis, dan "Maaf Bu, sudah penuh."

TENTANG HOTEL

oke, kami mulai melanjutkan pencarian. seorang tukang becak menawarkan jasa, "cuma 2 ribu mbak, saya antar sampai dapat hotel." deal. kami naik becak dan mulai berkeliling dari hotel satu ke hotel lainnya. dan Hotel Unik menjadi pilihan terakhir. tarifnya 200 ribu/malam. fasilitas yang disediakan :
1. kamar bersih (kasur, lantai, dinding & kamar mandi). ini penting! karena beberapa hotel lain yang kami survey, bed-nya kotor, ada bercak noda, dan sepreinya warna putih...duh, jadi membayangkan rumah sakit deh :( makanya saya pilih Hotel Unik, karena sepreinya gambar buah-buahan pink, segar...
2. material bangunan yang digunakan adalah wood, didominasi warna hijau. sesuai dengan nama hotelnya, tempat ini memang unik. disetiap sudut ruangan terdapat lukisan, indah. bufet ukiran dengan riasan kuningan bertuliskan huruf kanji menghiasi ruang tamu yang disediakan untuk bersantai.
3. panorama standar namun berkesan. ketika pintu kamar hotel kami terbuka, pemandangan gunung merapi nampak jelas di hadapan.
4. ada TV, AC, sarapan pagi berupa jajanan : Kue Ku, Pastel, Arem Arem dan Teh Hangat. begitu kami sampai di hotel, 2 cangkir kopi pekat tersaji di meja.

JALAN & JALAN

sabtu, 2 Januari 2010 kami tiba di Yogyakarta. besoknya saya dan suami pergi ke pameran lukisan. begitu kata Albert, seorang teman yang membuat saya akhirnya berdecak kagum, "oh..."

1. BIENNALE JOGJA X - 2009. begitu yang tertera di selebaran yang saya dapatkan ketika memasuki gedung samping Kantor Pos. saya sampai sekarang belum tahu, "apa nama gedung tersebut?" dan baru tahu setelah sampai di Madiun, iseng-iseng membaca selebaran tadi, 'Jogja National Museum'. dalam acara pameran ini, terdapat banyak karya : lukisan, kriya, ide kreatif, dan benda-benda kuno yang berlabel 'punya nilai seni tinggi'. yang menarik dari pameran ini, penataan. sejujurnya saya tak paham betul dengan apa yang terpajang, namun saya mencoba mengimajinasikan sangat jauh tentang media yang digunakan untuk memajang 'sang maha karya' tersebut. modern, saya menilainya. tak banyak orang yang datang ke sana. hanya beberapa, dan itu pun digunakan untuk foto-foto, seakan benda unik tersebut teman berfoto yang selalu asyik untuk sebuah momen. imajinasi saya sudah sampai pada kalkulasi, nilai, dan rupiah! "berapa lembar uang yang kau butuhkan untuk menciptakan ini semua?" itu pertanyaan pertama saya, jika bertemu dengan yang mencipta acara ini. pertanyaan kedua : "mengapa kau mau mengeluarkan uang sebanyak itu?" dan saya tahu jawabannya : karena 'seni agawe santosa' ya...begitu, seperti yang tertera di buletin SURAT VOLUME 36, seharga 5 ribu rupiah yang saya beli ketika meninggalkan gedung ber-cat putih itu.

2. MUSEUM AFFANDI
setelah mendapatkan pinjaman motor dari Made, saya & suami melaju ke Jl. Laksda Adisucipto 167 Yogyakarta. sudah lama, saya ingin pergi ke tempat ini. meski saya bukan seorang pelukis, atau punya bakat melukis, niat saya hanya satu : ingin tahu. niat menggebu ini melebihi bakat seorang pelukis sekalipun! tiket masuk 20 ribu, free softdrink & souvenir berupa pensil ber-sablon 'Museum Affandi' dan di ujungnya terdapat miniatur kepala orang Jawa. terdapat 4 galeri di museum ini :
Galeri 1 : memuat lukisan & barang peninggalan Affandi
Galeri 2 : terdapat beberapa lukisan dari seorang bernama Didit, saya tak mau sok tahu, tapi saya berusaha menerka, bahwa Didit adalah putra atau anak didik Affandi. kebenarannya? saya tidak tahu.
Galeri 3 : khusus menampilkan karya berupa sulaman. dibingkai. mayoritas adalah karya Maryati, sang istri (barangkali, ouh... saya sungguh tak kenal akrab dengan keluarga Affandi)
Galeri 4 : bernama Studio Gajah Wong. letaknya berdekatan dengan sungai Gajah Wong. beberapa lukisan dari anak-anak SD dan TK sekitar Yogyakarta terpampang di dinding. barangkali disini pernah diadakan lomba atau semacam kompetisi dengan tema Affandi, karena hampir seluruh peserta melukis gambar Affandi dari sudut pandang yang berbeda-beda, menggemaskan.

beberapa lukisan dan benda pahatan di Galeri 2 dan 3 adalah dijual, berkisar 25 juta rupiah. setelah berkeliling, santai dulu di Cafe Loteng, minum soft drink gratis. beberapa merchandise all 'bout Affandi dijajakan disana : t-shirt 60 ribu, mug 15 ribu, dan banyak lainnya.

menyenangkan memang, bisa datang dan melihat langsung lukisan Affandi. terima kasih untuk suami tercinta, Nofak Mylia. dan Albert, Citra, Made : maaf, saya melewatkan 'Bintang Beer Party'. spesial Made : tanpa motor yang kau pinjamkan, mungkin musnah keinginan saya datang ke museum Affandi.

semoga oleh-oleh ini bermanfaat.