04 March 2010

SURAT PENTING UNTUK SANG PEMIMPIN


Hari ini saya berbincang dengan teman kerja, tentang kepemimpinan seseorang. Seorang pemimpin tentunya, namun skalanya masih kecil. Dia hanya memimpin 4 orang.
Ceritanya, dia seorang pimpinan yang friendly, tak mau dianggap menakutkan bagi anak buahnya. Berjuang semampunya untuk membela anak buah. Hingga kadang, rela melakukan tugas yang seharusnya dikerjakan anak buah. Namun di sisi lain, dia adalah seorang penurut di hadapan bos besar (owner).
Suatu hari terjadi masalah yang akhirnya menunjukkan jati dirinya kepada kami, anak buah. Bahwa sesungguhnya, dia hanyalah seorang yang bermuka dua. Tak ingin dibenci anak buah, tapi teramat tunduk pada bos besar.
Sungguh susah menjadi pimpinan. Andai saja, pimpinan saya mau berbagi, sesungguhnya, yang kami harapkan bukanlah belaan darinya. Kami ingin kebijakan yang benar. Kesepakatan yang deal antara bos besar, pimpinan, dan anak buah. Kami tak pernah benci pada pimpinan yang kadang galak. Saya menghargai apapun yang dia kerjakan, karena saya paham dia adalah seorang pimpinan yang punya tanggung jawab lebih besar ketimbang saya, yang hanya anak buah.

02 March 2010

RUMAH KECIL DALAM HATI



Siapakah orang terdekat pemilik hatimu?

Sahabat? Pacar? Suami? Anak-anak? Diary? Binatang Piaraan? Selingkuhan? Saudara? Pembantu? Sopir? Sebutkan...

Bagi saya, ibu tak tergantikan. Dulunya, sempat saya mengira, setelah menikah nanti, posisi ibu akan tergantikan oleh kehadiran suami. Ternyata tidak. Tak ada yang perlu digantikan. Karena ibu sudah membangun rumahnya sendiri dalam bilik kecil di jantung hati.

“ketika saya sakit batuk, badan meriang, dan kepala sebentar sebentar pusing... spontan saya merintih ‘buuukkk...’ lantas rasa sakit sedikit berkurang.”

Lalu, “saya pun membayangkan ibu datang membawakan semangkuk bubur ayam dan teh hangat. Memijat kaki saya dengan minyak kayu putih.”

Keesokannya, “saya lumayan membaik, walau hanya memimpikan ibu datang.”

Sedingin apapun hati ibumu, selalu ada cinta yang tak terputus. Karena ibu akan kembali pulang kerumah, di dalam bilik kecil, di jantung hatimu.



PENUMPULAN DIRI


Soal aktivitas, bagi saya tak ada bedanya antara dulu dan sekarang. Selalu menyita waktu. Sejak sekolah saja, berangkat pagi pulang malam sudah biasa. Banyak kegiatan ekskul yang saya ikuti. Jadi, tak heran jika pulang malam. Lalu kuliah, apalagi. Saya nyambi kerja, jadi sudah pasti jarang di rumah. Lantas, lulus kuliah pun, saya mendapatkan dobel job. Sebenarnya bukan ini yang saya kejar, namun tuntutan yang menantang. Semuanya saya lakoni dengan setengah mengeluh ‘lelah’. Ingin suatu hari, menikmati libur yang panjang. Kini, setelah menikah pun, kerja ‘panjang waktu’ masih menghantui. Pagi hari di staff, malamnya on air.

Hari ini saya bertanya pada diri saya sendiri. “Mengapa kau selalu tak bisa menghindar dari dobel job?” “sampai kapan kau terus merelakan waktu istirahatmu untuk tantangan – tantangan itu?”

STOP! Saya harus berhenti sekarang. “maksudnya?”

Berhenti tampil cerdas. Berhenti menjadi multi talenta seperti yang diagung-agungkan ibuk. Menumpulkan diri sendiri, demi waktu istirahat itu. Ya, saya harus!