27 January 2014

KOMPOSISI CERDAS : HUTAN JATI, KOPI, DAN PEPENG

Saya masih bingung, ketika seorang teman bilang, "ah kopi dieng itu enteng, kurang menantang. Itu biasa" 





Malam itu saya terbawa menuju sebuah kedai kopi yang berada di tengah hutan jati. Kedai itu bernama Klinik Kopi. Ketika masuk, saya langsung ingat pada sebuah buku karya Dee Dewi Lestari 'Filosofi Kopi'.


Pemilik kedai Klinik Kopi, bernama Pepeng menyambut kami dengan hangat, sehangat senyumnya pada setiap pelanggan. Dia menjelma seperti seorang pria bernama Ben yang saya kenal dalam perjalanan Filosofi Kopi.


Satu persatu dari kami ditanyai, ingin diracikkan kopi jenis apa, plus story coffee nya. Ah, barista ini memang manis. Saya manggut-manggut melihatnya presentasi jenis kopi, meski yang ada dalam otak saya, "boleh minta pin bb?"


Saya makin suka dengan barista ini, karena dia mengenakan kaos yang istimewa. Kaos dengan design tulisan yang pas dengan isi otak saya. "Petualangan adalah pergi tanpa titik tujuan, membiarkan dirimu tersesat, mencari dan memilih, dan kamu tak tahu kapan harus pulang"










Kemudian giliran saya. Ketika Pepeng menanyakan, "mau kopi apa?" Saya lantas menjawab, "silahkan kamu pilihkan. Saya ingin yang sederhana" Tak lama, secangkir kopi Dieng tersaji. Iya, ini rasanya sederhana, simpel, sesuai angan-angan saya. Berhubung di lantai atas tak diijinkan menyalakan rokok, saya dan teman-teman putuskan untuk membawa kopi ke bawah. Lalu seorang teman menanyai, "Apa kopimu itu?" Saya jawab, "Dieng". Mereka menertawai, dan teman saya bilang, "Ah kopi dieng itu enteng, kurang menantang. Itu biasa"

Saya bingung, apa yang salah dengan kopi Dieng yang hanya sederhana ini? Yang tak sepekat Wamena... Karena menurut saya, kopi itu bukan soal kelas atas, kelas bawah. Bukan soal 'berat' atau 'nikmat'. Bagi saya, kopi itu tentang rasa yang ingin saya capai. Seperti perasaan saya ketika memasuki ruang bertekstur coklat kayu dan kaca-kaca jendela. Seperti ketika pertama kali, saya menemukan barista jelmaan Ben meracik kopi dengan aura yang meluap-luap.




Seperti malam itu, dimana saya merasakan sesuatu yang sederhana : Hutan Jati. Kopi. Pepeng. Tiga komposisi penyetara hati saya dalam sebuah misi Petualangan. 






15 January 2014

HUJAN DAN KENANGAN

Diluar masih hujan. Mood untuk melanjutkan kerjaan juga sudah mulai sirna selepas makan siang tadi. Ternyata mendengarkan rintik hujan memang indah, seindah mengingat kenangan masa lalu. Dan aku ingin kembali ke beberapa tahun lalu, hanya untuk mengingatmu.

Satu yang tak pernah kulupa, saat pertama kali melihatmu, aku tak ingin kau selamanya bergantung pada obat-obatan itu. Kulitmu gelap, berjerawat, dan tak ada cakepnya sama sekali, tapi aku suka. Suka! 

Aku suka melihatmu saat melucu, dengan muka jelekmu. Dan, aku masih penasaran, kenapa aku sangat mencintaimu? Nangis, pas kita sepakat untuk putus. Lalu, berusaha untuk kembali menemuimu, "Jadian lagi yuk!" Kayaknya udah habis lelaki yang bisa menggantikanmu, kau memang terbaik.

Dan kita melewati masa-masa tersulit. Kau berhenti ngobat dan menjadi sehat. Lalu kau punya pekerjaan, kita menabung mempersiapkan masa depan supaya tetap bersama-sama. Ah, ternyata  tak semudah itu ya? Kita tidak berjodoh. Kala itu, aku benar-benar ingin mengumpat dan mengutuk Tuhan. Tapi engga jadi, "Aku ini siapa, kok mau mengutuk Tuhan?" 

Setelah beberapa bulan kita putus dan pasti takkan balikan lagi, seorang teman baikku bilang, "Mantan pacarmu buat aku boleh?"
"What the Fuck?" ~ dalam batin saya
"Eh, silahkan... mungkin kalian berjodoh" ~ yang terucap

Terluka? IYA.

Sudah, saya ngga mau melanjutkan ceritanya. Hujannya sudah reda. 







11 January 2014

SAYA MENYEBUTNYA COFFEE TOUR

Kata siapa twitter hanya sebuah celotehan belaka? Kalau niatnya hanya 'nyampah' ya memang benar, di twitter isinya hanya celoteh aja. Tapi, kalau saya sih, niatnya nambah teman dan simulasi cara berinteraksi yang mengasyikan dengan orang-orang yang baru dikenal atau malahan sudah kenal dekat. 

Ini masih dampak dari kemarin 'Coffee Tour' bersama teman-teman Madiun, Ponorogo, Jogja, dan Bogor. Jika biasanya hanya suka mencaci maki di twitter, kali ini kami saling mengenal, duduk bersama sambil sruput kopi, sampai kembung perut saya!

Om @adiwkf dari Bogor, sedang makan nasipecel Mbak Lina Alun Alun Madiun



Mas Gandi dari Jogja

Ngopi di @WaroengLatte bersama teman-teman #JalurKopi

View Cafe Waroeng Latte

Paris, dari Ponorogo

10 January 2014

AH BINGUNG JUDULNYA APA

Kamu pernah mengira ngga, kalau waktu itu sangat berarti ketika sedang berkumpul dengan teman-temanmu? Inilah alasan saya kenapa harus menahan rasa capek, untuk menyenangkan beberapa teman ketika mereka butuh ditemani. Karena waktu bersama teman adalah sebuah harta berupa kenangan yang nilai investasinya tidak akan menurun. Tak bisa dijual, namun bernilai sangat tinggi. Ini sedikit cerita saya bersama mereka, teman-teman saya.

Pagi jam 2, katanya teman saya akan tiba di Madiun. Kalau dilihat dari fotonya, dia sepertinya sudah berumur, tapi saya tak pernah mempermasalahkan usia. Selama bisa menerima saya, dialah teman. Setelah sampai di Madiun, saya pun mengirim pesan padanya, sekedar iseng menanyakan bagaimana? Dan mengajaknya makan siang. Ternyata teman saya sudah bersama temannya yang juga di Madiun. Lalu, saya bikin janji malamnya makan nasi pecel di Alun Alun Madiun. Rupanya, teman saya suka sekali, karena lauk pauknya yang bervariasi, ada telur dadar, empal, sunduk rempela, sunduk usus, ayam rica, peyek, tempe bacem, macam-macam deh!

Setelah makan nasi pecel, saya mengajaknya ke sebuah kedai kopi di Jalan Serayu, After Hour Coffee. Lagi-lagi menikmatinya. Beberapa jam ngobrol, foto-foto, teman saya lanjut ke Ponorogo. Setelah beberapa hari ngopi di Ponorogo, hari ini teman saya kembali ke Jakarta. Namun sebelum kembali, kami ngopi lagi di Waroeng Latte. Kenapa acara ngopi melulu? Inilah #JalurKopi.

Terimakasih teman saya, @adiwkf 



09 January 2014

HUG

Baiklah, saya mencoba diam ketika beberapa peristiwa datang serentak seperti ribuan pasukan yang siap maju perang. Anggap saja, ini sesi curhat. Sama ketika seorang teman baikmu mengirimkan sebuah text, "Aku pengen curhat, aku ngga kuat"



Ah, itupun pernah saya lakukan ketika masa SMA dulu. Kalau sekarang sudah jarang sepertinya. Semenjak ada blog, saya jadi benar-benar ngga butuh seorang teman pun untuk mendengar. Tapi tidak kali ini, saya butuh pundak untuk bersandar. Sepasang telinga untuk mendengarkan. Dan saya, butuh seseorang mengatakan, "Sabar ya..." Just it.

Saya manusia, yang bisa terluka hatinya. Dan bisa menjadi sangat marah, namun itu saya tahan karena saya ingin berubah. 

04 January 2014

JIKA BUKAN DEMI RUPIAH, BUAT APA SAYA BEGINI?


disini jam 10:38 PM. saya berusaha menahan rasa kantuk, semakin ditahan semakin menumpuk. terkadang saya ingin menolak jika diberi tambahan pekerjaan, mengingat saya punya dua orang anak di rumah yang menanti mamanya untuk sekedar menemani tidurnya. jika bukan demi rupiah, buat apa saya begini?

diluar hujan sudah reda. setelah sejak siang tadi hujan turun tak henti-henti, dan saya terjebak ditengah kerjaan yang tak mau mengalah, sementara keluarga sudah menanti dirumah. saya benci hidup yang begini. tapi, jika bukan demi rupiah, buat apa saya begini?

ingin sekali ini segera berakhir. entah bagaimana caranya untuk menghapus beban yang menekan. masihkah perlu saya bilang, jika saya tak mau begini. jika bukan demi rupiah, buat apa saya begini?

~saya kembali belajar ikhlas~

03 January 2014

TAMU PEREMPUAN

Karena waktu selalu memberi kejutan, pada siapa kita akan dipertemukan. Disuatu malam yang suram, dua perempuan duduk bersama di sebuah kedai kopi angkringan dan saling menyimpan dendam. Mereka sama-sama saling mengumpat, "Bajingan!"


Hujan turun deras di pekarangan, tak terlihat siapapun melintas menghampiri kedai kopi angkringan. Malam makin larut, bikin hati perempuan penjaga kedai kopi itu ikutan kalut. Sejak pagi tadi, belum seorang pun datang untuk ngopi. Padahal setiap hari selalu ada saja pembeli, entah teman sendiri atau langganan pribadi.
“Hari ini sepi”
“Yaudah, closing aja. Gue juga capek”

Wanda, bersama seorang teman barista menata kursi dan meja, mengembalikan asbak dan tissue ke tempat semula. Pintu sudah ditutup, namun terdengar seseorang datang mengetuk. Seorang perempuan cantik dengan jari tangan yang lentik, baju transparan yang memperlihatkan belahan. Perempuan setengah mabuk itu memaksa ingin masuk, mau pesan kopi untuk mengusir rasa kantuk, katanya.
“Tapi kita udah mau tutup, mbak”
“Sebentar saja, bagaimana?”

Setelah cukup lama berdebat, tamu perempuan itu diijinkan masuk dengan syarat. Hanya sebentar dan tak bikin onar, karena dari bau mulutnya, aroma alcohol tersebar. Tamu perempuan itu duduk di kursi tinggi depan meja barista, dan tak disadarinya jika sedari tadi celana dalamnya mengintip dari celah rok mini.
Winda menyodorkan daftar menu kedai kopi, yang sudah disimpannya dalam almari dan terkunci. Sesekali mulutnya menguap, sebuah kode kalau dia sudah ngantuk berat. Sementara tamu perempuan itu, tak mau tahu, malah membuka jaketnya, lalu memesan kopi dan risoles ikan tuna. “Risolnya udah habis mbak”“Yaudah kopinya aja, sama bikinin mie instan, saya lapar”

Pesanan sudah datang, tamu perempuan itu meminta Wanda duduk bersamanya, setengah memaksa, dia ingin bercerita. Tentang seorang lelaki yang tak mau menikahi, tapi selalu menuntut untuk dilayani. Tentang binatang yang selalu girang ketika melihat perempuan telanjang.
“Saya udah pacaran hampir sepuluh tahun, tapi dia ngga mau nikahin saya. Brengsek!”
“Semua lelaki kan kayak gitu, baru tahu?” sahut Wanda. 

Obrolan tentang pernikahan hingga lelaki bajingan, kemudian disusul curhatan tamu perempuan itu, menghipnotis malam menjadi pagi. Wanda, dengan sepasang mata yang sudah lelah, tetap terjaga, menemani tamu perempuannya.  

Sudah jam dua pagi, dan tamu perempuan itu tak mau pergi. Dia masih saja mengumpat kekasihnya yang tak mau menikahinya. Sesekali dia menangis ketika menceritakan kelakuan kekasihnya yang teramat bengis. Menyuruhnya melumat penis, hingga menelan sperma yang kental dan bikin dia mual. Lalu jongkok mirip anjing goblok. Dan sering merasakan sakit ketika payudaranya digigit.
“Pacar saya itu udah kayak binatang! Saya disuruh mangap, dijejali granat hingga muncrat. Ngga boleh dimuntahin, rasanya bacin!”

“Sorry mbak, ini udah jam dua pagi” sambil menunjukkan jam tangannya, Wanda mencoba mengingatkan tamu perempuannya. 
“Masa? Sorry ya… Ngga kerasa, keasikan ngobrol. Oya, kita belum kenalan. Saya Grace”
Wanda mengulurkan tangannya, “Wanda”

Entah lupa atau tak peduli, Grace masih ingin bercerita tentang kekasihnya yang baru saja dipergokinya bercinta dengan seorang perek berbaju ungu, dengan rambut sebahu. Ketika disebuah perjalanan pulang dari hotel dan kekasihnya menghentikan mobil lalu mampir diminimarket, katanya mau beli korek, tapi ternyata malah kenthu sama perek.

“Ini cerita terakhir...” Grace membetulkan roknya yang mini sambil menghabiskan mie instan yang didiamkannya sejak tadi.
“Terakhir kali saya diajak cek in sama pacar saya, kemarin malam, dan saya pura-pura belanja sampe 2 jam. Biar aja dia nunggu sampe jenuh, lalu marah-marah” Lalu Grace menyulut rokok, dan melanjutkan cerita.  
“Pacar saya brenti di minimarket, katanya sih beli korek. Tapi feeling saya dia mau onani. Anjing banget dia! Ternyata di toilet minimarket, dia sama perek, bukan beli korek”

Grace telah menghabiskan mie instan, dan meminta Wanda mengambilkannya air mineral dan nota tagihan. Dilanjutkannya cerita soal si perek yang keluar bersama kekasihnya dari toilet minimarket.
“Perek itu bajunya ungu, rambutnya terurai sebahu, menutupi muka sehingga saya ngga jelas melihatnya"
“Udah pagi nih mbak, gue sbenernya jaga cuma sampe jam dua belas, ini udah overtime” Wanda mulai gerah dengan cerita tamu perempuannya. Dia berusaha bagaimana caranya, meminta tamu perempuannya untuk segera membayar kopi, air mineral dan mie instan, kemudian pergi dari kedai kopi angkringan. Karena Wanda sudah tak sabar, ingin menampar, lalu menutup mulut tamu perempuannya yang mulai ngabar
"Bajingan!"  batinnya.

“Okay, sorry sorry. Ini saya bayar dua ratus ribu, kembaliannya ambil aja, anggap ini fee buat kamu, udah mau dengerin curhatan saya. Kapan-kapan saya mampir sini lagi ya” Grace meninggalkan kedai kopi angkringan, dengan sejuta cerita tentang kekasihnya yang bajingan, pada perek yang melayani kekasihnya kemarin malam. 

01 January 2014

TERIMA KASIH IBU

Saya sedang duduk di lantai, beralaskan karpet merah bercorak tokoh kartun kesukaan anak saya, dan bersandar pada kaki sofa cokelat beludru yang dibeli kredit setahun yang lalu. Dari sini saya memandangi keluar, mengintip dari pintu yang terbuka sedikit, terlihat hujan ricik ricik, dan sepatu pantofel produksi rumahan yang saya dapatkan dari pasar tradisional.

Sepatu pantofel ini harganya murah, hanya tiga puluh tujuh ribu rupiah, meski desainnya menyerupai sepatu keluaran Nevada, tapi ini harganya tak serupa. Saya beli karena tak ada sepatu yang layak saya pakai untuk kerja kantoran. Selain sandal jepit dan sepatu snickers, yang lain tak ada. Awalnya saya cukup bangga saat pakai sepatu pantofel itu, tapi lama-lama ini sangat mengganggu. Dengan kualitas nomor sekian, sepatu pantofel ini sungguh tak nyaman. Dan kalau siang, apalagi cuaca sedang panas bikin keringat makin deras, kaki saya ikutan berkeringat, kalau sudah begini baunya juga menyengat.

Suatu siang, ketika jam istirahat, teman-teman kantor sedang berkumpul, ada yang makan siang, ada yang hanya sekedar menggosip. Well, they are woman!

"Sepatu bermerk mall itu ngga bikin kaki bau. Makanya kenapa saya lebih suka beli sepatu di mall daripada beli di pasar, toh selisihnya juga cuma dikit kok..." Duh, seketika hati saya jadi sumpek ketika dengar seorang teman bilang begitu. Seketika kaki saya langsung keringetan, dan tak lama seisi ruangan penuh dengan bau kaki saya.

“Euh, bauk… kaki siapa?” seorang teman protes. Sementara yang lain saling pandang. Dan saya, segera pergi meninggalkan ruangan tersebut, dengan muka setengah cemberut. Rasanya udah ngga sabar, pengen segera tanggal satu, trus beli sepatu.

“Ketika gajian nanti, saya harus beli sepatu merk mall biar pas keringetan, kaki ngga bau lagi” Angan-angan saya sambil memandangi kalender. Namun, tanggal yang saya tunggu masih amat jauh. Dan saya harus lebih sabar lagi menanti.

Besok, tanggal satu yang sudah lama ditunggu, sama rasanya seperti seorang perempuan yang sedang hamil tua, sembilan bulan sekian hari lebihnya, menanti hari kesekian itu datang, rasa sakit menerpa, lalu doa senantiasa terucap. Ya! Seperti itulah rasanya, kurang lebih.


Namun, ketika tanggal satu tiba, angan-angan saya sudah tiada, imajinasi tentang merasakan sentuhan lembut kulit sepatu menyentuh kaki, sudah tak ada lagi. Apalagi bayangan akan kilapnya kulit sepatu yang terpancar, memesona siapa saja yang menatapnya, telah sirna. Meski di tangan saya kini, terdapat sepasang sepatu Nevada dengan ukuran mini.

"Terima kasih Ibu, udah beliin sepatu baru" senyum anak saya membuat saya merasakan seperti memakai sepatu baru juga. Dan tak sabar dia memakainya. Dia, bercerita banyak tentang teman-temannya yang sering ngeledekin sepatunya yang sudah ngga bagus, ngga keren, dan ‘ngga’ yang lain-lain.

Barangkali seperti ini pula perasaan yang dirasakan ibu saya. Ketika saya memaksanya untuk membelikan celana jeans baru, ketika saya beranjak remaja. Kala itu ibu bilang, uangnya mau dipakai buat beli kacamata baru karena minusnya bertambah. Saya tak peduli, terus merayu supaya dibelikan celana jeans baru. 

Dan, ketika ibu menyerahkan anak perempuannya dipinang seorang pria yang baru dikenalnya belum genap satu tahun, hati seorang ibu menuntun saya, bahwa ini tak salah. Terima kasih ibu, kau ajarkan kesabaran dan ketulusan, dan saya bisa merasakannya, tentang apa yang telah kau relakan demi anakmu. Kasih sayang ibu yang membuat saya bisa menjadi ibu seperti sekarang.

~Jangan pernah membenci ibumu, kau tak tahu apa saja yang telah dia relakan untukmu~