30 November 2013

ES KRIM PERTAMA

kapan terakhir kali kau makan es krim magnum?
waktu putus sama pacar? waktu pulang les, lalu mampir beli sambil nongkrong sama teman-teman? atau pas iseng aja ngga ada kerjaan, dan pengen banget makan es krim?




dari sini saya bisa melihat jelas sengatan sinar matahari melalui celah yang tak sempit. menabur seperti bintang di malam hari. menembus barisan dinding bambu yang sudah tak rapi. dan tumpukan debu yang menempel, menambah haru sekaligus pilu. disitu dua bocah tumbuh mengenal hidup yang sering redup. Muryani dan Yusuf, mereka kakak beradik. Muryani, SMP. Yusuf, SD. 

Siang itu saya menjemput Muryani dan Yusuf dari sekolah, lalu mengantarnya pulang sebentar untuk ganti baju, dan pergi lagi mengajak mereka jalan-jalan ke mall. seorang donatur yang baik hati, mempercayakan pada saya untuk membelikan keperluan sekolah dan beberapa baju bagus untuk mereka. setelah lelah keliling mall, saya mengajak Muryani dan Yusuf mampir ke swalayan, "Yuk beli es krim..." Ajakan saya disambut senyum ceria dua bocah ini.

"Kapan terakhir kali kalian makan es krim magnum?"
"Ini yang pertama kalinya mbak..." jawab mereka kompak.

Saya melongo, sementara Muryani dan Yusuf sedang asyik menjilat magnum.




YANG TERBUANG

Saya patut malu pada diri sendiri. Melihat rumah yang hampir roboh. Dinding yang lobang dimana-mana. Perabot makan yang hanya sekadarnya. Perapian yang tertata dari bata dan kayu ranting-ranting depan rumah. 



Saya tak pantas bersedih hanya perkara ingin sepatu baru dan tak diijinkan membelinya sama suami. Tak dibolehkan beli tas merek luar meski kw. Dan selalu dilarang belanja barang-barang tak penting yang bagi saya bisa menyenangkan hati perempuan dikala galau.


Saya wajib bersyukur, ketika melihat kondisi rumah orang-orang terbuang yang makannya pun kadang-kadang. Disana saya bertemu seorang ayah dan tiga anak-anaknya yang masih sekolah dasar dan sekolah menengah pertama. "Kami hidup dari uang ngamen" lalu Bapak itu, Pak Sudiro, menyanyikan sebuah lagu bersama anak-anaknya...


kucoba bertahan mendampingi dirimu...
walau kadangkala tak seiring ceria
kucari dan selalu kucari jalan terbaik
agar tiada penyesalan dan air mata
(Pance Pondaag)

Kau tahu, hidupmu luar biasa!

28 November 2013

INGIN LUPA, ITU SAJA!

aku sudah tak sabar untuk segera terkapar di hamparan semak belukar, dibawah matahari dengan tangan telentang dan kulit yang siap terbakar. sejenak ku ingin lupa berapa rupiah yang harus terbayarkan setiap bulan untuk gerai spesialis pencerah kulit, aku hanya ingin bernafas bebas di kala hati sedang terhimpit.

dikitari burung gagak hitam yang sesekali mengakak 'ngaaakkk' seperti nyanyian kesunyian hati tak berpenghuni. 



lalu, aroma tanah basah menyergap, menghidupkan kembali indah bayangmu yang selalu ingin kuhapus, namun kutak bisa menghapus bayang-bayang yang mengawang dalam gelap malam...

masih dibawah langit yang sama, kupejamkan mata. tak ingin semakin lama, aku hanya ingin lupa, itu saja!

27 November 2013

SIANG ITU DI KEDAI KOPI

kemarin siang, saya menyempatkan waktu untuk keluar kantor, meski bukan jam istirahat. sudah jam satu siang lebih. berawal dari chat di wassap (bahasa gaulnya gitu). seorang teman saya, ingin ditemani ngopi. dia butuh seseorang untuk mendengarkannya. "Oke, jemput aku di kantor ya..."

tak lama kemudian, sekitar lima belas menitan, teman saya datang. seperti biasanya, dengan setelan baju favoritnya, hotpants dan t-shirt. mukanya nampak sendu. lalu kami melaju ke sebuah warung kopi depan stasiun. ini pertama kalinya kami ngopi disini. lumayan sepi siang itu.

tak butuh banyak waktu, dia mulai bercerita. masih kisah yang sama. ini soal perasaan perempuan. hati yang tak bisa dikelabui oleh suasana suka. kemudian dilanjutkan dengan menetesnya air mata. dia, perempuan yang biasanya terlihat kuat, bisa juga bersedih hingga menangis.

kubiarkan dia menangis. seperti secara pelan, kesedihannya merembes keluar melalui celah mata sipitnya. "Kamu pasti bisa melewatinya, hidup ini memang penuh tantangan..." rayuku setelah sekian menit aku terdiam ikut larut dalam kesedihannya.

tegukan kopi terakhir, dia sudah mulai nampak lega, terlihat dari senyum dan tawanya. dia, hanya butuh waktu, secangkir kopi, dan telinga yang mau mendengarnya.

'kau pun akan mengalaminya sep...' batin saya.


24 November 2013

IMPIAN DALAM MIMPI

Berikan padaku seribu menit, kan kusulam wajah indahmu dalam desisan angin malam. Kubangun kuil melebihi tingginya anganmu tentang romantika, menjangkau langit-langit impianmu. Dalam hitungan kalkulasi yang akurat, kumampu taklukan prajurit-prajurit dari penjuru mata angin untuk tunduk padamu.


Lumpuhkan segala titik nadiku, dan biarkan aku terjerat dalam pelatuk sekarat, kusanggupi jika itu bisa bangunkan kembali rumah cintamu yang mulai sunyi tak berpenghuni. Terlampau lama kau mengelana, mengejar mimpi yang hampir mati.

"Bangunlah permaisuriku" sebuah cincin emas tersemat dalam jari manis, semanis mimpi di siang bolong.

23 November 2013

PERAHU ABU DAN AIR DALAM BEJANA

Lepaslah... Lepas.

Perahu abu itu telah lepas dari genggam tangan, mengurai dan mencumbu dinginnya air keran yang tersimpan semalaman.

Perahu abu sendiri, bersandar pada air dalam bejana seng penuh karat, dalam malam pekat yang sudah lama menambat seperti nyanyian sunyi penyair dengan tempo yang lambat.


"Inikah sebuah takdir atau kebetulankah?" Perahu abu meluruhkan dukanya ketika malam beranjak lepas dan dingin semakin sunyi.

"Teramat cepat jika kau tanyakan, untuk apa kita dipertemukan" Dalam keheningan berkabut duka, air dalam bejana masih terasa dingin dan semakin menjerat setiap nadi yang menyentuhnya.

Dia dan dia, perahu abu dan air dalam bejana, membeku dalam malam sunyi yang tanpa mereka tahu, "kenapa kita dipertemukan?"

Lepaskan... Lepas!!

22 November 2013

HAI WANITAKU

Hai wanitaku, kau tak pernah tahu betapa aku sangat tersiksa, melihatmu kembali bahagia dipelukan kekasihmu, ya kekasihmu yang dulu katamu pernah mencampakkanmu, kekasihmu yang dulu selalu menyakitimu, kekasihmu yang tak pernah mengerti apa maumu.



Hai wanitaku, bicaralah padaku jika kau telah memilihnya kembali dan ingin melepaskanku, katakanlah jika kau ingin aku berhenti disini dan tak boleh lagi memandangimu, jangan kau diam dan tak bicara lagi padaku, kau menyiksaku wanitaku.

Hai wanitaku, kuharus menyeka luka, ini makin menganga. Jangan lagi kau torehkan sakit, rasanya makin menggigit, persis ketika kau mintaku untuk memberimu perhatian sedikit. Aku tak bisa mencintaimu jika hanya sejimpit, kumau banyak!

Hai wanitaku, kau harus tahu jika kumencumbu wanita lain, itu bukan untuk menyakitimu, bukan untuk melukaimu, bukan semata-mata ingin membuatmu tersayat. Inilah caraku untuk melupakanmu.

17 November 2013

ADA YANG INGIN AKU SAMPAIKAN

Ada yang ingin aku sampaikan, padamu yang berdiri disana. Yang hanya tahu bahwa kita telah selesai. Yang hanya sebentar saja dalam kebersamaan.

Ada yang ingin aku sampaikan, padamu sepucuk rindu yang berkejar-kejaran di ujung penantian. Yang kutahu ini melebihi rasa penasaran apa saja. Ini bukan sekedar kangen seperti lagu-lagu kasmaran.


Ada yang ingin aku sampaikan, padamu butiran debu yang menempel di dinding hati. Yang sulit untuk kubersihkan. Yang tak mudah seperti orang meludah. Ini deburan pasir yang pernah tertiup angin tepi pantai melekat dalam pekatnya sebuah kisah.

Ada yang ingin aku sampaikan, padamu. Aku sulit melupa.

01 November 2013

NAK, LIHATLAH!

Nak, lihatlah laut biru bersambut ombak mengepul berpadu putih itu. Tidakkah kau menemukan keelokan dalam setiap koyak tariannya?


Jangan kau takut akan tersesat dalam pelukan ombak itu.

Lihatlah birunya nak, anggun menenangkan.
Ciumlah aroma laut yang dihuyung angin tepian bibir pantai.

Nak, lihatlah rombongan air yang mengelana sejak comberan depan rumah kita, membawa setiap kenangan susah dan suka yang berujung di laut berombak itu. 


Tak perlu kau takutkan akan dibawa kemana jika kau bersama ombak putih mengepul itu. Dia adalah seruan perintah Tuhanmu yang akan membawamu pada kebaikan, dibalik segala rintangan dan tamparan kehidupan.